Kereta api Argo Dwipangga

kereta api eksekutif di Indonesia

Kereta api Argo Dwipangga (bahasa Jawa: ꦱꦼꦥꦸꦂ​ꦲꦂꦒ​ꦢ꧀ꦮꦶꦥꦁꦒ, translit. Sepur Harga Dwipangga), merupakan kereta api penumpang kelas eksekutif argo dan luxury (kelas eksekutif untuk perjalanan fakultatif) yang dioperasikan oleh PT Kereta api Indonesia (Persero) Daerah Operasi VI Yogyakarta yang melayani lintas Solo Balapan-Gambir dan sebaliknya.

Kereta api Argo Dwipangga
Papan Nama KA Argo Dwipangga Khas Daop 6.png
KA Argo Dwipangga.jpg
Kereta api Argo Dwipangga saat melintas di Cikampek
Informasi umum
Jenis layananKereta api jarak jauh
StatusBeroperasi
Daerah operasiDaerah Operasi VI Yogyakarta (reguler)
Daerah Operasi I Jakarta (fakultatif)
PendahuluDwipangga
Mulai beroperasi21 April 1998
Operator saat iniPT Kereta Api Indonesia
Jumlah penumpangrata-rata 800 penumpang per hari
Rute
Stasiun awalSolo Balapan
Jumlah pemberhentianLihatlah di bawah.
Stasiun akhirGambir
Jarak tempuh571 km
Waktu tempuh reratasekitar 8 jam 28 menit hingga 8 jam 35 menit
Frekuensi perjalananSatu kali pergi pulang sehari
Jenis relRel berat
Pelayanan
KelasEksekutif argo & luxury (reguler)
Eksekutif (fakultatif)
Pengaturan tempat duduk
  • 50 tempat duduk disusun 2-2 (eksekutif)
    kursi dapat direbahkan dan diputar
  • 26 tempat duduk disusun 1-2 (eksekutif luxury)
    kursi dapat diputar dan dapat direbahkan hingga 180°
Fasilitas kateringAda, dapat memesan sendiri makanan di kereta makan yang tersedia.
Fasilitas observasiKaca panorama dupleks, dengan blinds, lapisan laminasi isolator panas.
Fasilitas hiburanAda
Fasilitas lainLampu baca, toilet, alat pemadam api ringan, rem darurat, AC, peredam suara, meja lipat, speaker, bantal, dan selimut.
Teknis sarana dan prasarana
Bakal pelantingCC206
Lebar sepur1.067 mm
Kecepatan operasional60 s.d. 100 km/jam
Pemilik jalurDitjen KA, Kemenhub RI
Nomor pada jadwal9-10 (reguler)
59F-60F (fakultatif)
Peta rute
Solo Balapan–Yogyakarta–Jakarta Gambir
Untuk KA Argo Lawu, Argo Dwipangga, dan Taksaka,
baik perjalanan reguler maupun fakultatif/tambahan
Ke Surabaya
Ke Gundih, Semarang
Solo Balapan
Ke Wonogiri
Klaten
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jembatan Kali Opak
Yogyakarta
Jembatan Kali Progo
DI Yogyakarta
Jawa Tengah
Ke Purworejo
Kutoarjo
Kebumen
Gombong
Terowongan Ijo
Kroya
Ke Cilacap, Bandung
Terowongan Kebasen
Jembatan Kali Serayu
Terowongan Notog
Purwokerto
Jembatan Sakalimolas
Ke Tegal
Ke Semarang
Cirebon
Ke Bandung
Jembatan Sungai Citarum
Bekasi KRL Icon Blue.svg  ARS 
Jawa Barat
DKI Jakarta
Jatinegara KRL Icon Blue.svg KRL Icon Yellow.svg Roundeltjk5.png Roundetjk10.png Roundetjk11.png
Ke Pasar Senen
Ke Bogor dan Sukabumi
Ke Tanah Abang dan Merak
Jakarta Gambir Roundeltjk2.png
Ke Jakarta Kota
Keterangan:
  • Taksaka berterminus di Stasiun Yogyakarta
  • Taksaka juga berhenti di stasiun bertanda bolong
  • Hampir semua KA di atas berhenti di Kutoarjo,
    kecuali Argo Lawu Fakultatif dan Argo Dwipangga Fakultatif
  • Hanya Taksaka reguler jadwal pagi, tambahan jadwal pagi arah Jakarta,
    dan tambahan jadwal malam arah Yogyakarta yang berhenti di Kebumen
  • Hanya Taksaka tambahan jadwal pagi arah Yogyakarta
    yang berhenti di Gombong
  • Hanya Taksaka reguler arah Jakarta, tambahan jadwal malam arah Jakarta,
    dan tambahan jadwal pagi arah Yogyakarta yang berhenti di Kroya
  • Hanya Taksaka reguler jadwal malam arah Jakarta yang berhenti di Bekasi

