Buddhisme

agama dari anak benua India
(Dialihkan dari Agama Buddha)

Buddhisme (Pali: Buddhadhamma, Buddhasāsana; Sanskerta: Buddhadharma),[1][2] dikenal juga sebagai Agama Buddha, Buddha Dhamma, atau Dhammavinaya, adalah suatu agama darmik dan sebuah tradisi filosofis yang berlandaskan kepada ajaran Siddhartha Gautama.[3] Buddhisme merupakan agama dengan pengikut terbanyak keempat di dunia,[4][5] dengan lebih dari 520 juta pengikut, dikenal sebagai Buddhis, yang mencakup tujuh persen dari populasi global.[6][7] Buddhisme juga meliputi beragam ilmu, nilai tradisi, filosofi, kepercayaan, meditasi, dan praktik spiritual yang sebagian besar berdasarkan pada ajaran-ajaran awal yang dikaitkan dengan Siddhartha Gautama dan menghasilkan filsafat yang ditafsirkan. Buddhisme lahir di India kuno sebagai suatu tradisi Sramana sekitar antara abad ke-6 dan 4 SM, menyebar ke sebagian besar Asia. Penyebaran Buddhisme di Asia dimulai sejak abad ke-4 SM hingga abad ke-6 SM.

Buddhisme
Buddhasāsana
Pohon Bodhi di Bodh Gaya, India, markah suci umat Buddha
JenisAgama universal
PenggolonganDarmik
Kitab suciTripitaka
TeologiNonteisme
BahasaPāli, Sanskerta, Prakerta Magadhi, Tionghoa Klasik, Tibet
DaerahBuddhis
PendiriSiddhattha Gotama
Didirikan588 SM
Buddhagayā, Isipatana
PecahanTheravāda, Mahāyāna, Vajrayāna
Umat488 juta (Pew, 2012),
495 juta (Johnson & Grim, 2013),
535 juta (Harvey, 2013)

Sang Buddha dikenal oleh para Buddhis sebagai Sang Maha Guru Agung yang telah sadar atau tercerahkan yang membagikan wawasan-Nya untuk membantu makhluk hidup mengakhiri penderitaan (dukkha) mereka dengan melenyapkan kebodohan batin/delusi (moha), keserakahan (lobha), dan kebencian/kemarahan (dosa). Berakhirnya atau padamnya moha, lobha, dan dosa disebut dengan Nibbāna. Untuk mencapai Nibbāna, seseorang perlu mengikuti Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Dua aliran arus utama Buddhisme yang masih ada dan diakui secara umum oleh para ahli adalah Theravāda ("Aliran Para Sesepuh") dan Mahāyāna ("Kendaraan Agung"). Aliran Vajrayāna dapat dianggap juga sebagai aliran ketiga atau hanya merupakan bagian dari Mahāyāna. Theravāda mempunyai pengikut yang tersebar luas di Sri Lanka, dan Asia Tenggara. Mahāyāna, yang mencakup tradisi Tanah Murni, Zen, Nichiren, Shingon, dan Tiantai (Tiendai) dapat ditemukan di seluruh Asia Timur. Buddhisme Tibet, yang melestarikan ajaran Vajrāyāna dari India abad ke-8,[8] dipraktikkan di wilayah sekitar Himalaya, Mongolia,[9] dan Kalmykia.[10] Jumlah umat Buddha di seluruh dunia diperkirakan antara 488 juta[web 1] dan 535 juta[11], menjadikannya sebagai salah satu agama utama dunia.

Dalam Buddhisme Theravāda, tujuan utamanya adalah pencapaian kebahagiaan tertinggi Nibbāna, yang dicapai dengan mempraktikkan Jalan Mulia Berunsur Delapan (juga dikenal sebagai Jalan Tengah), sehingga melepaskan diri dari apa yang dinamakan sebagai siklus penderitaan dan kelahiran kembali.[12] Buddhisme Mahāyāna, sebaliknya, beraspirasi untuk mencapai Kebuddhaan melalui jalan Bodhisattva, suatu jalan aspirasi untuk tetap berada dalam siklus kelahiran kembali untuk membantu makhluk lainnya mencapai Kecerahan.

Setiap aliran Buddha berpegang kepada Tripitaka sebagai referensi utama karena dalamnya tercatat sabda dan ajaran Buddha Gautama. Pengikut-pengikutnya kemudian mencatat dan mengklasifikasikan ajarannya dalam tiga buku yaitu Sutta Piṭaka ("Keranjang Diskursus"), Vinaya Piṭaka ("Keranjang Disiplin") dan Abhidhamma Piṭaka ("Keranjang Dhamma Luhur"). Versi Tripitaka yang diakui oleh setiap aliran Buddhisme berbeda-beda. Aliran Theravāda mengakui keabsahan Tripitaka Pāli, aliran Mahāyāna mengakui keabsahan Tripitaka Tionghoa, dan aliran Vajrayāna mengakui keabsahan Tripitaka Tibet.

Seluruh naskah aliran Theravāda menggunakan bahasa Pāli, yaitu bahasa yang dipakai di sebagian India (khususnya daerah Utara) pada zaman Sang Buddha. Cukup menarik untuk dicatat, bahwa tidak ada filsafat atau tulisan lain dalam bahasa Pali selain kitab suci agama Buddha Theravāda, yang disebut kitab suci Tipitaka, oleh karenanya, istilah "ajaran agama Buddha berbahasa Pali" sinonim dengan agama Buddha Theravāda. Agama Buddha Theravāda dan beberapa sumber lain berpendapat bahwa Sang Buddha mengajarkan semua ajaran-Nya dalam bahasa Pali di India, Nepal, dan sekitarnya selama 45 tahun terakhir hidup-Nya, sebelum Dia mencapai Parinibbāna.[13]

Seluruh naskah aliran Mahāyāna pada awalnya berbahasa Sanskerta dan dikenal sebagai Tripitaka, kemudian dilestarikan dalam bahasa Tionghoa Klasik. Oleh karena itu, istilah agama Buddha berbahasa Sanskerta dan Tionghoa sinonim dengan agama Buddha Mahāyāna. Bahasa Sanskerta adalah bahasa klasik dan bahasa tertua yang dipergunakan oleh kaum terpelajar di India. Selain naskah agama Buddha Mahāyāna, kita menjumpai banyak catatan bersejarah dan agama, atau naskah filsafat tradisi setempat lainnya ditulis dalam bahasa Sanskerta.[13]

Sejarah

sunting

Akar filosofis

sunting
 
"Gua Tukang Kayu" Buddhis di Ellora, Maharashtra, India

Secara historis, akar Buddhisme terletak pada pemikiran religius dari India kuno selama paruh kedua dari milenium pertama SM.[14] Pada masa tersebut merupakan sebuah periode pergolakan sosial dan keagamaan, dikarenakan ketidakpuasaan yang signifikan terhadap pengorbanan dan rital-ritual dari Brahmanisme Weda[note 1] Tantangan muncul dari berbagai kelompok keagamaan asketis dan filosofis baru yang memungkiri tradisi Brahamanis dan menolak otoritas Weda dan para Brahmana.[note 2][15] Kelompok-kelompok ini, yang anggotanya dikenal sebagai sramana, merupakan kelanjutan dari sebuah untaian pemikiraan India yang bersifat non-Weda, yang terpisah dari Brahmanisme Indo-Arya.[note 3] Para ahli memiliki alasan untuk percaya bahwa ide-ide seperti saṃsāra, karma (dalam hal pengaruh moralitas terhadap kelahiran kembali), dan moksha, berasal dari sramana, dan kemudian diadopsi oleh agama ortodoks Brahmin.[note 4][note 5][note 6][note 7][note 8][note 9]

