Buka menu utama

Kabupaten Bima

kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia

Kabupaten Bima adalah sebuah kabupaten di Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Ibu kotanya ialah Woha.

Kabupaten Bima
Lambang Kabupaten Bima.png
Lambang Kabupaten Bima


Moto: Maja Labo Dahu



Lokasi NTB Kabupaten Bima.svg
Peta lokasi Kabupaten Bima di Nusa Tenggara Barat
Koordinat: 118°44'–119°22' LS, 8°8'–8°57' BT
Provinsi Nusa Tenggara Barat
Dasar hukum PP Nomor 41 Tahun 2007, Pemindahan ibukota PP No. 31/2008
Ibu kota Woha
Pemerintahan
- Bupati Hj. Indah Dhamayanti Putri
- Wakil Bupati Drs.H.Dahlan
APBD
- APBD Rp.1.778.713.865.742,-[1]
- PAD Rp. 195.312.168.175,-
- DAU Rp. 880.920.216.000,-(2018)[1]
Luas 3.405,63 km²[2]
Populasi
- Total 473,890 jiwa[3]
- Kepadatan {{{kepadatan}}}
Demografi
- IPM 64,15 (2016)[4]
- Zona waktu UTC +8 WITA
- Kode area telepon 0374
- Bandar udara Sultan Muhammad Salahudin
Pembagian administratif
- Kecamatan 18[2]
- Desa 191[2]
Simbol khas daerah
Situs web http://www.bimakab.go.id/

GeografiSunting

Batas wilayahSunting

Kabupaten Bima terletak di bagian timur Pulau Sumbawa dengan batas wilayah sebagai berikut:

Utara Laut Flores
Timur Selat Sape
Selatan Samudera Indonesia
Barat Kabupaten Dompu

LetakSunting

Kabupaten Bima merupakan salah satu Daerah Otonom di Provinsi Nusa Tenggara Barat, terletak di ujung timur dari Pulau Sumbawa bersebelahan dengan Kota Bima (pecahan dari Kota Bima). Secara geografis Kabupaten Bima berada pada posisi 117°40”-119°10” Bujur Timur dan 70°30” Lintang Selatan.[5]

TopografiSunting

Secara topografis wilayah Kabupaten Bima sebagian besar (70%) merupakan dataran tinggi bertekstur pegunungan sementara sisanya (30%) adalah dataran. Sekitar 14% dari proporsi dataran rendah tersebut merupakan areal persawahan dan lebih dari separuh merupakan lahan kering. Oleh karena keterbatasan lahan pertanian seperti itu dan dikaitkan pertumbuhan penduduk kedepan, akan menyebabkan daya dukung lahan semakin sempit. Konsekuensinya diperlukan transformasi dan reorientasi basis ekonomi dari pertanian tradisional ke pertanian wirausaha dan sektor industri kecil dan perdagangan. Dilihat dari ketinggian dari permukaàn laut, Kecamatan Donggo merupakan daerah tertinggi dengan ketinggian 500 m dari permukaan laut, sedangkan daerah yang terendah adalah Kecamatan Sape dan Sanggar yang mencapai ketinggian hanya 5 m dari permukaan laut.

Di Kabupaten Bima terdapat lima buah gunung, yakni:

  • Gunung Tambora di Kecamatan Tambora
  • Gunung Sangiang di Kecamatan Wera
  • Gunung Maria di Kecarnatan Wawo
  • Gunung Lambitu di Kecamatan Lambitu
  • Gunung Soromandi di Kecamatan Donggo, merupakan gunung tertinggi di wilayah ini dengan ketinggian 4.775 m.

Luas wilayahSunting

Luas wilayah setelah pembentukan Daerah Kota Bima berdasarkan Undang-undang Nomor 13 tahun 2002 adalah seluas 437.465 Ha atau 4.394,38 Km² (sebelum pemekaran 459.690 Ha atau 4.596,90 Km²) dengan jumlah penduduk 473,890 jiwa[6] dengan kepadatan rata-rata 96 jiwa/Km².

