Stasiun Tanjung Priuk

Stasiun Kereta Api di Jakarta Utara

Stasiun Tanjung Priuk (TPK) merupakan stasiun kereta api kelas II yang terletak di seberang Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Stasiun yang terletak pada ketinggian +4 meter ini termasuk dalam Daerah Operasi I Jakarta. Memiliki langgam bangunan art deco, stasiun ini termasuk salah satu bangunan tua yang dijadikan cagar budaya DKI Jakarta.

Stasiun Tanjung Priuk

LiveryPapanStasiun 2020.svg

PapanNamaStasiun TPK.png
Stasiun Tanjung Priuk dengan Papan Nama Terbaru versi 2017.jpg
Stasiun Tanjung Priuk dengan Papan Nama Terbaru versi 2017
LokasiJalan Taman Stasiun Tanjung Priuk
Tanjung Priok, Tanjung Priok, Jakarta Utara, 14130
Indonesia
Koordinat6°06′40″S 106°52′51″E / 6.1112083°S 106.8808472°E / -6.1112083; 106.8808472Koordinat: 6°06′40″S 106°52′51″E / 6.1112083°S 106.8808472°E / -6.1112083; 106.8808472
Ketinggian+4 m
Operator
Letak dari pangkalkm 8+115 lintas JakartaAncol–Tanjung Priuk[1]
Jumlah peronEmpat peron teluk yang terdiri atas satu peron sisi dan tiga peron pulau
Jumlah jalur8:
  • jalur 2: sepur lurus ke arah Jakarta Kota
  • jalur 3: sepur lurus dari arah Jakarta Kota
  • jalur 6: sepur lurus ke arah Rajawali-Pasar Senen-Jatinegara
  • jalur 7: sepur lurus dari arah Jatinegara-Pasar Senen-Rajawali
Konstruksi
ArsitekIr. C.W. Koch
Gaya arsitekturArt deco
Informasi lain
Kode stasiun
  • TPK
  • 0480
KlasifikasiII[2]
Sejarah
Dibuka6 April 1925
Nama sebelumnyaTandjongpriok
Tanggal penting
Dibuka kembali28 April 2009
Operasi layanan
Stasiun sebelumnya Logo KAI Commuter.svg Stasiun berikutnya
Terminus Tanjung Priuk Line Ancol
ke arah Jakarta Kota
Layanan penghubung
Stasiun sebelumnya Transjakarta Stasiun berikutnya
Terminus Koridor 10
transfer at Tanjung Priok
Terminus
Layanan
KRL Commuter Line dan angkutan peti kemas
Fasilitas dan teknis
Tipe persinyalanElektrik tipe Sinyal Interlocking Len-02
Pemesanan tiketSistem tiket daring, melayani penjualan langsung dan pemesanan di loket serta kartu single trip/multi trip Commuter Line.
Logo Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman.png Cagar budaya Indonesia
Stasiun Kereta Api Tanjung Priok
KategoriBangunan
No. regnasRNCB.20050425.02.000576
Tahun
penetapan
1993 dan 2005
PemilikPT Kereta Api Indonesia
PengelolaPT Kereta Api Indonesia
Nama sebagaimana tercantum dalam
Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya
Lokasi pada peta
Stasiun Tanjung Priuk berlokasi di Indonesia
Stasiun Tanjung Priuk
Stasiun Tanjung Priuk
Lokasi di Indonesia

SejarahSunting

Keberadaan Stasiun Tanjung Priuk tidak dapat dipisahkan dengan ramainya Pelabuhan Tanjung Priok yang merupakan pelabuhan kebanggaan masa Hindia Belanda itu, dan bahkan berperan sebagai pintu gerbang kota Batavia serta Hindia Belanda. Stasiun ini pada dasarnya terbagi atas dua periode.

Periode pertamaSunting

 
Stasiun Tanjung Priuk lama

Pada masa lalu, Tanjung Priok adalah hutan dan rawa yang berbahaya sehingga dibutuhkan sarana transportasi yang aman pada saat itu (kereta api). Pada akhir abad ke-19, pelabuhan Jakarta yang semula berada di daerah sekitar Pasar Ikan tidak lagi memadai, dan Belanda membangun fasilitas pelabuhan baru di Tanjung Priok. Stasiun Tanjung Priuk yang pertama terletak di dekat dermaga Pelabuhan Tanjung Priok. Stasiun ini selesai dibangun oleh Burgerlijke Openbare Werken pada 1883 dan baru pada tahun 2 November 1885 diresmikan pembukaannya bersamaan dengan pembukaan Pelabuhan Tanjung Priok.[3]

