Kereta api Argo Parahyangan

kereta api campuran di Indonesia

Kereta api Argo Parahyangan merupakan layanan kereta api penumpang kelas eksekutif dan ekonomi premium/ekonomi plus yang dioperasikan oleh Kereta Api Indonesia untuk melayani lintas Kiaracondong/BandungGambir dan sebaliknya. Ia menawarkan pilihan perjalanan pada pagi hingga malam hari untuk kedua arah serta menempuh jarak sekitar 169 km dalam waktu rata-rata 3 jam.

Kereta api Argo Parahyangan
PapanKeretaApi 2020.svg
KA ARGO PARAHYANGAN
BANDUNG - GAMBIR (PP)
Argo Parahyangan Excellence ls JPL 104 cibitung.JPG
Kereta api Argo Parahyangan Excellence melintasi JPL 104, Wanajaya, Cibitung, Bekasi
Informasi umum
Jenis layananKereta api antarkota
StatusBeroperasi
PendahuluParahyangan (1971–2010)
Argo Gede (1995–2010)
Mulai beroperasi27 April 2010
Operator saat iniKereta Api Indonesia
Jumlah penumpang4.600 penumpang per hari (rata-rata)
Lintas pelayanan
Stasiun awalKiaracondong
Bandung
Jumlah pemberhentianLihatlah di bawah.
Stasiun akhirGambir
Jarak tempuhsekitar 170 km hingga 180 km
Waktu tempuh reratasekitar 3 jam 15 menit hingga 4 jam 15 menit
2 jam 50 menit (Argo Parahyangan Excellence)
Frekuensi perjalananEmpat kali dalam satu perjalanan pulang pergi di hari biasa dan sampai 10 kali dalam satu perjalanan pulang pergi di akhir pekan dan hari libur nasional
Jenis relRel berat
Pelayanan
KelasLuxury, priority, eksekutif, dan ekonomi premium/plus
Pengaturan tempat duduk
  • 50 tempat duduk disusun 2-2 (eksekutif)
    kursi dapat direbahkan dan diputar
  • 26 tempat duduk disusun 1-2 (luxury)
    kursi dapat diputar dan direbahkan hingga 180°
  • 28 tempat duduk disusun 2-2 (priority)
    kursi dapat direbahkan dan diputar
  • 80 tempat duduk disusun 2-2. Sebanyak 40 kursi ke arah depan dan 40 ke arah belakang (kelas ekonomi premium)
    kursi dapat direbahkan
Fasilitas restorasiAda
Fasilitas observasiKaca panorama dupleks dengan tirai dan lapisan laminasi isolator panas
Fasilitas hiburanAda
Teknis sarana dan prasarana
Bakal pelantingCC206
Lebar sepur1.067 mm
Kecepatan operasionalrata-rata 60 s.d. 100 km/jam
Pemilik jalurDitjen KA, Kemenhub RI
Nomor pada jadwal35-42 (reguler)
43F-54F (fakultatif)
Peta rute
Lintas KA Jakarta-Banjar via Tasikmalaya
Untuk Kereta api
ke Jakarta Kota
Jakarta Gambir Roundeltjk2.png Roundeltjk2A.png Roundeltjk2D.png Roundeltjk7.png
ke Tanah Abang
ke Bogor
Jatinegara B L Roundeltjk4.png Roundeltjk5.png Roundeltjk5C.png Roundeltjk5D.png Roundeltjk5E.png Roundeltjk7.png Roundetjk10.png Roundetjk11.png
DKI Jakarta
Jawa Barat
Bekasi B
Cikampek
Purwakarta
Jembatan Cisomang
Terowongan Sasaksaat
Jembatan Cikubang
ke Bogor
Cimahi
Bandung
Kiaracondong
Jembatan Cimanuk
Rancaekek
Cicalengka
Leles
Cibatu
ke Garut
Jembatan Ciherang
Cipeundeuy
Tasikmalaya
Jembatan Cirahong
Banjar
Ke Kroya, Yogyakarta
Keterangan:
  • Hampir semua KA Argo Parahyangan reguler dan fakultatif beterminus di Stasiun Bandung
  • KA Argo Parahyangan reguler dan fakultatif dengan nomor 37/42/49F beteminus dari Stasiun Kiaracondong menuju Stasiun Gambir dan sebaliknya
  • KA Pangandaran beterminus di Stasiun Banjar
  • Hampir semua perjalanan KA Argo Parahyangan berhenti di Cimahi, kecuali KA 53F-54F
  • Hanya KA 43F Argo Parahyangan yang berhenti di Stasiun Purwakarta
  • Hanya KA 173F Pangandaran yang berhenti di Stasiun Bekasi