Kereta api ini menempuh perjalanan dari Solo Balapan menuju Gambir sejauh 571 km dalam waktu sekitar 8 jam dan hanya berhenti di Klaten, Yogyakarta, Kutoarjo (kecuali untuk jadwal fakultatif), Purwokerto, dan Jatinegara (arah Gambir). Kereta api ini yang membawa sembilan kereta kelas eksekutif argo & satu kereta luxury ini menawarkan alternatif perjalanan pada siang hari dari Gambir ke Solo Balapan dan perjalanan pada malam hari dari arah sebaliknya—berkebalikan dengan perjalanan yang ditawarkan oleh kereta api Argo Lawu.

Asal usul namaSunting

Kata "Argo" digunakan sebagai citra merek layanan kereta api eksekutif milik PT KAI dan penamaan "Dwipangga" sengaja dibedakan dengan kereta api argo lainnya yang lazim menggunakan nama gunung karena nama Dwipangga cukup terkenal bagi pelanggan. Kata "Dwipangga" diambil dari sebutan kendaraan Dewa Indra berupa gajah yang setia dan mampu melindungi pengendaranya dalam segala keadaan, sehingga menumbuhkan kebanggaan bagi penumpangnya.

SejarahSunting

Kereta api ini pertama kali diresmikan oleh Menteri Perhubungan RI saat itu, Giri Suseno Hadihardjono, pada tanggal 21 April 1998 dengan menggunakan nama "Dwipangga"[1]. Akan tetapi, seiring dengan tuntutan pelanggan yang menginginkan penambahan layanan kereta api argo, maka kereta api Dwipangga dimodifikasi menjadi layanan kelas eksekutif argo, sehingga namanya pun diganti menjadi "Argo Dwipangga" pada tanggal 5 Oktober 1998.

RangkaianSunting

 
Kereta luxury keluaran tahun tahun 2019 yang dirangkai pada kereta api Argo Dwipangga, Argo Lawu, Taksaka, dan Gajayana.
 
Papan nama kereta api Argo Dwipangga milik Daerah Operasi VI Yogyakarta
 
Papan nama resmi kereta api Argo Dwipangga Fakultatif milik Daerah Operasi I Jakarta

Pada awal peresmiannya pada 21 April 1998, kereta yang digunakan awalnya merupakan kereta kelas spesial dengan susunan kursi 2-1, dan kereta yang digunakan saat itu merupakan kereta tua keluaran tahun 1950-an maupun lebih muda, namun telah mengalami perbaikan besar-besaran menjadi kelas spesial.

Sejak menjadi kelas argo, beberapa kereta kelas argo buatan tahun 1998 dari PT INKA dialokasikan untuk Argo Dwipangga, namun ia tidak mendapat kereta makan dan kereta pembangkit buatan tahun 1998, karena kereta makan telah digunakan untuk kereta api Argo Wilis serta kereta pembangkit digunakan untuk kereta api Turangga. Kereta makan dan kereta pembangkit yang digunakan kereta api Argo Dwipangga saat itu menggunakan kereta makan dan kereta pembangkit yang telah ada di Dipo Solo Balapan.

Kereta api ini memiliki ciri khas, yaitu logo "Dwipangga" dengan gambar gajah baik saat masih menjadi kereta kelas spesial maupun kelas Argo, tidak seperti logo kereta api Argo pada umumnya yang ada saat itu, meskipun akhirnya kereta ini menggunakan logo Argo seperti kereta Argo pada umumnya dengan tulisan "Argo Dwipangga", dan nantinya dirubah lagi menjadi "Argo" karena terkadang kereta ini bertukar kereta dengan Argo Lawu.

