Majalengka, Majalengka

kecamatan di kabupaten Majalengka

Majalengka adalah sebuah kecamatan dari 26 kecamatan[1] di Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat, Indonesia Majalengka juga sebagai ibu kota dari kabupaten Majalengka.

Majalengka
Kecamatan
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Barat
KabupatenMajalengka
Pemerintahan
 • Camat-
Luas57 sunting
Kepadatan- jiwa/km²
Desa/kelurahan-
"Gedung Jangkung" di Majalengka

Pembahasan Majalengka Kota sebagai Kecamatan, berbeda dengan Majalengka sebagai Kabupaten Majalengka di lingkup propinsi Jawa Barat.

Sejarah Kecamatan MajalengkaSunting

Nama kecamatan dan kelurahan yang ada di kabupaten majalengka berdasarkan peraturan daerah kabupaten majalengka nomor 10 tahun 2009 tentang organisasi perangkat daerah kabupaten majalengka. Kecamatan Majalengka terdiri atas:[2]

  1. Desa Cibodas (Kodepos: 45411)
  2. Desa Kawunggirang (Kodepos: 45411)
  3. Kelurahan Kulur (Kodepos: 45411)
  4. Kelurahan Majalengka Wetan (Kodepos: 45411)
  5. Desa Sidamukti (Kodepos: 45411)
  6. Kelurahan Sindangkasih (Kodepos: 45411)
  7. Kelurahan Cicurug (Kodepos: 45412)
  8. Kelurahan Tonjong (Kodepos: 45414)
  9. Kelurahan Cikasarung (Kodepos: 45415)
  10. Kelurahan Tarikolot (Kodepos: 45416)
  11. Kelurahan Cijati (Kodepos: 45417)
  12. Kelurahan Munjul (Kodepos: 45417)
  13. Kelurahan Majalengka Kulon (Kodepos: 45418)
  14. Kelurahan Babakan Jawa (Kodepos: 45419)

Karena Majalengka ini juga sebagai ibu kota Kabupaten Majalengka, kesejarahannya sebagai kabupaten sering tumpang tindih dengan kesejarahan kota kecamatan. Setiap kecamatan memiliki kesejarahannya sendiri-sendiri yang biasa dikenal sebagai asal-usul atau sasakala.[3]

Sejarah Kabupaten Majalengka pernah diteliti dan direkonstruksi. Penelitian paling mutakhir dilakukan oleh N. Kartika yang meneliti sejarah Kabupaten Majalengka dalam bukunya "Sejarah Majalengka; Sindangkasih – Maja – Majalengka."[4]

Untuk melengkapi sejarah Kabupaten Majalengka pada masa Pemerintahan Hindia Belanda. Secara ringkas, melalui data sejarah sebagai rekaman dan peninggalan agar peristiwa masa lampau dapat direkonstruksi secara imajinatif (Gottschalk, 1985: 32).[5]

Legenda MasyarakatSunting

Masyarakat Kabupaten Majalengka ternyata memiliki banyak mitos sebagai upaya memperkaya khasanah kebudayaan suatu masyarakat dan tingkat perkembangan pola pemikiran atau mentalitas masyarakat pada suatu periode. Mitos-mitos itu antara lain terkait pada asal-usul nama tempat atau daerah, benda dan budaya. Mitos yang menceritakan tentang asal usul nama Majalengka. Cerita asal-usul nama Majalengka berkaitan dengan Wawacan Sejarah Karatuan Sindangkasih antara lain menceriterakan bahwa pada akhir abad ke-15 daerah Sindangkasih diperintah oleh seorang ratu yang bernama Nyi Rambutkasih.

Dalam penelitiannya Nina Lubis (2012) menceritakan berdasarkan cerita rakyat menerangkan bahwa Sang Ratu Rambut Kasih merupakan keturunan Prabu Siliwangi sehingga masih bersaudara dengan Nyi Rarasantang, Prabu Kiansantang, dan Prabu Walangsungsang. Dari keempat orang itu hanya Nyi Rambutkasih yang masih memegang teguh agama Hindu, sedangkan ketiga saudaranya itu telah memeluk agama Islam.[6]

Lebih jauh dikatakan Nina Lubis bahwa kekuasaan Nyi Rambutkasih di Sindangkasih bermula dari keinginannya untuk menemui saudaranya yang bernama Raden Munding Sariageng yang pada waktu berkuasa di Talaga. Akan tetapi, sesampainya di perbatasan Majalengka dan Talaga, Nyi Rambutkasih mengurungkan keinginannya itu karena mendengar daerah Talaga telah diislamkan. Sang Ratu kemudian memutuskan untuk menetap di Sindangkasih dengan wilayah kekuasaanya meliputi Sindangkasih, Kulur, Kawunghilir, Cieurih, Cicenang, Cigasong, Babakan Jawa, Munjul, dan Cijati.