Asal usul namaSunting

Nama "Parahyangan" (bahasa Sunda: ᮕᮛᮠᮡᮀᮍᮔ᮪, translit. Parahyangngan), dan Preanger pengejaan bahasa Belanda, merujuk pada suatu daerah pegunungan tempat kebudayaan Suku Sunda tumbuh dan berkembang di wilayah Jawa bagian Barat. Kata Parahyangan berasal dari kata rahyang yang mendapatkan awalan pa- dan akhiran -an yang berarti "tempat bersemayam para rahyang—roh nenek moyang atau dewa".[1]

Parahyangan juga dapat berasal dari Carita Parahyangan, salah satu naskah berbahasa Sunda kuno yang membahas sejarah raja-raja Jawa dan Sunda. Sementara merek Argo yang merupakan turunan dari kereta api Argo Gede dengan relasi sama menunjukkan kelas layanan eksekutif yang diharapkan dapat memberikan kepuasan pelanggan. Penggabungan dua unsur tersebut diharapkan akan menumbuhkan kebanggaan bagi setiap penumpangnya.

SejarahSunting

Kereta api Argo Parahyangan mulai beroperasi pada 27 April 2010—merupakan penggabungan layanan kereta api dengan lintas pelayanan yang sama, yaitu Argo Gede dan Parahyangan.

Kereta api Parahyangan (1971–2010)Sunting

 
KA Parahyangan tiba di Stasiun Gambir, 2009

Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) meluncurkan kereta api Parahyangan pada 31 Juli 1971 dengan layanan kelas bisnis dan eksekutif untuk menempuh perjalanan dari Bandung menuju Jakarta dalam waktu dua jam tiga menit.[2]

Saat awal pengoperasiannya, kereta api ini sering beroperasi dengan lokomotif BB301 sebagai penarik. Lokomotif BB304 sempat dioperasikan sebagai penarik sebelum tergantikan oleh lokomotif CC201.[3]

Pada tahun 1980-an, kereta api Parahyangan sempat menjadi pilihan masyarakat untuk bepergian menuju Jakarta maupun Bandung—hal ini dapat dibuktikan adanya pengoperasian kereta api Parahyangan dengan empat belas kereta dalam satu rangkaian.[3]

Pada tahun 2005, kereta api Parahyangan sempat beroperasi dengan membawa dua kereta kelas eksekutif dan tiga kereta kelas bisnis dalam satu rangkaian sebagai dampak penurunan okupansi penumpang akibat pengoperasian jalan tol Cikampek–Purwakarta–Padalarang (Cipularang)—perjalanan Jakarta–Bandung saat itu lebih cepat apabila ditempuh melalui jalan tol. Untuk meningkatkan okupansi penumpang, KAI sempat memberlakukan diskon tarif mulai 7 Maret 2008[4] sebelum layanan kereta api ini dihentikan pada 27 April 2010.[5]

Kereta api Argo Gede (1995–2010)Sunting

 
Kereta api Argo Gede saat melintas di Jembatan Cirangrang, Bandung Barat, 2009

Kereta api Argo Gede merupakan layanan kereta api Argo pertama yang beroperasi mulai 31 Juli 1995. Nama "Argo Gede" diambil dari Gunung Gede, salah satu gunung di Jawa Barat. Peluncuran kereta api ini dilakukan di Stasiun Gambir oleh Perumka bersamaan dengan peresmian kereta api JS-950 Argo Bromo dan peluncuran lokomotif CC203.[6] Selama pengoperasiannya, kereta api ini menempuh perjalanan dari Jakarta menuju Bandung selama 2,5 jam dan beroperasi menggunakan rangkaian kereta buatan PT INKA keluaran 1995.[7] Per Oktober 1999, kereta api ini melayani dua kali perjalanan dalam sehari dan tarif ditetapkan sebesar Rp40.000,00.[8]

PT KA kemudian meluncurkan layanan kereta api Argo Gede II pada 20 Mei 2001—bersama dengan peluncuran kereta api Argo Muria II dan Gumarang—untuk menambah jumlah perjalanan lintas Jakarta–Bandung.[9]

