Jawa Barat

provinsi di Indonesia
(Dialihkan dari Provinsi Jawa Barat)

Jawa Barat (disingkat Jabar, aksara Sunda: ᮏᮝ ᮊᮥᮜᮧᮔ᮪, Aksara Jawa: ꦗꦮ​ꦏꦸꦭꦴꦤ꧀, Sunda dan Cirebon: Jawa Kulon) adalah sebuah provinsi di Indonesia, ibu kotanya berada di Bandung.

Jawa Barat

Jawa Kulon
Provinsi di Indonesia
Jabar
bahasa Sunda dan Cirebon-Dermayu Transkripsi
 • aksara Sundaᮏᮝ ᮊᮥᮜᮧᮔ᮪
 • Cacarakanꦗꦮꦏꦸꦭꦴꦤ꧀
 • Pegonجاوه كولون
Boat pelabuhanratu.jpgGreen Canyon - panoramio.jpg
Keraton Kasepuhan, Cirebon - panoramio.jpgGunung Tangkuban Parahu.jpg
ITB library building.JPGCitarum, Bantar Caringin - panoramio.jpg
Gedung-Sate-Trees.jpg
Dari pojok kiri atas searah jarum jam: Palabuhanratu, Cukang Taneuh, Gunung Tangkubanparahu, arung jeram di Ci Tarum, Gedung Sate, perpustakaan ITB, dan Keraton Kasepuhan Cirebon.
Bendera Jawa Barat
Bendera
Lambang resmi Jawa Barat
Motto: 

Gemah Ripah Répéh Rapih
ᮌᮨᮙᮂᮛᮤᮕᮂᮛᮦᮕᮦᮂᮛᮕᮤᮂ
ꦒꦼꦩꦃꦫꦶꦥꦃꦫꦺꦥꦺꦃꦫꦥꦶꦃ꧉
(Sunda: Makmur Sentosa Sederhana Rapi)[1]
Peta
Peta
Negara Indonesia
Hari jadi19 Agustus 1945[2]
Jumlah satuan pemerintahan
Pemerintahan
 • GubernurRidwan Kamil
 • Wakil GubernurUu Ruzhanul Ulum
 • Sekretaris DaerahSetiawan Wangsaatmaja
 • Ketua DPRDTaufik Hidayat
Luas
 • Total35.377,76 km2 (1,365,943 sq mi)
Populasi
 • Total48.683.861
 • Kepadatan1,376,11/km2 (3,5.641/sq mi)
Demografi
 • AgamaIslam (97,22%)
Kristen (2,45%)
Protestan (1,83%)
Katolik (0,65%)
Buddha (0,22%)
Hindu (0,04%)
Konghucu (0,03%)
Kepercayaan 0,01%[4]
 • Suku bangsaBerdasarkan sensus penduduk 2010[5]

- Penduduk asli provinsi Jawa Barat[note 1]

Sunda (30.889.910 jiwa)
Betawi (2.664.143 jiwa)
Cirebon (1.812.842 jiwa)[6]

- Pendatang

Jawa (5.710.652 jiwa)
Batak (467.438 jiwa)
Minangkabau (241.169 jiwa)
Melayu (190.224 jiwa)
suku asal Banten (60.948 jiwa)
Madura (43.001 jiwa)
suku asal Aceh (34.992 jiwa)
Bugis (34.548 jiwa)
Nias (7.925 jiwa)
Tionghoa (254.920 jiwa)
[7]
 • BahasaIndonesia(resmi)
Sunda (dominan)
Sunda Priangan
Sunda Banten
Sunda Cirebon
Betawi
Cirebon[note 1]
 • IPM (71.03)[8] tinggi
Zona waktuUTC+07:00 (WIB)
Kode pos
16xxx-17xxx, 40xxx-41xxx, dan 43xxx-46xxx
Kode area telepon
ISO 3166 codeID-JB
Nomor TNKB
Dasar hukum pendirianUU No. 11 Tahun 1950
APBDRp28.530.972.638.325,00[9] (2015)
PADRp23.989.000.087.978,00 [10]
DAURp1.181.553.108.000,00 (2011)[11]
Lagu daerahManuk Dadali, Bubuy Bulan, Tokecang
Rumah adatRumah Kasepuhan
Senjata tradisionalKujang
FloraGandaria
FaunaMacan tutul jawa
Situs webjabarprov.go.id

SejarahSunting

Temuan arkeologi di Anyer menunjukkan adanya budaya logam perunggu dan besi sebelum milenium pertama. Gerabah tanah liat prasejarah zaman buni (Bekasi kuno) bisa ditemukan merentang dari Anyer sampai Cirebon.[butuh rujukan]

Wilayah Jawa Barat pada abad ke-5 merupakan bagian dari Kerajaan Tarumanagara.[butuh rujukan] Prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanagara banyak tersebar di Jawa Barat. Ada tujuh prasasti yang ditulis dalam aksara Wengi (yang digunkan dalam masa Palawa India) dan bahasa Sansakerta yang sebagian besar menceritakan para raja Tarumanagara.[butuh rujukan]

Setelah runtuhnya kerajaan Tarumanagara, kekuasaan di bagian barat Pulau Jawa dari Ujung Kulon sampai Kali Serayu dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda[butuh rujukan]. Salah satu prasasti dari zaman Kerajaan Sunda adalah prasasti Kebon Kopi II yang berasal dari tahun 932. Kerajaan Sunda beribu kota di Pakuan Pajajaran (sekarang kota Bogor).[butuh rujukan]

Pada abad ke-16, Kesultanan Demak tumbuh menjadi saingan ekonomi dan politik Kerajaan Sunda. Pelabuhan Cerbon (kelak menjadi Kota Cirebon) lepas dari Kerajaan Sunda karena pengaruh Kesultanan Demak. Pelabuhan ini kemudian tumbuh menjadi Kesultanan Cirebon yang memisahkan diri dari Kerajaan Sunda. Pelabuhan Banten juga lepas ke tangan Kesultanan Cirebon dan kemudian tumbuh menjadi Kesultanan Banten.

Untuk menghadapi ancaman ini, Sri Baduga Maharaja, raja Sunda saat itu, meminta putranya, Surawisesa untuk membuat perjanjian pertahanan keamanan dengan orang Portugis di Malaka untuk mencegah jatuhnya pelabuhan utama, yaitu Sunda Kalapa (sekarang Jakarta) kepada Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Demak. Pada saat Surawisesa menjadi raja Sunda, dengan gelar Prabu Surawisesa Jayaperkosa, dibuatlah perjanjian pertahanan keamanan Sunda-Portugis, yang ditandai dengan Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal, ditandatangani dalam tahun 1512. Sebagai imbalannya, Portugis diberi akses untuk membangun benteng dan gudang di Sunda Kalapa serta akses untuk perdagangan di sana. Untuk merealisasikan perjanjian pertahanan keamanan tersebut, pada tahun 1522 didirikan suatu monumen batu yang disebut padrão di tepi Ci Liwung.

Meskipun perjanjian pertahanan keamanan dengan Portugis telah dibuat, pelaksanaannya tidak dapat terwujud karena pada tahun 1527 pasukan aliansi Cirebon - Demak, dibawah pimpinan Fatahilah atau Paletehan menyerang dan menaklukkan pelabuhan Sunda Kalapa. Perang antara Kerajaan Sunda dan aliansi Cirebon - Demak berlangsung lima tahun sampai akhirnya pada tahun 1531 dibuat suatu perjanjian damai antara Prabu Surawisesa dengan Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon.

