Suku Jawa

Suku bangsa di Indonesia

Suku Jawa (Bahasa Jawa: Ngoko: ꦮꦺꦴꦁꦗꦮ (Wong Jawa), Krama: ꦠꦶꦪꦁꦗꦮꦶ (Tiyang Jawi))[2] merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Indramayu (Jawa Barat), dan Kabupaten/Kota SerangCilegon (Banten). Pada tahun 2010, setidaknya 40,22% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa.[3] Selain itu, suku Jawa ada pula yang berada di negara Kaledonia Baru, Oseania dan Suriname, Amerika Selatan karena pada masa kolonial Belanda suku ini dibawa ke sana sebagai pekerja. Saat ini suku Jawa di Suriname menjadi salah satu suku terbesar di sana dan dikenal sebagai Jawa Suriname. Ada juga sejumlah besar suku Jawa di sebagian besar provinsi di Indonesia, Malaysia, Singapura, Arab Saudi, dan Belanda.

Suku Jawa
Wong Jawa
ꦮꦺꦴꦁꦗꦮ
Illustration of Raden Wijaya.jpg Illustration of Hayam Wuruk.jpg Illustration of Gajah Mada.jpg COLLECTIE TROPENMUSEUM Portret van Diponegoro TMnr 157432.jpg
Portret van de kunstschilder Raden Saleh.jpg Hasyim Asyari.jpg Ahmad Dahlan.jpg Portret van de Soesoehoenan van Soerakarta.jpg
COLLECTIE TROPENMUSEUM Portret van Raden Ajeng Kartini TMnr 10018776.jpg HOS Tjokroaminoto, 20 Mei Pelopor 17 Agustus, p43.jpg Ki Hajar Dewantara.jpg Presiden Sukarno.jpg
Sudirman.jpg Mgr. Albertus Soegijapranata.jpeg President Suharto, 1993.jpg Hamengkubawono IX Official Portrait.jpg
Soedirman Albertus S. Soeharto H.B. IX
Try Sutrisno Official Portrait.jpg President Abdurrahman Wahid - Indonesia.jpg President Megawati Sukarnoputri - Indonesia.jpg The Indonesian President Susilo Bambang Yudhoyono's State Visit To The UK 2012.jpg
Try Sutrisno Abdurrahman Wahid Megawati S. S.B. Yudhoyono
Boediono official portrait.jpeg Joko Widodo 2019 official portrait.jpg Serge Atlaoui - Anggun Paris 2015 a.jpg Dian Sastro headshot.jpg
Boediono Joko Widodo Anggun C. Sasmi Dian Sastro
Total populasi
± 100.000.000 (2010)[1]
Kawasan dengan populasi yang signifikan
Indonesia95.217.022
       Jawa Tengah31.560.859
       Jawa Timur30.019.156
       Jawa Barat5.710.652
       Lampung4.856.924
       Sumatra Utara4.319.719
       Jakarta3.453.453
       Yogyakarta3.331.355
       Sumatra Selatan2.037.715
       Banten1.657.470
       Riau1.608.268
       Kalimantan Timur1.069.826
       Jambi893.156
       Kalimantan Selatan524.357
       Kalimantan Tengah478.434
       Kalimantan Barat427.333
       Kepulauan Riau417.438
       Aceh400.023
       Bengkulu387.281
       Bali372.514
       Papua233.145
       Sulawesi Selatan229.074
       Sulawesi Tengah221.001
       Sumatra Barat217.096
       Sulawesi Tenggara159.170
       Papua Barat111.274
       Bangka Belitung101.655
       Maluku79.340
       Nusa Tenggara Barat78.916
       Sulawesi Utara70.934
       Sulawesi Barat56.960
       Nusa Tenggara Timur54.511
Bahasa
Jawa, Indonesia, Melayu (dituturkan oleh komunitas yang berdomisili di Malaysia dan Singapura), Belanda (hanya digunakan oleh yang tinggal di Belanda dan Suriname)
Agama
Mayoritas
Allah-green.svg Islam
Minoritas
Christian cross.svg Kristen (Protestan dan Katolik), Kejawen, Om.svg Hindu, Dharma Wheel.svg Buddha dan Khonghucu
Kelompok etnis terkait
Sunda, Madura, Osing, Samin, Tengger, Bali

Mayoritas orang Jawa adalah umat Islam, dengan beberapa minoritas yaitu Kristen, Kejawen, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. Meskipun demikian, peradaban orang Jawa telah dipengaruhi oleh lebih dari seribu tahun interaksi antara budaya Kejawen dan Hindu-Buddha, dan pengaruh ini masih terlihat dalam sejarah, budaya, tradisi, dan bentuk kesenian Jawa. Dengan populasi global yang cukup besar, suku Jawa ialah kelompok etnis terbesar keempat di antara umat Islam di seluruh dunia, setelah bangsa Arab,[4] suku Bengali,[5] dan suku Punjab.[6]

Sejarah

Seperti kebanyakan kelompok etnis Indonesia yang lain, termasuk masyarakat Sunda, masyarakat Jawa merupakan bangsa Austronesia yang leluhurnya diperkirakan berasal dari Taiwan dan bermigrasi melalui Filipina[7] untuk mencapai Pulau Jawa antara tahun 1500 SM hingga 1000 SM.[8] Namun, menurut studi genetik yang terbaru, masyarakat Jawa bersama dengan masyarakat Sunda dan Bali memiliki rasio penanda genetik yang hampir sama antara genetik bangsa Austronesia dan Austroasiatik.[9]

Kerajaan Jawa Kuno

 
Masyarakat Jawa mengadaptasi banyak aspek budaya India, seperti wiracarita Ramayana.

