Buka menu utama

Kabupaten Bandung

kabupaten di Jawa Barat

Kabupaten Bandung (aksara Sunda: ᮊᮘᮥᮕᮦᮒᮔ᮪ ᮘᮔ᮪ᮓᮥᮀ, Latin: Kabupatén Bandung) adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibu kotanya adalah Soreang.

Kabupaten Bandung
Lambang Kabupaten Bandung
Lambang Kabupaten Bandung


Moto: Répéh Rapih Kerta Raharja
ᮦᮛᮦᮕᮂ ᮛᮕᮤᮂ ᮊᮨᮁᮒ ᮛᮠᮁᮏ



Lokasi Kabupaten Bandung di Jawa Barat
Peta lokasi Kabupaten Bandung di Jawa Barat
Koordinat: 6°41'-7°19' LS; 107°22'-108°5' BT
Provinsi Jawa Barat
Ibu kota Soreang
Pemerintahan
-Bupati H. Dadang M. Nasser, S.H., M.Ipol.
-Wakil Bupati H. Gun Gun Gunawan, S.Si., M.Si.
APBD
-DAU Rp1.730.063.709.000.-(2013)[1]
Luas 1.762,39 km2 [2]
Populasi
-Total 4.069.872 jiwa (2015)
-Kepadatan 2.309,29 jiwa/km2
Demografi
-Bahasa Sunda, Indonesia
-Kode area telepon 022
Pembagian administratif
-Kecamatan 31
-Kelurahan 10
desa = 270
Simbol khas daerah
Situs web www.bandungkab.go.id

GeografiSunting

Batas WilayahSunting

Utara Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Sumedang
Timur Kabupaten Garut
Selatan Kabupaten Garut dan Kabupaten Cianjur
Barat Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Cianjur

TopografiSunting

Kabupaten Bandung terletak di Cekungan Bandung dengan ciri khas dataran tinggi luas di bagian tengah yang dikelilingi pegunungan di sebelah barat, selatan, utara dan timurnya. Sungai Citarum yang berhulu di Gunung Wayang mengalir di kawasan ini sebelum masuk ke waduk Saguling. Sebagian besar kota-kota Kecamatan padat penduduk di Kabupaten ini seperti Majalaya, Soreang, Banjaran, Rancaekek, Dayeuhkolot, Margahayu, Cileunyi, Baleendah, dan Bojongsoang terletak di dataran ini. Kawasan ini juga selalu dihantui banjir yang melanda setiap musim hujan dikarenakan aliran sungai yang ada di seluruh Cekungan Bandung bermuara ke sungai Citarum ditambah drainase yang buruk, pencemaran sungai yang parah serta dangkalnya sungai. Adapun wilayah yang terletak di Pegunungan yaitu Ciwidey, Pasirjambu dan Pangalengan di selatan serta Cimenyan dan Cilengkrang di bagian utara yang jika dilihat dari peta seolah terpisah dari wilayah utama Kabupaten Bandung karena terpotong Kota Bandung. Gunung yang ada di Kabupaten Bandung antara lain: Gunung Patuha (2.334 m), Gunung Malabar (2.321 m), Gunung Papandayan (2.262 m), dan Gunung Manglayang.

SejarahSunting

 
Makam para bupati Bandung (tahun 1918)

Kabupaten Bandung lahir melalui Piagam Sultan Agung Mataram, yaitu pada tanggal 9 bulan Muharram tahun Alif atau sama dengan hari sabtu tanggal 20 April 1641 Masehi. Bupati pertamanya adalah Tumenggung Wiraangunangun (1641-1681 M). Dari bukti sejarah tersebut ditetapkan bahwa 20 April sebagai Hari Jadi Kabupaten Bandung. Jabatan bupati kemudian digantikan oleh Tumenggung Nyili salah seorang putranya. Namun Nyili tidak lama memegang jabatan tersebut karena mengikuti Sultan Banten. Jabatan bupati kemudian dilanjutkan oleh Tumenggung Ardikusumah, seorang Dalem Tenjolaya (Timbanganten) pada tahun 1681-1704.

