Stasiun Gambir

Stasiun Kereta Api di Jakarta Pusat

Stasiun Gambir (GMR) adalah stasiun kereta api kelas besar tipe A yang terletak di Gambir, Gambir, Jakarta Pusat, tepatnya di sebelah timur Monumen Nasional (Monas), serta terhubung akses jalan menuju Monas. Stasiun yang terletak pada ketinggian +16 meter ini termasuk ke dalam Daerah Operasi I Jakarta. Lokasi stasiun juga terletak di sebelah barat Gedung Kwartir Nasional Pramuka serta Gereja Immanuel Gambir.

Stasiun Gambir
Kereta Api Indonesia
C06B06

LiveryPapanStasiun 2020.svg

PapanNamaStasiun GMR.png
Stasiun Gambir Depan.jpg
Tampak depan Stasiun Gambir, 2019
LokasiJalan Medan Merdeka Timur No. 1
Gambir, Gambir, Jakarta Pusat, 10110
Indonesia
Koordinat6°10′36″S 106°49′50″E / 6.176716°S 106.830508°E / -6.176716; 106.830508Koordinat: 6°10′36″S 106°49′50″E / 6.176716°S 106.830508°E / -6.176716; 106.830508
Ketinggian+16 m
PengelolaKereta Api Indonesia
Daerah Operasi I Jakarta
Letak dari pangkalkm 5+540 lintas Jakarta KotaManggaraiBogor[1]
Jumlah peronDua peron pulau antara jalur 1 dan 2 maupun jalur 3 dan 4 yang sama-sama tinggi
Jumlah jalur4 (jalur 2 dan 3: sepur lurus)
Informasi lain
Kode stasiun
  • GMR
  • 0430
[2]
KlasifikasiBesar tipe A[2]
Sejarah
Dibuka15 September 1871
Dibangun kembali1992
Nama sebelumnya
  • Station Weltevreden
  • Station Batavia-koningsplein
Layanan
Argo Bromo Anggrek, Argo Lawu (reguler & fakultatif), Argo Dwipangga (reguler & fakultatif), Argo Sindoro, Argo Muria, Argo Cheribon, Argo Parahyangan, Gajayana (reguler & tambahan), Brawijaya, Bima, Sembrani, Taksaka (reguler & tambahan), Purwojaya, dan Pangandaran
Fasilitas dan teknis
Tipe persinyalanElektrik tipe Siemens Solid State Interlocking[3]
Pemesanan tiketSistem tiket daring; melayani pemesanan langsung dan pengubahan/pembatalan keberangkatan di loket melalui aplikasi KAI Access dan pihak ketiga. Terdapat fasilitas ala bandara berupa check-in mandiri untuk pencetakan boarding pass.
Lokasi pada peta
Stasiun Gambir is located in Indonesia
Stasiun Gambir
Stasiun Gambir
Lokasi di Indonesia

Pada masa Hindia Belanda, nama stasiun ini adalah Station Weltevreden yang kemudian berganti nama menjadi Station Batavia Koningsplein setelah dilakukan perbaikan pada dasawarsa 1930-an. Pada dasawarsa 1950-an, nama stasiun ini kembali mengalami perubahan menjadi Stasiun Gambir dan kemudian dilakukan perbaikan besar-besaran menjadi stasiun jalur layang pada tahun 1990-an.

Stasiun ini melayani transportasi kereta api kelas eksekutif dan sebagian kecil kelas campuran (KA Argo Parahyangan, Argo Cheribon, dan Pangandaran) dari dan menuju kota-kota penting dan utama di Pulau Jawa. KRL Commuter Line tidak berhenti melayani naik turun penumpang di stasiun ini sejak pertengahan tahun 2012,[4] sedangkan untuk kereta api kelas ekonomi, kelas bisnis, sebagian besar kelas campuran, serta sebagian perjalanan KRL dilayani di Stasiun Pasar Senen. Di Stasiun Gambir tersedia layanan bus DAMRI, salah satu rute yang dimilikinya yaitu menuju Bandara Soekarno-Hatta.

SejarahSunting

Stasiun atas tanah (1884–1992)Sunting

 
Stasiun Koningsplein/Weltevreden N.I.S. dengan gaya Indische/Neoklasik.
 
