Buka menu utama

Bahasa Jawa

bahasa Austronesia

Bahasa Jawa (Basa Jawa, Hanacaraka: ꦧꦱꦗꦮ, Pegon: باسا جاوا) adalah bahasa Austronesia yang utamanya dituturkan oleh penduduk bersuku Jawa di wilayah bagian tengah dan timur pulau Jawa. Bahasa Jawa juga dituturkan oleh diaspora Jawa di wilayah lain di Indonesia, seperti di Sumatra dan Kalimantan; serta di luar Indonesia seperti di Suriname, Belanda, dan Malaysia. Jumlah total penutur bahasa Jawa diperkirakan mencapai sekitar 75,5 juta pada tahun 2006. Sebagai bahasa Austronesia dari subkelompok Melayu-Polinesia, bahasa Jawa juga berkerabat dengan bahasa Melayu, Sunda, Bali dan banyak bahasa lainnya di Indonesia, meskipun para ahli masih memperdebatkan mengenai posisi pastinya dalam rumpun Melayu-Polinesia.

Bahasa Jawa
Basa Jawa
ꦧꦱꦗꦮ
باسا جاوا
Dituturkan diIndonesia, Belanda, Malaysia, Suriname, serta negara-negara dengan diaspora Jawa lainnya
Wilayahutamanya bagian tengah dan timur Pulau Jawa; Lampung dan wilayah transmigrasi lainnya di Indonesia; daerah dengan diaspora Jawa yang signifikan di Belanda, Suriname, dan Malaysia
EtnisJawa
Penutur bahasa
68 juta penutur jati  (2010)[1]
Bentuk awal
Bahasa Jawa Kuna
  • Bahasa Jawa
Alfabet Latin
Aksara Jawa
Abjad Pegon
Kode bahasa
ISO 639-1jv
ISO 639-2jav
ISO 639-3Variously:
jav – bahasa Jawa
jvn – bahasa Jawa Karibia
jas – bahasa Jawa Kaledonia Baru
osi – bahasa Osing
tes – bahasa Tengger
kaw – bahasa Jawa Kuno

Sejarah tulisan bahasa Jawa bermula sejak abad ke-9 dalam bentuk bahasa Jawa Kuno, yang kemudian berevolusi hingga menjadi bahasa Jawa Baru sekitar abad ke-15. Bahasa Jawa awalnya ditulis dengan sistem aksara dari India yang kemudian diadaptasi menjadi aksara Jawa, walaupun bahasa Jawa masa kini lebih sering ditulis dengan alfabet Latin. Bahasa Jawa memiliki tradisi sastra yang berkesinambungan sejak abad ke-9 hingga kini.


Klasifikasi

 
Posisi bahasa Jawa (ditebalkan) dalam rumpun bahasa Austronesia menurut beberapa skema klasifikasi ahli bahasa dari masa ke masa.

Bahasa Jawa merupakan bagian dari subkelompok Melayu-Polinesia dalam rumpun bahasa Austronesia, walaupun tingkat kekerabatannya dengan bahasa-bahasa Melayu-Polinesia yang lain sulit ditentukan. Menggunakan metode leksikostatistik, pada tahun 1965 ahli bahasa Isidore Dyen menggolongkan bahasa Jawa ke dalam kelompok yang ia sebut "Javo-Sumatra Hesion", yang juga mencakup bahasa Sunda dan bahasa-bahasa Melayik.[a][2][3] Kelompok ini juga disebut "Melayu-Jawanik" oleh ahli bahasa Berndt Nothofer yang pertama kali berusaha merekonstuksi leluhur dari bahasa-bahasa dalam kelompok hipotetis ini dengan data yang saat itu hanya terbatas pada empat bahasa saja (bahasa Jawa, Sunda, Madura, dan Melayu).[4]

