Kota Yogyakarta

ibu kota Provinsi D.I Yogyakarta, Indonesia
(Dialihkan dari Yogyakarta (kota))

Kota Yogyakarta (bahasa Jawa: ꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂꦠ, translit. Ngayogyakarta, pengucapan bahasa Jawa: [kuʈɔ ŋajogjɔˈkart̪ɔ]) atau dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Kota Jogja atau Kota Yogya adalah ibu kota dan pusat pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Kota ini adalah kota besar yang mempertahankan konsep tradisional dan budaya Jawa. Kota Yogyakarta adalah kediaman bagi Sultan Hamengkubuwana dan Adipati Paku Alam. Kota Yogyakarta merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia dan kota terbesar keempat di wilayah Pulau Jawa bagian selatan menurut jumlah penduduk.

Kota Yogyakarta
  • Yogya
  • Jogja
Transkripsi bahasa daerah
 • Hanacarakaꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂꦠ
Lambang resmi Kota Yogyakarta
Etimologi: Ayodhya + Karta
Julukan: 
  • Kota Perjuangan
  • Kota Pelajar
  • Kota Gudeg
  • Kota Wisata
  • Kota Murah Meriah
  • Kota Berhati Nyaman
Motto: 
ꦩꦁꦲꦪꦸ​ꦲꦪꦸꦤꦶꦁ​​ꦧꦮꦤ
Mangayu hayuning bawana
Memperindah keindahan dunia
Peta
Kota Yogyakarta di Jawa
Kota Yogyakarta
Kota Yogyakarta
Peta
Kota Yogyakarta di Indonesia
Kota Yogyakarta
Kota Yogyakarta
Kota Yogyakarta (Indonesia)
Koordinat: 7°48′5″S 110°21′52″E / 7.80139°S 110.36444°E / -7.80139; 110.36444
Negara Indonesia
ProvinsiDaerah Istimewa Yogyakarta
Tanggal berdiri7 Oktober 1756 (umur 265)
Jumlah satuan pemerintahan
Daftar
  • Kemantren: 14
  • Kelurahan: 45
Pemerintahan
 • Wali KotaSumadi (Plt.)
 • Wakil Wali Kotalowong
Luas
 • Total32,5 km2 (12,5 sq mi)
Populasi
 • Total415.509
 • Kepadatan12.784/km2 (33,110/sq mi)
Demografi
 • AgamaIslam 83,40%
Kristen 16,19%
Katolik 9,89%
Protestan 6,30%
Buddha 0,28%
Hindu 0,12%
Lainnya 0,01%[2]
 • BahasaBahasa Indonesia, Jawa
 • IPMKenaikan 87,18 (2021)
Sangat Tinggi[3]
Zona waktuUTC+07:00 (WIB)
Kode area telepon+62 274
Pelat kendaraanAB xxxx A*/F*/H*/I*/S*
Kode Kemendagri34.71 Edit the value on Wikidata
Kode SNI 7657-2010YYK
DAURp 691.457.574.000,00 (2019)[4]
Semboyan daerah"Berhati Nyaman"
("Bersih, Sehat, Indah, dan Nyaman")
Flora resmiKelapa gading[5]
Fauna resmiTekukur biasa[5]
Situs webwww.jogjakota.go.id

Salah satu kecamatan di Yogyakarta, yaitu Kotagede pernah menjadi pusat Kesultanan Mataram antara kurun tahun 1575–1640. Keraton (Istana) yang masih berfungsi dalam arti yang sesungguhnya adalah Keraton Ngayogyakarta dan Puro Paku Alaman, yang merupakan pecahan dari Kesultanan Mataram. Pada masa revolusi, Yogyakarta juga pernah menjadi ibu kota Indonesia antara tahun 1946 hingga 1950.