Selanjutnya, operasional jalur kereta api Sunda Kelapa–Tanjung Priuk diserahkan kepada Staatsspoorwegen (SS). Sampai dengan tahun 1900, dalam sehari tidak kurang dari 40 perjalanan kereta api rute Tanjung Priuk–Batavia SS/NIS pp serta Tanjung Priuk–Kemayoran pp.[4]

Periode keduaSunting

 
Overcapping Stasiun Tanjung Priuk yang sedang dirakit di Machinefabriek Braat, Ngagel, Surabaya

Dengan meningkatnya aktivitas pelabuhan sejak awal abad ke-20, telah terjadi perluasan pelabuhan yang menyebabkan Stasiun Tanjung Priuk harus digusur. SS kemudian mencari lahan kosong di sebelah gudang Lagoa untuk dibangunkan stasiun baru. SS menugaskan Ir. C.W. Koch sebagai arsitek utama stasiun.[4]

Untuk mempersiapkan pembangunan stasiun, SS membuat model maket Stasiun Tanjung Priuk baru. Maket ini muncul pada buku peringatan hari ulang tahun ke-50 SS karya S.A. Reitsma.[5] SS kemudian mengontrak sebuah perusahaan baja bernama Machinefabriek Braat Soerabaia-Djokja-Tegal yang berlokasi di Ngagel, Surabaya untuk membuatkan kerangka atap overcapping-nya.[6] Pada masa itu, Gubernur Jenderal yang berkuasa adalah A.F.W. Idenburg (1909-1916). Diperlukan sekitar 1.700 tenaga kerja dengan 130 di antaranya adalah pekerja berbangsa Eropa.[4]

Stasiun baru ini, dibuka untuk umum pada 6 April 1925 yang bertepatan dengan peluncuran pertama KRL rute Priok–Meester Cornelis (Jatinegara). Peluncuran pertama itu sekaligus dilakukan untuk memperingati hari ulang tahun SS yang ke-50.[5] Bangunan stasiun bergaya Art Deco serta memiliki luas 3678 m2 (0,3678 ha), berdiri di atas lahan emplasemen yang luasnya 46930 m2 (4,693 ha).[7]

 
Stasiun Tanjung Priuk pada tahun 1950-an

Dengan selesainya stasiun ini, timbul "pemborosan" yang dilakukan oleh SS. Dengan delapan jalur dan lima peron, stasiun ini sangat besar dan terhitung 1929 stasiun ini nyaris sebesar Station Batavia-benedenstad yang kini berubah menjadi Stasiun Jakarta Kota. Sayangnya kapal-kapal yang sandar di Pelabuhan Tanjung Priok tidak menggiring penumpang ke stasiun ini. Stasiun ini kelak hanya menjadi terminus bagi KRL sejak tahun 1925.[8]

Stasiun ini juga dilengkapi penginapan sementara di sayap kiri bangunan bagi penumpang yang akan melanjutkan perjalanan dengan kapal. Dengan dibukanya Bandara Kemayoran yang melayani penerbangan umum, SS mengalami tantangan berat mengingat banyak penumpang yang beralih ke pesawat terbang. Letak Stasiun Tanjung Priuk yang jauh dari pelabuhan membuat penumpang menjadi enggan menggunakan kereta api, meski bus feeder telah tersedia.[4] Perang Dunia II telah memberikan dampak yang cukup besar bagi operasional kereta api SS. Pada zaman pendudukan Jepang di Indonesia, stasiun ini diutamakan untuk kepentingan perang dan mengirim para romusha keluar Jawa.[4]

Keadaan terkiniSunting

 
Emplasemen Stasiun Tanjung Priuk, dengan lokomotif BB 306 84 06 (BB 306 08) yang sedang dipanaskan

Di tengah hiruk pikuk pelabuhan, kondisi bangunan stasiun menjadi semakin tidak terawat menjelang abad ke-21. Meskipun demikian, keanggunan bangunan dengan gaya neoklasik, art deco, dan kontemporer ini telah membuktikan bahwa pada abad ke-20, stasiun ini berjaya pada masanya. Memang, pada saat itu PT Kereta Api pada awal Januari 2000 telah menonaktifkan stasiun untuk pelayanan penumpang. Atap bangunan sudah lepas; kaca-kacanya banyak yang pecah dan kerangkanya banyak yang karatan termakan usia. Peron stasiun dan emplasemennya banyak dihuni kaum tunawisma. Untuk "menambal" pendapatan yang bocor karena penumpang gelap dan kerugian akibat minimnya pemasukan dana dari karcis peron, PT Kereta Api mengontrakkan ruangan stasiunnya sebagai gudang ekspedisi, agen tiket, dan jasa penukaran uang.[4]