Iklim dan CuacaSunting

Wilayah Kabupaten Bima beriklim tropis dengan rata-rata curah hujan relatif pendek. Keadaan curah hujan tahunan rata-rata tercatat 58.75 mm, maka dapat disimpulkan Kabupaten Bima adalah daerah berkategori kering sepanjang tahun yang berdampak pada kecilnya persediaan air dan keringnya sebagian besar sungai. Curah hujan tertinggi pada bulan Februari tercatat 171 mm dengan hari hujan selama 15 hari dan musim kering terjadi pada bulan Juli, Agustus dan September di mana tidak tejadi hujan. Kabupaten Bima pada umumnya memiliki drainase yang tergenang dan tidak tergenang. Pengaruh pasang surut hanya seluas 1.085 Ha atau 0,02% dengan lokasi terbesar di wilayah pesisir pantai. Sedangkan luas lokasi yang tergenang terus menerus adalah seluas 194 Ha, yaitu wilayah Dam Roka, Dam Sumi dan Dam Pelaparado, sedangkan Wilayah yang tidak pernah tergenang di Kabupaten Bima adalah seluas 457.989 Ha.

SejarahSunting

Kabupaten Bima berdiri pada tanggal 5 Juli 1640 M, ketika Sultan Abdul Kahir (La Kai) dinobatkan sebagai Sultan Bima I yang menjalankan Pemerintahan berdasarkan Syariat Islam. Peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Bima yang diperingati setiap tahun. Bukti-bukti sejarah kepurbakalaan yang ditemukan di Kabupaten Bima seperti Wadu Pa’a, Wadu Nocu, Wadu Tunti ("batu bertulis") di Dusun Padende, Kecamatan Donggo, menunjukkan bahwa daerah ini sudah lama dihuni manusia. Dalam sejarah kebudayaan penduduk Indonesia terbagi atas bangsa Melayu Purba dan bangsa Melayu baru. Demikian pula halnya dengan penduduk yang mendiami Daerah Kabupaten Bima, mereka yang menyebut dirinya Dou Mbojo, Dou Donggo yang mendiami kawasan pesisir pantai. Disamping penduduk asli, juga terdapat penduduk pendatang yang berasal dari Sulawesi Selatan, Jawa, Madura, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur dan Maluku.[7]

Kerajaan BimaSunting

Kerajaan Bima dahulu terpecah–pecah dalam kelompok-kelompok kecil yang masing-masing dipimpin oleh Ncuhi. Ada lima Ncuhi yang menguasai lima wilayah, yaitu:

  1. Ncuhi Dara, memegang kekuasaan wilayah Bima Tengah
  2. Ncuhi Parewa, memegang kekuasaan wilayah Bima Selatan
  3. Ncuhi Padolo, memegang kekuasaan wilayah Bima Barat
  4. Ncuhi Banggapupa, memegang kekuasaan wilayah Bima Utara
  5. Ncuhi Dorowani, memegang kekuasaan wilayah Bima Timur

Kelima Ncuhi ini hidup berdampingan secara damai, saling hormat menghormati dan selalu mengadakan musyawarah mufakat bila ada sesuatu yang menyangkut kepentingan bersama. Dari kelima Ncuhi tersebut yang bertindak selaku pemimpin dari Ncuhi lainnya adalah Ncuhi Dara. Pada masa-masa berikutnya, para Ncuhi ini dipersatukan oleh seorang utusan yang berasal dari Jawa. Menurut legenda yang dipercaya secara turun temurun oleh masyarakat Bima, cikal bakal Kerajaan Bima adalah Maharaja Pandu Dewata yang mempunyai 5 orang putra, yaitu:

  • Darmawangsa
  • Sang Bima
  • Sang Arjuna
  • Sang Kula
  • Sang Dewa

Salah seorang dari lima bersaudara ini yakni Sang Bima berlayar ke arah timur dan mendarat di sebuah pulau kecil di sebelah utara Kecamatan Sanggar yang bernama Satonda. Sang Bima inilah yang mempersatukan kelima Ncuhi dalam satu kerajaan, yakni Kerajaan Bima dan Sang Bima sebagai raja pertama bergelar Sangaji. Sejak saat itulah Bima menjadi sebuah kerajaan yang berdasarkan Hadat dan saat itu pulalah Hadat Kerajaan Bima ditetapkan berlaku bagi seluruh rakyat tanpa kecuali. Hadat ini berlaku terus menerus dan mengalami perubahan pada masa pemerintahan raja Ma Wa’a Bilmana. Setelah menanamkan sendi-sendi dasar pemerintahan berdasarkan Hadat, Sang Bima meninggalkan Kerajaan Bima menuju timur, tahta kerajaan selanjutnya diserahkan kepada Ncuhi Dara hingga putra Sang Bima yang bernama Indra Zamrud sebagai pewaris tahta datang kembali ke Bima pada abad 14-15 M.[7]