Pandangan ini didukung oleh penelitian di wilayah di mana gagasan ini berasal. Buddhisme tumbuh di Magadha Raya, yang terletak di sebelah barat laut dari Sravasti, ibu kota Kosala, ke Rajagaha di sebelah tenggara. Negeri ini, di sebelah timur aryavarta, negeri bangsa Arya, yang dikenal sebagai non-Weda.[23] Naskah Weda lainnya mengungkap ketidaksukaan penduduk Magadha, kemungkinannya karena Magadha pada masa tersebut belum mendapat pengaruh Brahmanisme.[24] Sebelum abad ke-2 atau ke-3 SM, penyebaran Brahmanisme ke arah timur memasuki Magadha Raya tidaklah signifikan. Pemikiran-pemikiran yang berkembang di Magadha Raya sebelum abad tersebut tidak tunduk pada pengaruh Weda. Ini termasuk tumimbal lahir dan hukum karma yang muncul dalam sejumlah gerakan di Magadha Raya, termasuk Buddhisme. Gerakan-gerakan ini mewarisi pemikiran tumimbal lahir dan hukum karma dari kebudayaan yang lebih awal.[25]

Pada saat yang sama, gerakan-gerakan ini dipengaruhi dan dalam beberapa hal melanjutkan pemikiran filosofis dalam tradisi Weda, sebagaimana terefleksi misalnya di dalam Upanishad.[26] Gerakan-gerakan ini termasuk, selain Buddhisme, berbagai skeptis (seperti Sanjaya Belatthiputta), atomis (seperti Pakudha Kaccayana), materialis (seperti Ajita Kesakambali), antinomian (seperti Purana Kassapa); aliran-aliran terpenting pada abad ke-5 SM adalah Ajivikas, yang menekankan aturan nasib, Lokayata (materialis), Ajnanas (agnostik) dan Jaina, yang menekankan bahwa jiwa harus dibebaskan dari materi.[27] Banyak gerakan-gerakan baru ini berbagi kosakata konseptual yang sama seperti atman ("diri"), buddha ("yang sadar"), dhamma ("aturan" atau "hukum"), karma ("aksi/perbuatan"), nirvana ("padamnya nafsu"), saṃsāra ("lingkaran penderitaan"), dan yoga ("praktik spiritual").[note 10] Para sramana menolak Weda, dan otoritas brahmana, yang mengklaim mereka memiliki kebenaran terungkap yang tidak bisa diketahui dengan cara manusia biasa mana pun. Selain itu, mereka menyatakan bahwa seluruh sistem Brahmanikal adalah penipuan: sebuah konspirasi para brahmana untuk memperkaya diri mereka sendiri dengan membebankan biaya terlalu tinggi untuk melakukan ritual palsu dan memberikan nasihat tak berguna.[28]

Kritik terutama dari Buddha adalah pengorbanan hewan secara Weda.[web 2] Dia juga menyindir "gita manusia kosmis" dari Weda.[29] Namun, Sang Buddha tidaklah anti-Weda, dan menyatakan bahwa Weda dalam bentuk sejatinya dinyatakan oleh "Kashyapa" kepada resi tertentu, yang melalui pertapaan berat telah memperoleh kekuatan untuk melihat dengan mata ilahi.[30] Dia menamakan para resi Weda, dan menyatakan bahwa Weda orisinil dari para resi[31][note 11] telah diubah oleh beberapa Brahmin yang memperkenalkan pengorbanan hewan. Sang Buddha mengatakan bahwa hal tersebut termasuk dalam pengubahan dari Weda sejati sehingga dia menolak untuk menghormati Weda pada masanya.[32] Namun, dia tidak meninggalkan ikatan dengan Brahman,[note 12] atau gagasan diri menyatu dengan Tuhan.[34] Pada saat yang sama, Hindu tradisional sendiri secara bertahap mengalami perubahan mendalam, bertransformasi menjadi apa yang dikenal sebagai Hindu awal.

Doktrin dasar ajaran Buddha

sunting

Empat Kebenaran Mulia

sunting

Ajaran dasar Buddhisme dikenal sebagai Empat Kebenaran Mulia atau Empat Kebenaran Ariya (Cattāri Ariya Saccāni), yang merupakan aspek yang sangat penting dari ajaran Buddha. Sang Buddha telah berkata bahwa karena kita tidak memahami Empat Kebenaran Ariya, maka kita terus menerus mengitari siklus kelahiran dan kematian. Pada ceramah pertama Sang Buddha, Dhammacakkappavattana Sutta, yang Ia sampaikan kepada lima orang bhikkhu di Taman Rusa di Sarnath, adalah mengenai Empat Kebenaran Ariya dan Jalan Ariya Beruas Delapan.[35]

Empat Kebenaran Ariya tersebut adalah:[36]

  • Kebenaran Ariya tentang Dukkha (Dukkha Ariya Sacca)

Pada umumnya dukkha dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai penderitaan, ketidakpuasan, beban. Dukkha menjelaskan bahwa ada lima kemelekatan kepada dunia yang merupakan penderitaan. Kelima hal itu adalah kelahiran, umur tua, sakit, mati, disatukan dengan yang tidak dikasihi, dan tidak mencapai yang diinginkan. Guru Buddha bersabda, "Sekarang, O, para bhikkhu, Kebenaran Ariya tentang Dukkha, yaitu: kelahiran adalah dukkha, usia tua adalah dukkha, penyakit adalah dukkha, kematian adalah dukkha, sedih, ratap tangis, derita (badan), dukacita, putus asa adalah dukkha; berkumpul dengan yang tidak disenangi adalah dukkha, berpisah dari yang dicintai adalah dukkha, tidak memperoleh apa yang diinginkan adalah dukkha. Singkatnya Lima Kelompok Kemelekatan merupakan dukkha."[36]

  • Kebenaran Ariya tentang Asal Mula Dukkha (Dukkha Samudaya Ariya Sacca)

Samudaya adalah sebab. Setiap penderitaan pasti memiliki sebab, contohnya: yang menyebabkan orang dilahirkan kembali adalah adanya keinginan kepada hidup.

Pada bagian ini Guru Buddha menjelaskan bahwa sumber dari dukkha atau penderitaan adalah taṇhā, yaitu nafsu keinginan yang tidak ada habis-habisnya. Tanha dapat diibaratkan seperti candu atau opium yang menimbulkan dampak ketagihan bagi yang memakainya terus-menerus, dan semakin lama akan merusak fisik maupun mental si pemakai. Tanha juga dapat diibaratkan seperti air laut yang asin yang jika diminum untuk menghilangkan haus justru rasa haus tersebut semakin bertambah.[36]

  • Kebenaran Ariya tentang Terhentinya Dukkha (Dukkha Nirodha Ariya Sacca)

Nirodha adalah pemadaman. Pemadaman kesengsaraan dapat dilakukan dengan menghapus keinginan secara sempurna sehingga tidak ada lagi tempat untuk keinginan tersebut.

Pada bagian ini Guru Buddha menjelaskan bahwa dukkha bisa dihentikan yaitu dengan cara menyingkirkan taṇhā sebagai penyebab dukkha. Ketika taṇhā telah disingkirkan, maka kita akan terbebas dari semua penderitaan (bathin). Keadaan ini dinamakan Nibbana.[36]

  • Kebenaran Ariya tentang Jalan yang Menuju Terhentinya Dukkha (Dukkha Nirodha Ariya Sacca)

Marga adalah jalan pelepasan. Jalan pelepasan merupakan cara-cara yang harus ditempuh kalau kita ingin lepas dari kesengsaraan.