Nyi Rambutkasih berhasil membawa Kerajaan Sindangkasih menjadi kerajaan yang makmur karena rakyat hidup aman dan sentosa. Kehidupan ekonominya berasal dari pertanian dan sebagian wilayahnya ditumbuhi oleh pohon maja yang berkhasiat untuk mengobati penyakit demam. Selain itu, Kerajaan Sindangkasih pun telah berhasil membuat pakaian untuk kebutuhan sehari-harinya karena di kerajaan ini dikembangkan pohon kapas. Demikian juga dengan keperluan gula, sudah bisa dipenuhi sendiri karena Nyi Rambutkasih berhasil mengmbangkan pohon aren.[7]

Namun demikian, eksistensi Kerajaan Sindangkasih tidak berlangsung lama karena ketidakmampuan Nyi Rambutkasih membendung pengaruh Islam. Atas perintah Sunan Gunung Jati, Pangeran Muhammad beserta istrinya yang bernama Nyi Siti Armilah berangkat ke Kerajaan Sindangkasih. Mereka berdua diberi tugas untuk mencari pohon maja karena pada waktu itu banyak penduduk Cirebon yang sakit demam. Selain itu, kedua utusan Sunan Gunung Jati tersebut diperintahkan juga untuk mengislamkan Kerajaan Sindangkasih. Tujuan pertama dari kedua utusan tersebut tidak dapat dilaksanakan karena pohon maja yang banyak tumbuh di Kerajaan Sindangkasih telah “disembunyikan” oleh Nyi Rambutkasih.[8]

Pangeran Muhammad terus mencari pohon maja dan menyuruh Nyi Siti Armilah untuk mencari Nyi Rambutkasih dengan maksud mengislamkan dirinya. Pada akhirnya, Nyi Siti Armilah berhasil bertemu dengan Nyi Rambutkasih sehingga terjadi perdebatan di antara keduanya. Ketika Nyi Siti Armilah mengingatkan Nyi Rambutkasih tentang kematian, Nyi Rambutkasih berkata bahwa dirinya tidak akan pernah mati. Bersamaan dengan itu, ngahiang-lah Ratu Sindangkasih itu di Cilutung. Nyi Siti Armila kemudian menetap di Sindangkasih dan berhasil mengislamkan daerah tersebut. Seiring dengan ngahiang-nya Nyi Rambutkasih, berakhirlah eksistensi Kerajaan Sindangkasih, sebuah kerajaan yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Majalengka. Sampai saat ini, beberapa patilasan Nyi Rambutkasih antara lain Sumur Sindangkasih, Sumur Sundajaya, Sumur Ciasih, dan batu-batu bekas bertapa yang ada di Majalengka masih dianggap sebagai tempat yang angker.

Keadaan alam Kota MajalengkaSunting

GeologiSunting

Menurut keadaan geologi yang meliputi sebaran dan struktur batuan, terdapat beberapa batuan dan formasi batuan yaitu Aluvium seluas 17.162 Ha (14,25%), Pleistocene Sedimentary Facies seluas 13.716 Ha (13,39%), Miocene Sedimentary Facies seluas 23,48 Ha (19,50%), Undiferentionet Vulcanic Product seluas 51.650 Ha (42,89%), Pliocene Sedimentary Facies, seluas 3.870 Ha (3,22%), Liparite Dacite seluas 179 Ha (0,15%), Eosene seluas 78 Ha (0,006%), Old Quartenary Volkanik Product seluas 10.283 Ha (8,54%). Jenis-jenis tanah di Kabupaten Majalengka ada beberapa macam, secara umum jenis tanah terdiri atas Latosol, Podsolik, Grumosol, Aluvial, Regosol, Mediteran, dan asosianya. Jenis-jenis tanah tersebut memegang peranan penting dalam menentukan tingkat kesuburan tanah dalam menunjang keberhasilan sektor pertanian.

