Bahasa Indonesia

bahasa resmi Indonesia

Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional dan resmi di seluruh Indonesia. Ini merupakan bahasa komunikasi resmi, diajarkan di sekolah-sekolah dan digunakan untuk disiarkan di media elektronik dan digital. Sebagai negara dengan tingkat multilingual (terutama trilingual)[4][5] teratas di dunia, mayoritas orang Indonesia juga mampu bertutur dalam bahasa daerah atau bahasa suku mereka sendiri, dengan yang paling banyak dituturkan adalah bahasa Jawa dan Sunda yang juga memberikan pengaruh besar ke dalam elemen bahasa Indonesia itu sendiri.[6][7]

Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia
Dituturkan diIndonesia
WilayahNusantara dan wilayah diaspora Indonesia
Penutur bahasa
43 juta (sensus 2010)[1] (tidak tercantum tanggal)
penutur L2: 156 juta (sensus 2010)[1]
Austronesia
  • Bahasa Indonesia
Latin (Alfabet bahasa Indonesia)
Braille bahasa Indonesia
BISINDO, SIBI
Status resmi
Bahasa resmi di
 Indonesia
 ASEAN
Diakui sebagai
bahasa minoritas di
Diatur olehBadan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Kode bahasa
ISO 639-1id
ISO 639-2ind
ISO 639-3ind
Glottologindo1316[3]
Linguasfer31-MFA-ac
{{{mapalt}}}
Keterangan:
  Wilayah Bahasa Indonesia dominan dipertuturkan dan sebagai bahasa resmi.
  Wilayah Bahasa Indonesia dituturkan oleh minoritas.
Penutur bahasa Indonesia

Dengan penutur bahasa yang besar di seantero negeri beserta dengan diaspora yang tinggal di luar negeri, bahasa Indonesia masuk sebagai salah satu bahasa yang paling banyak digunakan atau dituturkan di seluruh dunia.[8] Selain dalam skala nasional, bahasa Indonesia juga diakui sebagai salah satu bahasa resmi di negara lain seperti Timor Leste.[9] Bahasa Indonesia juga secara resmi diajarkan dan digunakan di sekolah, universitas maupun institusi di seluruh dunia, terutama di Australia, Belanda, Jepang, Korea Selatan, Timor Leste, Vietnam, Taiwan, Amerika Serikat, Inggris, dll.[10][11][12][13][14][15][16][17][18][19]

Memiliki keterikatan sejarah yang panjang dengan bangsa-bangsa Eropa khususnya sejak era kolonialisme, beberapa kosakata Indonesia telah diserap ke dalam beberapa bahasa Eropa, terutama bahasa Belanda dan Inggris.[20] Bahasa Indonesia sendiri juga memiliki banyak kata serapan yang berasal dari bahasa-bahasa Eropa, terutama dari bahasa Belanda, Portugis, Spanyol, dan Inggris. Bahasa Indonesia juga memiliki kata serapan yang berasal dari bahasa Sanskerta, Tionghoa, dan Arab yang membaur menjadi elemen dalam bahasa Indonesia yang terpengaruh karena adanya faktor-faktor seperti aktivitas perdagangan maupun religius yang telah berlangsung sejak zaman kuno di wilayah kepulauan Indonesia.

Dasar bahasa Indonesia baku adalah bahasa Melayu Riau.[21][22][23][24][25][26] Dalam perkembangannya, bahasa ini mengalami perubahan akibat penggunaannya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan "bahasa Indonesia" diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan "imperialisme bahasa" apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan.[27] Proses ini menyebabkan berbedanya bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau dan kepulauan maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.

Meskipun dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 90% warga Indonesia, bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga Indonesia menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di Indonesia sebagai bahasa ibu.[28] Istilah "bahasa Indonesia" paling umum dikaitkan dengan bentuk baku yang digunakan dalam situasi resmi.[25] Ragam bahasa baku tersebut berhubungan diglosik dengan bentuk-bentuk bahasa Melayu vernakular yang digunakan sebagai peranti komunikasi sehari-hari.[25] Artinya, penutur bahasa Indonesia kerap kali menggunakan ragam sehari-hari dan/atau mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya. Meskipun demikian, bahasa Indonesia digunakan sangat luas di perguruan-perguruan, di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya,[29] sehingga dapatlah dikatakan bahwa bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia.