Pada bagian ini Guru Buddha menjelaskan bahwa ada jalan atau cara untuk menghentikan dukkha, yakni melalui Jalan Mulia Berunsur Delapan. Jalan Menuju Terhentinya Dukkha dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu:[36]

    • Kebijaksanaan (Paññā), terdiri dari Pengertian Benar (sammā-ditthi) dan Pikiran Benar (sammā-saṅkappa)
    • Kemoralan (Sīla), terdiri dari Ucapan Benar (sammā-vācā), Perbuatan Benar (sammā-kammanta), dan Pencaharian Benar (sammā-ājīva)
    • Konsentrasi (Samādhi), terdiri dari Daya-upaya Benar (sammā-vāyāma), Perhatian Benar (sammā-sati), dan Konsentrasi Benar (sammā-samādhi)

Empat Kebenaran Mulia tidak dapat dipisahkan antara Kebenaran yang satu dengan Kebenaran yang lainnya. Empat Kebenaran Mulia bukanlah ajaran yang bersifat pesimis yang mengajarkan hal-hal yang serba suram dan serba menderita. Dan juga bukan bersifat optimis yang hanya mengajarkan hal-hal yang penuh harapan, tetapi merupakan ajaran yang realitis, ajaran yang berdasarkan analisis yang diambil dari kehidupan di sekitar kita.

Jalan Mulia Berunsur Delapan

sunting
 
Dharmacakra melambangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan

Dalam Dhammacakkappavattana Sutta; Saṃyutta Nikāya 56.11 {S 5.420}, Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Ariya kepada Lima Bhikkhu Pertama (Pali: Pañcavaggiya Bhikkhu; Sanskerta: Pañcavargīya Bhikṣu), yang di dalamnya terdapat Jalan yang Menuju Terhentinya Dukkha. Jalan itu disebut dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Atṭhaṅgika Magga). Di dalam Jalan ini mengandung unsur sīla (kemoralan), samādhi (konsentrasi), dan paññā (kebijaksanaan).[37]

Berikut pengelompokan unsur yang terkandung di dalamnya:

Divisi Faktor Berunsur Delapan Sanskerta, Pali
Kebijaksanaan
(Sanskerta: prajñā,
Pāli: paññā)
1. Pengertian (Pandangan) Benar samyag dṛṣṭi,
sammā ditthi
2. Pikiran Benar samyag saṃkalpa,
sammā saṅkappa
Perilaku Etis
(Sanskerta: śīla,
Pāli: sīla)
3. Ucapan Benar samyag vāc,
sammā vāca
4. Perbuatan Benar samyag karman,
sammā kammanta
5. Pencaharian (Penghidupan) Benar samyag ājīvana,
sammā ājīva
Konsentrasi
(Sanskerta and Pāli: samādhi)
6. Daya upaya Benar samyag vyāyāma,
sammā vāyāma
7. Perhatian Benar samyag smṛti,
sammā sati
8. Konsentrasi Benar samyag samādhi,
sammā samādhi

Jalan Mulia Berunsur Delapan dibabarkan sebagai berikut:
1. Pengertian Benar (Sammā Diṭṭhi)
Pemahaman Benar adalah pengetahuan yang disertai dengan penembusan terhadap

a. Empat Kebenaran Mulia
b. Hukum Tilakkhaṇa (Tiga Corak Umum)
c. Hukum Paṭicca-Samuppāda
d. Hukum Kamma

2. Pikiran Benar (Sammā Saṅkappa)
Pikiran Benar adalah pikiran yang bebas dari:

a. Pikiran yang bebas dari nafsu-nafsu keduniawian (nekkhamma-saṅkappa)
b. Pikiran yang bebas dari kebencian (avyāpāda-saṅkappa)
c. Pikiran yang bebas dari kekejaman (avihimsā-saṅkappa)

3. Ucapan Benar (Sammā Vāca)
Ucapan Benar adalah berusaha menahan diri dari berbohong (musāvāda), memfitnah (pisunāvāca), berucap kasar/caci maki (pharusavāca), dan percakapan-percakapan yang tidak bermanfaat/pergunjingan (samphappalāpa). Dapat dinamakan Ucapan Benar, jika dapat memenuhi empat syarat di bawah ini:

a. Ucapan itu benar
b. Ucapan itu beralasan
c. Ucapan itu berfaedah
d. Ucapan itu tepat pada waktunya

4. Perbuatan Benar (Sammā Kammantā)
Perbuatan Benar adalah berusaha menahan diri dari pembunuhan, pencurian, perbuatan melakukan perbuatan seksualitas yang tidak dibenarkan (asusila), perkataan tidak benar, dan penggunaan cairan atau obat-obatan yang menimbulkan ketagihan dan melemahkan kesadaran.

5. Penghidupan Benar (Sammā Ājiva)
Penghidupan Benar berarti menghindarkan diri dari bermata pencaharian yang menyebabkan kerugian atau penderitaan makhluk lain. "Terdapat lima objek perdagangan yang seharusnya dihindari (Aṇguttara Nikāya, III, 153), yaitu:

a. makhluk hidup
b. senjata
c. daging atau segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan mahluk-mahluk hidup
d. minum-minuman yang memabukkan atau yang dapat menimbulkan ketagihan,
e. racun

Dan terdapat pula lima pencaharian salah yang harus dihindari (Majjima Nikāya. 117), yaitu:

a. Penipuan
b. Ketidaksetiaan
c. Penujuman
d. Kecurangan
e. Memungut bunga yang tinggi (praktik lintah darat)

6. Usaha Benar (Sammā Vāyama)
Usaha Benar dapat diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu: berusaha mencegah munculnya kejahatan baru, berusaha menghancurkan kejahatan yang sudah ada, berusaha mengembangkan kebaikan yang belum muncul, berusaha memajukan kebaikan yang telah ada.

7. Perhatian Benar (Sammā Sati)
Perhatian Benar dapat diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu:

- perhatian penuh terhadap badan jasmani (kãyãnupassanã)
- perhatian penuh terhadap perasaan (vedanãnupassanã)
- perhatian penuh terhadap pikiran (cittanupassanã)
- perhatian penuh terhadap mental/batin (dhammanupassanã)

Keempat bentuk tindakan tersebut bisa disebut sebagai Vipassanã Bhãvanã.

8. Konsentrasi Benar (Sammā Samādhi)
Konsentrasi Benar berarti pemusatan pikiran pada objek yang tepat sehingga batin mencapai suatu keadaan yang lebih tinggi dan lebih dalam.

Kamma atau Karma

sunting

Selain nilai-nilai moral di atas, agama Buddha juga amat menjunjung tinggi karma sebagai sesuatu yang berpegang pada prinsip hukum sebab akibat. Secara umum, kamma (bahasa Pali) atau karma (bahasa Sanskerta) berarti perbuatan atau aksi. Jadi ada aksi atau karma baik dan ada pula aksi atau karma buruk. Saat ini, istilah karma sudah terasa umum digunakan, namun cenderung diartikan secara keliru sebagai hukuman turunan/hukuman berat dan lain sebagainya.

Umat Buddha memandang hukum karma sebagai hukum universal tentang sebab dan akibat yang juga merupakan hukum moral yang impersonal. Menurut hukum ini sesuatu (yang hidup, yang tidak hidup, maupun yang abstrak atau yang ada karena kita buat dalam pikiran sebagai ide) yang muncul pasti ada sebabnya. Tidak ada sesuatu yang muncul dari ketidakadaan. Dengan kata lain, tidak ada sesuatu atau makhluk yang muncul tanpa ada sebab lebih dahulu.[38]

Buddha dalam Nibbedhika Sutta; Aṇguttara Nikāya 6.63 menjelaskan secara jelas arti dari kamma:[39]

"Para bhikkhu, cetana (kehendak)lah yang kunyatakan sebagai kamma. Setelah berkehendak, orang melakukan suatu tindakan lewat tubuh, ucapan atau pikiran."

Jadi, kamma berarti semua jenis kehendak (cetana), perbuatan yang baik maupun buruk/jahat, yang dilakukan oleh jasmani (kaya), perkataan (vaci) dan pikiran (mano), yang baik (kusala) maupun yang jahat (akusala).

