Kabupaten Blora

kabupaten di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia


Blora (bahasa Jawa: Hanacaraka: ꦧ꧀ꦭꦺꦴꦫ, Pegon: بلورا, translit. Blora) adalah sebuah wilayah kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Ibu kotanya adalah Kecamatan Blora. Kabupaten ini terletak di bagian timur Jawa Tengah, Blora berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur. Kabupaten ini berbatasan dengan Rembang dan Pati di utara, Tuban dan Kabupaten Bojonegoro (Jawa Timur) di sebelah timur, Ngawi di selatan, serta Grobogan di bagian barat. Pada akhir tahun 2023, jumlah penduduk Blora Sebanyak 921.470 jiwa.[1][4][5]

Blora
Transkripsi bahasa daerah
 • Hanacarakaꦧ꧀ꦭꦺꦴꦫ
 • Pegonبلورا
 • Alfabet JawaBlora
Dari kiri; ke kanan: Tugu Adipura Blora, Festival Barongan, Gua Terawang, dan Terminal Cepu
Lambang resmi Blora
Julukan: 
Winakreata
Barongan
Jati
Minyak
Sate
Motto: 
Çaçana jaya kerta bhumi
(Sanskerta) Tempat kejayaan, kemakmuran, dan kedamaian yang langgeng
Peta
Peta
Blora di Jawa
Blora
Blora
Peta
Blora di Indonesia
Blora
Blora
Blora (Indonesia)
Koordinat: 7°04′00″S 111°23′00″E / 7.06667°S 111.38333°E / -7.06667; 111.38333
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Tengah
Dasar hukumUU No. 13/1950
Hari jadi11 Desember 1749
Ibu kotaBlora
Jumlah satuan pemerintahan
Daftar
  • Kecamatan: 16
  • Kelurahan: 295
Pemerintahan
 • JenisPemerintah Daerah Kabupaten
 • BupatiArief Rohman
 • Wakil BupatiTri Yuli Setyowati
 • Sekretaris DaerahKomang Gede Irawadi
Luas
 • Total1,955,82 km2 (755,15 sq mi)
Populasi
 (31 Desember 2023)[1]
 • Total921.470
 • Kepadatan470/km2 (1,200/sq mi)
Demografi
 • Agama
  • 98,77% Islam
  • 0,03% Kepercayaan
  • 0,02% Buddha
  • 0,01% Lainnya[1]
 • BahasaIndonesia, Bahasa Jawa Blora
 • IPMKenaikan 70,63 (2023)
Tinggi[2]
Zona waktuUTC+07:00 (WIB)
Kode BPS
3316
Kode area telepon+62 296
Pelat kendaraanK (E/N/X/Y)
Kode Kemendagri33.16
DAURp 978.153.982.000,00- (2020)[3]
Semboyan daerahBlora MUSTIKA
(Maju, Unggul, Sehat, Tertib, Indah, Kontinyu, dan Aman)
Cacana Jaya Kerta Bhumi
Flora resmiJati
Fauna resmiBetet biasa
Situs webwww.blorakab.go.id

Asal usul nama Blora

sunting
 
Alun Alun Blora dari Arah Timur

Menurut cerita rakyat Blora berasal dari kata belor yang berarti lumpur, kemudian berkembang menjadi mbeloran yang akhirnya sampai sekarang lebih dikenal dengan nama blora.[6]

Secara etimologi Blora berasal dari kata wai + lorah. Wai berarti air, dan lorah berarti jurang atau tanah rendah.[6] Dalam bahasa Jawa sering terjadi pergantian atau pertukaran huruf W dengan huruf B, tanpa menyebabkan perubahan arti kata. Sehingga seiring dengan perkembangan zaman kata wailorah menjadi bailorah, dari bailorah menjadi balora dan kata balora akhirnya menjadi blora.[6]

Jadi nama Blora berarti tanah rendah berair, ini dekat sekali dengan pengertian tanah berlumpur.[6] Namun mitos yang beredar, pengucapannya di luar bahasa Jawa, terdengar seperti kata "flora" yang artinya "sesuatu yang berhubungan/berkaitan dengan bunga".[6]

Sejarah

sunting

Masa kerajaan Kadipaten Jipang

sunting

Blora berada di bawah pemerintahan Kadipaten Jipang pada abad XVI, yang pada saat itu masih di bawah pemerintahan Demak. Adipati Jipang pada saat itu bernama Aryo Penangsang, yang lebih dikenal dengan nama Aria Jipang. Daerah kekuasaannya meliputi Pati, Lasem, Blora, dan Jipang sendiri.[7] Akan tetapi, setelah Jaka Tingkir (Hadiwijaya) mewarisi takhta Demak, pusat pemerintahan dipindah ke Pajang.[8] Dengan demikian, Blora masuk Kerajaan Pajang.