Stasiun Batavia-Koningsplein pada tahun 1937, sudah direnovasi dengan arsitektur art deco.

Stasiun ini merupakan stasiun kereta api yang terletak di ruas pertama jalur kereta api Batavia–Buitenzorg yang diresmikan oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), yaitu ruas Batavia–Weltevreden. Pada awalnya, stasiun ini kemungkinan merupakan stasiun kecil (halte) yang diresmikan pada 15 September 1871, bersamaan dengan pembukaan ruas pertama tersebut.[5][6] Halte ini dulu sangat kecil dan sederhana.

Perhentian ini kemudian digantikan dengan Station Weltevreden yang lebih menetap, dibuka pada 4 Oktober 1884 di tempat Stasiun Gambir kini berada.[7] Sampai tahun 1906, stasiun ini merupakan stasiun pemberangkatan untuk tujuan Bandung dan Surabaya. Pada bangunan stasiun ini mempunyai atap yang bertumpu pada bantalan besi cor menurut rancangan SS (Staatsspoorwegen)—demikian keterangan pada tahun 1881. NIS hingga saat itu tidak menempatkan atap-atap jenis tersebut, sementara SS telah menempatkannya di beberapa tempat.[8][9]

Pada tahun 1928, setelah pengambilalihan SS pada tahun 1913, stasiun tersebut diperbesar dan pada satu tahun kemudian mengalami perubahan besar-besaran sehingga memiliki gaya bangunan Art Deco. Atap penutup diperpanjang pada tahun 1928 hingga ke sisi utara sepanjang 55 meter. Pada 16 November 1937, stasiun tersebut diresmikan sebagai Stasiun Batavia-Koningsplein dan nama stasiun kemudian diubah menjadi Gambir per tahun 1950.[9][10][11]

Stasiun ini tidak mengalami perubahan bentuk setelah kemerdekaan Indonesia hingga pada pertengahan dasawarsa 1980-an.

Jalur layang dan masa depan (1992-sekarang)Sunting

Pada Februari 1988, bersamaan dengan pembangunan jalur layang Jakarta Kota–Manggarai, stasiun lama yang berlanggam Art Deco peninggalan Hindia Belanda dibongkar dan diganti dengan bangunan baru yang masih ada hingga saat ini. Majalah Tempo edisi 13 Juni 1992 sempat mencatatkan peristiwa peresmian jalur layang ruas ManggaraiJakarta Kota. Pada 5 Juni 1992, Presiden Soeharto beserta ibu negara Siti Hartinah dan jajaran pemerintahan meresmikan Stasiun Gambir baru dengan menaiki KRL dari Gambir menuju Stasiun Jakarta Kota.[12] Bangunan stasiun ini sepenuhnya modern dengan sentuhan panel berwarna hijau pupus yang sampai hari ini masih dipertahankan. Warna cat tidak mengalami perubahan, hanya tiang peron yang mengalami pewarnaan ulang menjadi hijau lumut. Proyek ini telah menghabiskan dana sebesar Rp432,5 miliar rupiah dan belum sepenuhnya selesai pada saat diresmikan hingga akhirnya bisa beroperasi penuh setahun kemudian.[13][14] Setelah pembangunan stasiun layang selesai, jalur kereta di bawah mulai dicabut dan kawasan yang pada awalnya merupakan emplasemen Stasiun Gambir lama sudah beralih menjadi halaman parkir mobil mulai tahun 1994.

Berdasarkan rencana induk yang dibuat oleh Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, stasiun ini direncanakan untuk digunakan sebagai stasiun khusus KRL. Rencana induk tersebut kembali muncul ketika Stasiun Manggarai direncanakan untuk digunakan sebagai pemberhentian akhir kereta api penumpang non-KRL yang bertujuan untuk mengurangi kepadatan antrean kereta api penumpang di jalur layang yang terkadang mengganggu perjalanan KRL Commuter Line. Sebagai akibat dari rencana tersebut, maka Kemenhub memutuskan untuk memisahkan jalur kereta api non-KRL dan KRL Commuter Line setelah pembangunan stasiun pusat Manggarai selesai.[15][16] Dengan selesainya pembangunan Stasiun Manggarai sebagai stasiun pusat pada tahun 2021, semua kereta penumpang jarak jauh/menengah yang memiliki stasiun ujung di Stasiun Gambir akan dipindahkan ke Stasiun Manggarai.[17][18]

Bangunan dan tata letakSunting

 
Suasana Stasiun Gambir pada tahun 1986, sebelum dilakukan pembangunan ulang menjadi stasiun jalur layang.

