Bubuksah dan Gagangaking

Bubukṣah dan Gagangaking (variasi nama: Bubhuksah, Bela-belu yang dalam versi lisan Jawa modern terkadang ditambah gelar "syekh", Gagakaking, Dami Aking) adalah suatu cerita rakyat didaktis yang popular dari masa Majapahit, dan hingga sekarang diwariskan turun-temurun, baik secara lisan maupun tertulis (pada helai lontar, khususnya di Bali). Kisah ini diabadikan di beberapa candi dan potongan relief di Jawa Timur yang merupakan peninggalan Majapahit, seperti Candi Penataran, Candi Gambar Wetan, dan Candi Surawana.[1] Cerita Bubuksah dan Gagangaking dalam relief candi sering kali ditampilkan bersama-sama cerita Sri Tanjung.

Cerita ini merupakan cerita didaktis keagamaan hasil pengembangan pujangga sastra Jawa asli. Isinya menceritakan bagaimana dua cara "laku" (ritual ibadah untuk mencapai tujuan tertentu) yang berbeda diukur hasilnya. Kesetiaan akan tujuan dari laku tersebut yang akan dinilai, bukan dari cara lakunya itu sendiri.

Jalan ceritaSunting

Karena diwariskan secara lisan turun-temurun, berbagai versi cerita ini muncul. Namun demikian, ada plot yang tetap dipertahankan. Berikut disampaikan versi umum yang cukup dikenal.[1]

Ada dua orang bersaudara bernama Gagangaking (sang kakak) dan Bubuksah (adiknya), yang karena sesuatu hal (banyak versi mengenai hal ini), kemudian belajar untuk menjadi pertapa dan mendapat perkenan dewa. Mereka belajar dari seorang guru, tetapi dalam pelaksanaan lakú bertapanya menempuh dua jalan yang berbeda.

Gagangaking membatasi makan dan minum serta kenikmatan duniawi sebagai laku prihatin untuk mencapai tingkat spiritual tertinggi. Akibatnya tubuhnya menjadi kurus-kering; itulah mengapa ia dijuluki Gagangaking (artinya "tangkai kering"). Sebaliknya, sang adik - Bubuksah, yang artinya "usus serakah" - menempuh laku dengan menikmati segala hal yang duniawi, termasuk makan dan kesenangan, sebagai bentuk "tantangan" kepada tubuhnya sendiri sebagai bentuk pencapaian spiritual. Gagangaking, sebagai kakak mencoba mengingatkan Bubuksah agar meninggalkan cara laku tersebut, yang dianggapnya membuat sang pelaku mudah tergelincir dalam kenikmatan duniawi. Bubuksah menolak peringatan tersebut. Akhirnya, kedua bersaudara tersebut terlibat dalam perdebatan.

Menyaksikan perdebatan tersebut, sang Batara Guru menjadi prihatin. Untuk itu ia mengutus Dewa Kalawijaya untuk menguji keteguhan hati kedua pertapa tersebut. Dalam wujud harimau yang kelaparan, Kalawijaya mendatangi Gagangaking. Ia bermaksud untuk memangsa Gagangaking untuk menghilangkan laparnya. Gagangaking menolak maksud sang harimau dengan menyatakan bahwa ia terlalu kurus untuk dijadikan mangsa. Selanjutnya, sang harimau menemui Bubuksah dan menyatakan ingin memangsanya. Ternyata, Bubuksah menyediakan dirinya untuk dimangsa sang harimau karena menganggap itulah saatnya bagi dia untuk menuju tujuan lakunya, menghadap dewa.

Sang harimau lalu menyatakan bahwa Bubuksah dinyatakan lulus ujian dan mempersilakannya naik ke punggungnya untuk kemudian diantarkan menuju tempat para orang suci. Namun, sebelum berangkat, Bubuksah meminta sang harimau agar sang kakak, Gagangaking, juga ikut serta dengannya, dengan alasan ia pun juga telah melakukan laku tapa dengan tulus. Sang harimau menyetujui tapi dengan syarat Gagangaking tidak naik di punggungnya. Akhirnya Gagangaking ikut serta dengan berpegangan pada ekor sang harimau menuju ke tempat para orang suci.

VariasiSunting

Pewarisan turun-temurun melalui sastra lisan menimbulkan banyak penafsiran dan variasi baru dari plot umum cerita. Versi yang populer di Bali menceritakan kedua bersaudara tersebut membangun sebuah pendopo sebagai ajang belajar untuk bertapa (laku).[2] Penuturan warga Kediri dan sekitarnya menyatakan bahwa pertapaan kedua bersaudara tersebut berada di bukit tepi Gunung Wilis, di dekat Bengawan Brantas, atau di pertapaan Gunung Klotok, dekat Kota Kediri. Pertapaan Bubuksah dan Gagangaking kemudian dijadikan padepokan pembinaan para santri oleh Syeh Bela Belu.

Versi "islamisasi" dari kisah ini pun juga dikenal oleh sebagian masyarakat Jawa. Di Yogyakarta, hikayat menyatakan bahwa Bubuksah, yang juga memiliki nama muda sebagai Jaka Bandhem, berkelana ke pesisir selatan Yogyakarta dan akhirnya tiba di pantai Parangtritis. Di sana ia kemudian bertemu dengan Syekh Maulana Maghribi, utusan dari Sunan Pandanarang, yang menyebarkan ajaran Islam di bagian selatan Jawa. Bubuksah kemudian menerima ajaran Islam dan berjuluk Syekh Bela Belu.[3]

Naskah tertulisSunting

Cerita Bubuksah dan Gagang Aking ditemukan dalam versi tulisan pada lembar lontar dalam bentuk kidung menggunakan bahasa Jawa periode Tengahan maupun dalam bentuk prosa yang dilestarikan di Bali.[4] Versi Bali cenderung lebih "lengkap", misalnya dengan menyebutkan nama muda dari Gagak Aking (Kebo Milir) dan Bubuksah (Kebo Ngraweg). Detail laku juga dideksripsi lebih jelas.