Masa kerajaan Mataram

sunting

Kerajaan Pajang tidak lama memerintah,[9] karena direbut oleh Kerajaan Mataram yang berpusat di Kotagede, Yogyakarta. Blora termasuk wilayah Mataram bagian timur atau daerah Bang Wetan.[10] Pada masa pemerintahan Pakubuwana I (1704-1719) daerah Blora diberikan kepada putranya yang bernama Pangeran Blitar dan diberi gelar Adipati.[11] Luas Blora pada saat itu 3.000 karya (1 karya = ¾ hektare). Pada tahun 1719–1727 Kerajaan Mataram dipimpin oleh Amangkurat IV, sehingga sejak saat itu Blora berada di bawah pemerintahan Amangkurat IV.[11]

Blora pada zaman Perang Mangkubumi (tahun 1727–1755)

sunting

Pada saat Mataram di bawah Pakubuwana II (1727–1749), terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Mangkubumi dan Mas Syahid, Mangkubumi berhasil menguasai Sukawati, Grobogan, Demak, Blora, dan Yogyakarta. Akhirnya Mangkubumi diangkat oleh rakyatnya menjadi raja di Yogyakarta.[11]

Berita dari Babad Giyanti dan Serat Kuntharatama menyatakan bahwa Mangkubumi menjadi raja pada tanggal 1 Sura tahun Alib 1675, atau 11 Desember 1749. Bersamaan dengan diangkatnya Mangkubumi menjadi raja, maka diangkat pula para pejabat yang lain, di antaranya adalah pemimpin prajurit Mangkubumen, Wilatikta, menjadi Bupati Blora.[11]

Blora di bawah Kasultanan Perang Mangkubumi diakhiri dengan perjanjian Giyanti, tahun 1755, yang terkenal dengan nama 'palihan nagari', karena dengan perjanjian tersebut Mataram terbagi menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Surakarta di bawah Pakubuwana III, sedangkan Yogyakarta di bawah Sultan Hamengku Buwana I. Di dalam palihan nagari itu, Blora menjadi wilayah kasunanan sebagai bagian dari daerah Mancanegara Timur, Kasunanan Surakarta. Akan tetapi bupati Wilatikta tidak setuju masuk menjadi daerah Kasunanan, sehingga dia pilih mundur dari jabatannya.[11]

Blora sebagai kabupaten

sunting
 
Tugu Adipura Blora

Sejak zaman Pajang sampai dengan zaman Mataram, Kabupaten Blora merupakan daerah penting bagi Pemerintahan Pusat Kerajaan, hal ini karena Blora terkenal dengan hutan jatinya.[11] Blora mulai berubah statusnya dari apanage menjadi daerah kabupaten pada hari Kamis Kliwon, tanggal 2 Sura tahun Alib 1675, atau tanggal 11 Desember 1749 Masehi, yang sampai sekarang dikenal dengan Hari Jadi Kabupaten Blora. Adapun bupati pertamanya adalah Wilatikta.[11]

Perjuangan rakyat Blora menentang penjajahan

sunting

Perlawanan Rakyat Blora yang dipelopori petani muncul pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Perlawanan petani ini tak lepas dari makin memburuknya kondisi sosial dan ekonomi penduduk pedesaan pada waktu itu.[11]

Pada tahun 1882, pajak kepala yang diterapkan oleh Pemerintah Penjajah sangat memberatkan bagi pemilik tanah (petani). Di daerah-daerah lain di Jawa, kenaikan pajak telah menimbulkan pemberontakan petani, seperti peristiwa Cilegon pada tahun 1888. Selang dua tahun kemudian seorang petani dari Blora mengawali perlawanan terhadap pemerintahan penjajah yang dipelopori oleh Samin Surosentiko.[6]

Gerakan Samin sebagai gerakan petani anti kolonial lebih cenderung mempergunakan metode protes pasif, yaitu suatu gerakan yang tidak merupakan pemberontakan radikal bersenjata.[11]