Kamma atau sering disebut sebagai Hukum Kamma merupakan salah satu hukum alam yang bekerja berdasarkan prinsip sebab akibat. Selama suatu makhluk berkehendak, melakukan kamma (perbuatan) sebagai sebab maka akan menimbulkan akibat atau hasil. Akibat atau hasil yang ditimbulkan dari kamma disebut sebagai Kamma Vipaka.

Dalam Samuddaka Sutta; Saṃyutta Nikāya 11.10 {S 1.227}, Guru Buddha menjelaskan cara bekerjanya kamma:[39] "Sesuai dengan benih yang di tabur, begitulah buah yang akan dipetiknya. Pembuat kebajikan akan mendapatkan kebaikan, pembuat kejahatan akan memetik kejahatan pula. Taburlah biji-biji benih dan engkau pulalah yang akan merasakan buah daripadanya".

Kelahiran Kembali

sunting
 
Situs kremasi Gautama, Stupa Ramabhar di Kushinagar, Uttar Pradesh, India

Kelahiran kembali (Pali: Punabbhava) merupakan 'suatu proses menjadi ada/eksis kembali dari suatu makhluk hidup di kehidupan mendatang (setelah ia meninggal/mati) sehingga lahir (jati), di mana proses ini merupakan akibat atau hasil dari kamma (perbuatan)nya pada kehidupan lampau.[40] Proses menjadi ada/eksis atau kelahiran kembali atau punabbhava terjadi pada semua makhluk hidup yang belum pencapai Penerangan Sempurna, ketika mereka telah meninggal/mati.

Dalam Hukum Paticcasamuppada (Sebab-Musabab yang Saling Bergantungan), proses menjadi ada/eksis atau punabbhava atau kelahiran kembali disebabkan oleh Kamma (perbuatan) yang kemudian menghasilkan kemelekatan kepada segala sesuatu termasuk kemelekatan pada hidup dan kehidupan. Jadi makhluk hidup apa pun yang mengalami proses menjadi ada/eksis atau kelahiran kembali (punabbhava), merupakan makhluk yang masih memiliki kemelekatan pada sesuatu dalam kehidupan sebelumnya. Dan seperti yang diuraikan dalam Hukum Paticcasamuppada kemelekatan timbul karena adanya Tanha (keinginan/kehausan) dan juga Avijja (ketidaktahuan/kebodohan).

Konsep Ketuhanan dalam Buddhisme

sunting

Perlu ditekankan bahwa Buddha bukan Tuhan. Konsep ketuhanan dalam agama Buddha berbeda dengan konsep dalam agama Abrahamik di mana alam semesta diciptakan oleh Tuhan dan tujuan akhir dari hidup manusia adalah kembali ke Nibbana surga ciptaan Tuhan yang kekal. Dalam Tatiyanibbānapaṭisaṁyutta Sutta, Udāna 8.3:

... Atthi, bhikkhave, ajātaṁ abhūtaṁ akataṁ asaṅkhataṁ. No cetaṁ, bhikkhave, abhavissa ajātaṁ abhūtaṁ akataṁ asaṅkhataṁ, nayidha jātassa bhūtassa katassa saṅkhatassa nissaraṇaṁ paññāyetha. Yasmā ca kho, bhikkhave, atthi ajātaṁ abhūtaṁ akataṁ asaṅkhataṁ, tasmā jātassa bhūtassa katassa saṅkhatassa nissaraṇaṁ paññāyatī”ti. ...

... Ada, para bhikkhu, yang tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak tercipta, tidak terkondisi. Jika, para bhikkhu, tidak ada yang tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak tercipta, tidak terkondisi, maka kalian tidak mungkin mengetahui jalan membebaskan diri dari yang dilahirkan, yang menjelma, yang diciptakan, dan yang terkondisi. Tetapi, karena ada yang tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak tercipta, tidak terkondisi, maka kalian dapat mengetahui jalan membebaskan diri dari yang dilahirkan, yang menjelma, yang diciptakan, dan yang terkondisi. ...

Ungkapan di atas adalah pernyataan dari Sang Buddha yang merupakan konsep Nibbāna yang kemudian diinterpretasikan sebagai Ketuhanan Yang Mahaesa. Nibbāna sebagai Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah "ajātaṁ abhūtaṁ akataṁ asaṅkhataṁ" yang artinya "Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Menjelma, Tidak Tercipta, dan Tidak Terkondisi (Mutlak)". Dalam hal ini, Nibbāna sebagai Ketuhanan Yang Mahaesa adalah sesuatu yang tidak terpersonifikasi atau tanpa-Aku (anatta). Dengan adanya Yang Mutlak atau Yang Tidak Terkondisi (asaṅkhataṁ) maka manusia yang berkondisi (saṅkhataṁ) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (saṃsāra).[41]

Dengan membaca konsep Ketuhanan Yang Maha Esa ini, kita dapat melihat bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah berlainan dengan konsep Ketuhanan yang diyakini oleh agama-agama lain. Perbedaan konsep tentang Ketuhanan ini perlu ditekankan di sini, sebab masih banyak umat Buddha yang mencampur-adukkan konsep Ketuhanan menurut agama Buddha dengan konsep Ketuhanan menurut agama-agama lain sehingga banyak umat Buddha yang menganggap bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah sama dengan konsep Ketuhanan dalam agama-agama lain.

Bila kita mempelajari ajaran agama Buddha seperti yang terdapat dalam kitab suci Tripitaka, maka bukan hanya konsep Ketuhanan yang berbeda dengan konsep Ketuhanan dalam agama lain, tetapi banyak konsep lain yang tidak sama pula. Konsep-konsep agama Buddha yang berlainan dengan konsep-konsep dari agama lain antara lain adalah konsep-konsep tentang alam semesta, terbentuknya Bumi dan manusia, kehidupan manusia di alam semesta, kiamat dan Keselamatan atau Kebebasan.

Di dalam agama Buddha tujuan akhir hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati di mana satu makhluk tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir. Untuk mencapai itu pertolongan dan bantuan pihak lain tidak ada pengaruhnya. Tidak ada dewa-dewi yang dapat membantu, hanya dengan usaha sendirilah kebuddhaan dapat dicapai. Buddha hanya merupakan contoh, juru pandu, dan guru bagi makhluk yang perlu melalui jalan mereka sendiri, mencapai pencerahan rohani, dan melihat realitas sebagaimana adanya.

Moralitas dalam ajaran Buddha

sunting

Sebagaimana agama Kristen, Islam, dan Hindu, ajaran Buddha juga menjunjung tinggi nilai-nilai kemoralan.

Moralitas dalam ajaran Buddha bertujuan praktis menuntun orang menjuju tujuan akhir kebahagiaan tertinggi. Dalam jalan umat Buddha menuju pembebasan, setiap individu dianggap bertanggung jawab untuk keberuntungan dan kemalangannya sendiri. Setiap individu diharapkan mengupayakan pembebasannya sendiri melalui pemahaman dan usaha. Keselamatan umat Buddha adalah hasil pemgembangan moral orang itu sendiri dan tidak dapat diadakan atau diberikan kepada seseorang oleh suatu perantara eksternal. Misi Sang Budda adalah untuk mencerahkan manusia akan sifat keberadaan dan untuk menasihatkan bagaimana cara terbaik untuk kebahagiaan mereka dan keuntungan orang lain. Secara konsekuen, etika umat Buddha bukan merupakan perintah apa pun yang memaksa manusia untuk mengikutinya.[42]

Moralitas bagi umat Buddha dapat dirangkum dalam tiga prinsip sederhana: "Hindarkan kejahatan; lakukan kebaikan; sucikan pikiran. Inilah nasihat yang diberikan oleh semua Buddha." (Dhammapada:183)[43]

Lima Sila (Pañcasīla)

sunting

Nilai-nilai kemoralan yang diharuskan untuk umat awam umat Buddha biasanya dikenal dengan Pañcasīla. Kelima nilai-nilai kemoralan untuk umat awam adalah:[44]

  • Pāṇātipātā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi
  • Adinnādānā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi
  • Kāmesu micchācārā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi
  • Musāvāda veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi
  • Surā-meraya-majja-pamādaṭṭhānā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi

Yang artinya:

  • Aku bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup.
  • Aku bertekad akan melatih diri menghindari pencurian/mengambil barang yang tidak diberikan.
  • Aku bertekad akan melatih diri menghindari melakukan perbuatan asusila.
  • Aku bertekad akan melatih diri menghindari melakukan perkataan dusta.
  • Aku bertekad akan melatih diri menghindari makanan atau minuman yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran.

