Suku Tengger

suku bangsa di Indonesia

Suku Tengger atau lazim disebut Jawa Tengger (IPA: /tənggər/) atau juga disebut orang Tengger atau wong Brama adalah suku yang mendiami dataran tinggi sekitaran kawasan pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, Jawa Timur, Indonesia[1]. Penduduk suku Tengger menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Malang. [2]

Suku Tengger
Pendeta Tengger pada masa Hindia Belanda
Pendeta Tengger pada masa Hindia Belanda
Daerah dengan populasi signifikan
Pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, Jawa Timur
Bahasa
Bahasa Jawa Tengger & Bahasa Indonesia
Agama
Sebagian besar beragama Hindu, serta minoritas Islam dan agama lainnya.
Suku bangsa terkait
Suku Bali
Upacara Melasti Suku Tengger di Bromo.

Asal namaSunting

Ada 3 teori yang menjelaskan asal nama Tengger:

  • Tengger berarti berdiri tegak atau berdiam tanpa gerak, yang melambangkan watak orang Tengger yang berbudi pekerti luhur, yang harus tercermin dalam segala aspek kehidupan.
  • Tengger bermakna pegunungan, yang sesuai dengan daerah kediaman suku Tengger.
  • Tengger berasal dari gabungan nama leluhur suku Tengger, yakni Rara Anteng dan Jaka Seger.

AgamaSunting

 
Sajian Tengger, 1971.

Agama asli orang Tengger kemungkinan adalah sejenis campuran agama hindu-buddha zaman Majapahit dengan beberapa elemen pemujaan kepada leluhur, berbeda dengan agama Hindu Dharma dari Bali. Agama mereka disebut agama Hindu Jawa atau Buda Tengger, untuk membedakan dengan agama Buda Jawa (kejawen) dan Buda Bali (Hindu Dharma Bali. Pada tahun 1970an, orang Tengger terpaksa menganut agama resmi yang diakui pemerintah untuk menghindari tuduhan sebagai pendukung PKI. Sebagian besar pemimpin adat (dukun pandhita) menyerukan untuk menganut agama hindu dharma dari Bali (yang pada waktu itu lebih dulu mendapat pengakuan resmi dari pemerintah) karena melihat kemiripan dalam tata cara peribadatan. Namun, dukun pandhita desa Ngadas di Kabupaten Malang, menolak keputusan itu. Penduduk desa tersebut kemudian menganut agama buddha. Sebagian lagi menganut Islam atau kristen, terutama penduduk di lereng bawah. Beberapa desa tersebut telah sama sekali meninggalkan tradisi Tengger sehingga terlihat tidak berbeda lagi dengan penduduk suku Jawa kebanyakan. Namun, desa Wonokerto di Probolingggo tetap hidup dengan cara Tengger, walaupun terbatas hanya pada interaksi sehari-hari. Orang-orang suku Tengger dikenal taat dengan aturan dan agama Hindu. Meskipun telah menganut agama Hindu Dharma, tetapi tradisi-tradisi sebelumnya tetap dilaksanakan. Penduduk suku Tengger diyakini merupakan keturunan langsung dari Kerajaan Majapahit. Nama Tengger berasal dari legenda Rara Anteng dan Jaka Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger, yaitu "Teng" akhiran nama Rara An-"teng" dan "ger" akhiran nama dari Jaka Se-"ger". Alur cerita legenda tersebut simpang siur, tetapi cerita yang paling dipercaya menceritakan bahwa Rara Anteng adalah putri Raja Brawijaya V dari majapahit. Putri tersebut lari ke pegunungan Tengger setelah kehancuran Majapahit. Di Tengger, Dia diangkat anak oleh salah seorang pandhita yang bernama Resi Dadap Putih. Sementara Jaka Seger adalah seorang pemuda daru Kediri yang mencari pamannya di pegunungan Tengger. Mereka berdua bertemu lalu membentuk keluarga yang akan menurunkan penduduk Tengger.

Perasaan sebagai satu saudara dan satu keturunan Rara Anteng-Jaka Seger inilah yang menyebabkan suku Tengger tidak menerapkan sistem kasta dalam kehidupan sehari-hari.

BudayaSunting

Bagi suku Jawa Tengger, Gunung Bromo atau Gunung Brahma dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara yakni Pura Luhur Poten Bromo dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Sebelum didirikan pura di tempat tersebut hanyalah pelataran dari semen, tempat seluruh dukun pandhita se-Tengger melakukan Upacara Kasadha. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 pada bulan kasada (keduabelas) menurut penanggalan Tengger.

Upacara adat lain yang dilakukan orang Tengger dapat dibagi menjadi upacara kalenderis dan upacara non-kalenderis. Semua upacara ini intinya dilakukan untuk mengharap keselamatan untuk manusia dan lingkungannya.