Beberapa indikator penyebab adanya pemberontakan untuk menentang kolonial penjajah Belanda antara lain:[11]

  • Berbagai macam pajak diimplementasikan di daerah Blora
  • Perubahan pola pemakaian tanah komunal
  • Pembatasan dan pengawasan oleh Belanda mengenai penggunaan hasil hutan oleh penduduk

Indikator-indikator ini mempunyai hubungan langsung dengan gerakan protes petani di daerah Blora. Gerakan ini mempunyai corak millinarisme, yaitu gerakan yang menentang ketidakadilan dan mengharapkan zaman emas yang makmur.[11]

Situs kuno

sunting
 
Waduk Tempuran Kabupaten Blora

Situs fosil fauna purba

sunting

Lokasi situs fosil hewan purba terletak di Dukuh Kawung dan Singget, Desa Menden dan Dukuh Sunggun, Desa Medalem, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora. Lokasinya berada di tepian daerah aliran sungai Bengawan Solo dan berjarak kurang lebih 65 km arah selatan dari Kota Blora. Di lokasi ini telah ditemukan fosil Kepala kerbau purba, kura-kura purba, dan Gajah Purba. Diperkirakan umur fosil antara 200.000-300.000 tahun. Fosil ini awalnya ditemukan oleh penduduk kemudian diamankan oleh Yayasan Mahameru. Sekarang sedang diteliti oleh ahli antropologi dari Bandung, Fahrul Azis dan tim dari Universitas Wolongong, Australia, yang dipimpin Gertz Vandenburg.

Situs Wura-Wari

sunting

Lokasi situs Wura-Wari ini terletak di desa Ngloram. Haji Wura-Wari adalah penguasa bawahan (vasal) yang pada tahun 1017 Masehi menyerang Kerajaan Mataram Hindu (semasa Raja Darmawangsa Teguh). Saat itu Kerajaan Mataram Hindu berpusat di daerah yang sekarang dikenal dengan Maospati, Magetan, Jawa Timur. Serangan dilakukan ketika pesta pernikahan putri Raja Darmawangsa Teguh dengan Airlangga, yang juga keponakan raja, sedang dilangsungkan.

Membalas dendam atas kematian istri, mertua, dan kerabatnya, Airlangga yang lolos dari penyerangan dan tinggal di Wanagiri (di daerah perbatasan Jombang-Lamongan), akhirnya balik menghancurkan Haji Wura-Wari. Namun, sebelumnya Haji Wura-Wari terlebih dahulu menyerang Airlangga sehingga dia terpaksa mengungsi dan keluar dari keratonnya di Wattan Mas (sekarang Kecamatan Ngoro, Pasuruan, Jawa Timur). Serangan balik Airlangga, yang ketika itu sudah dinobatkan menggantikan Darmawangsa Teguh, ditulis dalam Prasasti Pucangan (abad XI) yang terjadi pada tahun 1032 M. Serangan itu pula yang memperkuat dugaan batu bata kuno berserakan di sekitar situs tersebut.

Situs yang ditemukan tim ekspedisi berada di tengah tegalan, di tepi persawahan, berupa tumpukan batu bata kuno berlumut yang kini dijadikan areal pemakaman. Sejak tahun 2000, telah dikumpulkan serpihan batu bata kuno berukuran 20 x 30 sentimeter dengan tebal sekitar 4 cm, serpihan keramik, serta serpihan perunggu yang kini disimpan di Museum Mahameru. Temuan di situs itu memperkuat isi Prasasti Pucangan bertarikh Saka 963 (1041/1042 Masehi) yang pernah diuraikan ahli huruf kuno (epigraf) Boechori dari Universitas Indonesia. Boechori menyebutkan, "Haji Wura-Wari mijil sangke Lwaram". Mijil mempunyai arti keluar (muncul dari).

Hasil analisis toponimi (nama tempat), kemungkinan nama Lwaram berubah menjadi Desa Ngloram sekarang. “Pelesapan konsonan ’w’, penyengauan di awal kata, dan perubahan vokal ’a’ menjadi ’o’ menjadikan nama lama Lwaram menjadi Ngloram sekarang. Penjelasan seperti itu pula yang membantah berbagai pendapat terdahulu yang menyebutkan Haji Wura-Wari berasal dari daerah Indocina atau Sumatra sebagai koalisi Sriwijaya. Cepu memiliki data arkeologis, toponimi, dan geografis kuat untuk melokasikannya di tepian Bengawan Solo di Desa Ngloram.

