Majapahit

kemaharajaan Jawa, beribukota di Majakarta (sekarang Trowulan)
(Dialihkan dari Kerajaan Majapahit)

Majapahit (bahasa Jawa: ꧋ꦩꦙꦥꦲꦶꦠ꧀; pengucapan bahasa Jawa: [madʒapaɪt]; Sanskerta: Vilvatikta; Kawi: Wilwatikta)[Catatan 1] adalah sebuah kemaharajaan yang berpusat di Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia, yang pernah berdiri tahun 1293–1527 M. Kemaharajaan ini didirikan oleh Raden Wijaya menantu Kertanagara, maharaja Singhasari terakhir, dan mencapai puncak kejayaannya menjadi kemaharajaan raya yang menguasai wilayah yang luas di Nusantara pada masa kekuasaan raja Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350–1389.Dalam Babad babad kuno Majapahit juga memiliki nama lain yaitu Maospait,Mojolengko,Wilwatikta dll.

Kemaharajaan Majapahit

꧋ꦩꦙꦥꦲꦶꦠ꧀
1293–1527
Peta wilayah kekuasaan Majapahit berdasarkan Nagarakertagama[1]
Peta wilayah kekuasaan Majapahit berdasarkan Nagarakertagama[1]
StatusKemaharajaan
Ibu kotaTrowulan
(sekarang Trowulan, Indonesia)
Bahasa yang umum digunakanJawa Kuno (utama), Sanskerta (religius)
Agama
PemerintahanMonarki, sistem pemerintahan Mandala
Sri Maharaja 
• 1293–1309
Raden Wijaya
• 1309–1328
Jayanagara
• 1328–1350
Tribhuwana Wijayatunggadewi
• 1350– 1389
Hayam Wuruk
• 1389–1429
Wikramawardhana
• 1429–1447
Suhita
• 1447–1451
Kertawijaya
• 1451–1453
Rajasawardhana
• 1456–1466
Girishawardhana
• 1466 –1468
Suraprabhawa
Sejarah 
• Penobatan Raden Wijaya
10 November 1293
1334
1357
1404–1406
• Dibawah kekuasaan Bhre Kertabhumi
1468–1474
• Invasi Kesultanan Demak
1527
Mata uangKoin emas, koin perak, koin kepeng, koin gobog
Didahului oleh
Digantikan oleh
krjKerajaan
Tumapel
krjKerajaan
Melayu
krjKerajaan
Kutai
krjKerajaan
Singapura
kslKesultanan
Samudera Pasai
krjKerajaan
Bali
krjKerajaan
Tanjungpura
kslKesultanan
Demak
krjKerajaan
Blambangan
kslKesultanan
Malaka
kslKesultanan
Pagaruyung
kslKesultanan
Makassar
kslKesultanan
Bima
kslKesultanan
Ternate
kslKesultanan
Tidore
ksrKekaisaran
Brunei
kslKesultanan
Kutai
kslKesultanan
Aceh
Sekarang bagian dari Indonesia
 Malaysia
 Singapura
 Brunei Darussalam
 Timor Leste
 Filipina
 Thailand (bagian selatan)
  1. ^ Merah putih adalah warna kebesaran yang digunakan Majapahit. Bagaimana warna itu digunakan oleh Majapahit sesuai dengan isi prasasti kudadu.
Sunting kotak info
Sunting kotak info • Lihat • Bicara
Info templat
Bantuan penggunaan templat ini

Kemaharajaan Majapahit adalah kemaharajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Nusantara dan dianggap sebagai monarki terbesar dalam sejarah Indonesia.[2] Menurut Negarakertagama, kekuasaannya terbentang dari Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Filipina (Kepulauan Sulu), Manila (Saludung), Sulawesi, Papua, dan lainnya.[3] Sisa-sisa peninggalan arkeologis dan reruntuhan bangunan kunonya banyak ditemukan di Kabupaten Mojokerto, karena pernah menjadi ibukota Majapahit.Situs Keraton era Kertawijaya sampai Singawardhana ditemukan di situs kumitir selatan trowulan mojokerto.

Historiografi

sunting

Sejarah mengenai kemaharajaan Majapahit masih menjadi salah satu subjek penelitian yang menarik untuk dibahas dan ditelusuri lebih jauh lagi.[4][5] Sumber utama yang digunakan oleh para sejarawan diantaranya adalah Pararaton ('Kitab Raja-raja') dalam bahasa Kawi dan Nagarakretagama dalam bahasa Jawa Kuno.[6] Pararaton menceritakan Ken Arok (pendiri Kerajaan Singhasari) namun juga memuat beberapa bagian pendek mengenai terbentuknya Majapahit. Sementara itu, Nagarakertagama adalah puisi Jawa Kuno yang ditulis pada masa keemasan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk. Kakawin Nagarakretagama pada tahun 2008 diakui sebagai bagian dalam Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World Programme) oleh UNESCO.[7] Selain itu, terdapat beberapa prasasti dalam bahasa Jawa Kuno maupun catatan sejarah dari Tiongkok dan negara-negara lain.[8]

C.C. Berg menganggap bahwa sebagian naskah tersebut bukan catatan masa lalu, tetapi memiliki arti supernatural dalam hal dapat mengetahui masa depan.[9] Kebanyakan sarjana tidak menerima pandangan ini, karena catatan sejarah Majapahit sesuai dengan catatan Cina yang tidak mungkin memiliki maksud yang sama. Daftar penguasa dan detail struktur negara tidak menunjukkan tanda-tanda dibuat-buat.[10] Pada tahun 2010, sekelompok pengusaha Jepang dipimpin Takajo Yoshiaki membiayai pembuatan kapal Majapahit atau Spirit of Majapahit yang akan berlayar ke Asia. Menurut Takajo, hal ini dilakukan untuk mengenang kerjasama Majapahit dan Kerajaan Jepang melawan Kerajaan Yuan China (Mongol) dalam perang di Samudera Pasifik.[11] Menurut Guru Besar Arkeologi Asia Tenggara National University of Singapore John N. Miksic, jangkauan kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra dan Singapura bahkan Thailand yang dibuktikan dengan pengaruh kebudayaan, corak bangunan, candi, patung dan seni.[12] Bahkan ada perguruan silat bernama Kali Majapahit yang populer di Filipina dengan anggotanya dari Asia dan Amerika. Silat Kali Majapahit ini mengklaim berakar dari Kemaharajaan Majapahit kuno yang disebut menguasai Filipina, Singapura, Malaysia dan Selatan Thailand.[13]

Sejarah

sunting

Pendirian

sunting
 
Arca Harihara (paduan Siwa dan Wisnu) perwujudan Kertarajasa dari Candi Simping, Blitar, kini koleksi Museum Nasional.

Sebelum berdirinya Majapahit, Singhasari telah menjadi kerajaan paling kuat di Jawa. Hal ini menjadi perhatian Kubilai Khan, penguasa Dinasti Yuan di Tiongkok. Ia mengirim utusan yang bernama Meng Chi[14] ke Singhasari yang menuntut upeti. Kertanagara, penguasa kerajaan Singhasari yang terakhir menolak untuk membayar upeti dan mempermalukan utusan tersebut dengan merusak wajahnya dan memotong telinganya.[14][15] Kubilai Khan marah dan lalu memberangkatkan ekspedisi besar ke Jawa tahun 1293.

Ketika itu, Jayakatwang, adipati Kediri, sudah menggulingkan dan membunuh Kertanegara. Atas saran penasehat kerajaan Aria Wiraraja, Jayakatwang memberikan pengampunan kepada Raden Wijaya, menantu Kertanegara, yang datang menyerahkan diri. Kemudian, Wiraraja mengirim utusan ke Daha, yang membawa surat berisi pernyataan, Raden Wijaya menyerah dan ingin mengabdi kepada Jayakatwang.[16] Jawaban dari surat di atas disambut dengan senang hati.[16] Raden Wijaya kemudian diberi hutan Tarik. Ia membuka hutan itu dan membangun desa baru dengan pelabuhan utama di Canggu. Desa itu dinamai Majapahit, yang namanya diambil dari buah maja, dan rasa "pahit" dari buah tersebut. Ketika pasukan Mongol tiba, Wijaya bersekutu dengan pasukan Mongol untuk bertempur melawan Jayakatwang. Setelah berhasil menjatuhkan Jayakatwang, Raden Wijaya berbalik menyerang sekutu Mongolnya sehingga memaksa mereka menarik pulang kembali pasukannya secara kalang-kabut karena mereka berada di negeri asing.[17][18] Saat itu juga merupakan kesempatan terakhir mereka untuk menangkap angin muson agar dapat pulang, atau mereka terpaksa harus menunggu enam bulan lagi di pulau yang asing.

Tanggal pasti yang digunakan sebagai tanggal kelahiran kerajaan Majapahit adalah hari penobatan Raden Wijaya sebagai raja, yaitu tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 saka yang bertepatan dengan tanggal 10 November 1293. Ia dinobatkan dengan nama resmi Kertarajasa Jayawardhana. Kerajaan ini menghadapi masalah. Beberapa orang tepercaya Kertarajasa, termasuk Ranggalawe, Sora, dan Nambi memberontak melawannya, meskipun pemberontakan tersebut tidak berhasil. Pemberontakan Ranggalawe ini didukung oleh Panji Mahajaya, Ra Arya Sidi, Ra Jaran Waha, Ra Lintang, Ra Tosan, Ra Gelatik, dan Ra Tati. Semua ini tersebut disebutkan dalam Pararaton.[19] Slamet Muljana menduga bahwa mahapatih Halayudha lah yang melakukan konspirasi untuk menjatuhkan semua orang tepercaya raja, agar ia dapat mencapai posisi tertinggi dalam pemerintahan. Namun setelah kematian pemberontak terakhir (Kuti), Halayudha ditangkap dan dipenjara, dan lalu dihukum mati.[18] Wijaya wafat pada tahun 1309.

Putra dan penerus Wijaya adalah Jayanegara. Pararaton menyebutnya Kala Gemet, yang berarti "penjahat lemah". Kira-kira pada suatu waktu dalam kurun pemerintahan Jayanegara, seorang pendeta Italia, Odorico da Pordenone mengunjungi keraton Majapahit di Jawa. Pada tahun 1328, Jayanegara dibunuh oleh tabibnya, Tanca. Ibu tirinya yaitu Gayatri Rajapatni seharusnya menggantikannya, akan tetapi Rajapatni memilih mengundurkan diri dari istana dan menjadi bhiksuni. Rajapatni menunjuk anak perempuannya Tribhuwana Wijayatunggadewi untuk menjadi ratu Majapahit. Pada tahun 1336, Tribhuwana menunjuk Gajah Mada sebagai Mahapatih, pada saat pelantikannya Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa yang menunjukkan rencananya untuk melebarkan kekuasaan Majapahit dan membangun sebuah kemaharajaan. Selama kekuasaan Tribhuwana, kerajaan Majapahit berkembang menjadi lebih besar dan terkenal di kepulauan Nusantara. Tribhuwana berkuasa di Majapahit sampai kematian ibunya pada tahun 1350. Ia diteruskan oleh putranya, Hayam Wuruk.

Puncak kejayaan Majapahit

sunting
 
Perkembangan Kemaharajaan Majapahit, bermula di Trowulan, Majapahit, Jawa Timur, pada abad ke-13, kemudian mengembangkan pengaruhnya atas kepulauan Nusantara, hingga surut dan runtuh pada awal abad ke-16.

Rajapatni (Gayatri) wafat pada tahun 1350. Setelah ibundanya wafat, Ratu Tribhuwanatunggadewi menyerahkan tahta Majapahit kepada putranya, Hayam Wuruk. Ketika naik tahta Hayam Wuruk baru berusia 16 tahun[20]

Ibnu Battuta dalam perjalanannya antara tahun 1332–1347 mengunjungi tempat yang disebut "Mul Jawa" (pulau Jawa atau Jawa Majapahit, kebalikan dari "al-Jawa" yang mengacu pada Sumatra). Negeri itu membentang sebesar 2 bulan perjalanan, dan memerintah negara Qaqula dan Qamara. Dia tiba di kota bertembok bernama Qaqula/Kakula, dan mengamati bahwa kota itu memiliki kapal perang untuk bajak laut yang merampok dan mengumpulkan tol dan gajah dipekerjakan untuk berbagai tujuan. Dia bertemu dengan penguasa Mul Jawa dan tinggal sebagai tamu selama tiga hari.[21]:96-97[22]:880–883 Ibnu Battuta mengatakan bahwa perempuan Jawa menunggang kuda, memahami cara memanah dan berperang seperti laki-laki. Ibnu Battuta mencatat sebuah cerita tentang sebuah negara bernama Tawalisi yang menentang raja China (Dinasti Yuan) dan berperang dengannya menggunakan banyak kapal jung sampai dia berdamai dengan syarat tertentu.[22]:884–885[23]:3, 114–115

Setelah naik tahta Hayam Wuruk bergelar Sri Rajasanegara. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit mengalami zaman keemasan. Hayam Wuruk didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada. Hayam Wuruk menjadi raja Majapahit yang paling terkenal. Gajah Mada meneruskan cita-citanya. Satu persatu kerajaan di nusantara dapat ditaklukkan dibawah Majapahit. Wilayah kerajaannya meliputi hampir seluruh wilayah nusantara sekarang, ditambah Tumasik (Singapura) dan Semenanjung Melayu.[24]

Kebesaran Majapahit mencapai puncaknya pada zaman pemerintahan Ratu Tribhuwanatunggadewi Jayawishnuwardhani (13281350). Dan mencapai zaman keemasan pada masa pemerintahan Prabhu Hayam Wuruk (13501389) dengan Mahapatih Gajah Mada-nya yang kesohor dipelosok Nusantara itu. Pada masa itu kemakmuran benar-benar dirasakan seluruh rakyat nusantara.[27]

Hayam Wuruk (Sri Rajasanegara) sebagai raja Majapahit berlangsung sesudah mangkatnya Sri Rajapatni pada tahun saka 1272 (1350), hal ini juga dibuktikan dalam piagam Singhasari yang menjelaskan bahwa dengan penobatan Hayam Wuruk sebagai raja Majapahit, Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhani berhenti memagung tampuk pimpinan negara.[28] Hayam Wuruk dibantu dengan patihnya Yaitu Gadjah Mada yang dikenal dengan “Sumpah Palapa” dia bersumpah tidak akan merasakan palapa (menikmati istirahat) sebelum menyatukan Nusantara di bawah naungan Majapahit.[29]

Pada masa Hayam Wuruk hampir seluruh wilayah nusantara dapat dipersatukan dengan Panji-panji kerajaan Majapahit. Pengaruh kekuasaan dan kerjasama Majapahit meluas sampai ke luar nusantara. Pada era Hayam Wuruk agama Hindu menjadi agama para rakyat Majapahit secara keseluruhan. Berbeda dengan Hayam Wuruk yang beragama Hindu agama mahapatih Gadjah Mada adalah Budha.[30]

Dalam Negarakertagama, wilayah Majapahit diawali dengan sebuah kota kecil yang dibangun di daerah Tarik, yang awalnya merupakan sebuah hutan belantara, berkat orang-orang yang dikirim oleh Aria Wiraraja untuk membuka hutan tersebut, akhirnya berdiri sebuah desa benama Majapahit.[31] Setelah Daha runtuh berkat serbuan tentara Tatar (Mongol) dengan Raden Wijaya juga ikut menyerbu Jayakatwang, desa Majapahit dijadikan pusat pemerintahaan kerajaan baru, yang disebut dengan kerajaan Majapahit. Pada masa itu kekuasaan Majapahit meliputi daerah lama kerajaan Singhasari hanya sebagian saja wilayah Jawa Timur.

Sepeninggal Ranggalawe dan atas janji Raden Wijaya yang diberikan kepada Wiraraja kerajaan Majapahit dibelah menjadi dua. Bagian timur yang meliputi daerah Lumajang (dulu: Lamajang), diserahkan kepada Wiraraja. Pada masa ini kerajaan Majapahit hanya meliputi daerah Kediri, Singhasari, Jenggala dan Madura.[32]

 
Gelang emas gaya Jawa Timur, abad ke-14, dari Fort Canning Hill. Hal ini menunjukkan pengaruh Majapahit di Kerajaan Singapura.

Wilayah Majapahit akhirnya diperluas berkat penundukan Sadeng, di tepi sungai Badadung dan Keta di pantai utara dekat Panarukan seperti diberitakan dalam Negarakertagama, pada masa ini Majapahit menguasai seluruh wilayah Jawa Timur dan pulau Madura. Baru setelah seluruh Jawa Timur di kuasai penuh, Majapahit mulai menjangkau pulau-pulau diluar Jawa yang disebut nusantara, meliputi; Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Kepulauan Nusa Tenggara, Papua, Maluku, Tumasik (Singapura), dan sebagian kepulauan Filipina.[33] Seperti yang dijelaskan pada kitab Nagarakertagama Pupuh XII–XV:

Pupuh XII

Pupuh XIII

Pupuh XIV

Pupuh XV

Kemunduran

sunting

Sesudah mencapai puncaknya pada abad ke-14, kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah. Setelah wafatnya Hayam Wuruk pada tahun 1389, Majapahit memasuki masa kemunduran akibat konflik perebutan takhta. Kematian Hayam Wuruk dan adanya konflik perebutan takhta menyebabkan daerah-daerah Majapahit di bagian utara Sumatra dan Semenanjung Malaya memerdekakan diri, di mana semenanjung Malaya menjadi daerah sengketa perang Majapahit dan Ayutthaya hingga nantinya muncul Kesultanan Melaka yang didukung oleh Dinasti Ming sebagai solusi imbas daerah tanjung tersebut sering terjadi perang dan saat itu juga ramai berbagai pendatang.[35]

Pewaris Hayam Wuruk adalah putri mahkota Kusumawardhani, yang menikahi sepupunya sendiri, pangeran Wikramawardhana. Hayam Wuruk juga memiliki seorang putra dari selirnya yaitu Wirabhumi yang juga menuntut haknya atas takhta.[10] Perang saudara yang disebut Perang Regreg diperkirakan terjadi pada tahun 1404–1406, antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana. Perang ini akhirnya dimenangi Wikramawardhana, sementara Wirabhumi ditangkap dan kemudian dihukum mati. Tampaknya perang saudara ini melemahkan kendali Majapahit atas wilayah-wilayah taklukannya di daerah-daerah lain.

Pada kurun pemerintahan Wikramawardhana, serangkaian ekspedisi laut Dinasti Ming yang dipimpin oleh laksamana Cheng Ho, seorang jenderal muslim China, tiba di Jawa beberapa kali antara kurun waktu 1405 sampai 1433. Sejak tahun 1430 ekspedisi Cheng Ho ini telah menciptakan komunitas muslim China dan Arab di beberapa kota pelabuhan pantai utara Jawa, seperti di Semarang, Demak, Tuban, dan Ampel; maka Islam pun mulai memiliki pijakan di pantai utara Jawa.[36]

Ketika Majapahit didirikan, pedagang Muslim dan para penyebar agama sudah mulai memasuki Nusantara. Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, pengaruh Majapahit di seluruh Nusantara mulai berkurang. Pada saat bersamaan, sebuah kerajaan perdagangan baru yang berdasarkan Islam, yaitu Kesultanan Malaka, mulai muncul di bagian barat Nusantara.[37] Di bagian barat kemaharajaan yang mulai runtuh ini, Majapahit tak kuasa lagi membendung kebangkitan Kesultanan Malaka yang pada pertengahan abad ke-15 mulai menguasai Selat Malaka dan melebarkan kekuasaannya ke Sumatra. Sementara itu beberapa jajahan dan daerah taklukan Majapahit di daerah lainnya di Nusantara, satu per satu mulai melepaskan diri.