Pengelompokan Melayu-Jawanik telah dikritisi dan ditolak oleh berbagai ahli bahasa.[5][6] Ahli linguistik sejarah Austronesia K. Alexander Adelaar tidak memasukkan bahasa Jawa dalam subkelompok Melayu-Sumbawa (yang mencakup bahasa-bahasa Melayik, Sunda, dan Madura) yang diusulkannya pada tahun 2005.[6][7] Ahli linguistik sejarah Austronesia yang lain, Robert Blust, juga tidak memasukkan bahasa Jawa dalam subkelompok Borneo Utara Raya yang ia usulkan sebagai alternatif dari hipotesis Melayu-Sumbawa pada tahun 2010. Meski begitu, Blust juga mengemukakan kemungkinan bahwa subkelompok Borneo Utara Raya berkerabat dekat dengan bahasa-bahasa Indonesia Barat lainnya, termasuk bahasa Jawa.[8] Usulan Blust ini telah dikembangkan secara lebih terperinci oleh ahli bahasa Alexander Smith yang memasukkan bahasa Jawa ke dalam subkelompok Indonesia Barat (yang juga mencakup bahasa-bahasa Borneo Utara Raya) berdasarkan bukti leksikal dan fonologis.[9]

Sejarah

Secara garis besar, perkembangan bahasa Jawa dapat dibagi ke dalam dua fase bahasa yang berbeda, yaitu 1) bahasa Jawa Kuno dan 2) bahasa Jawa Baru.[7][10]

Bahasa Jawa Kuno

Bentuk terawal bahasa Jawa Kuno yang terlestarikan dalam tulisan, yaitu Prasasti Sukabumi, berasal dari tahun 804 Masehi.[11] Sejak abad ke-9 hingga abad ke-15, ragam bahasa ini umum digunakan di pulau Jawa. Bahasa Jawa Kuno lazimnya dituliskan dalam bentuk puisi yang berbait. Ragam ini terkadang disebut juga dengan istilah kawi 'bahasa kesusastraan', walaupun istilah ini juga merujuk pada unsur-unsur arkais dalam ragam tulisan bahasa Jawa Baru.[7] Sistem tulisan yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa Kuno merupakan adaptasi dari aksara Pallawa yang berasal dari India.[11] Sebanyak hampir 50% dari keseluruhan kosa kata dalam tulisan-tulisan berbahasa Jawa Kuno berakar dari bahasa Sansekerta, walaupun bahasa Jawa Kuno juga memiliki kata serapan dari bahasa-bahasa lain di Nusantara.[7][11]

Ragam bahasa Jawa Kuno yang digunakan pada beberapa naskah dari abad ke-14 dan seterusnya terkadang disebut juga "bahasa Jawa Pertengahan". Walaupun ragam bahasa Jawa Kuno dan Jawa Pertengahan tidak lagi digunakan secara luas di Jawa setelah abad ke-15, kedua ragam tersebut masih lazim digunakan di Bali untuk keperluan ritual keagamaan.[7][12]

Bahasa Jawa Baru

Bahasa Jawa Baru tumbuh menjadi ragam literer utama bahasa Jawa sejak abad ke-16. Peralihan bahasa ini terjadi secara bersamaan dengan datangnya pengaruh Islam.[10] Pada awalnya, ragam baku bahasa Jawa Baru didasarkan pada ragam bahasa wilayah pantai utara Jawa yang masyarakatnya pada saat itu sudah beralih menjadi Islam. Karya tulis dalam ragam bahasa ini banyak yang bernuansa keislaman, dan sebagiannya merupakan terjemahan dari bahasa Melayu.[13] Bahasa Jawa Baru juga mengadopsi huruf Arab dan menyesuaikannya menjadi huruf Pegon.[10][13]

Kebangkitan Mataram menyebabkan ragam tulisan baku bahasa Jawa beralih dari wilayah pesisir ke pedalaman. Ragam tulisan inilah yang kemudian dilestarikan oleh penulis-penulis Surakarta dan Yogyakarta, dan menjadi dasar bagi ragam baku bahasa Jawa masa kini.[13] Perkembangan bahasa lainnya yang diasosiasikan dengan kebangkitan Mataram pada abad ke-17 adalah pembedaan antara tingkat tutur ngoko dan krama.[14] Pembedaan tingkat tutur ini tidak dikenal dalam bahasa Jawa Kuno.[13][14]

Buku-buku cetak dalam bahasa Jawa mulai muncul sejak tahun 1830-an, awalnya dalam aksara Jawa, walaupun kemudian alfabet Latin juga mulai digunakan. Sejak pertengahan abad ke-19, bahasa Jawa mulai digunakan dalam novel, cerita pendek, dan puisi bebas. Kini, bahasa Jawa digunakan dalam berbagai media, mulai dari buku hingga acara televisi. Ragam bahasa Jawa Baru yang digunakan sejak abad ke-20 hingga sekarang terkadang disebut pula "bahasa Jawa Modern".[13]

Demografi dan persebaran

Persentase penduduk setiap provinsi di Indonesia yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu, berdasarkan sensus 2010.
Jumlah penduduk setiap provinsi di Indonesia yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu, berdasarkan sensus 2010.