Petilasan Kadipaten Jipang Panolan

sunting

Petilasan Kadipaten Jipang Panolan berada di Desa Jipang, sekitar 8 kilometer dari Cepu. Petilasannya berwujud makam Gedong Ageng yang dahulu merupakan pusat pemerintahan dan bandar perdagangan Kadipaten Jipang. Di tempat tersebut juga terlihat Petilasan Siti Hinggil, Petilasan Semayam Kaputren, Petilasan Bengawan Sore, dan Petilasan Masjid.

Ada juga makam kerabat kerajaan, antara lain makam R. Bagus Sumantri, R. Bagus Sosrokusumo, R. A. Sekar Winangkrong, dan Tumenggung Ronggo Atmojo. Di sebelah utara Makam Gedong Ageng, terdapat Makam Santri Songo. Disebut demikian karena di situ ada sembilan makam santri dari Kerajaan Pajang yang dibunuh oleh prajurit Jipang karena dicurigai sebagai telik sandi atau mata-mata Sultan Hadiwijaya.

Geografi

sunting

Wilayah Kabupaten Blora terdiri atas dataran rendah dan perbukitan dengan ketinggian 20-280 meter dpl. Bagian utara merupakan kawasan perbukitan, bagian dari rangkaian Pegunungan Kapur Utara. Bagian selatan berupa dataran rendah. Ibu kota kabupaten Blora sendiri terletak di cekungan Pegunungan Kapur Utara.[12]

Separuh dari wilayah Kabupaten Blora merupakan kawasan hutan, terutama di bagian utara, timur, dan selatan. Dataran rendah di bagian tengah umumnya merupakan areal persawahan.[12]

Sebagian besar wilayah Kabupaten Blora merupakan daerah krisis air (baik untuk air minum maupun untuk irigasi) pada musim kemarau, terutama di daerah pegunungan kapur. Sementara pada musim penghujan, rawan banjir longsor di sejumlah kawasan.[12]

Sungai Bengawan solo merupakan sungai terbesar di Kabupaten Blora, dan sungai Lusi adalah sungai terbesar kedua, bermata air di Pegunungan Kapur Utara (Rembang), mengalir ke arah barat melintasi kota Purwodadi yang akhirnya bergabung dengan Kali Serang.

Kabupaten Blora berbatasan dengan beberapa wilayah administratif seperti

Utara Kabupaten Rembang & Kabupaten Pati
Timur Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur
Selatan Kabupaten Ngawi
Barat Kabupaten Grobogan

Seperti wilayah lain di Indonesia, Kabupaten Blora beriklim tropis dengan tipe monsunal (Am) yang memiliki dua perbedaan musim yang disebabkan oleh pergerakan angin monsun, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Musim penghujan dipengaruhi oleh angin monsun baratan yang bersifat basah, lembap, serta banyak membawa uap air dan biasanya terjadi pada periode November hingga April. Sementara itu, musim kemarau di wilayah Blora disebabkan oleh angin monsun timuran yang bersifat kering dan sedikit membawa uap air dan biasanya berlangsung pada periode Mei hingga Oktober. Suhu udara di wilayah Blora rata-rata berada dalam rentang 23°–35 °C dengan tingkat kelembapan relatif berkisar antara 60% hingga 90%.

Data iklim Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Indonesia
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rata-rata tertinggi °C (°F) 30.3
(86.5)
30.3
(86.5)
30.8
(87.4)
31.1
(88)
31.4
(88.5)
31
(88)
31.8
(89.2)
32.8
(91)
33.8
(92.8)
34.2
(93.6)
33.6
(92.5)
31.6
(88.9)
31.89
(89.41)
Rata-rata harian °C (°F) 26.1
(79)
26.1
(79)
26.4
(79.5)
26.7
(80.1)
26.7
(80.1)
26.2
(79.2)
26.5
(79.7)
27
(81)
27.7
(81.9)
27.8
(82)
26.7
(80.1)
26.5
(79.7)
26.7
(80.11)
Rata-rata terendah °C (°F) 23.2
(73.8)
23.2
(73.8)
23.1
(73.6)
23.1
(73.6)
22.9
(73.2)
22.4
(72.3)
22
(72)
22.1
(71.8)
22.8
(73)
23.5
(74.3)
23.6
(74.5)
23.3
(73.9)
22.93
(73.32)
Presipitasi mm (inci) 326
(12.83)
282
(11.1)
260
(10.24)
187
(7.36)
106
(4.17)
62
(2.44)
37
(1.46)
28
(1.1)
60
(2.36)
152
(5.98)
224
(8.82)
309
(12.17)
2.033
(80,03)
Rata-rata hari hujan 22 19 18 14 9 5 3 2 6 12 16 20 146
% kelembapan 84 85 83 81 79 76 72 69 71 73 77 82 77.7
Rata-rata sinar matahari harian 5.7 5.9 6.4 7.9 8.2 8.3 9.4 10.1 9.7 9.2 8.1 6.3 7.93
Sumber #1: Climate-Data.org[13]
Sumber #2: BMKG[14] & Weatherbase[15]