Pada masa pemerintahan Wikramawardhana, daerah kekuasaan Majapahit di pulau Sumatra hanya tinggal Indragiri, Jambi dan Palembang, sebagaimana ditulis pada catatan Yingyai Shenglan ciptaan Ma Huan, salah satu penerjemah laksamana Cheng Ho. Dan setelah kematian Wikramawardhana dan masa pemerintahan penerusnya, daerah Indragiri diberikan kepada Mansur Syah dari Malaka sebagai hadiah pernikahannya dengan putri Majapahit, yang semakin mengurangi kendali Majapahit di Sumatra.[38]

Wikramawardhana memerintah hingga tahun 1429, dan diteruskan oleh putrinya, Ratu Suhita, yang memerintah pada tahun 1429 sampai 1447. Ia adalah putri kedua Wikramawardhana dari seorang selir yang juga putri kedua Bhre Wirabhumi. Pada 1447, Suhita mangkat dan pemerintahan dilanjutkan oleh Kertawijaya, adik laki-lakinya. Ia memerintah hingga tahun 1451. Setelah Kertawijaya wafat, Bhre Pamotan menjadi raja dengan gelar Rajasawardhana dan memerintah di Kahuripan. Ia wafat pada tahun 1453 M.

Terjadi jeda waktu tiga tahun tanpa raja akibat krisis pewarisan tahta antara putra Rajasawardhana dengan Girisawardhana, adik Rajasawardhana, putra Kertawijaya. Girishawardhana menang dan naik takhta pada 1456. Ia kemudian wafat pada 1466 dan digantikan oleh Suraprabhawa (Singhawikramawardhana), adiknya, anak bungsu Kertawijaya.

Kemudian pada tahun 1468, Bhre Kertabhumi putra bungsu Rajasawardhana memberontak terhadap Singhawikramawardhana.[8] Setelah mengalami kekalahan dalam perebutan kekuasaan dengan Bhre Kertabumi, Singhawikramawardhana melarikan diri ke pedalaman di daerah Keling, Daha (bekas ibu kota Kerajaan Kediri). Setelah Singhawikramawardhana meninggal, ia digantikan oleh putranya Ranawijaya.

Pada 1474, Ranawijaya mengalahkan Kertabhumi dengan memanfaatkan ketidakpuasan umat Hindu dan Budha atas kebijakan Bhre Kertabumi serta mempersatukan kembali Majapahit menjadi satu kerajaan. Hal ini diperkuat oleh prasasti Trailokyapuri (Jiyu) dan Petak, Ranawijaya mengaku bahwa pada tahun 1474, ia telah mengalahkan Kertabhumi [39] Ranawijaya memerintah pada kurun waktu 1474 hingga 1498 dengan gelar Girindrawardhana hingga ia digantikan oleh Patih Udara. Akibat konflik dinasti ini, Majapahit menjadi lemah dan mulai bangkitnya kekuatan kerajaan Demak.

Keruntuhan

sunting

Kekalahan Bhre Kertabhumi dari Ranawijaya pada tahun 1474, memicu perang antara Kerajaan Majapahit dengan Demak, karena Demak sudah menjadi penguasa pesisir Jawa yang dominan, dan mereka mengambil alih daerah Jambi dan Palembang dari kekuasaan Majapahit[40](hlm.154-155) yang telah terpukul dan berfokus di pedalaman pulau Jawa.

Konon, waktu berakhirnya Kemaharajaan Majapahit berkisar pada kurun waktu tahun 1478 (tahun 1400 saka,[Catatan 2] berakhirnya abad dianggap sebagai waktu lazim pergantian dinasti dan berakhirnya suatu pemerintahan) hingga tahun 1527.[41]:36 Tetapi dalam tradisi Jawa yang sebenarnya digambarkan oleh candrasengkala atau kronogram tersebut adalah wafatnya Bhre Kertabhumi pada tahun 1478.[39]

Sebenarnya perang Majapahit-Demak ini sudah mulai mereda ketika Patih Udara menggantikan Girindrawardhana dan mengakui kekuasan Demak, tetapi peperangan berkecamuk kembali ketika Patih Udara meminta bantuan Portugis untuk mengalahkan Demak. Sehingga pada tahun 1527, Demak melakukan serangan ke Majapahit yang mengakhiri sejarah Majapahit.[41]:54-55

Dengan jatuhnya ibukota yang dihancurkan oleh Demak pada tahun 1527, pada awal abad ke-16 kekuatan kerajaan Demak akhirnya mengalahkan sisa-sisa Majapahit dan menjadi akhir dari Kerajaan Majapahit.[42] Catatan sejarah dari Tiongkok, Portugis (Tomé Pires), dan Italia (Antonio Pigafetta) mengindikasikan bahwa telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke tangan Pati Unus, penguasa dari Kesultanan Demak, antara tahun 1518 dan 1521 M.[39] Sisa-sisa keluarga Majapahit keturunan Girindrawardhana kemudian melarikan diri ke daerah Panarukan, Blambangan (sekarang daerah Kabupaten Banyuwangi). Sejumlah besar abdi istana, seniman, pendeta, dan anggota keluarga kerajaan mengungsi kepulau Bali.

Demak memastikan posisinya sebagai kekuatan regional dan menjadi kerajaan Islam pertama yang berdiri di tanah Jawa. Saat itu setelah keruntuhan Majapahit, sisa kerajaan Hindu yang masih bertahan di Jawa hanya tinggal kerajaan Pasuruan, Panarukan, Blambangan di ujung timur,[43]:7 serta Kerajaan Sunda yang beribu kota di Pajajaran di bagian barat. Perlahan-lahan Islam mulai menyebar seiring mundurnya masyarakat Hindu ke pegunungan dan ke Bali. Beberapa kantung masyarakat Hindu Tengger hingga kini masih bertahan di pegunungan Tengger, kawasan Bromo dan Semeru.

Militer

sunting

Pada zaman Majapahit terjadi perkembangan, pelestarian, dan penyebaran teknik pembuatan keris. Teknik pembuatan keris mengalami penghalusan dan pemilihan bahan menjadi semakin selektif. Keris pra-Majapahit dikenal berat namun semenjak masa ini dan seterusnya, bilah keris yang ringan tetapi kuat menjadi petunjuk kualitas sebuah keris. Penggunaan keris sebagai tanda kebesaran kalangan aristokrat juga berkembang pada masa ini dan meluas ke berbagai penjuru Nusantara, terutama di bagian barat.

Tentara Majapahit dibagi menjadi 2 jenis, pasukan utama yaitu prajurit (pasukan profesional) dan pasukan wajib militer yang diambil dari para petani. Senjata utamanya adalah tombak.[44]:84–85, 130 Pada awalnya, kavaleri ada dalam jumlah terbatas, mereka digunakan untuk pengintaian dan patroli, mungkin dipersenjatai dengan tombak.[44]:90, 94 Setelah serangan Mongol, penggunaan kuda di Jawa semakin meluas terutama untuk perang.[45]:12–13 Kereta perang digunakan untuk mengangkut para prajurit ke medan perang dan "diparkirkan" sebelum bertempur. Beberapa kereta perang memang digunakan dalam pertempuran, sebagai contoh patih Nambi menggunakan kereta perang dan berperan sebagai pemanah pada pemberontakan Rangga Lawe (1295 Masehi), Gajah Mada juga menaiki kereta perang saat menyerang pasukan Sunda dalam pertempuran Bubat (1357). Kereta perang dipahatkan pada Candi Penataran, tampaknya dimodelkan dari dunia nyata.[44]:96, 98[46]:64, 76[47]:141, 142 Gajah perang digunakan terutama untuk transportasi, atau sebagai tunggangan untuk bangsawan dan tentara berpangkat lebih tinggi.[44]:101

Majapahit memiliki 30.000 tentara profesional yang bekerja tetap, dimana para prajurit dan komandannya digaji dengan emas. Ini menunjukkan adanya standing army (tentara permanen) sebuah pencapaian yang hanya bisa dicapai segelintir kerajaan Asia Tenggara.[48]:185[49]:467 Selain tentara profesional ini, Majapahit diperkuat dengan pasukan yang berasal dari negara bawahan dan pemimpin daerah.[50]:277 Dari catatan Suma Oriental dan Sejarah Melayu, jumlah keseluruhan pasukan Majapahit dapat mencapai 200.000 orang.[40]:175-176[51] Pasukan Majapahit bersifat multietnis, mirip seperti militer Kesultanan Yogyakarta yang memiliki pasukan Bugis dan Dhaeng (Makassar). Sebagaimana dicatat Hikayat Raja-Raja Pasai:

Maka kedua pihak laskhar pun kembali-lah masing-masing pada tempat-nya. Demikian-lah perang itu tiap-tiap hari, kira-kira tiga bulan lama-nya perang itu, tiada beralahan, karna Jawa itu sa-bagai datang juga bantu-nya dari benua asing.[52]

Senjata mesiu yang digunakan oleh Majapahit:
  • Cetbang berjenis meriam tangan, ditemukan di sungai Brantas, Jombang.
  • Sebuah cetbang berlaras ganda di atas pedati meriam (gun carriage), dengan garpu putar, sekitar tahun 1522. Mulut meriam berbentuk Nāga Jawa.

Selain keris, berkembang pula teknik pembuatan dan penggunaan tombak dan meriam kapal sederhana yang disebut cetbang. Teknologi pembuatan bubuk mesiu masuk ke Jawa saat invasi Mongol pada tahun 1293.[53][54] Majapahit di bawah Mahapatih (perdana menteri) Gajah Mada memanfaatkan teknologi senjata bubuk mesiu yang diperoleh dari dinasti Yuan untuk digunakan dalam armada laut.[55]:57 Cetbang awal (disebut cetbang bergaya timur) bentuknya mirip meriam dan meriam tangan Cina. Cetbang bergaya timur kebanyakan dibuat dari bahan perunggu dan merupakan meriam isian depan. Ia menembakkan proyektil berupa panah, namun peluru bulat dan proyektil co-viative[Catatan 3] juga dapat digunakan. Panah ini dapat berujung pejal tanpa peledak, maupun disertai bahan peledak dan pembakar di belakang ujungnya. Di bagian dekat belakang, terdapat kamar atau bilik bakar, yang merujuk kepada bagian yang menggelembung dekat belakang meriam, di mana mesiu ditempatkan. Cetbang ini dipasang pada dudukan tetap, ataupun sebagai meriam tangan yang diletakkan di ujung galah. Ada bagian mirip tabung di bagian belakang meriam. Pada cetbang jenis meriam tangan, tabung ini digunakan sebagai tempat untuk menancapkan galah.[57]:94

Karena dekatnya hubungan maritim Nusantara dengan wilayah India Barat, setelah tahun 1460 jenis senjata bubuk mesiu baru masuk ke Nusantara melalui perantara orang Arab. Senjata ini sepertinya adalah meriam dan bedil tradisi Turki Usmani, misalnya prangi, yang merupakan meriam putar isian belakang.[57]:94-95 Ia menghasilkan cetbang jenis baru, disebut "cetbang bergaya barat". Ia dapat dipasang sebagai meriam tetap atau meriam putar, yang kecil dapat dengan mudah dipasang di kapal-kapal kecil. Meriam ini dipergunakan sebagai senjata anti personil, bukan anti kapal. Pada zaman ini, bahkan sampai abad ke-17, prajurit angkatan laut Nusantara bertempur di panggung yang biasa disebut balai. Ditembakan pada kumpulan prajurit dengan peluru scattershot (peluru sebar atau peluru gotri, dapat berupa grapeshot, case shot, atau paku dan batu), cetbang sangat efektif untuk pertempuran jenis ini.[58]:241[59]:162

Majapahit memiliki pasukan elit yang disebut Bhayangkara. Tugas utama pasukan ini adalah untuk melindung raja dan kaum bangsawan, namun mereka juga dapat diterjunkan ke pertempuran jika diperlukan. Hikayat Banjar mencatat perlengkapan Bhayangkara di istana Majapahit:

Maka kaluar dangan parhiasannya orang barbaju-rantai ampat puluh sarta padangnya barkupiah taranggos sakhlat merah, orang mambawa astenggar [senapan sundut] ampat puluh, orang mambawa parisai sarta padangnya ampat puluh, orang mambawa dadap [sejenis perisai][Catatan 4] sarta sodoknya [senjata mirip tombak dengan mata lebar][Catatan 5] sapuluh, orang mambawa panah sarta anaknya sapuluh, yang mambawa tumbak parampukan[Catatan 6] barsulam amas ampat puluh, yang mambawa tameng Bali bartulis air mas ampat puluh.
— Hikayat Banjar, 6.3[63]:Baris 1209–1214[64]

Pasukan militer di berbagai bagian Asia Tenggara menggunakan pakaian pelindung ringan. Seperti umumnya di Asia Tenggara, sebagian besar pasukan Jawa terdiri dari rakyat jelata yang dimobilisasi sementara dari petani yang dipimpin oleh prajurit dan kasta bangsawan. "Tentara petani" biasanya bertelanjang dada mengenakan sarung, bersenjatakan tombak, pedang pendek, atau busur dan anak panah.[65]:111-113 Prajurit yang lebih kaya menggunakan baju pelindung yang disebut kawaca.[Catatan 7][44]:78 Menurut Irawan Djoko Nugroho, baju pelindung ini mungkin berbentuk seperti tabung panjang dan terbuat dari tembaga yang dicetak.[66] Sebaliknya, prajurit infanteri profesional (bukan rakyat wajib militer) Majapahit mengenakan zirah sisik yang disebut siping-siping.[44]:75, 78, 79 Ada juga semacam helm baja yang disebut rukuh.[67][44]:20, 78, 80 Jenis baju zirah lain yang digunakan di Jawa era Majapahit adalah waju rante (zirah rantai) dan karambalangan (lapisan logam yang dikenakan di depan dada).[68][69][70] Dalam Kidung Sunda pupuh 2 bait 85 dijelaskan bahwa mantri-mantri (menteri atau perwira) Gajah Mada mengenakan baju besi dalam bentuk zirah rantai atau plastron dengan hiasan emas dan mengenakan pakaian kuning,[71]:103 sedangkan dalam Kidung Sundayana pupuh 1 bait 95 disebutkan bahwa Gajah Mada mengenakan karambalangan berhias timbul dari emas, bersenjata tombak berlapis emas, dan perisai penuh dengan hiasan dari intan berlian.[69][70]

Majapahit juga mengawali penggunaan senjata api di Nusantara. Meskipun pengetahuan membuat senjata berbasis serbuk mesiu di Nusantara sudah dikenal setelah serangan Mongol ke Jawa, dan pendahulu senjata api, yaitu meriam galah/meriam tangan (bedil tombak), dicatat Ma Huan dalam Yingyai Shenglan-nya digunakan oleh orang Jawa pada tahun 1413,[58]:245[72] pengetahuan membuat senjata api sejati datang jauh kemudian, setelah pertengahan abad ke-15. Ia dibawa oleh negara-negara Islam di Asia Barat, kemungkinan besar oleh orang Arab. Tahun pengenalan yang tepat tidak diketahui, tetapi dapat dengan aman disimpulkan tidak lebih awal dari tahun 1460.[73]:23

Xingcha Shenglan (星槎勝覽) yang ditulis oleh Fei Xin sekitar tahun 1436 menyebutkan bahwa Jawa (Majapahit) dilengkapi dengan tentara berbaju zirah dan perlengkapan perang, dan merupakan pusat masyarakat timur.[74][75] Haiguo Guangji (海国广记) dan Shuyu zhouzi lu (殊域周咨錄) mencatat bahwa Jawa sangat luas dan padat penduduknya, serta tentara berbaju zirah dan meriam tangan (火銃—huǒ chòng) milik mereka mendominasi lautan timur.[76]:755[77][78]

Catatan Tome Pires tahun 1513 menyebutkan pasukan tentara Gusti Pati (Patih Udara), wakil raja Batara Vojyaya (mungkin Brawijaya atau Ranawijaya), berjumlah 200.000 orang, 2.000 diantaranya adalah prajurit berkuda dan 4.000 adalah musketir.[40]:175-176 Duarte Barbosa sekitar tahun 1514 mengatakan bahwa penduduk Jawa sangat ahli dalam membuat artileri dan merupakan penembak artileri yang baik. Mereka membuat banyak meriam 1 pon (cetbang atau rentaka), senapan lontak panjang, spingarde (arquebus), schioppi (meriam tangan), api Yunani, gun (bedil besar atau meriam), dan senjata api atau kembang api lainnya.[79]:198[80]:224 Setiap tempat disana dianggap sangat baik dalam mencetak/mengecor artileri, dan juga dalam ilmu penggunaanya.[79]:198[81]:254

Relief dari candi induk di kompleks candi Penataran, tahun 1269 saka atau 1347 masehi.
Relief yang sudah terkikis, menampilkan penunggang kuda berbaju zirah, prajurit infanteri berbaju zirah, dan kereta perang.
Adegan pertempuran dari relief cerita Krishnayana.
Rombongan pasukan yang terdiri dari kereta perang, penombak, dan gajah perang.

Kavaleri sejati pertama, unit terorganisir dari penunggang kuda yang kooperatif, mungkin telah muncul di Jawa selama abad ke-12 M.[82] Naskah Jawa kuno kakawin Bhomāntaka menyebutkan kisah kuda Jawa awal dan sejarah menunggang kuda.[83]:436 Naskah tersebut mungkin mencerminkan konflik (secara alegoris) antara kavaleri Jawa yang baru jadi dan infanteri elit mapan yang membentuk inti dari pasukan Jawa sampai abad ke-12.[84]:113 Pada abad ke-14 M, Jawa menjadi peternak kuda yang penting dan pulau ini bahkan terdaftar di antara pemasok kuda ke Cina.[85]:208 Selama masa Majapahit, jumlah kuda dan kualitas kuda keturunan Jawa terus berkembang sehingga pada tahun 1513 masehi Tomé Pires memuji kuda-kuda yang sangat dihiasi dari bangsawan Jawa, dilengkapi dengan sanggurdi bertatahkan emas dan pelana yang dihiasi dengan mewah yang "tidak ditemukan di tempat lain di dunia".[40]:174-175[86]:196–197 Kuda poni Sumbawa tampaknya berasal dari kuda domestikasi Jawa yang diperkenalkan oleh Majapahit sejak abad ke-14 M.[87]:52–53

Majapahit memiliki pasukan angkatan laut yang berbeda dengan satuan pasukan darat, yang disebut wwang jaladhi. Pasukan laut mendapat perlakuan istimewa dalam hal fasilitas. Personel angkatan laut Majapahit berjumlah besar, sebagaimana dicatat Nagarakretagama pupuh 16 bait 5:[88][89]:17, 148, 281[90]

irika tang anyabhumi sakhahemban ing Yawapuri, (Kemudian Anyabhumi [tanah-tanah lain] di mana saja semuanya disatukan di kerajaan Jawa,)

amateh i sajna sang nrpati khapwa satya ring ulah, (mematuhi setiap perintah dari sang raja. Semuanya setia dalam sikap,)

pituwi sing ajñalanghyana dinon wiśirnna sahana, (kendati ada para pelanggar perjanjian, mereka diserang oleh tentara yang dikirim ke luar negeri dan dihancurkan semuanya,)

tekap ikang watek jaladhi mantry aneka suyaśa. (oleh aktivitas kelompok mantri jaladhi [perwira angkatan laut] yang berjumlah banyak, agung.)

Prajurit dan perlengkapannya sebagaimana digambarkan di candi induk di kompleks candi Penataran.