EtimologiSunting

Nama Yogyakarta terambil dari dua kata, yaitu Ayogya atau Ayodhya yang berarti "kedamaian" (atau tanpa perang, a "tidak", yogya merujuk pada yodya atau yudha, yang berarti "perang"), dan Karta yang berarti "baik". Ayodhya merupakan kota yang bersejarah di India di mana wiracarita Ramayana terjadi. Tapak keraton Yogyakarta sendiri menurut babad (misalnya Babad Giyanti) dan leluri (riwayat oral) telah berupa sebuah dalem yang bernama Dalem Gerjiwati; lalu dinamakan ulang oleh Sunan Pakubuwana II sebagai Dalem Ayogya.[6]

Pusaka dan Identitas DaerahSunting

Tombak Kyai Wijoyo MuktiSunting

Tombak Kyai Wijoyo Mukti merupakan pusaka pemberian Raja Kraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X. Tombak ini dibuat tahun 1921 semasa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Senjata yang sering dipergunakan para prajurit ini mempunyai panjang 3 meter. Tombak dengan pamor wos wutah wengkon dengan dhapur kudhuping gambir ini, landeannya sepanjang 2,5 meter terbuat dari kayu walikun, yakni jenis kayu yang sudah lazim digunakan untuk gagang tombak dan sudah teruji kekerasan dan keliatannya.

Sebelumnya tombak ini disimpan di bangsal Pracimosono dan sebelum diserahkan terlebih dahulu dijamasi oleh KRT. Hastono Negoro, di dalem Yudonegaran. Pemberian nama Wijoyo Mukti baru dilakukan bebarapa hari menjelang upacara penyerahan ke Pemkot Yogyakarta, pada peringatan hari ulang tahun ke-53 Pemerintah kota Yogyakarta tanggal 7 Juni 2000. Upacara penyerahan dilakukan di halaman Balaikota dan pusaka ini dikawal khusus oleh prajurit Kraton ”Bregodo Prajurit Mantrijero”.

Tombak Kyai Wijoyo Mukti melambangkan kondisi Wijoyo Wijayanti. Artinya, kemenangan sejati pada masa depan, di mana seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan kesenangan lahir bathin karena tercapainya tingkat kesejahteraan yang benar-benar merata.

SejarahSunting

Masa awalSunting

Berdirinya kota Yogyakarta tidak lepas dari Perjanjian Giyanti pada Tanggal 13 Februari 1755 yang ditandatangani Kompeni Belanda di bawah tanda tangan Gubernur Nicholas Hartingh atas nama Gubernur Jendral Jacob Mossel. Perjanjian tersebut berisi tentang pembagian wilayah Kesultanan Mataram, yang dimana setengah dari wilayah Mataram masih menjadi milik Kerajaan Surakarta yang kala itu dipimpin oleh Pakubuwono III, dan setengah lagi menjadi Hak Pangeran Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi pun diakui menjadi Raja pada wilayah tersebut dengan Gelar Sri Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalaga Abdul Rahman Sayidin Panatagama Khalifatullah. Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I segera menetapkan bahwa Daerah Mataram yang ada di dalam kekuasaannya itu diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan beribukota di Ngayogyakarta (Yogyakarta), sebulan setelah penandatanganan Perjanjian Giyanti. [7]

Pangeran Mangkubumi memilih wilayah Hutan Beringin, dimana di wilayah tersebut terdapat sebuah desa bernama Pachetokan dan Pesanggrahan Gerjiwati yang dibuat oleh Pakubuwono II. Pangeran Mangkubumi pun mengubah nama wilayah tersebut menjadi Ayodya. Setelah perubahan nama tersebut, Pangeran Mangkubumi segera memerintahkan kepada rakyat membabad hutan tadi untuk didirikan Kraton. Kraton tersebut didirikan di suatu kawasan di antara Sungai Winongo dan Sungai Code. Lokasi tersebut dinilai strategis dari sisi pertanahan dan keamanan. Pemerintahan sementara dipusatkan di daerah Gamping Sebelum pembangunan kraton tersebut selesai.[7]

