Buka menu utama

Wikipedia β

Pangajava

Kapal perang layar dan dayung cepat dari Nusantara
(Dialihkan dari Penjajap)
Penjajap yang diawaki oleh bajak laut Sulu, c. 1850

Penjajap (atau biasa disebut dalam bahasa Portugis: Pangajava) adalah sejenis perahu yang digunakan untuk pertempuran di laut. Perahu jenis ini dulu banyak digunakan baik oleh angkatan laut maupun bajak laut di Nusantara. Kapal pangajava berbentuk panjang dengan haluan dan buritan yang sangat lancip dan dibuat ringan agar dapat bergerak cepat. Ukurannya beragam, namun semakin kecil makin baik, karena kecepatannya menjadi bertambah besar. Serangan biasanya dilakukan menggunakan kapal pangajava kecil yang dapat bergerak cepat, sedangkan kapal pangajava besar berfungsi sebagai pelindung. Dalam operasinya mereka juga didampingi perahu kecil yang bernama kakap.

Di abad ke-18 dan abad ke-19, mereka umumnya digunakan untuk pembajakan oleh suku Banguingui dan Orang Lanun terhadap kapal-kapal dagang dan penjarahan permukiman pesisir di daerah sekitar Laut Sulu. Nama ini berarti "tersebar" atau "pengembara" dalam bahasa Sama suku Banguingui.

Sebuah ilustrasi penjajap kecil Iranun; sebuah lantaka dapat terlihat di haluannya. Dari tahun 1848.

Penjajap tidak memiliki cadik (tidak seperti lanong dan lain kapal perang karakoa). Meskipun begitu, penjajap sering salah disebut sebagai prahu atau proa, yang sama-sama merupakan perahu bercadik, dalam catatan sejarah.[1]

Daftar isi

DeskripsiSunting

Kapal penjajap lazimnya memiliki dua tiang layar. Layar berbentuk segi empat dan terbuat dari kajang. Sebagian besar perahu terbuka, kecuali di buritan yang diberi atap sebagai tempat kedudukan nakhoda. Di tempat ini juga amunisi dan senjata disimpan.

Untuk keperluan bertempur, penjajap dilengkapi baik dengan meriam berkaliber besar maupun lela (meriam yang lebih kecil dari meriam Barat). Dua meriam diletakkan di bagian depan, menembus sisi perahu, dengan moncong sejajar dengan arah perahu. Lela diletakkan melintang pada lambung kanan dan kiri. Pada penjajap kecil hanya ada satu atau dua lela.

Penjajap terbesar memiliki panjang sekitar 70 hingga 80 kaki (21 hingga 24 m) dan dapat mengangkut hingga 80 orang, tetapi kebanyakan penjajap rata-rata mencapai 60 hingga 70 kaki (18 hingga 21 m) dengan kru sekitar 60 orang. Sedangkan penjajap yang lebih kecil memiliki awak 25 hingga 30 orang. [1] Penjajap besar dapat berfungsi sebagai kapal induk untuk perahu salisipan yang lebih kecil (sejenis perahu banca tertutup, terlindung dari panah dan tombak) atau kakap (sebuah perahu yang mirip dengan sampan kecil tertutup), yang bisa membawa tambahan 15 orang.[1]

Selain layar, penjajap juga dapat dibantu oleh dayung. Penjajap berukuran sedang memiliki 20-30 pendayung, dan dengan dayung pendek kapal penjajap dapat bergerak dengan cepat baik ke depan maupun belakang. Saat Tome Pires mengunjungi Nusantara pada abad ke-16, penjajap/pangajava adalah jenis kapal kedua yang dihitungnya setiap sampai pada suatu pelabuhan setelah kapal jung.[2]

PeranSunting

Penjajap milik orang Lanun biasanya bersenjata ringan, jika dibandingkan dengan lanong. Mereka biasanya hanya memiliki satu meriam besar (lela). Sementara lanong digunakan khusus dalam pertempuran kapal ke kapal, Penjajap lebih cocok untuk menjarah desa-desa pesisir dan menyerang kapal-kapal dagang tidak bersenjata atau bersenjata ringan. Dalam pelayarannya penjajap biasanya didampingi oleh perahu yang lebih kecil yang bernama kakap. Kakap ini berfungsi sebagai peninjau (scout) bagi penjajap atau lanong.[3]

Tome Pires pada kunjungannya ke kepulauan Nusantara biasa menyebut pangajava sebagai kapal kargo. Banyak pangajava kargo yang berhasil dikumpulkan Pati Unus dari berbagai kota pelabuhan di Jawa untuk menyerang Portugis di Malaka. Pangajava ini dialih fungsikan menjadi kapal pengangkut pasukan dan senjata. Namun, kata Tome Pires, setelah kapal mereka disumbangkan aktivitas perdagangan di pelabuhan-pelabuhan tersebut menjadi lebih lesu.[2]

Lihat jugaSunting

ReferensiSunting

Lapian, Adrian B. (2009). Orang Laut-Bajak Laut-Raja Laut:Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX. Jakarta: Komunitas Bambu. 

  1. ^ a b James Francis Warren (2002). Iranun and Balangingi: Globalization, Maritime Raiding and the Birth of Ethnicity. NUS Press. hlm. 53–56. ISBN 9789971692421. 
  2. ^ a b Pires, Tome. Suma Oriental. London: The Hakluyt Society.
  3. ^ Mohamed Zen (2002). Orang Laut: Studi Etnopedagogi. Bandung: Penerbit Bahari Nusantara.