Di antara bahasa-bahasa Austronesia, bahasa Jawa merupakan bahasa dengan komunitas penutur jati paling besar.[7] Jumlah total penutur bahasa Jawa diperkirakan mencapai sekitar 75,5 juta pada tahun 2006.[15] Data resmi sensus 2010 melaporkan sekitar 68 juta penutur jati bahasa Jawa.[1]

Sebagian besar penutur bahasa Jawa mendiami wilayah tengah dan timur Pulau Jawa.[7] Jumlah penutur jati bahasa Jawa yang berasal dari provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur mencakup 83% dari total jumlah penutur jati bahasa Jawa di Indonesia.[16] Selain di pulau Jawa, bahasa Jawa juga dituturkan sebagai bahasa ibu di daerah-daerah transmigrasi seperti di Lampung, sebagian wilayah Riau, Jambi, Kalimantan Tengah, dan di tempat lainnya di Indonesia. Di luar Indonesia, penutur bahasa Jawa terpusat di beberapa negara, seperti di Suriname, Belanda, Kaledonia Baru, dan Malaysia (terutama di pesisir barat Johor).[7][15]

Fonologi

Bahasa Jawa memiliki 23–25 fonem konsonan dan 6–8 fonem vokal.[17][18][19] Dialek-dialek bahasa Jawa memiliki kekhasan masing-masing dalam hal fonologi.[20]

Vokal

Terdapat perbedaan pendapat mengenai jumlah fonem vokal dalam bahasa Jawa. Menurut ahli bahasa Jawa E. M. Uhlenbeck, bahasa Jawa memiliki enam fonem vokal yang masing-masingnya memiliki dua variasi pengucapan, kecuali fonem pepet /ə/.[21] Pendapat ini disetujui oleh beberapa ahli bahasa Jawa lainnya. Namun, analisis alternatif dari beberapa ahli bahasa menyimpulkan bahwa bahasa Jawa memiliki dua fonem tambahan, yaitu /ɛ/ dan /ɔ/ yang dianggap sebagai fonem mandiri, terpisah dari /e/ dan /o/.[18][22]

1. Vokal[23][22]
Depan Madya Belakang
Tertutup i u
Semitertutup e o
Semiterbuka (ɛ) ə (ɔ)
Terbuka a

Mengikuti analisis enam vokal, fonem-fonem di atas memiliki alofon sebagai berikut:

  • Fonem /i/ memiliki dua alofon, yaitu [i] yang umumnya muncul dalam suku kata terbuka, dan [ɪ] dalam suku kata tertutup.[24]
mari [mari] 'sembuh'
wit [wɪt] 'bibit'
  • Fonem /u/ memiliki dua alofon, yaitu [u] yang umumnya muncul dalam suku kata terbuka, dan [ʊ] dalam suku kata tertutup.[25]
kuru [kuru] 'kurus'
mung [mʊŋ] 'hanya'
  • Fonem /e/ memiliki dua alofon, yaitu [e] dan [ɛ] yang dapat muncul baik dalam suku kata terbuka maupun tertutup.[26] Dalam suku kata terbuka, /e/ direalisasikan sebagai [ɛ] jika suku kata tersebut diikuti oleh 1) suku kata terbuka dengan vokal [i] atau [u], 2) suku kata dengan vokal identik, atau 3) suku kata yang memiliki vokal [ə].[3]
saté [sate] 'satai'
mèri [mɛri] 'iri'
kalèn [kalɛn] 'selokan'
  • Fonem /o/ memiliki dua alofon, yaitu [o] yang umumnya muncul dalam suku kata terbuka, dan [ɔ] yang dapat muncul baik dalam suku kata terbuka maupun tertutup.[27] Dalam suku kata terbuka, /o/ direalisasikan sebagai [ɔ] jika suku kata tersebut diikuti oleh 1) suku kata terbuka dengan vokal [i] atau [u], 2) suku kata dengan vokal identik, atau 3) suku kata yang memiliki vokal [ə].[3]
loro [loro] 'dua'
kori [kɔri] 'pintu gerbang'
sorot [sorɔt] 'cahaya'
  • Fonem /a/ memiliki dua alofon, yaitu [a] yang umumnya muncul dalam suku kata penultima dan antepenultima[b] (baik yang terbuka maupun yang tertutup), serta [ɔ] yang dapat muncul dalam suku kata terbuka.[28] Dalam suku kata terbuka, /a/ hanya dapat direalisasikan sebagai [ɔ] jika suku kata tersebut berada di akhir kata, atau jika suku kata tersebut merupakan suku kata penultima dari kata yang berakhir dengan /a/.[3]
bali [bʰali] 'pulang'
kaloka [kalokɔ] 'termasyhur'
kaya [kɔyɔ] 'seperti'
  • Fonem /ə/ selalu diucapkan sebagai [ə].[29]
metu [mətu] 'keluar'
pelem [pələm] 'mangga'