Prihatin dengan kondisi ini, PT Kereta Api memutuskan untuk merenovasi total stasiun. Persiapan dilakukan pada bulan November-Desember 2008 dengan dilaksanakannya renovasi besar-besaran terhadap fisik bangunan stasiun. Selanjutnya, proyek diteruskan dengan rehabilitasi fasilitas rel serta pembangunan perangkat sinyal elektrik pada awal tahun 2009. Pada tanggal 28 April 2009, stasiun ini dapat kembali difungsikan dan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersamaan dengan peresmian Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.[9][10][11]

Bangunan dan tata letakSunting

 
Hall stasiun dan loket

Stasiun ini memiliki delapan jalur kereta api dengan jalur 2 sebagai sepur lurus ke arah Jakarta Kota, jalur 3 sebagai sepur lurus dari arah Jakarta Kota, jalur 6 sebagai sepur lurus ke arah Rajawali-Pasar Senen-Jatinegara, dan jalur 7 sebagai sepur lurus dari arah Jatinegara-Pasar Senen-Rajawali. Di sayap barat laut emplasemen stasiun ini terdapat percabangan jalur menuju pelabuhan tersebut.

Meski stasiun ini bukan stasiun pusat, stasiun ini cukup modern karena menggunakan kerangka overcapping berbentuk busur yang memayungi enam jalur kereta api. Struktur baja menjadi umum pada stasiun-stasiun Eropa abad ke-20 kala itu. Jendela berupa garis-garis yang terdiri dari lis profil atap horizontal dan lubang cornice, garis-garis vertikal, dan lekukan dinding, memberikan kesan anggun. Kaca patri dan ornamen profil keramik memberikan efek megah dan diperkuat dengan kolom-kolom besar dan kukuh pada beranda utama serta didukung tangga di sepanjang bangunan[4]

Pada budaya populerSunting

Stasiun Tanjung Priuk kerap dijadikan lokasi syuting video musik, film, sinetron, dan iklan.[12] Contoh lagu yang video musiknya pernah menggunakan lokasi syuting di stasiun ini antara lain, "Menunggumu" yang dinyanyikan oleh Chrisye featuring Peterpan, "Ku Tetap Menanti" ciptaan Eka Gustiwana yang dinyanyikan oleh Nikita Willy, dan "Dengan Nafasmu" karya Ungu.[13]

Larangan fotografiSunting

Sejak banyaknya komersialisasi Stasiun Tanjung Priuk melalui syuting iklan, acara televisi, dan video musik, stasiun ini kini menjadi tempat yang sangat ketat bagi fotografer pemula maupun yang sudah berpengalaman karena tempat ini terlarang sebagai area memotret, padahal sama sekali tidak ada rambu-rambu larangan memotret di stasiun. Alasan status cagar budaya dari stasiun ini "tidak pernah diterapkan" di situs lain yang dikelola oleh pemerintah daerah maupun BPCB.[14] Mengambil kamera SLR (termasuk juga DSLR dan mirrorless) maupun kamera digital saku dalam beberapa kesempatan dapat terkena peringatan oleh petugas keamanan. Sejak berlakunya aturan baru memotret di stasiun KRL Commuter Line, hanya kamera ponsel, kamera saku, SLR, dan kamera aksi (GoPro) yang diperbolehkan digunakan untuk memotret stasiun.[15]

Layanan kereta apiSunting

Sejak dibukanya stasiun ini, stasiun ini pada saat itu melayani kereta ekonomi jarak jauh, lokal Cikampek dan lokal Purwakarta. Sebelumnya, KRL Ekonomi/Commuter Line rute Tanjung Priuk–Bekasi pp sempat mengawali dan mengakhiri perjalanannya di stasiun ini, sebagai KRL feeder. Per 1 November 2014 semua kereta api yang tadinya berangkat dari stasiun ini dipindahkan ke Stasiun Pasar Senen. Alasannya, Stasiun Tanjung Priuk direncanakan akan dijadikan stasiun barang.[16] Mulai 9 Februari 2017 perjalanan KA Lokal Purwakarta dan KA Lokal Cikampek dari yang sebelumnya beterminus di Stasiun Jakarta Kota dialihkan kembali ke Stasiun Tanjung Priuk.[17] Mulai 1 Januari 2021 semua perjalanan KA lokal di Stasiun Tanjung Priuk (KA Walahar Ekspres/Lokal Purwakarta dan KA Jatiluhur/Lokal Cikampek) dipindahkan ke Stasiun Cikarang dan kepemilikan sarananya dialihkan ke Depo Kereta Bandung (BD).