Pengaruh agama Hindu dan Buddha datang melalui kontak dagang di subbenua India.[10] Pedagang dan pengunjung—Hindu dan Buddha tiba pada abad ke-5. Agama Hindu, Buddha, dan agama masyarakat Jawa terpadu menjadi filsafat lokal yang unik.[7]

Tempat lahirnya budaya Jawa umumnya digambarkan berada di Dataran Kedu dan Kewu di lereng subur Gunung Merapi sebagai jantung Kerajaan Medang i Bhumi Mataram.[11] Wangsa Sanjaya dan Sailendra memiliki basis kekuatan mereka di sana.[12]:238–239

Pusat kebudayaan dan perpolitikan Jawa dipindahkan ke bagian timur pulau ketika Mpu Sindok (berkuasa tahun 929–947) memindahkan ibu kota kerajaan menuju timur ke lembah sungai Brantas pada abad ke-10. Pemindahan tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh letusan Gunung Merapi dan/atau invasi dari Sriwijaya.[12]:238–239

Penyebaran besar pengaruh Jawa terjadi di bawah Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari pada akhir abad ke-13. Raja ekspansionis ini meluncurkan beberapa ekspedisi besar ke Madura, Bali pada tahun 1284,[13] Kalimantan, dan ekspedisi yang paling penting ke Sumatra pada tahun 1275.[12] Seiring kekalahan Kerajaan Melayu, Kerajaan Singasari mengendalikan perdagangan di Selat Malaka.

Kekuasaan Singasari dihancurkan pada tahun 1292 oleh pemberontakan Kediri di bawah Jayakatwang dan membunuh Kertanegara. Namun, kekuasaan Jayakatwang sebagai raja Jawa segera berakhir ketika ia dikalahkan oleh menantu Kertanegara, Raden Wijaya dengan bantuan penyerbuan oleh pasukan Mongol pada bulan Maret 1293.

Raden Wijaya kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit di dekat delta sungai Brantas yang saat ini tempatnya ialah di Mojokerto, Jawa Timur. Kebijakan Kertanegara kemudian dilanjutkan oleh Majapahit di bawah Raja Hayam Wuruk dan Menteri Gajah Mada.[13]

Berbagai kerajaan di Jawa secara aktif terlibat dalam perdagangan rempah-rempah di rute laut Jalur Sutra. Meskipun bukan penghasil utama rempah-rempah, kerajaan-kerajaan ini mampu menimbun rempah-rempah dengan memperdagangkannya dengan beras, yang merupakan hasil utama Pulau Jawa.[14] Majapahit biasanya dianggap sebagai kerajaan yang terbesar di antara kerajaan-kerajaan ini. Majapahit memiliki kekuatan agraris dan maritim, menggabungkan penanaman padi basah dan perdagangan luar negeri.[15] Bekas ibu kotanya dapat ditemukan di Trowulan.

Kesultanan Jawa

 
Susuhunan Amangkurat II dari Mataram (kanan atas) menyaksikan Untung Surapati bertarung melawan Kapten François Tack dari Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). kr. tahun 1684.

Agama Islam memperoleh pijakannya di kota-kota pelabuhan di pesisir utara Jawa seperti Gresik, Ampel Denta (Surabaya), Tuban, Demak, dan Kudus. Penyebaran dan kegiatan dakwah Islam di kalangan masyarakat Jawa secara tradisional dikreditkan ke Wali Songo.[16]

Pulau Jawa mengalami perubahan besar seiring penyebaran Islam. Seiring terjadinya perselisihan terhadap proses pergantian kepemimpinan dan perang saudara, kekuasaan Majapahit runtuh. Setelah runtuhnya Majapahit, berbagai kerajaan dan negara vasal di bawahnya menjadi bebas.[17] Kesultanan Demak menjadi kekuatan terkuat yang baru, mempunyai keunggulan di antara negara kota di pesisir utara Jawa.[18] Selain dari kekuasaannya atas negara kota masyarakat Jawa, Kesultanan Demak juga menguasai pelabuhan Jambi dan Palembang di Sumatra bagian timur.[18] Demak memainkan peran besar dalam menentang kekuasaan kolonial yang baru datang, yaitu Portugis. Demak dua kali menyerang Portugis setelah pendudukan Portugis di Malaka. Demak juga menyerang pasukan sekutu Portugis dan Kerajaan Sunda, membantu pendirian Kesultanan Banten.

Demak digantikan oleh Kerajaan Pajang dan akhirnya Kesultanan Mataram. Pusat kekuasaannya dipindahkan dari pesisir Demak ke Pajang di Blora dan kemudian lebih jauh menuju pedalaman ke tanah Mataram di Kotagede, Yogyakarta. Kesultanan Mataram mencapai puncak kekuasaan dan pengaruhnya pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo antara tahun 1613 hingga 1645.

Masa kolonial di Jawa

 
Peringatan hari ulang tahun Pakubuwono X di Keraton Surakarta pada tahun 1932.

Pada tahun 1619, bangsa Belanda mendirikan kantor pusat perdagangannya di Batavia. Pulau Jawa perlahan jatuh ke tangan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang akhirnya juga akan mengendalikan sebagian besar Asia Tenggara Maritim. Intrik internal dan perang suksesi, serta campur tangan Belanda, menyebabkan Kesultanan Mataram pecah menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Perpecahan yang lebih lanjut di Tanah Jawa ditandai dengan pendirian Praja Mangkunegaran dan Pakualam. Meskipun kekuatan politik yang sebenarnya pada masa itu terletak pada kolonial Belanda, para raja Jawa di keratonnya masih memiliki pengaruh sebagai pusat kekuasaan yang dikehendakinya di Tanah Jawa, khususnya di sekitar dan di Surakarta serta Yogyakarta.

Pemerintahan Belanda terganggu sementara oleh pemerintahan Inggris pada awal abad ke-19. Meskipun sebentar, pemerintahan Inggris yang dipimpin oleh Stamford Raffles memberi pengaruh yang signifikan, termasuk penemuan kembali Borobudur. Konflik dengan pemerintahan asing seperti Perang Jawa antara tahun 1825 hingga 1830 di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro.

