Kesultanan Gowa

Kesultanan di Sulawesi
(Dialihkan dari Kesultanan Makassar)

Gowa (juga dieja Goa) merupakan sebuah kerajaan dan kesultanan yang berpusat di daerah Sulawesi Selatan, tepatnya di ujung selatan dan pesisir barat semenanjung yang mayoritasnya didiami oleh suku Makassar. Wilayah inti bekas kerajaan ini sekarang berada di bawah Kabupaten Gowa dan beberapa bagian daerah sekitarnya.

Kesultanan Gowa

1300–1960
Bendera Kesultanan Gowa
Bendera
Wilayah kekuasaan Federasi Kesultanan Gowa-Tallo pada abad ke-17
Wilayah kekuasaan Federasi Kesultanan Gowa-Tallo pada abad ke-17
Ibu kotaSungguminasa
Bahasa yang umum digunakanMakassar (resmi), Bugis, Mandar, dll.
Agama
Islam
PemerintahanMonarki
Sultan 
Sejarah 
• Didirikan
1300
• Ditaklukkan oleh Belanda
1905
• Wilayahnya dijadikan Kabupaten Gowa
1960
Digantikan oleh
Indonesia

Berawal dari chiefdom atau banua yang didirikan pada awal abad ke-14, Gowa mencapai puncak kejayaannya bersama Tallo pada abad ke-17, ketika kerajaan kembar ini memegang hegemoni militer dan perdagangan atas wilayah timur Nusantara, termasuk di antaranya sebagian besar Sulawesi, beberapa bagian dari Maluku dan Nusa Tenggara, serta pesisir timur Kalimantan. Dalam prosesnya menjadi kekaisaran maritim, Gowa dan Tallo mengembangkan berbagai inovasi dalam bidang pemerintahan, ekonomi dan militer. Perubahan sosial budaya yang drastis juga terjadi seiring mengeratnya hubungan antara Gowa dan dunia luar, terutama setelah Gowa mengadopsi Islam sebagai agama resmi pada awal 1600.

Kekalahan Gowa dalam Perang Makassar yang terjadi pada akhir 1660-an mengakibatkan lepasnya wilayah kekuasaan Gowa di luar Sulawesi Selatan, sementara sebagian kecil wilayahnya diberikan kepada VOC. Meski begitu, Gowa tetap bertahan sebagai negeri merdeka hingga awal abad ke-20, ketika pemerintah kolonial Belanda mengalahkan Gowa dalam Ekspedisi Sulawesi Selatan dan menjadikannya daerah jajahan.

SejarahSunting

Sejarah awalSunting

 
Catatan sejarah Gowa yang ditulis dalam bahasa dan aksara Makassar

Naskah patturioloang Gowa menyebutkan bahwa wangsa Gowa berawal dari perkawinan antara seorang tumanurung (semacam ras makhluk langit legendaris) dan seorang "Karaeng Bayo",[1][2] ditafsirkan oleh arkeolog Francis David Bulbeck sebagai perkawinan antara wanita bangsawan setempat dan penguasa Bajau.[3][4] Bangsawan-bangsawan Bate Salapang di Gowa pun bersepakat membentuk negeri baru dan mengangkat mereka sebagai penguasa.[5] Bukti genealogis dan arkeologis mengisyaratkan bahwa pembentukan negeri Gowa terjadi pada sekitar tahun 1300.[6][7] Para ahli mengaitkan kemunculan Gowa dan negeri-negeri Sulawesi Selatan lainnya dengan intensifikasi pertanian dan pemusatan pemerintahan besar-besaran pada abad ke-14, yang dipicu oleh naiknya permintaan luar bagi beras Sulawesi Selatan.[8][9][10] Kepadatan penduduk turut meningkat seiring dengan pergantian dari budaya meladang kepada budi daya padi lahan basah secara intensif. Hutan-hutan di pedalaman semenanjung pun dibuka untuk memberi tempat bagi pemukiman-pemukiman agraris baru,[11] termasuk Gowa yang awalnya juga merupakan chiefdom pedalaman yang berbasiskan budi daya padi.[7]