Seiring berjalannya waktu, Kabupaten Bima juga mengalami perkembangan ke arah yang lebih maju. Dengan adanya kewenangan otonomi yang luas dan bertanggungjawab yang diberikan oleh pemerintah pusat dalam bingkai otonomi daerah sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang No.22 Tahun 1999 dan direvisi menjadi UU No.33 Tahun 2004, Kabupaten Bima telah memanfaatkan kewenangan itu dengan terus menggali potensi-potensi daerah, baik potensi sumber daya manusia maupun sumber daya alam agar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mempercepat pertumbuhan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.[7]

Hubungan darah antara Bima, Bugis dan MakassarSunting

Hubungan kekerabatan dan kekeluargaan yang terjalin selama kurun waktu 1625–1819 (194 tahun) pun terputus hingga hari ini. Hubungan kekeluargaan antara dua kesultanan besar di kawasan Timur Indonesia, yaitu Kesultanan Gowa dan Kesultanan Bima terjalin sampai pada turunan yang ke-7. Hubungan ini merupakan perkawinan silang antara Putra Mahkota Kesultanan Bima dan Putri Mahkota Kesultanan Gowa terjalin sampai turunan ke-6, sedangkan yang ke VII adalah pernikahan Putri Mahkota Kesultanan Bima dan Putra Mahkota Kesultanan Gowa.[7]


Pemerintahan dan Pembagian AdministratifSunting

Daftar BupatiSunting

No Foto Nama Bupati Mulai Jabatan Akhir Jabatan Wakil Bupati Keterangan Ref.
1 Sultan Abdul Kahir II 1950 1967
2 Letkol H. Suharmadji 1967 1974
3 Letkol H. M. Thohir 1974 1979
4 Letkol H. Umar Haroen 1979 1989
5 Letkol H. Halim Djafar 1989 1994
6 Letkol H. Adi Haryanto 1994 1999
7 Drs. H. Zainul Arifin 1999 2005
8 H. Ferry Zulkarnain, ST 2005 2010 Usman AK
9 H. Ferry Zulkarnain, ST 2010 2015 Drs. H. Syafrudin M. Nur, M.Pd.
- Drs. Bacharudin M.Pd 2015 2016 plt. Bupati
10 Hj. Indah Dhamayanti Putri 2016 Drs. Dahlan M. Noer [8][9]

Dewan PerwakilanSunting

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Kabupaten Bima
 
Jenis
Jenis
Pimpinan
Ketua
Murni Suciyanti,  
sejak 3 November 2014[10]
Wakil Ketua I
H. Muhammad H. Ibrahima,  
sejak 9 Juni 2016[11]
Wakil Ketua II
Nukrah,  
sejak 3 November 2014[10]
Wakil Ketua III
Syamsudin,  
sejak 3 November 2014[10]
Komposisi
Anggota45[12]
 
Partai & kursi
  PAN (7)
  PKS (4)
  PPP (4)
  PDI-P (3)
  PKB (3)
  PBB (2)
Pemilihan
Representasi Proposional
Pemilihan terakhir
9 April 2014
Tempat bersidang
Gedung DPRD Kabupaten Bima
Jalan Gatot Subroto No. 4 Woha
Kabupaten Bima
Nusa Tenggara Barat
Indonesia
Catatan kaki
aMenggantikan Indah Damayanti Putri.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bima (disingkat DPRD Kabupaten Bima, untuk membedakannya dengan DPRD Kota Bima) adalah lembaga perwakilan rakyat daerah tingkat kabupaten yang ada di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. DPRD Kabupaten Bima memiliki 45 anggota yang dipimpin oleh satu ketua dan tiga wakil ketua.[10][12]

