Kabupaten Sleman

kabupaten di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia

Sleman (bahasa Jawa: ꦱ꧀ꦭꦺꦩꦤ꧀, translit. Sléman) adalah sebuah kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini adalah Sleman. Sleman dikenal sebagai asal buah salak pondoh. Berbagai perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta sebenarnya secara administratif terletak di wilayah kabupaten ini, di antaranya Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta dan Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta.

Kabupaten Sleman
Jawa 1rightarrow blue.svg Daerah Istimewa Yogyakarta
Lambang Kabupaten Sleman
Lambang
Julukan: 
Kota Salak Pondoh
Motto: 
Sleman SEMBADA
(Sehat, Elok, Makmur dan merata, Bersih dan berbudaya, Aman dan adil, Damai dan dinamis, Agamis)
Lokasi DIY Kabupaten Sleman.svg
Kabupaten Sleman berlokasi di Jawa
Kabupaten Sleman
Kabupaten Sleman
Kabupaten Sleman berlokasi di Indonesia
Kabupaten Sleman
Kabupaten Sleman
Koordinat: 7°40′54″S 110°19′24″E / 7.68167°S 110.32333°E / -7.68167; 110.32333
Negara Indonesia
ProvinsiDaerah Istimewa Yogyakarta
Tanggal peresmian15 Mei 1916
Dasar hukumUU No.15 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Kabupaten dalam Lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ibu kotaKota Sleman
Pemerintahan
 • BupatiDrs. H. Sri Purnomo
 • Wakil BupatiDra. Hj. Sri Muslimatun
Luas
 • Total574,82 km2 (22,194 sq mi)
Populasi
 ((2017)[1])
 • Total1.193.572 jiwa
Demografi
 • AgamaIslam 89,48%
Kristen 10,16%
- Katolik 7,10%
- Protestan 3,06%
Konghucu 0,12%
Hindu 0,11%
Buddha 0,08%
Aliran Kepercayaan 0,05%[2]
Zona waktuWIB (UTC+07:00)
Kode telepon0274
Kode Kemendagri34.04 Edit the value on Wikidata
Jumlah kecamatan17
Jumlah kelurahan86
DAURp. 891.589.912.000.-(2013)[3]
Bandar udaraBandar Udara Internasional Adisutjipto (JOG)
Flora resmiSalak pondoh
Fauna resmiPunglor merah
Situs webslemankab.go.id

GeografiSunting

Batas WilayahSunting

Kabupaten ini berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah (Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten) di utara dan timur, Kabupaten Gunung Kidul, Kabupaten Bantul, dan Kota Yogyakarta di selatan, serta Kabupaten Kulon Progo di barat. Pusat pemerintahan di Kapanewon Sleman, yang berada di jalur utama antara YogyakartaSemarang.

TopografiSunting

Bagian utara kabupaten ini merupakan pegunungan, dengan puncaknya Gunung Merapi di perbatasan dengan Jawa Tengah, salah satu gunung berapi aktif yang paling berbahaya di Pulau Jawa. Sedangkan di bagian selatan merupakan dataran rendah yang subur. Di antara sungai-sungai besar yang melintasi kabupaten ini adalah Kali Progo (membatasi kabupaten Sleman dengan Kabupaten Kulon Progo), kali Code, kali Kuning, kali Opak dan Kali Tapus.

Dengan Pendapatan Asli Daerah Rp. 52.978.731.000,- (2005) Kabupaten Sleman merupakan kabupaten terkaya di Daerah Istimewa Yogyakarta.

SejarahSunting

Keberadaan Kabupaten Sleman dapat dilacak pada Rijksblad no. 11 Tahun 1916 tanggal 15 Mei 1916 yang membagi wilayah Kasultanan Yogyakarta dalam 3 Kabupaten, yakni Kalasan, Bantul, dan Sulaiman (yang kemudian disebut Sleman), dengan seorang bupati sebagai kepala wilayahnya. Dalam Rijksblad tersebut juga disebutkan bahwa kabupaten Sulaiman terdiri dari 4 distrik yakni: Distrik Mlati (terdiri 5 onderdistrik dan 46 kalurahan), Distrik Klegoeng (terdiri 6 onderdistrik dan 52 kalurahan), Distrik Joemeneng (terdiri 6 onderdistrik dan 58 kalurahan), Distrik Godean (terdiri 8 onderdistrik dan 55 kalurahan). Berdasarkan Perda no.12 Tahun 1998, tanggal 15 Mei tahun 1916 akhirnya ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Sleman. Menurut Almanak, hari tersebut tepat pada Hari Senin Kliwon, Tanggal 12 Rejeb Tahun Je 1846 Wuku Wayang.