Pemerintahan

sunting

Kepala daerah

sunting

Bupati adalah pimpinan tertinggi dalam pemerintahan Kabupaten Blora. Bupati dan wakil bupati yang menjabat saat ini ialah Arief Rohman dan Tri Yuli Setyowati. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, melantik Arief dan Yuli pada 26 Februari 2021, untuk periode jabatan 2021-2026.[16]

No Bupati Mulai menjabat Akhir menjabat Wakil Bupati
*   Arief Rohman 26 Februari 2021 Petahana   Tri Yuli Setyowati

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

sunting

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kabupaten Blora dalam tiga periode terakhir.

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2009–2014[17] 2014–2019[18] 2019–2024[19]
PKB 5   5   8
Gerindra (baru) 1   4   2
PDI-P 8   6   9
Golkar 9   8   5
NasDem (baru) 3   7
PKS 3   5   3
Perindo (baru) 1
PPP 4   5   5
PAN 1   0   0
Hanura (baru) 3   1   2
Demokrat 6   8   3
PKPI 1   0   0
PPDI 1
PPIB 2
PDP (baru) 1
Jumlah Anggota 45   45   45
Jumlah Partai 13   9   10


Kecamatan

sunting

Kabupaten Blora terdiri dari 16 kecamatan, 24 kelurahan, dan 271 desa. Pada tahun 2019, jumlah penduduknya mencapai 925.642 jiwa dengan luas wilayah 1.804,59 km² dan sebaran penduduk 513 jiwa/km².[11][20][21] Ibu kotanya terletak di Kecamatan Blora. Di samping Blora, kota-kota kecamatan lainnya yang cukup signifikan adalah Cepu, Jiken, Ngawen, Randublatung, dan Kunduran.

Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Blora, adalah sebagai berikut:

Kemendagri Kecamatan Jumlah
Kelurahan
Jumlah
Desa
Kodepos[22] Status Daftar
Desa/Kelurahan
33.16.11 Banjarejo 20 58253 Desa
33.16.09 Blora 12 16 58211-58219 Desa
Kelurahan
33.16.15 Bogorejo 14 58262 Desa
33.16.05 Cepu 6 11 58275 Desa
Kelurahan
33.16.16 Japah 18 58257 Desa
33.16.01 Jati 12 58284 Desa
33.16.08 Jepon 1 24 58261 Desa
Kelurahan
33.16.07 Jiken 11 58272 Desa
33.16.04 Kedungtuban 17 58281 Desa
33.16.03 Kradenan 10 58283 Desa
33.16.13 Kunduran 1 25 58255 Desa
Kelurahan
33.16.12 Ngawen 2 27 58254 Desa
Kelurahan
33.16.02 Randublatung 2 16 58282 Desa
Kelurahan
33.16.06 Sambong 10 58271 Desa
33.16.14 Todanan 25 58256 Desa
33.16.10 Tunjungan 15 58252 Desa
TOTAL 24 271

Perencanaan daerah

sunting

Bupati Blora dan Pemkab Blora mempunyai beberapa rencana jangka panjang dan jangka pendek untuk membangun Kabupaten Blora,[23] diantaranya:

  • Taman Patung Barongan Blora

Membangun Taman Kota yang pada bagian tengah taman tersebut dibangun Patung Barongan khas Blora yaitu Barongan Gembong Amijoyo, seperti Kota Semarang memiliki Taman Pandanaran Semarang yang terdapat Patung Warak ngendok (sejenis barongan Khas Kota Semarang).

