Buka menu utama

Kabupaten Cianjur

kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia
Cianjur beralih ke halaman ini. Untuk kota yang bernama sama, lihat Cianjur (kota).Untuk kegunaan lain, lihat Cianjur (disambiguasi).

Kabupaten Cianjur (aksara Sunda: ᮊᮘᮥᮕᮒᮔᮦ᮪ ᮎᮤᮃᮔ᮪ᮏᮥᮁ, Latin: Kabupaten Cianjur) adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibu kotanya terletak di kecamatan Cianjur. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Bogor Kabupaten Karawang dan Kabupaten Purwakarta di Utara, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Garut di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Sukabumi di barat.

Kabupaten Cianjur
ᮊᮘᮥᮕᮒᮦᮔ᮪ ᮎᮤᮃᮔᮏᮥᮁ
Lambang Kabupaten Cianjur
Lambang Kabupaten Cianjur

ᮊᮘᮥᮕᮒᮦᮔ᮪ ᮎᮤᮃᮔᮏᮥᮁ
Moto: Cianjur Bersemi (Bersih, Sehat dan Memikat)
Semboyan : "Sugih Mukti"

ᮞᮥᮍᮤᮂ ᮙᮥᮊ᮪ᮒᮤ



Locator kabupaten cianjur.png
Peta lokasi Kabupaten Cianjur

ᮊᮘᮥᮕᮒᮦᮔ᮪ ᮎᮤᮃᮔᮏᮥᮁ di Jawa Barat
Koordinat:

Provinsi Jawa Barat
Ibu kota Kota Cianjur
Pemerintahan
-Bupati Drs. H. Irvan Rivano Muchtar, S.Ip, SH, M.Si
APBD
-DAU Rp. 1.305.617.257.000.-(2013)[1]
Luas 3.432,96 km2
Populasi
-Total 2.149.121 jiwa (2007)[2]
-Kepadatan 626,03 jiwa/km2
Demografi
-Bahasa Sunda, Indonesia
-Kode area telepon 0263
Pembagian administratif
-Kecamatan 32
-Kelurahan 348
Simbol khas daerah
Situs web http://www.cianjurkab.go.id/

Daftar isi

GeografiSunting

TopografiSunting

Sebagian besar wilayah Cianjur adalah pegunungan, kecuali di sebagian pantai selatan berupa dataran rendah yang sempit.

Lahan-lahan pertanian tanaman pangan dan hortikultura, peternakan, perikanan, perkebunan dan kehutanan merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat. Keadaan itu ditunjang dengan banyaknya sungai besar dan kecil yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya pengairan tanaman pertanian. Sungai terpanjang di Cianjur adalah Sungai Cibuni, yang bermuara di Samudra Hindia.

Dari luas wilayah Kabupaten Cianjur 350.148 hektar, pemanfaatannya meliputi 83.034 Ha (23,71 %) berupa hutan produktif dan konservasi, 58,101 Ha (16,59 %) berupa tanah pertanian lahan basah, 97.227 Ha (27,76 %) berupa lahan pertanian kering dan tegalan, 57.735 Ha (16,49 %) berupa tanah perkebunan, 3.500 Ha (0,10 %) berupa tanah dan penggembalaan / pekarangan, 1.239 Ha (0,035 %) berupa tambak / kolam, 25.261 Ha (7,20 %) berupa pemukiman / pekarangan dan 22.483 Ha (6.42 %) berupa penggunaan lain-lain.