Dalam perang takhta antara dua putra Karaeng Gowa keenam pada akhir abad ke-15, Batara Gowa mengalahkan adiknya Karaeng Loe ri Sero. Karaeng Loe kemudian turun ke muara Sungai Tallo dan mendirikan negeri baru bernama Tallo,[12][13] yang kemudian berkembang menjadi negara maritim berbasis niaga.[14][15] Hingga abad ke-16, bagian barat Sulawesi Selatan terdiri dari negeri-negeri sama kuat yang saling bersekutu dan bersaing satu sama lain, tanpa ada satu pun yang mampu menguasai keseluruhannya.[16] Putra Batara Gowa, Tumapaʼrisiʼ Kallonna (berkuasa sekitar 1511–1546), memecahkan keadaan status quo ini dengan menaklukkan bandar Garassi serta menyerang setidaknya tiga belas negeri bersuku Makassar lainnya.[17][18][19] Pada akhir 1530-an atau awal 1540-an, Gowa memenangkan perang melawan Tallo dan sekutu-sekutunya.[20][21] Gowa pun menjadi negeri paling dominan di tanah Makassar dan diakui sebagai sekutu tua oleh Tallo.[22][23] Tumapaʼrisiʼ Kallonna mengembangkan birokrasi kerajaan dengan menunjuk Daeng Pamatteʼ sebagai sabannaraʼ (syahbandar) pertama.[24] Penyusunan catatan sejarah serta hukum kerajaan juga dimulai pada masa pemerintahannya.[25][17] Ia juga kemungkinan merupakan penguasa Gowa yang pertama kali membangun benteng Somba Opu.[26][27]

 
Jangkauan penaklukan Tunipalangga di seluruh Sulawesi

Penguasa Gowa berikutnya, Tunipalangga (memerintah sekitar 1546–1565) memperluas pengaruh Gowa melalui serangkaian aksi militer. Ia juga melakukan inovasi dalam bidang teknologi persenjataan dan pertahanan.[28][29][27] Pada masa pemerintahannya, Gowa mengalahkan seluruh pesaingnya di pesisir barat dan memperluas pengaruhnya hingga ke wilayah Sulawesi Tengah.[30][31] Tunipalangga juga menerima orang-orang Melayu dan Nusantara Barat lainnya untuk berniaga di negerinya.[32] Ia bahkan mengadakan perjanjian dengan salah satu pemimpin mereka dan memperbolehkan mereka untuk tinggal secara permanen di Makassar tanpa harus mengikuti hukum adat setempat.[33][34][35] Para pedagang ini kemungkinan juga turut terlibat dalam reformasi ekonomi yang berkontribusi pada kemajuan pesat Gowa sebagai bandar persinggahan utama di Nusantara bagian timur kala itu.[36] Tunipalangga juga mengembangkan birokrasi Gowa lebih lanjut dengan menciptakan jabatan tumailalang (menteri dalam negeri[37]) untuk mengambil alih tugas-tugas nondagang sabannaraʼ,[38][39] serta mengangkat tumakkajanangngang atau kepala pengrajin yang bertugas mengawasi pekerjaan serikat-serikat pengrajin di Makassar.[40][41]

Perluasan pengaruh Gowa di barat memicu respons agresif dari Bone di timur. Perang meletus pada awal 1560-an, dan baru berakhir pada 1565 dengan kekalahan Gowa. Tunibatta, saudara dan penerus Tunipalangga, mati dipenggal oleh musuh.[42][43][44] Selepas kematian Tunibatta, penguasa Tallo Tumamenang ri Makkoayang naik sebagai tumabicara butta (perdana menteri) pertama Gowa dan mengangkat Tunijalloʼ, putra Tunibatta, sebagai penguasa Gowa.[45][46] Sejak saat itu, penguasa Gowa dan Tallo berbagi posisi dalam memimpin keseluruhan negeri Gowa-Tallo secara bersama-sama.[47][48] Tunijalloʼ mengakhiri peperangan dengan menandatangani Perjanjian Caleppa antara Gowa dan Bone,[43][44] yang mempertahankan kedamaian di semenanjung selama kurang lebih enam belas tahun berikutnya.[49] Selama itu pula, Tunijalloʼ dan Tumamenang ri Makkoayang melanjutkan kebijakan-kebijakan pro-perniagaan penguasa sebelumnya dan mengikat persahabatan dengan negeri-negeri lain di Nusantara.[50][51][52]

Masa kesultananSunting

 
Gambar Sultan Hasanuddin dalam perangko yang diterbitkan tahun 2006.

