Stasiun Bogor

stasiun kereta api di Indonesia

Stasiun Bogor (BOO)—pada masa kolonial Belanda bernama Station Buitenzorg— (Aksara Sunda Baku: ᮞ᮪ᮒᮞᮤᮇᮔ᮪ ᮘᮧᮌᮧᮁ, Stasion Bogor) adalah stasiun kereta api kelas besar tipe A yang terletak di Cibogor, Bogor Tengah, Bogor. Stasiun yang terletak pada ketinggian +246 meter ini termasuk dalam Daerah Operasi I Jakarta. Stasiun yang dibangun pada tahun 1881 ini menjadi stasiun terminus untuk perjalanan KRL Commuter Line yang melayani kawasan Jabodetabek, yakni menuju Stasiun Jakarta Kota, Stasiun Angke, Stasiun Kampung Bandan, dan Stasiun Jatinegara.

Stasiun Bogor
Logo PT KAI (Persero) (New version 2016).svg
PapanNamaStasiun BOO.png
  • Singkatan: BOO
  • Nomor: 0720
Station - panoramio (17).jpg
Stasiun KA Bogor
Alamat
  • Jalan Nyi Raja Permas nomor 1 (pintu sebelah timur, akses terbatas bukan untuk umum)
  • Jalan Mayor Oking (pintu masuk sebelah barat, akses untuk umum)
    Cibogor, Bogor Tengah, Bogor
    Jawa Barat 16124
Ketinggian+246 m
Letak
OperatorPT Kereta Commuter Indonesia
Konstruksi
Jumlah jalur8
  • jalur 3: sepur lurus jalur ganda arah hulu (dari Jakarta Kota-Manggarai) dan juga jalur tunggal arah Cianjur-Padalarang
  • jalur 5: sepur lurus jalur ganda arah hilir (ke Manggarai-Jakarta Kota)
Jumlah peron7 (satu peron sisi yang agak rendah, dua peron pulau yang agak tinggi, satu peron pulau yang agak rendah, dua peron pulau yang tinggi, dan satu peron sisi yang cukup tinggi; tidak ada peron pulau di antara jalur 5 dan 6 serta jalur 7 dan 8)
Gaya arsitekturIndische, Neoklasik
Fasilitas
Informasi lain
Kelas stasiunBesar tipe A[2]
Pemesanan tiketHanya melayani kartu multi-trip dan kartu uang elektronik dari perbankan yang beredar yang bekerjasama dengan PT Kereta Commuter Indonesia dan aplikasi LinkAja.
Sejarah
Dibuka1881
Nama sebelumnyaStation Buitenzorg
Layanan
KRL Commuter Line
Operasi
Stasiun sebelumnya   Logo kcj baru.png   Stasiun berikutnya
Terminus Bogor–Jatinegara
menuju Jatinegara
Bogor–Jakarta Kota
Logo Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman.png Cagar budaya Indonesia
Stasiun Kereta Api Bogor
KategoriBangunan
No. registrasi
nasional
RNCB.20070326.02.000892
Tahun penetapan2007
PemilikPT Kereta Api Indonesia
PengelolaPT Kereta Api Indonesia
Nama sebagaimana tercantum dalam
Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya
SARS-CoV-2 illustration (10).jpgPeringatan COVID-19: Tidak semua kereta api yang disebutkan di sini dijalankan pada masa-masa normal baru. Calon penumpang dimohon memeriksa daftar kereta api yang dijalankan di KAI Access atau kanal eksternal lain sebelum keberangkatan. Calon penumpang diharapkan mengikuti protokol kesehatan yang berlaku saat menggunakan kereta api. Untuk informasi lebih lanjut, lihat Pandemi COVID-19 di Indonesia#Perkeretaapian.

SejarahSunting

 
Stasiun Bogor tempo doeloe

Pada awal tahun 1870-an, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij membangun stasiun di Buitenzorg sebagai bagian terakhir dari jalur kereta api Batavia–Buitenzorg yang menghubungkan Kleine Boom dengan Buitenzorg.[3] Stasiun ini dibuka untuk pertama kalinya untuk umum pada 31 Januari 1873.[4][5][6] Tidak kurang dari 40 tahun pertama, stasiun ini dikelola oleh NIS.