Fonologi dan tata bahasa bahasa Indonesia dianggap relatif mudah.[30] Menurut sebagian peneliti, dasar-dasar yang penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu beberapa minggu.[31]

Daftar kata serapan dalam bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang terbuka bagi pengayaan kosakata dengan menyerap kata-kata dari bahasa-bahasa lain, baik dari dalam maupun luar Indonesia. Penyerapan kata ini melalui serangkaian peristiwa baik melalui sejarah maupun tahapan penelitian yang dilakukan oleh pakar bahasa di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia termasuk juga melibatkan para pakar dalam bidang lain seperti pakar agama, politik, ekonomi, hukum, sosial budaya, kedokteran, dan lain-lain.[32]

Asal Bahasa Jumlah Kata
Belanda 3.280 kata
Inggris 1.610 kata
Arab 1.495 kata
Sanskerta 677 kata
Tionghoa 290 kata
Portugis 131 kata
Tamil 83 kata
Parsi 63 kata
Hindi 7 kata

Sumber: Buku berjudul "Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia" (1996) yang disusun oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (sekarang bernama Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan).


Adapun jumlah kata yang diserap dari bahasa-bahasa daerah lain di Indonesia dalam KBBI Edisi Keempat ditunjukkan di dalam daftar berikut:[33]

Asal Bahasa Jumlah Kata
Jawa 1109 kata
Minangkabau 929 kata
Sunda 223 kata
Madura 221 kata
Bali 153 kata
Aceh 112 kata
Banjar 100 kata

Persebaran geografis

Bahasa Indonesia dituturkan di seluruh Indonesia, walaupun lebih banyak digunakan di kawasan perkotaan, seperti di Jabodetabek dengan dialek Betawi serta logat Betawi.

Penggunaan bahasa di daerah biasanya lebih resmi, dan sering kali terselip dialek dan logat di daerah bahasa Indonesia itu dituturkan. Untuk berkomunikasi dengan sesama orang sedaerah, kadang-kadang bahasa daerahlah yang digunakan sebagai pengganti untuk bahasa Indonesia.

Kedudukan resmi

Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang sangat penting seperti yang tercantum dalam:

  1. Ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 dengan bunyi, ”Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
  2. Undang-Undang Dasar RI 1945 Bab XV (Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan) Pasal 36 menyatakan bahwa ”Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia”.

Dari kedua hal tersebut, maka kedudukan bahasa Indonesia sebagai:

  1. Bahasa kebangsaan, kedudukannya berada di atas bahasa-bahasa daerah.
  2. Bahasa negara (bahasa resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia)

Fonologi

Bahasa Indonesia mempunyai 26 fonem. Jumlahnya berubah menjadi 31 apabila alofon dan konsonan pinjaman juga dihitung.

Vokal

Depan Madya Belakang
Tertutup i u
Tengah e ə o
Hampir Terbuka ɛ (ɔ)
Terbuka a

Bahasa Indonesia juga mempunyai diftong /ai̯/, /au̯/, /oi̯/, dan /ei̯/ yang ada pada kata-kata bersuku kata terbuka, seperti damai /da.mai̯/—namun, di dalam suku kata tertutup seperti air /a.ir/, kedua vokal tidak diucapkan sebagai diftong.

Konsonan

Bibir (Labial dan Labiovelar) Birgi (Labiodental) Ronggi (Alveolar/Dental) Pascaronggi (Postalveolar) Langit2 (Palatal) Langbel (Velar) Cera (Glotal)
Sengau (Nasal) m n ɲ ŋ
Letup (Plosif) p b t/t̪ d/d̪ k g ʔ
Afrikat t͡ʃ d͡ʒ
Tiup (Frikatif dan Sibilan) (f v) s (z) (ʃ) (x) h
Getar/Sisi r l
Hampiran (Aproksiman) w j

Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu awalnya tidak mengenal adanya gugus konsonan, tetapi karena pengaruh dari bahasa asing dan daerah ke dalam bahasa Indonesia ditemukan cukup banyak gugus konsonan. Gugus konsonan dalam bahasa Indonesia adalah /pl/, /bl/, /kl/, /fl/, /sl/, /pr/, /br/, /tr/, /dr/, /kr/, /gr/, /fr/, /sr/, /ps/, /sw/, /sp/, /sk/, /st/, /str/, /spr/, /skr/, dan /skl/.