Konsonan

Bahasa Jawa memiliki 21 fonem konsonan jika hanya menghitung kosa kata "asli". Sekitar 2–4 fonem konsonan tambahan dapat ditemui dalam kata-kata pinjaman. Dalam tabel di bawah ini, fonem dalam tanda kurung menandakan fonem pinjaman.[30][31]

2. Konsonan[30][31][3]
Labial Dental/alveolar[c] Retrofleks Palatal Velar Glotal
Sengau m n ɲ ŋ
Hambat letup/afrikat p b t d ʈ ɖ[d]   k ɡ ʔ
Frikatif[e] (f) s (z) (ʃ) (x) h
Likuida l r
Semivokal w j

Kecuali dalam kluster sengau homorganik[f], fonem /b/, /d/, /ɖ/, /dʒ/, dan /ɡ/ dalam posisi awal suku kata cenderung diucapkan dengan aliran udara yang lebih besar daripada biasanya dan hampir tanpa menggetarkan pita suara, sehingga mendekati bunyi [pʰ], [tʰ], [ʈʰ], [tʃʰ], dan [kʰ].[22] Ahli ilmu fonetik Peter Ladefoged dan Ian Maddieson mengistilahkan seri fonem ini sebagai konsonan hambat "bersuara kendur" (slack voiced), kontras dengan seri fonem /p/, /t/, /ʈ/, /tʃ/, dan /k/ yang "bersuara kencang" (stiff voiced). Walaupun keduanya sama-sama diucapkan tanpa menggetarkan pita suara dalam beberapa kondisi, seri konsonan kendur memiliki bukaan pita suara yang lebih lebar daripada seri konsonan kencang.[33] Selain itu, bunyi vokal yang mengikuti seri konsonan kendur juga diucapkan dengan aliran udara yang lebih besar (breathy voice).[22][33] Bunyi hambat pada akhir suku kata umumnya diucapkan tanpa letupan (/p/ diucapkan [p̚], /t/ diucapkan [t̚], /k/ diucapkan [k̚], dan seterusnya).[22][34]

Fonotaktik

Struktur suku kata paling umum dalam bahasa Jawa adalah V, KV, VK, dan KVK. Suku kata dapat pula diawali dengan gabungan konsonan, yang umumnya terbagi menjadi tiga jenis: 1) gabungan konsonan homorganik yang terdiri dari bunyi sengau ditambah bunyi letup bersuara (NKV, NKVK), 2) gabungan konsonan yang terdiri dari bunyi letup ditambah bunyi likuida atau semivokal (KKV, KKVK), dan 3) gabungan konsonan sengau homorganik yang diikuti dengan bunyi likuida dan semivokal (NKKV, NKKVK).[22][35]

V : ka-é 'itu'
KV : gu-la 'gula'
VK : pa-it 'pahit'
KVK : ku-lon 'barat'
KKV (termasuk NKV) : bla-bag 'papan', mbo-ten 'tidak'
KKVK (termasuk NKVK) : prap-ta 'datang'
NKKVK : ngglam-byar 'tidak fokus'