Tahun 1881, Staatsspoorwegen (SS) membangun Stasiun Buitenzorg yang kedua sebagai bagian dari pembangunan jalur kereta api Bogor–Bandung–BanjarKutoarjo–Yogyakarta. Pembangunan jalur kereta api ini mengharuskan adanya peran pemerintah mengingat biaya pembangunannya lebih mahal daripada pembangunan lintas datar.[7] Dengan menunjuk David Maarschalk sebagai kepala jawatan, dibangunlah jalur kereta api tahap pertama SS, yaitu pembangunan lintas selatan Jawa serta pembangunan jalur SurabayaPasuruan–Malang. Per 5 Oktober 1881, jalur kereta api segmen pertama, Bogor–Cicurug, telah selesai. Per tanggal 17 Mei 1884, jalur telah sampai di Bandung.[8]

Pada tahun 1913 jalur kereta api Batavia–Buitenzorg dibeli oleh SS.[9] Dahulu, sebuah lapangan luas bernama Taman Wilhelmina pernah menjadi bagian dari stasiun Bogor.[10]

Renovasi stasiun pernah dilakukan oleh Kementerian Perhubungan tahun 2009. Bangunan stasiun yang bertuliskan "1881" ini, yang menghadap Jalan Nyi Raja Permas (Taman Topi) ini akhirnya tidak difungsikan sebagai pintu masuk stasiun untuk umum. Kini bangunan stasiun dipindah menghadap Jalan Mayor Oking.[10]

Bangunan dan tata letakSunting

Stasiun ini memiliki dua bangunan yang berdampingan. Bangunan utamanya adalah bangunan area masuk ke stasiun, lobi, kantor administrasi, tempat penjualan tiket, dan fasilitas lainnya. Sementara itu, bangunan keduanya adalah bangunan overcapping yang menaungi peron dan dua jalur kereta api.[3]

Stasiun ini memiliki delapan jalur kereta api. Jalur 3 merupakan sepur lurus arah Depok–Jakarta sekaligus sepur raya jalur tunggal arah Cianjur–Padalarang. Jalur 5 merupakan sepur lurus jalur ganda arah hilir (dari Depok–Jakarta).

Arsitektur bangunan lama stasiunSunting

Stasiun ini kental dengan nuansa Eropa; kaya akan ornamental geometris seperti awan, kaki-kaki singa, dan relung yang terpengaruh gaya Yunani Klasik dengan unsur simetris dan serba geometris. Gaya bangunan stasiun adalah Indische Empire dengan sentuhan pintu masuk dan lobi utama bergaya Neoklasik[3]

Pada ruang VIP berdiri prasasti dari marmer setinggi 1 meter. Monumen ini sebagai simbol tanda ucapan selamat pagi dari para karyawan SS kepada David Maarschalk yang memasuki masa pensiun atas usahanya mengembangkan jalur kereta api di Jawa. Prasasti ini dibuat sebagai pengganti patung David Maarschalk yang dulunya berada di tempat prasasti ini.[3]

Bentuk atap pelana dan gerbang melengkung pada fasad depan memberikan kesan anggun bangunan. Dindingnya berupa bata plesteran dengan guratan bergaris serta adanya moulding cornice yang membingkai atap jurai di atasnya. Jendela dan pintu terbuat dari kayu dengan ukuran yang kuat sehingga memberikan kesan klasik bangunan. Peron stasiun dipayungi overcapping yang terbuat dari besi bergelombang yang ditopang kerangka baja.[3] Stasiun ini memiliki dua lantai yang dihubungkan dengan tangga meliuk-liuk.[3]

Saat ini, meski bangunan utama stasiun relatif tidak berubah, overcapping stasiun telah mengalami perubahan. Tritisan atap stasiun kini telah sebagian dilubangi dan dipotong, dan kerangka bajanya juga diiris sebagian di atas jalur 3 untuk mengakomodasi kabel listrik aliran atas saat KRL Batavia–Buitenzorg dioperasikan. KRL tersebut mulai beroperasi tahun 1925 untuk memperingati hari ulang tahun SS yang ke-50.[11]

Layanan kereta apiSunting

Stasiun ini disibukkan oleh komuter (penglaju) dari Bogor menuju ke Jakarta. Saat ini stasiun ini melayani dua layanan KRL Commuter Line; Yellow Line/Jakarta Loopline ke Stasiun Angke, Kampung Bandan, sampai dengan Jatinegara, serta Red Line ke Stasiun Jakarta Kota.