Seperti wilayah Hindia Belanda lainnya, Pulau Jawa direbut oleh Kekaisaran Jepang selama Perang Dunia II. Dengan kalahnya Jepang di Perang Dunia II, kemerdekaan diproklamasikan di Republik Indonesia yang baru.

Republik Indonesia

Ketika kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, para penguasa monarki Jawa yang terakhir, diwakili oleh Sri Sultan dari Kesultanan Yogyakarta, Sunan dari Kasunanan Surakarta, dan Pangeran Mangkunegara menyatakan bahwa mereka akan menjadi bagian dari Republik Indonesia.

Yogyakarta dan Pakualam kemudian bersatu untuk membentuk Daerah Istimewa Yogyakarta. Sri Sultan menjadi Gubernur Yogyakarta, dan Pangeran Pakualaman menjadi wakil gubernur; keduanya bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia. Surakarta kemudian digabungkan sebagai bagian dari Provinsi Jawa Tengah.

Budaya

 
Pertunjukan wayang kulit.

Budaya Jawa adalah budaya yang berasal dari Jawa dan dianut oleh masyarakat Jawa khususnya di Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur. Budaya Jawa mengutamakan keseimbangan, keselarasan, dan keserasian dalam kehidupan sehari-hari. Budaya Jawa menjunjung tinggi kesopanan dan kesederhanaan. Budaya Jawa selain terdapat di Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur terdapat juga di daerah perantauan orang Jawa yaitu di Jakarta, Sumatra, dan Suriname. Bahkan budaya Jawa termasuk salah satu budaya di Indonesia yang paling banyak diminati di luar negeri. Beberapa budaya Jawa yang diminati di luar negeri adalah wayang kulit, keris, batik, dan gamelan. Di Malaysia dan Filipina dikenal istilah keris karena pengaruh Majapahit.[19] LSM Kampung Halaman dari Yogyakarta yang menggunakan wayang remaja adalah LSM Asia pertama yang menerima penghargaan seni dari AS tahun 2011. Gamelan Jawa menjadi mata kuliah di Universitas Victoria Wellington, Selandia Baru.[20] Gamelan Jawa rutin digelar di AS-Eropa atas permintaan warga AS-Eropa. Sastra Jawa Negarakretagama menjadi satu-satunya karya sastra Indonesia yang diakui UNESCO sebagai Memori Dunia. Menurut Guru Besar Arkeologi Asia Tenggara, Universitas Nasional Singapura, John N. Miksic, jangkauan kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra dan Singapura bahkan Thailand yang dibuktikan dengan pengaruh kebudayaan, corak bangunan, candi, patung, dan seni.[21] Budaya Jawa termasuk unik karena bahasa Jawa mempunyai tingkat tutur yakni Ngoko dan Krama.

Bahasa

Bahasa Jawa merupakan bahasa Austronesia yang utamanya dituturkan oleh masyarakat Jawa di wilayah bagian tengah dan timur pulau Jawa. Bahasa ini dikenal mempunyai jumlah besar kata serapan dari bahasa Sanskerta, terutama ditemukan dalam sastra Jawa.[22] Ini karena sejarah panjang pengaruh Hindu dan Buddha di Jawa.

Suku bangsa Jawa sebagian besar menggunakan bahasa Jawa dalam bertutur sehari-hari. Dalam sebuah survei yang diadakan majalah Tempo pada awal dasawarsa 1990-an, kurang lebih hanya 42% orang Jawa yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa mereka sehari-hari, sekitar 28% menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia secara campur, dan selebihnya hanya menggunakan bahasa Jawa saja.

Bahasa Jawa memiliki aturan perbedaan kosakata dan intonasi berdasarkan hubungan antara pembicara dan lawan bicara, yang dikenal dengan unggah-ungguh.[23] Aspek kebahasaan ini memiliki pengaruh sosial yang kuat dalam budaya Jawa, dan membuat orang Jawa biasanya sangat sadar akan status sosialnya di masyarakat.

Pada abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-20, bahasa Jawa aktif ditulis menggunakan aksara Jawa terutama dalam sastra maupun tulisan sehari-hari masyarakat Jawa sebelum fungsinya berangsur-angsur tergantikan dengan huruf Latin. Aksara ini masih diajarkan di DI Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur sebagai bagian dari muatan lokal, namun dengan penerapan yang terbatas dalam kehidupan sehari-hari.[24][25]

Sastra dan filsafat

Para cendekiawan, penulis, penyair, dan sastrawan Jawa terkenal karena kemampuan mereka merumuskan gagasan dan menciptakan idiom untuk tujuan budaya yang tinggi, melalui rangkaian kata-kata untuk mengekspresikan makna filosofis yang lebih dalam. Beberapa idiom filosofis muncul dari sastra klasik Jawa, babad dan tradisi lisan, dan telah menyebar ke beberapa media dan diangkat sebagai moto yang populer. Contohnya seperti "Bhinneka Tunggal Ika", digunakan sebagai semboyan atau moto nasional Republik Indonesia, "Gemah Ripah Loh Jinawi, Toto Tentrem Kerto Raharjo", "Jer Basuki Mawa Béya", "Rawé-Rawé rantas, Malang-Malang putung" dan "Tut Wuri Handayani".[26]

Stratifikasi sosial

Masyarakat Jawa juga terkenal akan pembagian golongan-golongan sosialnya. Pakar antropologi Amerika yang ternama, Clifford Geertz, pada tahun 1960-an membagi masyarakat Jawa menjadi tiga kelompok: kaum santri, abangan, dan priyayi. Menurutnya kaum santri adalah penganut agama Islam yang taat, kaum abangan adalah penganut Islam secara nominal atau penganut Kejawen, sedangkan kaum priyayi adalah kaum bangsawan.[27] Tetapi pendapat Geertz banyak ditentang karena ia mencampur golongan sosial dengan golongan kepercayaan. Kategorisasi sosial ini juga sulit diterapkan dalam menggolongkan orang-orang luar, misalkan orang Indonesia lainnya dan suku bangsa non-pribumi seperti orang keturunan Arab, Tionghoa, dan India.

