Buka menu utama

Divisi Regional III Palembang

Divisi Regional perkeretaapian di Indonesia (🄾🄳🅁🄼🄸🅇🄼)

Divisi Regional III Palembang (Divre III PG) yang kadang-kadang disebut Divisi Regional III Kertapati atau Divisi Regional III Sumatra Selatan adalah Divre KAI dengan wilayah kerja sebagian Provinsi Sumatra Selatan yang dipimpin oleh seorang Kepala Divisi Regional (Kadivre) yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direksi PT Kereta Api Indonesia.

Divisi Regional III Palembang
Logo PT KAI (Persero) (New version 2016).svg
PT Kereta Api Indonesia (Persero)
Divisi Regional III Palembang
Prabu Jaya Kertapati.jpg
Kantor Daop/Divre
ProvinsiSumatra Selatan
KotaPalembang
KecamatanSeberang Ulu II
Kelurahan13 Ulu
AlamatJalan Jenderal Achmad Yani No. 541
Kode pos30263
Informasi lain
Singkatan Daop/DivrePG
Stasiun tertinggi+130 m (Lubuklinggau)
Karakteristik jalurMayoritas lintas datar,
emplasemen stasiun kecil dapat mencapai kurang lebih 1 kilometer,
KA batubara lebih sering diproritaskan dibandingkan KA penumpang.
Batas kecepatan tertinggi yang diizinkan70 s.d. 90 km/jam

Gambaran UmumSunting

Perhitungan jarak rel kereta api di Sumatra bagian selatan dimulai dari stasiun Panjang, Lampung (KM 0), dari pelabuhan tersebut ruas jalur kereta api berakhir di Stasiun Prabumulih (Sumatra Selatan) km 332+705. Setelah itu jalur kereta api di Stasiun Prabumulih bercabang dua ke barat dan timur. Ke arah barat, jalur kereta berakhir di Lubuklinggau (Sumatra Selatan) di Km 549+448, sedangkan ke arah timur kereta berakhir di Kertapati (Palembang, Sumatra Selatan) di km 400+102.

Salah satu keunikan di Divre III ini ialah stasiun pada kota besar satu-satunya di wilayah kerjanya yaitu Palembang tidak terletak di pusat kota seperti halnya di wilayah lain yang biasanya tepat berada di pusat kota. Kertapati yang tepat berada di tepian sungai Musi menjadi stasiun ujung (rel spoor badug), di mana jalurnya tak terhubung ke pusat kota sebab kemungkinan Belanda kesulitan untuk membangun jembatan KA melintasi sungai Musi pada masa lalu.[1]

SejarahSunting

Sekitar tahun 1911, transmigran pulau Jawa yang didatangkan Hindia Belanda ke Lampung pada 1905 berhasil membangun perkebunan kaitsyuk, tembakau, kopi, karet, kelapa dalam, dan kelapa sawit. Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia lalu menganggap sarana angkutan hasil-hasil bumi dari Sumatra Selatan ke pulau Jawa jika terlalu mengandalkan pelayaran laut terlalu banyak memakan biaya dan waktu serta sulit memasuki pelabuhan di Palembang, Krui, dan Menggala. Maka diputuskan reduksi biaya transportasi dan waktu pengiriman hasil bumi dengan membangun rel kereta api dari Palembang ke Tanjungkarang.

Adapun rel KA pertama di Pulau Sumatra dibangun di Aceh (1874), Sumatra Utara (1886), Sumatra Barat (1891), kemudian Sumatra Selatan (1911). Tahun 1911, pembangunan rel KA dimulai oleh pemerintah Hindia Belanda dengan mengerahkan ribuan orang di Palembang dan di Tanjungkarang.