Dari tahun 1567 sampai 1579, dibawah pimpinan Raja Mulya, alias Prabu Surya Kencana, Kerajaan Sunda mengalami kemunduran besar dibawah tekanan Kesultanan Banten. Setelah tahun 1576, kerajaan Sunda tidak dapat mempertahankan Pakuan Pajajaran (ibu kota Kerajaan Sunda), dan akhirnya jatuh ke tangan Kesultanan Banten. Zaman pemerintahan Kesultanan Banten, wilayah Priangan (Jawa Barat bagian tenggara) jatuh ke tangan Kesultanan Mataram.

Jawa Barat sebagai pengertian administratif mulai digunakan pada tahun 1925 ketika Pemerintah Hindia Belanda membentuk Provinsi Jawa Barat. Pembentukan provinsi itu sebagai pelaksanaan Bestuurshervormingwet tahun 1922, yang membagi Hindia Belanda atas kesatuan-kesatuan daerah provinsi. Sebelum tahun 1925, digunakan istilah Soendalanden (Tatar Soenda) atau Pasoendan, sebagai istilah geografi untuk menyebut bagian Pulau Jawa di sebelah barat Sungai Cilosari dan Citanduy yang sebagian besar dihuni oleh penduduk yang menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu.

Pada 17 Agustus 1945, Jawa Barat bergabung menjadi bagian dari Republik Indonesia.

Pada tanggal 27 Desember 1949 Jawa Barat menjadi Negara Pasundan yang merupakan salah satu negara bagian dari Republik Indonesia Serikat sebagai hasil kesepakatan tiga pihak dalam Konferensi Meja Bundar: Republik Indonesia, Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), dan Belanda. Kesepakatan ini disaksikan juga oleh United Nations Commission for Indonesia (UNCI) sebagai perwakilan PBB.

Jawa Barat kembali bergabung dengan Republik Indonesia pada tahun 1950.

GeografiSunting

 
Kawah gunung Tangkuban Parahu di wilayah selatan kabupaten Subang[12].

Provinsi Jawa Barat berada di bagian barat Pulau Jawa. Wilayahnya berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Jawa Tengah di timur, Samudera Hindia di selatan, serta Banten dan DKI Jakarta di barat.

Kawasan pantai utara merupakan dataran rendah. Di bagian tengah merupakan pegunungan, yakni bagian dari rangkaian pegunungan yang membujur dari barat hingga timur Pulau Jawa. Titik tertingginya adalah Gunung Ciremay, yang berada di sebelah barat daya Kota Cirebon. Sungai-sungai yang cukup penting adalah Sungai Citarum dan Sungai Cimanuk, yang bermuara di Laut Jawa.

IklimSunting

Iklim di Jawa Barat adalah tropis, dengan suhu 9 °C di Puncak Gunung Pangrango dan 34 °C di Pantai Utara, curah hujan rata-rata 2.000 mm per tahun, namun di beberapa daerah pegunungan antara 3.000 sampai 5.000 mm per tahun.

TopografiSunting

Ciri utama daratan Jawa Barat adalah bagian dari busur kepulauan gunung api (aktif dan tidak aktif) yang membentang dari ujung utara Pulau Sumatra hingga ujung utara Pulau Sulawesi. Daratan dapat dibedakan atas wilayah pegunungan curam di selatan dengan ketinggian lebih dari 1.500 m di atas permukaan laut, wilayah lereng bukit yang landai di tengah ketinggian 100 1.500 m dpl, wilayah dataran luas di utara ketinggian 0 . 10 m dpl, dan wilayah aliran sungai.

DemografiSunting

 
Piramida penduduk Provinsi Jawa Barat berdasarkan hasil sensus 2010. Legenda:
  Laki-laki
  Perempuan
 
Peta kota dan kabupaten di Provinsi Jawa Barat berdasarkan tingkat kepadatan penduduk hasil sensus 2010. Legenda:
  < 2.000
  2.000 - 3.999
  4.000 - 8.999
  9.000 - 10.999
  ≥ 11.000
 
Kota dan Kabupaten di Jawa Barat menurut Indeks Pembangunan Manusia pada tahun 2019
  80.01 ke atas
  75.01 - 80.00
  70.01 - 75.00
  65.01 - 70.00

Jumlah penduduk Provinsi Jawa Barat adalah sebanyak 43.053.732 jiwa yang mencakup mereka yang bertempat tinggal di daerah perkotaan sebanyak 28.282.915 jiwa (65,69 persen) dan di daerah perdesaan sebanyak 14.770.817 jiwa (34,31 persen). Persentase distribusi penduduk menurut kabupaten/kota bervariasi dari yang terendah sebesar 0,41 persen di Kota Banjar hingga yang tertinggi sebesar 11,08 persen di Kabupaten Bogor.

Penduduk laki-laki Provinsi Jawa Barat sebanyak 21.907.040 jiwa dan perempuan sebanyak 21.146.692 jiwa. Seks Rasio adalah 104, berarti terdapat 104 laki-laki untuk setiap 100 perempuan. Seks rasio menurut kabupaten/kota yang terendah adalah Kabupaten Ciamis sebesar 98 dan tertinggi adalah Kabupaten Cianjur sebesar 107. Seks Rasio pada kelompok umur 0-4 sebesar 106, kelompok umur 5-9 sebesar 106, kelompok umur lima tahunan dari 10 sampai 64 berkisar antara 97 sampai dengan 113, dan dan kelompok umur 65-69 sebesar 96.

Median umur penduduk Provinsi Jawa Barat tahun 2010 adalah 26,86 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa penduduk Provinsi Jawa Barat termasuk kategori menengah. Penduduk suatu wilayah dikategorikan penduduk muda bila median umur < 20, penduduk menengah jika median umur 20-30, dan penduduk tua jika median umur > 30 tahun.

Rasio ketergantungan penduduk Provinsi Jawa Barat adalah 51,20. Angka ini menunjukkan bahwa setiap 100 orang usia produktif (15-64 tahun) terdapat sekitar 51 orang usia tidak produkif (0-14 dan 65+), yang menunjukkan banyaknya beban tanggungan penduduk suatu wilayah. Rasio ketergantungan di daerah perkotaan adalah 48,84 sementara di daerah perdesaan 55,92.[13]

PendudukSunting

Mayoritas penduduk Jawa Barat adalah Suku Sunda, yang bertutur menggunakan Bahasa Sunda. Di Kabupaten Cirebon dan Kota Cirebon dituturkan bahasa Cirebon yang mirip dengan Bahasa Banyumasan dialek Brebes. Di Kabupaten Indramayu menggunakan bahasa Cirebon dialek Indramayu atau dikenal dengan dermayon dan beberapa kecamatan yang terletak di pantai utara kabupaten Subang dan Kabupaten Karawang seperti Cilamaya Wetan, Cilamaya Kulon dan Pedes (Cemara) menggunakan bahasa Cirebon yang hampir mirip dengan bahasa Cirebon dialek dermayon. Di daerah perbatasan dengan DKI Jakarta seperti sebagian Kota Bekasi, Kecamatan Tarumajaya dan Babelan (Kabupaten Bekasi) dan Kota Depok bagian utara dituturkan bahasa Melayu dialek Betawi. Jawa Barat merupakan wilayah berkaraktaristik kontras dengan dua identitas: masyarakat urban yang sebagian besar tinggal di wilayah Jabodetabek (sekitar Jakarta) serta Bandung Raya; dan masyarakat tradisional yang hidup di pedesaan yang tersisa. Pada tahun 2002, populasi Jawa Barat mencapai 37.548.565 jiwa, dengan rata-rata kepadatan penduduk 1.033 jika/km persegi. Dibandingkan dengan angka pertumbuhan nasional (2,14% per tahun), Provinsi Jawa Barat menduduki peringkat terendah, dengan 2,02% per tahun.