Untuk angkatan laut, armada Majapahit menggunakan jong secara besar-besaran sebagai kekuatan lautnya. Tidak diketahui secara pasti berapa jumlah total jong yang dimiliki Majapahit, tetapi jumlah terbesar yang pernah digunakan dalam satu ekspedisi adalah berjumlah 400 buah, tepatnya saat Majapahit menyerang Pasai.[91] Setiap kapal berukuran panjang keseluruhan sekitar 28,99–88,56 meter, berat mati (deadweight) sekitar 100–2000 ton dan dapat membawa 50–1000 orang. Sebuah jong dari tahun 1420 hampir saja menyeberangi samudera Atlantik.[92] Jenis jong besar sembilan tingkat yang tercatat di Kidung Panji Wijayakrama-Rangga Lawe (sekitar 1334) disebut jong sasangawangunan, ia membawa 1000 prajurit dengan layar merah.[47]:91 Jong yang umum digunakan oleh Majapahit rata-ratanya dapat membawa 600–700 orang, berbobot mati 1200–1400 ton, dengan panjang keseluruhan sekitar 76,18–79,81 m.[93]:60-62 Sebelum tragedi Bubat tahun 1357, raja Sunda dan keluarganya datang di Majapahit setelah berlayar di laut Jawa dalam armada dengan 200 kapal besar dan 2000 kapal yang lebih kecil.[71]:16-17, 76-77 Kapal yang dinaiki keluarga kerajaan adalah sebuah jong hibrida Cina-Asia tenggara bertingkat sembilan (Bahasa Jawa kuno: Jong sasanga wangunan ring Tatarnagari tiniru). Kapal hibrida ini mencampurkan teknik China dalam pembuatannya, yaitu menggunakan paku besi selain menggunakan pasak kayu dan juga pembuatan sekat kedap air (watertight bulkhead), dan penambahan kemudi sentral.[94]:270[95]:272-276 Jenis kapal lain yang digunakan Majapahit adalah malangbang, kelulus, jongkong, cerucuh, tongkang, dan pelang.[91][96][97] Pada abad ke-16, lancaran dan penjajap juga digunakan.[40]:195[98]:282 Penggambaran angkatan laut Majapahit pada masa modern sering kali menggambarkan kapal-kapal bercadik, namun pada kenyataannya kapal ini berasal dari abad ke-8 yaitu kapal Borobudur, yang digunakan dinasti Sailendra. Penelitian oleh Irawan Djoko Nugroho menyimpulkan bahwa jenis kapal utama yang digunakan oleh Majapahit tidak menggunakan cadik, dan menggunakan ukiran Borobudur sebagai dasar rekonstruksi kapal Majapahit adalah sesat dan menyesatkan.[99][100]

Pelayaran

sunting

Selama era Majapahit penjelajahan orang-orang Nusantara mencapai prestasi terbesarnya. Ludovico di Varthema (1470–1517), dalam bukunya Itinerario de Ludouico de Varthema Bolognese menyatakan bahwa orang Jawa Selatan berlayar ke "negeri jauh di selatan" hingga mereka tiba di sebuah pulau di mana siang harinya hanya berlangsung selama empat jam dan "lebih dingin daripada di bagian dunia mana pun". Penelitian modern telah menentukan bahwa tempat tersebut terletak setidaknya 900 mil laut (1666 km) selatan dari titik paling selatan Tasmania.[101]:248-251

Orang Jawa, seperti suku-suku Austronesia lainnya, menggunakan sistem navigasi yang mantap: Orientasi di laut dilakukan menggunakan berbagai tanda alam yang berbeda-beda, dan dengan memakai suatu teknik perbintangan sangat khas yang dinamakan star path navigation. Pada dasarnya, para navigator menentukan haluan kapal ke pulau-pulau yang dikenali dengan menggunakan posisi terbitnya dan terbenamnya bintang-bintang tertentu di atas cakrawala.[102]:10 Pada zaman Majapahit, kompas dan magnet telah digunakan, selain itu kartografi (ilmu pemetaan) telah berkembang. Pada tahun 1293 Raden Wijaya memberikan sebuah peta dan catatan sensus penduduk pada pasukan Mongol dinasti Yuan, menunjukkan bahwa pembuatan peta telah menjadi bagian formal dari urusan pemerintahan di Jawa.[103]:53 Penggunaan peta yang penuh garis-garis memanjang dan melintang, garis rhumb, dan garis rute langsung yang dilalui kapal dicatat oleh orang Eropa, sampai-sampai orang Portugis menilai peta Jawa merupakan peta terbaik pada awal tahun 1500-an.[101]:249[40]:lxxix[104][105]

Ketika Afonso de Albuquerque menaklukkan Malaka (1511), orang Portugis mendapatkan sebuah peta dari seorang mualim Jawa, yang juga menampilkan bagian dari benua Amerika. Mengenai peta itu, Albuquerque berkata:[106][104]:98-99

... peta besar seorang mualim Jawa, yang berisi Tanjung Harapan, Portugal dan tanah Brazil, Laut Merah dan Laut Persia, Kepulauan Cengkih, navigasi orang Cina dan Gore, dengan garis rhumb dan rute langsung yang bisa ditempuh oleh kapal, dan dataran gigir (hinterland), dan bagaimana kerajaan berbatasan satu sama lain. Bagiku, Tuan, ini adalah hal terbaik yang pernah saya lihat, dan Yang Mulia akan sangat senang melihatnya memiliki nama-nama dalam tulisan Jawa, tetapi saya punya saya orang Jawa yang bisa membaca dan menulis, saya mengirimkan karya ini kepada Yang Mulia, yang ditelusuri Francisco Rodrigues dari yang lain, di mana Yang Mulia dapat benar-benar melihat di mana orang Cina dan Gore (Jepang) datang, dan tentu saja kapal Anda harus pergi ke Kepulauan Cengkih, dan di mana tambang emas ada, dan pulau Jawa dan Banda, asal pala dan fuli pala, dan tanah raja Siam, dan juga akhir dari navigasi orang Cina, arah yang dilaluinya, dan bagaimana mereka tidak bernavigasi lebih jauh.
– Surat Albuquerque untuk raja Manuel I dari Portugal, 1 April 1512.

Duarte Barbosa menyebutkan tempat dan rute yang dikunjungi kapal-kapal Majapahit, yang meliputi Maluku, Timor, Banda, Sumatra, Melaka, Cina, Tenasserim, Pegu, Benggala, Pulicat, Koromandel, Malabar, Cambay (Khambat), dan Aden. Dari catatan penulis lain, dapat diketahui bahwa ada juga yang pergi ke Maladewa, Calicut (Kozhikode), Oman, Aden, dan Laut Merah. Para penumpang membawa istri dan anak-anak mereka, bahkan sampai-sampai beberapa dari mereka tidak pernah meninggalkan kapal untuk pergi ke pantai, juga tidak memiliki tempat tinggal lain, karena mereka dilahirkan dan mati di kapal.[107]:199[108]:191-193[109][50]:278

Kebudayaan

sunting

"Dari semua bangunan, tidak ada tiang yang luput dari ukiran halus dan warna indah" [Dalam lingkungan dikelilingi tembok] "terdapat pendopo anggun beratap ijuk, indah bagai pemandangan dalam lukisan... Kelopak bunga katangga gugur tertiup angin dan bertaburan di atas atap. Atap itu bagaikan rambut gadis yang berhiaskan bunga, menyenangkan hati siapa saja yang memandangnya".

— Gambaran ibu kota Majapahit kutipan dari Nagarakertagama.

Nagarakretagama menyebutkan budaya keraton yang adiluhung dan anggun, dengan cita rasa seni dan sastra yang halus, serta sistem ritual keagamaan yang rumit. Peristiwa utama dalam kalender tata negara digelar tiap hari pertama bulan Caitra (Maret–April) ketika semua utusan dari semua wilayah taklukan Majapahit datang ke istana untuk membayar upeti atau pajak. Kawasan Majapahit secara sederhana terbagi dalam tiga jenis: keraton termasuk kawasan ibu kota dan sekitarnya; wilayah-wilayah di Jawa Timur dan Bali yang secara langsung dikepalai oleh pejabat yang ditunjuk langsung oleh raja; serta wilayah-wilayah taklukan di kepulauan Nusantara yang menikmati otonomi luas.[110][111]

Ibu kota Majapahit di Trowulan adalah kota besar dan terkenal dengan perayaan besar keagamaan yang diselenggarakan setiap tahun. Agama Buddha, Siwa, dan Waisnawa (pemuja Wisnu) dipeluk oleh penduduk Majapahit, dan raja dianggap sekaligus titisan Buddha, Siwa, maupun Wisnu. Nagarakertagama sama sekali tidak menyinggung tentang Islam, akan tetapi sangat mungkin terdapat beberapa pegawai atau abdi istana muslim saat itu.[112] Makam Troloyo/Tralaya, sebuah kompleks pemakaman Islam ditemukan di daerah Trowulan, ibu kota kerajaan Majapahit. Para ahli berpendapat bahwa kuburan itu digunakan antara tahun 1368 dan 1611 M, yang berarti para pedagang Muslim telah tinggal di ibu kota sejak pertengahan abad ke-14 pada masa pemerintahan Hayam Wuruk.[113]:185, 196 Dua batu nisan Muslim di Troloyo berasal dari abad ke-14 (1368 M, 1376 M). Kedekatan situs dengan kraton berarti ada orang Muslim yang memiliki hubungan dekat dengan istana.[114]

Walaupun batu bata telah digunakan dalam candi pada masa sebelumnya, arsitek Majapahitlah yang paling ahli menggunakannya.[115] Candi-candi Majapahit berkualitas baik secara geometris dengan memanfaatkan getah tumbuhan merambat dan gula merah sebagai perekat batu bata. Contoh candi Majapahit yang masih dapat ditemui sekarang adalah Candi Tikus dan Gapura Bajang Ratu di Trowulan, Mojokerto. Beberapa elemen arsitektur berasal dari masa Majapahit, antara lain gerbang terbelah candi bentar, gapura paduraksa (kori agung) beratap tinggi, dan pendopo berdasar struktur bata. Gaya bangunan seperti ini masih dapat ditemukan dalam arsitektur Jawa dan Bali.

"Di sekitar itu (pulau Sumatra) ada pulau besar, bernama Jawa, yang memiliki ukuran 3000 mil. Dan rajanya memiliki bawahan tujuh raja yang bermahkota.[Catatan 8] Sekarang pulau ini sangat padat penduduknya, dan merupakan yang terbaik kedua dari semua pulau yang ada. Karena di dalamnya tumbuh kapur barus, kemukus, kapulaga, buah pala, dan banyak rempah-rempah berharga lainnya. Ia juga memiliki persediaan makanan yang baik kecuali anggur.

Raja pulau ini (Jawa) memiliki istana yang benar-benar mengagumkan. Karena itu sangat besar, dan memiliki tangga yang sangat besar, lebar dan tinggi, dan anak tangganya dari emas dan perak secara bergantian. Demikian juga jalan istana dipasangi satu ubin dari emas dan yang lain dari perak, dan dindingnya di bagian dalam dilapisi dengan lapisan emas, di mana ada pahatan ksatria yang semuanya terbuat dari emas, yang memiliki lingkaran emas besar di sekitar kepala mereka, seperti yang kami berikan untuk sosok orang-orang suci. Dan lingkaran ini semua dikelilingi dengan batu mulia. Terlebih lagi, langit-langitnya terbuat dari emas murni, dan singkatnya, istana ini lebih kaya dan lebih indah daripada istana lain yang ada pada hari ini di dunia.

Sekarang Khan Agung Cathay (Cina dinasti Yuan) sudah sering berperang dengan raja ini; tetapi selalu dapat dikalahkan. Dan masih banyak hal lain disana yang belum saya tulis."

— Gambaran Majapahit menurut Mattiussi (Pendeta Odorico da Pordenone).[116]:87-89[111]

Catatan yang berasal dari sumber Italia mengenai Jawa pada era Majapahit didapatkan dari catatan perjalanan Mattiussi, seorang pendeta Ordo Fransiskan dalam bukunya: "Perjalanan Pendeta Odorico da Pordenone". Ia mengunjungi beberapa tempat di Nusantara: Sumatra, Jawa, dan Banjarmasin di Kalimantan. Ia dikirim Paus untuk menjalankan misi Katolik di Asia Tengah. Pada 1318 ia berangkat dari Padua, menyeberangi Laut Hitam dan menembus Persia, terus hingga mencapai Kolkata, Madras, dan Srilanka. Lalu menuju kepulauan Nikobar hingga mencapai Sumatra, lalu mengunjungi Jawa dan Banjarmasin. Ia kembali ke Italia melalui jalan darat lewat Vietnam, China, terus mengikuti Jalur Sutra menuju Eropa pada 1330.

Di buku ini ia menyebut kunjungannya di Jawa tanpa menjelaskan lebih rinci nama tempat yang ia kunjungi. Disebutkan raja Jawa menguasai tujuh raja bawahan. Disebutkan juga di pulau ini terdapat banyak cengkih, kemukus, pala, dan berbagai rempah-rempah lainnya. Ia menyebutkan istana raja Jawa sangat mewah dan mengagumkan, penuh bersepuh emas dan perak. Ia juga menyebutkan raja Mongol beberapa kali berusaha menyerang Jawa, tetapi selalu gagal dan berhasil diusir kembali. Kerajaan Jawa yang disebutkan di sini tak lain adalah Majapahit yang dikunjungi pada suatu waktu dalam kurun 1318–1330 pada masa pemerintahan Jayanegara.

Dalam Yingya Shenglan—catatan tentang ekspedisi Cheng Ho (1405–1433)—Ma Huan menggambarkan budaya, adat istiadat, berbagai aspek sosial dan ekonomi Chao-Wa (Jawa) pada masa Majapahit.[117] Ma Huan mengunjungi Jawa pada ekspedisi ke-4 Cheng Ho pada tahun 1413, pada masa pemerintahan raja Majapahit Wikramawardhana. Ia menggambarkan perjalanannya ke ibu kota Majapahit: pertama, ia tiba di pelabuhan Tu-pan (Tuban) di mana ia melihat sejumlah besar pemukim Tionghoa bermigrasi dari Guangdong dan Chou Chang. Kemudian dia berlayar ke timur menuju kota perdagangan baru yang berkembang pesat, Ko-erh-hsi (Gresik), Su-pa-erh-ya (Surabaya), dan kemudian berlayar ke pedalaman menuju sungai dengan perahu kecil ke barat daya hingga mencapai pelabuhan sungai Chang-ku (Changgu).[117] Melanjutkan perjalanan darat ke arah barat daya sampailah ia di Man-che-po-I (Majapahit), tempat tinggal raja. Ada sekitar 200 atau 300 keluarga asing yang tinggal di tempat ini, dengan tujuh atau delapan pemimpin yang melayani raja. Iklimnya selalu panas, seperti musim panas.[118] Dia menggambarkan pakaian raja: memakai mahkota dari daun dan bunga emas atau kadang-kadang tanpa penutup kepala; bertelanjang dada tanpa mengenakan gamis, bagian bawahnya memakai dua ikat pinggang berbahan sutra bersulam. Tali sutra tambahan dilingkarkan di pinggang sebagai ikat pinggang, dan di ikat pinggang tersebut disisipkan satu atau dua bilah pendek yang disebut pu-la-t'ou (belati atau lebih tepatnya keris), berjalan tanpa alas kaki. Saat bepergian ke luar, raja mengendarai gajah atau kereta yang ditarik sapi.[118]

Pakaian rakyat jelata bagi laki-laki adalah tanpa tutup kepala dan perempuan menata rambutnya seperti sanggul yang diikat dengan jepit rambut. Mereka mengenakan pakaian di bagian atas tubuh dan membungkus bagian bawah dengan kain yang tidak dijahit,[Catatan 9] Laki-laki mulai dari anak laki-laki berusia tiga tahun hingga orang tua menyelipkan pu-la-t'ou (belati) di ikat pinggang mereka. Belati tersebut seluruhnya terbuat dari baja dengan motif rumit yang digambar halus. Gagangnya terbuat dari emas, cula badak atau gading yang diukir dengan gambaran manusia atau setan, hasil ukirannya sangat indah dan dibuat dengan terampil.[118][117]

Masyarakat Majapahit baik laki-laki maupun perempuan sangat menghargai kepala mereka.[Catatan 10] Jika kepala seseorang disentuh, atau jika terjadi kesalahpahaman atau pertengkaran saat mabuk, mereka akan langsung menghunus pisau dan saling menusuk.[118]

Penduduk negara tersebut tidak mempunyai tempat tidur atau kursi untuk duduk dan untuk makan mereka tidak menggunakan sendok atau sumpit. Pria dan wanita senang mengunyah sirih yang dicampur daun sirih, dan kapur putih yang terbuat dari cangkang kerang.[117] Mereka makan nasi, mula-mula mereka mengambil satu gayung air dan merendam sirih di mulutnya, lalu mencuci tangan dan duduk membuat lingkaran; mengambil sepiring nasi yang direndam dalam mentega (mungkin maksudnya santan) dan kuah daging, lalu makan menggunakan tangan untuk mengangkat nasi dan memasukkannya ke dalam mulut. Saat menerima tamu, mereka akan menawarkan tamunya bukan dengan teh, tapi dengan sirih pinang.[118]

Penduduknya terdiri dari para pedagang Muslim dari barat (Arab dan Muslim India, tetapi sebagian besar berasal dari negara-negara Muslim di Sumatera), Tionghoa (diklaim sebagai keturunan Dinasti Tang), dan penduduk setempat yang tidak beradab. Raja mengadakan turnamen senenan tahunan.[118](hlm.45) Tentang ritual pernikahan; mempelai pria berkunjung ke rumah keluarga mempelai wanita, maka ikatan perkawinan pun terwujud. Tiga hari kemudian, mempelai laki-laki mengantar mempelai wanita kembali ke rumahnya, di mana keluarga laki-laki menabuh kendang dan gong kuningan, meniup seruling yang terbuat dari batok kelapa (senterewe), menabuh kendang yang terbuat dari tabung bambu (mungkin sejenis gamelan bambu atau kolintang), dan menyalakan kembang api.[117] Dikawal di depan, belakang, dan berkeliling oleh laki-laki yang memegang pisau pendek dan perisai. Sedangkan mempelai wanita adalah wanita berambut kusut, berbadan terbuka dan bertelanjang kaki. Ia membungkus dirinya dengan sulaman sutra, memakai kalung di lehernya yang dihiasi manik-manik emas, dan gelang di pergelangan tangannya dengan hiasan emas, perak dan hiasan berharga lainnya. Keluarga, teman dan tetangga menghiasi perahu hias dengan daun sirih, pinang, alang-alang dan bunga yang dijahit, dan mengadakan pesta untuk menyambut pasangan pada acara yang meriah tersebut. Ketika mempelai laki-laki tiba di rumah, gong dan gendang dibunyikan, mereka akan minum wine (mungkin maksudnya arak atau tuak) dan bermain musik. Setelah beberapa hari, perayaan berakhir.[118]

Tentang ritual penguburan, jenazah ditinggalkan di pantai atau tanah kosong untuk dimakan anjing (untuk kelas bawah), dikremasi, atau dibuang ke perairan (bahasa Jawa: Larung). Masyarakat kelas atas melakukan sati, yaitu ritual bunuh diri yang dilakukan oleh istri janda, selir atau pembantu perempuan, dengan cara bakar diri dengan cara menceburkan diri ke dalam api kremasi yang menyala-nyala.[118][117]

Dalam catatan ini, Ma Huan juga menggambarkan rombongan musik yang melakukan perjalanan pada malam bulan purnama. Sejumlah orang berpegangan bahu membentuk barisan tak terputus sambil menyanyi dan melantunkan serempak, sedangkan keluarga yang rumahnya dikunjungi akan memberikan koin tembaga atau hadiah. Ia juga menggambarkan sekelompok perajin yang menggambar berbagai gambar di atas kertas dan menampilkan pertunjukan teatrikal. Narator menceritakan kisah legenda, dongeng, dan romansa yang digambar di atas layar kertas yang digulung.[118] Pertunjukan semacam ini dikenal dengan nama wayang bébér, sebuah seni bercerita yang telah bertahan selama berabad-abad di Jawa.[117]

 
Seorang penunggang kuda berbaju zirah, prajurit infanteri berbaju zirah, dan seorang bangsawan. Dari candi Penataran, 1347.