  • Membangun jalur sepeda & becak

yang jalan rayanya di cat hijau dan di beri semacam trotoar pemisah dengan jalan raya mobil dan motor. Jalur sepeda agar meningkatkan minat bersepeda dan meninggalkan kendaraan bermotor supaya Blora udaranya tidak polusi. '

  • Sawah Organik

Menjadikan seluruh sawah di Blora menjadi sawah organik, yaitu padi organik, jagung organik, blewah organik, dll.

  • Blora Barongan Carnival

Mengadakan acara perayaan tahunan Blora Barongan Carnival yang diikuti berbagai jenis Barongan seluruh Indonesia, yaitu Barongan Gembong Amijoyo, Barong Loreng Gonteng, Barongan Dencong, Barongan Gembong Kamijoyo, Barongan Singo Karya, Singo Ulung, Barong Bali, Reog Ponorogo, Ondel-Ondel, Hudoq, Bebegig Sumantri, Barong Kemiren, dll.

  • Membangun TEAK LAND

Kota Johor ada LEGOLAND Malaysia harusnya Kabupaten Blora memiliki taman bermain seperti DUFAN (Dunia Fantasi) tetapi bertema hutan jati yang di berinama "TEAKLAND Indonesia", tempat besar dan luas dengan arena wahana berbentuk pohon jati, kayu jati, daun jati, ulat jati, bunga pohon jati, dll. Selain sebagai tempat wisata juga semakin memperkuat brand Blora sebagai Kota yang peduli hutan terutama hutan jati.

Ekonomi

sunting
 
RSUD Blora adalah salah satu rumah sakit umum yang ada di kabupaten Blora Jawa Tengah.

Pertanian merupakan sektor utama perekonomian di Kabupaten Blora. Pada subsektor kehutanan, Blora adalah salah satu daerah utama penghasil kayu jati berkualitas tinggi di Pulau Jawa.[24]

Daerah Cepu sejak lama dikenal sebagai daerah tambang minyak bumi, yang dieksploitasi sejak era Hindia Belanda.[25] Blora mendapat sorotan internasional ketika di kawasan Blok Cepu ditemukan cadangan minyak bumi sebanyak 250 juta barel.[26] Bulan Maret 2006 Kontrak Kerja Sama antara pemerintah dan kontraktor (PT Pertamina EP Cepu, Exxon Mobil Cepu Ltd, PT Ampolex Cepu) telah ditandatangani, dan Exxon Mobil Cepu Ltd. ditunjuk sebagai operator lapangan, sesuai kesepakatan Joint Operating Agreement (JOA) dari ketiga kontraktor tersebut, perkembangan terakhir untuk saat ini Plan Of Development (POD) Lapangan Banyu Urip telah disahkan Menteri ESDM.[27]

Bahasa

sunting

Berdasarkan tutur bahasa Jawa, Dialek Blora merupakan bahasa pergaulan dan termasuk tataran ngoko atau bahasa kasar. Jadi, di daerah Blora tataran krama (halus) maupun madya (biasa, campuran krama dan ngoko) tetap digunakan selain tataran dialek pergaulan ngoko kasar tersebut.

Madya adalah salah satu tingkatan bahasa Jawa yang paling umum dipakai di kalangan orang Jawa. Tingkatan ini merupakan bahasa campuran antara ngoko dan krama, bahkan kadang dipengaruhi dengan bahasa Indonesia. Bahasa madya ini mudah dipahami dan dimengerti.

Bahasa yang digunakan di daerah kabupaten Blora adalah bahasa Indonesia dan Aneman/Mataraman Pesisir dalam tingkat tutur ngoko, madya maupun krama oleh penggunanya masing-masing (formal "mis: pidato tema-solving-analisis, dll" maupun non formal dalam wawancara atau dialog percakapan–lancar / njagong;epyek).

Pendidikan

sunting
Pendidikan formal TK atau RA SD atau MI SMP atau MTs SMA atau MA SMK Perguruan tinggi Lainnya
Negeri 7 647 60 9 6 2 1
Swasta 518 76 78 33 26 5 3
Total 525 723 138 42 32 7 4
Data sekolah di Kabupaten Blora
Sumber:[28]

Kabupaten Blora memiliki beberapa perguruan tinggi, yaitu:

Transportasi

sunting
 
Bengawan Solo di Cepu.