Penggunaan bahasa daerah kini mulai dipromosikan kembali. Sejumlah stasiun televisi dan radio lokal kembali menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pada beberapa acaranya, terutama berita dan talk show, misalnya Bandung TV memiliki program berita menggunakan Bahasa Sunda serta Cirebon Radio yang menggunakan ragam Bahasa Cirebon Bagongan maupun Bebasan. Begitu pula dengan media massa cetak yang menggunakan bahasa sunda, seperti majalah Manglé dan majalah Bina Da'wah yang diterbitkan oleh Dewan Da'wah Jawa Barat.

PerekonomianSunting

Jawa Barat selama lebih dari tiga dekade telah mengalami perkembangan ekonomi yang pesat. Saat ini peningkatan ekonomi modern ditandai dengan peningkatan pada sektor manufaktur dan jasa. Disamping perkembangan sosial dan infrastruktur, sektor manufaktur terhitung terbesar dalam memberikan kontribusinya melalui investasi, hampir tigaperempat dari industri-industri manufaktur non minyak berpusat di sekitar Jawa Barat.PDRB Jawa Barat pada tahun 2003 mencapai Rp231.764 miliar (US$ 27.26 Billion) menyumbang 14-15 persen dari total PDB nasional, angka tertinggi bagi sebuah Provinsi. Bagaimanapun juga karena jumlah penduduk yang besar, PDB per kapita Jawa Barat adalah Rp 5.476.034 (US$644.24) termasuk minyak dan gas, ini menggambarkan 82,4 persen dan 86,1 persen dari rata-rata nasional. Pertumbuhan ekonomi tahun 2003 adalah 4,21 persen termasuk minyak dan gas 4,91 persen termasuk minyak dan gas, lebih baik dari Indonesia secara keseluruhan. (US$1 = Rp14.200,00).

ManufakturSunting

Provinsi Jawa Barat memiliki tingkat konsentrasi yang tinggi untuk manufaktur termasuk di antaranya elektronik, industri kulit, pengolahan makanan, tekstil, furnitur dan industri pesawat. Juga panas bumi, minyak dan gas, serta industri petrokimia menjadi andalan Jawa Barat. Penyumbang terbesar terhadap GRDP Jawa Barat adalah sektor manufaktur (36,72%), hotel, perdagangan dan pertanian (14,45%), totalnya sebesar 51,17%. Terlepas dari adanya krisis, Jawa Barat masih menjadi pusat dari industri tekstil modern dan garmen nasional, berbeda dengan daerah lain yang menjadi pusat dari industri tekstil tradisional. Jawa Barat menymbangkan hampir seperempat dari nilai total hasil produksi Indonesia di sektor non Migas. Ekspor utama tekstil, sekitar 55,45% dari total ekspor Jawa Barat, yang lainnya adalah besi baja, alas kaki, furnitur, rotan, elektronika, komponen pesawat dan lainnya.

Pertanian: Lahan dan perairanSunting

Dikenal sebagai salah satu 'lumbung padi' nasional, hampir 23 persen dari total luas 29,3 ribu kilometer persegi dialokasikan untuk produksi beras. Tidak dimungkiri lagi, Jawa Barat merupakan 'Rumah Produksi' bagi ekonomi Indonesia, hasil pertanian Provinsi Jawa Barat menyumbangkan 15 persen dari nilai total pertanian Indonesia.Hasil tanaman pangan Jawa Barat meliputi beras, kentang manis, jagung, buah-buahan dan sayuran, disamping itu juga terdapat komoditas seperti teh, kelapa, minyak sawit, karet alam, gula, coklat dan kopi. Perternakannya menghasilkan 120.000 ekor sapi ternak, 34% dari total nasional.

Kelautan dan perikananSunting

Jawa Barat berhadapan dengan dua sisi lautan Jawa pada bagian utara dan samudera Hindia di bagian selatan dengan panjang pantai sekitar 1000 km. Berdasarkan letak inilah Provinsi Jawa Barat memiliki potensi perikanan yang sangat besar. Suatu perencanaan terpadu tengah dilaksanakan untuk pengembangan Pelabuhan Cirebon, baik sebagai pelabuhan Pembantu Tanjung Priok Jakarta, maupun sebagai pelabuhan perikanan Jawa Barat yang dilengkapi dengan industri perikanan.Untuk potensi perairan darat, tidak hanya dari sejumlah sungai yang mengalir di Jawa Barat, Tetapi potensi ini juga diperoleh dari penampungan air / DAM saguling di Cirata dan DAM Jatiluhur yang selain menghasilkan tenaga listrik juga berguna untuk mengairi area pertanian dan industri perikanan air tawar.

Jumlah penduduk dan tenaga kerjaSunting

Dengan jumlah penduduk sekitar 37 juta manusia pada tahun 2003, 16 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Pertumbuhan urbanisasi di Provinsi tumbuh sangat cepat, khususnya disekitar JABODETABEK (sekitar Jakarta). Jawa Barat memiliki tenaga pekerja berpendididkan berjumlah 15,7 juta orang pada tahun 2001 atau 18 persen dari total nasional tenaga pekerja berpendidikan. Sebagian besar bekerja pada bidang pertanian, kehutanan dan perikanan (31%), pada industri manufaktur (17%), perdagangan, hotel dan restoran (22,5%) dan sektor pelayanan (29%).

Minyak-Mineral dan geothermalSunting

Minyak dapat ditemukan di sepanjang Laut Jawa, utara Jawa Barat, sementara cadangan geothermal (panas bumi) terdapat di beberapa derah di Jawa Barat. Tambang lain sepert Batu gamping, andesit, marmer, tanah liat merupakan pertambangan mineral yang dapat ditemukan, termasuk mineral lain yang cadangan depositnya sangat potensial, Emas yang dikelola PT. Aneka Tambang, potensinya sebesar 5,5 million ton, dan menghasilkan 12,1 gram emas per ton.

Pendidikan dan KebudayaanSunting

 
Pembagian wilayah Geobudaya di Jawa Barat
  Bodebek
  Purwasuka
  Ciayumajakuning
  Priangan Barat
  Priangan Tengah
  Priangan Timur
 
Pagelaran Wayang kulit Cirebon pada Mei 2015 yang diabadikan oleh Arie Nugraha (budayawan Cirebon) dengan lakon "Rit Madenda" di desa Mekar Asih, kecamatan Banyu Sari, kabupaten Karawang yang dipimpin oleh Ki Dalang Enang Sutriya

Perlindungan dan proses pengembangan Budaya dan Bahasa yang ada di Jawa Barat secara kongrit dimulai dengan adanya Kongres Jawa Barat, kongres Jawa Barat merupakan sebuah wadah berkumpulnya para tokoh masyarakat Jawa Barat untuk membicarakan berbagai persoalan sosial-kemasyarakatan yang ada di Jawa Barat.

Pendidikan Bahasa SundaSunting

Bahasa Sunda merupakan bahasa daerah yang paling banyak digunakan di Jawa Barat, terutama di wilayah Parahyangan yang merupakan wilayah tempat tinggal tradisional Suku Sunda.