Diplomat Portugis Tomé Pires, yang mengunjungi Nusantara pada 1512, mencatat kebudayaan Jawa pada akhir zaman Majapahit setelah kunjungannya ke Jawa antara Maret–Juni 1513.[40]:xxv Kisah Pires menceritakan tentang para tuan dan bangsawan di Jawa. Mereka digambarkan sebagai:

... tinggi dan tampan, dengan dekorasi mewah, dan mereka memiliki banyak kuda yang sangat dihiasi. Mereka menggunakan keris, pedang, dan tombak dari berbagai jenis, semuanya bertatahkan emas. Mereka adalah pemburu dan penunggang kuda yang hebat—kuda itu memiliki sanggurdi semua bertatahkan emas dan pelana yang juga bertatahkan, yang tidak dapat ditemukan di tempat lain di dunia. Penguasa Jawa begitu mulia dan agung sehingga tidak ada bangsa yang bisa dibandingkan dengan mereka di wilayah yang luas di bagian ini. Kepala mereka dicukur—setengah dicukur—sebagai tanda keindahan, dan mereka selalu mengusap rambut mereka dari dahi ke atas tidak seperti yang dilakukan orang Eropa. Penguasa Jawa dipuja seperti dewa, dengan rasa hormat yang tinggi dan penghormatan yang dalam.
Para bangsawan pergi berburu atau mencari kesenangan dengan gaya yang agung. Mereka menghabiskan seluruh waktu mereka dalam kesenangan, pengiring memiliki begitu banyak tombak dengan gagang emas dan perak, begitu kaya tatahannya, dengan begitu banyak anjing jenis harrier, greyhound dan anjing lainnya; dan mereka memiliki begitu banyak gambar yang dilukis dengan pemandangan dan pemandangan berburu. Pakaian mereka dihiasi dengan emas, keris, pedang, pisau, kelewang mereka semua bertatahkan emas; mereka memiliki sejumlah selir, kuda jennet, gajah, lembu untuk menarik kereta dari kayu yang dicat dan bersepuh emas. Para bangsawan pergi dengan kereta kemenangan, dan jika mereka pergi melalui laut mereka pergi dengan kelulus yang dicat dan dihiasi; ada apartemen indah untuk wanita mereka, tempat lain untuk para bangsawan yang menemaninya.[40]:174–175 dan 200

 
Candi Jawi, candi Hindu-Buddha sinkretis pemujaan Siwa-Buddha, berasal dari kerajaan Singhasari akhir abad ke-13, yang kemudian direnovasi dan dilestarikan pada masa Majapahit

Buddhisme, Siwaisme, dan Wisnuisme semuanya dipraktikkan: raja dianggap sebagai inkarnasi dari ketiganya. Meski Nagarakretagama tidak menyebutkan Islam, sudah pasti ada anggota istana yang beragama Islam pada saat itu.[119](hlm.19) Sebuah kompleks pemakaman Islam ditemukan di ibukota Majapahit (Trowulan), dikenal dengan nama makam Tralaya (sekarang disebut Troloyo). Para ahli berpendapat bahwa kuburan itu digunakan antara tahun 1368 dan 1611 M, yang berarti orang Muslim telah tinggal di ibu kota sejak pertengahan abad ke-14 pada masa pemerintahan Hayam Wuruk.[113]:185, 196 Kedekatan makam itu dengan situs kraton mengindikasikan ada orang Muslim yang memiliki hubungan dekat dengan istana.[114]

Hindu dan Budha telah membentuk peradaban, agama, dan spiritualisme Jawa sejak masa awal, mulai abad ke-9 Kerajaan Mataram, Kahuripan, Kadiri, hingga Kerajaan Singhasari. Nampaknya agama Hindu dan Budha dianut secara luas oleh masyarakat Majapahit. Meskipun demikian, perdukunan asli Jawa mungkin masih ada dan dipraktikkan di daerah pedesaan pinggiran.

 
Patung emas dari zaman Majapahit melambangkan Sutasoma yang disandang oleh pemakan manusia Kalmasapada

Raja dan sebagian besar keluarga kerajaan menganut agama Hindu, dengan penekanan tertentu pada pemujaan terhadap dewa utama pilihan mereka, baik Siwa, Wisnu, Durga, atau dewa lainnya. Raja pertama Majapahit, Kertarajasa Jayawardhana secara anumerta digambarkan sebagai Harihara, dewa kombinasi Siwa dan Wisnu, di kuil kamar mayatnya di Candi Simping. Namun agama Buddha Mahayana juga disukai oleh keluarga kerajaan dan pejabat Majapahit. Misalnya saja ratu Majapahit Gayatri Rajapatni dan Gajah Mada yang dikenal beragama Buddha.[120] Gayatri kemudian secara anumerta digambarkan sebagai Prajnaparamita.

Namun agama negara kemungkinan adalah Buddha Siwa, sinkretisme Jawa antara Shaivisme dan Buddha, yang menekankan kesamaan antara Siwa dan Buddha yang keduanya digambarkan sebagai pertapa dan guru spiritual. Keadaan spiritual Majapahit, nampaknya mendorong keharmonisan antara penganut Siwa dan Buddha. Sebagaimana terlihat dalam naskah Sutasoma yang ditulis pada abad ke-14 oleh Mpu Tantular yang mengedepankan toleransi beragama antara Hindu dan Budha, khususnya mengedepankan doktrin sinkretis Siwa-Buddha.[121]

Pada masa Majapahit, ajaran agama memegang peranan penting dalam masyarakat. Pendidikan agama dapat dilakukan secara perseorangan di rumah tangga bangsawan kshatriya dan elite agama brahmana, atau di pusat pengajaran agama yang menyerupai ashram atau pesantren yang disebut Mandala atau Kadewaguruan. Kadewaguruan biasanya terletak di daerah terpencil yang jauh dari pemukiman, misalnya di hutan yang sepi, di perbukitan, atau di daerah pegunungan. Kadewaguruan dipimpin oleh seorang mahāresi atau pendeta tinggi, yang juga dikenal sebagai śiddharesi atau dewaguru; maka pusat pendidikan tersebut dinamakan Kadewaguruan.[122]

Literatur

sunting

Sastra Majapahit merupakan kelanjutan dari tradisi keilmuan Hindu-Buddha Kawi Jawa yang menghasilkan puisi kakawin yang berkembang di Jawa sejak abad ke-9 era Medang Mataram, hingga periode Kadiri dan Singhasari. Karya sastra Jawa terkenal yang berasal dari masa sebelumnya, seperti Arjunawiwaha karya Kanwa zaman Kadiri, Smaradahana karya Dharmaja abad ke-12, Bharatayuddha karya Sedah, Hariwangsa karya Panuluh serta kitaran Panji yang populer terus dilestarikan dan ditulis ulang oleh Rakawi (penyair atau cendekiawan Hindu-Buddha) di Majapahit zaman. Karya sastra terkemuka yang dihasilkan pada masa Majapahit antara lain Nagarakretagama karya Prapanca, Sutasoma karya Tantular, dan Tantu Pagelaran. Kisah popule Sri Tanjung dan Damarwulan juga berasal dari zaman Majapahit. Kakawin Jawa Kuno ini ditulis dan digubah oleh Rakawi (penyair) untuk memuja raja para dewa yang inkarnasinya diwakili oleh raja.[121]

Nagarakretagama yang disusun oleh Prapanca pada tahun 1365 merupakan sumber penting catatan sejarah utama historiografi Majapahit. Sedangkan Sutasoma merupakan karya sastra yang penting bagi kehidupan bangsa Indonesia modern, karena menjadi semboyan nasional Bhinneka Tunggal Ika, yang biasa diterjemahkan Bhinneka Tunggal Ika, diambil dari pupuh naskah ini.[123]

Kutipan ini berasal dari Sutasoma pupuh 139 bait 5. Bait lengkapnya berbunyi sebagai berikut:

Rwâneka dhâtu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Semula puisi tersebut dimaksudkan untuk mempromosikan toleransi beragama antara agama Hindu dan Buddha, khususnya mempromosikan doktrin sinkretis Siwa-Buddha..[121]

Dalam Yingya Shenglan, Ma Huan menjelaskan sistem penulisan yang digunakan di Majapahit. Untuk penulisannya, mereka telah mengenal abjad dengan menggunakan huruf So-li (Chola — Coromandel/India Selatan). Tidak ada kertas atau pulpen, mereka menggunakan Chiao-chang (kajang) atau daun lontar, ditulis dengan cara dikikis dengan pisau tajam. Mereka juga memiliki sistem bahasa dan tata bahasa yang berkembang.[118]

Arsitektur

sunting
Relief candi Penataran, menggambarkan tembok, gerbang, menara, dan warga.

Dalam bukunya Yingya Shenglan, Ma Huan juga menggambarkan kota-kota Majapahit: Sebagian besar tidak memiliki tembok yang mengelilingi kota atau pinggiran kota. Ia menggambarkan istana raja di Majapahit. Kediaman raja dikelilingi tembok bata merah tebal setinggi lebih dari tiga chang (sekitar 30 kaki 7 inci atau 9,32 meter), dengan panjang lebih dari 200 langkah (340 yard atau 310 meter) dan pada dindingnya terdapat dua lapis. dari gerbang, istana dijaga dengan sangat baik dan bersih. Istana raja berbentuk bangunan dua lantai, masing-masing setinggi 3 atau 4 chang (9,32–12,42 meter atau 30,58–40,75 kaki). Lantainya terbuat dari papan kayu dan tikar terbuka terbuat dari rotan atau alang-alang (mungkin daun palem), tempat orang duduk bersila. Atapnya terbuat dari atap kayu keras (bahasa Jawa: sirap) yang dipasang genteng.[118] Gambaran istana ini sangat berbeda dengan gambaran Odoric dari Pordenone yang mengunjungi Majapahit pada abad sebelumnya, pada masa pemerintahan Jayanegara (1309–1328).[124]:332 Perbedaan ini terjadi karena Ma Huan kemungkinan besar berada pada area khusus yang diperuntukkan bagi utusan, yang jaraknya masih 1,5 hari perjalanan dari istana Majapahit yang sebenarnya.[125]

Odoric menggambarkan istana ini secara lebih rinci: Istana Majapahit digambarkan lebih kaya dan lebih bagus daripada istana mana pun yang ada pada saat itu di dunia. Tangganya megah, lebar, dan tinggi; dimana anak tangganya terbuat bergantian dari emas dan perak. Jalan istana dibuat bergantian dengan satu ubin emas dan satu lagi dari perak, dan dinding bagian dalam seluruhnya dilapisi emas, dengan patung ksatria dari emas yang dihias dengan batu-batu berharga. Langit-langit istana Majapahit terbuat dari emas murni.[116]:87

Menurut Ma Huan, rumah-rumah rakyat jelata beratap jerami (daun nipah). Setiap keluarga mempunyai gudang penyimpanan yang terbuat dari batu bata, sekitar 3 atau 4 chi (48,9 inci atau 1,24 meter) di atas tanah, tempat mereka menyimpan harta keluarga, dan mereka tinggal di atas bangunan ini, untuk duduk dan tidur.[118] Tidak semua rumah di Jawa terlihat seperti ini: Menurut buku Sejarah Dinasti Song, rumah-rumah di Jawa besar dan indah — mereka dihiasi dengan emas dan batu giok. Kronik tersebut juga mencatat bahwa ketika para pedagang Tionghoa tiba di sana, mereka diterima sebagai tamu di sebuah bangunan umum.[35]:16[126] Ini menunjukkan bahwa Ma Huan belum sampai di pusat ibukota Majapahit, dan hanya mengamati daerah pinggiran saja.[127][125]

Relief Candi Tegowangi dan rumah adat Bali. Arsitektur Bali sangat dipengaruhi oleh Majapahit.

Arsitektur candi Majapahit mengikuti gaya Jawa Timur, berbeda dengan gaya Jawa Tengah sebelumnya. Gaya candi Jawa Timur ini juga berasal dari zaman Kediri sekitar abad ke-11. Bentuk candi Majapahit cenderung ramping dan tinggi, dengan atap yang dibangun dari beberapa bagian berundak membentuk gabungan struktur atap melengkung ke atas mulus menciptakan ilusi perspektif bahwa candi dianggap lebih tinggi dari tinggi sebenarnya. Puncak candi biasanya berbentuk kubus (kebanyakan candi Hindu), kadang berbentuk dagoba berbentuk silinder (candi Budha). Meskipun beberapa candi yang berasal dari zaman Majapahit menggunakan batu andesit atau batu pasir, bata merah juga merupakan bahan konstruksi yang populer.

Kiri ke kanan:
  • Gerbang Bajang Ratu, sebuah paduraksa setinggi 16,5 meter di Trowulan mencerminkan kemegahan Majapahit.
  • Candi Jabung dekat Paiton, Probolinggo, Jawa Timur, berasal dari zaman Majapahit.

Meskipun batu bata pernah digunakan pada candi zaman klasik Indonesia, arsitek Majapahit abad ke-14 dan ke-15 lah yang menguasainya.[115] Dengan memanfaatkan lesung nira dan gula aren, candi mereka memiliki kualitas geometris yang kuat. Contoh candi Majapahit adalah Candi Brahu di Trowulan, Candi Pari di Sidoarjo, Candi Jabung di Probolinggo, dan Candi Surawana dekat Kediri. Candi Jabung disebutkan di Nagarakretagama sebagai Bajrajinaparamitapura, meskipun beberapa bagian atap dan puncaknya kini hilang, namun merupakan salah satu arsitektur candi Majapahit yang paling terpelihara. Contoh lainnya adalah Candi Gunung Gangsir dekat Pasuruan. Beberapa candi berasal dari masa sebelumnya namun direnovasi dan diperluas pada masa Majapahit, seperti Penataran, candi terbesar di Jawa Timur yang dibangun pada zaman Kediri. Candi ini diidentifikasi di Nagarakretagama sebagai Candi Palah dan dilaporkan dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk selama tur kerajaannya di Jawa Timur. Candi terkenal lainnya dengan gaya Jawa Timur adalah Candi Jawi di Pandaan — juga dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk, candi tersebut disebutkan di Nagarakretagama sebagai Jawawa, dan didedikasikan sebagai candi pemakaman untuk kakek buyutnya, Raja Kertanegara dari Singhasari.

Beberapa gaya arsitektur khas diyakini berkembang pada masa Majapahit; seperti gapura bata merah beratap tinggi dan ramping yang biasa disebut kori agung atau paduraksa, serta gapura candi bentar yang terbelah. Gapura Wringin Lawang terbelah besar yang terletak di Jatipasar, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, merupakan salah satu candi bentar tertua dan terbesar yang masih ada yang berasal dari zaman Majapahit. Candi bentar berbentuk struktur candi khas Majapahit — terdiri dari tiga bagian; kaki, badan, dan atap tinggi — dibagi rata menjadi dua struktur cermin untuk membuat jalan di tengah agar orang bisa lewat. Jenis gerbang terpisah ini tidak memiliki pintu dan tidak memberikan tujuan pertahanan nyata selain mempersempit jalur. Mungkin hanya untuk tujuan seremonial dan estetika, untuk menciptakan kesan keagungan, sebelum memasuki kompleks berikutnya melalui gerbang paduraksa beratap tinggi dengan pintu tertutup. Contoh gapura bergaya kori agung atau paduraksa adalah gapura Bajang Ratu yang anggun dan kaya akan hiasan setan Kala, cyclop, dan juga relief yang menceritakan kisah Sri Tanjung. Gaya arsitektur khas Majapahit tersebut sangat mempengaruhi arsitektur Jawa dan Bali pada periode selanjutnya. Maraknya pendopo gaya Majapahit, candi bentar dan gerbang paduraksa saat ini disebabkan oleh pengaruh estetika Majapahit pada arsitektur Jawa dan Bali.[128]

 
Teras berundak, pendopo, dan gerbang terbelah kompleks Candi Cetho di lereng Gunung Lawu

Pada periode selanjutnya menjelang jatuhnya Majapahit, seni dan arsitektur Majapahit menyaksikan kebangkitan elemen arsitektur megalitik asli asli Austronesia, seperti candi Sukuh dan Cetho di lereng barat Gunung Lawu. Berbeda dengan candi-candi Majapahit sebelumnya yang memperlihatkan arsitektur khas Hindu dengan struktur menjulang tinggi, bentuk candi-candi ini adalah piramida berundak, sangat mirip dengan piramida Mesoamerika. Struktur piramida berundak yang disebut Punden Berundak (gundukan berundak) adalah struktur megalitik yang umum pada zaman prasejarah Indonesia sebelum adopsi budaya Hindu-Buddha.

Ekonomi

sunting
 
Celengan zaman Majapahit, abad 14–15 Masehi Trowulan, Jawa Timur. (Koleksi Museum Gajah, Jakarta)

Majapahit merupakan negara agraris dan sekaligus negara perdagangan.[41]:37 Pajak dan denda dibayarkan dalam uang tunai. Ekonomi Jawa telah sebagian mengenal mata uang sejak abad ke-8 pada masa kerajaan Medang yang menggunakan butiran dan keping uang emas dan perak. Sekitar tahun 1300, pada masa pemerintahan raja pertama Majapahit, sebuah perubahan moneter penting terjadi: keping uang dalam negeri diganti dengan uang "kepeng" yaitu keping uang tembaga impor dari China. Pada November 2008 sekitar 10.388 keping koin China kuno seberat sekitar 40 kilogram digali dari halaman belakang seorang penduduk di Sidoarjo. Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur memastikan bahwa koin tersebut berasal dari era Majapahit.[129] Alasan penggunaan uang logam atau koin asing ini tidak disebutkan dalam catatan sejarah, akan tetapi kebanyakan ahli menduga bahwa dengan semakin kompleksnya ekonomi Jawa, maka diperlukan uang pecahan kecil atau uang receh dalam sistem mata uang Majapahit agar dapat digunakan dalam aktivitas ekonomi sehari-hari di pasar Majapahit. Peran ini tidak cocok dan tidak dapat dipenuhi oleh uang emas dan perak yang mahal.[130]

Daoyi Zhi, yang ditulis sekitar 1339 M, menyebutkan tentang kekayaan dan kemakmuran Jawa pada masa itu:

"Ladang-ladang di Jawa kaya dan tanahnya rata dan berair baik, maka dari itu gandum dan beras berlimpah, dua kali lipat di negara lain. Orang-orang tidak mencuri, dan apa yang dijatuhkan di jalan tidak diambil. Pepatah umum: "Jawa yang makmur" berarti negara ini. Pria dan wanita menutup kepala mereka dan mengenakan pakaian panjang."[131]:124

Beberapa gambaran mengenai skala ekonomi dalam negeri Jawa saat itu dikumpulkan dari berbagai data dan prasasti. Prasasti Canggu yang berangka tahun 1358 menyebutkan sebanyak 78 titik perlintasan berupa tempat perahu penyeberangan di dalam negeri (mandala Jawa).[110] Prasasti dari masa Majapahit menyebutkan berbagai macam pekerjaan dan spesialisasi karier, mulai dari pengrajin emas dan perak, hingga penjual minuman, dan jagal atau tukang daging. Meskipun banyak di antara pekerjaan-pekerjaan ini sudah ada sejak zaman sebelumnya, namun proporsi populasi yang mencari pendapatan dan bermata pencarian di luar pertanian semakin meningkat pada era Majapahit.