Blora dilalui jalan provinsi yang menghubungkan Kota Semarang dengan Kota Surabaya lewat Purwodadi. Jalur ini cukup ramai, jika dibandingkan dengan jalur Semarang-Surabaya lewat Rembang, karena kondisi jalannya yang kalah lebar. Blora juga dapat dicapai dengan menempuh jalur Semarang-Kudus-Rembang-Blora. Blora sendiri setidaknya memiliki dua terminal bus tipe B; yaitu Terminal Gagak Rimang di Kecamatan Blora, Terminal Lama Blora dekat Stasiun Blora, dan satu Terminal tipe A Cepu di Cepu. ]] Blora juga memiliki tiga subterminal bertipe C; diantaranya Subterminal Kunduran, Subterminal Ngawen, SubTerninal Kedungtuban Subterminal Sambong Dan Subterminal Randublatung.

Kereta api

sunting

Jalur kereta api melewati wilayah Kabupaten Blora, namun tidak melintasi ibu kota kabupaten ini. Jalur tersebut melintas di bagian selatan. Stasiun Cepu merupakan stasiun besar kereta api utama di kabupaten ini yang terletak di lintas utara Jawa menghubungkan Jakarta dengan Surabaya selain itu ada Stasiun Randublatung, Stasiun Wadu, Stasiun Kapuan, Stasiun Doplang, kecuali KA Argo Bromo Anggrek. Pada jalur kereta Semarang-Demak-Godong-Purwodadi-Wirosari-Kunduran-Blora-Cepu sebenarnya terdapat empat stasiun yang kini sudah tak beroperasi, yaitu:

Jalur kereta itu sendiri saat ini sudah tidak difungsikan lagi. Rencananya akan beroperasi kembali segera dan akan melayani kembali dengan dua pilihan jalur.

Pesawat

sunting

Blora terdapat moda trasportasi jalur udara dengan adanya Bandar Udara Ngloram (Bandara Aryo Penagsang). Diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 17 Desember 2021 dengan Konsep ramah lingkungan dengan metode Nuansa Pohon Jati.[butuh rujukan]

Julukan

sunting

Dijuluki Daerah Sate, karena di Blora terdapat sate khas dengan bumbu khas Blora.[29]

Barongan

sunting

Dijuluki Barongan, karena Blora adalah daerahyang paling gencar melestarikan seni budaya Barongan.[30][31]

Kayu Jati

sunting

Dijuluki Kayu Jati, karena Blora merupakan penghasil kayu jati terbesar se-pulau Jawa. Kayu jati dari Blora dikenal memiliki kualitas paling baik se-Indonesia,[32] bahkan kayu jati Blora juga dikenal di mancanegara.

