Mahapatih

Mahapatih atau Rakryan Mahapatih (Patih Amangkubhumi) adalah jabatan tertinggi setelah Sri Maharaja (raja besar) pada zaman kerajaan Nusantara kuno, khususnya pada era Majapahit. Jabatan ini setingkat dengan jabatan Perdana Menteri (mantri mukya).[1](hlm.481)

Untuk membedakan dengan jabatan patih yang ada di negara daerah (provinsi) yang biasanya disebut Mapatih atau Rakryan Mapatih, maka dalam Negarakertagama jabatan Patih Amangkubhumi dikenal dengan sebutan Apatih Ring Tiktawilwadika.

Mahapatih yang paling populer adalah Gajah Mada, yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya dan membuat Majapahit mencapai masa kejayaannya. Gelar yang disandang Gajah Mada sebagai mahapatih adalah Sang Mahamantri Mukya Rakyran Mapatih Gajah Mada.

Daftar MahapatihSunting

Berikut adalah daftar Mahapatih dari Kemaharajaan Majapahit menurut Kitab Pararaton :

No. Nama Mulai Jabatan Akhir Jabatan Keterangan
1. Nambi 1294 1316
2. Dyah Halayuda (Mahapati) 1316 1323
3. Arya Tadah (Empu Krewes) 1323 1334
4. Gajah Mada (Jirnodhara) 1334 1364
5. Gajah Enggon 1367 1394
6. Gajah Manguri 1394 1398
7. Gajah Lembana 1398 1410
8. Tanaka 1410 1430
9. Wahan 1430 1498
10. Udara 1498 1518

ReferensiSunting

  1. ^ Marwati Djoened Poesponegoro; Soejono (R. P.); Richard Z. Leirissa (2008). Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Kuno – Volume 2 dari Sejarah Nasional Indonesia. PT Balai Pustaka. ISBN 9789794074084.