Beberapa layanan kereta api lintas Jakarta–Bandung mengalami penurunan okupansi akibat pengoperasian jalan tol Cipularang pada 2005. Walaupun demikian, tingkat okupansi kereta api Argo Gede lebih tinggi jika dibandingkan dengan kereta api Parahyangan.[10]

Kereta api Argo ParahyanganSunting

Layanan kereta api kelas bisnis dan eksekutif (2010–2016)Sunting

 
Kereta api Argo Parahyangan saat melintas di Tikungan Padalarang, 2011
 
Kereta api Argo Parahyangan saat melintas di JPL 52, Pisangan Timur, Pulo Gadung, Jakarta Timur

Kereta api Argo Parahyangan merupakan hasil peleburan layanan kereta api Argo Gede dan Parahyangan sejak 26 April 2010 serta hasil tanggapan dari KAI atas kekecewaan masyarakat setelah pengoperasian kereta api Parahyangan dihentikan.[11] Kereta api Argo Parahyangan sempat beroperasi dengan rangkaian kereta yang terdiri dari tiga sampai empat kereta kelas eksekutif (bekas kereta api Argo Gede) dan dua sampai tiga kereta kelas bisnis (bekas kereta api Parahyangan).

Karena permintaan masyarakat akan layanan kelas eksekutif lebih tinggi dari kelas bisnis, maka dilakukan penghapusan layanan kelas bisnis pada beberapa perjalanan sehingga hanya melayani kelas eksekutif mulai 30 Desember 2011. Hingga tahun 2016, kereta api tersebut memiliki dua jenis layanan, yaitu layanan kelas eksekutif dan layanan kelas campuran (eksekutif-bisnis).

Sejak tidak diberlakukan kebijakan kereta aling-aling pada pertengahan tahun 2016, perjalanan kereta api Argo Parahyangan—sebelumnya dilakukan perubahan layanan—kembali melayani kelas bisnis (atau kelas ekonomi).

Layanan kereta api kelas ekonomi dan eksekutif (2016–2017)Sunting

Sejak 25 Oktober 2016, kereta api Argo Parahyangan dilakukan perubahan layanan pada kelas bisnis menjadi kelas ekonomi plus. Rangkaian kereta kelas ekonomi plus yang digunakan berupa rangkaian kereta buatan PT INKA keluaran 2016—pernah digunakan untuk pengoperasian kereta api Mutiara Selatan maupun kereta api lain yang dikritik masyarakat karena alasan kenyamanan, yaitu jarak antarkursi yang sempit[12][13]—sehingga kereta api ini mulai melayani kelas eksekutif dan ekonomi plus.[14] Selain itu, dilakukan penambahan jumlah perjalanan karena okupansi semakin tinggi.

Pengoperasian kereta api mulai 2017–sekarangSunting

 
Kereta api Argo Parahyangan melintas langsung Stasiun Manggarai, 2018
 
Tampak dalam kereta api Argo Parahyangan kelas eksekutif setelah dilakukan penggantian rangkaian kereta mulai 2019

Pada rentang tahun 2017 hingga 2019, kereta api ini mulai beroperasi menggunakan rangkaian kereta buatan PT INKA kelas ekonomi premium keluaran 2017 dan kelas eksekutif berbahan baja nirkarat keluaran 2018 pada layanan kereta api tambahan. Selain itu, kereta api ini mulai melayani layanan priority pada 9 Maret 2018.[15]

Kereta api Argo Parahyangan reguler dilakukan penggantian rangkaian kereta secara keseluruhan dengan rangkaian kereta buatan PT INKA berbahan baja nirkarat mulai tahun 2019.

KAI meluncurkan layanan kereta api dengan waktu tempuh yang lebih singkat (2 jam 50 menit), yaitu Argo Parahyangan Excellence, mulai 1 Oktober 2019.[16]

Sesuai dengan grafik perjalanan kereta api (gapeka) tahun 2019, kereta api ini berjalan sebelas kali pulang-pergi reguler dan tiga kali perjalanan kereta api fakultatif. Hingga saat ini, rangkaian kereta api Argo Parahyangan yang digunakan untuk perjalanan tambahan masih menggunakan rangkaian dari kereta api Harina, Sembrani, dan lain-lain. Selain itu, peran kereta api Argo Parahyangan pun didukung oleh perpanjangan lintas pelayanan pada kereta api Argo Wilis, Turangga, dan Mutiara Selatan hingga Stasiun Gambir.

