Stasiun Cepu

stasiun kereta api di Kabupaten Blora, Indonesia

Stasiun Cepu (CU) adalah stasiun kereta api kelas besar tipe C yang terletak di Balun, Cepu, Blora, tepatnya di depan Lapangan Ronggolawe; terletak pada ketinggian +28 m. Stasiun ini merupakan stasiun kereta api aktif paling timur di Daerah Operasi IV Semarang, Blora, dan Jawa Tengah bagian utara. Stasiun ini merupakan stasiun utama di Kabupaten Blora.

Stasiun Cepu
C Kereta Api Indonesia

LiveryPapanStasiun 2020.svg

PapanNamaStasiun CU.png
StasiunCepu.jpg
Tampak depan Stasiun Cepu pada tahun 2021
LokasiJalan Diponegoro 87
Balun, Cepu, Blora, Jawa Tengah
Indonesia
Koordinat7°09′16″S 111°35′27″E / 7.154445°S 111.590751°E / -7.154445; 111.590751Koordinat: 7°09′16″S 111°35′27″E / 7.154445°S 111.590751°E / -7.154445; 111.590751
Ketinggian+28 m
PengelolaKereta Api Indonesia
Daerah Operasi IV Semarang
Letak dari pangkal
Jumlah peron4 (satu peron sisi yang rendah dan tiga peron pulau yang cukup tinggi)
Jumlah jalur7 (jalur 2 dan 3: sepur lurus)
Informasi lain
Kode stasiun
  • CU
  • 2720
[2]
KlasifikasiBesar tipe C[2]
Operasi layanan
Sembrani, Jayabaya, Harina, Gumarang, Dharmawangsa, Sancaka Utara, Kertajaya, Ambarawa Ekspres, Blora Jaya, Airlangga, Ekonomi Lokal, Parcel ONS Utara, angkutan peti kemas/kontainer, dan angkutan Semen Tiga Roda
Stasiun sebelumnya Layanan lokal/komuter Stasiun berikutnya
Terminus Ekonomi Lokal
Cepu–Surabaya Pasarturi, p.p.
Bojonegoro
Fasilitas dan teknis
FasilitasParkir Cetak tiket mandiri Musala Toilet Area merokok Ruang menyusui Pos kesehatan Galeri ATM Pertokoan/area komersial 
Tipe persinyalan
Diagram lintasan stasiun
ke Kapuan
Eks rumah sinyal
A (barat daya)
ke depo Lok
Eks rumah sinyal
B (timur laut)
Jl. Aryo Jipang
ke
Cepu Kota/
depot Pertamina
Eks jalur lama
Bengawan Solo
ke Padangan
Lokasi pada peta

Ke arah timur stasiun ini, sebelum Stasiun Tobo, terdapat Stasiun Padangan yang dinonaktifkan karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dengan Stasiun Cepu.

SejarahSunting

Generasi pertamaSunting

 
Bangunan Stasiun Cepu generasi pertama yang terbuat dari kayu dan diresmikan oleh NIS pada tahun 1902

Pada 1 September 1897, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) mendapat konsesi izin pembangunan jalur kereta api baru yang menghubungkan Stasiun Gundih yang sudah ada sebelumnya dengan calon stasiun baru NIS di Surabaya (kini Stasiun Pasarturi).[3] Dengan terbitnya konsesi tersebut, maka NIS mulai membangun jalurnya dengan lebar sepur 1.067 mm. Karena adanya keterbatasan biaya, semua stasiun dan perhentian yang terletak di lintas tersebut sangat sederhana dan terbuat dari kayu, termasuk Stasiun Cepu. Stasiun ini diresmikan 1 Maret 1902, dan pada 1 Februari 1903, jalur kereta api Gundih–Surabaya telah selesai dibangun.[4]

Generasi keduaSunting

Bangunan Stasiun Cepu kemudian diperbesar dengan mengganti kanopi kecil dengan kanopi pelana—serupa kanopi di Stasiun Lempuyangan, Stasiun Bojonegoro, dan Stasiun Surabaya Pasarturi—serta mengubah bangunan yang sebelumnya semipermanen menjadi permanen.[per kapan?]

Berdasarkan foto Stasiun Cepu generasi dua yang terdapat dalam Buku Sejarah Kehutanan Indonesia II–III Periode Tahun 1942–1983, bentuk permanen stasiun ini kemungkinan memiliki kemiripan rupa dengan stasiun-stasiun NIS lainnya, seperti Stasiun Tuntang, Stasiun Telawa, dan Stasiun Bringin. Stasiun-stasiun tersebut memiliki satu pintu lengkung di depan teras dan masing-masing satu pintu lengkung di samping kiri dan kanan teras stasiun serta atap cungkup di atas teras. Namun, bangunan stasiun generasi kedua ini telah hancur dibakar pada masa Jepang dan digantikan dengan bangunan baru.[5]

Generasi ketigaSunting

Pasca dihancurkan, sisa reruntuhan bangunan stasiun generasi kedua dibongkar dan dibangunlah bangunan stasiun generasi ketiga yang ada hingga saat ini. Namun, belum diketahui secara pasti kapan bangunan generasi ketiga ini dibangun.