Kepercayaan

Agama Populasi
Islam 92.207.046
Kristen 2.528.854
Hindu 150.855
Buddha 90.465
Konghucu 2.857
Lainnya 9.599

Mayoritas orang Jawa menganut agama Islam (sekitar 97%). Masyarakat Muslim Jawa umumnya dikategorikan ke dalam dua kultur, yaitu kaum Santri dan Abangan. Kaum santri mengamalkan ajaran agama sesuai dengan syariat Islam, sedangkan kaum abangan walaupun menganut Islam namun dalam praktiknya masih terpengaruh Kejawen yang kuat. Orang Jawa juga ada yang menganut agama Kristen (sekitar 2,5%), baik Protestan maupun Katolik. Sekitar 1% orang Jawa lainnya juga menganut agama Hindu, Buddha, maupun kepercayaan suku Jawa yang disebut sebagai Kejawen. Kantong masyarakat Jawa Hindu masih ditemukan seperti di kawasan pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, sedangkan kantong masyarakat Jawa Buddha dapat ditemukan di kawasan sekitar Candi Borobudur.

Seni

Orang Jawa terkenal dengan budaya seninya yang terutama dipengaruhi oleh agama Hindu-Buddha, yaitu pementasan wayang. Repertoar cerita wayang atau lakon sebagian besar berdasarkan wiracarita Ramayana dan Mahabharata. Selain pengaruh India, pengaruh Islam dan Dunia Barat ada pula. Seni batik dan keris merupakan dua bentuk ekspresi masyarakat Jawa. Musik gamelan yang juga dijumpai di Bali memegang peranan penting dalam kehidupan budaya dan tradisi Jawa.

Profesi

Mayoritas masyarakat Jawa berprofesi sebagai petani. Sedangkan di perkotaan mereka berprofesi sebagai pegawai negeri sipil, karyawan, pedagang, usahawan, dan lain-lain. Di Daerah Khusus Ibukota Jakarta jumlah orang Jawa mencapai 40% pada tahun 2015 dari penduduk Jakarta. Orang Jawa perantauan di Jakarta bekerja di berbagai bidang. Hal ini terlihat dari jumlah mudik lebaran yang terbesar dari Jakarta adalah menuju Jawa Tengah. Secara rinci prediksi jumlah pemudik tahun 2014 ke Jawa Tengah mencapai 7.893.681 orang. Dari jumlah itu didasarkan beberapa kategori, yakni 2.023.451 orang pemudik sepeda motor, 2.136.138 orang naik mobil, 3.426.702 orang naik bus, 192.219 orang naik kereta api, 26.836 orang naik kapal laut, dan 88.335 orang naik pesawat.[28] Bahkan menurut data Kementerian Perhubungan Indonesia menunjukkan tujuan pemudik dari Jakarta adalah 61% Jateng dan 39% Jatim. Ditinjau dari profesinya, 28% pemudik adalah karyawan swasta, 27% wiraswasta, 17% PNS/TNI/POLRI, 10% pelajar/mahasiswa, 9% ibu rumah tangga, dan 9% profesi lainnya. Diperinci menurut pendapatan pemudik, 44% berpendapatan Rp3–5 juta, 42% berpendapatan Rp1–3 juta, 10% berpendapatan Rp5–10 juta, 3% berpendapatan di bawah Rp1 juta, dan 1% berpendapatan di atas Rp10 juta.[29] Pekerjaan orang Jawa secara historis adalah sebagai berikut.

Petani

Secara tradisional, kebanyakan orang Jawa adalah petani. Pertanian sangat umum karena tanah vulkanik yang subur di Jawa. Komoditas pertanian terpenting adalah beras. Pada tahun 1997, diperkirakan bahwa Jawa menghasilkan 55% dari total hasil panen Indonesia.[30] Sebagian besar petani bekerja di sawah skala kecil, dengan sekitar 42% petani bekerja dan mengolah kurang dari 0,5 hektar lahan.[30] Di wilayah di mana tanahnya kurang subur karena musim hujan pendek, tanaman pokok lainnya dibudidayakan, seperti singkong.[31]

Pedagang-Pelaut

 
Lukisan seorang pelaut Jawa.

Pada zaman kuno, orang Jawa unggul dalam menjelajahi lautan dan berdagang. Ini karena tidak semua komoditas dan barang kebutuhan dapat ditemukan di Pulau Jawa, dan perdagangan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Para pedagang dan pelaut Jawa sudah sering melakukan pelayaran di lautan antara India dan Tiongkok pada awal abad ke-1.[32] Kapal Borobudur dari dinasti Sailendra Jawa membawa pelaut dan pemukim Nusantara ke Ghana dan Madagaskar pada abad ke-8,[33] tetapi ada kemungkinan bahwa mereka sudah berada di sana pada awal 500 SM.[34][35]

Orang Jawa mungkin telah berhubungan dengan benua Australia pada abad ke-10 M, dan bermigrasi ke sana, pemukiman mereka ada hingga awal 1600-an. Menurut Prasasti Waharu IV (931 M) dan Prasasti Garaman (1053 M),[36][37] Kerajaan Medang dan Kerajaan Kahuripan zaman Airlangga (1000-1049 M) di Jawa mengalami masa kemakmuran panjang sehingga membutuhkan banyak tenaga terutama untuk membawa hasil panen, mengemas, dan mengirimkannya ke pelabuhan. Tenaga kerja berupa orang kulit hitam diimpor dari Jenggi (Zanzibar), Pujut (Australia), dan Bondan (Papua).[38][39] Menurut Naerssen, mereka tiba di Jawa dengan jalan perdagangan (dibeli oleh pedagang) atau ditawan saat perang dan kemudian dijadikan budak.[40] Menurut Chiaymasiouro, raja Demak, pada 1601 M ada subkelompok orang Jawa yang sudah menetap di tanah bernama Luca Antara, yang diyakini sebagai Australia.[41] Tetapi ketika pelayan Eredia pergi ke Luca Antara pada tahun 1610, tanah tersebut seolah-olah telah ditinggalkan.[42]