Selanjutnya kedudukan Bupati Kabupaten Bandung dari R. Ardikusumah diserahkan kepada putranya R. Ardisuta yang diangkat tahun 1704 setelah Pemerintah Hindia Belanda mengadakan pertemuan dengan para bupati se-Priangan di Cirebon. R. Ardisuta (1704-1747) terkenal dengan nama Tumenggung Anggadiredja I setelah wafat dia sering disebut Dalem Gordah. sebagai penggantinya diangkat putra tertuanya Demang Hatapradja yang bergelar Anggadiredja II (1707-1747).

Pada masa Pemerintahan Anggadiredja III (1763-1794) Kabupaten Bandung disatukan dengan Timbanganten, bahkan pada tahun 1786 dia memasukkan Batulayang ke dalam pemerintahannya. Juga pada masa Pemerintahan Adipati Wiranatakusumah II (1794-1829) inilah ibu kota Kabupaten Bandung dipindahkan dari Karapyak (Dayeuhkolot) ke tepi sungai Cikapundung atau alun-alun Kota Bandung sekarang. Pemindahan ibu kota itu atas dasar perintah dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda Daendels tanggal 25 Mei 1810, dengan alasan daerah baru tersebut dinilai akan memberikan prospek yang lebih baik terhadap perkembangan wilayah tersebut.

 
Raden Aria Adipati Wiranatakusumah IV (masa jabatan 1846-1874) dan pengikutnya (sekitar tahun 1870)

Setelah kepala pemerintahan dipegang oleh Bupati Wiranatakusumah IV (1846-1874), ibu kota Kabupaten Bandung berkembang pesat dan dia dikenal sebagai bupati yang progresif. Dialah peletak dasar master plan Kabupaten Bandung, yang disebut Negorij Bandoeng. Tahun 1850 dia mendirikan pendopo Kabupaten Bandung dan Masjid Agung. Kemudian dia memprakarsai pembangunan Sekolah Raja (Pendidikan Guru) dan mendirikan sekolah untuk para menak (Opleiding School Voor Indische Ambtenaaren). Atas jasa-jasanya dalam membangun Kabupaten Bandung di segala bidang dia mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Hindia Belanda berupa Bintang Jasa, sehingga masyarakat menjulukinya dengan sebutan Dalem Bintang.

Pada masa pemerintahan R. Adipati Kusumahdilaga, rel kereta api mulai dibangun, tepatnya tanggal 17 Mei 1884. Dengan masuknya rel kereta api ini ibu kota Bandung kian ramai. Penghuninya bukan hanya pribumi, bangsa Eropa, dan Cina pun mulai menetap di ibu kota, dampaknya perekonomian Kota Bandung semakin maju. Setelah wafat penggantinya diangkat R.A.A. Martanegara, bupati ini pun terkenal sebagai perencana kota yang jempolan. Martanegara juga dianggap mampu menggerakkan rakyatnya untuk berpartisipasi aktif dalam menata wilayah kumuh menjadi permukiman yang nyaman. Pada masa pemerintahan R.A.A. Martanegara (1893-1918) ini atau tepatnya pada tanggal 21 Februari 1906, Kota Bandung sebagai ibu kota Kabupaten Bandung berubah statusnya menjadi Gementee (Kotamadya).

 
R. A. A. Wiranatakoesoema V (Dalem Haji, masa jabatan 1912-1931 dan 1935-1945) sebagai wakil Volksraad di Congres van Prijaji-Bond (Kongres Perhimpunan Priyayi) di Surakarta tahun 1929

Periode selanjutnya Bupati Bandung dijabat oleh Aria Wiranatakoesoema V (Dalem Haji) yang menjabat selama 2 periode, pertama tahun 1920-1931 sebagai bupati yang ke-12 dan berikutnya tahun 1935-1945 sebagai bupati yang ke-14. Pada periode tahun 1931-1935 R.T. Sumadipradja menjabat sebagai Bupati ke-13. Selanjutnya bupati ke-15 adalah R.T.E. Suriaputra (1945-1947) dan penggantinya adalah R.T.M. Wiranatakusumah VI alias Aom Male (1948-1956), kemudian diganti oleh R. Apandi Wiriadipura sebagai bupati ke-17 yang dijabatnya hanya 1 tahun (1956-1957).