SejarahSunting

Raden Djajasasana putra Aria Wangsa Goparana dari Talaga keturunan Sunan Talaga, dengan membawa 100 cacah (rakyat) ditugaskan untuk membuka wilayah baru yang bernama Cikundul. R. Djajasasana kemudian berhasil menahan serangan Banten dalam mempertahankan wilayahnya sehingga dia dianugerahi gelar panglima (Wira Tanu). Sehingga dia akhirnya dikenal dengan gelar Raden Aria Wira Tanu

Aria Wangsa Goparana kemudian mendirikan Nagari Sagara Herang dan menyebarkan Agama Islam ke daerah sekitarnya. Sementara itu Cikundul yang sebelumnya hanyalah merupakan sub nagari menjadi Ibu Nagari tempat pemukiman rakyat Djajasasana. Beberapa tahun sebelum tahun 1680 sub nagari tempat Raden Djajasasana disebut Cianjur (Tsitsanjoer-Tjiandjoer).[3]

 
Regent Cianjur dan isterinya naik mobil di depan kediaman mereka pada tahun 1920-an

FilosofiSunting

Cianjur memiliki filosofi yakni NGAOS, MAMAOS dan MAEN PO yang mengingatkan pada kita semua tentang 3 (tiga) aspek keparipurnaan hidup.

  1. NGAOS adalah tradisi mengaji yang mewarnai suasana dan nuansa Cianjur dengan masyarakat yang dilekati dengan keberagamaan. Citra sebagai daerah agamis ini konon sudah terintis sejak Cianjur lahir sekitar tahun 1677 di mana wilayah Cianjur ini dibangun oleh para ulama dan santri tempo dulu yang gencar mengembangkan syiar Islam. Itulah sebabnya Cianjur juga sempat mendapat julukan gudang santri dan kyai sehingga mendapat julukan KOTA SANTRI. Bila di tengok sekilas sejarah perjuangan di tatar Cianjur jauh sebelum masa perang kemerdekaan, bahwa kekuatan-kekuatan perjuangan kemerdekaan pada masa itu tumbuh dan bergolak pula di pondok-pondok pesantren. Banyak pejuang-pejuang yang meminta restu para kyai sebelum berangkat ke medan perang. Mereka baru merasakan lengkap dan percaya diri berangkat ke medan juang setelah mendapat restu para kyai.
  2. MAMAOS adalah seni budaya yang menggambarkan kehalusan budi dan rasa menjadi perekat persaudaraan dan kekeluargaan dalam tata pergaulan hidup. Seni mamaos tembang sunda Tembang Cianjuran lahir dari hasil cipta, rasa dan karsa Bupati Cianjur R. Aria Adipati Kusumahningrat yang dikenal dengan sebutan Dalem Pancaniti. Ia menjadi dalem tatar Cianjur sekitar tahun 1834-1862. Seni mamaos ini terdiri dari alat kecapi indung (Kecapi besar dan Kecapi rincik (kecapi kecil) serta sebuah suling yang mengiringi panembanan atau juru. Pada umumnya syair mamaos ini lebih banyak mengungkapkan puji-pujian akan kebesaran Tuhan dengan segala hasil ciptaan-Nya.
  3. Sedangkan MAEN PO adalah seni bela diri pencak silat yang menggambarkan keterampilan dan ketangguhan. Pencipta dan penyebar maenpo ini adalah R. Djadjaperbata atau dikenal dengan nama R. H. Ibrahim, aliran ini mempunyai ciri permainan rasa yaitu sensitivitas atau kepekaan yang mampu membaca segala gerak lawan ketika anggota badan saling bersentuhan. Dalam maenpo dikenal ilmu Liliwatan (penghindaran) dan Peupeuhan (pukulan).

Apabila filosofi tersebut diresapi, pada hakekatnya merupakan symbol rasa keber-agama-an, kebudayaan dan kerja keras. Dengan keber-agama-an sasaran yang ingin dicapai adalah terciptanya keimanan dan ketaqwaan masyarakat melalui pembangunan akhlak yang mulia. Dengan kebudayaan, masyarakat cianjur ingin mempertahankan keberadaannya sebagai masyarakat yang berbudaya, memiliki adab, tatakrama dan sopan santun dalam tata pergaulan hidup. Dengan kerja keras sebagai implementasi dari filosofi maenpo, masyarakat Cianjur selalu menunjukan semangat keberdayaan yang tinggi dalam meningkatkan mutu kehidupan. Liliwatan, tidak semata-mata permainan beladiri dalam pencak silat, tetapi juga ditafsirkan sebagai sikap untuk menghindarkan diri dari perbuatan yang maksiat. Sedangkan peupeuhan atau pukulan ditafsirkan sebagai kekuatan di dalam menghadapi berbagai tantangan dalam hidup.