Selain melayani KRL dan KA barang, Stasiun Tanjung Priuk juga dijadikan tempat parkir untuk kereta api Kertajaya, Tawang Jaya dan Jayakarta; ketiganya merupakan KA penumpang rangkaian panjang yang terdiri dari 15-16 kereta dalam satu rangkaiannya.

PenumpangSunting

KRL Commuter LineSunting

TP Tanjung Priok Line, dari dan tujuan Jakarta Kota via Kampung Bandan

BarangSunting

Angkutan peti kemas/kontainer, dari dan tujuan Surabaya atau Bandung

Antarmoda pendukungSunting

Stasiun kereta api di DKI Jakarta
   
Tanjung Priuk TP      
       
Ancol
Jakarta Gudang
           
C B TP           Jakarta Kota
           
Kampung Bandan        
         
Jayakarta
     
Rajawali
Mangga Besar
     
Sawah Besar
     
Kemayoran
                Juanda
     
L Angke
     
T A Duri
     
Gambir          
Gondangdia
       
R Tanah Abang
       
Cikini
Karet
         
Pasar Senen                
            M A Sudirman
         
Gang Sentiong
Mampang
         
Kramat
    A   Manggarai
       
Pondok Jati  
    Grogol
       
 
 
 
Matraman
        Pesing
       
Palmerah
      T Taman Kota
       
Kebayoran     R
Bojong Indah
       
ke Serpong/Rangkasbitung/Merak
Rawa Buaya
     
Jatinegara L                  
Kalideres
     
Cipinang
ke Tangerang
     
Klender
Depo KRL Bukit Duri
     
Buaran B  
Tebet
   
Klender Baru
CB BK             Cawang
   
Cakung
Duren Kalibata
   
ke Bekasi/Cikarang/Cikampek
 
Pasar Minggu Baru
 
Pasar Minggu C L  
 
Tanjung Barat
 
Lenteng Agung
 
Univ. Pancasila
 
ke Depok/Bogor/Nambo
Jenis angkutan umum Trayek Tujuan
MetroMini[18] 23 Tanjung Priok–Cilincing
24 Tanjung Priok–Senen
41 Tanjung Priok–Pulo Gadung
Mikrolet[19] JU02 Tanjung Priok–Pasar Embrio
JU03 Tanjung Priok–Rawa Badak Utara
JU03 Tanjung Priok–Sunter Agung
M14 Tanjung Priok–Cilincing (via Jampea)
M15 Tanjung Priok–Stasiun Jakarta Kota (via Kampung Bandan Raya)
M15A Tanjung Priok–Stasiun Jakarta Kota (via Gunung Sahari-Mangga Dua Raya)
M30A Tanjung Priok–Terminal Pulo Gadung
M49 Tanjung Priok–Sunter Agung
Koperasi Wahana Kalpika (KWK)[19] U01 Tanjung Priok–Terminal Pulo Gebang (via Cakung-Cilincing)
U01A Tanjung Priok–Terminal Pulo Gebang (via Tipar Cakung)
U05 Tanjung Priok–Cilincing (via Lagoa)
U06 Tanjung Priok–Rawa Badak Selatan
U08 Tanjung Priok–Semper Barat
U09 Tanjung Priok–Lagoa
Transjabodetabek AC25 (Mayasari Bakti) Tanjung Priok-Bekasi
AC42 (Mayasari Bakti) Tanjung Priok-Cileungsi
x1 (Kramat Djati) Tanjung Priok-Bogor
x2 (Kosub Bersama) Tanjung Priok-Cibinong
Mayasari Bakti P14 Stasiun Tanah Abang–Tanjung Priok
Transjakarta   Tanjung Priok–PGC 2
  (10D) Tanjung Priok–Kampung Rambutan
  (10H) Tanjung Priok–Blok M
10A (MetroTrans) Tanjung Priok–Rusun Marunda
10C (MetroTrans) Tanjung Priok–Pelabuhan Tanjung Priok
10K (MetroTrans) Tanjung Priok–Senen
JAK 1 (Jak Lingko) Tanjung Priok–Kebon Bawang
JAK 15 (Jak Lingko) Tanjung Priok–Segaramakmur
JAK 29 (Jak Lingko) Tanjung Priok–Rusun Sukapura
JAK 77 (Jak Lingko) Tanjung Priok–Sunter Agung
DAMRI Tanjung Priok–Bandara Soekarno-Hatta[20]