Selain itu, kereta keluaran tahun 1996 dari Argo Lawu juga dipakai kereta api ini sejak Argo Lawu memakai rangkaian kereta dengan bogie berjenis K9 milik kereta api Argo Bromo Anggrek mulai tahun 2004 hingga tahun 2007. Saat kereta api Argo Lawu mendapatkan rangkaian kereta keluaran tahun 2002 yang dilengkapi dengan kereta makan (M1) dan kereta pembangkit (P) saat rangkaian milik Argo Bromo Anggrek mulai digunakan untuk kereta api Argo Sindoro, kereta api Argo Dwipangga pun terkadang memakai sebagian dari rangkaiannya juga. Sejak Balai Yasa Manggarai melakukan penyehatan kereta eksekutif keluaran tahun 1984 dan 1986 sebagai eksekutif new image dengan kaca berbentuk "seperti pesawat", kereta buatan 1996 dihibahkan ke untuk operasional kereta api Taksaka sepenuhnya. Kereta api Argo Dwipangga menggunakan kereta eksekutif hasil penyehatan mulai tahun 2011.

Sampai saat ini, kereta ini sering bertukar dengan rangkaian milik kereta api Argo Lawu, sehingga seringkali kereta milik Argo Dwipangga dapat tersambung pada kereta api Argo Lawu maupun sebaliknya. Karena kereta pembangkit asli milik kereta ini juga sering dipakai kereta lain, maka kereta ini dan Argo Lawu juga terkadang menggunakan kereta pembangkit yang khas ("P 0 78 03 SLO") karena mirip dengan kereta bagasi (B). Rangkaian ini kemudian dijadikan sebagai rangkaian fakultatif sejak sejumlah kereta eksekutif dari milik Dipo Solo Balapan dihibahkan ke Dipo Jakarta Kota.

Pasca lebaran tahun 2016, rangkaian kereta api Argo Dwipangga reguler resmi menggunakan rangkaian kereta eksekutif terbaru keluaran tahun 2016 oleh PT INKA bersama dengan kereta api Argo Lawu dan mulai tahun 2019, kereta api Argo Dwipangga untuk perjalanan reguler mendapatkan rangkaian berbahan baja nirkarat. Rangkaian kereta api Argo Dwipangga keluaran tahun 2016 dimutasi ke Dipo Jakarta Kota (JAKK) untuk memenuhi kebutuhan kereta api fakultatif.

Data teknisSunting

Lintasan perjalanan Solo Balapan - Gambir pp.
Lokomotif CC206
Rangkaian 1 kereta pembangkit (P 2018/2019 SLO) + 4 kereta kelas eksekutif (K1 2018/2019 SLO) + 1 kereta makan (M1 2018/2019 SLO) + 5 kereta kelas eksekutif (K1 2018/2019 SLO) + 1 kereta luxury (K1 2019)

Catatan:

  • Jumlah kereta eksekutif berubah-ubah sesuai keterangan di atas, tetapi total jumlah kereta dalam satu rangkaian termasuk kereta makan dan kereta pembangkit adalah 12 kereta.
  • Untuk KA Argo Dwipangga Fakultatif menggunakan rangkaian cadangan milik Dipo Gerbong Jakarta Kota (JAKK).
  • Sejak rangkaian eksekutif keluaran tahun 2016 (bekas KA Sembrani) dan K1 2017 (bekas KA Argo Muria) telah dimutasi ke Dipo Kereta Cirebon (CN) untuk memenuhi rangkaian kereta api Argo Cheribon, akhirnya KA Argo Dwipangga Fakultatif mendapatkan kereta eksekutif buatan 1978-1985-2010 ("K1 0 10 05" - "K1 0 10 06") yang dulunya milik Dipo Kereta Cirebon (CN)—sebelumnya eksekutif milik KA Argo Jati, Cirebon Ekspres dan Tegal Bahari—telah dimutasi ke Dipo Kereta Jakarta Kota (JAKK)—khusus untuk KA fakultatif.
  • Setelah kereta api Argo Dwipangga perjalanan reguler sudah mendapatkan kereta api eksekutif berbahan baja nirkarat ("K1 0 18"/"K1 0 19") buatan PT INKA dari rangkaian KA Senja Utama Solo dan Argo Bromo Anggrek. Rangkaian kereta eksekutif Argo Dwipangga keluaran tahun 2016 dimutasi untuk Dipo Kereta Jakarta Kota (JAKK) untuk memenuhi kebutuhan kereta api fakultatif.
Jumlah tempat duduk 476/450 tempat duduk

TarifSunting

Tarif kereta api ini adalah Rp210.000,00 - Rp900.000,00, bergantung pada jarak yang ditempuh penumpang, subkelas/posisi tempat duduk dalam rangkaian kereta, serta hari-hari tertentu seperti akhir pekan dan libur nasional. Selain itu, berlaku pula tarif khusus pada jadwal reguler yang hanya dapat dipesan mulai dua jam sebelum keberangkatan di stasiun-stasiun yang berada dalam rute berikut.