Pada tahun 1666, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, VOC berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil di Sulawesi, tetapi belum berhasil menundukkan Kesultanan Gowa. Di lain pihak, setelah Sultan Hasanuddin naik tahta, ia berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk melawan VOC (Kompeni).

Pertempuran terus berlangsung, Kompeni menambah kekuatan pasukannya hingga pada akhirnya Gowa terdesak dan semakin lemah sehingga pada tanggal 18 November 1667 bersedia mengadakan Perjanjian Bungaya di Bungaya. Gowa merasa dirugikan, karena itu Sultan Hasanuddin mengadakan perlawanan lagi. Akhirnya pihak Kompeni minta bantuan tentara ke Batavia. Pertempuran kembali pecah di berbagai tempat. Sultan Hasanuddin memberikan perlawanan sengit. Bantuan tentara dari luar menambah kekuatan pasukan VOC, hingga akhirnya Kompeni berhasil menerobos benteng terkuat milik Kesultanan Gowa yaitu Benteng Somba Opu pada tanggal 12 Juni 1669. Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari tahta kerajaan dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670.

Kesultanan Gowa telah mengalami pasang surut dalam perkembangan sejak Raja Gowa ke-1, Tumanurung, hingga mencapai puncak keemasannya pada abad ke-17, hingga kemudian mengalami masa penjajahan di bawah kekuasaan Belanda. Dalam pada itu, sistem pemerintahan mengalami transisi pada masa Raja Gowa ke-36, Andi Idjo Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin, menyatakan Kesultanan Gowa bergabung menjadi bagian Republik Indonesia yang merdeka dan bersatu, dan berubah bentuk dari kerajaan menjadi Daerah Tingkat II Kabupaten Gowa. Sehingga dengan perubahan tersebut, Andi Idjo pun tercatat dalam sejarah sebagai Raja Gowa terakhir dan sekaligus Bupati Kabupaten Gowa pertama.

Budaya dan masyarakatSunting

 
Deretan kapal Pinisi di Pelabuhan Paotere.

Sebagai negara maritim, maka sebagian besar masyarakat Gowa adalah nelayan dan pedagang. Mereka giat berusaha untuk meningkatkan taraf kehidupannya, bahkan tidak jarang dari mereka yang merantau untuk menambah kemakmuran hidupnya. Walaupun masyarakat Gowa memiliki kebebasan untuk berusaha dalam mencapai kesejahteraan hidupnya, tetapi dalam kehidupannya mereka sangat terikat dengan norma adat yang mereka anggap sakral. Norma kehidupan masyarakat diatur berdasarkan adat dan agama Islam yang disebut Pangadakkang. Dan masyarakat Gowa sangat percaya dan taat terhadap norma-norma tersebut.

Di samping norma tersebut, masyarakat Gowa juga mengenal pelapisan sosial yang terdiri dari lapisan atas yang merupakan golongan bangsawan dan keluarganya disebut dengan Anakarung atau Karaeng, sedangkan rakyat kebanyakan disebut to Maradeka dan masyarakat lapisan bawah disebut dengan golongan Ata[53].

Dari segi kebudayaan, maka masyarakat Gowa banyak menghasilkan benda-benda budaya yang berkaitan dengan dunia pelayaran. Mereka terkenal sebagai pembuat kapal. Jenis kapal yang dibuat oleh orang Gowa dikenal dengan nama Pinisi dan Lombo. Kapal Pinisi dan Lombo merupakan kebanggaan rakyat Sulawesi Selatan dan terkenal hingga mancanegara.