GaleriSunting

ReferensiSunting

KutipanSunting

  1. ^ Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero). 
  2. ^ Buku Informasi Direktorat Jenderal Perkeretaapian 2014 (PDF). Jakarta: Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Indonesia. 
  3. ^ Perquin, B.L.M.C. (1921). Nederlandsch Indische staatsspooren tramwegen. Bureau Industria. 
  4. ^ a b c d e f g Murti Hariyadi, Ibnu; Basir, Ekawati; Pratiwi, Mungki Indriati; Ubaidi, Ella; Sukmono, Edi (2016). Arsitektur Bangunan Stasiun Kereta Api di Indonesia. Jakarta: PT Kereta Api Indonesia (Persero). hlm. 15–24. ISBN 978-602-18839-3-8. 
  5. ^ a b Reitsma, S.A. (1925). Boekoe peringetan dari Staatsspoor-en-Tramwegen di Hindia Belanda. Weltevreden: Topografische Inrichting. 
  6. ^ Sleeswijk, Wegener (1929). "Uitbreiding van de Spoorwegen in en om Batavia en Tandjong Priok". de Ingenieur. 1 (2): 1–12. 
  7. ^ Widayanti & Widyarsih 2012, hlm. 9.
  8. ^ "Majalah KA", Majalah KA, Agustus 2014 
  9. ^ "Cita-cita, Bikin Statiun Pintar KA". www.jpnn.com. 2009-04-28. Diakses tanggal 2019-10-07. 
  10. ^ "Presiden: Tata Lahan Sepanjang Rel KA". Gatra. 28 April 2009. Diakses tanggal 2019-10-07. 
  11. ^ Mediatama, Grahanusa (2009-04-28). "Presiden Resmikan Terminal Tiga Soekarno Hatta dan Rehabilitasi Stasiun Tanjung Priuk". kontan.co.id. Diakses tanggal 2019-10-07. 
  12. ^ Alsadad, R. (2013-07-28). "Menanti "Stasiun Eropa" Bantu Atasi Macetnya Tanjung Priok". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2018-12-26. 
  13. ^ "Ungu Syuting Video Klip Album Religi Ketiga". liputan6.com. Diakses tanggal 2018-12-26. 
  14. ^ Api, Gerakan Muda Penggemar Kereta (2016-09-28). "[Opini] 71 Tahun KAI, Mau Dibawa Ke Mana?". Railway Enthusiast Digest. Diakses tanggal 2019-02-05. 
  15. ^ Adhari, F. (2017-03-31). "Jangan Takut Diciduk, Kini Stasiun Aman Untuk Kegiatan Fotografi!". KAORI Nusantara (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-02-05. 
  16. ^ Rachman, Taufik (13 November 2014), "Stasiun Tanjung Priok Fokus Kereta Barang", Republika 
  17. ^ BeritaSatu.com. "KAI Daop 1 Jakarta Ubah Dua Relasi KA Lokal". beritasatu.com. Diakses tanggal 2019-10-07. 
  18. ^ "Rute Metro Mini dan Kopaja di Jakarta". e-transportasi. Diakses tanggal 2018-06-27. 
  19. ^ a b "Mikrolet – TransportUmum – Jakarta". www.transportumum.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-06-27. 
  20. ^ "Jadwal Bus Damri Dari Dan Ke Bandara Soekarno Hatta Jakarta". BusBandara.com (dalam bahasa Inggris). 2014-12-13. Diakses tanggal 2018-06-27. 

Daftar pustakaSunting

Pranala luarSunting

(Indonesia) Situs resmi KAI Commuter dan jadwal KRL

Stasiun sebelumnya   Lintas Kereta Api Indonesia Stasiun berikutnya
Ancol
ke arah Jakarta Kota
Lintas Jakarta
Jakarta Kota–Tanjung Priuk
Terminus
Terminus Lintas Jakarta
Tanjung Priuk–JICT
Pasoso
ke arah JICT