Jadwal perjalananSunting

Berikut ini adalah jadwal perjalanan kereta api Argo Dwipangga per 1 Desember 2019 (berdasarkan Gapeka 2019).

KA 9 Argo Dwipangga (Solo Balapan-Yogyakarta-Gambir)
Stasiun Datang Berangkat
Solo Balapan - 19.45
Klaten 20.10 20.12
Yogyakarta 20.37 20.42
Kutoarjo 21.34 21.37
Kebumen 22.03 22.05
Purwokerto 23.14 23.23
Cirebon 01.16 01.25
Jatinegara 04.02 04.04
Gambir 04.20 -
KA 10 Argo Dwipangga (Gambir-Yogyakarta-Solo Balapan)
Stasiun Datang Berangkat
Gambir - 08.00
Cirebon 10.47 10.55
Purwokerto 12.53 13.05
Kebumen 14.13 14.16
Kutoarjo 14.42 14.48
Yogyakarta 15.39 15.44
Klaten 16.08 16.10
Solo Balapan 16.35 -

Berikut ini adalah jadwal kereta api Argo Dwipangga Fakultatif*) per 1 Desember 2019 (berdasarkan Gapeka 2019)

*) Kereta api fakultatif beroperasi pada masa lebaran, natal-tahun baru, ataupun terkadang di akhir pekan tertentu)

Stasiun Datang Berangkat
KA 60F Argo Dwipangga Fakultatif (Gambir-Solo Balapan)
Gambir - 09.45
Cirebon 12.38 12.48
Purwokerto 14.44 14.57
Yogyakarta 17.22 17.27
Klaten 17.51 17.53
Solo Balapan 18.19 -
KA 59F Argo Dwipangga Fakultatif (Solo Balapan-Gambir)
Solo Balapan - 21.25
Klaten 21.51 21.54
Yogyakarta 22.20 22.29
Gombong 00.05 00.12
Purwokerto 01.03 01.10
Cirebon 03.08 03.14
Jatinegara 05.54 05.56
Gambir 06.11 -

InsidenSunting

  • Pada tanggal 10 Desember 2002, kereta api Argo Dwipangga terguling ke sawah di Sarwogadung, Mirit, Kebumen. Akibatnya empat orang tewas dan 24 lainnya luka berat, serta ratusan penumpang terluka ringan akibat anjlokan tersebut.[2]
  • Pada tanggal 3 April 2007, kereta api Argo Dwipangga mengalami anjlok di km 342+500, Babakan, Karanglewas, Banyumas yang mengakibatkan perjalanan kereta api terhambat.[3]
  • Pada tanggal 1 Oktober 2013, kereta api Argo Dwipangga menabrak mobil bak terbuka yang mengangkut rombongan haji di Kertasemaya, Indramayu. Ketiga belas orang tewas dalam kejadian tersebut.[4]
  • Pada tanggal 25 Agustus 2019, kereta api Argo Dwipangga menabrak truk di km 463+4/5 antara Stasiun Kutowinangun dan Stasiun Prembun yang mengakibatkan supir truk meninggal dunia dan satu orang lainnya luka-luka.[5]

GaleriSunting

Lihat pulaSunting

  • Kereta api Argo Lawu, kereta api dengan lintas yang sama, namun memiliki jadwal keberangkatan berbeda dengan kereta api ini.

ReferensiSunting

  1. ^ Liem, Dewangga (2019-09-02). "Dwipangga, Tunggangan Dewa Indra yang Disematkan HB X Sebagai Nama Kereta Api | GenPI Jogja" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-01-04. 
  2. ^ Suara Merdeka: KA Dwipangga Terguling, 4 Tewas
  3. ^ Detikcom: KA Dwipangga Anjlok di Banyumas, Jalur Tengah Terganggu
  4. ^ Vivanews: Argo Dwipangga Tabrak Pick Up Rombongan Haji, 13 Meninggal
  5. ^ [1]

Pranala luarSunting

(Indonesia) Situs web resmi PT Kereta Api Indonesia