Buka menu utama

Kabupaten Banyuwangi

kabupaten di provinsi Jawa Timur, Indonesia

Kabupaten Banyuwangi adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibu kotanya adalah Kota Banyuwangi. Kabupaten ini terletak di ujung paling timur pulau Jawa, di kawasan Tapal Kuda, dan berbatasan dengan Kabupaten Situbondo di utara, Selat Bali di timur, Samudra Hindia di selatan serta Kabupaten Jember dan Kabupaten Bondowoso di barat. Kabupaten Banyuwangi merupakan kabupaten terluas di Jawa Timur sekaligus menjadi yang terluas di Pulau Jawa, dengan luas wilayahnya yang mencapai 5.782,50 km2, atau lebih luas dari Pulau Bali (5.636,66 km2). Di pesisir Kabupaten Banyuwangi, terdapat Pelabuhan Ketapang, yang merupakan perhubungan utama antara pulau Jawa dengan pulau Bali (Pelabuhan Gilimanuk).

Kabupaten Banyuwangi
Banyuwangi
Blambangan
Kabupaten
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi
Transkripsi lainya
 • Ejaan Lama Banjoewangi
 • Jawa ꦑꦧꦸꦥꦠꦺꦤ꧀ꦧꦪꦸꦮꦔꦶ
Pantai Plengkung di Banyuwangi bagian selatan
Pantai Plengkung di Banyuwangi bagian selatan
Lambang resmi Kabupaten Banyuwangi
Lambang
Julukan: Kota Gandrung
Semboyan: Satya Bhakti Praja Mukti
(bahasa Indonesia: Setia pada bakti untuk masyarakat makmur)
Lagu: Umbul-Umbul Blambangan
Lokasi Banyuwangi di Jawa Timur
Lokasi Banyuwangi di Jawa Timur
Kabupaten Banyuwangi is located in Indonesia
Kabupaten Banyuwangi
Kabupaten Banyuwangi
Lokasi Banyuwangi di Indonesia
Koordinat: 8°18′38,16″LU 114°20′24,64″BT / 8,3°LS 114,33333°BT / -8.30000; 114.33333
Negara  Indonesia
Provinsi Coat of arms of East Java.svg Jawa Timur
Ibu Kota Kota Banyuwangi
Hari Jadi 18 Desember 1771[1]
Dibentuk 1950, sebagai Kabupaten
Asal nama Blambangan
Kecamatan 25
Desa 217
Orang Terkenal Wong Agung Wilis
Rempeg Jogopati
Sayuwiwit
Pemerintahan[2]
 • Jenis Kabupaten
 • Bupati H. Abdullah Azwar Anas, S.Pd., S.S., M.Si.
 • Wakil Bupati H. Yusuf Widyatmoko, S.Sos.
Luas[3]
 • Darat 5.782,4 km2 (22,326 sq mi)
 • Garis Pantai 175.8 km2 (67.9 sq mi)
Penduduk (2016)[4]
 • Total 1,668,438
 • Kepadatan 200/km2 (500/sq mi)
 • Peringkat 5[5](Jawa Timur)
 • Laki-laki 838,856 Jiwa
 • Perempuan 829,582 Jiwa
Demonim Banyuwangen
Ras
 • Suku Bangsa Osing, Jawa, Madura, Bali, Tionghoa, Arab, dll.
Kepercayaan
 • Agama Islam 93.50%
Hindu 3.90%
Kristen Protestan 1.25%
Katolik 0.72%
Buddha 0.60%
Konghucu 0.03%[6]
Zona waktu Waktu Indonesia Barat (UTC+7)
Kode Pos 684XX
Kode Telepon +62 333
Geocode ID-JW
ISO 3166 ID-BYW
Plat kendaraan P
APBD 2.777,42 Miliar
PAD 346,99 Miliar
Pertuturan Osing, Jawa, Madura, Suroboyoan, Bali, Arab Indonesia
Situs web banyuwangikab.go.id

Daftar isi

GeografiSunting

Kabupaten Banyuwangi yang secara geografis terletak pada koordinat 7º45’15”–8º43’2” LS dan 113º38’10” BT.