Referensi

sunting
  1. ^ a b c "Visualisasi Data Kependudukan - Kementerian Dalam Negeri 2023" (visual). www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 2 April 2024. 
  2. ^ "Metode Baru Indeks Pembangunan Manusia 2019-2020". www.bps.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-01-27. Diakses tanggal 15 Juni 2021. 
  3. ^ "Rincian Alokasi Dana Alokasi Umum Provinsi/Kabupaten Kota Dalam APBN T.A 2020" (PDF). www.djpk.kemenkeu.go.id. (2020). Diakses tanggal 15 Juni 2021. 
  4. ^ "Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten Kota dan Agama di Provinsi Jawa Tengah, 2020". Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah. 14 April 2021. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-09-13. Diakses tanggal 4 Maret 2022. 
  5. ^ "Kabupaten Blora Dalam Angka 2021" (pdf). www.blorakab.bps.go.id. hlm. 8, 68. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-06-16. Diakses tanggal 15 Juni 2021. 
  6. ^ a b c d e f Kusuma, Ratih (2009). "KAWASAN PERMUKIMAN SUKU SAMIN SEBAGAI OBJEK WISATA BUDAYA MINAT KHUSUS DI BLORA" (PDF). Universitas Muhammadiyah Surakarta: 3 & 4. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2021-01-24. Diakses tanggal 2020-09-30. 
  7. ^ "PESAREAN TIRTONATAN : PERISTIRAHATAN TERAKHIR PARA BUPATI BLORA | BLORANEWS". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-01-27. Diakses tanggal 2020-10-02. 
  8. ^ Putri, Arum Sutrisni (2020-03-05). Putri, Arum Sutrisni, ed. "Perkembangan Politik Kerajaan Demak Masa Sultan Trenggono". Kompas.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-09-22. Diakses tanggal 2020-10-02. 
  9. ^ "Materi Kerajaan Pajang". Kelas IPS. 2020-08-08. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-09-27. Diakses tanggal 2020-10-02. 
  10. ^ "Student Blog Universitas Muhammadiyah Malang – Layanan Blog Universitas Muhammadiyah Malang" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-10-02. [pranala nonaktif permanen]
  11. ^ a b c d e f g h i j k l "Gambaran Umum - Website Pemerintah Kab Blora". www.blorakab.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-09-28. Diakses tanggal 2020-10-02.  Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama ":0" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  12. ^ a b c "BAB II GAMBARAN UMUM" (PDF). Universitas Diponegoro: 1. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2020-10-10. Diakses tanggal 2020-10-06. 
  13. ^ "Blora, Jawa Tengah, Indonesia". Climate-Data.org. Diakses tanggal 25 Mei 2022. 
  14. ^ "Curah Hujan Kabupaten Blora – ZOM 133, 147, dan 148" (PDF). BMKG. hlm. 58. Diakses tanggal 25 Mei 2022. 
  15. ^ "BLORA, INDONESIA". Weatherbase. Diakses tanggal 25 Mei 2022. 
  16. ^ "Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Blora Berjalan Khidmat". www.blorakab.go.id. Diakses tanggal 2 April 2024. 
  17. ^ "Kabupaten Blora Dalam Angka 2013". Badan Pusat Statistik Kabupaten Blora. 28-11-2013. Diakses tanggal 29-03-2023. 
  18. ^ Perolehan Kursi DPRD Kabupaten Blora 2014-2019
  19. ^ Perolehan Kursi DPRD Kabupaten Blora 2019-2024
  20. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019. 
  21. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020. 
  22. ^ Kode Pos Kabupaten Blora
  23. ^ "RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLORA NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH KABUPATEN BLORA TAHUN 2005 - 2025". 2011. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-01-26. Diakses tanggal 2020-10-01. 
  24. ^ Enam, Liputan (2019-11-29). Mahbub, Harun, ed. "Inovasi Produk Kayu Jati Blora Melawan Produk Jepara". Liputan6.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-03-04. Diakses tanggal 2020-10-01. 
  25. ^ Adirin, Ahmad (2019-08-13). Hida, Ramdania El, ed. "Menyusuri Sejarah Industri Minyak Bumi di Blora". Liputan6.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-08-09. Diakses tanggal 2020-10-01. 
  26. ^ "ExxonMobil Will Not Receive Extension for Cepu Contract". www.rigzone.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-01-30. Diakses tanggal 2020-10-01. 
  27. ^ "ExxonMobil and Pertamina Sign Joint Operating Agreement for Cepu Block". www.businesswire.com (dalam bahasa Inggris). 2006-03-15. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-01-27. Diakses tanggal 2020-10-01. 
  28. ^ Data Pokok Pendidikan (DAPODIK) [1]Diarsipkan 2011-05-05 di Wayback Machine. Diarsipkan 2011-05-05 di Wayback Machine. Diarsipkan 2011-05-05 di Wayback Machine. Diarsipkan 2011-05-05 di Wayback Machine. Diarsipkan 2011-05-05 di Wayback Machine. Diarsipkan 2011-05-05 di Wayback Machine. Diarsipkan 2011-05-05 di Wayback Machine. Diarsipkan 2011-05-05 di Wayback Machine. Wilayah Kabupaten Blora (2010/2011)
  29. ^ Rudi (2019-10-11). "11 Tempat Wisata Blora, Berbagai Keindahan Di Daerah Sate". NativeIndonesia.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-09-22. Diakses tanggal 2020-10-01. 
  30. ^ Redaksi (2019-11-09). "Festival Barongan Blora V Dipadati Pengunjung". SUARA BARU | Portal Berita Masa Kini. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-10-27. Diakses tanggal 2020-10-01. 
  31. ^ developer, mediaindonesia com (2019-09-05). "Blora Bertekad Jadi Daerah Barongan". Media Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-12-21. Diakses tanggal 2020-10-01. 
  32. ^ "3 Daerah Penghasil Kayu Jati Terbesar di Indonesia". inspiring.id (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-10-21. Diakses tanggal 2020-10-01. 

Pranala luar

sunting