Ubi kayu

tanaman berbunga dalam keluarga Euphorbiaceae
Ubi Kayu/Singkong
Klasifikasi ilmiah
Domain:
Kerajaan:
Divisi:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
M. esculenta
Nama binomial
Manihot esculenta
Sinonim[1]
  • Janipha aipi (Pohl) J.Presl
  • Janipha manihot (L.) Kunth
  • Jatropha aipi (Pohl) Göpp.
  • Jatropha diffusa (Pohl) Steud.
  • Jatropha digitiformis (Pohl) Steud.
  • Jatropha dulcis J.F.Gmel.
  • Jatropha flabellifolia (Pohl) Steud.
  • Jatropha loureiroi (Pohl) Steud.
  • Jatropha manihot L.
  • Jatropha mitis Rottb.
  • Jatropha paniculata Ruiz & Pav. ex Pax
  • Jatropha silvestris Vell.
  • Jatropha stipulata Vell.
  • Mandioca aipi (Pohl) Link
  • Mandioca dulcis (J.F.Gmel.) D.Parodi
  • Mandioca utilissima (Pohl) Link
  • Manihot aipi Pohl
  • Manihot aypi Spruce
  • Manihot cannabina Sweet
  • Manihot diffusa Pohl
  • Manihot digitiformis Pohl
  • Manihot dulcis (J.F.Gmel.) Baill.
  • Manihot edule A.Rich.
  • Manihot edulis A.Rich.
  • Manihot flabellifolia Pohl
  • Manihot flexuosa Pax & K.Hoffm.
  • Manihot loureiroi Pohl
  • Manihot melanobasis Müll. Arg.
  • Manihot sprucei Pax
  • Manihot utilissima Pohl
Manihot esculenta

Ubi kayu, atau disebut juga singkong, kaspe, ketela pohon, ubi sampa atau ubi prancis (Manihot esculenta, sinonim: Manihot utilissima), adalah perdu tropis dan subtropis tahunan[2] dari suku Euphorbiaceae. Umbinya dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran.

Deskripsi sunting

Perdu bisa mencapai hingga 7 meter dengan cabang agak jarang. Singkong memiliki akar tunggang dengan sejumlah akar cabang yang kemudian membesar menjadi umbi akar yang dapat dimakan. Ukuran umbi rata-rata bergaris tengah 2–3 cm dan panjang 50–80 cm, tergantung dari klon/kultivar. Bagian dalam umbinya berwarna putih atau kekuning-kuningan. Umbi singkong tidak tahan simpan meskipun ditempatkan di lemari pendingin. Gejala kerusakan ditandai dengan keluarnya warna biru gelap akibat terbentuknya asam sianida yang bersifat racun bagi manusia.[3]

Umbi dari ubi kayu merupakan sumber energi yang kaya karbohidrat, tetapi sangat miskin protein. Sumber protein yang bagus justru terdapat pada daun singkong karena mengandung asam amino metionina.[4]


Sejarah dan pengaruh ekonomi sunting

 
Tanaman ubi kayu variegata.
 
Tanaman ubi kayu.
 
Batang ubi kayu. Masa tanam 8 - 10 bulan.
 
Buah ubi kayu varietas tertentu.

Sejarah budidaya dan penyebarannya sunting

Manihot esculenta pertama kali dikenal di Amerika Selatan kemudian dikembangkan pada masa prasejarah di Brasil dan Paraguay, sejak kurang lebih 10 ribu tahun yang lalu. Bentuk-bentuk modern dari spesies yang telah dibudidayakan dapat ditemukan bertumbuh liar di Brasil selatan. Meskipun ada banyak spesies Manihot yang liar, semua kultivar M. esculenta dapat dibudidayakan. Walaupun demikian, bukti-bukti arkeologis budidaya singkong justru banyak ditemukan di kebudayaan Indian Maya, tepatnya di Meksiko dan El Salvador.[5]

Produksi singkong dunia, diperkirakan mencapai 192 juta ton pada tahun 2004. Nigeria menempati urutan pertama dengan 52,4 juta ton, disusul Brasil dengan 25,4 juta ton. Indonesia menempati posisi ketiga dengan 24,1 juta ton, diikuti Thailand dengan 21,9 juta ton (FAO, 2004[6]) Sebagian besar produksi dihasilkan di Afrika 99,1 juta ton dan 33,2 juta ton di Amerika Latin dan Kepulauan Karibia.