Rel KA antara Tanjungkarang dan Palembang banyak melintasi hutan, perkebunan karet, perkebunan sawit, dan rawa-rawa. Jalur KA ini berbeda dengan yang ada di Pulau Jawa, di mana rel KA dibangun melintasi perkampungan-perkampungan. Penyebabnya, rel KA di Pulau Jawa disiapkan untuk angkutan manusia, sedangkan rel KA ini disiapkan Belanda untuk mengangkut hasil bumi, hasil hutan, dan perkebunan dari negeri jajahan di Sumatra.

Lintasan kereta di Sumatra bagian selatan pertama kali dibangun sepanjang 12 kilometer dari Panjang menuju Tanjungkarang, Lampung. Jalur rel ini mulai dilalui kereta pada tanggal 3 Agustus 1914. Pada waktu bersamaan dilaksanakan juga pemasangan dan pembangunan lintasan rel dari Kertapati, menuju Kota Prabumulih, Sumatra Selatan. Sampai 1914, jalur rel lintas Prabumulih hingga Prabumulih mencapai jarak 78 kilometer.

Perlahan, jalur rel kemudian dikembangkan untuk pengangkutan batu bara dari tempat penambangannya di Tanjung Enim. Kemudian dikembangkan juga jalur ke Lahat. Di Lahat ada sebuah bengkel besar kereta (sekarang dinamakan Balai Yasa Lahat) yang berfungsi untuk perbaikan dan perawatan kereta api.[2]

Akhirnya pemerintah Hindia Belanda melalui Zuid Soematera Spoorwegen (ZSS) tuntas membangun rel kereta api di Lampung dan Sumatra Selatan hingga 529 km. Seluruhnya merupakan rel selebar 1.067 mm. Sementara mayoritas negara menggunakan rel selebar 1.435 mm yang menjaga stabilitas kereta lebih baik agar bisa berjalan dengan kecepatan lebih tinggi .

Awalnya, ZSS berencana membangun rel hingga Tapanuli tetapi dihempaskan kebangkrutan perusahaan akibat resesi setelah Perang Dunia I, yaitu Great Depression yang ternyata berdampak ke rel di Sumatra.[3]

Pembangunan Rel KA pada Masa DepanSunting

Sekian lama setelah Indonesia merdeka dan mengelola perkeretaapian di Sumbagsel melalui PT KAI, maka disusunlah rencana pembangunan rel kereta api penghubung Bengkulu dengan Muaraenim yang akan dibangun mulai tahun 2015. Adapun rel kereta api di Bengkulu difokuskan untuk angkutan batu bara seperti umumnya kereta api di Sumbagsel.[4]

Pembagian Wilayah Kerja (Historis)Sunting

Masa PJKA

Pada masa PJKA, wilayah Divisi Regional III Palembang merupakan wilayah kerja Inspeksi 13 Kertapati yang merupakan bagian dari Eksploitasi Sumatra Selatan (ESS) bersama dengan Inspeksi 14 Tanjungkarang.

Masa PERUMKA, PT. KA, dan PT. KAI.

Sejak era PERUMKA, Eksploitasi Sumatra Selatan (ESS) berubah nama menjadi Divre III Sumatra Selatan dan Lampung yang dulu cakupannya cukup luas dibandingkan kedua divre lain di Sumatra dan meliputi dua provinsi yaitu Sumatra Selatan dan Lampung, maka dibagilah dua wilayah (subdivre) dengan fungsi operasional yang serupa dengan Daop KAI di pulau Jawa, namun dengan tingkatan administratif dalam lingkup KAI yang lebih rendah daripada Divre maupun Daop. Divre III pernah memiliki dua subdivre sebagai berikut:

  • Sub Divre III.1 Kertapati (KPT), yang merupakan pusat Divre III Sumatra Selatan dan Lampung naik tingkat dan berubah nama menjadi Divre III Palembang (PG) per 1 Mei 2016.
  • Sub Divre III.2 Tanjungkarang (TNK), dimekarkan menjadi Divre IV Tanjungkarang (TNK) per 1 Mei 2016.