Stasiun Gambir memiliki empat jalur kereta api dengan jalur 2 dan 3 merupakan sepur lurus.

Per Agustus 2012, stasiun ini tidak dijadikan stasiun pemberhentian bagi KRL Commuter Line, tetapi dialihkan ke stasiun terdekatnya, yaitu Gondangdia dan Juanda.[4]

Stasiun ini terdiri dari tiga tingkat. Aula utama, loket, beberapa restoran dan toko, serta mesin ATM terdapat pada tingkat pertama. Tingkat kedua adalah ruang tunggu dengan beberapa restoran cepat saji dan kafetaria, sedangkan peron berada pada tingkat ketiga. Karena stasiun ini termasuk stasiun besar, maka pengumuman diberitahukan dengan menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan Inggris.

Stasiun ini kini dilengkapi dengan Rail Transit Suite, yaitu hotel transit khusus untuk para penumpang kereta api yang hendak beristirahat.[19]

Ciri khasSunting

Stasiun Gambir memiliki ciri khas berupa bel bersuara lagu instrumental "Kicir-Kicir" yang sering diputar pada setiap kedatangan KA penumpang jarak jauh dan menengah.

Layanan kereta apiSunting

Kelas eksekutifSunting

Kelas campuranSunting

Antarmoda pendukungSunting

Stasiun kereta api di DKI Jakarta
   
Tanjung Priuk TP      
       
Ancol
Jakarta Gudang
           
C B TP             Jakarta Kota
           
Kampung Bandan        
         
Jayakarta
     
Rajawali
Mangga Besar
     
Sawah Besar
     
Kemayoran
                Juanda
     
L Angke
     
T A Duri
     
Gambir          
Gondangdia
       
R Tanah Abang
       
Cikini
Karet
         
Pasar Senen                
            M A CB BK Sudirman
         
Gang Sentiong
Mampang
         
Kramat
    A   Manggarai
       
Pondok Jati  
    Grogol
       
 
 
 
Matraman
        Pesing
       
Palmerah
      T Taman Kota
       
Kebayoran     R
Bojong Indah
       
ke Serpong/Rangkasbitung/Merak
Rawa Buaya
     
Jatinegara L                  
Kalideres
     
Cipinang
ke Tangerang
     
Klender
Depo KRL Bukit Duri
     
Buaran B  
Tebet
   
Klender Baru
CB BK             Cawang
   
Cakung
Duren Kalibata
   
ke Bekasi/Cikarang/Cikampek
 
Pasar Minggu Baru
 
Pasar Minggu C L  
 
Tanjung Barat
 
Lenteng Agung
 
Univ. Pancasila
 
ke Depok/Bogor/Nambo
Jenis angkutan umum Trayek Tujuan
Transjakarta   Harmoni-Pulo Gadung 1 (di halte Gambir 1 dan Gambir 2)
  Rawa Buaya-Pulo Gadung 1 (di halte Gambir 1 dan Gambir 2)
  Kalideres-ASMI (di halte Gambir 1 dan Gambir 2)
  (Koridor 7F) Kampung Rambutan-Harmoni (di halte Gambir 1 dan Gambir 2)
6H (Feeder) Terminal Pasar Senen-Lebak Bulus (di halte Gambir 1)
1P (MetroTrans) Terminal Pasar Senen-Bundaran Senayan
2P (MetroTrans) Terminal Pasar Senen-Stasiun Gondangdia
2Q (MetroTrans) Balai Kota DKI Jakarta-Stasiun Gondangdia
JAK 10B (Mikrotrans Jak Lingko) Stasiun Cikini-Stasiun Gondangdia (via Kramat Raya - Kwitang)
DAMRI Bandara Soekarno-Hatta Stasiun Gambir–Bandara Soekarno-Hatta
DAMRI (JR Connexion) Stasiun Gambir–Halte Kemang Pratama