Bangunan dan tata letakSunting

 
Peron di Stasiun Cepu. Tampak kereta api Maharani di sisi kanan. (2016)

Stasiun Cepu memiliki tujuh jalur kereta api. pada awalnya hanya jalur 2 yang dijadikan sebagai sepur lurus sebelum pengoperasian jalur ganda. Setelah jalur ganda ruas WaduTobo dioperasikan per akhir Maret 2014,[6][7] jalur 2 dijadikan sebagai sepur lurus hanya untuk arah Semarang, sedangkan jalur 3 dijadikan sebagai sepur lurus hanya untuk arah Surabaya. Selain itu, sistem persinyalan mengalami perubahan dari sistem mekanik menjadi sistem persinyalan elektrik buatan Len Industri. Stasiun ini juga memiliki depo lokomotif yang terhubung langsung dengan jalur 1 di sebelah barat.

Ke arah timur dari jalur 1 stasiun ini, terdapat percabangan rel kereta api yang berakhir di Rembang, tetapi jalur kereta api tersebut telah dinonaktifkan dan wesel yang menuju jalur cabang tersebut telah dicabut—dibangun oleh Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS)—untuk menghubungkan Stasiun Cepu NIS dengan Stasiun Cepu SJS yang dibuka pada 1 Februari 1903. Pada 1 Januari 1914 Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) membuka jalur cabang dengan wesel yang terletak di jalur pintas antara Stasiun Cepu SJS dengan Stasiun Cepu NIS. Jalur kereta api ini berakhir di Ngareng (sekarang menjadi kawasan PPSDM Cepu). Sebelum itu, terdapat wesel yang terhubung dengan jaringan lori kehutanan yang ditujukan untuk mengangkut kayu jati.[8]

Ciri khasSunting

Stasiun ini memiliki ciri khas berupa bel bersuara dengan lagu instrumental "Gambang Semarang"—juga berlaku untuk sebagian besar stasiun di Daerah Operasi IV Semarang—untuk menandakan kedatangan kereta api.

Layanan kereta apiSunting

PenumpangSunting

AntarkotaSunting

Kelas eksekutifSunting
Kelas campuranSunting
Kelas ekonomiSunting

LokalSunting

BarangSunting

GaleriSunting

ReferensiSunting

  1. ^ Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero). 
  2. ^ a b Buku Informasi Direktorat Jenderal Perkeretaapian 2014 (PDF). Jakarta: Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 1 Januari 2020. 
  3. ^ Handinoto. (1996). Perkembangan kota dan arsitektur kolonial Belanda di Surabaya, 1870-1940 (edisi ke-Ed. 1., cet. 1). Yogyakarta: Diterbitkan atas kerjasama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Kristen PETRA Surabaya dan Penerbit ANDI Yogyakarta. ISBN 9795333739. OCLC 38898570. 
  4. ^ Archiv Für Eisenbahnwesen. 58. 1935. 
  5. ^ Departemen Kehutanan (1986). Sejarah Kehutanan Indonesia II – III Periode Tahun 1942 — 1983. hlm. 2. ISBN 979-606-007-8. 
  6. ^ Kementerian Perhubungan, Biro Komunikasi dan Informasi Publik (2014-03-27). "Jalur Ganda KA Jakarta-Bojonegoro Sudah Bisa Beroperasi Penuh". Kementerian Perhubungan. Diakses tanggal 2020-04-10. 
  7. ^ "Switchover Terakhir di Jalur Ganda KA Pantura". Berita Trans. 2014-02-26. Diakses tanggal 2020-04-10. 
  8. ^ Subarkah, Iman (1992). Sekilas 125 Tahun Kereta Api Kita 1867-1992. Bandung: Yayasan Pusat Kesejahteraan Karyawan Kereta Api (Yayasan Pustaka). hlm. 30. 

Pranala luarSunting

(Indonesia) Situs resmi KAI dan jadwal kereta api

Stasiun sebelumnya   Lintas Kereta Api Indonesia Stasiun berikutnya
Kapuan
ke arah Gambringan
Gambringan–Surabaya Pasarturi Padangan
Cepu Kota
ke arah Rembang
Rembang–Blora–Cepu
Lintas utama SJS
Terminus