Berdasarkan Pergub Jabar no. 69 tahun 2013, Bahasa Sunda ditetapkan sebagai salah-satu mata pelajaran bahasa dan sastra daerah di Jawa Barat, bersama dengan bahasa Cirebon dan bahasa Melayu dialek Betawi. Bahasa Sunda diajarkan di dua tingkat jenjang pendidikan, yaitu jenjang pendidikan dasar (Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah lalu Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah) dan jenjang pendidikan menengah (Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah).[14]

Dalam membantu keberlangsungan pendidikan Bahasa Sunda di Jawa Barat, pemerintah daerah Jawa Barat bekerjasama dengan Universitas Padjadjaran dan Yayasan Kebudayaan Rancage menerbitkan Kamus Utama, yaitu kamus bahasa Sunda terlengkap yang terdiri dari 6 jilid, 10.000 halaman dan memuat 150.000 entri.[15][16] Saat ini kamus tersebut sudah dikirim ke perpustakaan di Eropa seperti perpustakaan KITLV di Belanda.[17]

Pendidikan bahasa CirebonSunting

Pada sensus penduduk 2010 jumlah penduduk provinsi Jawa Barat adalah sebanyak 46.497.175 jiwa[18] sementara jumlah suku Cirebon pada sensus penduduk 2010 dengan survei awal pada wilayah inti suku Cirebon yaitu di kabupaten Cirebon, kota Cirebon dan kabupaten Indramayu adalah sebesar 1.812.842 jiwa[5], data tersebut menjelaskan bahwa jumlah suku Cirebon ada sekitar 4-5% dari total populasi provinsi Jawa Barat, secara budaya dan bahasa, suku Cirebon masih mewarisi kedekatan-kesekatan tersebut dengan suku Sunda, namun keberagaman budaya dan bahasa yang ada di Jawa Barat sempat diuji ketika Kongres Jawa Barat yang ketiga diadakan. Tepatnya di Kota Bandung tanggal 28 Februari 1948, pada saat tersebut salah satu perwakilan masyarakat Jawa Barat dari Suku Sunda yaitu Soeria Kartalegawa yang juga ketua Partai Rakyat Pasundan (PRP) mengusulkan agar pembicaraan dalam rapat badan perwakilan tersebut (Kongres Jawa Barat) dibolehkan menggunakan Bahasa Sunda, namun kemudian usulan tersebut segera disanggah oleh perwakilan masyarakat Jawa Barat lainnya dari Suku Cirebon yaitu Soekardi[19]:

Kemudian pada periode sebelum tahun 1970-an Pemerintah memasukkan pelajaran bahasa Jawa untuk wilayah Cirebon dan Indramayu yang masih termasuk wilayah Provinsi Jawa Barat di mana mayoritas penduduknya menggunakan Bahasa Sunda, namun ternyata guru pengajar dan muridnya tidak memahami kosakata yang digunakan tersebut hingga akhirnya memutuskan untuk tidak mengajarkan bahasa Jawa di wilayah Cirebon-Indramayu.

Kekosongan pelajaran muatan lokal bahasa daerah ini kemudian berusaha diisi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan memasukkan pelajaran bahasa daerah bahasa Sunda, oleh karenanya pada periode tahun 1970-an bahasa daerah yang diajarkan di wilayah Cirebon - Indramayu adalah bahasa Sunda.

Tetapi kebijaksanaan itu tidak tepat, sehingga muncul gerakan untuk menggantinya dengan buku dalam bahasa yang digunakan di wilayahnya yaitu bahasa Cirebon.[20] Kemudian pada periode tahun selanjutnya, pengajaran bahasa Cirebon mulai untuk diajarkan di wilayah Pakaleran Majalengka yaitu wilayah utara kabupaten Majalengka yang mayoritas penduduknya merupakan keturunan Prajurit Mataram.[21] Pada wilayah Pakaleran ini, kosakata bahasa Jawa dialek Banyumasan, dialek Bumiayu, serta dialek Tegal lebih terasa.

Namun pengajaran bahasa daerah pada periode tersebut belum memiliki payung hukum, karena Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebelumnya mengindikasikan bahwa Jawa Barat merupakan wilayah tanah Sunda dengan mayoritas suku Sunda yang bertutur bahasa Sunda. Setelah tahun 2003, dengan diterbitkannya Peraturan Daerah (Perda) Jawa Barat No. 5 Tahun 2003 tentang Perlindungan dan Pengembangan Budaya dan Bahasa, Jawa Barat mengakui adanya tiga suku asli yaitu Sunda, Melayu-Betawi dan Cirebon.

Pengajaran bahasa daerah non-Sunda memiliki perlindungan payung hukumnya, adapun pergerakan untuk menjadikan bahasa Cirebon sebagai sebuah bahasa yang mandiri dan terlepas dari Bahasa Jawa maupun Sunda. Maka dari itu dilakukan sebuah metode yang disebut dengan Metode Guiter, namun pada perhitungannya metode tersebut baru mencatat sekitar 75% perbedaan antara bahasa Cirebon dengan bahasa Jawa. Sementara untuk diakui sebagai sebuah bahasa mandiri, diperlukan sedikitnya 80% perbedaan dengan bahasa terdekatnya.[22]

Namun secara nyata, penerbitan buku penunjang pelajaran bahasa daerah Cirebon dan Indramayu pada periode tahun 2000-an sudah dilakukan dengan tidak menyebutkan Cirebon sebagai sebuah dialek Bahasa Jawa dan hanya disebutkan Bahasa Cirebon dan bukannya Bahasa Jawa dialek Cirebon seperti yang dilakukan pada penerbitan "Kamus Bahasa Cirebon" oleh TD Sudjana dan kawan-kawan tahun 2001 dan Wykarana - Tata Bahasa Cirebon oleh Salana tahun 2002.

Pengembangan pendidikan bahasa CirebonSunting

Pengembangan dan perlindungan bahasa yang diamanatkan oleh Perda Jawa Barat No. 5 Tahun 2003 dalam kaitannya dengan pengembangan Bahasa Cirebon hanya terjadi disekitar wilayah eks-karesidenan Cirebon yaitu (Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Indramayu, sebagian wilayah Kabupaten Majalengka dan sebagian wilayah Kabupaten Kuningan) sementara wilayah kabupaten lainnya yang juga didiami oleh Suku Cirebon seperti wilayah Kabupaten Subang sebelah utara dan sebagian wilayah Kabupaten Karawang di Pesisir Timur hingga tahun 2011 (delapan tahun setelah Perda Jawa Barat No. 5 Tahun 2003) diterbitkan belum juga mendapatkan pengajaran Bahasa Cirebon, adanya ketidakmerataan pengajaran bahasa daerah di Jawa barat ini dikarenakan pemerintah memberikan hak sepenuhnya kepada Pemerintah Daerah di setiap Kabupaten/Kota untuk menentukan sendiri pengajaran bahasa daerah yang ada di wilayahnya.

Pendidikan bahasa Melayu dialek BetawiSunting

Berbeda halnya dengan pendidikan bahasa cirebon, pendidikan bahasa betawi di wilayah Provinsi Jawa Barat mengalami hal yang lebih parah dari masalah yang dialami oleh bahasa cirebon, pendidikan Bahasa Betawi hingga tahun 2011 (delapan tahun setelah Perda Jawa Barat No. 5 Tahun 2003) diterbitkan sama sekali belum dilakukan di wilayah yang didiami oleh suku betawi yaitu Kota Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, sebagian Kabupaten Bogor wilayah Utara dan sebagian wilayah Kabupaten Karawang dan Kabupaten Purwakarta sebelah barat, padahal penelitian tentang Bahasa Betawi telah cukup banyak dilakukan, di antaranya:

  1. K. Ikranegara (1980). Melayu Betawi Grammar. Linguistic Studies in Indonesian and Languages in Indonesia 9. Jakarta: NUSA.
  2. S. Wallace (1976). Linguistic and Social Dimensions of Phonological Variation in Jakarta Malay. PhD. Dissertation, Cornell University.
  3. Klarijn Loven (2009). Watching Si Doel: Television, Language and Cultural Identity in Contemporary Indonesia, 477 halaman, ISBN 90-6718-279-6. Penerbit: The KITLV/Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies at Leiden.
  4. Lilie M. Roosman (April 2006). Lilie Roosman: Phonetic experiments on the word and sentence prosody of Betawi Malay and Toba Batak, Penerbit: Universiteit Leiden.