Bupati berikutnya adalah Letkol. R. Memet Ardiwilaga (1960-1967). Kemudian pada masa transisi (Orde Lama ke Orde Baru) dilanjutkan oleh Kolonel Masturi. Pada masa Pimpinan Kolonel R.H. Lily Sumantri tercatat peristiwa penting yaitu rencana pemindahan ibu kota Kabupaten Bandung yang semula berada di Kotamadya Bandung ke Wilayah Hukum Kabupaten Bandung, yaitu daerah Baleendah. Peletakan batu pertamanya pada tanggal 20 April 1974, yaitu pada saat Hari Jadi Kabupaten Bandung yang ke-333. Rencana pemindahan ibu kota tersebut berlanjut hingga jabatan bupati dipegang oleh Kolonel R. Sani Lupias Abdurachman (1980-1985).

Atas pertimbangan secara fisik geografis, daerah Baleendah tidak memungkinkan untuk dijadikan sebagai ibu kota kabupaten karena sering dilanda banjir, maka ketika jabatan bupati dipegang oleh Kolonel H.D. Cherman Affendi (1985-1990), ibu kota Kabupaten Bandung pindah ke lokasi baru yaitu Soreang. Di tepi Jalan Raya Soreang, tepatnya di Desa Pamekaran inilah dibangun Pusat Pemerintahan Kabupaten Bandung seluas 24 hektare, dengan menampilkan arsitektur khas gaya Priangan. Pembangunan perkantoran yang belum rampung seluruhnya dilanjutkan oleh bupati berikutnya yaitu Kolonel H.U. Djatipermana, sehingga pembangunan tersebut memerlukan waktu sejak tahun 1990 hingga 1992.

Tanggal 5 Desember 2000, Kolonel H. Obar Sobarna, S.I.P. terpilih oleh DPRD Kabupaten Bandung menjadi Bupati Bandung dengan didampingi oleh Drs. H. Eliyadi Agraraharja sebagai Wakil Bupati. Sejak itu, Soreang betul-betul difungsikan menjadi pusat pemerintahan. Pada tahun 2003 semua aparat daerah, kecuali Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan, Dinas Kebersihan, Kantor BLKD, dan Kantor Diklat, sudah resmi berkantor di kompleks perkantoran Kabupaten Bandung. Pada periode pemerintahan Obar Sobarna, yang pertama dibangun adalah Stadion Olahraga, yakni Stadion Si Jalak Harupat. Stadion ini merupakan stadion bertaraf internasional yang menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Bandung. Selain itu, berdasarkan aspirasi masyarakat yang diperkuat oleh Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999, Kota Administratif Cimahi berubah status menjadi kota otonom.

Tanggal 5 Desember 2005, Obar Sobarna menjabat Bupati Bandung untuk kali kedua didampingi oleh H. Yadi Srimulyadi sebagai wakil bupati, melalui proses pemilihan langsung. Pada masa pemerintahan yang kedua ini, berdasarkan dinamika masyarakat dan didukung oleh hasil penelitian dan pengkajian dari 5 perguruan tinggi, secara yuridis terbentuklah Kabupaten Bandung Barat bersamaan dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 12 tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Bandung Barat di Provinsi Jawa Barat. Ibu kota Kabupaten Bandung Barat terletak di Kecamatan Ngamprah). Bupati Bandung Barat masa jabatan 2008-2013 adalah Abubakar.[3]