PemerintahanSunting

Daftar BupatiSunting

No Bupati Mulai menjabat Akhir menjabat Prd. Ket. Wakil Bupati
1
  R.A. Wira Tanu I
1677
1691
1
[Ket. 1]
2
R.A. Wira Tanu II
1691
1707
2
[Ket. 2]
3
R.A. Wira Tanu III
1707
1727
3
[Ket. 3]
4
  R.A. Wira Tanu Datar IV
1727
1761
4
[Ket. 4]
5
R.A. Wira Tanu Datar V
1761
1776
5
6
R.A. Wira Tanu Datar VI
1776
1813
6
[Ket. 5]
7
R.A.A Prawiradireja I
1813
1833
7
[Ket. 6]
8
R. Tumenggung Wiranagara
1833
1834
8
9
  R.A.A. Kusumahningrat
1834
1862
9
[Ket. 7]
10
  R.A.A. Prawiradireja II
1862
1910
10
11
R. Demang Natakusumah
1910
1912
11
12
  R.A.A. Wiranatakusumah
1912
1920
12
13
R.A.A. Suriadiningrat
1920
1932
13
[Ket. 8]
14
R. Sunarya
1932
1934
14
15
R.A.A. Suria Nata Atmadja
1934
1943
15
[Ket. 9]
16
R. Adiwikarta
1943
1945
16
17
R. Yasin Partadireja
1945
1945
17
18
R. Iyok Muhammad Sirodj
1945
1946
18
19
R. Abas Wilagasomantri
1946
1948
19
20
R. Ateng Sanusi Natawiyoga
1948
1950
20
21
  R. Ahmad Suriadikusumah
1950
1952
21
22
  R. Akhyad Penna
1952
1956
22
23
R. Hollan Sukmadiningrat
1956
1957
23
24
  R. Muryani Nataatmaja
1957
1959
24
25
  R. Asep Adung Purawidjaja
1959
1966
25
26
  Letkol R. Rakhmat
1966
1966
26
27
  Sarmada
1966
1969
27
28
R. Gadjali Gandawidura
1969
1970
28
29
  Ahmad Endang
1970
1973
1973
1978
29
30
  Adjat Sudradjat Sudirahadja
1978
1983
30
31
  Arifin Yoesoef
1983
1988
31
32
  Eddi Soekardi
1988
1993
32
1993
1996
33
33
  Harkat Handiamihardja
1996
2001
34
34
  Wasidi Swastomo
2001
2006
35
35
  Tjetjep Muchtar Soleh
2006
2011
36
Dadang Sufianto
2011
2016
37
Suranto
36
  Irvan Rivano Muchtar
16 Mei 2016
14 Desember 2018
38
[Ket. 10]
Herman Suherman
Herman Suherman
(Pelaksana Tugas)
14 Desember 2018
Petahana
[5]
Catatan
  1. ^ Dalem mandiri tanpa diangkat oleh sultan, raja atau pemerintahan lain
  2. ^ Dalem mandiri, tetapi kemudian diakui regent oleh VOC
  3. ^ Mengajukan gelar Pangeran Aria Adipati Amangkurat di Datar ke VOC
  4. ^ Wira Tanu pertama bergelar Adipati, dikabulkannya gelar Datar, yaitu gelar yang diminta oleh pendahulunya
  5. ^ Bupati Cianjur terakhir bergelar Wira Tanu Datar, Regent terakhir VOC. Kepatihan Sukabumi terbentuk pada masa pemerintahannya
  6. ^ Keponakan Wira Tanu Datar VI, cucu Wira Tanu Datar V, Regent pertama Hindia Belanda
  7. ^ Sering disebut Dalem Pancaniti. Pencipta seni mamaos (Cianjuran)
  8. ^ Pada masa pemerintahannya terbentuk Kabupaten Sukabumi sebagai Kabupaten tersendiri yang terpisah dari Kabupaten Cianjur
  9. ^ Regent terakhir Hindia Belanda. Bupati Cianjur terakhir keturunan Wira Tanu I
  10. ^ Terjerat kasus korupsi[4]

Dewan PerwakilanSunting

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Cianjur dalam tiga periode terakhir.