Deret konsonan antarvokal umumnya terdiri dari konsonan sengau + letup homorganik (seperti [mp], [mb], [ɲtʃ], dan seterusnya), atau [ŋs]. Bunyi /l/, /r/, dan /j/ dapat pula ditambahkan di akhir deret konsonan semacam ini. Contoh deret konsonan semacam ini adalah wonten 'ada', bangsa 'bangsa', dan santri 'santri, Muslim yang taat'. Dalam bahasa Jawa, suku kata sebelum deret konsonan semacam ini secara konvensional dianggap sebagai suku kata terbuka, sebab bunyi /a/ dalam suku kata seperti ini akan mengalami pembulatan menjadi [ɔ]. Kata tampa 'terima', misalnya, diucapkan sebagai [tɔmpɔ]. Bandingkan dengan kata tanpa 'tanpa' yang diucapkan sebagai [tanpɔ].[36]

Sebagian besar (85%) morfem dalam bahasa Jawa terdiri dari 2 suku kata; morfem sisanya memiliki satu, tiga, atau empat suku kata. Penutur bahasa Jawa memiliki kecenderungan yang kuat untuk mengubah morfem dengan satu suku kata menjadi morfem dengan dua suku kata. Morfem dengan empat suku kata kadang pula dianalisis sebagai gabungan dua morfem yang masing-masingnya memiliki dua suku kata.[22]

Tata bahasa

Pronomina persona

Bahasa Jawa tidak memiliki pronomina persona khusus untuk menyatakan jamak kecuali kata kita[37] yang kemungkinan diserap dari bahasa Indonesia.[38][39] Penjamakan kata ganti dapat diabaikan atau dinyatakan dengan menggunakan frasa semisal aku kabèh 'kami', awaké dhéwé 'kita', dhèwèké kabèh 'mereka' dan semacamnya.[38]

3. Pronomina persona[38][40][39]
Glos Bentuk bebas Awalan Akhiran
Ngoko Madya Krama Krama inggil/
andhap
1SG, 1PL.EXCL
'aku, saya, kami'
aku kula dalem tak-, dak- -ku
1PL.INCL 'kita' kita
2SG, 2PL
'kamu, Anda, kalian'
kowé samang sampéyan panjenengan ko-, kok- -mu
3SG, 3PL
'dia, ia, beliau, mereka'
dhèwèké[g] piyambakipun panjenengané,
panjenenganipun[h]
di- -(n)é, -(n)ipun

Pronomina persona dalam bahasa Jawa, terutama untuk persona kedua dan ketiga, lebih sering digantikan dengan nomina atau gelar tertentu.[39][41] Selain pronomina yang dijabarkan di dalam tabel di atas, bahasa Jawa masih memiliki beragam pronomina lain yang penggunaannya bervariasi tergantung dialek atau tingkat tutur.[42]

Demonstrativa

Demonstrativa atau kata tunjuk dalam bahasa Jawa adalah sebagai berikut:[43][44]

4. Demonstrativa[43][44]
dekat agak jauh jauh
netral iki, kiyi, kiyé 'ini' iku, kuwi, kuwé 'itu' (ika), kaé 'itu'
lokal kéné 'sini' kono 'situ' kana 'sana'
arah mréné, réné 'ke sini' mrono, rono 'ke situ' mrana, rana 'ke sana'
modal mengkéné, ngéné 'begini' mengkono, ngono 'begitu' mengkana, ngana 'begitu'
kuantitatif seméné, méné 'sekian ini' semono, mono 'sekian itu' semana, mana 'sekian itu'
temporal sepréné 'hingga saat ini' seprana 'hingga saat itu'

Kata iki dan iku dapat digunakan baik dalam tulisan maupun percakapan. Bentuk kiyi, kiyé, kuwi, dan kuwé utamanya digunakan dalam percakapan sehari-hari. Bentuk ika hanya dipakai dalam tembang. Bentuk madya dari iki/kiyi/kiyé, iku/kuwi/kuwé dan kaé adalah niki, niku, dan nika. Ketiga jenis demonstrativa ini memiliki bentuk krama yang sama, yaitu punika atau menika, walaupun dalam beberapa kasus, kata mekaten atau ngaten juga digunakan sebagai padanan krama dari kaé.[45][46]

