Kerajaan Kahuripan

kerajaan di Asia Tenggara

Kerajaan Kahuripan adalah nama yang lazim dipakai untuk sebuah kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Airlangga pada tahun 1019 M. Kerajaan ini dibangun sebagai kelanjutan Kerajaan Medang yang runtuh tahun 1016 M. Pada tahun 1042 Kerajaan Kahuripan dibagi dua oleh Airlangga menjadi Kerajaan Janggala dan Kerajaan Panjalu.

Kerajaan Kahuripan

1019–1043
Candi Gunung Gangsir, peninggalan Kerajaan Kahuripan di daerah Beji, Pasuruan
Candi Gunung Gangsir, peninggalan Kerajaan Kahuripan di daerah Beji, Pasuruan
Ibu kota
Bahasa yang umum digunakanJawa Kuno, Sansekerta
Agama
Kejawen, Hinduisme, Buddhisme, Animisme
PemerintahanMonarki
Raja 
• 1019 - 1042
Airlangga
• 1042 - 1043
Sanggramawijaya Tunggadewi
Sejarah 
• Didirikan
1019
• Wilayah Kahuripan dibagi dua, menjadi Janggala dan Panjalu
1042
• Dibubarkan
1043
Mata uangKoin emas dan perak
Didahului oleh
Digantikan oleh
Kerajaan Medang
Kerajaan Janggala
Kerajaan Panjalu

Latar belakangSunting

Runtuhnya Kerajaan MedangSunting

Raja Kerajaan Medang yang terakhir bernama Dharmawangsa Teguh, saingan berat Kerajaan Sriwijaya. Pada tahun 1016 Raja Wurawari dari Lwaram sekitar Cepu, Blora (sekutu Sriwijaya) menyerang Istana Wwatan, ibu kota Kerajaan Medang, yang tengah mengadakan pesta pernikahan Airlangga dengan putri dari raja Dharmawangsa Teguh, Dharmawangsa Teguh sendiri tewas dalam serangan tersebut sedangkan keponakannya yang bernama Airlangga beserta dengan putri Dharmawangsa berhasil lolos.

Airlangga adalah putra pasangan Mahendradatta (saudari Dharmawangsa Teguh) dan Udayana raja dari Kerajaan Bedahulu, Bali. ia lolos bersama putri Dharmawangsa ditemani pembantunya yang bernama Mpu Narotama. Sejak saat itu Airlangga menjalani kehidupan sebagai pertapa di hutan pegunungan (Vana giri) sekarang Wonogiri, kemudian menuju Sendang Made, Kudu, Jombang

Berdirinya KerajaanSunting

Pada saat pelarian dan dalam pertapaannya, pada tahun 1019, Airlangga didatangi para utusan rakyat serta senopati yang masih setia meminta agar dirinya mendirikan dan membangkitkan kembali sisa-sisa kejayaan kedaton Medang. Atas dukungan dari para pendeta ia kemudian membangun sebuah Ibukota baru yang bernama Watan Mas.

Ibu kota baru bernama Watan Mas terletak di dekat sekitar Gunung Penanggungan. Pada mulanya wilayah kerajaan yang diperintah Airlangga hanya meliputi daerah Gunung Penanggungan dan sekitarnya, karena banyak daerah-daerah bawahan Kerajaan Medang yang membebaskan diri setelah keruntuhannya. Baru setelah Kerajaan Sriwijaya dikalahkan Rajendra Coladewa, raja Colamandala dari Kerajaan Chola India tahun 1023, Airlangga bisa dengan leluasa membangun kembali kejayaan wangsa Isyana.

Perluasan wilayahSunting

Sejak tahun 1025, peperangan demi peperangan dijalani Airlangga. Satu demi satu kerajaan-kerajaan di Jawa Timur dapat ditaklukkannya. Namun pada tahun 1031 Airlangga kehilangan kota Watan Mas karena diserang oleh raja wanita yang kuat bagai raksasa. Raja wanita itu adalah Ratu Dyah Tulodong, yang merupakan salah satu raja Kerajaan Lodoyong (sekarang wilayah Tulungagung, Jawa Timur). Dyah Tulodong digambarkan sebagai ratu yang memiliki kekuatan luar biasa. Salah satu peristiwa sejarah penting adalah pertempuran antara bala tentara Raja Airlangga yang berhasil dikalahkan oleh Dyah Tulodong. Pertempuran tersebut terjadi lantaran Dyah Tulodong berusaha membendung ekspansi Airlangga yang waktu itu sudah menguasai wilayah-wilayah di sekitar kerajaan Lodoyong. Bahkan di beberapa riwayat, diceritakan pasukan khusus yang dibawa Ratu Dyah Tulodong merupakan prajurit-prajurit wanita pilihan, pasukan ini bahkan berhasil memukul mundur pasukan Airlangga dari pusat kota kerajaannya "Watan Mas" di dekat Gunung Penanggungan hingga ke Patakan (Sambeng, Lamongan, Jawa Timur).

Tetapi satu tahun kemudian di penghujung tahun 1032, Pasukan Airlangga dari arah utara, bergerak ke selatan menuju wilayah Lodoyong. Dyah Tulodong berhasil dikalahkan oleh Airlangga lewat pertempuran sengit. Tidak lama kemudian Raja Wurawari pun dapat dihancurkannya, sekaligus membalaskan dendam keluarga Airlangga dan wangsa Isyana. Sejak saat itu wilayah kerajaan Airlangga mencakup hampir seluruh Jawa Timur.