Catatan Arab abad ke-10 Ajayeb al-Hind (Keajaiban India) memberikan laporan invasi di Afrika oleh bangsa yang disebut Wakwak atau Waqwaq,[43]:110 mungkin adalah orang-orang Melayu Sriwijaya atau orang Jawa dari kerajaan Medang,[44]:39 pada 945-946 M. Mereka tiba di pantai Tanganyika dan Mozambik dengan 1000 kapal dan berusaha merebut benteng Qanbaloh, meskipun akhirnya gagal. Alasan serangan itu adalah karena tempat itu memiliki barang-barang yang cocok untuk negara mereka dan China, seperti gading, kulit kura-kura, kulit macan kumbang, dan ambergris, dan juga karena mereka menginginkan budak hitam dari orang Bantu (disebut Zeng atau Zenj oleh orang Arab, Jenggi oleh orang Jawa) yang kuat dan menjadi budak yang baik.[45]

Selama era Majapahit, hampir semua komoditas dari Asia ditemukan di Jawa. Ini dikarenakan perdagangan laut ekstensif yang dilakukan oleh kerajaan Majapahit yang menggunakan berbagai jenis kapal, terutamanya jong, untuk berdagang ke tempat-tempat yang jauh.[46]:267-293 Ma Huan (penerjemah Cheng Ho) yang mengunjungi Jawa pada tahun 1413, menyatakan bahwa pelabuhan di Jawa adalah memperdagangkan barang dan menawarkan layanan yang lebih banyak dan lebih lengkap daripada pelabuhan lain di Asia Tenggara.[46]:241 Juga pada era Majapahit penjelajahan orang-orang Nusantara mencapai prestasi terbesarnya. Ludovico di Varthema (1470–1517), dalam bukunya Itinerario de Ludouico de Varthema Bolognese menyatakan bahwa orang Jawa Selatan berlayar ke "negeri jauh di selatan" hingga mereka tiba di sebuah pulau di mana satu hari hanya berlangsung selama empat jam dan "lebih dingin daripada di bagian dunia mana pun". Penelitian modern telah menentukan bahwa tempat tersebut terletak setidaknya 900 mil laut (1666 km) selatan dari titik paling selatan Tasmania.[47] Ketika Afonso de Albuquerque menaklukkan Malaka (1511), orang Portugis mendapatkan sebuah peta dari seorang mualim Jawa, yang juga menampilkan bagian dari benua Amerika.[48]

Orang Jawa, seperti suku-suku Austronesia lainnya, menggunakan sistem navigasi yang mantap: Orientasi di laut dilakukan menggunakan berbagai tanda alam yang berbeda-beda, dan dengan memakai suatu teknik perbintangan sangat khas yang dinamakan star path navigation. Pada dasarnya, para navigator menentukan haluan kapal ke pulau-pulau yang dikenali dengan menggunakan posisi terbitnya dan terbenamnya bintang-bintang tertentu di atas cakrawala.[49]:10 Pada zaman Majapahit, kompas dan magnet telah digunakan, selain itu kartografi (ilmu pemetaan) telah berkembang: Penggunaan peta yang penuh garis-garis memanjang dan melintang, garis rhumb, dan garis rute langsung yang dilalui kapal dicatat oleh orang Eropa, sampai-sampai orang Portugis menilai peta Jawa merupakan peta terbaik pada awal tahun 1500-an.[47][50]

Kehadiran kolonial Eropa mengurangi jangkauan para pedagang-pelaut Jawa. Namun, pada tahun 1645, Diogo de Couto mengkonfirmasi bahwa orang Jawa masih berkomunikasi dengan pantai timur Madagaskar.[51] Keputusan Amangkurat I dari Kesultanan Mataram untuk menghancurkan kapal di kota-kota pesisir dan menutup pelabuhan untuk mencegah mereka memberontak pada pertengahan abad ke-17 semakin mengurangi kemampuan orang Jawa dalam berlayar jarak jauh. Pada paruh kedua abad ke-18, sebagian besar pedagang-pelaut Jawa dibatasi hanya untuk perjalanan jarak pendek.[49]

Pembuat kapal

Kapal-kapal orang Jawa:
  • Kapal Borobudur dari candi Borobudur, abad ke-8.
  • Jong Jawa di teluk Banten, tahun 1610.

Orang Jawa dikenal memproduksi kapal besar yang disebut jong. Kapal-kapal ini telah melintasi lautan antara India dan Tiongkok pada awal abad ke-1, membawa hingga 1000 orang bersama 250–1000 ton kargo.[32] Jong dibangun terutama di dua pusat pembuatan kapal utama di sekitar Jawa: Di pantai utara Jawa, di sekitar Cirebon dan Rembang-Demak (di selat Muria yang memisahkan gunung Muria dengan pulau Jawa), dan juga di pesisir Selatan Kalimantan, terutama di Banjarmasin dan pulau-pulau sekitarnya. Tempat ini sama-sama memiliki hutan jati, tetapi galangan kapal di Kalimantan tetap mendatangkan kayu jati dari Jawa, sedangkan Kalimantan sendiri menjadi pemasok kayu ulin. Pegu (sekarang Bago), yang merupakan pelabuhan besar pada abad ke-16, juga memproduksi jong, oleh orang Jawa yang menetap di sana.[52]