Beberapa upacara kalenderis yang terjadi tiap tahun dengan waktu yang selalu sama dalam kalender Tengger antara lain:

1. Upacara Pujan: dilakukan pada bulan-bulan tertentu, sebagai berikut:

a. Pujan Karo/Riyaya Karo: dilaksanakan pada bulan ke-2 (bulan Karo) sejak tanggal ke-7 hingga ke-22. Termasuk salah satu upacara besar untuk memperingati terjadinya dualitas di dunia terutama laki-laki dan wanita, baik dan buruk. Makna lainnya, terutama di desa Ngadas Malang adalah untuk memperingati perseteruan abdi Ajisaka dan Nabi Muhammad, dan secara umum memperingati hubungan Buddha dan Islam (dalam Hefner, 1980). Puncak upacara dilakukan pada tanggal ke-15 saat bulan purnama. Pelaksanaan di tiap desa Tengger berbeda-beda. Orang Tengger di Pasuruan (Brang Kulon) melaksanakan Tari Sodoran yang diikuti beberapa desa namun dipusatkan di satu desa. Orang Tengger Probolinggo khusus di desa Ngadisari, Wonotoro, dan Jetak melakukan Tari Sodoran bersama. Satu desa secara bergantian menjadi tuan rumah sementara dua desa lain menjadi pengantin laki-laki dan perempuan (yang diperankan oleh masing-masing kepala desa). Tari sodoran adalah tati yang menyimbolkan hubungan intim antara suami dan istri. Desa Ngadirejo, Ngadas, dan Wonokerto juga melakukan tradisi ini, tetapi karena penduduk desa Wonokerto telah menganut Islam dan tidak melakukan adat Tengger lagi maka tari sodoran ketiga desa tersebut sudah tidak dilakukan. Sementara itu desa-desa sisanya tidak melakukan taro sodoran, tetapi melaksanakan doa bersama yang disebut banten gede di rumah masing-masing kepala desa. Upacara ini kemudian ditutup debgan nyadran (berziarah dan makan bersama di makam desa) pada tanggal 22 bulan Karo.

b. Pujan Kapat: dilaksanakan pada bulan ke-4 (Kapat) pada tanggal ke-4 di rumah kepala desa/dukun pandhita di masing-masing desa.

c. Pujan Kapitu: dilaksanakan pada bulan ke-7 (Kapitu) pada tanggal ke-15 di rumah kepala desa/dukun pandhita di masing-masing desa.

d. Pujan Kawolu: dilaksanakan pada bulan ke-8 pada tanggal ke-1 di rumah kepala desa/dukun pandhita di masing-masing desa.

e. Pujan Kesanga: dilaksanakan pasa bulan ke-9 pada malam hari tanggal 24 di rumah kepala desa/dukun pandhita di masing-masing desa. Kemudian dilanjutkan dengan berkeliling desa membawa obor dan alat musik khas Tengger. Khusus untuk desa Ngadas Kabupaten Malang, pada tanggal ini mereka mengadakan upacara Grebeg Tengger Tirto Aji di sumber air pemandian Wendit Malang. Sebelum tahun 2003, upacara ini dilakukan di mata air Gua Widodaren di gugusan pegunungan Bromo.

f. Pujan Kasada: dilakukan pada bulan ke-12 pada tanggal ke-15 dini hari secara terpusat si Pura Luhur Poten. Pada upacara ini juga dilakukan pelantikan calon dukun. Calon dukun yang mampu membaca mantra Pulun tanpa salah di depan semua hadirin akan lolos menjadi dukun. Namun, proses pembelajaran menjadi dukun baru dimulai setelah itu. Perlu bertahun-tahun lagi sebelum dukun baru dapat memimpin upacara.

2. Upacara Galungan: Upacara yang dilakukan pada wuku Galungan. Upacara ini berbeda dengan hari raya Galungan dalam agama Hindu Bali. Sejak orang Tengger menganut agama Hindu Bali, maka perayaannya kemudian disatukan dengan Hari Raya Galungan.