PemerintahanSunting

Daftar BupatiSunting

No Bupati Mulai jabatan Akhir jabatan Ket. Ket. Wakil Bupati
1
Tumenggung Wiraangunangun
(Ki Astamanggala)
1632
1681
1
[ket. 1]
2
Tumenggung Ardikusumah
1681
1704
2
[ket. 2]
3
Tumenggung Anggadireja I
1704
1747
3
4
Tumenggung Anggadireja II
1747
1763
4
5
R. Anggadireja III
(R. Wiranatakusumah I)
1769
1794
5
6
R.A Wiranatakusumah II
1794
1829
6
[ket. 3]
7
R. Wiranatakusumah III
1829
1846
7
8
  R. Wiranatakusumah IV
1846
1874
8
9
  R.A Kusumahdilaga
1874
1893
9
10
  R.A.A Martanegara
1893
1918
10
11
  R.H.A.A Wiranatakusumah V
1920
1931
11
12
  R.T Hasan Sumadipraja
1931
1935
12
(11)
  R.H.A.A Wiranatakusumah V
1935
1945
13
13
  R.T.E Suriaputra
1945
1947
14
14
  R.T.M Wiranatakusumah VI
1947
1956
15
15
  R. Apandi Wiradiputra
1956
1957
16
16
R. Godjali Gandawidura
1957
1960
17
17
  R. Memed Ardiwilagaa
B.A.
1960
1967
18
18
  Masturi
1967
1969
19
19
  R.H Lily Sumantri
1969
1975
20
20
  Sani Lupias Abdurachman
1980
1985
21
21
  Cherman Effendi
1985
1990
22
22
  H.U. Hatta Djatipermanaa
S.Ip
1990
1995
23
1995
2000
24
23
  H.
Obar Sobarna
S.Ip
2000
2005
25
[4]
Elyadi Agraraharjaa
2005
2010
26
Yadi Srimulyadi
24
  H.
Dadang M. Nasser
12 Desember 2010
12 Desember 2015
27
[5]
Deden Rukman Rumaji
Perry Suparman
(Penjabat)
15 Desember 2015
17 Februari 2016
[6]
(24)
  H.
Dadang M. Nasser
17 Februari 2016
17 Februari 2021
28
[7]
Gun Gun Gunawan
Catatan
  1. ^ Masa pemerintahan Kerajaan Mataram
  2. ^ Bupati pertama masa pemerintahan Kompeni-VOC
  3. ^ Ibu kota dipindah dari Karapyak ke Kota Bandung

Dewan PerwakilanSunting

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Kabupaten Bandung
 
Jenis
Jenis
Pimpinan
Ketua
Anang Susanto,  
sejak 29 September 2014[8][9]
Wakil Ketua I
Asep Henhen Suhendar, 20px
sejak 29 September 2014[8][9]
Wakil Ketua II
Yayat Hidayat, 20px
sejak 29 September 2014[8][9]
Wakil Ketua III
Jajang Rohana, 20px
sejak 29 September 2014[8][9]
Komposisi
Anggota50[10]
 
Partai & kursi
  Partai Golkar (12)
  PDI-P (9)
  PKS (6)
  PKB (5)
  PAN (2)
  PPP (1)
Pemilihan
Representasi Proposional
Pemilihan terakhir
9 April 2014
Tempat bersidang
Gedung DPRD Kabupaten Bandung
Komplek Pemerintah Kabupaten Bandung
Jalan Raya Soreang KM. 17 Pamekaran
Soreang, Kabupaten Bandung
Indonesia

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bandung (disingkat DPRD Kabupaten Bandung, untuk membedakannya dengan DPRD Kota Bandung) adalah lembaga perwakilan rakyat daerah tingkat kabupaten yang ada di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. DPRD Kabupaten Bandung memiliki 50 anggota dan dipimpin oleh satu ketua dan tiga wakil ketua.