Takjub akan kemampuan mereka, Albuquerque mempekerjakan 60 tukang kayu dan arsitek kapal Jawa dari galangan kapal Malaka dan mengirimnya ke India, dengan harapan bahwa para pengrajin ini sanggup memperbaiki kapal-kapal Portugis di India. Akan tetapi mereka tidak pernah sampai di India, mereka memberontak dan membawa kapal Portugis yang mereka tumpangi ke Pasai, di mana mereka disambut dengan luar biasa. Pembuatan kapal di Jawa terhambat ketika VOC memperoleh pijakan di Jawa mulai awal abad ke-17. Mereka melarang penduduk setempat untuk membangun kapal dengan tonase lebih dari 50 ton, dan menugaskan pengawas Eropa ke setiap galangan kapal.[53] Namun, pada abad ke-18 daerah pembuatan kapal Jawa (khususnya Rembang dan Juwana) telah mulai membangun kapal besar bergaya Eropa (jenis bark dan brigantine) dengan kisaran tonase 160–600 ton.[49]

Pandai besi

Pandai besi secara tradisional dihargai. Beberapa pandai besi berpuasa dan bermeditasi untuk mencapai kesempurnaan. Pandai besi Jawa menciptakan berbagai alat dan peralatan pertanian, dan juga barang-barang budaya seperti instrumen gamelan dan keris.[31] Seni membuat keris memberikan keterampilan teknis yang diterapkan pada pembuatan meriam. Meriam dan senjata api membutuhkan keahlian khusus dan mungkin dibuat oleh orang-orang yang sama. Kekuatan spiritual pandai besi dikatakan dipindahkan ke meriam yang mereka buat.[55]:384 Kerajaan Majapahit menggunakan senjata api dan meriam sebagai ciri peperangannya. Cetbang, meriam putar isian belakang perunggu dari Jawa, digunakan di mana-mana oleh angkatan laut Majapahit, bajak laut, dan raja-raja saingan. Runtuhnya kekaisaran Majapahit juga menyebabkan banyak dari ahli meriam perunggu yang tidak puas dengan kondisi di kerajaan di Jawa yang lari ke Brunei, Sumatra, Semenanjung Malaya dan kepulauan Filipina, yang menyebabkan meluasnya penggunaan meriam cetbang. Terutama pada kapal dagang untuk perlindungan dari bajak laut, terutama di Selat Makassar.[56] Meriam galah (bedil tombak) tercatat digunakan oleh orang Jawa di Indonesia pada tahun 1413.[57][58]

Duarte Barbosa sekitar tahun 1510 mengatakan bahwa penduduk Jawa sangat ahli dalam membuat artileri dan merupakan penembak artileri yang baik. Mereka membuat banyak meriam 1 pon (cetbang atau rentaka), senapan lontak panjang, spingarde (arquebus), schioppi (meriam tangan), api Yunani, gun (bedil besar atau meriam), dan senjata api atau kembang api lainnya. Setiap tempat di sana dianggap sangat baik dalam mencetak/mengecor artileri, dan juga dalam ilmu penggunaanya.[59][60] Pada tahun 1513, armada Jawa yang dipimpin oleh Patih Yunus, berlayar untuk menyerang Melaka Portugis "dengan banyak artileri yang dibuat di Jawa, karena orang Jawa terampil dalam perpandaian besi dan pengecoran, dan dalam semua pekerjaan dengan besi, melebihi apa yang mereka miliki di India".[61][62]:23

Zhang Xie dalam Dong Xi Yang Kao (1618) menyebutkan bahwa kota Palembang, yang telah ditaklukkan oleh orang Jawa, menghasilkan minyak api ganas (ming huo yu), yang menurut Hua I Kao adalah sejenis getah pohon (shu chin), dan juga disebut minyak lumpur (ni yu). Zhang Xie menulis:[63]:88

Benda ini sangat mirip dengan kapur barus, dan dapat merusak daging manusia. Ketika dinyalakan dan dilemparkan ke air, cahaya dan apinya menjadi lebih kuat. Orang barbar menggunakannya sebagai senjata api dan menghasilkan kebakaran hebat di mana layar, benteng, bagian atas, dan dayung semuanya terbakar dan tidak dapat menahannya. Ikan dan kura-kura yang bersentuhan dengannya tidak bisa lepas dari kehangusan.

Karena tidak disebutkan pompa penyembur, senjata itu mungkin adalah botol yang bisa pecah dengan sumbu.[63]:88

Pisau keris adalah barang penting, dengan banyak keris pusaka yang memiliki nilai sejarah signifikan. Desain keris adalah untuk merobek perut lawan, membuat cedera lebih parah.

Kota Gede terkenal dengan kerajinan perak dan kerajinan tangan yang berbahan perak.[64]

Pembuatan Batik

Batik tradisional dibuat oleh perempuan sebagai hobi, tetapi beberapa kota dan desa memiliki spesialisasi dalam pembuatan batik, seperti Pekalongan, Kauman, Kampung Taman, dan Laweyan.

Ukiran kayu

Seni ukir kayu Jawa secara tradisional diterapkan pada berbagai atribut budaya seperti patung, boneka (wayang), dan topeng. Ukiran kayu juga menonjol sebagai ornamen dan detail rumah. Omah Kudus yang diukir dengan rumit adalah contoh bagus penguasaan ukiran kayu Jawa. Kota Jepara Jawa Tengah terkenal sebagai pusat lokakarya ukiran kayu Jawa, di mana para seniman dan tukang kayu secara khusus mengolah kayu jati Jawa.[65]

