Arquebus Jawa

Senapan sundut panjang dari Jawa
Senapan matchlock abad ke-19 Indonesia, senjata ini lebih kecil dan lebih pendek dari arquebus Jawa, tetapi dengan mekanisme serupa.

Arquebus Jawa merujuk pada senjata api panjang dari kepulauan Nusantara, asalnya dapat dilacak kembali ke perempat terakhir abad ke-15. Senjata itu digunakan oleh tentara lokal, meskipun dalam jumlah rendah dibandingkan dengan jumlah total pasukan,[1]:43 sebelum kedatangan penjelajah Iberia (orang Portugis dan Spanyol) pada abad ke-16. Dalam catatan sejarah, senjata ini dapat diklasifikasikan sebagai senapan sundut atau senapan lontak.

EtimologiSunting

Istilah "arquebus Jawa" (arquebus adalah sinonim dari senapan sundut) adalah terjemahan dari kata bahasa China 爪哇銃 (Zua Wa Chong).[2] Dalam bahasa lokal senjata itu dikenal dengan berbagai nama, bedil atau bedhil lebih umum digunakan. Namun, istilah ini memiliki arti luas - mungkin merujuk pada berbagai jenis senjata api dan senjata bubuk mesiu, dari pistol matchlock kecil sampai meriam pengepungan yang besar. Istilah bedil berasal dari kata wedil (atau wediyal) dan wediluppu (atau wediyuppu) dari bahasa Tamil.[3] Dalam bentuk aslinya, kata-kata ini secara berurut merujuk pada ledakan mesiu dan niter (kalium nitrat). Tapi setelah terserap menjadi bedil pada bahasa Melayu, dan di sejumlah budaya lain di kepulauan Nusantara, kosakata Tamil itu digunakan untuk merujuk pada semua jenis senjata yang menggunakan bubuk mesiu. Pada bahasa Jawa dan Bali istilah bedil dan bedhil dikenal, pada bahasa Sunda istilahnya adalah bedil, di bahasa Batak sebagai bodil, di bahasa Makassar, badili, di bahasa Bugis, balili, di bahasa Dayak, badil, di bahasa Tagalog, baril, di bahasa Bisaya, bádil, di rumpun bahasa Bikol, badil, dan orang Melayu orang memanggilnya badel atau bedil.[3][4][5]

SejarahSunting

Pengetahuan membuat senjata berbasis serbuk mesiu di Nusantara sudah dikenal setelah serangan Mongol ke Jawa (1293 M).[6] Ini mengakibatkan pengembangan meriam putar kecil seperti cetbang dan lantaka.[7] Meriam galah (bedil tombak) dicatat digunakan oleh Jawa pada tahun 1413.[8][9]:245 Namun pengetahuan membuat senjata api sejati datang jauh kemudian, setelah pertengahan abad ke-15. Ia dibawa oleh negara-negara Islam di Asia Barat, kemungkinan besar oleh orang Arab. Tahun pengenalan yang tepat tidak diketahui, tetapi dapat dengan aman disimpulkan tidak lebih awal dari tahun 1460.[10]:23

JawaSunting

Kerajaan Majapahit memelopori penggunaan senjata berbasis mesiu di kepulauan Nusantara. Suatu catatan tentang penggunaan senjata api pada pertempuran melawan pasukan Giri pada sekitar tahun 1500-1506 berbunyi:[11]

"... wadya Majapahit ambedili, dene wadya Giri pada pating jengkelang ora kelar nadhahi tibaning mimis ..."

"... pasukan Majapahit menembaki (bedil=senjata api), sementara pasukan Giri berguguran karena mereka tidak kuat dihujani peluru (mimis=peluru bulat)..."

- Serat Darmagandhul

 
Detail dari mekanisme pemicu.

Arquebus ini memiliki kemiripan dengan arquebus Vietnam pada abad ke-17. Senjata ini sangat panjang, dapat mencapai 2,2 m panjangnya, dan memiliki dudukan bipod yang dapat ditekuk.[2] Catatan Tome Pires tahun 1515 menyebutkan pasukan tentara Gusti Pati, wakil raja Batara Brawijaya, berjumlah 200,000 orang, 2,000 diantaranya adalah prajurit berkuda dan 4,000 adalah musketir.[12] Duarte Barbosa sekitar tahun 1510 mengatakan bahwa penduduk Jawa sangat ahli dalam membuat artileri dan merupakan penembak artileri yang baik. Mereka membuat banyak meriam 1 pon (cetbang atau rentaka), senapan lontak panjang, spingarde (arquebus), schioppi (meriam tangan), api Yunani, gun (bedil besar atau meriam), dan senjata api atau kembang api lainnya. Setiap tempat disana dianggap sangat baik dalam mencetak/mengecor artileri, dan juga dalam ilmu penggunaanya.[13][14]

Semenanjung MelayuSunting

Portugis menemukan berbagai senjata serbuk mesiu setelah penaklukan Malaka pada tahun 1511. Diketahui bahwa orang-orang Melayu mendapatkan senjata dari Jawa.[10]:21-22

Joao de Barros menggambarkan suatu kejadian saat penaklukan itu di buku Da Asia:[10][15]

"Begitu jung itu melewati tepi pasir dan membuang jangkar, tidak jauh dari jembatan, artileri orang muslim melepaskan tembakan ke arahnya. Beberapa senjata melepaskan peluru timah pada jarak waktu tertentu, yang melewati kedua sisi kapal, melakukan banyak pembunuhan di antara para kru. Di tengah panasnya aksi itu Antonio d'Abreu, sang komandan, tertembak di pipi oleh sebuah fusil (espingardão), yang membawa banyak giginya."

