Buka menu utama

Pramoedya Ananta Toer

Sastrawan Masyhur Indonesia

Pramoedya Ananta Toer (lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 – meninggal di Jakarta, 30 April 2006 pada umur 81 tahun), secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.

Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta Toer Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Essai 1 (1962) p136.jpg
Pramoedya Ananta Toer
Lahir Pramoedya Ananta Mastoer
(1925-02-06)6 Februari 1925
Bendera Belanda Blora, Jawa Tengah, Hindia Belanda
Meninggal 30 April 2006(2006-04-30) (umur 81)
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Tempat tinggal Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur.
Kebangsaan Indonesia
Pekerjaan Novelis, esais
Organisasi
  • Anggota Nederland Center, ketika masih di Pulau Buru, 1978
  • Anggota kehormatan seumur hidup dari International PEN Australia Center, 1982
  • Anggota kehormatan PEN Center, Swedia, 1982
  • Anggota kehormatan PEN American Center, AS, 1987
  • Deutschsweizeriches PEN member, Zentrum, Swiss, 1988
  • International PEN English Center Award, Inggris, 1992
  • International PEN Award Association of Writers Zentrum Deutschland, Jerman, 1999
Penghargaan
  • Freedom to Write Award dari PEN American Center, AS, 1988
  • Penghargaan dari The Fund for Free Expression, New York, AS, 1989
  • Wertheim Award, "for his meritorious services to the struggle for emancipation of Indonesian people", dari The Wertheim Fondation, Leiden, Belanda, 1995
  • Ramon Magsaysay Award, "for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognation of his illuminating with briliant stories the historical awakening, and modern experience of Indonesian people", dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina, 1995
  • UNESCO Madanjeet Singh Prize, "in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violence" dari UNESCO, Perancis, 1996
  • Doctor of Humane Letters, "in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom" dari Universitas Michigan, Madison, AS, 1999
  • Chancellor's distinguished Honor Award, "for his outstanding literary archievements and for his contributions to ethnic tolerance and global understanding", dari Universitas California, Berkeley, AS, 1999
  • Chevalier de l'Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication République, Paris, Perancis, 1999
  • New York Foundation for the Arts Award, New York, AS, 2000
  • Fukuoka Cultural Grand Prize (Hadiah Budaya Asia Fukuoka), Jepang, 2000
  • The Norwegian Authors Union, 2004
  • Centenario Pablo Neruda, Chili, 2004
  • Tanda tangan
    Signature of Pramoedya Ananta Toer.svg

    Daftar isi

    SejarahSunting

    Pramoedya dilahirkan di Blora pada tahun 1925 di jantung Pulau Jawa, sebagai anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya adalah seorang guru, sedangkan ibunya seorang penjual nasi. Nama asli Pramoedya adalah Pramoedya Ananta Mastoer, sebagaimana yang tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora. Karena nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan Jawa "Mas" dari nama tersebut dan menggunakan "Toer" sebagai nama keluarganya. Pramoedya menempuh pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.

    Pasca 17 Agustus 1945Sunting

     
    Pramoedya semasa muda

    Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan kerap ditempatkan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan. Ia menulis cerpen serta buku di sepanjang karier militernya dan ketika dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia tinggal di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya, dan ketika kembali ke Indonesia ia menjadi anggota Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Hal ini menciptakan friksi antara Pramoedya dan pemerintahan Soekarno.

    Selama masa itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, kemudian pada saat yang sama, ia pun mulai berhubungan erat dengan para penulis di Tiongkok. Khususnya, ia menerbitkan rangkaian surat-menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia. Ia merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa pemerintahan mesti dipindahkan ke luar Jawa. Pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis Tiongkoknya. Bukunya dilarang dari peredaran, dan ia ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di pulau Buru di kawasan timur Indonesia.