EkonomiSunting

Daftar penguasa GowaSunting

 
I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bonto Nompo Sultan Muhammad Tahur Muhibuddin Tuminanga ri Sungguminasa (bertahta 1936-1946) mendengarkan pidato pengangkatan pejabat gubernur Celebes, Tn. Bosselaar (awal tahun 1930-an).
 
Istana Balla Lompoa di Sungguminasa, Kabupaten Gowa pada tahun 2013.
  1. Tumanurung Bainea (±1300)
  2. Tumassalangga Barayang
  3. Puang Loe Lembang
  4. I Tuniatabanri
  5. Karampang ri Gowa
  6. Tunatangka Lopi (±1400)
  7. Batara Gowa Tuminanga ri Paralakkenna
  8. Pakere Tau Tunijallo ri Passukki
  9. Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna (awal abad ke-16)
  10. I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiyung Tunipallangga Ulaweng (1546-1565)
  11. I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Data Tunibatte
  12. I Manggorai Daeng Mameta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo (1565-1590)
  13. I Tepukaraeng Daeng Parabbung Tuni Pasulu (1593)
  14. I Mangarangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin I Tuminanga ri Gaukanna; Berkuasa mulai tahun 1593 - wafat tanggal 15 Juni 1639, merupakan penguasa Gowa pertama yang memeluk agama Islam
  15. I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung Sultan Malikussaid Tuminanga ri Papang Batuna; Lahir 11 Desember 1605, berkuasa mulai tahun 1639 hingga wafatnya 6 November 1653
  16. I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape Sultan Hasanuddin Tuminanga ri Balla'pangkana; Lahir tanggal 12 Januari 1631, berkuasa mulai tahun 1653 sampai 1669, dan wafat pada 12 Juni 1670
  17. I Mappasomba Daeng Nguraga Sultan Amir Hamzah Tuminanga ri Allu'; Lahir 31 Maret 1656, berkuasa mulai tahun 1669 hingga 1674, dan wafat 7 Mei 1681
  18. Sultan Mohammad Ali (Karaeng Bisei) Tumenanga ri Jakattara; Lahir 29 November 1654, berkuasa mulai 1674 sampai 1677, dan wafat 15 Agustus 1681
  19. I Mappadulu Daeng Mattimung Karaeng Sanrobone Sultan Abdul Jalil Tuminanga ri Lakiyung. (1677-1709)
  20. La Pareppa Tosappe Wali Sultan Ismail Tuminanga ri Somba Opu (1709-1711)
  21. I Mappaurangi Sultan Sirajuddin Tuminang ri Pasi
  22. I Manrabbia Sultan Najamuddin
  23. I Mappaurangi Sultan Sirajuddin Tuminang ri Pasi; Menjabat untuk kedua kalinya pada tahun 1735
  24. I Mallawagau Sultan Abdul Chair (1735-1742)
  25. I Mappibabasa Sultan Abdul Kudus (1742-1753)
  26. Amas Madina Batara Gowa (diasingkan oleh Belanda ke Sri Lanka) (1747-1795)
  27. I Mallisujawa Daeng Riboko Arungmampu Tuminanga ri Tompobalang (1767-1769)
  28. I Temmassongeng Karaeng Katanka Sultan Zainuddin Tuminanga ri Mattanging (1770-1778)
  29. I Manawari Karaeng Bontolangkasa (1778-1810)
  30. I Mappatunru / I Mangijarang Karaeng Lembang Parang Tuminang ri Katangka (1816-1825)
  31. La Oddanriu Karaeng Katangka Tuminanga ri Suangga (1825-1826)
  32. I Kumala Karaeng Lembang Parang Sultan Abdul Kadir Moh Aidid Tuminanga ri Kakuasanna (1826 - wafat 30 Januari 1893)
  33. I Malingkaan Daeng Nyonri Karaeng Katangka Sultan Idris Tuminanga ri Kalabbiranna (1893 - wafat 18 Mei 1895)
  34. I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang Sultan Husain Tuminang ri Bundu'na; Memerintah sejak tanggal 18 Mei 1895, di Mahkotai di Makassar pada tanggal 5 Desember 1895. Beliau bersama anak tunggalnya mengasingkan diri dari Kerajaannya disebabkan adanya Politik Suku asing bersama Belanda di Kerajaannya.