Selain melayani kereta komuter menuju Jakarta, Stasiun Bogor juga menjadi tempat langsiran Kereta api Pangrango yang diberangkatkan dari Stasiun Bogor Paledang yang berjarak 200 meter di sebelah selatan Stasiun Bogor untuk melayani rute Bogor-Sukabumi. Langsiran tersebut dilakukan di Stasiun Bogor karena Stasiun Bogor Paledang hanya memiliki satu jalur.

LangsiranSunting

Pangrango (reguler & tambahan), dari dan menuju Bogor Paledang (eksekutif-ekonomi)

KRL Commuter LineSunting

Antarmoda pendukungSunting

Jenis angkutan umum Trayek Tujuan
Angkot[12] 01 Terminal Merdeka-Ranggamekar
01A Terminal Baranangsiang-Terminal Bubulak
02 Sukasari-Terminal Merdeka
07 Terminal Merdeka-Bantarjati
10 Pasar Anyar-Kedungwaringin
10A Pasar Anyar-Kedungjaya
20 Sukasari-Terminal Bubulak

GaleriSunting

ReferensiSunting

  1. ^ Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero). 
  2. ^ Buku Informasi Direktorat Jenderal Perkeretaapian 2014 (PDF). Jakarta: Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Indonesia. 
  3. ^ a b c d e f Murti Hariyadi, Ibnu; Basir, Ekawati; Pratiwi, Mungki Indriati; Ubaidi, Ella; Sukmono, Edi (2016). Arsitektur Bangunan Stasiun Kereta Api di Indonesia. Jakarta: PT Kereta Api Indonesia (Persero). hlm. 1 – 14. ISBN 978-602-18839-3-8. 
  4. ^ Media, Kompas Cyber. "Menggali Jejak Stasiun Batavia Noord dan Batavia Zuid". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2020-06-15. 
  5. ^ Lohanda, Mona. (2007). Sejarah para pembesar mengatur Batavia (edisi ke-Cet. 1). Depok: Masup Jakarta. ISBN 978-979-25-7295-7. OCLC 225750927. 
  6. ^ Burgerlijke Openbare Werken (1896). Statistiek van het vervoer op de spoorwegen en tramwegen met machinale beweegkracht in Nederlandsch-Indië. Batavia: Landsdrukkerij. 
  7. ^ Nusantara., Tim Telaga Bakti; Indonesia., Asosiasi Perkeretaapian (1997). Sejarah perkeretaapian Indonesia (edisi ke-Cet. 1). Bandung: Angkasa. ISBN 9796651688. OCLC 38139980. 
  8. ^ Staatsspoorwegen (1932). Staatsspoorwegen in Nederlandsch-Indië: Jaarstatistieken over de jaren 1931 en 1932. Burgerlijke Openbare Werken. 
  9. ^ Tjandrasasmita, U. (2000). Sejarah perkembangan Kota Jakarta. Jakarta: Dinas Museum dan Pemugaran. 
  10. ^ a b Pratiwi, R.; Soviana, N.; Sudarsih, A. (2014). "Bogor (BOO): Stasiun Buitenzorg Lama dan Baru". Majalah KA. 97: 22–24. 
  11. ^ Reitsma, S.A. (1925). Buku Peringetan dari Staatsspoor-en-Tramwegen di Hindia-Belanda. Weltevreden: Topografische Inrichting. 
  12. ^ Wiguna, Alfiar. "Pemerintah Kota Bogor". kotabogor.go.id. Diakses tanggal 2018-06-27. 

Lihat pulaSunting

Pranala luarSunting

Stasiun sebelumnya   Lintas Kereta Api Indonesia Stasiun berikutnya
Cilebut
ke arah Manggarai
Manggarai–Padalarang Bogor Paledang
ke arah Padalarang

Koordinat: 6°35′39″S 106°47′27″E / 6.5942707°S 106.7908108°E / -6.5942707; 106.7908108