Wilayah kabupaten Banyuwangi cukup beragam, dari dataran rendah hingga pegunungan. Kawasan perbatasan dengan Kabupaten Bondowoso, terdapat rangkaian Dataran Tinggi Ijen dengan puncaknya Gunung Raung (3.344 m) dan Gunung Merapi (2.799 m). Di balik Gunung Merapi terdapat Gunung Ijen yang terkenal dengan kawahnya. Gunung Raung dan Gunung Ijen adalah gunung api aktif.[butuh rujukan]

Bagian selatan terdapat perkebunan, peninggalan sejak zaman Hindia Belanda. Di perbatasan dengan Kabupaten Jember bagian selatan, merupakan kawasan konservasi yang kini dilindungi dalam sebuah cagar alam, yakni Taman Nasional Meru Betiri. Pantai Sukamade merupakan kawasan pengembangan penyu. Di Semenanjung Blambangan juga terdapat cagar alam, yaitu Taman Nasional Alas Purwo.

Pantai timur Banyuwangi (Selat Bali) merupakan salah satu penghasil ikan terbesar di Jawa Timur. Di Muncar terdapat pelabuhan perikanan.

SejarahSunting

Sejarah Banyuwangi tidak lepas dari sejarah Kerajaan Blambangan. Pada pertengahan abad ke-17, Banyuwangi merupakan bagian dari Kerajaan Hindu Blambangan yang dipimpin oleh Pangeran Tawang Alun. Pada masa ini secara administratif VOC menganggap Blambangan sebagai wilayah kekuasannya, atas dasar penyerahan kekuasaan jawa bagian timur (termasuk blambangan) oleh Pakubuwono II kepada VOC. Padahal Mataram tidak pernah bisa menguasai daerah Blambangan yang saat itu merupakan kerajaan hindu terakhir di pulau Jawa. Namun VOC tidak pernah benar-benar menancapkan kekuasaanya sampai pada akhir abad ke-17, ketika pemerintah Inggris menjalin hubungan dagang dengan Blambangan. Daerah yang sekarang dikenal sebagai "kompleks Inggrisan" adalah bekas tempat kantor dagang Inggris.[butuh rujukan]

VOC segera bergerak untuk mengamankan kekuasaanya atas Blambangan pada akhir abad ke-18. Hal ini menyulut perang besar selama lima tahun (1767–1772). Dalam peperangan itu terdapat satu pertempuran dahsyat yang disebut Puputan Bayu sebagai merupakan usaha terakhir Kerajaan Blambangan untuk melepaskan diri dari belenggu VOC. Pertempuran Puputan Bayu terjadi pada tanggal 18 Desember 1771 yang akhirnya ditetapkan sebagai hari jadi Banyuwangi. Sayangnya, perang ini tidak dikenal luas dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan kompeni Belanda. Namun pada akhirnya VOC-lah yang memperoleh kemenangan dengan diangkatnya R. Wiroguno I (Mas Alit) sebagai bupati Banyuwangi pertama dan tanda runtuhnya kerajaan Blambangan. Tetapi perlawanan sporadis rakyat Blambangan masih terjadi meskipun VOC sudah menguasai Blambangan. Itu bisa terlihat dengan tidak adanya pabrik gula yang dibangun oleh VOC saat itu, berbeda dengan kabupaten lainnya di Jawa Timur.

Tokoh sejarah fiksi yang terkenal adalah Putri Sri Tanjung yang di bunuh oleh suaminya di pinggir sungai karena suaminya ragu akan janin dalam rahimnya bukan merupakan anaknya tetapi hasil perselingkuhan ketika dia ditinggal menuju medan perang. Dengan sumpah janjinya kepada sang suami sang putri berkata: "Jika darah yang mengalir di sungai ini amis memang janin ini bukan anakmu tetapi jika berbau harum (wangi) maka janin ini adalah anakmu". Maka seketika itu darah yang mengalir ke dalam sungai tersebut berbau wangi, maka menyesalah sang suami yang dikenal sebagai Raden Banterang ini dan menamai daerah itu sebagai Banyuwangi.

Tokoh sejarah lain ialah Minak Djinggo, seorang Adipati dari Blambangan yang memberontak terhadap kerajaan Majapahit dan dapat ditumpas oleh utusan Majapahit, yaitu Damarwulan. Namun sesungguhnya nama Minak Djinggo bukanlah nama asli dari adipati Blambangan. Nama tersebut diberikan oleh sebagian kalangan istana Majapahit sebagai wujud olok-olok kepada Brhe Wirabumi yang memang putra prabu hayam wuruk dari selir. Bagi masyarakat Blambangan, cerita Damarwulan tidak berdasar. Cerita ini hanya bentuk propaganda Mataram yang tidak pernah berhasil menguasai wilayah Blambangan yang saat itu disokong oleh kerajaan hindu Mengwi di Bali.