Pengembangan pendidikan bahasa Melayu dialek BetawiSunting

Hingga tahun 2011 Pemerintah Daerah yang wilayahnya didiami oleh Suku Betawi yaitu Kota Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor dan Kabupaten Karawang masih belum mengadakan pendidikan bahasa daerah Bahasa Melayu dialek Betawi dan hanya mengajarkan pendidikan bahasa daerah Bahasa Sunda.

Perguruan tinggi negeriSunting

Perguruan tinggi swastaSunting

PemerintahanSunting

Kabupaten dan KotaSunting

No. Kabupaten/kota Ibukota Kabupaten Bupati/wali kota Luas wilayah (km2)[24] Jumlah penduduk (2017)[24] Kecamatan Kelurahan/desa Logo Peta lokasi
1 Kabupaten Bandung Soreang Dadang M. Nasser 1.767,96 3.145.254 31 10/270  
2 Kabupaten Bandung Barat Ngamprah Aa Umbara Sutisna 1.305,77 1.616.203 16 -/165  
3 Kabupaten Bekasi Cikarang Eka Supria Atmaja 1.224,88 2.554.376 23 7/180  
4 Kabupaten Bogor Cibinong Ade Munawaroh Yasin 2.710,62 4.246.307 40 19/416  
5 Kabupaten Ciamis Ciamis Herdiat Sunarya 1.414,71 1.228.294 27 7/258  
6 Kabupaten Cianjur Cianjur Herman Suherman (Plt.) 3.840,16 2.246.663 32 6/354  
7 Kabupaten Cirebon Sumber Imron Rosyadi 984,52 2.099.089 40 12/412  
8 Kabupaten Garut Tarogong Kidul Rudi Gunawan 3.074,07 2.210.017 42 21/421  
9 Kabupaten Indramayu Indramayu Taufik Hidayat (Plt.) 2.040,11 1.845.205 31 8/309  
10 Kabupaten Karawang Karawang Barat Cellica Nurrachadiana 1.652,20 2.110.476 30 12/297  
11 Kabupaten Kuningan Kuningan Acep Purnama 1.110,56 1.132.610 32 15/361  
12 Kabupaten Majalengka Majalengka Karna Sobahi 1.204,24 1.266.981 26 13/330  
13 Kabupaten Pangandaran Parigi Jeje Wiradinata 1.010,00 406.898 10 -/93  
14 Kabupaten Purwakarta Purwakarta Anne Ratna Mustika 825,74 912.708 17 9/183  
15 Kabupaten Subang Subang Ruhimat 1.893,95 1.552.925 30 8/245  
16 Kabupaten Sukabumi Palabuhanratu Marwan Hamami 4.145,70 2.523.992 47 5/381  
17 Kabupaten Sumedang Sumedang Utara Dony Ahmad Munir 1.518,33 1.135.818 26 7/270  
18 Kabupaten Tasikmalaya Singaparna Ade Sugianto 2.551,19 1.713.677 39 -/351  
19 Kota Bandung - Oded Muhammad Danial 167,67 2.404.589 30 151/-  
20 Kota Banjar - Ade Uu Sukaesih 113,49 201.191 4 9/16  
21 Kota Bekasi - Rahmat Effendi 206,61 2.409.083 12 56/-  
22 Kota Bogor - Bima Arya Sugiarto 118,50 1.005.012 6 68/-  
23 Kota Cimahi - Ngatiyana (Plt.) 39,27 532.988 3 15/-  
24 Kota Cirebon - Nasrudin Azis 37,36 325.767 5 22/-  
25 Kota Depok - Idris Abdul Shomad 200,29 1.809.120 11 63/-  
26 Kota Sukabumi - Achmad Fahmi 48,25 334.033 7 33/-  
27 Kota Tasikmalaya - M Yusuf (Plt.) 171,61 692.567 10 69/-  
Kabupaten dan Kota Jawa Barat
     

      Jawa Barat terdiri atas 18 kabupaten dan 9 kota. Kota-kota hasil pemekaran sejak tahun 1996 adalah:

      Kecamatan, Desa dan KelurahanSunting

       
      Peta Administratif Provinsi Jawa Barat yang Menunjukkan Batas-Batas Kabupaten/Kota, Kecamatan dan Desa/Kelurahan

      Provinsi Jawa Barat terdiri dari 18 kabupaten, 9 kotamadya, 627 kecamatan, 645 kelurahan dan 5.312 desa. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya diperkirakan mencapai 44.039.313 jiwa dengan total luas wilayah 35.377,76 km².[25][26]

      Kecamatan dan Desa/Kelurahan menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat Tahun 2017
      No. Kode
      Kemendagri
      Kabupaten/
      Kota
      Luas Wilayah
      (km²)
      Penduduk
      (2017)
      2017
      Kecamatan Kelurahan Desa
      1 32.04 Kab. Bandung 1.767,96 3.522.724 31 10 270
      2 32.17 Kab. Bandung Barat 1.305,77 1.616.203 16 - 165
      3 32.16 Kab. Bekasi 1.224,88 2.554.376 23 7 180
      4 32.01 Kab. Bogor 2.710,62 4.246.307 40 19 416
      5 32.07 Kab. Ciamis 1.414,71 1.228.294 27 7 258
      6 32.03 Kab. Cianjur 3.840,16 2.246.663 32 6 354
      7 32.09 Kab. Cirebon 984,52 2.099.089 40 12 412
      8 32.05 Kab. Garut 3.074,07 2.210.017 42 21 421
      9 32.12 Kab. Indramayu 2.040,11 1.845.205 31 8 309
      10 32.15 Kab. Karawang 1.652,20 2.110.476 30 12 297
      11 32.08 Kab. Kuningan 1.110,56 1.132.610 32 15 361
      12 32.10 Kab. Majalengka 1.204,24 1.266.981 26 13 330
      13 32.18 Kab. Pangandaran 1.010,00 406.898 10 - 93
      14 32.14 Kab. Purwakarta 825,74 912.708 17 9 183
      15 32.13 Kab. Subang 1.893,95 1.552.925 30 8 245
      16 32.02 Kab. Sukabumi 4.145,70 2.523.992 47 5 381
      17 32.11 Kab. Sumedang 1.518,33 1.135.818 26 7 270
      18 32.06 Kab. Tasikmalaya 2.551,19 1.713.677 39 - 351
      19 32.73 Kota Bandung 167,67 2.404.589 30 151 -
      20 32.79 Kota Banjar 113,49 201.191 4 9 16
      21 32.75 Kota Bekasi 206,61 2.409.083 12 56 -
      22 32.71 Kota Bogor 118,50 1.005.012 6 68 -
      23 32.77 Kota Cimahi 39,27 532.988 3 15 -
      24 32.74 Kota Cirebon 37,36 325.767 5 22 -
      25 32.76 Kota Depok 200,29 1.809.120 11 63 -
      26 32.72 Kota Sukabumi 48,25 334.033 7 33 -
      27 32.78 Kota Tasikmalaya 171,61 692.567 10 69 -
      Total Jawa Barat 35.377,76 44.039.313 627 645 5.312