Panil cerita di Candi PenataranSunting

Di kompleks Candi Penataran, kisah Bubuksah dan Gagangaking ditampilkan dalam lima adegan pada panil di sisi timur di antara dua tiang naga, bergerak dari selatan ke utara (dari kiri ke kanan). Penggambaran dimulai dari pertemuan Gagangaking dan Bubuksah yang kemudian menjadi perdebatan. Adegan paling khas dari kisah ini, yaitu Bubuksah menunggang harimau yang diikuti oleh Gagangaking yang berpegangan pada ekor harimau, ada pada adegan keempat. Adegan ini juga ditemukan di Candi Surawana.[2] Berikut adalah perincian dari panil-panil tersebut.

Nomor adegan Gambar Rincian cerita[5]
1 Gambaran adegan 1: Seorang petapa yang gemuk, yang memakai penutup aurat dan jata (tutup kepala petapa) duduk di atas sebuah batur berhadapan dengan seorang petapa lain yang rambutnya terlepas. Di samping kedua petapa itu tampak sebuah rumah tertutup yang terbuat dari kayu, sebuah tempat sajian dari batu, dan relung untuk sajian.

Penafsiran cerita: Dua bersaudara pertapa, Bubuksah dan Gagangaking, tengah berselisih mengenai cara laku yang benar: apakah dengan cara berpantang makanan sehingga tubuh menjadi kurus atau dengan cara memakan segala sesuatu yang tersedia.

2 Gambaran adegan 2: Seekor harimau besar yang sedang mengaung mendatangi seorang petapa yang kurus-kering yang rambutnya terurai. Di atas harimau itu sebuah awan dengan di dalamnya sesosok bhuta kecil yang mengangkat tangan kirinya. Di dalam pelipit atas tertulis angka tahun 1279 Saka (1375 M).

Penafsiran cerita: Macan jelmaan dari Kalawijaya menguji keteguhan hati Gagangaking, apakah ia bersedia berkorban dengan menjadi mangsa sang harimau. Gagangaking dalam kejadian ini menolak untuk menjadi mangsa (tangan kiri sang petapa menyiratkan penolakan).

3-4 Gambaran adegan 3: Harimau tadi kini mendekati petapa gemuk yang memakai "tutup kepala petapa." Di atas relief terdapat tulisan "bubuksah" dalam huruf Kawi yang jelas. Bagian itu pernah terlepas, tetapi kemudian ditemukan kembali oleh van Stein Callenfels. Di dalam pelipit atas: sebatang pohon kecil.

Penafsiran cerita: Macan jelmaan dari Kalawijaya menguji keteguhan hati Bubuksah, apakah ia bersedia berkorban dengan menjadi mangsa sang macan. Bubuksah bersedia menjadi mangsa karena ia menganggap itulah saat dia menghadap kepada pada dewa.

Gambaran adegan 4: = Harimau tadi sedang naik bukit ke udara, ia ditumpangi petapa gemuk yang berpakaian tutup kepala petapa ("jatamakuta"). Ekornya dipegang petapa yang kurus-kering, yang masih berdiri di bawah pohon yang daun-daunnya terbentuk seperti bhuta yang sedang mengangkat tangan kanannya.

Penafsiran cerita: Bubuksah dianggap layak untuk memasuki alam orang suci dan diantar oleh sang macan untuk menuju ke sana. Atas permintaan Bubuksah, kakaknya Gagangaking juga boleh ikut, tetapi oleh sang macan dilarang ikut naik di punggungnya; oleh karena itu, ia hanya ikut berpegangan pada ekornya.

5 Gambaran adegan 5: Petapa yang kurus sedang berjalan di belakang petapa yang gemuk, yang mengikuti seorang dewa, yang berpakaian dan berhiasan indah, berambut buas. Pada adegan ini tampak jelas penutup aurat yang dipakai Bubuksah dan Gagang Aking.

Penafsiran cerita: Kalawijaya dalam wujud aslinya mengantarkan Bubuksah dan Gagangaking memasuki tempat orang-orang suci.

RujukanSunting

  1. ^ a b Adi, Fadhil Nugroho (Selasa, 7 November 2017). "Bubuksah-Gagang Aking, Dua Bersaudara yang Diabadikan di Relief Tiga Candi". Suara Merdeka daring. Diakses tanggal 14 Maret 2020. 
  2. ^ a b Suleiman, Satyawati (1981). Seri Penerbitan Bergambar 3: Batur Pendopo Panataran. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. 
  3. ^ adminmerapi (20 Juli 2018). "MENELISIK KISAH SYEH BELA BELU DAN DAMIAKING (1) – Mengembara Menyusur Pantai Selatan". Harian Merapi daring. Diakses tanggal 14 Maret 2020. 
  4. ^ Anonim. "Lontar Bubuksah". Tetandingan Banten Bali. Diakses tanggal 1 Mei 2020. 
  5. ^ Gambaran adegan mengambil dari Suleiman (1981) (lih. Rujukan)

BacaanSunting