Aliran dan tradisi Ajaran Buddha

sunting

Umat Buddha secara umum mengklasifikasikan diri mereka sebagai Theravāda atau Mahāyāna.[45] Klasifikasi ini juga digunakan oleh beberapa ahli[46] dan merupakan salah satu penggunaan yang lazim dalam bahasa Inggris.

Buddha Mahāyāna

sunting
 
Patung Buddha Tian Tan. Vihara Po Lin, pulau Lantau, Hong Kong

Sutra Teratai merupakan Referensi sampingan penganut Buddha aliran Mahāyāna. Tokoh Kwan Im yang bermaksud "maha mendengar" atau nama Sanskerta-nya "Avalokiteśvara" merupakan tokoh Mahāyāna dan dipercayai telah menitis beberapa kali dalam alam manusia untuk memimpin umat manusia ke jalan kebenaran. Dia diberikan sifat-sifat keibuan seperti penyayang dan lemah lembut. Menurut sejarahnya Avalokitesvara adalah seorang lelaki murid Buddha, akan tetapi setelah pengaruh Buddha masuk ke Tiongkok, profil ini perlahan-lahan berubah menjadi sosok feminin dan dihubungkan dengan legenda yang ada di Tiongkok sebagai seorang dewi.

Pemujaan kepada Buddha Amitabha (Amitayus) merupakan salah satu aliran utama Buddha Mahāyāna. Surga Barat merupakan tempat tujuan umat Buddha aliran Sukhavati selepas mereka meninggal dunia dengan berkat kebaktian mereka terhadap Buddha Amitabha di mana mereka tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir dan dari sana menolong semua makhluk hidup yang masih menderita di bumi.

Mereka mempercayai mereka akan lahir semula di Sorga Barat untuk menunggu saat Buddha Amitabha memberikan khotbah Dhamma dan Buddha Amitabha akan memimpin mereka ke tahap mencapai 'Buddhi' (tahap kesempurnaan di mana kejahilan, kebencian dan ketamakan tidak ada lagi). Ia merupakan pemahaman Buddha yang paling disukai oleh orang Tionghoa.

Seorang Buddha bukannya dewa atau makhluk suci yang memberikan kesejahteraan. Semua Buddha adalah pemimpin segala kehidupan ke arah mencapai kebebasan daripada kesengsaraan. Hasil amalan ajaran Buddha inilah yang akan membawa kesejahteraan kepada pengamalnya.

Menurut Buddha Gautama, kenikmatan Kesadaran Nirwana yang dicapainya di bawah pohon Bodhi, tersedia kepada semua makhluk apabila mereka dilahirkan sebagai manusia. Menekankan konsep ini, aliran Buddha Mahāyāna khususnya merujuk kepada banyak Buddha dan juga bodhisattva (makhluk yang tekad "committed" pada Kesadaran tetapi menangguhkan Nirvana mereka agar dapat membantu orang lain pada jalan itu). Dalam Tipitaka suci - intipati teks suci Buddha - tidak terbilang Buddha yang lalu dan hidup mereka telah disebut "spoken of", termasuk Buddha yang akan datang, Buddha Maitreya .

Buddha Theravāda

sunting

Aliran Theravāda adalah aliran yang memiliki sekolah Buddha tertua yang bertahan sampai saat ini, dan untuk berapa abad mendominasi Sri Lanka dan wilayah Asia Tenggara (sebagian dari Tiongkok bagian barat daya, Kamboja, Laos, Myanmar, Malaysia, Indonesia dan Thailand) dan juga sebagian Vietnam. Selain itu populer pula di Singapura dan Australia.

Gramatika

sunting

Theravāda berasal dari bahasa Pali yang terdiri dari dua kata yaitu thera dan vada. Thera berarti sesepuh khususnya sesepuh terdahulu, dan vada berarti perkataan atau ajaran. Jadi Theravāda berarti Ajaran Para Sesepuh.

Istilah Theravāda muncul sebagai salah satu aliran agama Buddha dalam Dipavamsa, catatan awal sejarah Sri Lanka pada abad ke-4 Masehi. Istilah ini juga tercatat dalam Mahavamsa, sebuah catatan sejarah penting yang berasal dari abad ke-5. Diyakini Theravāda merupakan wujud lain dari salah satu aliran agama Buddha terdahulu yaitu Sthaviravada (Bahasa Sanskerta: Ajaran Para Sesepuh), sebuah aliran agama Buddha awal yang terbentuk pada Sidang Agung Sangha ke-2 (443 SM). Dan juga merupakan wujud dari aliran Vibhajjavada yang berarti Ajaran Analisis (Doctrine of Analysis) atau Agama Akal Budi (Religion of Reason).

Sejarah

sunting

Sejarah Theravāda tidak lepas dari sejarah Buddha Gautama sebagai pendiri agama Buddha. Setelah Sang Buddha parinibbana (543 SM), tiga bulan kemudian diadakan Sidang Agung Sangha (Sangha Samaya).

Diadakan pada tahun 543 SM (3 bulan setelah bulan Mei), berlangsung selama 2 bulan dipimpin oleh Y.A. Mahakassapa dan dihadiri oleh 500 orang Bhikkhu yang semuanya Arahat. Sidang diadakan di Gua Saptaparni di kota Rajagaha. Sponsor sidang agung ini adalah Raja Ajatasatu. Tujuan Sidang adalah menghimpun Ajaran Sang Buddha yang diajarkan kepada orang yang berlainan, di tempat yang berlainan dan dalam waktu yang berlainan. Mengulang Dhamma dan Vinaya agar Ajaran Sang Buddha tetap murni, kuat, melebihi ajaran-ajaran lainnya. Y.A. Upali mengulang Vinaya dan Y.A. Ananda mengulang Dhamma.

Sidang Agung Sangha ke-2, pada tahun 443 SM, di mana awal Buddhisme mulai terbagi menjadi 2. Di satu sisi kelompok yang ingin perubahan beberapa peraturan minor dalam Vinaya, di sisi lain kelompok yang mempertahankan Vinaya apa adanya. Kelompok yang ingin perubahan Vinaya memisahkan diri dan dikenal dengan Mahasanghika yang merupakan cikal bakal Mahāyāna. Sedangkan yang mempertahankan Vinaya disebut Sthaviravada.

Sidang Agung Sangha ke-3 (313 SM), Sidang ini hanya diikuti oleh kelompok Sthaviravada. Sidang ini memutuskan untuk tidak mengubah Vinaya, dan Moggaliputta-Tissa sebagai pimpinan sidang menyelesaikan buku Kathavatthu yang berisi penyimpangan-penyimpangan dari aliran lain. Saat itu pula Abhidhamma dimasukkan. Setelah itu ajaran-ajaran ini di tulis dan disahkan oleh sidang. Kemudian Y.M. Mahinda (putra Raja Asoka) membawa Tipitaka ini ke Sri Lanka tanpa ada yang hilang sampai sekarang dan menyebarkan Buddha Dhamma di sana. Di sana ajaran ini dikenal sebagai Theravāda.