Di Hindia Belanda sunting

 
Sebuah ladang singkong di Ciseeng, Kabupaten Bogor

Singkong ditanam secara komersial di wilayah Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) pada sekitar tahun 1810,[7] setelah sebelumnya diperkenalkan orang Portugis pada abad ke-16 dari Brasil. Menurut Haryono Rinardi dalam Politik Singkong Zaman Kolonial, singkong masuk ke Indonesia dibawa oleh Portugis ke Maluku sekitar abad ke-16. Tanaman ini dapat dipanen sesuai kebutuhan. “Sifat itulah yang menyebabkan tanaman ubi kayu sering kali disebut sebagai gudang persediaan di bawah tanah,” tulis Haryono.[8]

Butuh waktu lama singkong menyebar ke daerah lain, terutama ke Pulau Jawa. Diperkirakan singkong kali pertama diperkenalkan di suatu kabupaten di Jawa Timur pada 1852. “Bupatinya sebagai seorang pegawai negeri harus memberikan contoh dan bertindak sebagai pelopor. Kalau tidak, rakyat tidak akan memercayainya sama sekali,” tulis Pieter Creutzberg dan J.T.M. van Laanen dalam Sejarah Statistik Ekonomi Indonesia.[9]

Namun hingga 1876, sebagaimana dicatat H.J. van Swieten, kontrolir di Trenggalek, dalam buku De Zoete Cassave (Jatropha janipha) yang terbit 1875, singkong kurang dikenal atau tidak ada sama sekali di beberapa bagian Pulau Jawa, tetapi ditanam besar-besaran di bagian lain. “Bagaimanapun juga, singkong saat ini mempunyai arti yang lebih besar dalam susunan makanan penduduk dibandingkan dengan setengah abad yang lalu,” tulisnya, sebagaimana dikutip Creutzberg dan van Laanen. Sampai sekitar tahun 1875, konsumsi singkong di Jawa masih rendah. Baru pada permulaan abad ke-20, konsumsinya meningkat pesat. Pembudidayaannya juga meluas. Terlebih rakyat diminta memperluas tanaman singkong mereka.[10]

Peningkatan penanaman singkong sejalan dengan pertumbuhan penduduk Pulau Jawa yang pesat. Ditambah lagi produksi padi tertinggal di belakang pertumbuhan penduduk. “Singkong khususnya menjadi sumber pangan tambahan yang disukai,” tulis Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia V. Hingga saat ini, singkong telah menjadi salah satu bahan pangan yang utama, tidak saja di Indonesia tetapi juga di dunia. Di Indonesia, singkong merupakan makanan pokok ketiga setelah padi-padian dan jagung.[11][12]

 
Pabrik Tapioka Kedung Kawung Cikalahang milik firma Goan Goan & Co, Cirebon, Jawa Barat (tahun tidak diketahui)

Hindia Belanda pernah menjadi salah satu pengekspor dan penghasil tepung tapioka terbesar di dunia. Di Jawa banyak sekali didirikan pabrik-pabrik pengolahan singkong untuk dijadikan tepung tapioka. Seperti dalam buku Handbook of the Netherlands East Indies, pada tahun 1928 tercatat 21,9% produksi tapioka diekspor ke Amerika Serikat, 16,7% ke Inggris, 8,4% ke Jepang, lalu 7% dikirim ke Belanda, Jerman, Belgia, Denmark dan Norwegia. Biasanya tepung olahan singkong tersebut dimanfaatkan sebagai bahan baku lem dan permen karet, industri tekstil dan furniture.[13]

Sampai dan Singkong adalah nama lokal di kawasan Jawa Barat untuk tanaman ini. Nama "ubi kayu" dan "ketela pohon" dipakai dalam bahasa Melayu secara luas. Nama "ketela" secara etimologi berasal dari kata dalam bahasa Portugis "castilla" (dibaca "kastiya"), karena tanaman ini dibawa oleh orang Portugis dan Castilla (Spanyol). [14]