    Penahanan dan setelahnyaSunting

     
    Pramoedya bersama rekan-rekan saat sedang melakukan kerja paksa di pulau Buru

    Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama, selama masa Orde Baru Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan (13 Oktober 1965 – Juli 1969, Juli 1969 – 16 Agustus 1969 di Pulau Nusakambangan, Agustus 1969 – 12 November 1979 di Pulau Buru, November – 21 Desember 1979 di Magelang). Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun tetap mengatur untuk menulis serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, serial 4 kronik novel semi-fiksi sejarah Indonesia. Tokoh utamanya Minke, bangsawan kecil Jawa, dicerminkan pada pengalaman RM Tirto Adisuryo seorang tokoh pergerakkan pada zaman kolonial yang mendirikan organisasi Sarekat Priyayi dan diakui oleh Pramoedya sebagai organisasi nasional pertama. Jilid pertamanya dibawakan secara lisan kepada rekan-rekan di Unit III Wanayasa, Buru, dan sisanya diselundupkan ke luar negeri untuk diterbitkan di Australia dalam Bahasa Inggris.

    Pramoedya dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat Gerakan 30 September, tetapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun.

    Selama masa itu ia menulis Gadis Pantai, novel semi-fiksi lainnya berdasarkan pengalaman neneknya sendiri. Ia juga menulis Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), otobiografi berdasarkan tulisan yang ditulisnya untuk putrinya namun tak diizinkan untuk dikirimkan, dan Arus Balik (1995). Edisi lengkap Nyanyi Sunyi Seorang Bisu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Willem Samuels, diterbitkan di Indonesia oleh Hasta Mitra bekerja sama dengan Yayasan Lontar pada 1999 dengan judul The Mute's Soliloquy: A Memoir

    KontroversiSunting

     
    Pramoedya saat mendapat gelar kehormatan Doctor of Humane Letters dari Universitas Michigan tahun 1999

    Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsaysay Award, 1995, diberitakan sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia menulis surat 'protes' ke yayasan Ramon Magsaysay. Mereka tidak setuju, Pramoedya yang dituding sebagai "jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang" pada masa Demokrasi Terpimpin, tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan penghargaan yang dianugerahkan kepada Pramoedya.

    Tetapi beberapa hari kemudian, Taufiq Ismail sebagai pemrakarsa, meralat pemberitaan itu. Katanya, bukan menuntut 'pencabutan', tetapi mengingatkan 'siapa Pramoedya itu'. Katanya, banyak orang tidak mengetahui 'reputasi gelap' Pram dulu. Dan pemberian penghargaan Magsaysay dikatakan sebagai suatu kecerobohan. Tetapi di pihak lain, Mochtar Lubis malah mengancam mengembalikan hadiah Magsaysay yang dianugerahkan padanya pada tahun 1958, jika Pram tetap akan dianugerahkan hadiah yang sama.

    Lubis juga mengatakan, HB Jassin pun akan mengembalikan hadiah Magsaysay yang pernah diterimanya. Tetapi, ternyata dalam pemberitaan berikutnya, HB Jassin malah mengatakan yang lain sama sekali dari pernyataan Mochtar Lubis.

    Dalam berbagai opini-opininya di media, para penandatangan petisi 26 ini merasa sebagai korban dari keadaan pra-1965. Dan mereka menuntut pertanggungan jawab Pram, untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran 'tidak terpuji' pada 'masa paling gelap bagi kreativitas' pada zaman Demokrasi Terpimpin. Pram, kata Mochtar Lubis, memimpin penindasan sesama seniman yang tak sepaham dengannya.

    Sementara Pramoedya sendiri menilai segala tulisan dan pidatonya pada masa pra-1965 itu tidak lebih dari 'golongan polemik biasa' yang boleh diikuti siapa saja. Dia menyangkal terlibat dalam pelbagai aksi yang 'kelewat jauh'. Dia juga merasa difitnah, ketika dituduh ikut membakar buku segala. Bahkan dia menyarankan agar perkaranya dibawa ke pengadilan saja jika memang materi cukup. Kalau tidak cukup, bawa ke forum terbuka, katanya, tetapi dengan ketentuan saya boleh menjawab dan membela diri, tambahnya.

    Semenjak Orde Baru berkuasa, Pramoedya tidak pernah mendapat kebebasan menyuarakan suaranya sendiri, dan telah beberapa kali dirinya diserang dan dikeroyok secara terbuka di koran.