Tokoh-tokoh Jawa

Lihat pula

Referensi

  1. ^ Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia - Hasil Sensus Penduduk 2010. Badan Pusat Statistik. 2011. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 Juli 2017. 
  2. ^ Harjawiyana, Haryana; Theodorus Supriya (2001). Kamus unggah-ungguh basa Jawa. Kanisius. hlm. 185. ISBN 978-979-672-991-3. 
  3. ^ Indonesia's Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape. Institute of Southeast Asian Studies. 2003. 
  4. ^ Margaret Kleffner Nydell Understanding Arabs: A Guide For Modern Times, Intercultural Press, 2005, ISBN 1931930252, hlm. xxiii, 14
  5. ^ sekitar 152 juta umat Muslim Bengali di Bangladesh dan 36,4 juta umat Muslim Bengali di Republik India (perkiraan CIA Factbook 2014, angka pada pertumbuhan populasi yang pesat); sekitar 10 juta orang Bangladesh di Timur Tengah, 1 juta orang Bengali di Pakistan, 5 juta orang Bangladesh-Inggris.
  6. ^ Gandhi, Rajmohan (2013). Punjab: A History from Aurangzeb to Mountbatten. New Delhi, India, Urbana, Illinois: Aleph Book Company. hlm. 1. ISBN 978-93-83064-41-0. 
  7. ^ a b Spiller, Henry (2008). Gamelan music of Indonesia. Taylor & Francis. ISBN 978-0-415-96067-0. 
  8. ^ Taylor (2003), hlm. 7.
  9. ^ "Pemetaan Genetika Manusia Indonesia". Kompas.com (dalam bahasa Indonesian). Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 Februari 2016. Diakses tanggal 5 September 2017. 
  10. ^ Miksic, John; Marcello Tranchini; Anita Tranchini (1996). Borobudur: Golden Tales of the Buddhas. Tuttle Publishing. ISBN 978-0-945971-90-0. 
  11. ^ Tarling, Nicholas (1999). Cambridge history of South East Asia: From early times to c.1500. Cambridge University Press. hlm. 203. ISBN 978-0-521-66369-4. 
  12. ^ a b c Spuler, Bertold; F.R.C. Bagley (31 Desember 1981). The Muslim world: a historical survey, Part 4. Brill Archive. hlm. 252. ISBN 978-90-04-06196-5. 
  13. ^ a b Capaldi, Liz; Joshua Eliot (2000). Bali handbook with Lombok and the Eastern Isles: the travel guide. Footprint Travel Guides. ISBN 978-0-658-01454-3. 
  14. ^ Marshall Cavendish Corporation (2007). World and Its Peoples: Indonesia and East Timor. Marshall Cavendish. hlm. 1333. ISBN 978-0-7614-7643-6. 
  15. ^ Wink, André (2004). Indo-Islamic society, 14th-15th centuries. BRILL. hlm. 217. ISBN 978-90-0413561-1. 
  16. ^ Ricklefs, M.C. (1991). A History of Modern Indonesia since c.1300, 2nd Edition. London: MacMillan. hlm. 9–10. ISBN 0-333-57689-6. 
  17. ^ Muljana, Slamet (2005). Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. Yogyakarta, Indonesia: LKiS. ISBN 979-8451-16-3. 
  18. ^ a b Pires, Tomé (1990). The Suma oriental of Tome Pires: an account of the East. New Delhi: Asian Educational Services. ISBN 81-206-0535-7. 
  19. ^ "Keris Indonesia". Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia. 17 Desember 2015. Diakses tanggal 1 Juli 2020. 
  20. ^ "Ketika Bule Selandia Baru Unjuk Kebolehan Beratraksi Gamelan Jawa". detikNews. 4 November 2013. Diakses tanggal 1 Juli 2020. 
  21. ^ Aditya Revianur (5 Desember 2012). "Majapahit Jajah hingga Semenanjung Malaya". KOMPAS.com. Diakses tanggal 1 Juli 2020. 
  22. ^ Marr, David G.; Anthony Crothers Milner (1986). Southeast Asia in the 9th to 14th centuries. Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 978-9971-988-39-5. 
  23. ^ Suwadji (2013). Ngoko Krama. Yogyakarta: Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. ISBN 9786027777620. OCLC 890814963. 
  24. ^ Behrend 1996, hlm. 161.
  25. ^ Everson 2008, hlm. 1.
  26. ^ Soeseno, Ki Nardjoko (2014). Falsafah Jawa Soeharto & Jokowi. Araska. ISBN 978-602-7733-82-4. 
  27. ^ McDonald, Hamish (1980). Suharto's Indonesia. Melbourne: Fontana. hlm. 9–10. ISBN 0-00-635721-0. 
  28. ^ Dwi Royanto (24 Juni 2014). "Kenaikan Jumlah Pemudik Asal Jateng Tahun Ini Paling Tinggi". VIVA.co.id. Diakses tanggal 1 Juli 2020. 
  29. ^ "27,9 juta penduduk akan melakukan mudik lebaran 2014". Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. 14 Mei 2014. Diakses tanggal 1 Juli 2020. 
  30. ^ a b Gérard, Françoise; François Ruf (2001). Agriculture in crisis: people, commodities and natural resources in Indonesia, 1996-2000. Routledge. hlm. 301. ISBN 978-0-7007-1465-0. 
  31. ^ a b Dunham, Stanley Ann; Alice G. Dewey (2009). Surviving Against the Odds: Village Industry in Indonesia. Duke University Press. hlm. 50. ISBN 978-0-8223-4687-6. 
  32. ^ a b Dick-Read, Robert (2005). The Phantom Voyagers: Evidence of Indonesian Settlement in Africa in Ancient Times. Thurlton. 
  33. ^ Beale, Philip (April 2006). "From Indonesia to Africa: Borobudur Ship Expedition". Ziff Journal: 22 – via http://www.swahiliweb.net/ziff_journal_3_files/ziff2006-04.pdf. 
  34. ^ Blench, “The Ethnographic Evidence for Long-distance Contacts”, p. 432.
  35. ^ I. W. Ardika & P. Bellwood, “Sembiran: The Beginnings of Indian Contact with Bali”, Antiquity 65 (1991): 221–32. See also I. W. Ardika, P. Bellwood, I. M. Sutaba & K. C. Yuliati, “Sembiran and the First Indian Contacts with Bali: An Update”, Antiquity 71(1997): 193–95.
  36. ^ Nastiti (2003), in Ani Triastanti, 2007, p. 39.
  37. ^ Nastiti (2003), in Ani Triastanti, 2007, p. 34.
  38. ^ Nugroho (2011). p. 39.
  39. ^ Nugroho (2011). p. 73.
  40. ^ Kartikaningsih (1992). p. 42, in Ani Triastanti (2007), p. 34.
  41. ^ de Eredia (1613). p. 63.
  42. ^ de Eredia (1613). p. 262.
  43. ^ Kumar, Ann. (1993). 'Dominion Over Palm and Pine: Early Indonesia’s Maritime Reach', in Anthony Reid (ed.), Anthony Reid and the Study of the Southeast Asian Past (Sigapore: Institute of Southeast Asian Studies), 101-122.
  44. ^ Nugroho, Irawan Djoko (2011). Majapahit Peradaban Maritim. Suluh Nuswantara Bakti. ISBN 9786029346008. 
  45. ^ Reid, Anthony (2012). Anthony Reid and the Study of the Southeast Asian Past. Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 978-9814311960. 
  46. ^ a b Nugroho, Irawan Djoko (2011). Majapahit Peradaban Maritim. Suluh Nuswantara Bakti. ISBN 9786029346008. 
  47. ^ a b Jones, John Winter (1863). The travels of Ludovico di Varthema in Egypt, Syria, Arabia Deserta and Arabia Felix, in Persia, India, and Ethiopia, A.D. 1503 to 1508. Hakluyt Society. 
  48. ^ Cartas de Afonso de Albuquerque, Volume 1, hlm. 64, 1 April 1512
  49. ^ a b c Liebner, Horst H. (2002). Perahu-Perahu Tradisional Nusantara. Jakarta. 
  50. ^ "Teknologi Era Majapahit". Nusantara Review (dalam bahasa Inggris). 2 Oktober 2018. Diakses tanggal 11 Juni 2020. 
  51. ^ Couto, Diogo do (1645). Da Asia: Nine decades. Lisbon: Regia Officina Typografica, 1778-88. Reprint, Lisbon, 1974.
  52. ^ Pires, Tome. Suma Oriental. London: The Hakluyt Society. ISBN 9784000085052. 
  53. ^ Lombard, Denys (1990). The Javanese Crossroads. Essay of Global History. ISBN 2713209498. 
  54. ^ "Cannon | Indonesia (Java) | Majapahit period (1296–1520) | The Met". The Metropolitan Museum of Art, i.e. The Met Museum. Diakses tanggal 6 Agustus 2017. 
  55. ^ Tarling, Nicholas (1992). The Cambridge History of Southeast Asia: Volume 1, From Early Times to C.1800. Cambridge University Press. ISBN 9780521355056. 
  56. ^ Thomas Stamford Raffles, The History of Java, Oxford University Press, 1965, ISBN 0-19-580347-7, 1088 pages.
  57. ^ Mayers (1876). "Chinese explorations of the Indian Ocean during the fifteenth century". The China Review. IV: p. 178.
  58. ^ Manguin, Pierre-Yves (1976). "L'Artillerie legere nousantarienne: A propos de six canons conserves dans des collections portugaises". Arts Asiatiques. 32: 233–268. 
  59. ^ Barosa, Duarte (1866). A Description of the Coasts of East Africa and Malabar in the Beginning of the Sixteenth Century. The Hakluyt Society. 
  60. ^ Partington, J. R. (1999). A History of Greek Fire and Gunpowder (dalam bahasa Inggris). JHU Press. ISBN 978-0-8018-5954-0. 
  61. ^ Reid, Anthony (2012). Anthony Reid and the Study of the Southeast Asian Past. Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 978-981-4311-96-0. 
  62. ^ Crawfurd, John (1856). A Descriptive Dictionary of the Indian Islands and Adjacent Countries. Bradbury and Evans. 
  63. ^ a b Needham, Joseph (1986). Science and Civilisation in China, Volume 5: Chemistry and Chemical Technology, Part 7, Military Technology: The Gunpowder Epic. Cambridge: Cambridge University Press. 
  64. ^ Tadié, J; Guillaud, Dominique (ed.); Seysset, M. (ed.); Walter, Annie (ed.) (1998), Kota Gede : le devenir identitaire d'un quartier périphérique historique de Yogyakarta (Indonésie); Le voyage inachevé... à Joël Bonnemaison, ORSTOM, diakses tanggal 20 April 2012 
  65. ^ "In a Central Java town, local wood enterprises carve a niche in the global market - CIFOR Forests News". CIFOR Forests News (dalam bahasa Inggris). 6 Maret 2018. Diakses tanggal 1 Juni 2018. 