Periode 2014-2019Sunting

Lihat PulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ a b "APBD 2018 ringkasan update 04 Mei 2018". 2018-05-04. Diakses tanggal 2018-07-06. 
  2. ^ a b c "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diakses tanggal 05-12-2018. 
  3. ^ https://bimakab.bps.go.id/publication/2017/08/11/ed57a4b39615b0177993b089/kabupaten-bima-dalam-angka-2017.html. Diakses tanggal 2019-01-21.  Teks "Kabupaten Bima dalam angka 2017 " akan diabaikan (bantuan); Tidak memiliki atau tanpa |title= (bantuan)
  4. ^ "Indeks Pembangunan Manusia 2016". Diakses tanggal 2018-07-06. 
  5. ^ Potensi Daerah Kabupaten Bima. Situs Pemkab Bima
  6. ^ "Badan Pusat Statistik Kabupaten Bima". bimakab.bps.go.id. Diakses tanggal 2019-01-21. 
  7. ^ a b c d "Sejarah Kabupaten Bima". Kabar Sumbawa. 2014-01-19. Diakses tanggal 2019-01-21. 
  8. ^ "Dinda, Istri Mendiang Sultan Bima Dilantik Jadi Bupati". www.aktualita.info. Diakses tanggal 2018-10-31. 
  9. ^ Baiduri, MC Nieke Indrietta (2016-02-17). "Indah Damayanti, Kepala Daerah Perempuan Pertama di NTB". Tempo. Diakses tanggal 2018-10-31. 
  10. ^ a b c d Kahaba: Kabar Harian Bima, 3 November 2014, Pimpinan DPRD Kabupaten Bima Definitif Dilantik, dikunjungi pada 7 Februari 2019.
  11. ^ Dinamika Mbojo, 9 Juni 2016, H. Muhammad Resmi Menjadi Pimpinan Wakil Ketua DPRD Kab. Bima, dikunjungi pada 7 Februari 2019.
  12. ^ a b BPS Kabupaten Bima, Agustus 2018, [https://bimakab.bps.go.id/publication/2018/08/16/cc363238d02ec3940d82261a/kabupaten-bima-dalam-angka-2018.html Kabupaten Bima Dalam Angka 2018, dikunjungi pada 7 Februari 2019.
  13. ^ Kahaba: Kabar Harian Bima, 25 September 2014, 45 Anggota DPRD Kabupaten Bima Resmi Dilantik, dikunjungi pada 7 Februari 2019.
  14. ^ Koran Stabilitas, 29 September 2014, 45 Anggota DPRD Kabupaten Bima, Dilantik, dikunjungi pada 7 Februari 2019.
  15. ^ Ahyar R, 5 Mei 2014, Inilah "Anggota DPRD Kabupaten Bima Terpilih" Periode 2014-2019, RONAMASA, dikunjungi pada 7 Februari 2019.

KecamatanSunting

Kabupaten Bima terdiri dari 18 Kecamatan, yaitu;

  1. Ambalawi
  2. Belo
  3. Bolo
  4. Donggo
  5. Lambitu
  6. Lambu
  7. Langgudu
  8. Madapangga
  9. Monta
  10. Palibelo
  11. Parado
  12. Sanggar
  13. Sape
  14. Soromandi
  15. Tambora
  16. Wawo
  17. Wera
  18. Woha

KulinerSunting

Kabupaten Bima memiliki berbagai macam kuliner khas daerah[1], yaitu:

  1. Uta Palumara Londe[2]
  2. Uta Sepi Tumis[3]
  3. Kahangga
  4. Uta Maju Puru[4]
  5. Tota Fo'o
  6. Bingka Dolu.

Kabupaten Bima juga memiliki sambal yang khas, yaitu:

  1. Sambal Kahuntu Kalo.
    Berkas:Sambal kahuntu kalo.jpg
    Sambal Kahuntu Kalo
    Lazimnya jantung pisang dimanfaatkan sebagai sayuran. Masyarakat suku Mbojo sendiri menjadikannya sebagai sambal. Jantung pisang direbus dulu dengan tambahan garam. Kemudian diiris kecil-kecil, lalu ditambahkan bahan-bahan seperti bawang merah, tomat, potongan udang, cabai dan bahan lain. Semua bahan dicampur dan santar cair. Kemudian dinikmati bersama ikan goreng atau panggang.
  2. Sambal Colek Asam (Tutu Mangge)
  3. Sambal Jeruk (Mbohi Dungga)
  4. Sambal Bawang Merah (Sia Dungga)
  5. Sambal Asin Pedas (Sia Saha)
  6. Kuah Asam (Noro Mangge)
  7. Saus Asam (Samba Mangge).

ReferensiSunting

  1. ^ Angelia, Pretty (2015-05-29). "6 Kuliner Khas Bima yang Menggugah Selera." news.lewatmana.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-01-21. 
  2. ^ "Uta Palumara Londe". 
  3. ^ "Uta Sepi Tumis". 
  4. ^ "Uta Maju Puru » Perpustakaan Digital Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2019-02-06. 

Lihat pulaSunting

Pranala luarSunting