      Daftar GubernurSunting

      Gubernur Masa Jabatan Partai politik Wakil Gubernur Periode Keterangan
      No. Potret resmi Nama Mulai Jabatan Akhir Jabatan
        Gubernur Jawa Barat  
      1   Mas Sutardjo Kertohadikusumo 19 Agustus 1945 Desember 1945 Partai Indonesia Raya Jusuf Adiwinata
      (1945–1949)
      01 [27][28]
      2   Mohammad Djamin Desember 1945 Juni 1946 Nonpartisan 02
      3   Murdjani Juni 1946 1 April 1947 Partai Indonesia Raya 03
      4   Raden Mas Sewaka 1 April 1947 25 April 1951 Partai Indonesia Raya 04 [29][30][31][ket. 1]
      Ipik Gandamana
      (1949–1952)
      25 April 1951 10 September 1951[a] 05 [32][33]
      5   Sanusi Hardjadinata 1 Juli 1951 9 April 1957 Partai Nasional Indonesia 06 [ket. 2][ket. 3][34]
      Lowong[b] 9 April 1957 1 Juli 1957 Lowong
      6   Ipik Gandamana 1 Juli 1957 6 Februari 1960[c] Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia 07
        Oja Somantri Januari 1958 6 Februari 1960 Majelis Syuro Muslimin Indonesia [ket. 4][35]
      7   Mashudi 6 Februari 1960 1965 Militer Astrawinata
      (1960–1963)
      08 [ket. 5][ket. 6]
      E. Dachjar Sudiwijaya (1963–1967)
      1965 25 April 1967 09 [36]
      25 April 1967 14 Februari 1970 Raden Sabri Gandanegara
      (1966–1974)
      10
      Raden Ahmad Nashuhi
      (1967–1973)
      8   Solihin Gautama Purwanegara 14 Februari 1970 14 Februari 1975 Militer 11 [ket. 7][37][38]
      9   Aang Kunaefi Kartawiria 14 Februari 1975 19 Mei 1980 Militer Soehoed Warnaen
      (1978–1980)
      12
      19 Mei 1980 22 Mei 1985 Aboeng Koesman
      (1981–1987)
      Soehoed Warnaen
      (1981–1987)
      13 [ket. 8][39]
      10   Yogie Suardi Memet 22 Mei 1985 19 Mei 1990 Militer 14
      (1985)
      [40]
      • Karna Suwanda (–1994)
      • Suryatna Subrata
      (–1992)
      • Mas Achmad Sampurna
      (1992–1999)
      19 Mei 1990 29 Mei 1993[d] 15
      (1990)
      [41][42]
      11   Raden Nana Nuriana 29 Mei 1993 13 Juni 1998 Militer Ukman Sutaryan
      (1994–1999)
      • Mas Achmad Sampurna
      (1992–1999)
      16
      (1993)
      [43]
      13 Juni 1998 13 Juni 2003 Partai Golongan Karya 17
      (1998)
      [ket. 9]
      Dedem Ruchlia
      (1999–2003)
      Husein Jachjasaputra
      (1999–2003)
      • Soedarna T. M.
      (1999–2003)
      12   Danny Setiawan 13 Juni 2003 13 Juni 2008 Partai Golongan Karya Nu'man Abdul Hakim 18
      (2003)
      [44][45][46]
      13   Ahmad Heryawan 13 Juni 2008 13 Juni 2013 Partai Keadilan Sejahtera Dede Yusuf 19
      (2008)
      [47][48][49]
      13 Juni 2013 13 Juni 2018 Deddy Mizwar 20
      (2013)
      [50][51][52]
      14   Ridwan Kamil
       
      5 September 2018 Petahana
      (2023)
      Nonpartisan Uu Ruzhanul Ulum 21
      (2018)
      [53]
      Legenda

      Perwakilan DaerahSunting

      DPRD Jawa Barat beranggotakan 120 orang yang dipilih melalui pemilihan umum setiap lima tahun sekali. Pimpinan DPRD Jawa Barat terdiri dari 1 Ketua dan 5 Wakil Ketua yang berasal dari partai politik pemilik jumlah kursi dan suara terbanyak. Anggota DPRD Jawa Barat yang sedang menjabat saat ini adalah hasil Pemilu 2019 yang dilantik pada 2 September 2019 oleh Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Bandung, Arif Supratman, di Gedung Merdeka. Komposisi anggota DPRD Jawa Barat periode 2019-2024 terdiri dari 10 partai politik dimana Partai Gerindra adalah partai politik pemilik kursi terbanyak yaitu masing-masing 25 kursi.[54][55][56] Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Jawa Barat dalam tiga periode terakhir.[57][58][59][60]

      Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
      2009-2014 2014-2019 2019-2024
        PKB 2 7 12
        Gerindra 8 11 25
        PDI Perjuangan 17 20   20
        Golkar 16 17 16
        PKS 13 12 21
        PPP 8 9 3
        PAN 5 4 7
        Hanura 3   3 0
        Demokrat 28 12 11
        NasDem (baru) 5 4
        Perindo (baru) 1
      Jumlah Anggota 100   100 120
      Jumlah Partai 9 10   10

      Jawa Barat memiliki 91 wakil di DPR RI dari 11 daerah pemilihan dan empat wakil di DPD.

      Pariwisata, Seni, dan BudayaSunting

      PariwisataSunting

      Objek-objek wisata yang menarik dan banyak dikunjungi di daerah Jawa Barat:

      1. Kawah Putih, Ciwidey, Kabupaten Bandung

      2. Taman Wiladatika, Cimanggis, Kota Depok

      3. Saung Talaga, Pancoran Mas, Kota Depok

      4. Situ Cikabuyutan, Cilebak, Kabupaten Kuningan

      5. Situ Patenggang, Rancabali, Kabupaten Bandung

      6. Observatorium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung Barat

      7. Taman Hutan Raya, Lembang, Kabupaten Bandung Barat

      8. Situ Buleud, Kabupaten Purwakarta

      9. Kebun Raya Bogor, Kota Bogor

      10. Talaga Warna, Puncak, Kabupaten Bogor

      11. Taman Safari Indonesia, Cisarua, Kabupaten Bogor

      12. Taman Wisata Mekarsari, Cileungsi, Kabupaten Bogor

      13. Pantai Pangandaran, Kabupaten Pangandaran

      14. Curug Cibeureum, Cipanas, Kabupaten Cianjur

      15. Puncak, Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur

      16. Kebun Raya Cibodas, Kabupaten Cianjur

      17. Taman Bunga Nusantara, Kabupaten Cianjur

      18. Taman Wisata Gunung Gede Pangrango, Cipanas, Kabupaten Cianjur

      19. Waduk Cirata, Kabupaten Cianjur

      20. Keraton Kasepuhan, Kota Cirebon

      21. Keraton Kanoman, Kota Cirebon

      22. Keraton Kacirebonan, Kota Cirebon

      23. Keraton Kaprabonan, Kota Cirebon

      24. Taman Air Sunyaragi, Kota Cirebon

      25. Plangon, Kabupaten Cirebon

      26. Belawa, Kabupaten Cirebon

      27. Trusmi, Kabupaten Cirebon

      28. Wanawisata Ciwaringin, Kabupaten Cirebon

      29. Cikalahang, Kabupaten Cirebon

      30. Cipanas, Kabupaten Garut

      31. Bendungan Walahar, Klari, Kabupaten Karawang

      32. Curug Bandung, Tegalwaru, Kabupaten Karawang

      33. Curug Cigeuntis, Tegalwaru, Kabupaten Karawang

      34. Curug Cipanundaan, Tegalwaru, Kabupaten Karawang

      35. Pantai Muara Baru, Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang

      36. Pantai Pakis Jaya, Pakis Jaya, Kabupaten Karawang

      37. Pantai Samudera Baru, Pedes, Kabupaten Karawang

      38. Pantai Tanjung Baru, Tempuran, Kabupaten Karawang

      39. Pantai Tirtamaya, Juntinyuat, Kabupaten Indramayu

      40. Linggarjati, Kabupaten Kuningan

      41. Candi Jiwa, Batujaya, Kabupaten Karawang

      42. Candi Blandongan, Batujaya, Kabupaten Karawang

      43. Waduk Darma, Kabupaten Kuningan

      44. Curug Putri, Kabupaten Kuningan

      45. Lembah Cilengkrang, Kabupaten Kuningan

      46. Liang Panas, Kabupaten Kuningan

      47. Air Terjun Sidomba, Kabupaten Kuningan

      48. Curug Landung, Kabupaten Kuningan

      49. Situ Cicerem, Kabupaten Kuningan

      50. Paseban, Kabupaten Kuningan

      51. Cigugur, Kabupaten Kuningan

      52. Hutan Kota, Kabupaten Kuningan

      53. Kebun Raya Kuningan, Kabupaten Kuningan

      54. Palutungan, Kabupaten Kuningan

      55. Curug Muara Jaya, Kabupaten Majalengka

      56. Situ Sangiang, Kabupaten Majalengka

      57. Taman Buana Marga, Kabupaten Majalengka

      58. Tirta Indah, Kabupaten Majalengka

      59. Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta

      60. Ciater, Kabupaten Subang

      61. Gunung Tangkuban Perahu, Kabupaten Subang

      62. Pantai Blanakan, Blanakan, Kabupaten Subang

      63. Pantai Pondok Bali, Legon Kulon, Kabupaten Subang

      64. Penangkaran Buaya, Blanakan, Kabupaten Subang

      65. Pantai Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi

      66. Pantai Ujung Genteng, Ciracap, Kabupaten Sukabumi

      67. Kampung Toga, Kabupaten Sumedang

      68. Museum Prabu Geusan Ulun, Kabupaten Sumedang

      69. Situ Gede, Kota Tasikmalaya

      70. Gunung Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya

      71. Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya

      72. Godong Ijo, Bojongsari, Kota Depok

      73. Situ Bagendit, Kabupaten Garut

      74. Pantai Santolo, Kabupaten Garut

      75. Situ Cilodong, Cilodong, Kota Depok

      76. Pantai Rancabuaya, Kabupaten Garut

      77. Kampung 99 Pepohonan, Limo, Kota Depok

      78. Curug Cimahi, Kabupaten Bandung Barat

      79. D’Kandang Amazing Farm, Sawangan, Kota Depok

      80. Situ Ciburuy, Kabupaten Bandung Barat

      81. Masjid Dian Al-Mahri, Limo, Kota Depok

      82. Situ Pengasinan, Sawangan, Kota Depok

      83. Situ Lengkong, Panjalu, Kabupaten Ciamis.

      84. Museum Sejarah Nabi Muhammad, Sukmajaya, Kota Depok

      85. Alun-Alun Kota Depok, Cilodong, Kota Depok

      86. Rumah Keramik F Widayanto, Beji, Kota Depok

      87. Studio Alam TVRI, Sukmajaya, Kota Depok

      88. Air Terjun Curug Nangka Indah, Tamansari, Kabupaten Bogor

      89. Taman Hutan Raya Pancoran Mas, Pancoran Mas, Kota Depok

      90. TWM Park, Cisarua, Kabupaten Bogor

      91. Hutan Kota Universitas Indonesia (UI), Beji, Kota Depok

      92. Devoyage Bogor, Bogor Selatan, Kota Bogor

      93. Museum Zoologi Bogor, Bogor Tengah, Kota Bogor

      94. Curug Cisurian, Jalaksana, Kabupaten Kuningan

      KesenianSunting

       
      Bangunan Mande Karesmen pada kompleks keraton Kasepuhan terlihat para Wiyaga (penabuh gamelan) sedang berdiskusi disela-sela prosesi penabuhan gong Sekati pada Idul Fitri 2014, dari jajaran Wiyaga terlihat Ki Waryo (anak dari Ki Empek) duduk paling kanan, Ki Adnani dan kemudian Ki Encu

      MakananSunting

      Indeks Pembangunan ManusiaSunting

      Jawa Barat merupakan salah satu provinsi termaju di Indonesia. Jika dilihat dari Indeks Pembangunan Manusianya (IPM), Jawa Barat merupakan provinsi paling maju ke-10 di Nusantara.[61] Kini IPM Jawa Barat adalah 70,05 (0,700) dan menempati status tinggi.[62] Daerah subprovinsi termaju ialah Kota Bandung dengan IPM sebesar 80,13 (0,801) yang berstatus sangat tinggi, sedangkan yang paling tertinggal ialah Kabupaten Cianjur dengan IPM sebesar 62,92 (0,629) yang berstatus sedang.[63]

      Artikel yang berkaitan dengan Indeks Pembangunan Manusia kota dan kabupaten di Jawa Barat:

      ReferensiSunting

      1. ^ Sigar, Edi (1996). Buku Pintar Indonesia. Jakarta: Pustaka Delaprasta. 
      2. ^ Tempo.com: Hari Jadi Jawa Barat Ditetapkan Tanggal 19 Agustus 1945
      3. ^ "Provinsi Jawa Barat Dalam Angka 2019". www.jabarprov.go.id. Diakses tanggal 4 Februari 2020. 
      4. ^ "Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama Kepercayaan dan Jenis Kelamin di Provinsi Jawa Barat". www.data.jabarprov.go.id. Diakses tanggal 4 Februari 2020. 
      5. ^ a b Staf Badan Pusat Statistik. 2011. Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia. Jakarta : Badan Pusat Statistik
      6. ^ Aris. Ananta,; Sairi., Hasbullah, M.; Budi., Handayani, Nur; Agus., Pramono, (2015). Demography of Indonesia's Ethnicity. SG: Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 9789814519885. OCLC 1011165696.
      7. ^ Indonesia's Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape. Institute of Southeast Asian Studies. 2003. 
      8. ^ https://ipm.bps.go.id/data/nasional/metode/baru
      9. ^ APBD Perubahan Jawa Barat 2015
      10. ^ PAD Jawa Barat 2014
      11. ^ "Perpres No. 6 Tahun 2011". 2011-02-17. Diakses tanggal 2011-05-23. 
      12. ^ Pemerintah Kabupaten Subang - Kawah Tangkuban Parahu
      13. ^ Sensus Penduduk 2010 - Provinsi Jawa Barat. Badan Pusat Statistik Indonesia. Diakses 30 Juli 2013
      14. ^ Pergub 69 Tahun 2013
      15. ^ Kamus Utama, Kamus Bahasa Sunda Terlengkap - Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
      16. ^ Unpad dan Yayasan Kebudayaan Rancage Luncurkan Kamus Utama Basa Sunda - Universitas Padjadjaran
      17. ^ Kamus Tebal Bahasa Sunda Dikenalkan di Eropa | nusa | tempo.co
      18. ^ Staf Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Barat. 2011. Penduduk. Bandung : Pemerintah Provinsi Jawa Barat
      19. ^ Suganda. Her. 2008. Propinsi Cirebon. Bandung: Tribun Jabar
      20. ^ Rosidi, Ajip. 2010. "Bahasa Cirebon dan Bahasa Indramayu".
      21. ^ Rajagaluh - Jawa Tengah di Kabupaten Majalengka
      22. ^ Menimbang-nimbang Bahasa Cirebon(Edisi Tahun 2009)
      23. ^ https://nusaputra.ac.id/ diakses 14 November
      24. ^ a b "Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan (Permendagri No.137-2017) - Kementerian Dalam Negeri - Republik Indonesia". www.kemendagri.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-07-10. 
      25. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019. 
      26. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020. 
      27. ^ Gubernur pertama Jabar, orang Jawa Tulen kantor di Jakarta Merdeka.com (24/2/2013). Diakses tanggal 6 Juni 2020
      28. ^ Gubernur Jawa Barat Menolak Beras Belanda Historia.id (2019). Diakses tanggal 9 Juni 2020
      29. ^ "Keputusan Presiden No. 60 Tahun 1951 tentang Pengangkatan Saudara Sewaka sebagai Gubernur Kepala Daerah Propinsi Otonom Jawa Barat" (PDF). Sekretariat Kabinet RI. 25 April 1951. Diakses tanggal 18 November 2019. 
      30. ^ Raden Mas Sewaka: Gubernur Jawa Barat Masa Kritis Koransulindo.com (5/6/2018). Diakses tanggal 9 Juni 2020
      31. ^ Kronik Revolusi Indonesia Jilid V Books.google.co.id. Diakses tanggal 19 Juni 2020
      32. ^ Arsip Keputusan Presiden dpr.go.id. Diakses tanggal 9 Juni 2020
      33. ^ "Keppres No. 177 tahun 1951 tentang Perberhentian Kepala Daerah Jawa Barat" (PDF). Sistem Informasi Perundangan-undangan Sekretariat Kabinet RI. Sekretariat Kabinet RI. 10 September 1951. Diakses tanggal 12 Mei 2018. 
      34. ^ Kiprah Gubernur Jawa Barat Sanusi Hardjadinata dan Pangdam Siliwangi Kolonel Kawilarang 1951-1953 : Suatu Catatan Awal Kompasiana.com (14/9/2012). Diakses tanggal 9 Juni 2020
      35. ^ Oya Somantri: Politisi Nasionalis-Religus di Jawa Barat 1950-an (Sebuah Catatan Awal) Kompasiana.com (13/10/2015). Diakses 1 Juni 2020
      36. ^ Malam Bencana 1965 Dalam Belitan Krisis Nasional Books.google.co.id
      37. ^ Riwajat hidup anggota-anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Books.google.co.id
      38. ^ Solihin GP, gubernur merakyat ajak Soeharto mandi di sungai Merdeka.com (24/2/2013). Diakses tanggal 6 Juni 2020
      39. ^ Mimbar Departemen Dalam Negeri Books.google.co.id
      40. ^ PRESIDEN KEPADA GUBERNUR JABAR : JANGAN SAMPAI TERGODA TAHTA, HARTA, WANITA Soeharto.co (22/5/1985). Diakses tanggal 28 Mei 2020
      41. ^ Pelantikan
      42. ^ Pelantikan Wakil Gubernur Tempo.co (07/11/1992)
      43. ^ Pelantikan Tempo.co (29/05/1993). Diakses tanggal 18 Juni 2020
      44. ^ ORS; Hidayat, Patria (22 Mei 2003). "Dani Setiawan-Nu`man Abdul, Gubernur dan Wagub Jabar". Liputan6.com. Diakses tanggal 13 Juni 2018. 
      45. ^ Ridho, Poernomo Gontha (25 September 2003). "Honda Resmikan Pabrik Transmisi Otomatis". Tempo.co. Diakses tanggal 13 Juni 2018. 
      46. ^ Ade Afriandi, Mochamad (4 September 2003). "Thesis UGM: Konformitas Kebijakan Pemerintah Kota Bandung Terhadap Karakteristik Sp Asial Pedagang Kaki Lima" (PDF). Universitas Gadjah Mada & Badan Pembangunan Nasional. Diakses tanggal 13 Juni 2018. 
      47. ^ Januar, TB Ardi (13 Juni 2008). "Inilah Janji Hade Saat Kampanye". Okezone.com. Diakses tanggal 13 Juni 2018. 
      48. ^ KPL; RIF, ed. (22 April 2008). "Hade Resmi Jadi Gubernur dan Wagub Jabar Terpilih". Merdeka.com. Diakses tanggal 3 Juni 2018. 
      49. ^ A15; MHF; BAY (23 April 2008). "Heryawan Terpilih sebagai Gubernur Jawa Barat". Kompas.com. Diakses tanggal 3 Juni 2018. 
      50. ^ Kuswandi, Rio (13 Juni 2013). "Heryawan Resmi Dilantik sebagai Gubernur Jabar". Kompas.com. Diakses tanggal 13 Juni 2018. 
      51. ^ Pemkot Depok (13 Juni 2013). "Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar Resmi Dilantik Sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat". Berita Depok, Pemerintah Kota Depok. Diakses tanggal 13 Juni 2018. 
      52. ^ TYA; AVI (13 Juni 2013). "Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar Resmi Jadi Gubernur dan Wagub Jabar". detikNews. Diakses tanggal 13 Juni 2018. 
      53. ^ Bebey, Aksara. "Ridwan Kamil jadi gubernur Jabar besok, Oded pimpin Kota Bandung | merdeka.com". merdeka.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-09-04. 
      54. ^ Dendi Ramdhani (02-09-2019). Khairina, ed. "120 Anggota DPRD Jabar Resmi Dilantik di Gedung Merdeka". kompas.com. Diakses tanggal 23-09-2019. 
      55. ^ Endah Asih Lestari (02-09-2019). "Sebanyak 120 Anggota DPRD Jabar Periode 2019-2024 Resmi Dilantik". PIKIRAN RAKYAT. Diakses tanggal 23-09-2019. 
      56. ^ Fabiola Febrinastri (02-09-2019). "120 Anggota DPRD Jabar 2019 - 2024 Resmi Dilantik". suara.com. Diakses tanggal 23-09-2019. 
      57. ^ (Indonesia) "Rapat Pleno KPU Tetapkan Gerindra Dapat Kursi Paling Banyak di DPRD Jabar". Kompas. 13 Aug 2019. Diakses tanggal 14 Aug 2019. 
      58. ^ (Indonesia) "Sejarah DPRD Jawa Barat". dprd jabar. 12 Feb 2014. Diakses tanggal 12 Feb 2015. 
      59. ^ "Ini Bakal Anggota DPRD Jabar Hasil Pemilu 2019". JUARA NEWS. 17-05-2019. Diakses tanggal 23-09-2019. 
      60. ^ Oris Riswan (01-09-2014). "Resmi Dilantik, 100 Anggota DPRD Jabar Siap Bekerja". okezone.com. okenews. Diakses tanggal 23-09-2019. 
      61. ^ "Daftar provinsi Indonesia menurut IPM tahun 2016". Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. 2017-06-01. 
      62. ^ https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/1211 Indeks Pembangunan Manusia menurut Provinsi, 2010-2016 (Metode Baru)
      63. ^ "Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat". jabar.bps.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-08-28. 

      CatatanSunting

      1. ^ a b Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 5 Tahun 2003, mengakui tiga penduduk asli Jawa Barat yaitu Sunda, Betawi dan Cirebon
      1. ^ Dibebaskan dari jabatannya pada tanggal 9 Mei 1951 karena telah diangkat menjadi Menteri Pertahanan Indonesia, sesuai dengan Keppres Nomor 102 tahun 1951. Pensiun dari jabatan Gubernur Jawa Barat pada 10 September 1951
      2. ^ Kepala Daerah Provinsi Jawa Barat lowong setelah Gubernur Sanusi Hardjadinata menjadi Menteri Dalam Negeri
      3. ^ Tanggal 10 Juli 1959 diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri Indonesia
      4. ^ Tanggal 27 Maret 1993 diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri Indonesia

      Lihat pulaSunting

      Pranala luarSunting

      Koordinat: 6°52′S 107°36′E / 6.867°S 107.600°E / -6.867; 107.600
      Kesalahan pengutipan: Ditemukan tag <ref> untuk kelompok bernama "ket.", tapi tidak ditemukan tag <references group="ket."/> yang berkaitan