Berdasar pada perhitungan tahun Masehi, Hari Jadi Kabupaten Sleman ditandai dengan surya sengkala "Rasa Manunggal Hanggatra Negara" yang memiliki sifat bilangan Rasa= 6, Manunggal=1, Hanggatra=9, Negara=1, sehingga terbaca tahun 1916. Sengkalan tersebut, walaupun melambangkan tahun, memiliki makna yang jelas bagi masyarakat Jawa, yakni dengan rasa persatuan membentuk negara. Sedangkan dari perhitungan tahun Jawa diperoleh candra sengkala "Anggana Catur Salira Tunggal". Anggana=6, Catur=4, Salira=8, Tunggal=1. Dengan demikian dari candra sengkala tersebut terbaca tahun 1846.

Beberapa tahun kemudian Kabupaten Sleman sempat diturunkan statusnya menjadi distrik di bawah wilayah Kabupaten Yogyakarta. Dan baru pada tanggal 8 April 1945, Sri Sultan Hamengkubuwono IX melakukan penataan kembali wilayah Kasultanan Yogyakarta melalui Jogjakarta Koorei angka 2 (dua). Penataan ini menempatkan Sleman pada status semula, sebagai wilayah Kabupaten dengan Kanjeng Raden T umenggung Pringgodiningrat sebagai bupati. Pada masa itu, wilayah Sleman membawahi 17 Kapenewon/Kecamatan (Son) yang terdiri dari 258 Kalurahan (Ku). Ibu kota kabupaten berada di wilayah utara, yang saat ini dikenal sebagai desa Triharjo. Melalui Maklumat Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 5 tahun 1948 tentang perubahan daerah-daerah Kelurahan, maka 258 Kelurahan di Kabupaten Sleman saling menggabungkan diri hingga menjadi 86 kelurahan/desa. Kelurahan/Desa tersebut membawahi 1.212 padukuhan.

Pusaka dan Identitas DaerahSunting

Kyai TurunsihSunting

Kabupaten Sleman memiliki tombak "Kyai Turunsih Tangguh Ngayogyakarto", pemberian dari Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X pada Sabtu Kliwon 15 Mei 1999 (Tanggal Jawa, 29 Sapar 1932 Ehe). Penyerahan Pusaka tersebut kepada Bupati Sleman, dikawal 2 bergada prajurit Kraton Yogyakarta yakni Bregada Ketanggung berbendera Cakraswandana dan Bregada Mantrijero berbendera Purnamasidi. Pusaka itu dibawa seorang abdi Keraton Yogyakarta, KRT Pringgohadi Seputra.

Tombak Kyai Turunsih memiliki dhapur (pangkal) cekel beluluk Ngayogyakarta dan pamor beras wutah (wos wutah) wengkon. Pamor pusaka itu sesuai kondisi Sleman sebagai gudang berasnya Daerah Istimewa Yogyakarta. Tombak tersebut memiliki panjang sepanjang kurang lebih 270 cm dan pangkal sepanjang 49 cm.

Menurut Sri Sultan Hamengku Buwono X, Tombak Kyai Turunsih mengisyaratkan laku ambeg paramarta, dijiwai olah rasa kasih sayang, yang mencakup wilayah se Kabupaten Sleman sebagaimana sebuah keluarga besar yang harmonis, mulat sarira sesuai hari jadinya 'Anggana Catur Sarira Tunggal' yang terbaca tahun 1846 Jawa. Candra Sengkala tersebut mengemukakan sikap kearifan tradisional di empat penjuru yang manunggal pada jiwa kesatuan, yang menjadi unsur kasepuhannya.