Menurut catatan Wang Dayuan, pedagang Tiongkok, komoditas ekspor Jawa pada saat itu ialah lada, garam, kain, dan burung Kakaktua, sedangkan komoditas impornya adalah mutiara, emas, perak, sutra, barang keramik, dan barang dari besi. Mata uangnya dibuat dari campuran perak, timah putih, timah hitam, dan tembaga.[132] Selain itu, catatan Odorico da Pordenone, biarawan Katolik Roma dari Italia yang mengunjungi Jawa pada tahun 1321, menyebutkan bahwa istana raja Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata.[133]

Kemakmuran Majapahit diduga karena dua faktor. Faktor pertama adalah kesuburan lahan di lembah Sungai Brantas dan Bengawan Solo di dataran rendah Jawa Timur utara mendukung pertanian padi. Pada masa jayanya Majapahit membangun berbagai infrastruktur irigasi, sebagian dengan dukungan pemerintah. Faktor kedua adalah pelabuhan-pelabuhan Majapahit di pantai utara Jawa yang berperan penting sebagai ekspor-impor serta transit bagi komoditas rempah-rempah dari timur (Maluku). Pajak yang dikenakan pada komoditas rempah-rempah yang melewati Jawa merupakan sumber pemasukan penting bagi Majapahit.[110]

Nagarakretagama menyebutkan bahwa kemasyhuran penguasa Wilwatikta telah menarik banyak pedagang asing, di antaranya pedagang dari India, Khmer, Siam, dan Tiongkok. Pajak khusus dikenakan pada orang asing terutama yang menetap semi-permanen di Jawa dan melakukan pekerjaan selain perdagangan internasional. Majapahit memiliki pejabat sendiri untuk mengurusi pedagang dari India dan Tiongkok yang menetap di ibu kota kerajaan maupun berbagai tempat lain di wilayah Majapahit di Jawa.[134]

Selama era Majapahit, hampir semua komoditas dari Asia ditemukan di Jawa. Ini dikarenakan perdagangan laut ekstensif yang dilakukan oleh kerajaan Majapahit yang menggunakan berbagai jenis kapal, terutamanya jong, untuk berdagang ke tempat-tempat yang jauh.[135] Ma Huan (penerjemah Cheng Ho) yang mengunjungi Jawa pada 1413, menyatakan bahwa pelabuhan di Jawa adalah memperdagangkan barang dan menawarkan layanan yang lebih banyak dan lebih lengkap daripada pelabuhan lain di Asia Tenggara.[136]

Struktur pemerintahan

sunting

Majapahit memiliki struktur pemerintahan dan susunan birokrasi yang teratur pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, dan tampaknya struktur dan birokrasi tersebut tidak banyak berubah selama perkembangan sejarahnya.[137] Raja dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia dan ia memegang otoritas politik tertinggi.

Aparat birokrasi

sunting

Raja dibantu oleh sejumlah pejabat birokrasi dalam melaksanakan pemerintahan, dengan para putra dan kerabat dekat raja memiliki kedudukan tinggi. Perintah raja biasanya diturunkan kepada pejabat-pejabat di bawahnya, antara lain yaitu:

  • Rakryan Mahamantri Katrini, biasanya dijabat putra-putra raja
  • Rakryan Mantri ri Pakira-kiran, dewan menteri yang melaksanakan pemerintahan
  • Dharmmadhyaksa, para pejabat hukum keagamaan
  • Dharmma-upapatti, para pejabat keagamaan

Dalam Rakryan Mantri ri Pakira-kiran terdapat seorang pejabat yang terpenting yaitu Rakryan Mapatih atau Patih Hamangkubhumi. Pejabat ini dapat dikatakan sebagai perdana menteri yang bersama-sama raja dapat ikut melaksanakan kebijaksanaan pemerintahan. Selain itu, terdapat pula semacam dewan pertimbangan kerajaan yang anggotanya para sanak saudara raja, yang disebut Bhattara Saptaprabhu.

Pembagian wilayah

sunting
 
Kawasan inti Majapahit dan provinsinya (Mancanagara) di kawasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, termasuk pulau Madura dan Bali.

Dalam pembentukannya, kerajaan Majapahit merupakan kelanjutan Singhasari,[18] terdiri atas beberapa kawasan tertentu di bagian timur dan bagian tengah Jawa. Daerah ini diperintah oleh uparaja yang disebut Paduka Bhattara yang bergelar Bhre atau "Bhatara i". Gelar ini adalah gelar tertinggi bangsawan kerajaan. Biasanya posisi ini hanyalah untuk kerabat dekat raja. Tugas mereka adalah untuk mengelola kerajaan mereka, memungut pajak, dan mengirimkan upeti ke pusat, dan mengelola pertahanan di perbatasan daerah yang mereka pimpin.

Hierarki dalam pengklasifikasian wilayah di kerajaan Majapahit dikenal sebagai berikut:

  1. Bhumi: kerajaan, diperintah oleh Raja
  2. Nagara: diperintah oleh rajya (gubernur), atau natha (tuan), atau bhre (pangeran atau bangsawan)
  3. Watek: dikelola oleh wiyasa,
  4. Kuwu: dikelola oleh lurah,
  5. Wanua: dikelola oleh thani,
  6. Kabuyutan: dusun kecil atau tempat sakral.

Saat Majapahit memasuki era kemaharajaan Thalasokrasi saat pemerintahan Gajah Mada, beberapa negara bagian di luar negeri juga termasuk dalam lingkaran pengaruh Majapahit, sebagai hasilnya, konsep teritorial yang lebih besar pun terbentuk:

  • Negara Agung, atau Negara Utama, inti kerajaan. Area awal Majapahit atau Majapahit Lama selama masa pembentukannya sebelum memasuki era kemaharajaan. Yang termasuk area ini adalah ibu kota kerajaan dan wilayah sekitarnya di mana raja secara efektif menjalankan pemerintahannya. Area ini meliputi setengah bagian timur Jawa, dengan semua provinsinya yang dikelola oleh para Bhre (bangsawan), yang merupakan kerabat dekat raja.
  • Mancanegara, area yang melingkupi Negara Agung. Area ini secara langsung dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa, dan wajib membayar upeti tahunan. Akan tetapi, area-area tersebut biasanya memiliki penguasa atau raja pribumi, yang kemungkinan membentuk persekutuan atau menikah dengan keluarga kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit menempatkan birokrat dan pegawainya di tempat-tempat ini dan mengatur kegiatan perdagangan luar negeri mereka dan mengumpulkan pajak, namun mereka menikmati otonomi internal yang cukup besar. Wilayah Mancanegara termasuk di dalamnya seluruh daerah Pulau Jawa lainnya, Madura, Bali, dan juga Dharmasraya, Pagaruyung, Lampung dan Palembang di Sumatra.
  • Nusantara, adalah area yang tidak mencerminkan kebudayaan Jawa, tetapi termasuk ke dalam koloni dan mereka harus membayar upeti tahunan. Mereka menikmati otonomi yang cukup luas dan kebebasan internal, dan Majapahit tidak merasa penting untuk menempatkan birokratnya atau tentara militernya di sini; akan tetapi, tantangan apa pun yang terlihat mengancam ketuanan Majapahit atas wilayah itu akan menuai reaksi keras. Termasuk dalam area ini adalah kerajaan kecil dan koloni di Maluku, Kepulauan Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya.

Ketiga kategori tersebut masuk ke dalam lingkaran pengaruh Kerajaan Majapahit. Akan tetapi Majapahit juga mengenal lingkup keempat yang didefinisikan sebagai hubungan diplomatik luar negeri.

Luas wilayah

sunting
sunting
 
Peta yang menunjukkan wilayah kekuasaan Majapahit menurut Negarakertagama

Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII–XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra, semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura) dan sebagian kepulauan Filipina.[33] Sumber ini menunjukkan batas terluas sekaligus puncak kejayaan Kemaharajaan Majapahit.

sunting

Prasasti Tuhañaru/Jayanagara II, berasal dari tahun 1245 Saka/1323 Masehi, mencatat aneksasi wilayah di luar Jawa:

... seperti bulan yang membuka kembang tunjung-jantung dari perkampungan segala orang baik-baik; yang membinasakan segala musuh; seperti matahari yang melenyapkan kegelapan pada waktu malam hari, yang digembirakan Wipra dan Satria, yang berbahagia dapat bertegak nama penobatan raja, berbunyi: Iswara Sundarapandyadewa, ...

Menurut H.B. Sarkar, gelar raja Jayanegara ini menandakan bahwa Majapahit memegang kekuasaan tinggi (suzerainty) atas raja Pandia di India Selatan.[138]

sunting

Hikayat Raja-Raja Pasai mencatat banyak wilayah Majapahit:[139]

Nama Interpretasi
Pasai Pasai
Tembelan Daerah Tembelan (?)
Siontan Pulau Siontan
Jemaja Daerah Jemaja (?)
Bunguran Daerah Bunguran (?)
Serasan Daerah Serasan (?)
Subi Pulau Cebu di Filipina
Pulau Laut Pulau Laut
Tioman Pulau Tioman
Pulau Tinggi Pulau Tinggi (?)
Pemanggil Krimat Daerah Pemanggil Krimat (?)
Belitang Pulau Belitung
Bangka Pulau Bangka
Lingga Daerah Lingga
Riau Riau
Bintan Pulau Bintan
Bulong Pulau Buton
Sambas Sambas
Mempauh Daerah Mempauh di Kalimantan
Sukadana Daerah Sukadana
Kota Waringin Kotawaringin
Banjar Masin Banjarmasin
Pasir Daerah Pasir (?)
Kotai Kutai
Berau Daerah Berau di Kalimantan
Jambi Jambi
Palembang Palembang
Ujung Tanah Daerah Malaka di Semenanjung Malaya
Banda Pulau Banda
Bima Pulau Bima
Sembawa Pulau Sumbawa
Silamprang Pulau Silamprang (?)
Asiran Pulau Asiran (?)
K.r.tok Pulau K.r.tok (?)
Bali Bali
Balembangan Blambangan di Jawa Timur
sunting

Berdasarkan Kidung Sunda pupuh 1 bait 54b dan 65a, kekuasaan Majapahit meliputi Palembang, Tumasik (Singapura), Sampit, Madura, Bali, Koci (Cochinchina, Vietnam), Wandan (Banda, Maluku Tengah), Tanjungpura (Kalimantan) dan Sawakung (Pulau Sebuku).[140]:20, 23[141]

sunting

Kidung Harsa Wijaya mencatat wilayah Majapahit di luar Jawa antara lain Bali, Tatar, Tumasik, Sampi, Gurun, Wandan, Tanjung-pura, Dompo, Palembang, Makasar, dan Koci.[142]

sunting

Selama masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350 s.d. 1389) ada 12 wilayah pusat Majapahit, yang dikelola oleh kerabat dekat raja.

No Provinsi Gelar Penguasa Hubungan dengan Raja Hayam Wuruk
1 Kahuripan (sekarang Sidoarjo) Bhre Kahuripan Tribhuwanatunggadewi ibu suri
2 Daha (sekarang Kediri) Bhre Daha Rajadewi Maharajasa bibi sekaligus ibu mertua
3 Tumapel (sekarang Malang) Bhre Tumapel Kertawardhana ayah
4 Wengker (sekarang Ponorogo) Bhre Wengker Wijayarajasa paman sekaligus ayah mertua
5 Matahun (sekarang Bojonegoro) Bhre Matahun Rajasawardhana suami dari Putri Lasem, sepupu raja
6 Wirabhumi (sekarang Blambangan) Bhre Wirabhumi Bhre Wirabhumi[Catatan 11]1 anak dari selir
7 Paguhan Bhre Paguhan Singhawardhana saudara laki-laki ipar
8 Kabalan Bhre Kabalan Kusumawardhani[Catatan 12]2 anak perempuan dari permaisuri
9 Pawanuan Bhre Pawanuan Surawardhani keponakan perempuan
10 Lasem (sekarang Rembang) Bhre Lasem Rajasaduhita Indudewi sepupu
11 Pajang (sekarang Surakarta) Bhre Pajang Rajasaduhita Iswari saudara perempuan
12 Mataram (sekarang Yogyakarta) Bhre Mataram Wikramawardhana[Catatan 12]2 keponakan laki-laki

Catatan:
1 Bhre Wirabhumi sebenarnya adalah gelar: Pangeran Wirabhumi (blambangan), nama aslinya tidak diketahui dan sering disebut sebagai Bhre Wirabhumi dari Pararaton. Dia menikah dengan Nagawardhani, keponakan perempuan raja.
2 Kusumawardhani (putri raja) menikah dengan Wikramawardhana (keponakan laki-laki raja), pasangan ini lalu menjadi pewaris tahta.

 
Arca dewi Parwati sebagai perwujudan anumerta Tribhuwanattunggadewi, ratu Majapahit ibunda Hayam Wuruk.
sunting

Sedangkan dalam Prasasti Waringin Pitu (1447 M) disebutkan bahwa pemerintahan Majapahit dibagi menjadi 14 daerah bawahan, yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Bhre.[143] Daerah-daerah bawahan tersebut yaitu:

sunting

Kisah Calon Arang disebutkan dalam beberapa manuskrip, aslinya ditulis pada era Jawa klasik (sebelum jatuhnya Majapahit pada tahun 1527). Manuskrip-manuskrip yang ada menyebut Malaka, sebuah kesultanan yang berdiri antara tahun 1400 sampai 1511 M. Manuskrip yang bertahan sebagian besar ditemukan di Bali dengan tanggal setelah 1500 Masehi. Wilayah yang disebutkan adalah:[144][145]

Nama Interpretasi
Melayu Kerajaan Melayu
Palembang Palembang
Jambi Jambi
Bengkulu Bengkulu
Malaka Malaka, Malaysia
Singapura Singapura
Patani Patani
Pahang Pahang
Siyem

Siam

Siam
Cempa

Campa

Champa atau suatu tempat di Kamboja
Cina China
Koci Suatu tempat di Vietnam
Keling

Banakeling

India
Tartar

Tatar

Mongol (?)
Pego

Pegu

Pegu, suatu tempat di Burma
Kedah Kedah
Kutawaringin Kotawaringin
Kute Kutai
Bangka Bangka
Sunda Sunda
Madura Madura
Pedie Pidie, Aceh
Kangayan

Kangean

Pulau Kangean
Makassar Makassar
Seran Pulau Seram di Maluku
Goran

Goram

Kepulauan Gorom, Maluku
Pandan

Wandan

Wandan atau pulau Pandan
Peleke Suatu tempat di Sulawesi (?)
Moloko

Maluku

Maluku
Bolo Pulau Bulu Polo'e, Sulawesi Selatan

Bolo, merujuk pada beberapa tempat di Filipina

Dompo Dompu
Bima Bima
Banda Banda
Timur Timor
Sasak Lombok
Sambawa

Sumbawa

Sumbawa
sunting

Buku Suma Oriental karya Tomé Pires yang ditulis tahun 1515 mencatat bahwa Jawa (Majapahit) memerintah sejauh Maluku di sisi timur dan sebagian besar sisi barat Nusantara; dan hampir seluruh pulau Sumatra berada di bawah kekuasaannya dan menguasai semua pulau yang diketahui orang Jawa. Majapahit menguasai semua ini untuk waktu yang lama sampai sekitar seratus tahun sebelumnya, ketika kekuatannya mulai berkurang hingga menjadi seperti saat tahun kunjungan Pires di Jawa (Maret–Juni 1513).[40]:174

sunting

Berdasarkan kitab Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu), daerah Majapahit diantaranya:

  • Indragiri di Sumatra dan Siantan (sekarang Pontianak pada pesisir barat Kalimantan), yang menurut Sulalatus Salatin, diberikan sebagai hadiah pernikahan kepada Kesultanan Malaka atas pernihkahan sultan Mansur Syah dari Malaka dengan putri Majapahit. Sultan Mansur Syah memerintah pada tahun 1459–1477, sehingga pada tahun 1447 artinya Indragiri dan Siantan masih dibawah kekuasaan Majapahit.
  • Jambi dan Palembang, yang hanya mulai lepas dari genggaman Majapahit ketika diambil-alih oleh Kesultanan Demak[40](hlm.154-155) pada saat masa perangnya melawan Majapahit yang diperintah Ranawijaya.
  • Dan Bali yang merupakan daerah pengungsian terakhir para bangsawan, seniman, pendeta dan penduduk agama Hindu di Jawa ketika Majapahit runtuh oleh Demak.
sunting

Wilayah Majapahit yang dicatat Hikayat Banjar adalah: Jawa, Bantan (Banten), Palembang, Mangkasar (Makassar), Pahang, Patani, Bali, Pasai, Campa, Maningkabau (Minangkabau),[146] Jambi, Bugis (daerah suku Bugis), Johor, dan Acih (Aceh).[Catatan 13][147]

Hubungan diplomatik

sunting

Hubungan diplomatik dengan negara lain dijelaskan dari Kakawin Nagarakretagama pupuh 15, bait 1 sampai 3.[148] Lengkapnya ialah:

Jawa Kuno Alih bahasa inggris Alih bahasa Indonesia
nahan / lwir ning deśantara kacaya de śri narapati, tuhun / tang syangkayodyapura kimutang darmmanagari, marutma mwang ring rajapura nguniweh singhanagari, ri campa kambojanyat i yawana mitreka satata Such is the aspect of the other countries, protected by the Illustrious Prince;

verily, to be sure: Syangkayodhyapura, together with Dharmanagari, Marutma and Rajapura, and Singhanagari too, Campa, Kamboja. Different is Yawana, that is a friend, regular

Begitulah aspek dari negara-negara lain, yang dilindungi oleh Sri Narapati;

sesungguhnya, yang pasti: Syangkayodhyapura, bersama dengan Dharmanagari, Marutma dan Rajapura, dan juga Singhanagari, Campa, Kamboja. Yang berbeda Yawana, yang merupakan teman, sekutu

kunong tekang nusa madura tatan ilwing parapuri, ri denyan tungal / mwang yawadarani rakwaikana danu, samudra(1) nanggung(2) bhumi(3) kta śaka kalanya karengö, teweknyan dadyapantara sasiki tatwanya tan adoh Concerning now this island of Madura, this is not at all of the same aspect as the foreign kingdoms,

because of the fact that it has been one with the Yawa-country, so it is said, at that time in the past: "The oceans carry a country" (124 = 202 A.D.), such is their Shaka-year, one hears, their moment to become provided with an interstice; (nevertheless) they are one in essence, not far away (from each other).

Mengenai pulau Madura sekarang ini, sama sekali tidak sama dengan kerajaan-kerajaan asing,

karena ia telah menjadi satu dengan negara Yawa, maka dikatakan, pada waktu itu di masa lalu: "Lautan membawa sebuah negara" (124 saka = 202 M), demikianlah tahun Saka mereka, terdengar, saat mereka terpisah; (namun) mereka satu pada hakekatnya, tidak jauh (satu sama lain).

huwus rabdang dwipantara sumiwi ri śri narapati, padasthity awwat / pahudama wijil anken / pratimasa, sake kotsahan / sang prabhu ri sakhahaywanyan iniwö, bhujangga mwang mantrinutus umahalot / patti satata. Already the other continents are getting ready to show obedience to the Illustrious Prince,

alike orderly they bring in all kinds of products every ordained season. As an instance of the honoured Prabhu's exertion for all the good that is taken care of by him, ecclesiastical officers and mandarins are sent to fetch the produce regularly.

Benua lain sudah bersiap-siap untuk menunjukkan kepatuhan kepada Sri Narapati,

sama-sama teratur mereka membawa segala jenis hasil bumi setiap musim yang ditentukan. Sebagai contoh usaha Sang Prabhu yang terhormat untuk semua kebaikan yang diurusnya, bujangga dan para pegawai dikirim untuk mengambil hasil bumi secara teratur.