Numeralia

Dalam bahasa Jawa, numeralia atau angka umumnya diletakkan setelah nomina.[47][48]

wong siji 'satu orang'
gelas pitu 'tujuh gelas'
candhi sèwu 'seribu candi'

Numeralia diletakkan sebelum nomina jika nomina tersebut merupakan penunjuk satuan ukuran atau satuan bilangan. Numeralia dalam posisi ini akan mendapatkan pengikat nasal -ng jika berakhir dengan bunyi vokal, atau -ang jika berakhir dengan konsonan non-sengau. Satu-satunya pengecualian adalah numeralia siji 'satu' yang diganti dengan imbuhan sa-/se-/s- dalam konteks ini.[47][48]

telung puluh 'tiga puluh'
patang pethi 'empat peti'
sa-genthong 'satu tempayan'
se-gelas 'segelas'
s-atus rupiyah 'seratus rupiah'

Nomina

Verba

Verba transitif dalam bahasa Jawa dapat dibentuk dengan merangkaikan awalan sengau N- pada kata dasar untuk bentuk aktif atau awalan pronominal seperti di-, tak-, dan kok- untuk bentuk pasif.[49]

(1) Wis nemu akal aku
Sudah AV:temu akal aku
'Aku sudah menemukan solusinya' (Ogloblin 2005, hlm. 601)
(2) Kandha=ku di-gugu wong akèh
Perkataan=1.GEN PASS:3-percaya orang banyak
'Perkataanku dipercaya oleh banyak orang' (Ogloblin 2005, hlm. 601)

Penambahan akhiran -i dan -aké umumnya menandakan valensi yang lebih tinggi.[i][49] Akhiran -i biasanya bersifat aplikatif, seperti dalam kata tanduri 'tanami (dengan sesuatu)' dari kata dasar tandur 'tanam'. Akhiran -aké (bentuk krama: -aken) dapat membentuk verba kausatif dari verba transitif, contohnya kata lebokaké 'memasukkan (ke dalam sesuatu)' dari kata mlebu. Jika dipasangkan pada verba intransitif, verba yang terbentuk dapat bersifat benefaktif, contohnya seperti kata jupukaké 'ambilkan (untuk seseorang)' dari bentuk dasar jupuk 'ambil'.[50]

(3) Kuwi mangan-i godhong tèh
Itu AV-makan-TR.1 daun teh
'[Serangga] itu memakani daun-daun teh' (Ogloblin 2005, hlm. 611)
(4) Para utusan mau uga ng-islam-aké wong-wong ing Pejajaran
Para utusan ANAPH juga AV-Islam-TR.2 orang-orang Pejajaran
'Para utusan ini juga mengislamkan orang-orang Pejajaran' (Ogloblin 2005, hlm. 611)

Baik verba transitif maupun intransitif memiliki beberapa bentuk tergantung modus gramatikanya. Selain bentuk dasar atau bentuk indikatif, ada pula bentuk irealis, imperatif, dan propositif. Bentuk propositif merupakan bentuk imperatif yang digunakan untuk memerintahkan diri sendiri atau mengekspresikan keinginan untuk melakukan sesuatu. Verba intransitif tidak memiliki bentuk imperatif khusus.[49] Modus irealis dalam bahasa Jawa diekspresikan dengan imbuhan -a, yang dapat memiliki beberapa makna, yaitu:[51]

  • Menyatakan kemungkinan (potential).
(5) Daya-daya tekan-a ing omah
secepatnya sampai-IRR LOC rumah
'Secepatnya [ia] sampailah ke rumah' (Ogloblin 2005, hlm. 605)
  • Menyatakan pengandaian (conditional).
(6) Aja-a ana lawa, lemud kuwi rak ndadi
NEG.IMP-IRR EXIST kelelawar nyamuk itu PTCL menjadi-jadi
'Kalau tidak ada kelelawar, nyamuk-nyamuk itu akan semakin menjadi-jadi' (Ogloblin 2005, hlm. 605)
  • Menyatakan harapan (optative)
(7) Lelakon iku di-gawé-a kaca
Kejadian itu PASS:3-buat-IRR cermin
'Jadikanlah kejadian itu pelajaran' (Ogloblin 2005, hlm. 605)
  • Menyatakan permintaan (hortative)
(8) Ng-ombé-a banyu godhogan
AV-minum-IRR air rebusan
'Minumlah air rebusan' (Ogloblin 2005, hlm. 605)