Stasiun pemberhentianSunting

Berikut adalah daftar stasiun pemberhentian kereta api Argo Parahyangan per 10 Februari 2021.

Provinsi Kota/Kabupaten Stasiun Antarmoda pendukung Keterangan
Jawa Barat Bandung Kiaracondong Angkot Kota Bandung: 1A, 7, 8, 16,30, 32 Stasiun ujung bagi empat perjalanan
Terintegrasi dengan kereta api ekonomi lokal
Bandung Stasiun utara
Angkot Kota Bandung: 11B, 12B, 13, 14, 17, 22, 26, 30, 31, 34, 35
Angkot Kabupaten Bandung Barat

Stasiun selatan
Trans Metro Bandung: Koridor 2, Koridor 5
Trans Bandung Raya: 1, 5
Angkot Kota Bandung: 11B, 12, 13, 14, 26, 30
Angkot Kabupaten Bandung Barat

Stasiun timur
Trans Metro Bandung: Koridor 2, Koridor 5
Trans Bandung Raya: 1, 5
Angkot Kota Bandung: 9, 10, 11B, 13, 14, 22, 26, 30
Angkot Kabupaten Bandung Barat

Stasiun ujung sebagian besar perjalanan. Selain itu, semua perjalanan berhenti di stasiun ini
Terintegrasi dengan kereta api ekonomi lokal
Cimahi Cimahi Terintegrasi dengan kereta api ekonomi lokal
Purwakarta Purwakarta Hanya KA 43F yang berhenti
Bekasi Bekasi Trans Patriot: 01 Terminal Bekasi-Pasar Modern Harapan Indah (via Stasiun Bekasi), 02 Bintara Jaya-Teluk Pucung, 03 Summarecon Mal Bekasi-Pasar Alam Vida
Koasi Kota Bekasi: K01, K02, K04, K05, K05A, K07, K09B, K15, K15A, K31A
Koasi Kabupaten Bekasi: K01A
Merupakan stasiun pemberhentian KRL, juga merupakan stasiun transit menuju Klender, Cakung, dan Cikarang (dengan KRL Blue Line)
DKI Jakarta Jakarta Timur Jatinegara Transjakarta:         (5K) (di halte Pasar Jatinegara),   (4K)     (7F)   (7M)   (di halte Stasiun Jatinegara) dan     (11V) (di halte Stasiun Jatinegara 2)
MiniTrans: 11M, 11N, 11R
Suburban Express: B22
Mikrotrans Jak Lingko: JAK-41, JAK-42
Merupakan stasiun pemberhentian KRL, juga merupakan stasiun transit menuju Klender, Cakung, dan Bekasi (dengan KRL Blue Line)
Hanya diperuntukkan untuk perjalanan arah Gambir
Jakarta Pusat Gambir Transjakarta:         (7F) (di halte Gambir 1 dan Gambir 2)
MetroTrans/MiniTrans: 1P, 2P, 2Q, 6H
Jak Lingko: JAK-10B
DAMRI: Stasiun Gambir-Bandara Soekarno-Hatta
JR Connexion: Kemang Pratama-Stasiun Gambir
Stasiun ujung, dikhususkan untuk kereta api non-KRL dan bukan merupakan stasiun pemberhentian KRL. KRL jarang diberhentikan kecuali keadaan mendesak atau ada gangguan operasi

Pola perjalananSunting

Stasiun Nomor KA
(Bandung–Jakarta)
Stasiun Nomor KA
(Jakarta–Bandung)
35* 37 39 41 43F 45F 47F 49F 51F 53F* 36 38 40* 42 44F 46F 48F 50F 52F 54F*
Kiaracondong Gambir
Bandung Bekasi | | |
Cimahi | Cimahi |
Purwakarta | | | | | | | | | Bandung
Bekasi | | | Kiaracondong
Jatinegara | |
Gambir
Catatan: Tanda (*) merupakan perjalanan KA Argo Parahyangan Excellence

Legenda

Stasiun ujung (terminus)
Berhenti
| Berjalan langsung

InsidenSunting

Pada 30 Mei 2014, kereta api Argo Parahyangan anjlok di Depok, Darangdan, Purwakarta ke arah Stasiun Cikadongdong yang mengakibatkan dua kereta dan sebuah lokomotif anjlok keluar rel. Selain itu, perjalanan kereta api Serayu dialihkan dan ratusan penumpang kereta api Argo Parahyangan telantar.[17][18][19][20]