Layanan Kereta ApiSunting

Kereta api penumpangSunting

Kereta api barangSunting

Stasiun kereta apiSunting

 
Peta Jalur Kereta Api di Divre III Palembang.
  1. Stasiun Prabumulih (PBM)
  2. Stasiun Lembak (LEB)
  3. Stasiun Karangendah (KED)
  4. Stasiun Gelumbang (GLB)
  5. Stasiun Serdang (SDN)
  6. Stasiun Payakabung (PYK)
  7. Stasiun Simpang (SIG)
  8. Stasiun Kertapati (KPT)
  1. Stasiun Simpang (SIG)
  2. Stasiun Indralaya (IDR)
  • Jalur Muaragula-Tanjungenim Baru
  1. Stasiun Muaragula (MRL)
  2. Stasiun Tanjungenim Baru (TMB)

Keterangan:

  • Stasiun besar ialah stasiun yang tertulis tebal miring.
  • Stasiun menengah ialah stasiun yang tertulis tebal.
  • Stasiun kecil ialah stasiun yang tertulis normal.
  • Stasiun dan jalur yang tak beroperasi ialah tulisan yang tertulis miring.

Prasarana PerawatanSunting

Dipo Lokomotif Kertapati (KPT)Sunting

Di dipo lokomotif inilah terdapat lokomotif CC201 hidung miring,dengan eksterior seperti CC203. Di sini banyak terdapat lokomotif-lokomotif merah dan seluruh lokomotif CC204 generasi kedua untuk dinasan KA Batubara Kertapati, KA Batubara Kontener SCT, KA Pulp PT TEL, serta KA penumpang. Di sini pula terdapat armada KRD dan Railbus, serta memiliki KAIS (Kereta Api Inspeksi). Namun, dipo ini tidak memiliki turn table.

Sub-Dipo LokomotifSunting

Nama Sub-Dipo Kode Sub-Dipo
Sub-Dipo Lokomotif Lubuklinggau LLG
Sub-Dipo Lokomotif Lahat LT
Sub-Dipo Lokomotif Prabumulih PBM

Dipo KeretaSunting

Dipo gerbong merupakan tempat perawatan harian kereta penumpang (K1, K2, dan K3).

  • Dipo Kereta Kertapati (KPT)

Dipo GerbongSunting

Dipo gerbong merupakan tempat perawatan harian gerbong barang.

  • Dipo Gerbong Tanjungenim Baru (TMB)

Dipo MekanikSunting

Dipo mekanik merupakan tempat penyimpanan dan perawatan MPJR (mesin perawat jalan rel) yang berupa MTT, CSM, dan PBR yang melayani perawatan jalan rel di seluruh wilayah kerja Divre III KPT dan Divre IV TNK (untuk sementara).

  • Dipo Mekanik Prabumulih[5]

Balai Yasa LahatSunting

Balai yasa ialah satuan tugas PT. KAI yang berfungsi sebagai "bengkel" komponen kereta api, adapun balai yasa Lahat melayani perawatan kereta api di wilayah Sumbagsel. Balai yasa dibangun bersamaan dengan dibangunnya jalan rel Muara Enim - Lahat pada tanggal 21 April 1924 oleh SS dan baru beroperasi tahun 1931 dengan nama Werkplaats.

Awalnya balai yasa ini hanya untuk perawatan gerbong, kereta kayu, dan lokomotif uap. Tahun 1952 mulai merawat kereta baja buatan Beijnes Beverwijk. Lalu tahun 1957 mulai melaksanakan perawatan lokomotif diesel elektrik BB200. Terakhir, pada tahun 1984 melalui Proyek KP3BAKA, balai yasa Lahat diperbarui untuk mendukung KKBW untuk RCD dan lokomotif CC202 bergandar 18 ton.[6]

Jenis Lokomotif Siap OperasiSunting

Alokasi Dipo Lokomotif Kertapati

GaleriSunting

ReferensiSunting

Pranala luarSunting