    Tetapi dalam pemaparan pelukis Joko Pekik, yang juga pernah menjadi tahanan di Pulau Buru, ia menyebut Pramoedya sebagai 'juru-tulis'. Pekerjaan juru-tulis yang dimaksud oleh Joko Pekik adalah Pramoedya mendapat 'pekerjaan' dari petugas Pulau Buru sebagai tukang ketiknya mereka. Bahkan menurut Joko Pekik, nasib Pramoedya lebih baik dari umumnya tahanan yang ada, sejak dipindahkan dari Unit III ke Markas Komando atau Mako. Statusnya sebagai tokoh seniman yang oleh media disebar-luaskan secara internasional, menjadikan dia hidup lebih baik dalam penahanan itu. Pramoedya kerap kali menjadi 'bintang' ketika ada tamu dari luar negeri yang berkunjung, karena reputasinya di Internasional sangat dihargai.

    Masa tuaSunting

     
    Pramoedya pada 1990-an

    Pramoedya telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini. Ia menulis buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, dokumentasi yang ditulis dalam gaya menyedihkan para wanita Jawa yang dipaksa menjadi wanita penghibur selama masa pendudukan Jepang. Semuanya dibawa ke Pulau Buru di mana mereka mengalami kekerasan seksual, mengakhiri tinggal di sana daripada kembali ke Jawa. Pramoedya membuat perkenalannya saat ia sendiri merupakan tahanan politik di Pulau Buru selama masa 1970-an.

    Banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari tulisannya juga semi-otobiografi, di mana ia menggambar pengalamannya sendiri. Ia terus aktif sebagai penulis dan kolumnis. Ia memperoleh Ramon Magsaysay Award untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995. Ia juga telah dipertimbangkan untuk Hadiah Nobel Sastra. Ia juga memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors' Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia. Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memperoleh penghargaan dari Universitas Michigan.

    Sampai akhir hayatnya ia aktif menulis, walaupun kesehatannya telah menurun akibat usianya yang lanjut dan kegemarannya merokok. Pada 12 Januari 2006, ia dikabarkan telah dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong Gede, Bogor, dan dirawat di rumah sakit. Menurut laporan, Pramoedya menderita diabetes, sesak napas dan jantungnya melemah.

    Pada 6 Februari 2006 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, diadakan pameran khusus tentang sampul buku dari karya Pramoedya. Pameran ini sekaligus hadiah ulang tahun ke-81 untuk Pramoedya. Pameran bertajuk Pram, Buku dan Angkatan Muda menghadirkan sampul-sampul buku yang pernah diterbitkan di mancanegara. Ada sekitar 200 buku yang pernah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia.

    BerpulangSunting

     
    Makam Pram pada tahun 2011

    Pada 27 April 2006, Pram sempat tak sadar diri. Pihak keluarga akhirnya memutuskan membawa dia ke RS Saint Carolus hari itu juga. Pram didiagnosis menderita radang paru-paru, penyakit yang selama ini tidak pernah menjangkitinya, ditambah komplikasi ginjal, jantung, dan diabetes.

    Pram hanya bertahan tiga hari di rumah sakit. Setelah sadar, dia kembali meminta pulang. Meski permintaan itu tidak direstui dokter, Pram bersikeras ingin pulang. Sabtu 29 April, sekitar pukul 19.00, begitu sampai di rumahnya, kondisinya jauh lebih baik. Meski masih kritis, Pram sudah bisa memiringkan badannya dan menggerak-gerakkan tangannya.

    Kondisinya sempat memburuk lagi pada pukul 20.00. Pram masih dapat tersenyum dan mengepalkan tangan ketika sastrawan Eka Budianta menjenguknya. Pram juga tertawa saat dibisiki para penggemar yang menjenguknya bahwa Soeharto masih hidup. Kondisi Pram memang sempat membaik, lalu kritis lagi. Pram kemudian sempat mencopot selang infus dan menyatakan bahwa dirinya sudah sembuh. Dia lantas meminta disuapi havermut dan meminta rokok. Tapi, tentu saja permintaan tersebut tidak diluluskan keluarga. Mereka hanya menempelkan batang rokok di mulut Pram tanpa menyulutnya. Kondisi tersebut bertahan hingga pukul 22.00.

    Setelah itu, beberapa kali dia kembali mengalami masa kritis. Pihak keluarga pun memutuskan menggelar tahlilan untuk mendoakan Pram. Pasang surut kondisi Pram tersebut terus berlangsung hingga pukul 02.00. Saat itu, dia menyatakan agar Tuhan segera menjemputnya. "Dorong saja saya," ujarnya. Namun, teman-teman dan kerabat yang menjaga Pram tak lelah memberi semangat hidup. Rumah Pram yang asri tidak hanya dipenuhi anak, cucu, dan cicitnya. Tapi, teman-teman hingga para penggemarnya ikut menunggui Pram.