Kalimat

Sistem penulisan

Sastra

Dialek

Tingkat tutur

Bahasa Jawa memiliki beberapa tingkat tutur, atau ragam bahasa yang berhubungan dengan etika pembicara pada lawan bicara atau orang yang dibicarakan. Pilihan penggunaan tingkat tutur bergantung pada hal-hal seperti derajat tingkat sosial, umur, jarak kekerabatan dan keakraban.[52][53] Perbedaan antara tingkat tutur dalam bahasa Jawa utamanya adalah pada kosa kata serta imbuhan yang digunakan.[54] Berdasarkan derajat formalitasnya, kosa kata dalam bahasa Jawa dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu 1) ngoko, 2) madya, dan 3) krama.[52] Bentuk ngoko digunakan untuk berbicara kepada orang yang akrab dengan pembicara. Bentuk krama, yang jumlahnya ada sekitar 850 kata, digunakan untuk berbicara secara formal kepada orang yang belum akrab atau derajat sosialnya lebih tinggi. Beberapa imbuhan juga memiliki padanan krama. Sementara itu, bentuk madya jumlahnya amat terbatas, hanya sekitar 35 kosa kata khusus, dan digunakan untuk mengekspresikan derajat formalitas yang sedang.[13][55][56]

Selain tiga ragam kosa kata yang didasarkan pada derajat formalitas, ada pula jenis kosa kata yang digunakan untuk menandakan penghormatan atau perendahan diri, yaitu krama inggil dan krama andhap.[56][57] Bentuk krama inggil digunakan untuk merujuk pada seseorang yang dihormati oleh pembicara, kepemilikannya, beserta hal-hal yang ia lakukan. Bentuk krama andhap digunakan untuk merujuk pada hal-hal yang dilakukan pembicara atau orang lain kepada orang yang dihormati tersebut. Beberapa pronomina persona juga memilki padanan krama andhap.[56] Karena bentuk krama inggil dan krama andhap bukan penanda derajat formalitas, kosa kata jenis ini dapat digunakan dalam semua tingkat tutur.[56][57] Jumlah seluruh kosa kata dalam kategori ini adalah sekitar 280 buah.[13]

Keterangan

  1. ^ Definisi "Melayik" Dyen berbeda dengan definisi yang diterima para ahli secara luas sejak 1990-an; Melayik versi Dyen memiliki cakupan yang lebih luas, termasuk di antaranya bahasa Madura dan bahasa Aceh.
  2. ^ Ultima merujuk pada suku kata terakhir sebuah kata. Penultima merupakan suku kata kedua dari belakang, dan antepenultima merupakan suku kata ketiga dari belakang.
  3. ^ Fonem /n/, /l/, /r/, dan /s/ (serta /z/) ditandai sebagai fonem dental dalam analisis Ogloblin (2005), alveolar dalam analisis Wedhawati, dkk (2006), dan retrofleks dalam analisis Nothofer (2009). Fonem /t/ dan /d/ secara konsisten selalu ditandai sebagai konsonan dental; Wedhawati, dkk (2006) secara spesifik menyebut keduanya sebagai konsonan "apiko-dental", yaitu konsonan yang diucapkan dengan menempelkan ujung lidah ke gigi atas.[32]
  4. ^ Kedua konsonan ini ditandai sebagai "apiko-palatal" oleh Wedhawati, dkk (2006).
  5. ^ Wedhawati, dkk (2006) tidak memasukkan /ʃ/ dan /x/ sebagai fonem pinjaman dalam bahasa Jawa.
  6. ^ Kluster homorganik adalah gabungan konsonan yang diucapkan pada satu tempat artikulasi yang sama, seperti /mb/ dan /nd/.
  7. ^ Varian dhèwèkné, dhèkné, dan dhèknéné juga umum ditemui.[40]
  8. ^ Panjenengané dipakai dalam konteks ngoko, sementara panjenenganipun dipakai dalam konteks krama.[39]
  9. ^ Valensi adalah konsep tata bahasa mengenai hubungan antara verba dengan jumlah argumen yang dirujuk olehnya. Semakin tinggi valensi sebuah verba, semakin banyak argumen yang bisa dirujuk olehnya. Verba intransitif memiliki valensi terkecil, karena hanya dapat merujuk pada satu argumen saja.