Kitab suci ajaran Buddha

sunting

Kitab suci yang dipergunakan dalam agama Buddha Theravāda adalah kitab suci Tripitaka yang dikenal sebagai Kanon Pali (Pali Canon). Tripitaka dalam bahasa Pali umumnya disebut sebagai Tipiṭaka. Kanon Pali merupakan kitab suci agama Buddha yang paling tua, diketahui hingga sekarang, dan tertulis dalam bahasa Pali/Magadhi Kuno. Kitab ini terbagi dalam tiga kelompok besar (yang disebut sebagai "piṭaka" atau "keranjang") yaitu: Vinaya Piṭaka, Sutta Piṭaka, dan Abhidhamma Piṭaka.

Hari raya

sunting

Terdapat empat hari raya utama dalam agama Buddha. Namun satu-satunya yang dikenal luas masyarakat adalah Hari Raya Trisuci Waisak, sekaligus satu-satunya hari raya umat Buddha yang dijadikan hari libur nasional Indonesia setiap tahunnya.

Penganut Buddha merayakan Hari Waisak yang merupakan peringatan 3 peristiwa. Tiga peristiwa tersebut meliputi hari kelahiran Pangeran Siddharta (nama sebelum menjadi Buddha), hari pencapaian Penerangan Sempurna Pertapa Gautama, dan hari Sang Buddha wafat atau mencapai Nibbana/Nirwana. Hari Waisak juga dikenal dengan nama Visakah Puja atau Buddha Purnima di India, Vesak di Malaysia dan Singapura, Visakha Bucha di Thailand, dan Vesak di Sri Lanka. Nama ini diambil dari bahasa Pali "Vesākha", yang pada gilirannya juga terkait dengan "Waishakha" dari bahasa Sanskerta

Hari raya Kathina merupakan upacara persembahan jubah kepada Sangha setelah menjalani Vassa. Jadi setelah masa Vassa berakhir, umat Buddha memasuki masa Kathina atau bulan Kathina. Dalam kesempatan tersebut, selain memberikan persembahan jubah Kathina, umat Buddha juga berdana kebutuhan pokok para Bhikkhu, perlengkapan vihara, dan berdana untuk perkembangan dan kemajuan agama Buddha.

Kebaktian untuk memperingati Hari besar Āsādha disebut Āsādha Pūjā / Āsāḷha Pūjā. Hari raya Āsādha, diperingati 2 (dua) bulan setelah Hari Raya Waisak, guna memperingati peristiwa di mana Buddha membabarkan Dharma untuk pertama kalinya kepada 5 orang pertapa (Panca Vagiya) di Taman Rusa Isipatana, pada tahun 588 Sebelum Masehi. Kelima pertapa tersebut adalah Kondanna, Bhadiya, Vappa, Mahanama dan Asajji, dan sesudah mendengarkan khotbah Dharma, mereka mencapai arahat. Lima orang pertapa, bekas teman berjuang Buddha dalam bertapa menyiksa diri di hutan Uruvela merupakan orang-orang yang paling berbahagia, karena mereka mempunyai kesempatan mendengarkan Dhamma untuk pertama kalinya. Selanjutnya, bersama dengan Panca Vagghiya Bhikkhu tersebut, Buddha membentuk Arya Sangha Bhikkhu(Persaudaraan Para Bhikkhu Suci) yang pertama (tahun 588 Sebelum Masehi ). Dengan terbentuknya Sangha, maka Tiratana (Triratna) menjadi lengkap. Sebelumnya, baru ada Buddha dan Dhamma (yang ditemukan oleh Buddha).

Tiratana atau Triratna berarti Tiga Mustika, terdiri atas Buddha, Dhamma dan Sangha. Tiratana merupakan pelindung umat Buddha. Setiap umat Buddha berlindung kepada Tiratana dengan memanjatkan paritta Tisarana (Sanskerta: Trisarana). Umat Buddha berlindung kepada Buddha berarti umat Buddha memilih Buddha sebagai guru dan teladannya. Umat Buddha berlindung kepada Dhamma berarti umat Buddha yakin bahwa Dhamma mengandung kebenaran yang bila dilaksanakan akan mencapai akhir dari dukkha. Umat Buddha berlindung kepada Sangha berarti umat Buddha yakin bahwa Sangha merupakan pewaris dan pengamal Dhamma yang patut dihormati.

Khotbah pertama yang disampaikan oleh Buddha pada hari suci Asadha ini dikenal dengan nama Dhamma Cakka Pavattana Sutta, yang berarti Khotbah Pemutaran Roda Dhamma. Dalam Khotbah tersebut, Buddha mengajarkan mengenai Empat Kebenaran Mulia (Cattāri Ariya Saccāni) yang menjadi landasan pokok Buddha Dhamma.

Hari Besar Māgha Pūjā memperingati disabdakannya Ovadha Patimokha, Inti Agama Buddha dan Etika Pokok para bhikkhu. Sabda Sang Buddha di hadapan 1.250 Arahat yang kesemuanya arahat tersebut ditabiskan sendiri oleh Sang Buddha (Ehi Bhikkhu: Bhikkhu yang ditasbihkan sendiri oleh Sang Buddha), yang kehadirannya itu tanpa diundang dan tanpa ada perjanjian satu dengan yang lain terlebih dahulu, Sabda Sang Buddha bertempat di Vihara Veluvana, Rajagaha. Tempat ibadah agama Buddha disebut Vihara.

Penyebaran di Asia dan Indonesia

sunting
 
Peta penyebaran ajaran Buddha

Agama Buddha mulai berkembang di India, yaitu tempat di mana Buddha Gautama mengajarkan ajarannya. Setelah wafatnya Buddha Gautama, ajaran tersebut tidak lenyap begitu saja, melainkan disebarkan oleh para pemuka agama sehingga bertahan sampai sekarang di berbagai belahan dunia, khususnya di Asia.

Penyebaran di India dan Asia Tengah

sunting

Dimulai dari India, tempat di mana Buddha Gautama lahir dan wafat. 100 tahun setelah Buddha mencapai Nirwana, ajaran Buddha Gautama mulai memudar sehingga para biksu disana memutuskan untuk mulai melestarikannya agar tetap hidup. Hal pertama yang dilakukan adalah dengan membuat Dharma atau pengajaran. Di India jugalah tempat di mana mulai terbentuknya aliran Mahāyāna dan Theravāda akibat perselisihan antara kelompok biarawan dan para kaum tua. Theravāda umumnya mengajarkan bahwa tujuan tertinggi adalah menjadi arahat, sedangkan Mahāyāna mengajarkan bahwa tujuan yang paling berharga adalah dengan mencapai Kebuddhaan.

Selain melalui kaum biarawan,agama Buddha juga disebarkan oleh raja-raja besar di India seperti Raja Ashoka. Ia mengajarkan kepada rakyatnya untuk tidak berpikiran jahat seperti serakah dan mudah marah. Ia menanamkan nilai-nilai moral, seperti menghargai kebenaran, cinta kasih dan amal. Ashoka juga mengirim misionaris Buddha keberbagai negara tetangga, termasuk ke Sri Lanka di mana mereka diterima baik sehingga Sri Lanka menjadi basis agama Buddha.

Penyebaran di Asia Timur

sunting

Selama abad 3 SM, Raja Asoka mengirimkan misionaris ke barat laut India yaitu Pakistan dan Afganistan. Misi ini mencapai sukses besar karena kawasan ini segera menjadi pusat pembelajaran agama Buddha yang memiliki banyak biksu terkemuka dan sarjana. Ketika para pedagang Asia Tengah datang ke wilayah ini untuk berdagang, mereka belajar tentang Buddhisme dan menerimanya sebagai agama mereka. Dengan dukungan dari pedagang, biara gua banyak didirikan di sepanjang rute perdagangan di seluruh Asia Tengah. Pada abad 2 SM, beberapa kota Asia Tengah seperti Khotan, telah menjadi pusat penting bagi Buddhisme. Melalui Jalan Sutera inilah, pertama kalinya orang Tiongkok mengenal agama Buddha dari orang-orang di Asia Tengah yang sudah beragama Buddha.