    Kabar meninggalnya Pram sempat tersiar sejak pukul 03.00. Tetangga-tetangga sudah menerima kabar duka tersebut. Namun, pukul 05.00, mereka kembali mendengar bahwa Pram masih hidup. Terakhir, ketika ajal menjemput, Pram sempat mengerang, "Akhiri saja saya. Bakar saya sekarang," katanya.

    Pada 30 April 2006 pukul 08.55 Pramoedya wafat dalam usia 81 tahun.

    Ratusan pelayat tampak memenuhi rumah dan pekarangan Pram di Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Pelayat yang hadir antara lain Sitor Situmorang, Erry Riyana Hardjapamekas, Nurul Arifin dan suami, Usman Hamid, Putu Wijaya, Goenawan Mohamad, Gus Solah, Ratna Sarumpaet, Budiman Sudjatmiko, serta puluhan aktivis, sastrawan, dan cendekiawan. Hadir juga Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Terlihat sejumlah karangan bunga tanda duka, antara lain dari KontraS, Wapres Jusuf Kalla, artis Happy Salma, pengurus DPD PDI Perjuangan, Dewan Kesenian Jakarta, dan lain-lain. Teman-teman Pram yang pernah ditahan di Pulau Buru juga hadir melayat. Temasuk para anak muda fans Pram.

    Jenazah dimandikan pukul 12.30 WIB, lalu disalatkan. Setelah itu, dibawa keluar rumah untuk dimasukkan ke ambulans yang membawa Pram ke TPU Karet Bivak. Terdengar lagu Internationale dan Darah Juang dinyanyikan di antara pelayat.