MorfologiSunting

Keadaan morfologi dan fisiografi wilayah Kabupaten Majalengka sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh perbedaan ketinggian suatu daerah dengan daerah lainnya, dengan distribusi sebagai berikut:

  • Morfologi dataran rendah yang meliputi Kecamatan Kadipaten, Panyingkiran, Dawuan, Jatiwangi, Sumberjaya, Ligung, Jatitujuh, Kertajati, Cigasong, Majalengka, Leuwimunding dan Palasah. Kemiringan tanah di daerah ini antara 5%-8% dengan ketinggian antara 20–100 m di atas permukaan laut (dpl), kecuali di Kecamatan Majalengka tersebar beberapa perbukitan rendah dengan kemiringan antara 15%-25%.
  • Morfologi berbukit dan bergelombang meliputi Kecamatan Rajagaluh dan Sukahaji sebelah Selatan, Kecamatan Maja, sebagian Kecamatan Majalengka. Kemiringan tanah di daerah ini berkisar antara 15-40%, dengan ketinggian 300–700 m dpl.
  • Morfologi perbukitan terjal meliputi daerah sekitar Gunung Ciremai, sebagian kecil Kecamatan Rajagaluh, Argapura, Talaga, sebagian Kecamatan Sindangwangi, Cingambul, Banjaran, Bantarujeg dan Lemahsugih dan Kecamatan Cikijing bagian Utara. Kemiringan di daerah ini berkisar 25%-40% dengan ketinggian antara 400–2000 m di atas permukaan laut.

Cuaca dan iklimSunting

Curah hujan tahunan rata-rata di Kabupaten Majalengka berkisar antara 2.400 mm-3.800 mm/tahun dengan rata-rata hari hujan sebanyak 11 hari/bulan. Angin pada umumnya bertiup dari arah Selatan dan tenggara, kecuali pada bulan April sampai dengan Juli bertiup dari arah Barat Laut dengan kecepatan antara 3-6 knot (1 knot =1.285 m/jam).

HidrologisSunting

Dari aspek hidrologis di Kabupaten Majalengka mempunyai beberapa jenis potensi sumber daya air yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Potensi sumber daya air tersebut meliputi:

  1. Air permukaan, seperti mata air, sungai, danau, waduk lapangan atau rawa,
  2. Air tanah, seperti sumur bor dan pompa pantek dan air hujan. Sungai yang besar di antaranya adalah Cilutung, Cideres, Cikeruh, Ciherang, Cikadondong, Ciwaringin, Cilongkrang, Ciawi dan Cimanuk.

Minyak dan gas bumiSunting

Berdasarkan data dari Pertamina Eksplorasi dan Produksi Karang Ampel, bahwa potensi bahan minyak dan gas bumi di Kabupaten Majalengka meliputi 14 buah sumur minyak. Sisa cadangan total pasti minyak bumi mencapai 73.46.168 MSTB, sedangkan sisa cadangan total pasti gas alam mencapai 81.088,10 MMSCF.

Kelurahan/desaSunting

Universitas yang ada di kota Majalengka:

Universitas Negri:

Kelurahan/desaSunting

RujukanSunting

  1. ^ "Daftar Kecamatan/Distrik di Kabupaten Majalengka + Kode POS, hal 1". www.nomor.net (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-03-20. 
  2. ^ "Daftar Desa/Kelurahan di Kecamatan Majalengka Kab. Majalengka + Kode POS, hal 1". www.nomor.net (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-03-20. 
  3. ^ Setiawan, Ebta. "Arti kata sasakala - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online". kbbi.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 2018-03-20. 
  4. ^ N. Kartika, Sejarah Majalengka; Sindangkasih – Maja – Majalengka. UvulaPress, 2008
  5. ^ Gottschalk, Louis. Louis Gottschalk. "Mengerti sejarah". 1985. Jakarta: UI Press
  6. ^ "2. Nyi Putri Buniwangi/ Nyi Rambut Kasih b. 1552? - Rodovid ID". id.rodovid.org. Diakses tanggal 2018-03-19. 
  7. ^ "Menguak Misteri Patilasan Nyi Rambut Kasih | SindangKasih News". www.sindangkasihnews.com. Diakses tanggal 2018-03-19. 
  8. ^ "Nyai Rambut Kasih, Ratu Majalengka nan Sakti dan Cantik". SINDOnews.com. Diakses tanggal 2018-03-19.