Pola kesatuan politik khas sejarah Asia Tenggara purba seperti ini kemudian diidentifikasi oleh sejarahwan modern sebagai "mandala", yaitu kesatuan yang politik ditentukan oleh pusat atau inti kekuasaannya daripada perbatasannya, dan dapat tersusun atas beberapa unit politik bawahan tanpa integrasi administratif lebih lanjut.[149] Daerah-daerah bawahan yang termasuk dalam lingkup mandala Majapahit, yaitu wilayah Mancanegara dan Nusantara, umumnya memiliki pemimpin asli penguasa daerah tersebut yang menikmati kebebasan internal cukup luas. Wilayah-wilayah bawahan ini meskipun sedikit-banyak dipengaruhi Majapahit, tetap menjalankan sistem pemerintahannya sendiri tanpa terintegrasi lebih lanjut oleh kekuasaan pusat di ibu kota Majapahit. Pola kekuasaan mandala ini juga ditemukan dalam kerajaan-kerajaan sebelumnya, seperti Sriwijaya dan Angkor, serta mandala-mandala tetangga Majapahit yang sezaman; Ayutthaya dan Champa.[150]

Wilayah mancanegara atau luar negeri disebut pada Nagarakretagama pupuh 15 bait 1. Wilayah-wilayah itu antara lain Syangka (Siam), Ayodyapura (Ayutthaya), Dharmmanagari (Ligor), Marutma (Martaban atau Mergui), Rajapura (Rajpuri di selatan Siam), Singhanagari (Singhapuri di cabang sungai Menam), Campa, dan Kamboja.[151]:35-36 Hubungan antara Majapahit dengan wilayah-wilayah ini disebut kachaya, yang berarti "terkena cahaya". Ini diartikan sebagai dilindungi atau dinaungi. Istilah "wilayah dilindungi" dalam tatanegara modern disebut sebagai wilayah protektorat.[152]:234-235

Selain itu, pada pupuh 83 bait 4 dan 93 bait 1 disebut tempat-tempat yang menjadi asal para saudagar dan cendekiawan. Wilayah-wilayah itu adalah Jambudwipa (India), Cina, Karnataka (India Selatan), dan Goda (Gauḍa).[151]:35-36 Yang berbeda sendiri adalah Yawana, sebagaimana dikatakan anyat i yawana mitreka satata (yang lain adalah Yawana yang merupakan sekutu tetap).[152]:234 Kern dan Pigeaud menganggap Yawana adalah Annam, tetapi mencatat bahwa Yawana adalah istilah Sanskerta untuk Yunani (Ionian), yang digunakan orang India untuk merujuk pada orang barbar. Kern mencatat orang India menyebut orang Muslim sebagai Yawana. Menurut Pigeaud, agak tidak mungkin Yawana merujuk pada orang Muslim. Ia menganggap Yawana sebagai Annam, karena pada waktu itu raja-raja Annam sangat kuat dan sangat aneh jika meminta perlindungan kepada Jawa.[151]:35 Irawan Djoko Nugroho menolak pendapat ini, karena Nagarakretagama dibuat tahun 1365, dan kekuatan Champa melebihi Annam (yang waktu itu merujuk pada Dai Viet). Majapahit yang mengalahkan Mongol tidak mungkin memiliki sekutu tetap yang lemah. Selain itu, Annam dalam bahasa Jawa kuno memiliki nama sendiri yakni Koci (sekarang disebut Cochinchina untuk membedakannya dari Kochi di India). Koci berasal dari bahasa Cina Jiāozhǐ, dalam bahasa Kanton Kawci, dan disebut Giao Chỉ di Vietnam. Oleh karena itu, Yawana lebih tepat diartikan sebagai Arab.[153][154][155]

Daftar pejabat

sunting

Silsilah dinasti Rajasa

sunting
 
Silsilah wangsa Rajasa, keluarga penguasa Singhasari dan Majapahit. Penguasa ditandai dalam gambar ini.[156]

Para penguasa Majapahit adalah penerus dari keluarga kerajaan Singhasari, yang dirintis oleh Sri Ranggah Rajasa, pendiri Wangsa Rajasa pada akhir abad ke-13. Berikut adalah daftar penguasa Majapahit. Perhatikan bahwa terdapat periode kekosongan antara pemerintahan Rajasawardhana (penguasa ke-8) dan Girishawardhana yang mungkin diakibatkan oleh krisis suksesi yang memecahkan keluarga kerajaan Majapahit menjadi dua kelompok.

Daftar maharaja

sunting
No. Maharaja Mulai Jabatan Akhir Jabatan Jabatan
Sebelumnya
Termuat Dalam
1. Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardhana
( Nararya Sanggaramawijaya )
1293 1309 Adipati Janggala Prasasti Mula Malurung (1255 M)
Kidung Harsawijaya
Kidung Panji Wijayakrama
Pararaton
Prasasti Kudadu (1294 M)
Prasasti Sukamerta (1296 M)
2. Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara
( Jayanagara )
1309 1328 Bhre Daha Pararaton
3. Sri Tribhuwanottunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani
( Dyah Gitarja )
1328 1350 Bhre Kahuripan Pararaton
4. Maharaja Sri Rajasanagara
( Dyah Hayam Wuruk )
1350 1389 Bhre Kahuripan Pararaton
Negarakertagama
5. Bhatara Hyang Wisesa Aji Wikramawardhana
( Dyah Gagak Sali )
1389 1429 Bhre Kahuripan Pararaton
6. Prabu Sri Suhita
( Suhita )
1429 1447 Bhre Daha Pararaton
7. Sri Maharaja Wijayaparakramawardhana
( Dyah Kertawijaya )
1447 1451 Bhre Tumapel Pararaton
8. Rajasawardhana Sang Sinagara
( Dyah Wijayakumara )
1451 1453 Bhre Kahuripan Pararaton
9. Girishawardhana
( Dyah Suryawikrama )
1456 1466 Bhre Wengker Prasasti Waringin Pitu (1447 M)
Pararaton
10. Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Giripati Pasutabhupati Ketubhuta
( Dyah Suraprabhawa )
1466 1468 Bhre Pandansalas Pararaton
11. Bhre Kertabhumi 1468 1474 Bhre Kertabhumi Babad Tanah Jawi
12. Prabhu Natha Sri Girindrawardhana
( Dyah Ranawijaya )
1474 1518 Bhre Keling Prasasti Jiyu
Suma Oriental
13. Prabhu Udara
( Patih Udara )
1518 1527 Perdana Menteri Babad Tanah Jawi
Suma Oriental

[8]

Daftar perdana menteri

sunting
No. Nama Mulai Jabatan Akhir Jabatan Jabatan
Sebelumnya
Termuat Dalam
1. Nambi 1294 1316 Dharmaputra Prasasti Sukamerta (1296 M)
2. Dyah Halayuda (Mahapati) 1316 1323 Mahamentri Katrini Prasasti Sidateka (1323 M)
3. Arya Tadah (Empu Krewes) 1323 1330 Prasasti Berumbung (1329 M)
4. Mpu Nala 1330 1334 Prasasti Palungan (1330 M)
5. Gajah Mada (Jirnodhara) 1334 1364 Patih Daha Prasasti Batur
Prasasti Bendasari
Pararaton
Negarakertagama
6. Gajah Enggon 1367 1394 Bhayangkara Pararaton
7. Gajah Manguri 1394 1398 Bhayangkara Pararaton
8. Gajah Lembana 1398 1410 Bhayangkara Pararaton
9. Tanaka 1410 .... Pararaton
10. Gajah Geger 1447 Prasasti Waringin Pitu
(1447 M)
11. Wahan .... 1498 Babad Tanah Jawi
12. Udara 1498 1518 Raja Muda di Kediri Babad Tanah Jawi
Suma Oriental

Keterangan:

  • Nama Patih dari no. 5 Sampai no. 9, tertulis dalam Kitab Pararaton.

Dharmaputra

sunting

Dharmaputra disebut sebagai pengalasan wineh suka, yang artinya "pegawai istimewa yang disayangi raja". Anggota Dharmaputra tersebut adalah Ra Kuti, Ra Semi, Ra Tanca, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Banyak, dan Ra Pangsa.

Daftar kepala daerah

sunting
Nama Jabatan Termuat Dalam
Arya Wiraraja Adipati Songeneb (Sumenep)


Merangkap Jabatan
Pasangguhan

Prasasti Kudadu (1294)
Ranggalawe
(Arya Adikara)
Adipati Tuban


Merangkap Jabatan
Pasangguhan

Prasasti Kudadu (1294)
Lembu Sora Adipati Ujung-galuh (Surabaya)


Patih Daha (Kediri)

Prasasti Sukamerta (1296)
Arya Damar Adipati Palembang (Palembang)


Merangkap Jabatan
Senopati

Babad Tanah Jawi
Raden Patah Adipati Demak (Kabupaten Demak) Babad Tanah Jawi

Sumber[157]

Daftar menteri dan staf

sunting
Nama Jabatan Termuat Dalam
Adityawarman
(Mpu Aditya)
Mantri Praudhatara

(Wredda Menteri)

Prasasti Manjusri (1343),

Prasasti Blitar (1330)

Mpu Nala Tumenggung Prasasti O.J.O. LXXXIV,

Prasasti Batur, Prasasti Bendasari (O.J.O. LXXXV), Prasasti Sekar

Mpu Prapanca
Hakim Tinggi dan Juru Tulis Negarakertagama

Sumber[158]

Daftar istilah

sunting

Nusantara

sunting

Hasta Mandala

sunting

Mitreka Satata

sunting

Bhinneka Tunggal Ika

sunting

Girindrawarddhana

sunting

Brawijaya

sunting

Warisan budaya

sunting
Arca & Pusaka Candi Karya Sastra & Situs Prasasti
 
Meriam Cetbang Majapahit, dari The Metropolitan Museum of Art, yang diperkirakan berasal dari tahun 1470–1478. Perhatikan adanya lambang Surya Majapahit.

Beberapa ukiran relief candi dari masa Majapahit juga banyak mengabadikan fragmen cerita-cerita,[159] seperti:

Selain itu, ada pula cerita lisan yang populer hingga masa kini, seperti:

Berikut adalah daftar Situs Budaya Majapahit :

Pusat inspirasi

sunting

Majapahit telah menjadi sumber inspirasi kejayaan masa lalu bagi bangsa-bangsa Nusantara pada abad-abad berikutnya.

Legitimasi politik

sunting

Kesultanan-kesultanan Islam Demak, Pajang, dan Mataram berusaha mendapatkan legitimasi atas kekuasaan mereka melalui hubungan ke Majapahit. Demak menyatakan legitimasi keturunannya melalui Kertabhumi; pendirinya, Raden Patah, menurut babad-babad keraton Demak dinyatakan sebagai anak Kertabhumi dan seorang Putri Cina, yang dikirim ke luar istana sebelum ia melahirkan. Penaklukan Mataram atas Wirasaba tahun 1615 yang dipimpin langsung oleh Sultan Agung sendiri memiliki arti penting karena merupakan lokasi ibu kota Majapahit. Keraton-keraton Jawa Tengah memiliki tradisi dan silsilah yang berusaha membuktikan hubungan para rajanya dengan keluarga kerajaan Majapahit—sering kali dalam bentuk makam leluhur, yang di Jawa merupakan bukti penting—dan legitimasi dianggap meningkat melalui hubungan tersebut. Bali secara khusus mendapat pengaruh besar dari Majapahit, dan masyarakat Bali menganggap diri mereka penerus sejati kebudayaan Majapahit.[115]

Para penggerak nasionalisme Indonesia modern, termasuk mereka yang terlibat Gerakan Kebangkitan Nasional di awal abad ke-20, telah merujuk pada Majapahit, disamping Sriwijaya, sebagai contoh gemilang masa lalu Indonesia. Majapahit kadang dijadikan acuan batas politik negara Republik Indonesia saat ini.[41]:37 Dalam propaganda yang dijalankan tahun 1920-an, Partai Komunis Indonesia menyampaikan visinya tentang masyarakat tanpa kelas sebagai penjelmaan kembali dari Majapahit yang diromantiskan.[160] Sukarno juga mengangkat Majapahit untuk kepentingan persatuan bangsa, sedangkan Orde Baru menggunakannya untuk kepentingan perluasan dan konsolidasi kekuasaan negara.[161] Sebagaimana Majapahit, negara Indonesia modern meliputi wilayah yang luas dan secara politik berpusat di pulau Jawa.[162]

Beberapa simbol dan atribut kenegaraan Indonesia berasal dari elemen-elemen Majapahit. Bendera kebangsaan Indonesia "Sang Merah Putih" atau kadang disebut "Dwiwarna" ("dua warna"), berasal dari warna Panji Kerajaan Majapahit. Demikian pula bendera armada kapal perang TNI Angkatan Laut berupa garis-garis merah dan putih juga berasal dari warna Majapahit. Semboyan nasional Indonesia, "Bhinneka Tunggal Ika", dikutip dari "Kakawin Sutasoma" yang ditulis oleh Mpu Tantular, seorang pujangga Majapahit.

Pengaruh arsitektur

sunting
 
Sepasang patung penjaga gerbang abad ke-14 dari kuil Majapahit di Jawa Timur (Museum of Asian Art, San Francisco)

Majapahit memiliki pengaruh yang nyata dan berkelanjutan dalam bidang arsitektur di Indonesia. Penggambaran bentuk paviliun (pendopo) berbagai bangunan di ibu kota Majapahit dalam kitab Negarakretagama telah menjadi inspirasi bagi arsitektur berbagai bangunan keraton di Jawa serta Pura dan kompleks perumahan masyarakat di Bali masa kini. Meskipun bata merah sudah digunakan jauh lebih awal, para arsitek Majapahitlah yang menyempurnakan teknik pembuatan struktur bangunan bata ini.

Beberapa elemen arsitektur kompleks bangunan di Jawa dan Bali diketahui berasal dari masa Majapahit. Misalnya gerbang terbelah candi bentar yang kini cenderung dikaitkan dengan arsitektur Bali, sesungguhnya merupakan pengaruh Majapahit, sebagaimana ditemukan pada Candi Wringin Lawang, salah satu candi bentar tertua di Indonesia. Demikian pula dengan gapura paduraksa (kori agung) beratap tinggi, dan pendopo berlandaskan struktur bata. Pengaruh citarasa estetika dan gaya bangunan Majapahit dapat dilihat pada kompleks Keraton Kasepuhan di Cirebon, Masjid Menara Kudus di Jawa Tengah, dan Pura Maospait di Bali. Tata letak kompleks bangunan berupa halaman-halaman berpagar bata yang dihubungkan dengan gerbang dan ditengahnya terdapat pendopo, merupakan warisan arsitektur Majapahit yang dapat ditemukan dalam tata letak beberapa kompleks keraton di Jawa serta kompleks puri (istana) dan pura di Bali.

Kesenian modern

sunting

Kebesaran kerajaan ini dan berbagai intrik politik yang terjadi pada masa itu menjadi sumber inspirasi tidak henti-hentinya bagi para seniman masa selanjutnya untuk menuangkan kreasinya, terutama di Indonesia. Berikut adalah daftar beberapa karya seni yang berkaitan dengan masa tersebut.

Puisi lama

sunting
  • Serat Darmagandhul, sebuah kitab yang tidak jelas penulisnya karena menggunakan nama pena Ki Kalamwadi, namun diperkirakan dari masa Kasunanan Surakarta. Kitab ini berkisah tentang hal-hal yang berkaitan dengan perubahan keyakinan orang Majapahit dari agama sinkretis "Hindu" ke Islam dan sejumlah ibadah yang perlu dilakukan sebagai umat Islam.

Komik dan strip komik

sunting
  • Serial "Mahesa Rani" karya Teguh Santosa yang dimuat di Majalah Hai, mengambil latar belakang pada masa keruntuhan Singhasari hingga awal-awal karier Mada (Gajah Mada), adik seperguruan Lubdhaka, seorang rekan Mahesa Rani.
  • Komik/Cerita bergambar Imperium Majapahit, karya Jan Mintaraga.
  • Komik Majapahit karya R.A. Kosasih
  • Strip komik "Panji Koming" karya Dwi Koendoro yang dimuat di surat kabar "Kompas" edisi Minggu, menceritakan kisah sehari-hari seorang warga Majapahit bernama Panji Koming.
  • Komik "Dharmaputra Winehsuka", karya Alex Irzaqi, kisah Ra Kuti dan Ra Semi dalam latar peristiwa pemerontakan Nambi 1316 M.

Roman/novel sejarah

sunting

Film/sinetron

sunting
  • Tutur Tinular, suatu adaptasi film karya S. Tidjab dari serial sandiwara radio. Kisah ini berlatar belakang Kerajaan Singhasari pada pemerintahan Kertanegara hingga Majapahit pada pemerintahan Jayanagara.
  • Saur Sepuh, suatu adaptasi film karya Niki Kosasih dari serial sandiwara radio yang populer pada kurun dasawarsa pertengahan 1980-an hingga awal 1990-an. Film ini sebetulnya lebih berfokus pada sejarah Pajajaran namun berkait dengan Majapahit pula.
  • Walisanga, sinetron Ramadan tahun 2003 yang berlatar Majapahit pada masa Brawijaya V hingga Kesultanan Demak pada zaman Sultan Trenggana.
  • Puteri Gunung Ledang, sebuah film Malaysia tahun 2004, mengangkat cerita berdasarkan legenda Melayu terkenal, Puteri Gunung Ledang. Film ini menceritakan kisah percintaan Gusti Putri Retno Dumilah, seorang putri Majapahit, dengan Hang Tuah, seorang perwira Kesultanan Malaka.

Permainan video

sunting
  • Civilization V: Brave New World yang terbit pada Juli 2013, terdapat peradaban Indonesia dengan tokoh pemimpinnya Gajah Mada. Meskipun dinamakan peradaban 'Indonesia', namun peradaban ini menggunakan Surya Majapahit sebagai simbolnya. Peradaban ini memiliki bangunan unik yaitu Candi, yang memiliki ikon bergambar Candi bentar di Trowulan, Mojokerto.
  • Kemudian pada Civilization VI sebuah DLC memiliki salah satu pemimpin Majapahit, Dyah Gitarja sebagai pemimpin peradaban Indonesia dengan simbolnya berupa Surya Majapahit yang lebih sederhana. Unit unik untuk peradaban ini adalah jong, yang menggantikan frigate.
  • Age of Empires II: The Age of Kings ekspansi keempat Rise of the Rajas yang terbit pada Desember 2016, menampilkan misi sebagai Gajah Mada, dari awal pendirian Majapahit mengusir tentara Mongolia dan Kediri (Kerajaan Singhasari), menaklukkan kerajaan-kerajaan lain di kepulauan Nusantara setelah Sumpah Palapa hingga peristiwa Perang Bubat yang mengakhiri karier Gajah Mada sebagai Mahapatih kerajaan Majapahit. Bangunan Candi bentar, Gapura Bajang Ratu serta Candi Kalasan ditampilkan secara visual pada misi Gajah Mada. Gajah Mada juga muncul di Age of Empires II Definitive Edition yang dirilis pada November 2019.
  • Bendera Majapahit, Getih-Getah Samudra atau Gula Kelapa, ada dalam Age of Empires III Definitive Edition (rilis Oktober 2020) sebagai bendera untuk Indonesia, sebuah negara revolusioner yang hadir bagi peradaban Belanda dan Portugis. Sebuah unit bernama Cetbang Cannon tersedia untuk Indonesia.