Bentuk awal penyebaran agama Buddha di Tiongkok adalah dengan adanya penerjemah yang bertugas menerjemahkan teks penting mengenai ajaran Buddha dari bahasa India ke bahasa Tionghoa kala itu. Selain itu, juga lahirnya berbagai karya seni dan pahat di mana patung-patung Buddha dibuat. Bentuk perkembangan lainnya adalah dengan dibangunnya sekolah ajaran Buddha di Tiongkok yang mencakup seni, patung, arsitektur dan filsafat waktu itu.

Ada pula biarawan Tiongkok yang pergi ke Semenanjung Korea untuk memperkenalkan agama Buddha kepada kerajaan-kerajaan yang ada di Korea pada waktu itu. Sehingga pada abad ke-6 dan abad ke-7, agama Buddha telah berkembang di bawah kerajaan tersebut. Selain di Korea, Buddhisme juga berkembang di kepulauan Jepang.

Penyebaran di Asia Tenggara

sunting
 
Persatuan Agama Buddha di Selangor, Malaysia.

Pada awal era masehi, orang-orang di berbagai belahan Asia Tenggara datang untuk mengetahui ajaran Buddha sebagai hasil dari meningkatnya hubungan dengan para pedagang India yang datang ke wilayah tersebut untuk berdagang. Pedagang ini tidak hanya berdagang di Asia Tenggara, tetapi juga membawa agama mereka dan budaya dengan mereka. Di bawah pengaruh mereka, orang-orang setempat mulai mengenal agama Buddha, tetapi tetap mempertahankan keyakinan lama dan adat istiadat mereka. Sejak masuk di semenanjung Indocina (sekarang bagian Asia Tenggara), Buddhisme mulai masuk di Birma, Siam (sekarang Thailand), Vietnam, semenanjung Malaya (sekarang Malaysia Barat) dan kepulauan nusantara (sekarang Indonesia).

Penyebaran di Nusantara

sunting
 
Candi Borobudur, monumen Dinasti Syailendra yang dibangun di Magelang, Jawa Tengah.

Pada akhir abad ke-5, seorang biksu Buddha dari India mendarat di sebuah kerajaan di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Tengah sekarang. Pada akhir abad ke-7, I Tsing, seorang peziarah Buddha dari Tiongkok, berkunjung ke Pulau Sumatra (kala itu disebut Swarnabhumi), yang kala itu merupakan bagian dari kerajaan Sriwijaya. Ia menemukan bahwa Buddhisme diterima secara luas oleh rakyat, dan ibu kota Sriwijaya (sekarang Palembang), merupakan pusat penting untuk pembelajaran Buddhisme (kala itu Buddha Vajrāyāna). I Tsing belajar di Sriwijaya selama beberapa waktu sebelum melanjutkan perjalanannya ke India.

Pada pertengahan abad ke-8, Jawa Tengah berada di bawah kekuasaan raja-raja Dinasti Syailendra yang merupakan penganut Buddhisme. Mereka membangun berbagai monumen Buddha di Jawa, yang paling terkenal yaitu Candi Borobudur. Monumen ini selesai di bagian awal abad ke-9.

Di pertengahan abad ke-9, Sriwijaya berada di puncak kejayaan dalam kekayaan dan kekuasaan. Pada saat itu, kerajaan Sriwijaya telah menguasai Pulau Sumatra, Pulau Jawa dan Semenanjung Malaya.

Akhir zaman kerajaan Hindu-Buddha

sunting

Pada akhir abad ke-13 seiring berkembang pesatnya pengaruh Islam dari Timur Tengah, kerajaan-kerajaan Islam mulai berdiri di Sumatra, dan agama Islam segera menyebar ke Jawa dan Semenanjung Malaya lewat penaklukan dan penyebaran sistematis oleh sekelompok ulama yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga. Akibatnya Buddhisme mengalami penurunan popularitas dan pada akhir abad ke-15 Islam adalah agama yang dominan di Nusantara dan Semenanjung Malaya. Buddhisme diperkenalkan kembali ke Nusantara hanya pada abad ke-19, dengan kedatangan pedagang dan orang-orang Tionghoa, Srilanka dan imigran Buddhis lainnya.

Candi-Candi Peninggalan Kerajaan Buddha di Nusantara

sunting

Candi-candi peninggalan agama Buddha di Nusantara kebanyakan terdapat di Jawa dan Sumatra, antara lain:

Demografis

sunting
 
Persentase umat Buddha berdasarkan negara, menurut Pew Research Center, per tahun 2010.

Buddhisme diperkirakan dipraktikkan oleh sekitar 488 juta,[web 1] 495 juta,[47] atau 535 juta[11] penduduk dunia per tahun 2010, merepresentasikan 7% sampai 8% total populasi dunia.

Tiongkok merupakan negara dengan populasi Buddhis terbesar, sekitar 244 juta jiwa atau 18,2% dari total populasinya.[web 1] Mereka kebanyakan adalah pengikut aliran Buddhisme Mahāyāna, menjadikan Mahāyāna sebagai aliran Buddhis yang terbesar dibandingkan tradisi lainnya. Mahāyāna, juga dipraktikkan secara luas di Asia Timur, diikuti oleh lebih dari setengah populasi Buddhis dunia.[web 1]

Berdasarkan analisis demografi yang dilaporkan oleh Peter Harvey (2013)[11]: Mahāyāna memiliki 360 juta pemeluk; Theravāda memiliki 150 juta pemeluk; dan Vajrāyāna memiliki 18,2 juta pemeluk. Di luar Asia, jumlah umat Buddha sebanyak tujuh juta jiwa.

Menurut Johnson and Grim (2013), agama Buddha telah tumbuh dari total 138 juta penganut pada tahun 1910, dengan 137 juta berada di Asia, menjadi 495 juta pada tahun 2010, dengan 487 juta berada di Asia.[47]

 
Buddha

Sepuluh negara di dunia dengan populasi mayoritas Buddhis terbesar:

Buddhisme menurut persentase per tahun 2010[48]
Negara Estimasi populasi Buddhis % Buddhis dari total populasi
  Kamboja 13.701.660 96,90%
  Thailand 64.419.840 93,20%
  Myanmar 38.415.960 80,10%
  Bhutan 563.000 74,70%
  Sri Lanka 14.455.980 69,30%
  Laos 4.092.000 66,00%
  Mongolia 1.520.760 55,10%
  Jepang 45.807.480 atau 84.653.000 36,20% atau 67%[49]
  Singapura 1.725.510 33,90%
  Taiwan 4.945.600 atau 8.000.000 21,10% atau 35%[50]