Pengolahan sunting

Umbi singkong dapat dimakan mentah. Kandungan utamanya adalah pati dengan sedikit glukosa sehingga rasanya sedikit manis. Pada keadaan tertentu, terutama bila teroksidasi, akan terbentuk glukosida racun yang selanjutnya membentuk asam sianida (HCN). Sianida ini akan memberikan rasa pahit. Umbi yang rasanya manis menghasilkan paling sedikit 20 mg HCN per kilogram umbi segar, dan 50 kali lebih banyak pada umbi yang rasanya pahit. Proses pemasakan dapat secara efektif menurunkan kadar racun.[butuh rujukan]

Dari pati umbi ini dibuat tepung tapioka (kanji).

Penggunaan sunting

 
Singkong segar
 
Singkong kupas

Dimasak dengan berbagai cara, singkong banyak digunakan pada berbagai macam masakan. Direbus untuk menggantikan kentang, dan pelengkap masakan. Tepung singkong dapat digunakan untuk mengganti tepung gandum, cocok untuk pengidap alergi gluten.

Kadar gizi sunting

Kandungan gizi singkong per 100 gram meliputi:[15]

Sedangkan daun singkong yang banyak dijadikan sayuran pada masakan Sunda dan masakan Padang memiliki nutrisi sebagia berikut:[16]

Nutrisi Satuan Kadar
Protein gram 6.8
Kalsium mg 165
Fosfor mg 54
Besi mg 2.0
Vitamin A IU 11000
Vitamin C mg 275

Varietas tanaman singkong sunting

Tanaman singkong disebut manis atau beracun, tergantung kandungan asam hydrocyanic dalam akarnya, yang umum diakui mengandung kurang dari 50 miligram asam hydrocyanic per kilogram bahan segar. Saat ini tersedia 10 varietas ubi kayu di pasaran. Kesepuluh varietas tersebut dikelompokkan menjadi dua, yakni kelompok varietas ubi kayu untuk pangan dan untuk industri.

Varietas untuk pangan adalah

  • N1 Mekarmanik
  • Adira 1
  • Malang 1
  • Malang 2
  • Darul Hidayah.

Sedangkan untuk ubi industri adalah

  • N1 Mekarmanik
  • Adira 2
  • Adira 4
  • Malang 4
  • Malang 6
  • UJ 5
  • UJ 3.

Varietas untuk pangan mempunyai tekstur umbi yang pulen dengan kadar HCN < 50 miligram per kilogram dan mempunyai rasa tidak pahit. Sedangkan ubi jalar untuk industri mempunyai kadar patin atau kadar bahan kering sekitar 0,6 gram per kilogram

Beberapa varietas unggul singkong yang telah dilepas oleh Kementrian Pertanian antara lain Adira 1, Adira 2, Adira 4, Malang 1, Malang 2, Darul Hidayah, Malang 4 maupun Malang 6.

Etimologi sunting

Nama "ubi kayu" dan "ketela pohon" dipakai dalam bahasa Melayu secara luas. Nama "ketela" secara etimologi berasal dari kata "castilla" (dibaca "kastilya"), karena tanaman ini dibawa oleh orang Portugis dan Castilla (Spanyol).[butuh rujukan]

Dalam bahasa lokal, bahasa Jawa menyebutnya Telo, bahasa Sangihe bungkahe, bahasa Tolitoli dan Gorontalo kasubi, dan bahasa Sunda sampeu. [14] Sementara dalam bahasa Rejang, tanaman ini dikenal sebagai ubai.[17]

Produksi sedunia sunting

Produksi singkong dunia (2008) [18]
Posisi Negara Banyaknya 
Ton
1   Nigeria 52.403.500
2   Brasil 25.441.700
3   Indonesia 24.009.600
4   Thailand 21.912.400
5   Republik Demokratik Kongo 15.569.100
6   Angola 14.333.500
7   Ghana 14.240.900
8   Vietnam 9.875.500
9   India 8.076.000
10   Mozambik 6.267.160
Dunia