Pada 26 Agustus 2019 pukul 13.00, KA 32 Argo Parahyangan menabrak bus angkutan karyawan di Kampung Gorowong, Warung Bambu, Karawang Timur, Karawang karena bus mogok saat melintas di perlintasan kereta api. Kejadian ini mengakibatkan kaca lampu semboyan pada lokomotif pecah, kereta pembangkit dan mobil mengalami kerusakan. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu karena sopir dan penumpangnya keluar menghindari kecelakaan. Namun, perjalanan kereta api menjadi terhambat.[21]

Pada 21 Desember 2019 pukul 22:15 WIB, kereta api Argo Parahyangan menabrak mobil di perlintasan kereta api di Cibitung, Wanasari, Cibitung, Bekasi yang mengakibatkan mobil mengalami kerusakan parah dan tujuh orang penumpang tewas di lokasi kecelakaan. Selain itu, lampu kabut sebelah kiri pada lokomotif pecah kemudian berhenti luar biasa di Stasiun Tambun untuk memeriksa lokomotif.[22]

GaleriSunting

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ Kunto, H. (2000). Seabad Grand Hotel Preanger 1897 - 1997. Bandung: Grand Hotel Preanger. 
  2. ^ 30 Tahun Indonesia merdeka. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia. 1977. 
  3. ^ a b "Legenda Parahyangan". Roda Sayap. Diakses tanggal 2020-06-28. 
  4. ^ "KA Jakarta-Bandung Diskon 50%, Penumpang Melonjak 100%". detiknews. Diakses tanggal 2020-06-28. 
  5. ^ "Kereta Api Parahyangan Dihentikan". KOMPAS. Diakses tanggal 2020-06-28. 
  6. ^ "Argo Bromo dan Argo Gede". Kompas. 1995. 
  7. ^ "Nostalgia Mewahnya Kereta Api Argo Pertama di Indonesia". VIVA. 2018-03-20. Diakses tanggal 2020-06-28. 
  8. ^ "Jadual dan Tarif Kereta Api Argogede". Perusahaan Umum Kereta Api. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 Oktober 1999. 
  9. ^ "KA Argo Muria Beroperasi". Kompas. 2001. 
  10. ^ "PT KA: Lebih Ramai Argo Gede Dibanding Parahyangan". detiknews. Diakses tanggal 2020-06-28. 
  11. ^ "Baltyra: KA Parahyangan, Sang Legendaris Pun Harus Berhenti". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-03-04. Diakses tanggal 2015-12-14. 
  12. ^ Okta, Maria (2018-04-17). "Dianggap Sempit dan Tak Nyaman, Kursi KA Ekonomi Premium Penumpang Akan Diganti". KabarPenumpang.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-03-21. 
  13. ^ "KA Mutiara Selatan Kembali ke Kelas Bisnis | Bandung Bisnis.com". Bisnis.com. Diakses tanggal 2020-03-21. 
  14. ^ Harga Tiket Kereta Api Jarak Jauh Turun, Cek Daftarnya
  15. ^ "KAI Luncurkan KA Argo Parahyangan Priority". kai.id. Diakses tanggal 2020-02-25. 
  16. ^ Susanti, Reni. "KAI Luncurkan KA Argo Parahyangan Excellence, Jakarta-Bandung 2 Jam 50 Menit". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2020-01-11. 
  17. ^ "Okezone: KA Argo Parahyangan Anjlok di Bandung Barat". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-06-05. Diakses tanggal 2014-05-31. 
  18. ^ "Okezone: Seluruh Penumpang Argo Parahyangan Selamat". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-06-05. Diakses tanggal 2014-05-31. 
  19. ^ "Okezone: Ratusan Penumpang Argo Parahyangan Terlantar". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-05-31. Diakses tanggal 2014-05-31. 
  20. ^ "Okezone: Argo Parahyangan Anjlok, Perjalanan KA Serayu Dialihkan". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-05-31. Diakses tanggal 2014-05-31. 
  21. ^ Media, Kompas Cyber. "Bus Mogok di Tengah Rel, Karyawan Berhamburan dan Kereta Pun Datang lalu Menabrak". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2019-09-05. 
  22. ^ "BREAKING NEWS: Kereta Api Tabrak Mobil di Cibitung, 7 Orang Tewas, Ini Kronologinya". tribunnews. 22 Desember 2019. 

Pranala luarSunting

(Indonesia) Situs web resmi PT Kereta Api Indonesia