JulukanSunting

 
Patung selamat datang di Banyuwangi pada kaki gunung Gumitir

Kabupaten Banyuwangi menyandang beberapa julukan, di antaranya:

  • The Sunrise of Java

Julukan The Sunrise of Java disandang Kabupaten Banyuwangi tidak lain karena daerah yang pertama terkena sinar matahari terbit di pulau Jawa.

  • Bumi Blambangan

Sejarah berdirinya Banyuwangi tidak bisa dilepaskan dari sejarah kerajaan Blambangan, karena Blambangan merupakan cikal bakal dari Banyuwangi. Blambangan adalah kerajaan yang semasa dengan kerajaan Majapahit bahkan dua abad lebih panjang umurnya. Blambangan adalah kerajaan yang paling gigih bertahan terhadap serangan Mataram dan VOC serta Blambanganlah kerajaan yang paling akhir ditaklukkan penjajah Belanda di pulau Jawa.

  • Kota Osing

Salah satu keunikan Banyuwangi adalah penduduk yang multikultur, dibentuk oleh 3 elemen masyarakat yaitu Jawa Mataraman, Madura, dan Osing. Suku Osing adalah penduduk asli Banyuwangi. Sebagai keturunan kerajaan Blambangan, suku osing mempunyai adat-istiadat, budaya maupun bahasa yang berbeda dari masyarakat jawa dan madura.

  • Kota Santet

Julukan Banyuwangi kota santet terkenal sejak peristiwa memilukan ketika 100 orang lebih dibunuh secara misterius karena dituduh memiliki ilmu santet. Peristiwa ini dikenal luas oleh masyarakat sebagai “Tragedi Santet” Tahun 1998.

  • Kota Gandrung

Kabupaten Banyuwangi terkenal dengan Tari Gandrung yang menjadi maskot kabupaten ini.

  • 'Kota Banteng

Kabupaten Banyuwangi dijuluki kota banteng dikarenakan di Banyuwangi tepatnya di Taman Nasional Alas Purwo terdapat banyak banteng jawa.

  • Kota Pisang

Sejak dahulu Kabupaten Banyuwangi sangat dikenal sebagai penghasil pisang terbesar, bahkan tiap dipekarangan rumah warga selalu terdapat pohon pisang.

  • Kota Festival

Berawal dari sukses penyelenggaraan kegiatan budaya Banyuwangi Ethno Carnival pertama pada tahun 2011 lalu, maka pada tahun-tahun berikutnya seakan tak terbendung lagi semangat dan kegairahan masyarakat Banyuwangi untuk mengangkat potensi dan budaya daerah melalui rangkaian kegiatan yang dikemas dalam tajuk Banyuwangi Festival. Maka sejak 2012 acara Banyuwangi Ethno Carnival ditahbiskan menjadi agenda tahunan berbarengan dengan kegiatan lain, baik yang bersifat seni, budaya, fesyen, dan wisata olahraga.