    BibliografiSunting

    Pramoedya dalam budaya popSunting

    • Pramoedya Ananta Toer dan Karja Seninja, oleh Bahrum Rangkuti (Gunung Agung, 1963).
    • Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer, oleh A. Teeuw, (Pustaka Jaya, 1997).
    • Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, oleh Eka Kurniawan (Yayasan Aksara Indonesia, 1999 kemudian diterbitkan lagi oleh Jendela tahun 2002 lalu oleh Gramedia Pustaka Utama tahun 2006).
    • Pramoedya Ananta Toer dan Kenangan Buru, oleh Rudolf Mrazek (Cermin, 2000 kemudian diterbitkan lagi oleh Mata Bangsa, 2017).
    • Membaca Katrologi Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer, oleh Apsanti Djokosujatno (Indonesia Tera, 2004).
    • Pramoedya Ananta Toer dan Manifestasi Karya Sastra, oleh Daniel Mahendra (ed.) (Pramoedya Institute dan Penerbit Malka, 2004).
    • Mendengar Pramoedya, oleh Eka Budianta (Atmochademas Persada, 2005).
    • Cinta Pertama: Kisah Pramoedya, Remaja, dan Homoseksual, oleh Dalih Sembiring, dkk (INSISTPress, 2005).
    • Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali, oleh Koesalah Soebagyo Toer (Kepustakaan Populer Gramedia, 2006).
    • Saya Terbakar Amarah Sendirian!: Pramoedya Ananta Toer dalam Perbincangan dengan Andre Vlitchek & Rossie Indira, oleh Andre Vlitchek & Rossie Indira (Kepustakaan Populer Gramedia, 2006).
    • Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir: Esei dan Wawancara dengan Pramoedya Ananta Toer, oleh August Hans den Boef dan Kees Snoek (Komunitas Bambu, 2008).
    • Pram dan Cina, oleh Hong Liu, Goenawan Mohamad, dan Sumit Kumar Mandal (Komunitas Bambu, 2008).
    • Hikayat Siti Mariah: Estetika Perselingkuhan Pramoedya Ananta Toer, oleh Dwi Susanto (INSISTPress, 2009).
    • Bersama Mas Pram: Memoar Dua Adik Pramoedya Ananta Toer, oleh Koesalah Soebagyo Toer dan Soesilo Toer (Kepustakaan Populer Gramedia, 2009).
    • Pram Melawan!: Dari Perkara Seks, Lekra, PKI, sampai Proses Kreatif, oleh P. Hasudungan Sirait, Rin Hindrayati P., dan Rheinhardt (Nalar, 2011).
    • Pramoedya Menggugat: Melacak Jejak Indonesia, oleh Koh Young Hun (Gramedia Pustaka Utama, 2011)
    • Pramoedya Ananta Toer, Luruh Dalam Ideologi, oleh Savitri Prastiti Scherer (Komunitas Bambu, 2012)
    • Pram dari Dalam, oleh Soesilo Toer (Penerbit Gigih Pustaka Mandiri dan Perpustakaan Pataba Blora, 2013). Buku pertama dalam seri pentalogi Pram.
    • The Wisdom of Pramoedya Ananta Toer, oleh Tofik Pram (Edelweiss, 2014).
    • Catatan dari Balik Penjara: Goresan Pena Revolusi Pramoedya Ananta Toer, oleh Muhammad Muhibbuddin (Zora Books, 2015).
    • Pram dalam Kelambu, oleh Soesilo Toer (Pataba Press, 2015). Buku kedua dalam seri pentalogi Pram.
    • Pram dalam Bubu, oleh Soesilo Toer (Pataba Press, 2015). Buku ketiga dalam seri pentalogi Pram.
    • Pram dalam Belenggu, oleh Soesilo Toer (Pataba Press, 2016). Buku keempat dalam seri pentalogi Pram.
    • Pram dalam Tungku, oleh Soesilo Toer, dkk (Pataba Press, 2016). Buku terakhir dalam seri pentalogi Pram.
    • Ideologi Saya adalah Pramis: Sosok, Pikiran, dan Tindakan Pramoedya Ananta Toer, oleh Muhidin M. Dahlan (Octopus Publishing House, 2016).
    • Mark Hanusz & Pramoedya Ananta Toer: Esai-Esai Kebudayaan, oleh Mohamad Sobary (Kepustakaan Populer Gramedia, 2016).
    • Pramoedya Ananta Toer, Politik, & Sastra: Kajian Politik Jawa dalam Novel Arok Dedes dan Arus Balik, oleh Anandito Reza Bangsawan (Media Pressindo, 2017).
    • Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia: Pramoedya, Sejarah, dan Politik, oleh Max Lane (Djaman Baroe, 2017).
    • Suatu Hari dalam Kehidupan Pramoedya Ananta Toer, oleh Alfred D. Ticoalu (Epigraf, 2017).

    Film

    Pertengahan 1950-an, Pramoedya Ananta Toer pernah terjun ke dunia film meskipun singkat. Beberapa karyanya difilmkan. Nama Pram setidaknya muncul di tiga kredit film Katalog Film Indonesia[2]. Menurut Bahrum Rangkuti dalam Pramoedya Ananta Toer dan Karja Seninja (Gunung Agung, 1963), ada lima karya film yang melibatkan Pram; beberapa film yang dibuat berdasarkan tulisan/naskah Pram diantaranya[3];