Catatan

sunting
  1. ^ Literatur istana yang terpengaruh budaya India menggunakan nama Sanskerta ini, yang berarti sama dengan kata "Majapahit", contohnya pada Nagarakretagama pupuh 1 bait 2 dan Kidung Harsawijaya. Kadang-kadang juga ditulis secara terbalik sebagai Tiktawilwa, contohnya pada Nagarakretagama pupuh 18 bait 4. Meskipun begitu kekaisaran ini tetap dikenal dengan nama Jawanya, seperti yang dicatat dalam hikayat-hikayat dari Aceh, Banjar, Melayu, Palembang, dan lain-lain.
  2. ^ Tahunnya ditandai dengan candrasengkala "sirna ilang kertaning bumi" (sirna = 0, ilang = 0, kerta = 4, bumi = 1). Berarti tahun 1400 saka atau 1478 masehi.
  3. ^ Salah satu jenis peluru sebar—saat ditembak mengeluarkan semburan api, serpihan dan butiran peluru, dan bisa juga panah. Ciri-ciri proyektil ini adalah pelurunya tidak menutupi keseluruhan lubang laras.[56]
  4. ^ Dadap memiliki 2 arti: Dalam bahasa Indonesia, ia merujuk pada perisai bulat yang terbuat dari kulit atau rotan,[60] sedangkan dalam bahasa Jawa kuno ia merujuk pada pada perisai penangkis panjang dan sempit.[61] Dadap di Jawa sepertinya merujuk pada perisai panjang yang cukup berat, mungkin dengan ujung menonjol. Lihat Jákl 2014, hlm. 77–78.
  5. ^ Untuk arti sodok, lihat Gardner, Gerald Brosseau (1936). Keris and Other Malay Weapons Singapore: Progressive Publishing Company. hlm. 85.
  6. ^ Rampuk kemungkinan berasal dari bahasa Jawa Kuno rampog dan ngrampog, yang artinya “menyerang dalam jumlah besar”. Watang parampogan dalam bahasa Jawa kuno berarti tombak yang digunakan dalam parampogan, yaitu penombakan harimau (rampokan macan).[62]
  7. ^ Kawaca memiliki dua makna. Yang pertama adalah kemeja yang dikenakan oleh para rohaniawan, yang lainnya berarti baju besi. Lihat Nugroho 2011, hlm. 386.
  8. ^ Pordenone menyebutkan bahwa Raja Jawa memerintah atas "tujuh raja yang bermahkota", mungkin merujuk pada Bhattara Saptaprabhu atau tujuh Bhattara atau Bhre (Adipati / Adipati Wanita), yang merupakan tujuh penatua berpengaruh yang memerintah tujuh nagara atau kerajaan daerah, sesuai dengan provinsi Majapahit di Jawa Timur dan Tengah; yaitu Kahuripan, Daha, Tumapel, Wengker, Lasem, Pajang, dan Mataram.
  9. ^ Dengan cara yang sama seperti kostum tradisional tentang bagaimana orang Bali mengenakan sarung tanpa jahitan di pinggangnya atau bagaimana orang Jawa mengenakan kain batik di sekelilingnya pinggang.
  10. ^ Kepala dianggap suci karena menurut orang Jawa di situlah jiwa atau roh bersemayam, kepercayaan dan adat istiadat ini masih dianut di Indonesia modern.
  11. ^ Bhre Wirabhumi sebenarnya adalah gelar: Adipati dari Wirabhumi (Blambangan), nama aslinya tidak diketahui. Ia disebut sebagai Bhre Wirabhumi di Pararaton. Dia menikahi Nagawardhani, keponakan raja.
  12. ^ a b Kusumawardhani (putri raja) menikah dengan Wikramawardhana (keponakan raja), pasangan ini menjadi ahli waris bersama.
  13. ^ Kutipan Hikayat Banjar 1047: "Maka raja Majapahit itu bartambah-tambah kabasarannya, banyak raja-raja yang takluk kapadanya itu: sakaliannya orang tanah Jawa dan Bantan, Jambi, Palembang, Mangkasar, Pahang, Patani dan Bali dan Pasai dan Campa, sampai kapada orang tanah Maningkabau tatkala pada zaman itu sama takluk pada raja Majapahit ...", dan Kutipan Hikayat Banjar 3119: "Tunggul Amatung mangkubuminya Patih Gajah Mada itu, sakaliannya orang besar-besar di tanah Jawa itu sama takluk pada raja Tunggul Amatung itu. Bantan, Jambi, Palembang, Bugis, Mangkasar, Johor, Patani, Pahang, Campa, Maningkabau, Acih, Pasai, sakaliannya nagri itu sama takluk pada raja Tunggul Amatung itu."

