GPIB Immanuel Jakarta

gereja di Indonesia

Gereja Immanuel awalnya adalah gereja yang dibangun atas dasar kesepakatan antara umat Reformasi dan umat Lutheran di Batavia.

GPIB Jemaat "Immanuel" DKI Jakarta
Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat
Immanuel Church Jakarta.JPG
Gedung Gereja Immanuel, Jakarta
LokasiJakarta, Indonesia
DenominasiCalvinis
Arsitektur
Status fungsionalAktif
Penetapan warisanA
ArsitekJ.H. Horst
Tipe arsitekturGereja
Administrasi
KeuskupanMupel Jakarta Pusat
Klerus
PastorPdt. Abraham Ruben Persang
Logo GPIB.png
Logo Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman.png Cagar budaya Indonesia
Gereja Immanuel
PeringkatNasional
KategoriBangunan
No. RegnasRNCB.19880227.02.000623
Lokasi
keberadaan
Jakarta Pusat, Jakarta
Tanggal SK1999, 1993 & 2017
PemilikGereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB)
PengelolaGereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB)
Nama sebagaimana tercantum dalam
Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya

Gereja Immanuel (ca.1875-85)

Pembangunannya dimulai tahun 1834 dengan mengikuti hasil rancangan J.H. Horst. Pada 24 Agustus 1835, batu pertama diletakkan. Empat tahun kemudian, 24 Agustus 1839, pembangunan berhasil diselesaikan.

Bersamaan dengan itu gedung ini diresmikan menjadi gereja untuk menghormati Raja Willem I, raja Belanda pada periode 1813-1840. Pada gedung gereja dicantumkan nama Willemskerek.

Gereja bergaya klasisisme itu bercorak bundar di atas fondasi setinggi 3 meter. Bagian depan menghadap Stasiun Gambir. Di bagian ini terlihat jelas serambi persegi empat dengan pilar-pilar paladian yang menopang balok mendatar. Paladinisme adalah gaya klasisisme abad ke-18 di Inggris yang menekan simetri dan perbandingan harmonis.

Serambi-serambi di bagian utara dan selatan mengikuti bentuk bundar gereja dengan membentuk dua bundaran konsentrik, yang mengelilingi ruang ibadah. Lewat konstruksi kubah yang cermat, sinar matahari dapat menerangi seluruh ruangan dengan merata. Menara bundar atau lantern yang pendek di atas kubah dihiasi plesteran bunga teratai dengan enam helai daun.

Orgel yang dipakai berangka tahun 1843, hasil buatan J. Datz di negeri Belanda. Sebelum organ terpasang, sebuah band tampil sebagai pengiring perayaan ibadah. Pada 1985, orgel ini dibongkar dan dibersihkan sehingga sampai kini dapat berfungsi dengan baik.

Gereja Immanuel saat ini adalah bagian dari Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) yang menganut sistem presbiterian sinodal. Kini, bangunan gereja berstatus sebagai cagar budaya Indonesia.

Gereja ini adalah satu-satunya gereja di Jakarta yang menjalankan ibadah dengan bahasa Belanda.[1] Ibadah juga dilakukan dengan bahasa Indonesia dan Inggris.[2]

Gereja Immanuel dipimpin oleh seorang Ketua Majelis Jemaat dan dibantu oleh anggota Pelaksana Majelis Harian Jemaat (PHMJ),

PimpinanSunting

Pelaksana Majelis Harian JemaatSunting

  • Ketua Majelis Jemaat: Pdt. Abraham Ruben Persang, M.Th
  • Ketua I: Pnt. Daniel S. Laotongan
  • Ketua II: Pdt. Tonny M.J.Sinay
  • Ketua III: Pnt. Ivan S. Takaria
  • Ketua IV: Pnt. Rico J.P.H. Sihombing
  • Ketua V: Pnt. Stefanus Loupatty

ReferensiSunting

  1. ^ Sari, Nursita (25 December 2017). "Ibadah Berbahasa Belanda Hanya Ada di GPIB Immanuel Jakarta". KOMPAS.com. Diakses tanggal 25 January 2022. 
  2. ^ Aslendra, Rizki Putra (25 December 2019). "Melihat Gereja 3 Bahasa yang Masuk Cagar Budaya DKI". liputan6.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 26 December 2019. Diakses tanggal 25 January 2022. 

Pranala luarSunting