Rujukan

Catatan kaki

  1. ^ a b Naim & Syaputra 2011, hlm. 47.
  2. ^ Dyen 1965, hlm. 26.
  3. ^ a b c d e Nothofer 2009, hlm. 560.
  4. ^ Nothofer 1975, hlm. 1.
  5. ^ Blust 1981.
  6. ^ a b Adelaar 2005, hlm. 357, 385.
  7. ^ a b c d e f g h Ogloblin 2005, hlm. 590.
  8. ^ Blust 2010, hlm. 97.
  9. ^ Smith 2017, hlm. 443, 453–454.
  10. ^ a b c Wedhawati, dkk 2006, hlm. 1.
  11. ^ a b c Wedhawati, dkk 2006, hlm. 2.
  12. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 8.
  13. ^ a b c d e f g Ogloblin 2005, hlm. 591.
  14. ^ a b Wedhawati, dkk 2006, hlm. 11.
  15. ^ a b Wedhawati, dkk, hlm. 1.
  16. ^ Naim & Syaputra 2011, hlm. 53.
  17. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 14.
  18. ^ a b Subroto, Soenardji & Sugiri 1991, hlm. 13–15.
  19. ^ Ogloblin 2005, hlm. 592–593.
  20. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 14–15, 17–18, 21–22.
  21. ^ Uhlenbeck 1982, hlm. 27.
  22. ^ a b c d e f g Ogloblin 2005, hlm. 593.
  23. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 66.
  24. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 67.
  25. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 68–69.
  26. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 69–70.
  27. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 70–71.
  28. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 71–72.
  29. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 70.
  30. ^ a b Wedhawati, dkk 2006, hlm. 73–74.
  31. ^ a b Ogloblin 2005, hlm. 592.
  32. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 80.
  33. ^ a b Ladefoged & Maddieson 1996, hlm. 63–64.
  34. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 75, 81, 91–92.
  35. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 97.
  36. ^ Ogloblin 2005, hlm. 593–594.
  37. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 268.
  38. ^ a b c Ogloblin 2005, hlm. 598.
  39. ^ a b c d Robson 2014, hlm. 1.
  40. ^ a b Uhlenbeck 1982, hlm. 242.
  41. ^ Uhlenbeck 1982, hlm. 239.
  42. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 268–269.
  43. ^ a b Uhlenbeck 1982, hlm. 236, 248, 264, 268, 276, 279, 283.
  44. ^ a b Wedhawati, dkk 2006, hlm. 270–275.
  45. ^ Uhlenbeck 1982, hlm. 248–249.
  46. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 270.
  47. ^ a b Wedhawati, dkk 2006, hlm. 305.
  48. ^ a b Ogloblin 2005, hlm. 608–609.
  49. ^ a b c Ogloblin 2005, hlm. 600.
  50. ^ Ogloblin 2005, hlm. 610–611.
  51. ^ Ogloblin 2005, hlm. 605.
  52. ^ a b Wedhawati, dkk 2006, hlm. 10.
  53. ^ Poedjosoedarmo 1968, hlm. 56–57.
  54. ^ Poedjosoedarmo 1968, hlm. 57.
  55. ^ Wedhawati, dkk 2006, hlm. 10–11.
  56. ^ a b c d Poedjosoedarmo 1968, hlm. 57–58.
  57. ^ a b Robson 2014, hlm. xvii.

Daftar pustaka

Bacaan lanjutan

  • Suharno, Ignatius (1982). A Descriptive Study of Javanese. Pacific Linguistics. D45. Pacific Linguistics, The Australian National University. doi:10.15144/PL-D45. 
  • Poedjosoedarmo, Soepomo (1982). Javanese influence on Indonesian. Pacific Linguistics. D38. Pacific Linguistics, The Australian National University. doi:10.15144/PL-D38. 
  • Zoetmulder, Petrus Josephus (1974). Kalangwan: A survey of Old Javanese literature. Translation series (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde). 16. Den Haag: Martinus Nijhoff. ISBN 9789024716746. 

Pranala luar