Partai Politik Jumlah Kursi pada Periode
2009-2014[6] 2014-2019[7] 2019-2024[8]
  Hanura 1 4 0
  Gerindra 2 5 11
  PKS 5   5   5
  PAN 0 1 3
  PKB 3 4 5
  Golkar 8 7 8
  PPP 6 3 2
  PBB 3 2 0
  PDI Perjuangan 7   7 5
  Demokrat 14 11 5
  NasDem (New!) 1 6
Jumlah Kursi 50   50   50
Jumlah Partai 9 11 9

KecamatanSunting

Kabupaten Cianjur memiliki 32 kecamatan, 6 kelurahan, dan 354 desa. Pada tahun 2017, jumlah penduduk mencapai 2.246.663 jiwa dengan luas wilayah 3.840,16 km² dan sebaran penduduk 585 jiwa/km².[9]

Kabupaten Cianjur terdiri atas 32 Kecamatan, 342 Desa dan 6 Kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Cianjur.


DemografiSunting

Kabupaten Cianjur, menurut Sensus Penduduk 2000, berpenduduk 1.931.480 jiwa, terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 982.164 jiwa dan perempuan 949.676 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk 2,23 %.

Kecamatan yang jumlah penduduknya terbesar adalah Kecamatan Pacet sebanyak 170.224 jiwa dan Kecamatan Cianjur sebanyak 140.374 jiwa. Kecamatan lainnya yang jumlah penduduknya di atas 100.000 jiwa adalah Kecamatan Cibeber (105.0204 jiwa), Kecamatan Warungkondang (101.580 jiwa) dan Kecamatan Karangtengah (123.158 jiwa). Kecamatan yang jumlah penduduknya terkecil adalah Kecamatan Cikadu sebanyak 36.212 jiwa. Kecamatan lainnya yang jumlah penduduknya antara 40.000 - 50.000 jiwa adalah Kecamatan Sindangbarang, Takokak, dan Sukanagara.

EkonomiSunting

Lapangan pekerjaan penduduk Kabupaten Cianjur di sektor pertanian yaitu sekitar 62.99 %. Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yaitu sekitar 42,80 %. Sektor lainnya yang cukup banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor perdagangan dan jasa yaitu sekitar 14,60%. dan pengiriman pembantu 30%

Beras Pandan WangiSunting

Cianjur memiliki beras yang khas, terkenal dengan daerah yang subur untuk ditanami beras. Ciri khas beras dari Cianjur adalah karena kualitasnya. Kualitas beras Cianjur adalah pada ukuran yang cukup besar dan juga kekhasan akan aromanya yaitu wangi. Beras Cianjur yang sangat terkenal adalah beras Pandan Wangi.

Pandan Wangi merupakan satu-satunya beras wangi beraroma pandan yaitu beras yang merupakan satu-satunya beras terbaik yang tidak ditemukan di daerah lain dan menjadi khas Cianjur. Rasanya enak (pulen) dan harganya pun relatif lebih tinggi dari beras biasa. Di Cianjur sendiri, pesawahan yang menghasilkan beras asli Cianjur ini hanya di sekitar Kecamatan Warungkondang, Cianjur, Cugenang, Cianjur, dan sebagian Kecamatan Cianjur. Luasnya sekitar 10,392 Ha atau 10,30% dari luas lahan persawahan di Kabupaten Cianjur. Produksi rata-rata per hektare 6,3 ton dan produksi per-tahun 65,089 ton. Kecamatan Pacet dan Cipanas menghasilkan sayur-sayuran antara lain Wortel, daun bawang, Brocoli, Buncis, Kol, Terung, Aneka Cabe, Kailan, Bit, Paprika merah & hijau, Jagung manis, Tomat, Poling, Jamur, Selada, Timun Jepang dan lain lain.