Lihat pulaSunting

RujukanSunting

SitiranSunting

  1. ^ Cummings (2002), hlm. 25, 149–153.
  2. ^ Abidin (1983).
  3. ^ Bulbeck (1992), hlm. 32–34.
  4. ^ Bulbeck (2006), hlm. 287.
  5. ^ Cummings (2002), hlm. 25.
  6. ^ Bulbeck (1992), hlm. 34, 231, 473, 475, antara lain.
  7. ^ a b Bulbeck (1993).
  8. ^ Bulbeck & Caldwell (2000), hlm. 107.
  9. ^ Druce (2009), hlm. 34–36.
  10. ^ Pelras (1996), hlm. 100–103.
  11. ^ Pelras (1996), hlm. 98–100.
  12. ^ Cummings (2007b), hlm. 100–105.
  13. ^ Bulbeck (1992), hlm. 430–432.
  14. ^ Reid (1983).
  15. ^ Cummings (2007a), hlm. 2–5, 83–85.
  16. ^ Bulbeck (1992), hlm. 123–125.
  17. ^ a b Cummings (2007a), hlm. 32–33.
  18. ^ Druce (2009), hlm. 241–242.
  19. ^ Bulbeck (1992), hlm. 125.
  20. ^ Bulbeck (1992), hlm. 117–118.
  21. ^ Cummings (2000), hlm. 29.
  22. ^ Cummings (2014), hlm. 215–218.
  23. ^ Bulbeck (1992), hlm. 127–131.
  24. ^ Bulbeck (1992), hlm. 105–107.
  25. ^ Cummings (2002), hlm. 216.
  26. ^ Cummings (2007a), hlm. 57.
  27. ^ a b Bulbeck (1992), hlm. 126.
  28. ^ Cummings (2007a), hlm. 33–36, 56–59.
  29. ^ Andaya (1981), hlm. 25–26.
  30. ^ Druce (2009), hlm. 232–235, 244.
  31. ^ Bougas (1998), hlm. 92.
  32. ^ Sutherland (2004), hlm. 79.
  33. ^ Cummings (2007a), hlm. 34.
  34. ^ Andaya (1981), hlm. 27.
  35. ^ Cummings (2014), hlm. 219–221.
  36. ^ Andaya (2011), hlm. 114–115.
  37. ^ Gibson (2007), hlm. 45.
  38. ^ Cummings (2002), hlm. 112.
  39. ^ Bulbeck (1992), hlm. 107.
  40. ^ Gibson (2005), hlm. 45.
  41. ^ Bulbeck (2006), hlm. 292.
  42. ^ Cummings (2007a), hlm. 36.
  43. ^ a b Pelras (1996), hlm. 131–132.
  44. ^ a b Andaya (1981), hlm. 29.
  45. ^ Reid (1981).
  46. ^ Bulbeck (1992), hlm. 102.
  47. ^ Cummings (1999), hlm. 109–110.
  48. ^ Cummings (2007a), hlm. 86.
  49. ^ Druce (2014), hlm. 152.
  50. ^ Cummings (2007a), hlm. 41.
  51. ^ Cummings (2002), hlm. 22.
  52. ^ Pelras (1994), hlm. 139.
  53. ^ Kerajaan Gowa-Tallo / Kesultanan Makassar (Lengkap).