    • Rindu Damai (1955), film ini ternyata diangkat dari novel terbesar Pram. Diadaptasi ke skenario oleh Djoko Lelono yang merupakan sutradara film tersebut. Nama Pramoedya ditulis sebagai penulis cerita (bersama penulis skenarionya).[4] Digarap di bawah label Anom Pictures dengan produser R. Bahroen. Selain sebagai penulis cerita, nama Pramoedya Ananta Toer dipasang di poster iklan sebagai salah satu materi utama promosi, tetapi judul karya sastra aslinya tidak disebutkan. Para pemainnya yaitu Ellya Rosa, Amran S. Mouna, Astaman, dan Sukarsih. Dalam iklan cetak koran Java-bode, 17 November 1955, film ini diiklankan sebagai "Kisah Pramudya Ananta Tur" dan iklan lainnya dalam koran De Nieuwsgier, 8 November 1955; "Pramudya Ananta Tur Biggest Novel" dan "The Best Picture of the Year" tanpa penyebutan judul karya asli.[4][5][6][7][8] Mengenai persoalan iklan film-film berjenis adaptasi pada era 1950-an, menurut Christopher Woodrich beberapa film mengiklankan tanpa/tidak secara langsung merujuk pada film-film ini sebagai adaptasi, juga tidak merujuk pada karya-karya yang diadaptasi, baik dengan judul atau dengan merujuk pada penulisnya (tanpa menyebutkan judul atau penulis karya sastra yang diadaptasi). Namun berbeda untuk kasus film Rindu Damai. Ajip Rosidi (1955b: 10) mencatat bahwa, dalam kasus Rindu Damai, iklan spanduk dengan bangga menyatakan peran Pramoedya Ananta Toer dalam menulis film, meskipun pengarang/penulis buku tersebut hanya menulis naskah cerita mentah/kotor (yang bisa dikatakan sebagai kerangka skenario) atas film yang dibuat. Popularitas penulis, yang sudah diakui di dalam negeri sebagai menguasai keahliannya, ditawari pembuat film ini kesempatan untuk menggunakan kekuatan budaya dan secara implisit berpendapat bahwa film mereka lebih baik daripada produksi lainnya. Melalui asosiasi film mereka dengan penulis atau karya tertentu, pembuat film dapat menggunakan kekuatan simbolis untuk mempromosikan kepentingan mereka sendiri. Mengenai keberhasilan atau kegagalan karya sastra yang diadaptasi ke film, Rosidi menuliskan kritikannya dalam artikel dua bagian tentang adaptasi film yang diterbitkan di majalah populer Kentjana. Berjudul "Tentang Sastera dan Tjeritera Film" tahun 1955. Artikel tersebut membahas adaptasi film secara umum dan adaptasi naskah cerita mentah/kotor film Djoko Lelono oleh Pram. Rosidi menyalahkan/mengutuk Rindu Damai sebagai kegagalan total. Film ini begitu buruk ditayangkan, ia menulis, bahwa: "Saja kira menuliskan kalimat ‘kisah pengarang tokoh internasional’ dalam reklame film itu, tjuma menodai nama Pramoedya Ananta Toer sadja, jang tentunja kemampuannja membangunkan tokoh2nja tidak tjuma sampai sekian" (Rosidi, 1955b: 10).[9] Selain tidak banyak dibahas orang, Pram sendiri juga tidak pernah membahas masa karyanya di dunia layar perak. Lalu senada dengan kritikan Ajip Rosidi, Pram sendiri ternyata tidak terlalu puas dengan hasil akhir film-film yang digarap berdasarkan naskah tulisannya. Dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I (1995: 160), Pram mengenang, "...Kemudian hubungan baru dengan dunia film, sekalipun ternyata kelak film-film yang dibuat itu sangat mengecewakan."[7]
    • Peristiwa Surabaja Gubeng (1956), film drama ini diangkat dari cerita pendek Pram berjudul Gambir yang sekitar bulan Mei 1953, ketika Pram sedang tinggal di Amsterdam (atas sponsor dari Sticusa, sebuah yayasan kerjasama kebudayaan). Di kemudian hari Gambir masuk sebagai salah satu cerpen dalam buku Tjerita dari Djakarta: Sekumpulan Karikatur dengan Manusianja (1957). Djoko Lelono kembali terlibat dalam proyek ini dan berbagi kursi penyutradaraan dengan Jusman dan Hasan Basry RM. Jusman juga bermain sebagai pendukung. Film diproduksi oleh Z. Hanan di bawah label rumah produksinya sendiri, Z. Hanan Film Coy. Aktris Ellya, yang sudah dikenal sebagai Ellya Rosa, kembali bermain di film ini. Ia beradu peran dengan Ali Sarosa, Aminah Banowati, dan juga legenda film Tan Tjeng Bok, Udjang, Ardi HS, dan Boes Boestami.[4][5][6][7][10]
    • Buruh Bengkel (1956), film yang digarap oleh sutradara Awaludin dan Rempo Urip. Oleh Bahrum Rangkuti menyebut bahwa alur film ini didasarkan pada cerita dari fragmen novel Gulat di Jakarta (1953). Hanya saja di kreditnya hanya menyantumkan Asrul Sani sebagai penulis naskah ceritanya. Meski begitu, nama Pram tidak dicantumkan dalam kredit. Produksi dilakukan oleh Persari Film, salah satu perusahaan produksi tua di Indonesia yang masih bertahan hingga sekarang. Para pemain yang terlibat antara lain Darussalam, Ermina Zaenah, Awaludin, Dhira Soehoed, A. Hadi, Astaman, Djauhari Effendi, dan M. Budhrasa.[4][5][6][7]
    • Biola (1957), naskah film diadaptasi dari cerita pendek Pram berjudul Anak Haram, yang merupakan salah satu cerpen termuat dalam buku kumpulan cerpen Cerita dari Blora (1952). Film ini merupakan arahan dari penulis-sutradara-pelawak Waldemar Caerel Hunter alias S. Waldy, seorang lelaki Indo Jerman kelahiran Blitar, dan diproduksi oleh Jajasan Usaha Film Artis atau disingkat JUFA dengan produser J.J.F. Sitohang. Para pemain yang terlibat adalah Sofia W.D., A. Hamid Arief, Arfandi, Wahab Abdi, Piet Pello, W.D. Mochtar, Pala Manroe B.A., Rr Sumiati, Entjen Fatimah, Ellya Chandra, Iskandar Muda, Maya Dewi, Dedeh Rosmawaty, dan Frans Harahap.[4][5][6][7][11] Mengenai salah satu pemerannya yakni Sofia W.D. juga merupakan pejuang di Masa Revolusi. Setelah kemerdekaan Indonesia, ia lantas memilih aktif bergerak dalam barisan propaganda di Bandung. Lalu sembilan bulan setelah proklamasi ia bergabung dan mendaftarkan diri sebagai anggota Field Preparation (Persiapan Lapangan) bentukan tokoh intel Indonesia Kolonel Zulkifli Lubis. Ia diterima dan Sofia diberi pangkat sersan mayor. Begitu juga Wagino Dachrin Mochtar atau yang lebih dikenal sebagai W.D. Mochtar juga merupakan seorang anggota Field Preparation (FP) Yogyakarta yang tengah ditugaskan di palagan Karawang-Bekasi.[12][13]
    • Midah Si Manis Bergigi Mas, mengenai film yang disebut produksi Titien Sumarni Film Coy, tidak ada satu pun referensi lain yang menyebutkan bahwa film ini pernah dibuat.[7]