PemerintahanSunting

Daftar BupatiSunting

No Bupati Mulai menjabat Akhir menjabat Prd. Wakil Bupati Ket.
1
  Temenggung Wiroguno I
(alias Mas Alit)
1773
1782
1
2
Temenggung Wiroguno II
(alias Mas Talib)
1782
1818
2
3
Temenggung Surenggrono
1818
1832
3
4
RT. Wiryo Adi Danuningrat
1832
1867
4
5
RT. Pringgokusumo
1867
1881
5
[ket. 1]
6
RT. Aryo Sugondo
1881
1888
6
[ket. 2]
7
RT. Astro Kusumo
1888
1889
7
8
RT. Surenggono
1889
1905
8
9
RT. Kusumonegoro
1905
1910
9
10
  RT. Notodiningrat
1910
1920
10
11
  R. Ahmad Noto Adi Suryo
1920
1930
11
12
  R. Murtajab
1930
1935
12
13
  R. Ahmad Prastika
1935
1942
13
14
  R. Oesman Soemodinoto
1942
1947
14
15
  R. Ahmad Kusumo Negoro
1947
1949
15
16
R. Moch. Sachrawisetio Abiwinoto
1949
1949
16
17
Sukarbi
1949
1950
17
(14)
  R. Oesman Soemodinoto
1950
1955
18
18
  Soegito Noto Soegito
1955
1965
19
20
19
Soewarso Kanapi
S.H.
1965
1966
21
[ket. 3]
20
  Letkol (Purn.)
Djoko Supaat Slamet
1966
1978
22
21
  Soesilo Suharto, S.H
1978
1983
23
22
  S. Djoko Wasito
1983
1988
24
23
  Harwin Wasisto
1988
1991
25
24
  Kol Pol. (Purn) H
T. Purnomo Sidik
1991
2000
26
27
25
  Ir.
Samsul Hadi
2000
2005
28
Abdul Kadir
26
  Ratna Ani Lestari
S.E., M.M
2005
2010
29
Yusuf Nur Iskandar
27
  Abdullah Azwar Anas
2010
2015
30
Yusuf Widyatmoko
*
Zarkasi
(Pejabat)
22 Oktober 2015
17 Februari 2016
(27)
  Abdullah Azwar Anas
17 Februari 2016
Petahana
31
Yusuf Widyatmoko
Catatan
  1. ^ Keturunan Tawangalun dari Blambangan terakhir yang memegang jabatan bupati
  2. ^ Bupati yang berasal dari Praja Mangkunegaran
  3. ^ Diduga terlibat PKI[7][8]

Dewan PerwakilanSunting

Partai Kursi
  PDI-P 10
  PKB 10
  Partai Golkar 7
  Partai Demokrat 5
  Partai Gerindra 5
  Partai Hanura 4
  PPP 4
  Partai NasDem 2
  Partai Keadilan Sejahtera 2
  Partai Amanat Nasional 1
Total 50

KecamatanSunting

Kabupaten Banyuwangi terdiri atas 25 kecamatan yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Kecamatan di Kabupaten Banyuwangi terdiri dari:

TransportasiSunting

Ibu kota Kabupaten Banyuwangi berjarak 290 km sebelah timur Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur. Banyuwangi merupakan ujung paling timur jalur pantura serta titik paling timur jalur kereta api pulau Jawa yaitu Stasiun Banyuwangi Baru.[9]

Pelabuhan Ketapang terletak di kota Banyuwangi bagian utara, menghubungkan Jawa dan Bali dengan kapal ferry, LCM, roro dan tongkang.[butuh rujukan]

Dari Surabaya, Kabupaten Banyuwangi dapat dicapai dari dua jalur jalan darat, jalur utara dan jalur selatan. Jalur utara merupakan bagian dari jalur pantura yang membentang dari Anyer hingga pelabuhan Panarukan dan melewati kabupaten Situbondo. Sedangkan jalur selatan merupakan pecahan dari jalur pantura dari Kabupaten Probolinggo melewati Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Jember di kedua jalur tersebut tersedia bus eksekutif/PATAS maupun ekonomi.

Terdapat pula moda transportasi darat lainnya, yaitu jalur kereta api Surabaya – Pasuruan – Probolinggo – Jember dan berakhir di Banyuwangi. Stasiun Banyuwangi Baru terletak di Kota Banyuwangi tidak jauh dari Pelabuhan Penyeberangan Ketapang. Stasiun Kereta Api yang cukup besar di Banyuwangi adalah Stasiun Banyuwangi Baru, Karang Asem, (Kecamatan Glagah), Rogojampi, Stasiun Kalisetail, (Kecamatan Sempu), dan Kalibaru. Selain itu ada juga stasiun yang lebih kecil seperti Singojuruh, Temuguruh, Glenmore, Sumberwadung dan Halte Krikilan.

Untuk transportasi wilayah perkotaan terdapat moda angkutan mikrolet, taksi Using Transport serta van atau yang oleh masyarakat setempat disebut 'colt' yang melayani transportasi antar kecamatan dan minibus yang melayani trayek Banyuwangi dengan kota-kota kabupaten di sekitarnya.