PemerintahanSunting

Daftar BupatiSunting

No Foto Bupati Mulai Jabatan Akhir Jabatan Wakil Bupati Keterangan Ref.
1 K. R. T. Pringgodiningrat 1945 1947
2 K. R. T. Prodjodiningrat 1947 1950
3 K. R. T. Dipodiningrat 1950 1955
4 K. R, T,. Prawirodiningrat 1955 1957
5 Buchori S. Pranotohadi 1957 1959
6 K. R. T. Murdodiningrat 1959 1974
7 K. R. T. Tedjo Hadiningrat 1974 1974 Hanya menjabat 3 bulan
8 Drs. K. R. T. Prodjosuyoto 1974 1985
9 Drs. Samirin 1985 1990
10 Drs. Arifin Ilyas 1990 2000
11 Drs. Ibnu Subiyanto, Akt 2000 2005
12 Drs. Ibnu Subiyanto, Akt 2005 2009 Drs. H. Sri Purnomo, M.S.i
13 Drs. H. Sri Purnomo, M.S.i. 2009 2010
14 Drs. H. Sri Purnomo, M.S.i. 2010 2015 Dr. Hj. Yuni Satia Rahayu, S.S., M.Hum
15 Ir. Gatot Saptadi 2015 2016
16   Drs. H. Sri Purnomo, M.S.i. 2016 Dra. Hj. Sri Muslimatun, M.Kes

Dewan PerwakilanSunting

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Sleman dalam tiga periode terakhir.

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2009–2014 2014–2019 2019–2024
  PDI-Perjuangan 10 12 15
  Partai Gerindra (baru) 1 7 6
  Partai Amanat Nasional 6   6   6
  Partai Keadilan Sejahtera 5 6   6
Lambang PKB Partai Kebangkitan Bangsa 6 5 6
  Partai Golkar 6 4 5
  Partai NasDem (baru) 5 3
  Partai Persatuan Pembangunan 4   4 3
  Partai Demokrat 8 1 0
  Partai Hati Nurani Rakyat (baru) 1 0   0
  Partai Demokrasi Pembaruan (baru) 1
  Partai Kebangkitan Nasional Ulama (baru) 1
  Partai Karya Peduli Bangsa 1
Jumlah Anggota 50   50   50
Jumlah Partai 12 9 8

KapanewonSunting

Kabupaten Sleman memiliki 17 kapanewon dan 86 kalurahan. Pada tahun 2017, jumlah penduduk mencapai 1.062.861 jiwa yang tersebar di wilayah seluas 574,82 km² dengan tingkat kepadatan penduduk 1.849 jiwa/km².[4][5]

Daftar kapanewon dan kalurahan di Kabupaten Sleman, adalah sebagai berikut:

Kode
Kemendagri
Kapanewon Jumlah
Kalurahan
Daftar
Kalurahan
34.04.08 Berbah
ꦧꦼꦂꦧꦃ
4
34.04.17 Cangkringan
ꦕꦁꦏꦿꦶꦁꦔꦤ꧀
5
34.04.07 Depok
ꦝꦺꦥꦺꦴꦏ꧀
3
34.04.01 Gamping
ꦒꦩ꧀ꦥꦶꦁ
5
34.04.02 Godean
ꦒꦺꦴꦝꦺꦪꦤ꧀
7
34.04.10 Kalasan
ꦏꦭꦱꦤ꧀
4
34.04.04 Minggir
ꦩꦶꦁꦒꦶꦂ
5
34.04.06 Mlati
ꦩ꧀ꦭꦛꦶ
5
34.04.03 Moyudan
ꦩꦪꦸꦢꦤ꧀
4
34.04.12 Ngaglik
ꦔꦒ꧀ꦭꦶꦒ꧀
6
34.04.11 Ngemplak
ꦔꦼꦩ꧀ꦥ꧀ꦭꦏ꧀
5
34.04.16 Pakem
ꦥꦏꦼꦩ꧀
5
34.04.09 Prambanan
ꦥꦿꦩ꧀ꦧꦤꦤ꧀
6
34.04.05 Seyegan
ꦱꦺꦪꦺꦒꦤ꧀
5
34.04.13 Sleman
ꦱ꧀ꦭꦺꦩꦤ꧀
5
34.04.14 Tempel
ꦠꦺꦩ꧀ꦥꦺꦭ꧀
8
34.04.15 Turi
ꦠꦸꦫꦶ
4
TOTAL 86