RotiSunting

Sejak jaman Belanda tahun 1920 an yang lalu, terdapat pengusaha di Cianjur yang memproduksi Roti. Roti yang diproduksi jaman dahulu terkenal dengan Roti manis khas. dimana bentuknya bulat yang ditaburi gula manis. Roti ini disukai oleh warga Belanda pada jaman tersebut, sehingga satu tempat di jalan raya kota Cianjur ini menjadi tempat berkumpulnya orang Belanda. Proses produksinya sampai saat ini masih sama, yaitu menggunakan pembakaran konvensional yaitu menggunakan Ruang Bakar dari Batu Bata. sehingga Roti yang dibuat memiliki aroma yang berbeda dari Roti yang dibuat pakai Oven.

Pembuatan Roti ini masih dipasarkan sampai sekarang, terutama roti tawarnya dan ciri khasnya yaitu Roti Manis. Toko Roti sejak jaman Belanda ini, masih ada sampai sekarang yaitu dengan nama "TKC". dahulunya bernama Tan Keng Cu. namun sejak mendekati tahun 2000 berubah menjadi TKC dikarenakan ada pembatasan penggunaan nama Chinese sejak jaman tersebut.

Pengembangan Roti Tawar ini mulai merambah tidak hanya roti tawar basah saja tetapi menjadi Roti Kering. Karena rasanya yang Khas, Roti ini menjadi salah satu produk yang dicari di Cianjur. Roti kering ini berjenis Rotika, yaitu Roti Tawar yang diberikan pemanis dan keju diatasnya sehingga menjadi Roti Kering khas dari Cianjur yang bernama Rotika.

Sejak dimulainya pembuatan Roti di Cianjur ini, sampai merambah kota-kota lain di Indonesia diantaranya adalah Bogor, Sukabumi dan Bandung.

PendudukSunting

Dengan kepadatan penduduk tidak merata:

  1. 63,90 % di wilayah utara dengan luas wilayah 30,78 %
  2. 19,19 % di wilayah tengah dengan luas wilayah 28,25 %
  3. 17,12 % di wilayah selatan dengan luas wilayah 40,70 %

AgamaSunting

Penduduk Kabupaten Cianjur dikenal sebagai masyarakat yang religius dengan mayoritas penduduknya memeluk agama Islam yang mencapai 98 %, sedangkan penduduk non muslim mencapai 2 %, dengan rincian sebagai berikut:

  1. Penduduk beragama Islam = 1.893.203 orang (98 %)
  2. Penduduk beragama Kristen = 32.841 orang (1,7 %)
  3. Penduduk beragama Budha dan Hindu = 5.796 orang ( 0,3 %)

Tingkat partisipasi usia sekolahSunting

  1. Angka Partisipasi Kasar SD/MI Tahun 2000 mencapai 84,52 %
  2. Angka Pastisipasi Kasar SMP mencapai 38,50 %
  3. Angka Partisipasi Kasar SMA mencapai 11,98 %
  4. Angka Partisipasi Kasar KULIAH mencapai 20,18 %

Indikasi peningkatan derajat kesehatan masyarakatSunting

  1. Angka Kematian Ibu (AKI) saat ini mencapai 373 per 100.000 kelahiran, turun dari keadaan tahun-tahun sebelumnya sebesar 420 per 100.000 kelahiran.
  2. Angka Kematian Bayi (AKB) mencapai 62,00 per 1.000 kelahiran hidup, turun dari keadaan tahun-tahun sebelumnya sebesar 65,38 per 1.000 kelahiran hidup.
  3. Angka Harapan Hidu (AHH) mencapai rata-rata 66,45 tahun, naik dari keadaan tahun-tahun sebelumnya sebesar 62 tahun.[10]

TransportasiSunting

 
Suasana Cianjur

Ibu kota kabupaten Cianjur dilintasi jalan nasional (Jakarta-Bogor-Bandung), serta jalur kereta api Jakarta-Bogor-Sukabumi-Cianjur.