3. Unan-unan/Mayu Bumi: Upacara paling besar yang dilakukan sekali tiap 8 tahun wuku atau setiap 5 tahun masehi. Dilakukan pada tahun Pahing/tahun landhung (tahun panjang) pada kalender Tengger yang terdiri dari 13 bulan. Tahun ini terjadi tiap 5 tahun sekali. Pada upacara ini hitungan tahun dikurangi 1 bulan, sehingga hitungan tahun Manis/Legi tetap 12 bulan meskipun kenyataannya total 13 bulan. Unan-unan hanya dilakukan pada bulan Karo, Kalima, dan Dhesta bergantian tiap 5 tahun. Setelah dilakukan upacara Unan-unan pada bulan tersebut, maka bulan selanjutnya masing-masing akan tetap menjadi Karo, Kalima, atau Dhesta. Unan-unan dilaksanakan di masing-masing desa, dipusatkan di Sanggar Agung masing-masing. Pada tahun 2018 M, Unan-unan serentak dilakukan pada Bulan Kalima bertepatan pada Jumat 23 November 2018. Namun, perayaan Unan-unan di desa Ngadas Malang telah dilaksanakan lebih dulu pada bulan Dhesta tanggal 31 Mei 2018. Unan-unan bersama juga dilakukan oleh beberapa dukun pandhita dari Tengger Brang Wetan di Kabupaten Lumajang pada Rabu 28 November 2018. Upacara dipusatkan di Sanggar Sejati di desa Kandangan kecamatan Senduro. Sebuah situs punden berundak dengan beberapa menhir dan dolmen yang telah menjadi tempat upacara orang Tengger sebelum bergabung dengan agama Hindu Bali. Jadwal pelaksanaan unan-unan berikutnya pada bulan Dhesta tanggal 24 April 2024.

Sedangkan upacara non-kalenderis antara lain:

1. Entas-entas: upacara rumit yang bertujuan mengentas roh leluhur yang sudah meninggal agar mencapai "panggon" (tempatnya) yang abadi. Biasanya dilakukan secara kolektif. Identik dengan upacara "nyewu" (1000 hari) pada masyarakat Jawa pada umumnya. Namun entas-entas tidak harus dilakukan pada hari ke-1000.

2. Tugel Kuncung/Tugel Gombak: Upacara untuk anak balita dengan memotong rambut bagian depan (kuncung) pada laki-laki atau rambut atas (gombak) pada wanita.

3. Walagara: Upacara pernikahan

4. Barikan: dilakukan setelah terjadi bencana seperti gunung meletus, gerhana, gempa bumi, dan lainnya.

5. Mayu Desa: Upacara selametan penobatan kepala desa yang baru.

6. Pembaron: Upacara yang sudah tidak lernah dilakukan, bahkan sebagian besar orang Tengger sudah tidak tahu tentang upacara ini. Terakhir dilakukan saat pendudukan Jepang. Upacara yang khusus dilakukan kepada dukun pandhita atau kepala desa (petinggi) untuk menjadi seorang "Baru" di usia yang sudah lanjut. Seorang Baru adalah orang yang sudah meninggalkan hasrat duniawi, dimana rohnya akan langsung menuju puncak mahameru setekah meninggal. Sementara orang biasa akan menuju puncak bromo. Pada upacara ini calon Baru akan membaca syair Puja Limbang.

7. Upacara lain yang berkaitan dengan daur hidup, membangun rumah, pindah rumah, akan bepergian, peresmian jalan baru, pembukaan jalur pendakian gunung Semeru dan lainnya.

Seluruh upacara tersebut dipimpin oleh pemimpin adat yang disebut dukun padhita. Dukun pandhita Tengger berbeda dengan dukun di komunitas Jawa lainnya. Resi Pujangga adalah nama kuno dari profesi ini. Penyebutan menjadi dukun kemungkinan karena penduduk Tengger meniru dari penduduk non-tengger disekitar. Resi Pujangga memiliki persamaan yang menarik dengan Resi Bujangga (dari klan sengguhu) di Bali, dimana mereka berdua mewarisi mantra Purwabhumi Kamulan dan masih merapalkannya pada saat-saat tertentu hingga saat ini. Dukun pandhita dalam tugasnya dibantu oleh beberapa asisten, antara lain:

1. Wong sepuh/tiyang sepuh lelaki yang bertugas membuat boneka Petra sebagai tempat roh leluhur yang diundang turun ke bumi seperti pada upacara unan-unan, entas-entas, atau karo. Selain itu juga menata sesajen saat upacara.

2. Legen lelaki yang bertugas membawa benda-benda upacara milik dukun. Tugas-tugas lain Legen juga bertumpang tindih dengan tugas Wong Sepuh.

3. Mbok Dandan / pedandan Biasanya adalah istri dari dukun pandhita. Bertugas memasak, membuat, dan merangkai sesajen pada sebuah upacara.

4. Pak Sanggar Lelaki yang bertugas menjaga sanggar agung desa. Tidak ada disetiap desa, karena biasanya tugas ini dilakukan oleh kepala desa. . Diperkirakan baru muncul kemudian, karena perintah penjajah untuk memisahkan peran kepala desa dari ranah ritual.

Lihat pulaSunting

RujukanSunting

KepustakaanSunting

  • Robert W. Hefner. 1980. Hindu Javanese, Tengger Tradition, and Islam. Princeton University.
  • Dwi Ratna Nurhajarini. 2015. Sistem Kalender Tengger Mecak dalam Tata Kehiduoan Masyarakat Tengger. Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.