PariwisataSunting

Tempat WisataSunting

Flora dan FaunaSunting

Salak PondohSunting

Salak pondoh (Sallaca edulis Reinw cv Pondoh) dalam kajian ilmiah termasuk divisi Spermatophyta (tumbuhan berbiji) dengan sub divisi Angiospermae (berbiji tertutup). Sedangkan klasifikasi kelasnya adalah Monocotyledoneae (biji berkeping satu), yang termasuk bangsa Arecales, suku Arecaceae Palmae (keluarga Palem) dan marga Salacca jenis Salacca edulis Reinw dengan anak jenis Salacca edulis Reinw cv Pondoh.

Tanaman ini dipilih menjadi flora identitas Kabupaten Sleman karena merupakan jenis tanaman Salak khas di wilayah Sleman dan telah menjadi kebanggaan masyarakat Sleman. Awalnya, Partodiredjo, seorang Jogoboyo desa pada Kapanewon Tempel, pada tahun 1917 menerima kenang-kenangan empat butir biji salak dari seorang warga negara Belanda yang akan kembali ke negerinya karena masa tugasnya telah berakhir. Biji Salak yang kemudian ditanam dan dibudidayakannya dengan baik ternyata menghasilkan buah yang manis dan tidak sepat, tidak seperti buah Salak yang selama itu dikenalnya. Pada tahun 1948-an tanaman Salak tersebut kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Muhadiwinarto (putra Partodiredjo) warga Sokobinangun, Merdikorejo, Tempel. Karena kelebihannya dalam hal rasa, tanaman salak tersebut cepat berkembang pesat penyebarannya.

Burung punglorSunting

Burung Punglor (Zootheria Citrina) yang tergolong Vertebrata marga Zootheria, bangsa passeriformes, suku Turdidae, dan kelas Aves ini memiliki bulu yang indah. Habitat Punglor adalah hutan sekunder dataran rendah dan dataran yang memiliki ketinggian hingga 900 M di atas permukaan air laut.

Di wilayah Sleman, burung yang bersuara merdu ini berhabitat kebun Salak Jawa. Dengan makanan utama cacing tanah dan kumbang (uret), Punglor merupakan predator bagi hama tanaman Salak Jawa. Namun, keberadaannya semakin berkurang seiring berkurangnya habitat kebun Salak Jawa. Masyarakat lebih banyak memilih menanam salak pondoh.[1]

PendidikanSunting

Pendidikan TinggiSunting

UniversitasSunting

InstitutSunting

Sekolah TinggiSunting

    • Sekolah Tinggi Bahasa Asing Lembaga Indonesia-Amerika
    • Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (Akademi Administrasi Notokusumo)
    • Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bank
    • Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Mitra Indonesia
    • Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata API (Akademi Pariwisata Indonesia)
    • Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Solusi Bisnis Indonesia
    • Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (Yayasan Keluarga Pahlawan Negara)
    • Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Guna Bangsa
    • Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira Husada
    • Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN
    • Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA
    • Sekolah Tinggi MultiMedia "MMTC"

BahasaSunting

Menurut Badan Bahasa, bahasa Jawa dialek Yogya-Solo merupakan bahasa daerah yang dituturkan mayoritas penduduk Kabupaten Sleman.[6] Menurut Statistik Kebahasaan 2019, bahasa ini menjadi satu-satunya bahasa daerah asli Kabupaten Sleman.[7] Bahasa resmi instansi pemerintahan di Kabupaten Sleman adalah bahasa Indonesia.

Tokoh terkenalSunting

ReferensiSunting

  1. ^ "Provinsi D.I Yogyakarta Dalam Angka 2018". BPS D.I Yogyakarta. Diakses tanggal 16 Agustus 2019. 
  2. ^ "Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama di D.I Yogyakarta 2014". Pemprov D.I Yogyakarta. Diakses tanggal 25 Februari 2020. 
  3. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  4. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019. 
  5. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020. 
  6. ^ "Bahasa di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta". Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia. Diakses tanggal 23 Mei 2020. 
  7. ^ Statistik Kebahasaan 2019. Jakarta: Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan. 2019. hlm. 4. ISBN 9786028449182. 

Lihat pulaSunting

Pranala luarSunting