Airlangga kemudian membangun ibu kota baru bernama Kahuripan yang berpusat di daerah Kabupaten Sidoarjo sekarang. nama Kahuripan inilah yang kemudian lazim dipakai sebagai nama kerajaan yang dipimpin Airlangga, sama halnya nama Singhasari yang sebenarnya adalah nama ibu kota, lazim dipergunakan sebagai nama kerajaan yang dipimpin oleh Kertanagara. Airlangga juga memperluas wilayah kerajaan hingga ke Jawa Tengah, bahkan pengaruh kekuasaannya diakui sampai ke Bali.

Perkembangan KerajaanSunting

Kerajaan dengan pusatnya di Kahuripan ini wilayahnya membentang dari Pasuruan di timur hingga Madiun di barat. Pantai utara Jawa, terutama Surabaya dan Tuban, menjadi pusat perdagangan yang penting untuk pertama kalinya. Airlangga naik tahta dengan gelar abhiseka (wisuda) Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa.

Setelah keadaan aman, Airlangga mulai mengadakan pembangunan-pembangunan demi kesejahteraan rakyatnya. Pembangunan yang dicatat dalam prasasti-prasasti peninggalannya antara lain.

  • Membangun Sri Wijaya Asrama tahun 1036.
  • Membangun bendungan Waringin Sapta tahun 1037 untuk mencegah banjir musiman.
  • Memperbaiki pelabuhan Hujung Galuh, yang letaknya di muara Kali Brantas, dekat Surabaya sekarang.
  • Membangun jalan-jalan yang menghubungkan daerah pesisir ke pusat kerajaan.
  • Meresmikan pertapaan Gunung Pucangan tahun 1041.

Ketika itu, Airlangga dikenal atas toleransi beragamanya, yaitu sebagai pelindung agama Hindu Syiwa dan Buddha.

Airlangga juga menaruh perhatian terhadap seni sastra. Tahun 1035 Mpu Kanwa menulis Arjuna Wiwaha yang diadaptasi dari epik Mahabharata. Kitab tersebut menceritakan perjuangan Arjuna mengalahkan Niwatakawaca, sebagai kiasan Airlangga mengalahkan raja Wurawari.

Pembagian Kerajaan KahuripanSunting

Pada akhir pemerintahannya tahun 1042, Airlangga berhadapan dengan masalah persaingan perebutan takhta antara kedua putranya. Raja yang sebenarnya, adalah putri Airlangga, yaitu Sanggramawijaya Tunggadewi, yang menjadi putri mahkota sekaligus pewaris takhta istana Kahuripan, namun ia memilih mengundurkan diri untuk menjalani hidup suci sebagai pertapa bergelar Dewi Kili Suci Sanggramawijaya. Kemudian di tahun yang sama, berdasarkan prasasti Pamwatan dan Serat Calon Arang, Airlangga memindahkan ibukotanya ke kota Daha, wilayah Panjalu atau Kediri.

Sebelum turun tahta, pada akhir November 1042, atas saran penasehat kerajaan Mpu Barada, Airlangga terpaksa membagi kerajaannya menjadi dua, bagian barat yaitu wilayah Panjalu beribu kota di Daha diserahkan kepada Sri Samarawijaya, kemudian bagian timur yaitu wilayah Janggala beribu kota di Kahuripan diserahkan kepada Mapanji Garasakan.

Setelah turun takhta, Airlangga menjalani hidup sebagai pertapa sampai meninggal sekitar tahun 1049. Menurut Serat Calon Arang ia kemudian bergelar Resi Erlangga Jatiningrat, sedangkan menurut Babad Tanah Jawi ia bergelar Resi Gentayu. Namun yang paling dapat dipercaya adalah prasasti Gandhakuti (1042) yang menyebut gelar kependetaan Airlangga adalah Resi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana.

Kahuripan dalam sejarah MajapahitSunting

Nama Kahuripan muncul kembali dalam catatan sejarah Kerajaan Majapahit yang berdiri tahun 1293. Raden Wijaya sang pendiri kerajaan tampaknya memperhatikan adanya dua kerajaan yang dahulu diciptakan oleh Airlangga.

Dua kerajaan tersebut adalah Kadiri alias Daha, dan Janggala alias Kahuripan atau Jiwana. Keduanya oleh Raden Wijaya dijadikan sebagai daerah bawahan yang paling utama. Daha di barat, Kahuripan di timur, sedangkan Majapahit sebagai pusat.

Pararaton mencatat beberapa nama yang pernah menjabat sebagai Bhatara i Kahuripan, atau disingkat Bhre Kahuripan. Yang pertama ialah Tribhuwana Tunggadewi putri Raden Wijaya. Setelah tahun 1319, pemerintahannya dibantu oleh Gajah Mada yang diangkat sebagai patih Kahuripan, karena berjasa menumpas pemberontakan Ra Kuti.

Hayam Wuruk sewaktu menjabat yuwaraja juga berkedudukan sebagai raja Kahuripan bergelar Jiwanarajyapratistha. Setelah naik takhta Majapahit, gelar Bhre Kahuripan kembali dijabat ibunya, yaitu Tribhuwana Tunggadewi.

Sepeninggal Tribhuwana Tunggadewi yang menjabat Bhre Kahuripan adalah cucunya, yang bernama Surawardhani. Lalu digantikan putranya, yaitu Ratnapangkaja.

Sepeninggal Ratnapangkaja, gelar Bhre Kahuripan disandang oleh keponakan istrinya (Suhita) yang bernama Rajasawardhana. Ketika Rajasawardhana menjadi raja Majapahit, gelar Bhre Kahuripan diwarisi putra sulungnya, yang bernama Samarawijaya.

Situs Budaya KahuripanSunting

Pranala luarSunting

Didahului oleh:
Medang
Kerajaan Hindu-Budha
1009-1042
Diteruskan oleh:
Kadiri dan Janggala