Periode 2014-2019Sunting

Anggota DPRD Kabupaten Bandung periode 2014-2019 dilantik pada 25 Agustus 2014 oleh Catur Irianto, Kepala Pengadilan Negeri Bale Bandung.[11] Berikut ini adalah rekapitulasi jumlah kursi masing-masing partai yang mendudukkan kadernya di DPRD Kabupaten Bandung periode 2014-2019.[12][13]

Nama Partai Jumlah Kursi
  Partai Golkar 12
Lambang PDI-P PDI Perjuangan 9
Lambang Partai Gerindra Partai Gerindra 7
Lambang PKS Partai Keadilan Sejahtera 6
  Partai Demokrat 5
  Partai Kebangkitan Bangsa 5
Lambang PAN Partai Amanat Nasional 2
  Partai NasDem 2
Lambang PPP Partai Persatuan Pembangunan 1
 Partai Hanura 1
Jumlah 50

Lihat PulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  2. ^ http://www.bandungkab.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=4&Itemid=6 Geografi Kabupaten Bandung di Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Bandung
  3. ^ "Abubakar Dilantik Jadi Bupati Bandung Barat". Suara Karya Online. Diakses tanggal 2011-03-24. 
  4. ^ Rusdhie, Yukie (17 September 2015). "Siapa Nama Wakil Bupati Bandung?". Soreang Online. Diakses tanggal 3 Februari 2019. 
  5. ^ "Dadang M. Naser Terpilih Jadi Bupati Bandung". Tempo.co. 8 November 2010. Diakses tanggal 3 Februari 2019. 
  6. ^ "Gubernur Lantik Perry Suparman Sebagai Plt. Bupati Bandung". Pemerintah Provinsi Jawa Barat. 15 Desember 2015. Diakses tanggal 3 Februari 2019. 
  7. ^ "Dadang M Naser Pimpin Lagi Kabupaten Bandung". Pojok Satu Jabar. 18 Februari 2016. Diakses tanggal 3 Februari 2019. 
  8. ^ a b c d [1] Tribun Jabar - Pimpinan DPRD Kabupaten Bandung Siang Ini Resmi Dilantik
  9. ^ a b c d [2] Soreang Online - Pimpinan DPRD Kab. Bandung 2014-2019 Dilantik Ketua Pengadilan BB
  10. ^ [3] Soreang Online - Inilah 59 Anggota DPRD Kab. Bandung 2014-2019 Yang Akan Dilantik
  11. ^ [4] Soreang Online - Pelantikan 50 Anggota DPRD Kabupaten Bandung Berlangsung Sederhana
  12. ^ [5] Soreang Online - 33 Anggota DPRD Kab. Bandung Periode 2014-2019 Wajah Baru
  13. ^ [6] Tribun Jabar - Inilah Nama-Nama Anggota DPRD Kabupaten Bandung

KecamatanSunting

Kabupaten Bandung terdiri dari 31 kecamatan, 10 kelurahan, dan 270 desa. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 3.522.724 jiwa dengan luas wilayah 1.767,96 km² dan sebaran penduduk 1.992 jiwa/km².[1]

Pemekaran daerahSunting

Kabupaten Bandung TimurSunting

Kecamatan yang mungkin bergabung ke dalam kabupaten ini meliputi:

  1. Cilengkrang
  2. Cimenyan
  3. Cileunyi
  4. Rancaekek
  5. Nagreg
  6. Solokan Jeruk
  7. Majalaya
  8. Ibun
  9. Paseh
  10. Pacet
  11. Kertasari
  12. Ciparay
  13. Cicalengka
  14. Cikancung
  15. Bojongsoang --->

PariwisataSunting

OlahragaSunting

Klub OlahragaSunting

Klub olahraga yang berbasis di Kabupaten Bandung di antaranya adalah Persikab, yang merupakan singkatan dari Persatuan Sepak bola Indonesia Kabupaten Bandung, yang berlaga di Divisi Utama Liga Indonesia pada musim 2009/2010. Untuk pertandingan kandang, Persikab menggunakan Stadion Si Jalak Harupat.

ReferensiSunting

  1. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diakses tanggal 5 Desember 2018. 

Pranala luarSunting