Senapan-senapan matchlock yang menembak menembus melalui kedua sisi kapal mereka, memiliki laras yang sangat panjang dan kaliber 18 mm.[16]

Sejarawan Fernão Lopes de Castanheda menyebutkan senapan matchlock (espingardão - espingarda / arquebus besar), dia mengatakan bahwa mereka melempar mimis, beberapa terbuat dari batu, dan sebagian dari besi tertutup timah.[10][17]:22 Putra Afonso de Albuquerque menyebutkan persenjataan Malaka: Ada senapan matchlock besar, sumpitan beracun, busur, panah, baju berlapis besi, tombak Jawa, dan jenis senjata lainnya.[18] Setelah Malaka dikuasai Portugis, mereka menangkap 3000 dari 5000 senapan yang telah diberi Jawa.[19]:96

IndochinaSunting

 
Arquebus Jiaozhi dari tahun 1739. Perhatikan mekanisme sederhananya.

Đại Việt dianggap oleh dinasti Ming China telah menghasilkan senapan matchlock yang sangat maju selama abad 16-17, bahkan melampaui senjata api Ottoman, Jepang, dan Eropa. Pengamat Eropa dari perang Lê–Mạc dan perang Trịnh–Nguyễn juga mencatat kemampuan pembuatan matchlock oleh orang Vietnam. Senapan matchlock Vietnam dikatakan mampu menembus beberapa lapis baju besi, membunuh dua hingga lima orang dalam satu tembakan, namun juga menembak dengan sunyi untuk senjata sekalibernya. Orang China menyebut senjata ini sebagai Jiao Chong (交銃, berarti arquebus Jiaozhi), dan mencatat kesamaannya dengan Zhua Wa Chong / arquebus Jawa.[2]

Lihat jugaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ Tarling, Nicholas (1999). The Cambridge History of Southeast Asia. Cambridge University Press. ISBN 9780521663700. 
  2. ^ a b c Tiaoyuan, Li (1969). South Vietnamese Notes. Guangju Book Office. 
  3. ^ a b Kern, H. (January 1902). "Oorsprong van het Maleisch Woord Bedil". Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde / Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia. 54: 311–312. 
  4. ^ Syahri, Aswandi (6 August 2018). "Kitab Ilmu Bedil Melayu". Jantung Melayu. Diakses tanggal 10 February 2020. 
  5. ^ Rahmawati, Siska (2016). "Peristilahan Persenjataan Tradisional Masyarakat Melayu di Kabupaten Sambas". Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa. 5. 
  6. ^ Song Lian. Sejarah Yuan.
  7. ^ Ooi, Keat Gin (2004). Southeast Asia: A Historical Encyclopedia, from Angkor Wat to East Timor. ABC-CLIO. ISBN 9781576077702. 
  8. ^ Mayers (1876). "Chinese explorations of the Indian Ocean during the fifteenth century". The China Review. IV: p. 178.
  9. ^ Manguin, Pierre-Yves (1976). "L'Artillerie legere nousantarienne: A propos de six canons conserves dans des collections portugaises". Arts Asiatiques. 32: 233–268. 
  10. ^ a b c d Crawfurd, John (1856). A Descriptive Dictionary of the Indian Islands and Adjacent Countries. Bradbury and Evans. 
  11. ^ de Graaf, Hermanus Johannes (1985). Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Jakarta: Temprint. hlm. 180. 
  12. ^ Pires, Tome. Suma Oriental. The Hakluyt Society. ISBN 9784000085052.    Artikel ini memuat teks dari sumber tersebut, yang berada dalam ranah publik.
  13. ^ Barosa, Duarte (1866). A Description of the Coasts of East Africa and Malabar in the Beginning of the Sixteenth Century. The Hakluyt Society. 
  14. ^ Partington, J. R. (1999). A History of Greek Fire and Gunpowder (dalam bahasa Inggris). JHU Press. ISBN 978-0-8018-5954-0. 
  15. ^ de Barros, João (1552). Primeira decada da Asia. Lisboa. 
  16. ^ "Fine Malay matchlock musket | Mandarin Mansion". www.mandarinmansion.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-02-10. 
  17. ^ de Castanheda, Fernão Lopes (1552). História do descobrimento & conquista da India pelos portugueses. Coimbra. 
  18. ^ The son of Afonso de Albuquerque (1557). Comentários de Afonso de Albuquerque. Lisboa. 
  19. ^ Egerton, W. (1880). An Illustrated Handbook of Indian Arms. W.H. Allen.