Kepustakaan

  • Behrend, T E (1996). "Textual Gateways: the Javanese Manuscript Tradition". Dalam Ann Kumar; John H. McGlynn. Illuminations: The Writing Traditions of Indonesia (dalam bahasa Inggris). Jakarta: Lontar Foundation. ISBN 0834803496. 
  • Everson, Michael (6 Maret 2008). "Proposal for encoding the Javanese script in the UCS" (PDF). ISO/IEC JTC1/SC2/WG2. Unicode (N3319R3). 
  • Caldarola, Carlo (1982), Religion and Societies: Asia and the Middle East (dalam bahasa Inggris), Walter de Gruyter 
  • Gin, Ooi Keat (2004), Southeast Asia: A Historical Encyclopedia, from Angkor Wat to Timor. R-Z. Volume three (dalam bahasa Inggris), ABC-CLIO 
  • Hooker, M.B. (1988), Islam in South East Asia (dalam bahasa Inggris), Brill 

Bacaan lanjutan

  • Clifford Geertz.1960. The religion of Java. Glencoe: The Free press of Glencoe
  • Kuncaraningrat Raden Mas; Southeast Asian Studies Program (Institute of Southeast Asian Studies) (1985), Javanese culture, Oxford University Press, ISBN 978-0-19-582542-8 
  • Nugroho, Irawan Djoko (2011). Majapahit Peradaban Maritim. Suluh Nuswantara Bakti. ISBN 9786029346008.
  • Triastanti, Ani. Perdagangan Internasional pada Masa Jawa Kuno; Tinjauan Terhadap Data Tertulis Abad X-XII. Skripsi Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 2007.

Pranala luar