    Lihat pulaSunting

    ReferensiSunting

    Pranala luarSunting

    ReferensiSunting

    1. ^ Kecuali judul pertama, semua judul sudah disesuaikan ke dalam Ejaan Yang Disempurnakan.
    2. ^ "Filmografi untuk Pramoedya Ananta Toer". filmindonesia.or.id. Diakses tanggal 2018-08-31. 
    3. ^ "Potret Lawas on Twitter". Twitter. Diakses tanggal 2018-08-31. 
    4. ^ a b c d e "Documents: Filmographie indonésienne". Archipel (dalam bahasa Prancis). 5 (1): 59–102. 1973. doi:10.3406/arch.1973.1043. ISSN 0044-8613. 
    5. ^ a b c d developer, metrotvnews. "Empat Film Adaptasi Karya Pramoedya Ananta Toer Sebelum Bumi Manusia". metrotvnews.com. Diakses tanggal 2018-08-31. 
    6. ^ a b c d "iNews Lifestyle :: Selain Bumi Manusia, Ini Karya-Karya Pramoedya yang Diangkat ke Film". iNews.ID (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-08-31. 
    7. ^ a b c d e f "Jejak Pramoedya Ananta Toer di Layar Perak". Jejak Pramoedya Ananta Toer di Layar Perak. Diakses tanggal 2018-08-31. 
    8. ^ "Rindu Damai (1955)". filmindonesia.or.id. Diakses tanggal 2018-08-31. 
    9. ^ Christopher Woodrich. "Power and Adaptation: Film Adaptations from Novels in 1950s Indonesia | Cinema Poetica". cinemapoetica.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-09-01. 
    10. ^ "Peristiwa Surabaja Gubeng (1956)". filmindonesia.or.id. Diakses tanggal 2018-08-31. 
    11. ^ "Biola (1957)". filmindonesia.or.id. Diakses tanggal 2018-08-31. 
    12. ^ "Sersan Mayor Bernama Sofia". Historia - Obrolan Perempuan Urban. Diakses tanggal 2018-08-31. 
    13. ^ "Jalan Panjang Sofia". Historia - Obrolan Perempuan Urban. Diakses tanggal 2018-08-31.