Akses jalan tolSunting

Jalan tol Gerbang tol km
Jalan Tol Lingkar Dalam Kota Jakarta Rawamangun 4,8
Cempaka Putih 7,2

GaleriSunting

ReferensiSunting

  1. ^ Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero). 
  2. ^ a b Buku Informasi Direktorat Jenderal Perkeretaapian 2014 (PDF). Jakarta: Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 1 Januari 2020. 
  3. ^ Sugiana, A.; Lee, Key-Seo; Lee, Kang-Soo; Hwang, Kyeong-Hwan; Kwak, Won-Kyu (2015). "Study on Interlocking System in Indonesia" (PDF). Nyeondo Hangugcheoldohaghoe Chungyehagsuldaehoe Nonmunjib (Korean Society for Railway) (46). Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2020-02-27. Diakses tanggal 2020-05-09. 
  4. ^ a b "KRL tak Berhenti di Gambir dan Pasar Senen | Republika Online". Republika Online. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-05-25. Diakses tanggal 2018-05-24. 
  5. ^ Lohanda, Mona. (2007). Sejarah para pembesar mengatur Batavia (edisi ke-Cet. 1). Depok: Masup Jakarta. ISBN 978-979-25-7295-7. OCLC 225750927. 
  6. ^ Burgerlijke Openbare Werken (1896). Statistiek van het vervoer op de spoorwegen en tramwegen met machinale beweegkracht in Nederlandsch-Indië. Batavia: Landsdrukkerij. 
  7. ^ "Bekendmaking Nederlandsch-Indische Spoorweg-Maatschappij". Java-bode. 1884-10-04. hlm. 3. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-06-07. 
  8. ^ Ensikopedi Jakarta. Jakarta: Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, DKI Jakarta. 2005. hlm. 417. 
  9. ^ a b Tjandrasasmita, Uka (2000). Sejarah Perkembangan Kota Jakarta. Jakarta: Dinas Museum dan Pemugaran, DKI Jakarta. hlm. 50. 
  10. ^ "Kroniek der Indische Spoorwegen 1–15 September 1937: Naamsverandering van twee stations te Batavia". Spoor en Tramwegen (dalam bahasa Belanda). Vol. 21. 12 Oktober 1937. hlm. 483. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-12-06. Diakses tanggal 2020-05-03. 
  11. ^ Buku Djarak Singkat. Djawatan Kereta Api. 1950. 
  12. ^ Rudi, Alsadad (30 Agustus 2013). "Setelah 22 Tahun, Proyek Jalur Layang Kereta Jakarta Dilanjutkan". Kompas.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-08-30. Diakses tanggal 30 Agustus 2017. 
  13. ^ Kayang, U. (2019). Keping-keping Kota. Bantul: Basabasi. hlm. 92. 
  14. ^ "Kereta Layang: Melayang di Atas Jalur Kumuh". Majalah Tempo. 22: 32. 1992. 
  15. ^ Kusuma, Hendra. "Gambir Hanya Layani KRL dan Kereta Khusus Mulai 2021". detikfinance. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-10-08. Diakses tanggal 2019-10-08. 
  16. ^ Anwar, Muhammad Choirul. "Mulai 2021, Naik KRL Bisa Berhenti di Stasiun Gambir". news. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-10-08. Diakses tanggal 2019-10-08. 
  17. ^ Anwar, Muhammad Choirul. "Meraba Masa Depan Stasiun Gambir & Manggarai, Sekeren Apa Ya?". news. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-10-08. Diakses tanggal 2019-10-08. 
  18. ^ Hamdani, Trio. "Mengintip Suasana Stasiun Manggarai yang Bakal Gantikan Gambir". detikfinance. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-10-08. Diakses tanggal 2019-10-08. 
  19. ^ "Ini Penampakan Hotel Transit Berbintang di Stasiun Gambir". Detikcom. [pranala nonaktif permanen]

Pranala luarSunting

(Indonesia) Situs resmi KAI dan jadwal kereta api

Stasiun sebelumnya   Lintas Kereta Api Indonesia Stasiun berikutnya
Juanda
ke arah Jakarta Kota
Lintas Jakarta
Jakarta Kota–Manggarai
Gondangdia
ke arah Manggarai