Buka menu utama

Kabupaten Madiun

kabupaten di provinsi Jawa Timur, Indonesia

Kabupaten Madiun (Hanacaraka: ꦩꦝꦶꦪꦸꦤ꧀ , Pegon: كَبُڤَتَينْ مَدِيُنْ) adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro di utara, Kabupaten Nganjuk di timur, Kabupaten Ponorogo di selatan, serta Kabupaten Magetan, dan Kabupaten Ngawi di barat. Ibukotanya adalah Kecamatan Mejayan sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.52 Tahun 2010. Sebagian gedung-gedung pemerintahan sudah berada di wilayah Caruban yang merupakan bagian dari Kecamatan Mejayan. Gedung pemerintahan lain telah dipindah secara bertahap dari Kota Madiun ke Caruban sejak 2011.

Kabupaten Madiun
ꦑꦧꦸꦥꦠꦺꦤ꧀ꦩꦝꦶꦪꦸꦤ꧀ / كَبُڤَتَينْ مَدِيُنْ
Locator kabupaten madiun.png
Peta lokasi Kabupaten Madiun
ꦑꦧꦸꦥꦠꦺꦤ꧀ꦩꦝꦶꦪꦸꦤ꧀ / كَبُڤَتَينْ مَدِيُنْ di Jawa Timur
Koordinat: -
Provinsi Jawa Timur
Dasar hukum -
Tanggal peresmian -
Ibu kota Mejayan[1]
Pemerintahan
-Bupati H. Ahmad Dawami Ragil Saputro, S.Sos
-Wakil Bupati H. Hari Wuryanto, S.H., M.Ak
APBD
-DAU Rp. 734.152.390.000.-(2013)[2]
Luas 1.010,86 km2
Populasi
-Total 2.061.886 jiwa (2015)
-Kepadatan 2.039,73 jiwa/km2
Demografi
-Kode area telepon 0351
Pembagian administratif
-Kecamatan 15
-Kelurahan -
Simbol khas daerah
Situs web www.madiunkab.go.id

Madiun dilintasi jalur utama Surabaya-Yogyakarta dengan kode Jalan Nasional 15 dari Kota Surabaya hingga Kecamatan Mejayan dan Jalan Nasional 22 dari Kecamatan Mejayan hingga Kecamatan Madiun. Kabupaten ini juga dilintasi jalur kereta api lintas selatan Pulau Jawa Daerah Operasi 7 Madiun. Kota-kota kecamatan yang cukup signifikan adalah Caruban, Saradan, Dolopo, Dagangan dan Balerejo.

Bagian utara wilayah Madiun berupa perbukitan, yakni bagian dari rangkaian Pegunungan Kendeng. Bagian tengah merupakan dataran tinggi dan bergelombang. Sedang bagian tenggara berupa pegunungan, bagian dari kompleks Gunung Wilis-Gunung Liman.

Kabupaten Madiun terdiri atas 15 kecamatan, yang terbagi dalam 206 terdiri dari 198 desa dan 8 kelurahan. Dalam percakapan sehari-hari penduduk kabupaten Madiun menggunakan Bahasa Jawa dengan Dialek Madiun.

Potensi yang menonjol saat ini adalah pertanian padi, kedelai, palawija, perkebunan kakao, kopi, mangga, durian, rambutan dan produk hasil hutan dan produk olahan lainnya seperti kerajinan kayu jati dan lain sebagainya. Durian dan kakao banyak di budidayakan di Kecamatan Dagangan, dan Kecamatan Kare. Kebun Kopi dengan skala besar di budidayakan di Kandangan, Kecamatan Kare, yang merupakan peninggalan Belanda.

Gunung Liman merupakan puncak tertinggi di Pegunungan Wilis menjajikan sensasi pendakian yang luar biasa. Banyak sekali ditemukan flora fauna dan juga arca sepanjang jalur pendakian dari Pulosari, Kecamatan Kare. Sayang jalur tersebut jarang sekali dilalui pendaki. Karena Aksesnya yang susah. Jika jalur Kecamatan Kare- Telaga Ngebel sudah dilakukan pengaspalan akan bisa menyaingi pesona gunung-gunung lain di Jawa. Karena di lerengnya menyimpan potensi wisata yang luar biasa. seperti Air Terjun Slampir, Monumen Kresek, Monumen Jendral Sudirman, Air Terjun Selorejo, Kebun Kopi Kandangan, Wana Wisata Grape dan lain-lain.

Daftar isi

SejarahSunting

Kabupaten Madiun ditinjau dari pemerintahan yang sah, berdiri pada tanggal paro terang, bulan Muharam, tahun 1568 Masehi tepatnya jatuh hari Kamis Kliwon tanggal 18 Juli 1568 / Jumat Legi tanggal 15 Suro 1487 Be - Jawa Islam.

Berawal pada masa Kesultanan Demak, yang ditandai dengan perkawinan putra mahkota Demak Pangeran Surya Patiunus dengan Raden Ayu Retno Lembah putri dari Pangeran Adipati Gugur yang berkuasa di Ngurawan, Dolopo. Pusat pemerintahan dipindahkan dari Ngurawan ke desa Sogaten dengan nama baru Purabaya (sekarang Madiun). Pangeran Surya Patiunus menduduki kesultanan hingga tahun 1521 dan diteruskan oleh Kyai Rekso Gati. (Sogaten = tempat Rekso Gati)

Pangeran Timoer dilantik menjadi Bupati di Purabaya tanggal 18 Juli 1568 berpusat di desa Sogaten. Sejak saat itu secara yuridis formal Kabupaten Purabaya menjadi suatu wilayah pemerintahan di bawah seorang Bupati dan berakhirlah pemerintahan pengawasan di Purabaya yang dipegang oleh Kyai Rekso Gati atas nama Demak dari tahun 1518 - 1568.