Daftar pustakaSunting

Abidin, Andi' Zainal (1983). "The Emergence of Early Kingdoms in South Sulawesi: A Preliminary Remark on Governmental Contracts from the Thirteenth to the Fifteenth Century". Southeast Asian Studies. 20 (4): 1–39. doi:10.14724/jh.v2i1.14. 
Andaya, Leonard Y. (1981). The Heritage of Arung Palakka: A History of South Sulawesi (Celebes) in the Seventeenth Century. Ann Arbor: University of Michigan. ISBN 9789024724635. 
——— (2011). "Chapter 6: Eastern Indonesia: A Study of the Intersection of Global, Regional, and Local Networks in the 'Extended' Indian Ocean". Dalam Halikowski Smith, Stephan C. A. Reinterpreting Indian Ocean Worlds: Essays in Honour of Kirti N. Chaudhuri. Cambridge Scholars Publishing. hlm. 107–141. ISBN 9781443830447. 
Bougas, Wayne A. (1998). "Bantayan: An Early Makassarese Kingdom, 1200–1600 A.D.". Archipel. 55 (1): 83–123. doi:10.3406/arch.1998.3444. 
Bulbeck, Francis David (992). A Tale of Two Kingdoms: The Historical Archaeology of Gowa and Tallok, South Sulawesi, Indonesia (Ph.D.). Australian National University. 
——— (1993). "New Perspectives on early South Sulawesi History". Baruga: Sulawesi Research Bulletin. 9: 10–18. 
———; Caldwell, Ian (2000). Land of iron: the Historical Archaeology of Luwu and the Cenrana valley : Results of the Origin of Complex Society in South Sulawesi Project (OXIS). University of Hull Centre for South-East Asian Studies. ISBN 9780903122115. 
——— (2006). "Chapter 13: The Politics of Marriage and the Marriage of Polities in Gowa, South Sulawesi, During the 16th and 17th Centuries". Dalam Fox, James J. Origins, Ancestry and Alliance: Explorations in Austronesian Ethnography. Canberra: ANU Press. hlm. 283–319. ISBN 9781920942878. 
Cummings, William P. (2000). "Reading the Histories of a Maros Chronicle". Bijdragen Tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 156 (1): 1–31. doi:10.1163/22134379-90003851. JSTOR 27865583. 
——— (2002). Making Blood White: Historical Transformations in Early Modern Makassar. Honolulu: University of Hawaii Press. ISBN 9780824825133. 
——— (2007a). A Chain of Kings: The Makassarese Chronicles of Gowa and Talloq. Leiden: KITLV Press. ISBN 9789067182874. 
——— (2007b). "Islam, Empire and Makassarese Historiography in the Reign of Sultan Ala'uddin (1593–1639)". Journal of Southeast Asian Studies. 38 (2): 197–214. doi:10.1017/S002246340700001X. JSTOR 20071830. 
——— (2014). "Chapter 10: Re-evaluating state, society, and the dynamics of expansion in precolonial Gowa". Dalam Wade, Geoff. Asian Expansions: The Historical Experiences of Polity Expansion in Asia. Routledge. hlm. 214–232. ISBN 9781135043537. 
Druce, Stephen C. (2009). The Lands West of the Lakes: A History of the Ajattappareng Kingdoms of South Sulawesi, 1200 to 1600 CE. Leiden: Brill. ISBN 9789004253827. 
——— (2014). "Dating the tributary and domain lists of the South Sulawesi kingdoms". Dalam Ampuan Haji Brahim bin Ampuan Haji Tengah. Cetusan minda sarjana: Sastera dan budaya. Bandar Seri Begawan: Dewan Bahasa dan Pustaka. hlm. 145–156. ISBN 9789991709604. 
Gibson, Thomas (2005). And the Sun Pursued the Moon: Symbolic Knowledge and Traditional Authority among the Makassar. Honolulu: University of Hawaii Press. ISBN 9780824828653. 
——— (2007). Islamic Narrative and Authority in Southeast Asia: From the 16th to the 21st century. New York: Springer Publishing. ISBN 9780230605084. 
Pelras, Christian (1994). "Religion, Tradition and the Dynamics of Islamization in South-Sulawesi". Indonesia. 57 (1): 133–154. 
——— (1996). The Bugis. Oxford: Blackwell Publishers. ISBN 9780631172314. 
Reid, Anthony (1981). "A Great Seventeenth-Century Indonesian Family: Matoaya and Pattingalloang of Makassar". Masyarakat Indonesia. 8 (1): 1–28. 
Sutherland, Heather (2004). "The Makassar Malays: Adaptation and Identity, c.1660–1790". Dalam Barnard, Timothy. Contesting Malayness: Malay Identity Across Boundaries. NUS Press. hlm. 76–106. ISBN 9789971692797.