Bandar Udara Blimbingsari di kecamatan Blimbingsari dalam pembangunannya sempat tersendat akibat kasus pembebasan lahan, dan memakan korban 2 bupati yang menjabat dalam masa pembangunannya yaitu Bupati Samsul Hadi (2000–2005) dan Bupati Ratna Ani Lestari (2005–2010). Dan pada tanggal 28 Desember 2010, Bandar Udara Blimbingsari telah dibuka untuk penerbangan komersial Banyuwangi (BWX) – Jakarta (CGK) – Banyuwangi (BWX) dan Banyuwangi (BWX) – Surabaya (SUB) – Banyuwangi (BWX).

Selain itu terdapat Pelabuhan Tanjung Wangi di Ketapang, Kecamatan Kalipuro selain sebagai pelabuhan bongkar muat barang dan peti kemas, juga melayani pelayaran ke kepulauan di bagian timur Madura, seperti Kep. Sapeken, Kep. Kangean, dan Kep. Sapudi.

PendudukSunting

Penduduk Banyuwangi cukup beragam. Mayoritas adalah Suku Osing, namun terdapat Suku Madura (kecamatan Muncar, Wongsorejo, Kalipuro, Glenmore dan Kalibaru) dan suku Jawa yang cukup signifikan, serta terdapat minoritas suku Bali, dan suku Bugis. Suku Bali banyak mendiami desa di kecamatan Rogojampi, bahkan di desa Patoman, Kecamatan Rogojampi seperti miniatur desa Bali di pulau Jawa. Suku Osing merupakan penduduk asli kabupaten Banyuwangi dan bisa dianggap sebagai sebuah sub-suku dari suku Jawa. Mereka menggunakan Bahasa Osing, yang dikenal sebagai salah satu ragam tertua bahasa Jawa. Suku Osing mendiami di Kecamatan Glagah, Licin, Songgon, Kabat, Giri, Kota serta sebagian kecil di kecamatan lain.[butuh rujukan]

PendidikanSunting

Daftar perguruan tinggiSunting

Perguruan tinggi negeriSunting

Logo Nama Perguruan Tinggi Alamat
Politeknik Negeri Banyuwangi Labanasem
  Loka Pendidikan dan Pelatihan Penerbangan Banyuwangi Blimbingsari
  Universitas Airlangga PDD Banyuwangi Giri

Perguruan tinggi swastaSunting

Logo Nama Perguruan Tinggi Alamat
Universitas 17 Agustus 1945 Taman Baru
  Universitas PGRI Banyuwangi Kertosari
  Universitas Bhakti Indonesia Sraten
  Sekolah Tinggi Komunikasi PGRI Banyuwangi Taman Baru
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Banyuwangi Giri
Akademi Kelautan Banyuwangi Ketapang
Akademi Kesehatan Rustida Krikilan
Institut Agama Islam Darussalam Blokagung
Institut Agama Islam Ibrahimy Genteng

PariwisataSunting

Kuliner BanyuwangiSunting

MasakanSunting

Kabupaten Banyuwangi mempunyai bermacam-macam masakan khas Banyuwangi, diantaranya:

  • Sego tempong
  • Sego cawuk
  • Pindang Srani
  • Sego Gecok
  • Sego Golong
  • Sate Kalak
  • Pecel Pitik
  • Sambel Lucu
  • Jangan Kelor
  • Jangan Kesrut
  • Jangan Pakis
  • Jangan Lobok
  • Jangan Lompong
  • Jangan Bobohan
  • Jangan Jawar
  • Jangan Leroban
  • Jangan Pol
  • Jangan Klenthang
  • Jangan Bung
  • Pelasan Oling
  • Pelasan Uceng
  • Peceg Lele
  • Uyah Asem Pitik
  • Kupat Lodoh
  • Pindang koyong
  • Bothok Simbukan
  • Bothok Tawon
  • Ayam Pedas Genteng
  • Rujak Letog
  • Sambel Pedho
  • Sambel Pindang
  • Sambel Pete
  • Oseng-oseng Pare
  • Bindol Pakem
  • Tahu Petis
  • Wiyongkong
  • Rujak soto
  • Pecel Thotol
  • Lak-lak

Jajanan tradisionalSunting

Kabupaten Banyuwangi mempunyai bermacam-macam jajanan pasar khas Banyuwangi, diantaranya:

  • Bagiak
  • Sale Pisang Barlin
  • Kelemben
  • Satuh
  • Manisan Cerme
  • Manisan Pala Kering
  • Manisan Tomat
  • Manisan Kolang-kaling
  • Ladrang
  • Kacang Tanah Open Asin
  • Dodol Salak
  • Sale Pisang Anggur
  • Loro Kencono
  • Karang Emas
  • Kolak Gepuk
  • Widaran
  • Wiroko
  • Petulo
  • Ketan Kirip
  • Onde – Onde
  • Tahu Walek
  • MinumanSunting

    Kabupaten Banyuwangi mempunyai bermacam-macam minuman khas Banyuwangi, diantaranya:

    • Secang
    • Selasih
    • Ronde
    • Angsle
    • Caok
    • Setup Semarang
    • Kolak Duren
    • Kopi Luwak
    • Kopi Lanang
    • Kopi Kemiren
    • Es Gedang Ijo
    • Es Temu lawak

    Oleh-olehSunting

    Kabupaten Banyuwangi mempunyai bermacam-macam oleh-oleh khas Banyuwangi, diantaranya:

    • Awug (iwel-iwel)
    • Lanun
    • Serabi Solo
    • Dodol garut
    • Jenang Kudus
    • Jenang Bedil
    • Jenang Mutioro
    • Jenang Selo
    • Ketot
    • Apem Takir
    • Lak-lak
    • Precet
    • Sumping
    • Bikang
    • Setupan Polo

    Seni budayaSunting

    Kabupaten Banyuwangi selain menjadi perlintasan dari Jawa ke Bali, juga merupakan daerah pertemuan berbagai jenis kebudayaan dari berbagai wilayah. Budaya masyarakat Banyuwangi diwarnai oleh budaya Jawa, Bali, Madura, Melayu, Eropa, Tionghoa dan budaya lokal yang saling isi mengisi dan akhirnya menjadi tipikal yang tidak ditemui di wilayah manapun di pulau Jawa.[butuh rujukan]

    Di dusun Selorejo, kecamatan Glenmore, di lereng Gunung Raung, terdapat Pura Beji Ananthaboga, sebuah pura dan petirtaan yang terletakserta menempati wilayah Perhutani KPH Banyuwangi Barat.

     
    Petirtan di Pura Beji Ananthaboga dan Pelinggih Ganesha

    BatikSunting

    Batik yang disebut-sebut sebagai jati diri Bangsa Indonesia tak bisa diragukan. Keberadaannya memang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya orang Jawa. Motif-motifnya pun terinspirasi tak jauh dari kehidupan sehari-hari. Begitu juga dengan banyuwangi, memiliki beberapa motif yang terkenal yaitu

    • Gajah oling
    • Paras Gempal
    • Sekar Jagad
    • Kangkung Setingkes
    • Mata Ayam

    Jenis Batik tadi merupakan sebagian dari Motif Batik khas Banyuwangi yang masih hidup dan berkembang di kalangan masyarakat setempat.

    Kesenian tradisionalSunting

     
    Penari Gandrung di depan rumah adat Osing desa Kemiren.
     
    Gamelan Banyuwangi yang mengiringi tari gandrung.

    Kesenian tradisional khas Banyuwangi antara lain:

    Jenis kesenian tadi merupakan sebagian dari kesenian khas Banyuwangi yang masih hidup dan berkembang di kalangan masyarakat setempat.

    Musik khas BanyuwangiSunting

    Gamelan Banyuwangi khususnya yang dipakai dalam tari Gandrung memiliki kekhasan dengan adanya kedua biola, yang salah satunya dijadikan sebagai pantus atau pemimpin lagu. Menurut sejarahnya, pada sekitar abad ke-19, seorang Eropa menyaksikan pertunjukan Seblang (atau Gandrung) yang diiringi dengan suling. Kemudian orang tersebut mencoba menyelaraskannya dengan biola yang dia bawa waktu itu, pada saat dia mainkan lagu-lagu Seblang tadi dengan biola, orang-orang sekitar terpesona dengan irama menyayat yang dihasilkan biola tersebut. Sejak itu, biola mulai menggeser suling karena dapat menghasilkan nada-nada tinggi yang tidak mungkin dikeluarkan oleh suling.

    Selain itu, gamelan ini juga menggunakan "kluncing" (triangle), yakni alat musik berbentuk segitiga yang dibuat dari kawat besi tebal, dan dibunyikan dengan alat pemukul dari bahan yang sama, dan angklung, atau rebana.

    ReferensiSunting

    Pranala luarSunting