Lihat pula sunting

Referensi sunting

Referensi umum sunting

  1. FAO, June 2003 cassava market assessment Diarsipkan 2007-11-24 di Wayback Machine., 2003
  2. Cereda, M.P. and Mattos, M.C.Y. (1996). "Linamarin - The Toxic Compound of Cassava". Journal of Venomous Animals and Toxins (online) 2 (1), 6-12; ISSN 0104-7930 [1]

Referensi khusus sunting

  1. ^ a b "Manihot esculenta Crantz, Rei Herb. 1: 167 (1766)". Plants of the World Online. Board of Trustees of the Royal Botanic Gardens, Kew. 2022. Diarsipkan dari versi asli tanggal 11 November 2022. Diakses tanggal 11 November 2022. 
  2. ^ Parker, Sybil, P (1984). McGraw-Hill Dictionary of Biology. McGraw-Hill Company. 
  3. ^ "Senyawa HCN pada Ubi Kayu". Balitkabi (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-03-29. 
  4. ^ "The Global Cassava Development Strategy". www.fao.org. Diakses tanggal 2023-08-17. 
  5. ^ Ramadhan, Al Huda; Febriansyah, Arya Rizki; M, Rahmaniza; Susanti, Sari Susanti (2021-08-28). "Penerapan Sistem Pakar Dengan Metode Euclidean Probability Untuk Mengidentifkasi Penyakit Pada Tanaman Singkong". Jurnal Nasional Komputasi dan Teknologi Informasi (JNKTI). 4 (4): 253–257. doi:10.32672/jnkti.v4i4.3103. ISSN 2621-3052. 
  6. ^ FAO. 2004. Global Cassava Market Study, Rome
  7. ^ Payer, M. HBI weltweit. 5.3. Zur Geschichte Indonesiens. Edisi 1997-03-18. Diakses 18 Mei 2007
  8. ^ "Akar Sejarah Singkong". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. 2014-11-28. Diakses tanggal 2023-11-01. 
  9. ^ Creutzberg, Pieter (1987). Sejarah Statistik Ekonomi Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 
  10. ^ Isnaeni, Hendri. F. (28 November 2014). "Akar Sejarah Singkong". Historia. Diakses tanggal 23 Januari 2024. 
  11. ^ "Akar Sejarah Singkong". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. 2014-11-28. Diakses tanggal 2023-05-16. 
  12. ^ Shobari, Ahmad; Taqy, Gusti Naufal (2020). "Pemanfaatan Hasil Lokal Kp. Poncol untuk Pengembangan Usaha Rumahan (Pembuatan Keripik Singkong)". Abdi Dosen : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. 4 (2): 133–13. 
  13. ^ "SINGKONG / UBI KAYU / KETELA". Alat Pertanian Asia. 30 Juni 2021. Diakses tanggal 23 Januari 2024. 
  14. ^ a b Kustiani, Rini (2022-06-29). "Asal-usul Singkong dan Macam-macam Namanya di Indonesia". Tempo. Diakses tanggal 2023-01-17. 
  15. ^ "kadar gizi". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-01-03. Diakses tanggal 2022-01-03. 
  16. ^ Wied Harry Apriadji (2007). Makan Enak Untuk Sehat, Bahagia, dan Awet Muda. Gramedia. hlm. 65. ISBN 9792231315. 
  17. ^ Ikram, Sutjiatiningsih, Dalip, & Soejanto 1993, hlm. 58.
  18. ^ "Statistik [[FAO]] resmi, baca di 14 Maret 2010". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-06-23. Diakses tanggal 2010-03-14. 

Daftar pustaka sunting

  • Ikram, M.; Sutjiatiningsih, Sri; Dalip, Achmaddin; Soejanto, Soejanto (1993). Sejarah Pengaruh Pelita terhadap Masyarakat Pedesaan di Bengkulu. Jakarta: Departemen Pedidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. hlm. 58. Diakses tanggal 7 Desember 2021. 

Pranala luar sunting