Buka menu utama

Deli Spoorweg Maatschappij, N.V. (DSM) adalah sebuah perusahaan kereta api swasta yang beroperasi di dekat pantai timur Sumatra di sekitar Deli (Medan). Namanya harus dibedakan dengan Deli Maatschappij, yang bergerak di bidang perkebunan tembakau yang kelak memperluas bisnisnya ke teh, karet, kelapa sawit, dan produk-produk kayu. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1883. Perusahaan ini mempergunakan lebar sepur 1.067 mm untuk menjalankan operasionalnya. Saat ini lintas-lintas perusahaan ini termasuk dalam Divisi Regional I Sumatra Utara dan Aceh.

Deli Spoorweg Maatschappij, N.V.
DeliSpoorweg 1893.jpg
Peta jaringan kereta DSM per 1893
JenisPerusahaan swasta
WilayahSumatera Utara
Tahun beroperasi1883–1955?
PenerusKereta Api Indonesia
Lebar sepur1.067 mm (3 ft 6 in)
Panjang440 kilometer
Kantor pusatBendera Hindia Belanda Medan, Sumatera Utara, Hindia Belanda
Kantor pusat DSM di Medan, Sumatra Utara

SejarahSunting

DSM didirikan pada tahun 1883 dan terdaftar di Amsterdam. Perusahaan ini berkantor pusat di Deli Serdang sampai tahun 1890 dan kemudian pindah ke Deli, sekarang Medan. Nama lengkap yang resmi dari perusahaan ini adalah Naamlooze Venootschap Deli Spoorweg Maatschappij (DSM, N.V.).

Perusahaan ini memperoleh modal sebesar 2,6 juta gulden dan bertambah menjadi empat juta pada tahun 1889. Konsesi pertama diberikan dalam rangka memfasilitasi pengangkutan tembakau dari daerah dataran tinggi. Jacob Cremer, juragan tembakau Deli Maatschappij juga turut andil membangun perusahaan. Peletakan batu pertama lintas dilakukan tanggal 1 Juli 1883 di Siak Sri Indrapura. Lintas pertama sejauh 56 km membutuhkan biaya 2,43 juta gulden serta mempekerjakan orang Tionghoa.

OperasiSunting

Pada tahun 1888 perusahaan telah mengangkut 28.559 ton barang, utamanya tembakau. Tonase pengangkutan melonjak tujuh kali lipat pada tahun 1900 (90% tembakau). Harga saham meningkat pada tahun 1914 sampai 10 juta. Dalam rangka untuk membiayai investasi yang lebih besar, obligasi pun diterbitkan.

Bengkel kereta apinya terletak di Poloe-Brayan di Medan utara (sekarang menjadi Balai Yasa Pulu Brayan, khusus untuk merawat lokomotif, kereta, dan gerbong yang dialokasikan di Divre I). Karet menjadi barang angkutan yang penting setelah tahun 1910. Pada tahun 1913, diangkut 50.230 penumpang kereta api kelas I, 151.000 penumpang kelas II, dan 1,56 juta penumpang kelas III. Selain itu, tercatat juga bahwa perusahaan ini telah mengangkut bagasi seberat 1.319 ton, kargo 163.000 ton dan sekitar 2.000 hewan. Hal ini membawa pendapatan hampir 3 ½ juta gulden, meski biaya operasionalnya mencapai 1,45 juta. Pada tahun 1914, perusahaan ini mengoperasikan lintas sejauh 263 km. Tembakau menurun menjadi 8% berat dan 15% volume. Perusahaan juga memutuskan untuk meningkatkan modal menjadi sepuluh juta pada April 1913. Jumlah dividen yang dibayar dari 1900-1911 adalah sebesar 10% dan pada tahun-tahun berikutnya sampai tahun 1919 meningkat hingga 12-15%.

Pada tahun 1917 perusahaan ini mengangkut 2,7 juta penumpang dan 617.000 ton barang. Sejak tahun 1918, jalur kereta api menuju Besitang (750 mm) kemudian dibangun untuk mengintegrasikan dengan Atjeh Tram. Karena sepurnya berbeda, maka dibangun jalur kereta api dengan lebar sepur ganda, dari Besitang hingga Pangkalan Susu. Kelanjutan jalur ke Pangkalan Brandan selesai pada tahun 1919.

Jalur yang dibangunSunting

Jalur Segmentasi Lintas Tanggal Peresmian Panjang Rel (km) Keterangan
Belawan–Medan Labuan–Medan 25 Juli 1886 17
Labuan–Belawan 16 Februari 1888 6
Medan–Teluk Nibung Medan–Serdang 1 Juli 1889 20
Serdang–Perbaungan 7 Februari 1890 18
Perbaungan–Bamban 11 April 1902 141
Bamban–Rantau Laban 2 Maret 1903
Rantau Laban–Tanjung Balei 6 Agustus 1915
Tanjung Balaei–Teluk Nibung 1 Februari 1918
Tebing Tinggi–Pemantang Siantar Tebing Tinggi–Dolok Merangir 5 Mei 1916 48
Dolok Merangir–Pemantang Siantar
Medan–Batu Medan–Delitua 4 September 1887 14
Delitua–Batu 1 Desember 1915
Binjai–Kuala Binjai–Seleseh 19 Desember 1890 21
Seleseh–Kuala 5 November 1902
Medan–Binjai–Besitang Medan–Binjai 1 Mei 1887 21
Binjai–Stabat 30 Juni 1903 81
Stabat–Tanjung Pura 1 Agustus 1904
Tanjung Pura–Pangkalan Brandan 15 Desember 1904
Pangkalan Brandan–Besitang 29 Desember 1919
Percabangan Besitang–Pangkalan Susu Besitang–Pangkalan Susu 1 Desember 1921 10  
Dual gauge:
DSM 1.067 mm (3 ft 6 in)
AT/ASS 750 mm (2 ft 5 12 in)
Lubuk Pakam–Bangun Purba 10 April 1904 28
Kampungbaru–Pancurbatu (Arnhemia) 1 Oktober 1907 15

ArmadaSunting

GaleriSunting

Daftar pustakaSunting

  • Meijer, H. (1904). De Deli Maatschappij Spoorweg: driekwart eeuw koloniaal spoor; Zutphen 1987. Walburg Pers. hlm. 152. 
  • Weisfelt, Jacobus (1972). De Deli Maatschappij Spoorweg as factor in de Economische ontwikkeling van de Oostskust van Sumatra; sl, sn. Rotterdam: Bronder offset. 
  • Annual Reports: Jaarverslag the Deli Maatschappij Spoorweg, gevestigd te Amsterdam; from 1884, later than the Jaarverslag Naamlooze Vennootschap Deli Maatschappij Spoorweg gevestigd te Amsterdam; ZDB ID 2030176-5
  • Archival material: finding aids of the Dutch National Archives company history, technical Tekeningenarchief (1883-1948)
  • Cards: postwar routes detailed on the map sheets Langsa (NB-47-14), Medan (NA-47-2), Tebingtinggi (NA-47-3) of the US Army Map Service, Corps of Engineers; Series T503, 1: 250000, first edition in May 1958 (data recording 1954)
  • Subarkah, Iman (1992). Sekilas 125 Tahun Kereta Api Kita 1867 - 1992. Yayasan Pusat Kesejahteraan Karyawan Kereta Api. hlm. 137.