  • Vokal di dalam tanda kurung adalah alofon, sedangkan konsonan di dalam tanda kurung adalah fonem pinjaman dan hanya muncul di dalam kata serapan.
  • /k/, /p/, dan /t/ tidak diaspirasikan
  • /t/ dan /d/ adalah konsonan gigi bukan konsonan rongga gigi seperti di dalam bahasa Inggris. Namun, terdapat variasi bunyi /t̪/ (gigi) dan d (rongga gigi) tergantung aksen pengguna.
  • Dalam beberapa kasus, /k/ pada akhir suku kata menjadi konsonan letup celah suara, seperti pada kakak /kakaʔ/ dan capek /t͡ʃapeʔ/, namun tidak pada kata-kata lainnya, seperti enak /e.nak̚/ dan solek /so.lek̚/.
  • Penekanan ditempatkan pada suku kata kedua dari terakhir dari kata akar. Apabila ada suku kata yang mengandung pepet, maka penekanan pindah ke suku kata terakhir.

Sistem penulisan

Huruf Besar Huruf Kecil IPA Huruf Besar Huruf Kecil IPA
A a /a/ N n /n/
B b /b/ O o /o/
C c /tʃ/ P p /p/
D d /d/ Q q /k/
E e /e, ɛ, ə/ R r /r/
F f /f/ S s /s/
G g /ɡ/ T t /t/
H h /h/ U u /u/
I i /i/ V v /v, f/
J j /dʒ/ W w /w/
K k /k/ X x /ks/
L l /l/ Y y /j/
M m /m/ Z z /z/

Selain huruf-huruf di atas, bahasa Indonesia juga menggunakan beberapa digraf, yaitu:

Huruf besar Huruf kecil IPA
Sy sy /ʃ/
Ny ny /ɲ/
Ng ng /ŋ/
Kh kh /x/

Tata bahasa

Dibandingkan dengan bahasa-bahasa Eropa, bahasa Indonesia tidak menggunakan kata benda bergender. Tidak ada deklinasi tertentu yang menentukan gender dari suatu kata. Di luar konteks gender secara linguistik, kata-kata dalam bahasa Indonesia sebagian besar tidak menyatakan jenis kelamin. Sebagai contoh, kata ganti seperti dia tidak secara spesifik menunjukkan bahwa orang yang disebut adalah lelaki atau perempuan. Hal yang sama juga ditemukan pada kata seperti adik dan pacar. Untuk memerinci jenis kelamin, sebuah kata sifat harus ditambahkan, seperti pada kata adik laki-laki.

Ada juga kata yang secara gamblang menyatakan jenis kelamin, seperti putri dan putra. Kata-kata seperti ini biasanya diserap dari bahasa lain, seperti bahasa Sanskerta dan bahasa Jawa Kuno.

Untuk mengubah sebuah kata benda menjadi bentuk jamak, digunakanlah reduplikasi (perulangan kata), tapi hanya jika jumlahnya tidak terlibat dalam konteks. Sebagai contoh, penggunaan seribu orang-orang tidak benar, karena jumlah telah disebutkan dalam kata seribu.

Bahasa Indonesia menggunakan dua jenis kata ganti orang pertama jamak, yaitu kami dan kita. Kami adalah kata ganti eksklusif, yang berarti tidak mengikutsertakan sang kawan bicara. Sementara itu, kita adalah kata ganti inklusif, yang berarti mengikutsertakan kawan bicara.

Susunan kata dalam bahasa Indonesia adalah Subjek – Predikat – Objek (SPO), walaupun susunan kata lain juga mungkin digunakan. Tidak ada infleksi pada kata kerja, baik menurut subjek maupun objek. Bahasa Indonesia juga tidak mengenal kala (tense) secara gramatikal. Waktu dinyatakan dengan menambahkan kata keterangan waktu seperti kemarin dan besok, atau petunjuk lain seperti sudah dan belum.