Pada tahun 1575 pusat pemerintahan dipindahkan dari desa Sogaten ke desa Wonorejo atau Kuncen, Kota Madiun sampai tahun 1590.

Pada tahun 1686, kekuasaan pemerintahan Kabupaten Purabaya diserahkan oleh Bupati Pangeran Timur (Panembahan Rangga Jumena) kepada putrinya Raden Ayu Retno Dumilah. Bupati inilah selaku senopati manggalaning perang yang memimpin prajurit-prajurit Mancanegara Timur.

Pada tahun 1586 dan 1587 Mataram melakukan penyerangan ke Purbaya dengan Mataram menderita kekalahan berat. Pada tahun 1590, dengan berpura-pura menyatakan takluk, Mataram menyerang pusat istana Kabupaten Purbaya yang hanya dipertahankan oleh Raden Ayu Retno Djumilah dengan sejumlah kecil pengawalnya. Perang tanding terjadi antara Sutawidjaja dengan Raden Ayu Retno Djumilah dilakukan disekitar sendang di dekat istana Kabupaten Wonorejo (Madiun).

Pusaka Tundung Madiun berhasil direbut oleh Sutawidjaja dan melalui bujuk rayunya, Raden Ayu Retno Djumilah dipersunting oleh Sutawidjaja dan diboyong ke istana Mataram di Plered (Jogjakarta) sebagai peringatan penguasaan Mataram atas Purbaya tersebut maka pada hari Jumat Legi tanggal 16 Nopember 1590 Masehi nama "Purbaya" diganti menjadi "Madiun".

PemerintahanSunting

Daftar BupatiSunting

No Bupati Masa Jabatan Wakil Bupati Keterangan Ref.
1 Pangeran Timoer 1568 - 1586
2 Raden Ayu Retno Djumilah 1586 - 1590
3 Raden Mas Rangsang 1590 - 1591
4 Raden Mas Sumekar 1591 - 1595
5 Raden Mas Djulig Pringgolojo 1595 - 1601
6 Raden Mas Bagus Djunina Petak
(Mangkunegoro I)
1601 - 1613
7 Raden Mas Kenitren Mertolojo
( Mangkunegoro II )
1613 - 1645
8 Pangeran Kyai Balitar Irodikromo
( Mangkunegoro III )
1645 - 1677
9 Pangeran Tumenggung Balitar Tumapel 1677 - 1703
10 Raden Ayu Puger 1703 - 1704
11 Pangeran Harijo Balater 1704 - 1709
12 Tumenggung Surowidjojo 1709 - 1725
13 Pangeran Mangkudipuro 1725 - 1755
14 Pangeran Raden Ronggo Prawiro Sentiko 1755 - 1784
15 Raden Mangundirdjo 1784 - 1797
16 Pangeran Raden Ronggo Prawirodirdjo III 1797 - 1810
17 Pangeran Dipokusumo 1810 - 1820
18 Pangeran Raden Ronggo Prawirodiningrat 1820 - 1861
19 Raden Mas Tumenggung Harijo Notodiningrat 1861 -1869
20 Raden Mas Tumenggung Adipati Sosronagoro 1869 - 1879
21 Raden Mas Tumenggung Sosrodiningrat 1879 - 1885
22 Raden Adipati Harijo Brotodiningrat 1885 - 1900
23 Raden Hario Tumenggung Kusnodiningrat 1900 - 1929
24 Raden Mas Tumenggung Ronggo Kusnen 1929 - 1937
25 Raden Mas Tumenggung Ronggo Kusnendar 1937 - 1954
Masa Pemerintahan Indonesia
26 Raden Mas Harsojo Tumenggung Brotodiningrat 1954 -1956
27 Raden Sampurno 1956 - 1962 Pejabat Bupati
28 Raden Kardiono, BA 1962 - 1965
29 Mas Soewandi 1965 - 1967
30 H. Saleh Hassan 1967 - 1973
31 H. Slamet Hardjoutomo 1973 - 1978
32 H. Djajadi 1978 - 1983
33 Drs. Bambang Koesbandono 1983 - 1988
34 Ir. S. Kadiono 1988 - 1998
35 H. KRH. Djunaedi Mahendra, SH, M.Si 1998 - 2003
36 H. KRH. Djunaedi Mahendra, SH, M.Si 2003 - 2008 H. Muhtarom, S.Sos.
37 H. Muhtarom, S.Sos. 2008 - 2013 Drs. H. Iswanto, M.Si
38 Soekardi 2013 - 2013
39 H. Muhtarom, S.Sos. 2013 - 2018 Drs. H. Iswanto, M.Si
40 Boedi Prijo Soeprajitno,SH. M.Si 2018 Pejabat Bupati
41 AHAMAD DAWAMI.S. Sos 2018 -2023

Dewan PerwakilanSunting

DPRD Kabupaten Madiun hasil Pemilu 2014 tersusun dari 9 partai politik, dengan perincian sebagai berikut:

Partai Kursi
  PKB 13
  PDI-P 8
  Partai Demokrat 6
  Partai Golkar 5
  Partai Gerindra 4
  PKS 3
  Partai Hanura 2
  PPP 2
  PKPI 2
Total 45

KecamatanSunting

PariwisataSunting

Kuliner KhasSunting

ReferensiSunting

  1. ^ Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2010 tentang Pemindahan ibu kota Kabupaten Madiun dari wilayah Kota Madiun ke wilayah Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur
  2. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 

Pranala luarSunting