Referensi

sunting
  1. ^ D.G.E. Hall (1956). "Problems of Indonesian Historiography". Pacific Affairs. 38 (3/4): 353—359. 
  2. ^ Ricklefs 2008, hlm. 12, 37.
  3. ^ Prapantja, Rakawi, trans. by Theodore Gauthier Pigeaud, Java in the 14th Century, A Study in Cultural History: The Negara-Kertagama by Pakawi Parakanca of Majapahit, 1365 AD (The Hague, Martinus Nijhoff, 1962), vol. 4, hlm. 29. 34; G.J. Resink, Indonesia’s History Between the Myths: Essays in Legal History and Historical Theory (The Hague: W. van Hoeve, 1968), hal. 21.
  4. ^ Taylor, Jean Gelman (2003). Indonesia: Peoples and Histories. New Haven and London: Yale University Press. hlm. 29. ISBN 0-300-10518-5. 
  5. ^ Ricklefs 2008, hlm. 36-37.
  6. ^ Johns, A.H. (1964). "The Role of Structural Organisation and Myth in Javanese Historiography". The Journal of Asian Studies. 24 (1): 91–99. 
  7. ^ Nagarakretagama Diakui sebagai Memori Dunia, kompas.com
  8. ^ a b c M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, Edisi ke-3. Diterjemahkan oleh S. Wahono dkk. Jakarta: Serambi, 2005, hal. 55.
  9. ^ C. C. Berg. Het rijk van de vijfvoudige Buddha (Verhandelingen der Koninklijke Nederlandse Akademie van Wetenschappen, Afd. Letterkunde, vol. 69, no. 1) Ansterdam: N.V. Noord-Hollandsche Uitgevers Maatschappij, 1962; cited in M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia Since c. 1300, 2nd ed. Stanford: Stanford University Press, 1993, pages 18 and 311
  10. ^ a b Ricklefs 2008, hlm. 36.
  11. ^ https://web.archive.org/web/20131031000713/http://www.tempo.co/read/news/2010/07/01/061260022/Indonesia-Jepang-Buat-Kapal-Majapahit/ Tempo/
  12. ^ https://web.archive.org/web/20230410024016/https://sains.kompas.com/read/2012/12/05/19045066/majapahit-jajah-hingga-semenanjung-malaya. Kompas/
  13. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-06-10. Diakses tanggal 2013-05-15. 
  14. ^ a b Setiono, Benny. "Kehancuran dan Kebangkitan Martabat/ Jati Diri Etnis Tionghoa Di Indonesia (bagian 1)". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-06-03. Diakses tanggal 16 Juni. 
  15. ^ David Bor - Khubilai khan and Beautiful princesses of Tumapel 2006
  16. ^ a b Mulyana 2006, hlm. 122
  17. ^ Groeneveldt, W.P. Historical Notes on Indonesia and Malaya: Compiled from Chinese Sources. Djakarta: Bhratara, 1960.
  18. ^ a b c Slamet Muljana. Menuju Puncak Kemegahan (LKIS, 2005)
  19. ^ Komandoko 2009, hlm. 16
  20. ^ Cribb & Kahin, Historical Dictionary of Indonesia, 139.
  21. ^ Yule, Henry (1916). "IV. Ibn Battuta's travels in Bengal and China". Cathay and the Way Thither (Volume 4). London: Hakluyt Society. hlm. 1–106. 
  22. ^ a b Gibb, H.A.R.; Beckingham, C.F., ed. (1994), The Travels of Ibn Baṭṭūṭa, A.D. 1325–1354 (Volume 4), London: Hakluyt Society, ISBN 978-0-904180-37-4 
  23. ^ Bade, David W. (2013), Of Palm Wine, Women and War: The Mongolian Naval Expedition to Java in the 13th Century, Singapore: Institute of Southeast Asian Studies 
  24. ^ Kartodirdjo, 700 Tahun Majapahit Suatu Bunga Rampai, 57.
  25. ^ John N. Miksic, Archaeological Research on the Forbidden Hill of Singapore, 1985
  26. ^ Nicholas Tarling, ed., The Cambridge History of Southeast Asia, 1999: 175
  27. ^ Purwadi, The History of Javanese Kings, 79.
  28. ^ Muljana, Negarakertagama dan terjemahanya, 135.
  29. ^ Gatot Astriantha , Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia (Surabaya: Bima Peraga Nusantara, 2010), 30
  30. ^ Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, 31.
  31. ^ Renville Siagian, Candi Sebagai Warisan Seni dan Budaya Indonesia (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2001), 137.
  32. ^ Muljana, Negara kertagama dan Terjemahanya. 141.
  33. ^ a b Poesponegoro, M.D., Notosusanto, N. (editor utama). Sejarah Nasional Indonesia. Edisi ke-4. Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka, 1990, hal. 436.
  34. ^ Slamet Muljana, Negarakertagama dan Terjemahanya, 279.
  35. ^ a b Groeneveldt, Willem Pieter (1876). "Notes on the Malay Archipelago and Malacca, Compiled from Chinese Sources". Batavia: W. Bruining.
  36. ^ (Indonesia) Muljana, Slamet (2005). Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. PT LKiS Pelangi Aksara. hlm. 63. ISBN 9798451163. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2024-02-20. Diakses tanggal 2012-06-12. ISBN 978-979-8451-16-4
  37. ^ Ricklefs (2005), hal. 57.
  38. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-11-29. Diakses tanggal 2023-05-11. 
  39. ^ a b c Poesponegoro & Notosusanto (1990), hal. 448-451.
  40. ^ a b c d e f g h i j Cortesão, Armando (1944). The Suma oriental of Tomé Pires : an account of the East, from the Red Sea to Japan, written in Malacca and India in 1512-1515 ; and, the book of Francisco Rodrigues, rutter of a voyage in the Red Sea, nautical rules, almanack and maps, written and drawn in the East before 1515 volume I. London: The Hakluyt Society. ISBN 9784000085052.    Artikel ini memuat teks dari sumber tersebut, yang berada dalam ranah publik.
  41. ^ a b c d Ricklefs, Merle Calvin (2008). A History of Modern Indonesia Since c. 1200 Fourth Edition (E-Book version). New York: Palgrave Macmillan. ISBN 9780230546851. 
  42. ^ Robert W. Hefner (1983). "Ritual and Cultural Reproduction in Non-Islamic Java". American Ethnologist. 10 (1983): 665––683. doi:10.1525/ae.1983.10.4.02a00030. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-04-07. Diakses tanggal 2008-10-23. 
  43. ^ Poesponegoro, Marwati Djoened; Notosusanto, Nugroho (2019) [2008]. Sejarah Nasional Indonesia Edisi Pemutakhiran Jilid 3: Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
  44. ^ a b c d e f g Jákl, Jiří (2014). Literary Representations of War and Warfare in Old Javanese Kakawin Poetry (Tesis). The University of Queensland. 
  45. ^ Bankoff, Greg; Swart, Sandra (2007). "1. Breeds of Empire and the 'Invention' of the Horse". Breeds of Empire: The 'Invention' of the Horse in Southern Africa and Maritime Southeast Asia, 1500–1950. 42 (NIAS studies in Asian topics). Copenhagen: NIAS. hlm. 1–20. ISBN 978-8-7769-4014-0. 
  46. ^ Wales, H. G. Quaritch (1952). Ancient South-East Asian Warfare. London: Bernard Quaritch. 
  47. ^ a b Berg, C.C. (1930). Rangga Lawe: Middeljavaansche Historische Roman: Critisch uitgegeven. Batavia: Kon. Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Bibliotheca Javanica, 1).
  48. ^ Miksic, John M. (2013). Singapore and the Silk Road of the Sea, 1300-1800. NUS Press. ISBN 9789971695583. 
  49. ^ Miksic, John N.; Goh, Geok Yian (2017). Ancient Southeast Asia. London: Routledge. 
  50. ^ a b Munoz, Paul Michel (2006). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Singapore: Editions Didier Millet. ISBN 981-4155-67-5. 
  51. ^ Kheng, Cheah Boon; Ismail, Abdul Rahman Haji, eds. (1998). Sejarah Melayu The Malay Annals MS RAFFLES No. 18 Edisi Rumi Baru/New Romanised Edition. Academic Art & Printing Services Sdn. Bhd. hlm. 118-119: "Setelah Betara Majapahit mendengar bunyi surat bendahari raja Singapura itu, maka baginda pun segera menyuruh berlengkap tiga ratus buah jong, lain daripada itu kelulus, pilang, jongkong, tiada terbilang lagi banyaknya; maka dua keti rakyat Jawa yang pergi itu; maka segala rakyat Jawa pun pergilah. Setelah datang ke Singapura, maka berparanglah dengan orang Singapura."
  52. ^ Nugroho 2011, hlm. 182.
  53. ^ Lombard, Denys (2005). Nusa Jawa: Silang Budaya, Bagian 2: Jaringan Asia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 208.
  54. ^ Reid, Anthony (2011). Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid II: Jaringan Perdagangan Global. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hal. 255.
  55. ^ Pramono, Djoko (2005). Budaya Bahari. Gramedia Pustaka Utama. ISBN 9789792213768. 
  56. ^ Needham, Joseph (1986). Science and Civilisation in China, Volume 5: Chemistry and Chemical Technology, Part 7, Military Technology: The Gunpowder Epic. Cambridge: Cambridge University Press. Hal. 9 dan 220.
  57. ^ a b Averoes, Muhammad (2020). Antara Cerita dan Sejarah: Meriam Cetbang Majapahit. Jurnal Sejarah, 3(2), 89 - 100.
  58. ^ a b Manguin, Pierre-Yves (1976). "L'Artillerie legere nousantarienne: A propos de six canons conserves dans des collections portugaises". Arts Asiatiques. 32: 233–268. 
  59. ^ Manguin, Pierre-Yves (2012). Lancaran, Ghurab and Ghali. Dalam G. Wade & L. Tana (Ed.), Anthony Reid and the Study of the Southeast Asian Past (hlm. 146–182). Singapore: ISEAS Publishing.
  60. ^ Departemen Pendidikan Nasional (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Dapat diakses secara daring di https://web.archive.org/web/20230331080325/https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/dadap
  61. ^ Zoetmulder, Petrus Josephus (1982). Old Javanese-English dictionary. The Hague: Martinus Nijhoff. hlm. 345
  62. ^ Zoetmulder, Petrus Josephus (1982). Old Javanese-English dictionary. The Hague: Martinus Nijhoff. h. 1499.
  63. ^ Ras, Johannes Jacobus, 1968, Hikayat Bandjar. A Study in Malay Historiography. The Hague (Bibliotheca Indonesica, 1)
  64. ^ Nugroho 2011, hlm. 204-205.
  65. ^ Oktorino, Nino (2020). Hikayat Majapahit - Kebangkitan dan Keruntuhan Kerajaan Terbesar di Nusantara. Jakarta: Elex Media Komputindo. ISBN 978-623-00-1741-4. 
  66. ^ Nugroho 2011, hlm. 202, 386.
  67. ^ Nugroho 2011, hlm. 321.
  68. ^ Nugroho 2011, hlm. 202.
  69. ^ a b Nugroho, Irawan Djoko (6 Agustus 2018). "Baju Baja Emas Gajah Mada". Nusantara Review. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-04-05. Diakses tanggal 14 Agustus 2019. 
  70. ^ a b Berg, Kindung Sundāyana (Kidung Sunda C), Soerakarta, Drukkerij “De Bliksem”, 1928.
  71. ^ a b Berg, C. C., 1927, Kidung Sunda. Inleiding, tekst, vertaling en aanteekeningen, BKI LXXXIII : 1-161.
  72. ^ Mayers (1876). "Chinese explorations of the Indian Ocean during the fifteenth century". The China Review. IV: hlm. 178.
  73. ^ Crawfurd, John (1856). A Descriptive Dictionary of the Indian Islands and Adjacent Countries. Bradbury and Evans. 
  74. ^ Jiang, Sun (2018). 重审中国的“近代”:在思想与社会之间 (Reexamining China's "Modern Times": Between Thought and Society). 社会科学文献出版社 (Social Science Literature Publishing House). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-04-21. Diakses tanggal 2023-04-13. 费信《星栏胜览》称爪哇"古名阁婆,地广人稠,实甲兵器械,乃为东洋诸蓄之冲要"。[16]严从简《殊域周咨录》则谓"其国地广人稠,甲兵火统为东洋诸善之雄"。[17]明末张堂《东西洋考》亦说下港(爪哇)"甲兵为诸番之雄"。[18] 
  75. ^ Xin, Fei (1436). Xingcha Shenglan (星槎勝覽, The Overall Survey of the Star Raft). hlm. 25–26. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-04-18. Diakses tanggal 2023-04-13. 25 爪哇國(自占城起程,順風二十晝夜可至其國)26 古名闍婆,地廣人稠,實甲兵器械,乃為東洋諸番之衝要。舊傳鬼子魔天,正於此地,與一罔象青面紅身赤髮相合。凡生子百餘,常食啖人血肉。佛書所云鬼國,其中只此地也。人被啖幾盡,忽一曰雷震石裂,中坐一人,眾稱異之,遂為國主,即領兵驅逐罔象,而不為害。後複生齒而安業,乃至今國之移文,後書一千三百七十六年。考之肇啟漢初,傳至我宣德七年。 
  76. ^ Hesheng, Zheng; Yijun, Zheng (1980). 郑和下西洋资料汇编 (A Compilation of Materials on Zheng He's Voyages to the West) Volume 2, Part 1. 齐鲁书社 (Qilu Publishing House). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-04-20. Diakses tanggal 2023-04-13. 《海国广记·爪哇制度》有文字,知星历。其国地广人稠,甲兵火铳为东洋诸番之雄。其俗尚气好斗,生子一岁,便以匕首佩之。刀极精巧,名日扒刺头,以金银象牙雕琢人鬼为靶。男子无老幼贫富皆佩,若有争置,即拔刀相刺,盖杀人当时拿获者抵死,逃三日而出,则不抵死矣。 
  77. ^ Congjian, Yan (1583). 殊域周咨錄 (Shuyu Zhouzilu) 第八卷真臘 (Volume 8 Chenla). hlm. 111. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-04-17. Diakses tanggal 2023-04-13. 其國地廣人稠,甲兵火銃,為東洋諸番之雄。其俗尚氣好鬥。 
  78. ^ Wenbin, Yan, ed. (2019). 南海文明圖譜:復原南海的歷史基因◆繁體中文版 (Map of South China Sea Civilization: Restoring the Historical Gene of the South China Sea. Traditional Chinese Version). Rúshì wénhuà. hlm. 70. ISBN 9789578784987. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-04-24. Diakses tanggal 2023-04-20. 《海國廣記》記載,爪哇「甲兵火銃為東洋諸蕃之冠」。 
  79. ^ a b Stanley, Henry Edward John (1866). A Description of the Coasts of East Africa and Malabar in the Beginning of the Sixteenth Century by Duarte Barbosa. The Hakluyt Society. 
  80. ^ Partington, J. R. (1999). A History of Greek Fire and Gunpowder (dalam bahasa Inggris). JHU Press. ISBN 978-0-8018-5954-0. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2024-02-20. Diakses tanggal 2020-05-13. 
  81. ^ Jones, John Winter (1863). The travels of Ludovico di Varthema in Egypt, Syria, Arabia Deserta and Arabia Felix, in Persia, India, and Ethiopia, A.D. 1503 to 1508. Hakluyt Society. 
  82. ^ Wade, G., 2009, “The horse in Southeast Asia prior to 1500 CE: Some vignettes,” in: B. G. Fragner, R. Kauz, R. Ptak and A. Schottenhammer (eds), Pferde in Asien: Geschichte, Handel und Kultur/Horses in Asia: History, Trade and Culture. Vienna, Verlag der Österreichischen Akademie der Wissenschaften: 161-177.
  83. ^ Teeuw, A. and S. O. Robson (2005). Bhomāntaka. The Death of Bhoma. Leiden: KITLV Press. ISBN 9789067182539. 
  84. ^ Jákl, Jiří (2014a). "The Whale in Old Javanese kakawin: timiṅgila, 'elephant fish', and lĕmbwara revisited". Pandanus (dalam bahasa Inggris). 14 (2): 103–118. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-04-06. Diakses tanggal 2020-05-13. 
  85. ^ Ptak, Roderich (1999). China’s Seaborne Trade with South and Southeast Asia, 1200-1750. Ashgate. ISBN 9780860787761. 
  86. ^ Jákl, Jiří (2016-05-15). "The Loincloth, Trousers, and Horse-riders in Pre-Islamic Java: Notes on the Old Javanese Term Lañciṅan". Archipel (91): 185–202. doi:10.4000/archipel.312. ISSN 0044-8613. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2024-02-20. Diakses tanggal 2022-09-07. 
  87. ^ de Jong Boers, Bernice (2007). "4. The 'Arab' of the Indonesian Archipelago: The Famed Horse Breeds of Sumbawa". Breeds of Empire: The 'Invention' of the Horse in Southern Africa and Maritime Southeast Asia, 1500–1950. 42 (NIAS studies in Asian topics). Copenhagen: NIAS. hlm. 51–64. ISBN 978-8-7769-4014-0. 
  88. ^ Nugroho 2011, hlm. 178-179.
  89. ^ Muljana, Raden Benedictus Slamet (1979). Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Bhratara Karya Aksara. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-04-05. Diakses tanggal 2022-10-17. 
  90. ^ Pigeaud 1960c, hlm. 19.
  91. ^ a b Nugroho (2011). h. 286, mengutip Hikayat Raja-Raja Pasai", 3: 98: "Sa-telah itu, maka di-suroh baginda musta'idkan segala kelengkapan dan segala alat senjata peperangan akan mendatangi negeri Pasai itu, sa-kira-kira empat ratus jong yang besar-besar dan lain daripada itu banyak lagi daripada malangbang dan kelulus.". Juga lihat Hill, A. H. (Juni 1960). "Hikayat Raja-Raja Pasai". Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society. 33: h. 98 dan 157: Then he directed them to make ready all the equipment and munitions of war needed for an attack on the land of Pasai - about four hundred of the largest junks, and also many barges (malangbang) and galleys.
  92. ^ Tulisan dari peta Fra Mauro, 10-A13, bahasa Italia aslinya: "Circa hi ani del Signor 1420 una naue ouer çoncho de india discorse per una trauersa per el mar de india a la uia de le isole de hi homeni e de le done de fuora dal cauo de diab e tra le isole uerde e le oscuritade a la uia de ponente e de garbin per 40 çornade, non trouando mai altro che aiere e aqua, e per suo arbitrio iscorse 2000 mia e declinata la fortuna i fece suo retorno in çorni 70 fina al sopradito cauo de diab. E acostandose la naue a le riue per suo bisogno, i marinari uedeno uno ouo de uno oselo nominato chrocho, el qual ouo era de la grandeça de una bota d'anfora." [1]
  93. ^ Averoes, Muhammad (2022). "Re-Estimating the Size of Javanese Jong Ship". HISTORIA: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah. 5 (1): 57–64. 
  94. ^ Lombard, Denys (2005). Nusa Jawa: Silang Budaya, Bagian 2: Jaringan Asia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Terjemahan bahasa Indonesia dari Lombard, Denys (1990). Le carrefour javanais. Essai d'histoire globale (The Javanese Crossroads: Towards a Global History) vol. 2. Paris: Éditions de l'École des Hautes Études en Sciences Sociales.
  95. ^ Manguin, Pierre-Yves (September 1980). "The Southeast Asian Ship: An Historical Approach". Journal of Southeast Asian Studies. 11 (2): 266–276. doi:10.1017/S002246340000446X. JSTOR 20070359. 
  96. ^ Nugroho (2011). hlm. 271, 399–400, mengutip Sejarah Melayu, 5.4: 47: "Maka betara Majapahitpun menitahkan hulubalangnya berlengkap perahu akan menyerang Singapura itu, seratus buah jung; lain dari itu beberapa melangbing dan kelulus, jongkong, cerucuh, tongkang, tiada terhisabkan lagi banyaknya."
  97. ^ Nugroho (2011). hlm. 271, 399–400, mengutip Sejarah Melayu, 10.4: 77: "... maka bagindapun segera menyuruh berlengkap tiga ratus buah jung, lain dari pada itu kelulus, pelang, jongkong, tiada terbilang lagi."
  98. ^ Cortesão, Armando (1944). The Suma oriental of Tomé Pires : an account of the East, from the Red Sea to Japan, written in Malacca and India in 1512-1515 ; and, the book of Francisco Rodrigues, rutter of a voyage in the Red Sea, nautical rules, almanack and maps, written and drawn in the East before 1515 volume II. London: The Hakluyt Society.    Artikel ini memuat teks dari sumber tersebut, yang berada dalam ranah publik.
  99. ^ Nugroho 2011, hlm. 266-267.
  100. ^ Nugroho, Irawan Djoko (30 Juli 2018). "Replika Kapal Majapahit, Replika Untuk Menghancurkan Sejarah Bangsa". Nusantara Review. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-06-25. Diakses tanggal 14 Agustus 2020. 
  101. ^ a b Jones, John Winter (1863). The travels of Ludovico di Varthema in Egypt, Syria, Arabia Deserta and Arabia Felix, in Persia, India, and Ethiopia, A.D. 1503 to 1508. Hakluyt Society. 
  102. ^ Liebner, Horst H. (2005), "Perahu-Perahu Tradisional Nusantara: Suatu Tinjauan Perkapalan dan Pelayaran", dalam Edi, Sedyawati, Eksplorasi Sumberdaya Budaya Maritim, Jakarta: Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumber Daya Nonhayati, Badan Riset Kelautan dan Perikanan; Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Universitas Indonesia, hlm. 53–124, diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-19, diakses tanggal 2022-11-22 
  103. ^ Suarez, Thomas (2012). Early Mapping of Southeast Asia: The Epic Story of Seafarers, Adventurers, and Cartographers Who First Mapped the Regions Between China and India. Tuttle Publishing.
  104. ^ a b Olshin, Benjamin B. (1996). "A sixteenth century Portuguese report concerning an early Javanese world map". História, Ciências, Saúde-Manguinhos. 2 (3): 97–104. doi:10.1590/s0104-59701996000400005. ISSN 0104-5970. Archived from the original on 2023-11-17. Diakses tanggal 2023-10-19. 
  105. ^ "Teknologi Era Majapahit". Nusantara Review (dalam bahasa Inggris). 2018-10-02. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-09-24. Diakses tanggal 2020-06-11. 
  106. ^ Carta IX, 1 April 1512. Dalam Pato, Raymundo Antonio de Bulhão (1884). Cartas de Affonso de Albuquerque, Seguidas de Documentos que as Elucidam tomo I (pp. 29–65). Lisboa: Typographia da Academia Real das Sciencas. hlm. 64.
  107. ^ Manguin, Pierre-Yves (1993). 'The Vanishing Jong: Insular Southeast Asian Fleets in Trade and War (Fifteenth to Seventeenth Centuries)', dalam Anthony Reid (ed.), Southeast Asia in the Early Modern Era (Ithaca: Cornell University Press), hlm. 197-213.
  108. ^ Stanley, Henry Edward John (1866). A Description of the Coast of East Africa and Malabar in the Beginning of the Sixteenth Century by Duarte Barbosa. The Hakluyt Society.
  109. ^ Nugroho 2011, hlm. 289-290.
  110. ^ a b c Millet, Didier (August 2003). John Miksic, ed. Indonesian Heritage Series: Ancient History. Singapore 169641: Archipelago Press. hlm. 107. ISBN 981-3018-26-7. 
  111. ^ a b Hall, Kenneth R. (1996). "Ritual Networks and Royal Power in Majapahit Java". Archipel. 52: 95–118. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-06-26. Diakses tanggal 2023-09-29. 
  112. ^ Ricklefs 2008, hlm. 37.
  113. ^ a b Adrisijanti, Inajati (2014). Majapahit: Batas Kota dan Jejak Kejayaan di Luar Kota (PDF). Yogyakarta: Kepel Press. ISBN 978-602-1228-70-8. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 13 March 2021. Diakses tanggal 15 March 2020.  Alt URL
  114. ^ a b Manguin, Pierre-Yves; Nicholl, Robert (1985). "The Introduction of Islam into Champa". Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society. 58 (1): 1–28. 
  115. ^ a b c Schoppert, P., Damais, S. (1997). Di dalam Didier Millet (editor):, ed. Java Style. Paris: Periplus Editions. hlm. 33–34. ISBN 962-593-232-1. 
  116. ^ a b Yule, Sir Henry (1866). Cathay and the way thither: Being a Collection of Medieval Notices of China vol. 1. London: The Hakluyt Society. 
  117. ^ a b c d e f g Ma Huan; JVG Mills (1970). "Ying-yai Sheng-lan, The Overall Survey of the Ocean's Shores" (PDF). Washington.edu. hlm. 86–97 (Country of Chao–Wa). Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 23 December 2021. Diakses tanggal 5 November 2015.  Alt URL
  118. ^ a b c d e f g h i j k l Ma Huan (1970) [1433]. Ying-yai Sheng-lan (瀛涯胜览) The Overall Survey of the Ocean's Shores. Hakluyt Society (dalam bahasa Inggris). translated by J.V.G Mills. Cambridge University Press. ISBN 9780521010320. 
  119. ^ Ricklefs, Merle Calvin (1993). A history of modern Indonesia since c. 1300 (edisi ke-2nd). Stanford University Press / Macmillans. ISBN 9780804721950. 
  120. ^ Utomo, Yunanto Wiji (2017-06-22). "Agama Gajah Mada dan Majapahit yang Sebenarnya Akhirnya Diungkap". KOMPAS.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2024-02-20. Diakses tanggal 2022-11-19. 
  121. ^ a b c Ann R. Kinney; Marijke J. Klokke; Lydia Kieven (2003). Worshiping Siva and Buddha: The Temple Art of East Java. University of Hawaii Press. ISBN 9780824827793. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2024-02-20. Diakses tanggal 2023-09-30. 
  122. ^ Santiko, Hariani. "Agama Dan Pendidikan Agama Pada Masa Majapahit". Jurnal Arkeologi, Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-08-28. Diakses tanggal 2023-09-30. 
  123. ^ Kate O'Brien; Petrus Josephus Zoetmulder, ed. (2008). Sutasoma: The Ancient Tale of a Buddha-Prince from 14th Century Java by the Poet Mpu Tantular. Orchid Press. ISBN 9789745241077. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2024-02-20. Diakses tanggal 2023-09-30. 
  124. ^ Colless, Brian E. (September 1968). "Giovanni de' Marignolli: An Italian Prelate at the Court of the South-East Asian Queen of Sheba". Journal of Southeast Asian History. 9 (2): 325–341. doi:10.1017/s0217781100004737. ISSN 0217-7811. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2024-02-20. Diakses tanggal 2023-09-30. 
  125. ^ a b Nugroho, Irawan Djoko (16 Mei 2022). "Kampung Majapahit Salah Desain Salah Konsep". Nusantara Review. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-04-01. Diakses tanggal 30 September 2023. 
  126. ^ Yang, Shao-yun (15 Juni 2020). "A Chinese Gazetteer of Foreign Lands: A new translation of Part 1 of the Zhufan zhi 諸蕃志 (1225)". Storymaps. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-02-01. Diakses tanggal 19 Oktober 2023. 
  127. ^ Nugroho 2011, hlm. 138.
  128. ^ Made Wijaya (2014). Majapahit Style Vol.1. Wijaya Words - a division of Yayasan Beringin Berapi. ISBN 9786027136700. [pranala nonaktif permanen]
  129. ^ "Uang Kuno Temuan Rohimin Peninggalan Majapahit". Kompas.com. 2008. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-04-27. Diakses tanggal 2023-04-22. 
  130. ^ Millet, Didier (Hardcover edition — August 2003). John Miksic, ed. Indonesian Heritage Series: Ancient History. Singapore 169641: Archipelago Press. hlm. 107. ISBN 981-3018-26-7. 
  131. ^ Groeneveldt, Willem Pieter (1896). "Supplementary Jottings to the "Notes on the Malay Archipelago and Malacca Compiled from Chinese Sources" by W. P. Groeneveldt". T'oung Pao. 7: 113–134. doi:10.1163/156853296X00131. 
  132. ^ Poesponegoro & Notosusanto (1990), hal. 434-435.
  133. ^ Poesponegoro & Notosusanto (1990), hal. 431-432.
  134. ^ Poesponegoro & Notosusanto (1990), hal. 220.
  135. ^ Nugroho 2011, hlm. 56-60, 286-291.
  136. ^ Nugroho 2011, hlm. 233-234, 239-241.
  137. ^ Poesponegoro & Notosusanto (1990), hal. 451-456.
  138. ^ Nugroho 2009, hlm. 142.
  139. ^ Nugroho 2009, hlm. 128-129.
  140. ^ Berg, C.C. (1927). Kidung Sunda. Inleiding, tekst, vertaling en aanteekeningen. BKI 83: 1–161.
  141. ^ Nugroho 2009, hlm. 136-138.
  142. ^ Nugroho 2011, hlm. 152.
  143. ^ Nastiti, Titi Surti. Prasasti Majapahit, dalam situs www.Majapahit-Kingdom.com dari Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala. Jumat, 22 Juni 2007.
  144. ^ Nugroho 2011, hlm. 36-37.
  145. ^ Suyami; Sumarno. Refleksi Nilai Budaya Jawa dalam Serat Calon Arang versi R. Wiradat. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya. hlm. 1–3, 66–67. 
  146. ^ Nugroho 2009, hlm. 140.
  147. ^ Ras, Johannes Jacobus (1968), Hikajat Bandjar: A Study in Malay Historiography, The Hague: Martinus Nijhoff, hlm. 1047, 3119 
  148. ^ "Materials for the Medieval History of Indonesia". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-06-21. Diakses tanggal 2019-02-15. 
  149. ^ Dellios, Rosita (2003-1-1). "Mandala: from sacred origins to sovereign affairs in traditional Southeast Asia" (dalam bahasa Inggris). Bond University Australia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-04-20. Diakses tanggal 2011-12-11. 
  150. ^ "Sejarah Kerajaan Majapahit: Asal-usul, Tokoh Penting, Kejayaan, Keruntuhan, hingga Peninggalan". SINDOnews Daerah. Diakses tanggal 2024-02-23. 
  151. ^ a b c Pigeaud, Theodoor Gautier Thomas (1962). Java in the 14th Century: A Study in Cultural History, Volume IV: Commentaries and Recapitulations (edisi ke-3 (revisi)). The Hague: Martinus Nijhoff. ISBN 978-94-017-7133-7. 
  152. ^ a b Nugroho, Irawan Djoko (2009). Meluruskan Sejarah Majapahit. Ragam Media. 
  153. ^ Nugroho 2011, hlm. 141-142.
  154. ^ Reid, Anthony. Southeast Asia in the Age of Commerce. Vol 2: Expansion and Crisis. New Haven: Yale University Press, 1993. p211n.
  155. ^ Gordon, Alijah (2001). The Propagation of Islam in the Indonesian-Malay Archipelago. Malaysian Sociological Research Institute. hlm. 316. ISBN 9789839986624. 
  156. ^ Bullough, Nigel (1995). P. H., Mujiyono, ed. Historic East Java: Remains in Stone. Jakarta: ADLine Communications. hlm. 116–117. 
  157. ^ Mulyana, Slamet (2006). Tafsir sejarah nagarakretagama (dalam bahasa Indonesia). PT LKiS Pelangi Aksara. hlm. 173 – 209. ISBN 978-979-2552-546. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2024-02-20. Diakses tanggal 2012-06-19. 
  158. ^ Mulyana, Slamet (2006). Tafsir sejarah nagarakretagama (dalam bahasa Indonesia). PT LKiS Pelangi Aksara. hlm. 173 – 209. ISBN 978-979-2552-546. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2024-02-20. Diakses tanggal 2012-06-19. 
  159. ^ Munandar AA. 2004. KARYA SASTRA JAWA KUNO YANG DIABADIKAN PADA RELIEF CANDI-CANDI ABAD KE-13—15 M. MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 8, NO. 2, AGUSTUS 2004: 54-60.
  160. ^ Ricklefs, hal. 363
  161. ^ Friend, Theodore (2003). Indonesian Destinies. Cambridge, Massachusetts and London: Belknap Press, Harvard University Press. hlm. p.19. ISBN 0-674-01137-6. 
  162. ^ "Kerajaan Majapahit". Sejarah Kerajaan. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-04-10. Diakses tanggal 8 August 2021. 

Daftar pustaka

sunting
  • Hall, D.G.E. (1981). A History of South-East Asia (edisi ke-4th). London: The Macmillan Press Ltd. ISBN 978-1-349-16521-6. 
  • Komandoko, Gamal (2009). Gajah Mada: menangkis ancaman pemberontakan Ra Kuti: kisah ketangguhan seorang patih Majapahit dalam menjaga keutuhan takhta sang raja (dalam bahasa Indonesia). Penerbit Narasi. hlm. 122. ISBN 978-979-168-145-2. 
  • Muljana, Raden Benedictus Slamet (2005). Al-Fayyadl, Muhammad, ed. Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit. Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara. 
  • Mulyana, Slamet (2006). Tafsir sejarah nagarakretagama (dalam bahasa Indonesia). PT LKiS Pelangi Aksara. hlm. 122. ISBN 978-979-2552-546. 
  • Nugroho, Irawan Djoko (2009). Meluruskan Sejarah Majapahit. Ragam Media. 
  • Nugroho, Irawan Djoko (2011). Majapahit Peradaban Maritim. Suluh Nuswantara Bakti. ISBN 978-602-9346-00-8. 
  • Pigeaud, Theodoor Gautier Thomas (1960a). Java in the 14th Century: A Study in Cultural History, Volume I: Javanese Texts in Transcription (edisi ke-3rd (revised)). The Hague: Martinus Nijhoff. 
  • Pigeaud, Theodoor Gautier Thomas (1960b). Java in the 14th Century: A Study in Cultural History, Volume II: Notes on the Texts and the Translations (edisi ke-3rd (revised)). The Hague: Martinus Nijhoff. ISBN 978-94-011-8774-9. 
  • Pigeaud, Theodoor Gautier Thomas (1960c). Java in the 14th Century: A Study in Cultural History, Volume III: Translations (edisi ke-3rd (revised)). The Hague: Martinus Nijhoff. ISBN 978-94-011-8772-5. 
  • Pigeaud, Theodoor Gautier Thomas (1962). Java in the 14th Century: A Study in Cultural History, Volume IV: Commentaries and Recapitulations (edisi ke-3rd (revised)). The Hague: Martinus Nijhoff. ISBN 978-94-017-7133-7. 
  • Pigeaud, Theodoor Gautier Thomas (1963). Java in the 14th Century: A Study in Cultural History, Volume V: Glossary, General Index (edisi ke-3rd (revised)). The Hague: Martinus Nijhoff. ISBN 978-94-011-8778-7. 
  • Prapanca, Mpu (2018). Isidora, ed. Kakawin Nagarakertagama: Teks Asli dan Terjemahan. Diterjemahkan oleh Saktiani, Damaika; Widya, Kartika; Aminullah, Zakaria Pamuji; Marginingrum, Novi; Septi, Neda (edisi ke-2nd (revised)). Yogyakarta: Narasi. ISBN 978-979-168-553-5. 

Lihat pula

sunting

Pranala luar

sunting
Didahului oleh:
Kerajaan Tumapel
Kerajaan Hindu-Budha
1293–1527
Diteruskan oleh:
Demak