Meskipun memiliki tata bahasa yang cukup sederhana, bahasa Indonesia mempunyai kerumitannya sendiri, yaitu penggunaan imbuhan yang mungkin cukup membingungkan bagi orang yang pertama kali belajar bahasa Indonesia.

Awalan, akhiran, dan sisipan

Bahasa Indonesia mempunyai banyak awalan, akhiran, maupun sisipan, baik yang asli dari bahasa-bahasa Nusantara maupun dipinjam dari bahasa-bahasa asing.

Awalan Fungsi (pembentuk) Perubahan bentuk Kaitan
ber- verba be-; bel- per-
ter- verba; adjektiva te-; tel- ke-
meng- verba (aktif) me-; men-; mem-; meny- di-; pe-; ku-; kau;
di- verba (pasif) meng-
ke- nomina; numeralia; verba (percakapan) ter-
per- verba; nomina pe-; pel- ber-
peng- nomina pe-; pen-; pem-; peny- meng-
se- klitik; adverbia
ku-, kau- verba (aktif) me-

Dialek dan ragam bahasa

Pada keadaannya, bahasa Indonesia menumbuhkan banyak varian yaitu varian menurut pemakai yang disebut sebagai dialek dan varian menurut pemakaian yang disebut sebagai ragam bahasa.

Dialek dibedakan atas hal ihwal berikut:

  1. Dialek regional, yaitu rupa-rupa bahasa yang digunakan di daerah tertentu sehingga ia membedakan bahasa yang digunakan di suatu daerah dengan bahasa yang digunakan di daerah yang lain meskipun mereka berasal dari ekabahasa. Oleh karena itu, dikenallah dialek Ambon, dialek Jakarta (Betawi), atau dialek Medan.
  2. Dialek sosial, yaitu dialek yang digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu atau yang menandai tingkat masyarakat tertentu. Contohnya, dialek wanita dan dialek remaja.
  3. Dialek temporal, yaitu dialek yang digunakan pada kurun waktu tertentu. Contohnya dialek Melayu zaman Sriwijaya dan dialek Melayu zaman Abdullah.
  4. Idiolek, yaitu keseluruhan ciri bahasa seseorang. Sekalipun hampir seluruh warga Indonesia menggunakan bahasa Indonesia, mereka masing-masing memiliki ciri-ciri khas pribadi dalam pelafalan, tata bahasa, atau pilihan dan kekayaan kata.

Ragam bahasa dalam bahasa Indonesia berjumlah sangat banyak dan tidak terhad. Maka itu, ia dibagi atas dasar pokok pembicaraan, perantara pembicaraan, dan hubungan antarpembicara.

Ragam bahasa menurut pokok pembicaraan meliputi:

  1. ragam undang-undang
  2. ragam jurnalistik
  3. ragam ilmiah
  4. ragam sastra

Ragam bahasa menurut hubungan antarpembicara dibagi atas:

  1. ragam lisan, terdiri dari:
    1. ragam percakapan
    2. ragam pidato
    3. ragam kuliah
    4. ragam panggung
  2. ragam tulis, terdiri dari:
    1. ragam teknis
    2. ragam undang-undang
    3. ragam catatan
    4. ragam surat-menyurat

Dalam kenyataannya, bahasa baku tidak dapat digunakan untuk segala keperluan, tetapi hanya untuk:

  1. komunikasi resmi
  2. wacana teknis
  3. pembicaraan di depan khalayak ramai
  4. pembicaraan dengan orang yang dihormati

Selain keempat penggunaan tersebut, dipakailah ragam bukan baku.

Metode pembelajaran

Metode pembelajaran bahasa Indonesia adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan pada pencapaian tujuan pembelajaran bahasa Indonesia. Prosedur yang digunakan sudah disesuaikan dengan sifat pembelajaran bahasa Indonesia yang spesifik. Dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia, guru harus memiliki tingkat penyesuaian yang cocok dengan siswa. Penyesuaian tersebut dirancang secara terpadu dengan tujuan belajar bahasa Indonesia.

Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan, antara lain:[34]

  1. Metode tata bahasa/terjemahan
  2. Metode membaca
  3. Metode audiolingual
  4. Metode reseptif dan produktif
  5. Metode langsung
  6. Metode komunikatif
  7. Metode integratif
  8. Metode tematik
  9. Metode kuantum
  10. Metode konnstruktifistik
  11. Metode partisipatori
  12. Metode kontekstual

Lihat pula

Rujukan

  1. ^ a b Badan Pusat Statistik (28 Maret 2013). "Penduduk Indonesia Hasil Sensus Penduduk 2010 (Result of Indonesia Population Census 2010)". Penduduk Indonesia Hasil Sensus Penduduk ... = Population of Indonesia : Result of Indonesia Population Census: 421, 427. ISSN 2302-8513. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2 April 2015. Diakses tanggal 12 April 2015. 
  2. ^ "East Timor Languages". www.easttimorgovernment.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-03-04. Diakses tanggal 21 Maret 2016. 
  3. ^ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2019). "Indonesian". Glottolog 4.1. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. 
  4. ^ "Indonesia is The Most Trilingual Country in The World" [Indonesia Negara Trilingual Teratas di Dunia] (dalam bahasa Inggris). 
  5. ^ "Indonesia Ranks As The Top Trilingual Country In The World" [Indonesia Duduki Peringkat Teratas Sebagai Negara Trilingual Di Dunia] (dalam bahasa Inggris). 2021. 
  6. ^ "Indonesian (language)" [Bahasa Indonesia]. Ministry of Tourism, Republic of Indonesia (dalam bahasa Inggris). 
  7. ^ Poedjosoedarmo, Soepomo. "Javanese influence on Indonesian" [Pengaruh Bahasa Jawa dalam Bahasa Indonesia] (dalam bahasa Inggris). The Australian National University, Australia. 
  8. ^ "The Most Spoken Languages Worldwide" [Bahasa Yang Paling Banyak Dituturkan Seluruh Dunia]. statista.com (dalam bahasa Inggris). Statista. 2021. 
  9. ^ "East Timor Languages" [Bahasa-bahasa Timor Leste]. www.easttimorgovernment.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 4 Maret 2016. Diakses tanggal 21 Maret 2016. 
  10. ^ "Indonesian Language Officially Taught at Vietnam National University". english.vietnamnet.vn. 
  11. ^ "Indonesian, Thai, and Spanish language versions of the 'Marugoto (A1) Japanese Online Course' are now available". kansai.jpf.go.jp. Japanese-Language Institute, Kansai. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-09-13. Diakses tanggal 2021-09-13. 
  12. ^ "The Indonesian, Vietnamese and Thai Language Courses". cltr.asia.edu.tw. Taiwan (Republic of China): Center for the Development of Language Teaching and Research, Asia University. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-09-13. Diakses tanggal 2021-09-13. 
  13. ^ "Bahasa Indonesia (Indonesian language)". sas.fas.harvard.edu. Harvard University: Faculty of Arts and Sciences. 
  14. ^ "Cambridge IGCSE Indonesian - Foreign Language". cambridgeinternational.org. Cambridge University Press & Assessment. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-09-13. Diakses tanggal 2021-09-13. 
  15. ^ "Indonesian Studies". arts.adelaide.edu.au. The University of Adelaide, Australia. 
  16. ^ "Indonesia's geographic proximity and strategic importance to Australia make it vital to understand its peoples, politics, history, languages and cultures". The University of Melbourne. 
  17. ^ "Indonesian studies". Monash University, Australia. 
  18. ^ Hamish Curry. "Teaching Indonesian in Australian Schools". The University of Melbourne. 
  19. ^ "Department of Indonesian Studies". www.sydney.edu.au. The University of Sydney, Australia. 
  20. ^ "Global Importance of Indonesia and the Indonesian Language" [Pentingnya Indonesia dan Bahasa Indonesia dalam Ranah Global] (dalam bahasa Inggris). 2018. 