Lihat pula

sunting

Catatan

sunting
  1. ^ Buddhism: The foundations of Buddhism, The cultural context. In Encyclopædia Britannica. Retrieved 19-07-2009, from Encyclopædia Britannica Online Library Edition
  2. ^ Encyclopædia Britannica Online. Hinduism: History of Hinduism: The Vedic period (2nd millennium – 7th century BCE); Challenges to Brahmanism (6th – 2nd century BCE); Early Hinduism (2nd century BCE – 4th century CE). Retrieved 19-07-2009.
  3. ^ According to Masih:[16] "Alongside Hinduism was the non-Aryan Shramanic culture with its roots going back to prehistoric times."
  4. ^ Masih:[17] "This confirms that the doctrine of transmigration is non-aryan and was accepted by non-vedics like Ajivikism, Jainism and Buddhism. The Indo-aryans have borrowed the theory of re-birth after coming in contact with the aboriginal inhabitants of India. Certainly Jainism and non-vedics [..] accepted the doctrine of rebirth as supreme postulate or article of faith."
  5. ^ Karel Werner:[18] "Rahurkar speaks of them as belonging to two distinct 'cultural strands' ... Wayman also found evidence for two distinct approaches to the spiritual dimension in ancient India and calls them the traditions of 'truth and silence.' He traces them particularly in the older Upanishads, in early Buddhism, and in some later literature."
  6. ^ Flood:[19] "The origin and doctrine of Karma and Samsara are obscure. These concepts were certainly circulating amongst sramanas, and Jainism and Buddhism developed specific and sophisticated ideas about the process of transmigration. It is very possible that the karmas and reincarnation entered the mainstream brahaminical thought from the sramana or the renouncer traditions."
  7. ^ Padmanabh S. Jaini states:[20] "Yajnavalkya's reluctance and manner in expounding the doctrine of karma in the assembly of Janaka (a reluctance not shown on any other occasion) can perhaps be explained by the assumption that it was, like that of the transmigration of soul, of non-brahmanical origin. In view of the fact that this doctrine is emblazoned on almost every page of sramana scriptures, it is highly probable that it was derived from them."
  8. ^ Govind Chandra Pande:[21] "Early Upanishad thinkers like Yajnavalkya were acquainted with the sramanic thinking and tried to incorporate these ideals of Karma, Samsara and Moksa into the vedic thought implying a disparagement of the vedic ritualism and recognising the mendicancy as an ideal."
  9. ^ Kashi Nath Upadhyaya: "The sudden appearance of this theory [of karma] in a full-fledged form is likely due, as already pointed out, to an impact of the wandering muni-and-shramana-cult, coming down from the pre-Vedic non-Aryan time."[22]
  10. ^ Encyclopædia Britannica Online. Buddhism: The foundations of Buddhism, the cultural context. Retrieved 19-07-2009.
  11. ^ "Atthako, Vâmako, Vâmadevo, Vessâmitto, Yamataggi, Angiraso, Bhâradvâjo, Vâsettho, Kassapo, and Bhagu" in P. 245 The Vinaya piṭakaṃ: one of the principle Buddhist holy scriptures ..., Volume 1 edited by Hermann Oldenberg
  12. ^ Hāṇḍā: "Even so have I, monks, seen an ancient way, an ancient road followed by the wholly awakened ones of olden time....Along that have I done, and the matters that I have come to know fully as I was going along it, I have told to the monks, nuns, men and women lay-followers, even monks, this Brahma-faring brahmacharya that is prosperous and flourishing, widespread and widely known become popular in short, well made manifest for gods and men."[33]

Referensi

sunting
  1. ^ Wells 2008.
  2. ^ Roach 2011.
  3. ^ Siderits, Mark (2019). "Buddha". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi asli tanggal 21 May 2022. Diakses tanggal 22 October 2021. 
  4. ^ "Buddhism". (2009). In Encyclopædia Britannica. Retrieved 26 November 2009, from Encyclopædia Britannica Online Library Edition.
  5. ^ Lopez (2001), hlm. 239.
  6. ^ "Buddhists". Global Religious Landscape. Pew Research Center. 18 December 2012. Diarsipkan dari versi asli tanggal 8 April 2020. Diakses tanggal 13 March 2015. 
  7. ^ "Christianity 2015: Religious Diversity and Personal" (PDF), International Bulletin of Missionary Research, 39 (1): 28–29, January 2015, doi:10.1177/239693931503900108, diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 25 May 2017, diakses tanggal 2015-05-29 – via Gordon-Conwell Theological Seminary 
  8. ^ White, David Gordon (ed.) (2000). Tantra in Practice. Princeton University Press. hlm. 21. ISBN 0-691-05779-6. 
  9. ^ Powers, John (2007). Introduction to Tibetan Buddhism (edisi ke-Rev.). Ithaca, New York: Snow Lion Publications. hlm. 26–27. ISBN 978-1-55939-282-2. 
  10. ^ "Candles in the Dark: A New Spirit for a Plural World" by Barbara Sundberg Baudot, p305
  11. ^ a b c Harvey 2013, hlm. 5.
  12. ^ Gethin 1998, hlm. 27–28, 73–74.
  13. ^ a b The Reverend, Dr. Sunanda Putuwar. WFB (1991). "Perbedaan Dan Persamaan Antara Theravada Dan Mahayana". Buddhist Education Surabaya. Buddhist Education Surabaya. Diakses tanggal 24-12-2015. 
  14. ^ Gethin 2008, hlm. xv.
  15. ^ Warder 2000, hlm. 32.
  16. ^ Masih 2000, hlm. 18.
  17. ^ Masih 2000, hlm. 37.
  18. ^ Werner 1989, hlm. 34.
  19. ^ Flood 1996, hlm. 86.
  20. ^ Jaini 2001, hlm. 51.
  21. ^ Pande 1994, hlm. 135.
  22. ^ Upadhyaya 1998, hlm. 76.
  23. ^ Satapatha Brahmana 13.8.1.5
  24. ^ Oldenberg 1991.
  25. ^ Bronkhorst 2007.
  26. ^ Warder 2000, hlm. 30–32.
  27. ^ Warder 2000, hlm. 39.
  28. ^ Warder 2000, hlm. 33.
  29. ^ Gombrich 1988, hlm. 85.
  30. ^ Hardy 1863, hlm. 177.
  31. ^ Rhys Davids 1921, hlm. 494.
  32. ^ Hardy 1866, hlm. 44.
  33. ^ Hāṇḍā 1984, hlm. 57.
  34. ^ Rāhula 1974, hlm. 59.
  35. ^ K. Sri Dhammananda (2004). Keyakinan Umat Buddha. Yayasan Penerbit Karaniya dan Ehipassiko Foundation. hlm. 105. 
  36. ^ a b c d e Tim, Bhagavant.com. "EMPAT KEBENARAN ARIYA (Cattari Ariya Saccani)". Bhagavant.com. Bhagavant.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-12-25. Diakses tanggal 24-12-2015. 
  37. ^ Tim, Bhagavant.com. "Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Atthangiko Magga)". Bhagavant.com. Bhagavant.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-02-07. Diakses tanggal 20 Desember 2015. 
  38. ^ Cornelis, Wowor MA. (2004). Hukum Kamma Buddhis. Jakarta: CV. Nitra Kencana Buana. hlm. 2. 
  39. ^ a b Tim, Bhagavant.com. "Kamma (Perbuatan)". Bhagavant.com. Bhagavant.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-12-25. Diakses tanggal 24-12-2015. 
  40. ^ Tim, Bhagavant.com. "Punabhava (Kelahiran Kembali)". Bhagavant.com. Bhagavant.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-12-26. Diakses tanggal 25-12-2015. 
  41. ^ Corneles, Wowor, M.A. (30 Oktober 2003). "Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Agama Buddha". Samaggi Phala. Samaggi Phala. Diakses tanggal 20 Desember 2015. 
  42. ^ K. Sri Dhammananda (2004). Keyakinan Umat Buddha. Yayasan Penerbit Karaniya dan Ehipassiko Foundation. hlm. 211–212. 
  43. ^ K. Sri Dhammananda (2004). Keyakinan Umat Buddha. Yayasan Penerbit Karaniya dan Ehipassiko Foundation. hlm. 212. 
  44. ^ Paritta, Pali. "PANCASILA (Lima Latihan Sila)". ParittaBuddhist.com. Paritta dan Lagu Buddhis. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-12-22. Diakses tanggal 20 Desember 2015. 
  45. ^ Keown 1996, hlm. 12.
  46. ^ Smith 2006.
  47. ^ a b Johnson 2013, hlm. 34–37.
  48. ^ Pew Research Center 2012.
  49. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-06-09. Diakses tanggal 2015-12-21. 
  50. ^ [1]

Sumber Internet

sunting
  1. ^ a b c d Pew Research Center. "Global Religious Landscape: Buddhists". Pew Research Center. 
  2. ^ "Dharmacarini Manishini". Western Buddhist Review. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-08-08. Diakses tanggal 2016-01-01. 

Pranala luar

sunting