Perjalanan ke Cianjur biasanya ditempuh melalui jalan darat, jika dari Jakarta bisa melewati jalur Puncak, jalur Sukabumi, jalan alternatif melalui Jonggol atau melalui Jalan Tol Purbaleunyi.

PariwisataSunting

Objek wisataSunting

  • Situs Megalitikum Gunung Padang
  • Gunung Gede
  • Gunung Pangrango
  • Istana Presiden Cipanas
  • Telaga Biru
  • Curug CIbeureum
  • Curug Ciismun
  • Alun-alun Suryakencana
  • Tirta Jangari
  • Waduk Cirata
  • Pantai Jayanti
  • Pantai Apra
  • Curug Citambur
  • Taman Bunga Nusantara
  • Kota Bunga
  • Kebun Raya Cibodas
  • Situs Megalitikum Gunung Kasur
  • Danau Leuwi Soro
  • Kebun Teh Panyairan
  • Kebun Teh Gedeh

Ayam PelungSunting

Ayam pelung merupakan ayam peliharaan asal Cianjur, sejenis ayam asli Indonesia dengan tiga sifat genetik. Pertama suara berkokok yang panjang mengalun. Kedua pertumbuhannya cepat. Ketiga postur badan yang besar. Bobot ayam pelung jantan dewasa bisa mencapai 5 – 6 kg dengan tinggi antara 40 sampai 50 cm. Nama ayam pelung berasal dari bahasa sunda Mawelung atau Melung yang artinya melengkung, karena dalam berkokok menghasilkan bunyi melengkung juga karena ayam pelung memiliki leher yang panjang dalam mengahiri suara / kokokannya dengan posisi melengkung. Ayam pelung merupakan salah satu jenis ayam lokal indonesia yang mempunyai karakteristik khas, yang secara umum ciri ciri ayam pelung dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. Badan: Besar dan kokoh (jauh lebih berat / besar dibanding ayam lokal biasa)
  2. Cakar: Panjang dan besar, berwarna hitam, hijau, kuning atau putih
  3. Pial: Besar, bulat dan memerah
  4. Jengger: Besar, tebal dan tegak, sebagian miring, berwarna merah dan berbentuk tunggal
  5. Warna bulu: Tidak memiliki pola khas, tetapi umumnya campuran merah dan hitam ; kuning dan putih ; dan atau campuran warna hijau mengkilat
  6. Suara: Berkokok berirama, lebih merdu dan lebih panjang dibanding ayam jenis lainnya.

ReferensiSunting

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  2. ^ http://jabar.bps.go.id/Tabel/penduduk/JumlahPenduduk.html Jumlah penduduk Kabupaten Cianjur tahun 2007 versi BPS Provinsi Jawa Barat
  3. ^ Suryaningrat, Bayu. Sajarah Cianjur sareng Raden Aria Wira Tanu. Rukun Warga Cianjur, Jakarta. 
  4. ^ Saubani, Andri; Iman, Riga Nurul (14 Desember 2018). "Ribuan Warga Padati Alun-Alun Syukuri OTT Bupati Cianjur". Republika. Diakses tanggal 14 Januari 2019. 
  5. ^ Solehudin, Mochammad (14 Desember 2018). "Wabup Herman Suherman Resmi Jadi Plt Bupati Cianjur". Detik. Diakses tanggal 14 Januari 2019. 
  6. ^ "Daftar Anggota DPRD Kabupaten Cianjur periode 2009-2014". Diakses tanggal 10-08-2019. 
  7. ^ "Demokrat Paling Banyak Rebut Kursi di Cianjur". Tribun Jabar. 21-04-2014. Diakses tanggal 10-08-2019. 
  8. ^ "Gerindra pimpin perolehan suara pileg di Cianjur". Antara News. 08-05-2019. Diakses tanggal 10-08-2019. 
  9. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diakses tanggal 5 Desember 2018. 
  10. ^ Pemkab Cianjur