  21. ^ Abas, Husen (1987). "Indonesian as a Unifying Language of Wider Communication : A Historical and Sociolinguistic Perspective". Pacific Linguistics. D–73 (viii): 230. doi:10.15144/PL-D73. ISBN 0858833581. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019. Diakses tanggal 28 December 2020. 
  22. ^ Arman, Dedi (8 June 2014). "Perkembangan Bahasa Melayu". kebudayaan.kemdikbud.go.id. Directorate General of Culture of The Republic of Indonesia. Diakses tanggal 28 December 2020. Pemindahan ini merupakan permulaan dari suatu periode dalam pengembangan dan penyebaran bahasa Melayu, yaitu zaman Kerajaan Riau dan Lingga. Dalam periode inilah bahasa Melayu memperoleh ciri ke-Riau-annya, dan bahasa Melayu Riau inilah yang merupakan cikal bakal bahasa Nasional Indonesia yang dicetuskan pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 ...Selama keberadaan kerajaan ini hampir 200 tahun lamanya, ada tiga momentum yang penting sekali bagi perkembangan dan persebaran bahasa Melayu Riau, yaitu tahun 1808, ketika Raja Ali Haji lahir; tahun 1857, ketika Raja Ali Haji menyelesaikan bukunya yang berjudul Bustanul Katibin, suatu tatabahasa normatif bahasa Melayu Riau; dan tahun 1894, ketika percetakan Mathba’atul Riauwiyah atau Mathba’atul Ahmadiyah didirikan. Pengoperasian percetakan Mathba’atul Riauwiyah ini sangat penting karena melalui buku-buku dan pamflet-pamflet yang diterbitkannya, bahasa Melayu Riau tersebar ke daerah lain di Kepulauan Nusantara. 
  23. ^ Mahayana, Maman S. (2009). "Perkembangan Bahasa Indonesia—Melayu di Indonesia dalam Konteks Sistem Pendidikan" [The Development of Indonesian—Malay language in Indonesia in the context of The Education System]. The Journal of Alternative Education (dalam bahasa Indonesian). 14 (3): 21 . doi:10.24090/insania.v14i3.350. Diakses tanggal 28 December 2020.  line feed character di |title= pada posisi 14 (bantuan)
  24. ^ Ardanareswari, Indira (25 June 2019). "History of The Indonesian Language Congress I: Inaugurating The United Language (eng)". tirto.id. Tirto. Diakses tanggal 28 December 2020. "What is named as 'Indonesian language' is the Malay language which mainly derived from 'Riau Malay' but which has been added, modified or subtract according to the needs of new age and nature, until the language is now readily spoken by all of the people of Indonesia," says Ki Hajar Dewantara in The Indonesian Language Congress I 1983 in Solo (eng) 
  25. ^ a b c Sneddon, James (2003). "Diglossia in Indonesian". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 159 (4): 519–549. ISSN 0006-2294. 
  26. ^ Sneddon 2003, The Indonesian Language: Its History and Role in Modern Society, p. 70
  27. ^ Asmadi T.D. Arti Tanggal 2 Mei bagi Bahasa Indonesia Diarsipkan 2010-05-05 di Wayback Machine.. Laman Lembaga Pers Dr. Sutomo. Edisi 08 Februari 2010. diakses 5 Maret 2010.
  28. ^ Depdiknas Terbitkan Peta Bahasa Blog BahasaKita 4 Maret 2009, mirror dari berita AntaraOnline edisi 22 Oktober 2008.
  29. ^ Why Indonesian is important to learn. Situs web pengajaran bahasa Indonesia di Universitas Negeri Ohio.
  30. ^ Farber, Barry. J. How to learn any language quickly, enjoyably and on your own. Citadel Press. 1991.
  31. ^ Eliot, J., Bickersteth, J. Sumatra Handbook. Footprint. 2000.
  32. ^ Daftar Penelitian Bahasa menampilkan laman senarai penelitian kebahasaan. Diakses 27 Juni 2019
  33. ^ Kontribusi Kosakata Bahasa Daerah dalam Bahasa Indonesia Diarsipkan 2012-10-27 di Wayback Machine. artikel oleh Adi Budiwidiyanto di situs Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Diakses 3 November 2012
  34. ^ Teknik pembelajaran bahasa dan sastra berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi. Surabaya: Penerbit SIC. 2004. ISBN 9799414180. OCLC 697280233. 

Pranala luar

][pranala nonaktif permanen]

Pembelajaran Bahasa Indonesia

Kamus Indonesia – asing

  • Untuk daftar situs web kamus, lihat Kamus