Pada tanggal 7 Oktober 1756, bangunan kraton selesai dibangun, sekaligus menjadi tanggal pemindahan pusat pemerintahan dari Gamping ke kraton baru, yang kelak bernama Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Peristiwa pemindahan pusat pemerintahan Kesultanan Yogyakarta tersebut diperingati sebagai hari ulang tahun kota Yogyakarta, sampai saat ini.[7]

Masa Pra-KemerdekaanSunting

Setelah Kesultanan Yogyakarta berkembang, dibuat kesepakatan birokrasi antara Belanda dengan Keraton. Kesepakatan tersebut menghasilkan Residen dan Patih untuk menjembatani birokrasi tersebut. Fungsinya adalah sebagaimana kedutaan besar sekarang. Diantara keduanya, perlu menguasai bahasa Jawa dan Belanda. Danureja I dipilih sebagai Patih pertama untuk tugas di Pemerintahan Hindia-Belanda dan J.M. van Rhijn sebagai Residen pertama untuk Yogyakarta. [8]

Pada tahun 1813, wilayah Yogyakarta kembali terpecah. Kali ini, atas bantuan Inggris berdiri sebuah kadipaten bernama Kadipaten Pakualaman yang didirikan didirikan oleh Pangeran Notokusumo yang merupakan saudara dari Hamengkubuwono II. Notokusumo kemudian bergelar Adipati Paku Alam I. Baik Kasultanan maupun Pakualaman, diakui oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai kerajaan dengan hak mengatur rumah tangga sendiri. [9]

Masa KemerdekaanSunting

Yogyakarta menjadi ibu kota Indonesia pada tahun 1946 hingga 1948, dilatarbelakangi oleh situasi keamanan ibu kota Jakarta (saat itu masih disebut Batavia) yang memburuk dengan terjadinya saling serang antara kelompok pro-kemerdekaan dan kelompok pro-Belanda. Alhasil, Presiden Soekarno memberikan perintah rahasia kepada Balai Yasa Manggarai untuk segera menyiapkan rangkaian kereta api demi menyelamatkan para petinggi negara. Pada tanggal 3 Januari 1946 diputuskan bahwa Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta beserta beberapa menteri/staf dan keluarganya meninggalkan Jakarta dan pindah ke Yogyakarta sekaligus pula memindahkan ibu kota.

Setahun kemudian, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1947 pasal I menyatakan status Kota Praja Yogyakarta. Pasal tersebut menyebutkan bahwa Kabupaten Kota Yogyakarta yang meliputi wilayah Kasultanan dan Pakualaman serta beberapa daerah dari Kabupaten Bantul yang sekarang menjadi Kecamatan Kotagede dan Umbulharjo ditetapkan sebagai daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. [7]

Untuk melaksanakan otonomi tersebut, pemerintah mengangkat M. Enoch sebagai walikota pertama. Pada awalnya, walikota mengalami kesulitan karena wilayah tersebut masih merupakan bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan statusnya belum dilepas. Hal itu semakin nyata dengan adanya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, di mana Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Tingkat I dan Kotapraja Yogyakarta sebagai Tingkat II yang menjadi bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta. [7]

Masa setelah KemerdekaanSunting

Di era walikota Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo, Yogyakarta memiliki Badan Pemerintah Harian dan Badan Legislatif yang bernama DPR-GR dengan anggota 25 orang, dimana badan tersebut dipimpin pula oleh walikota. DPRD Kota Yogyakarta baru dibentuk pada tanggal 5 Mei 1958 dengan anggota 20 orang sebagai hasil Pemilu 1955. [7]

Dengan kembali ke UUD 1945 melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959, maka Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957 diganti dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965 tentang pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. Undang-undang tersebut mengatur pemisajan tugas Kepala Daerah dan DPRD, serta pembentukan Wakil Kepala Daerah dan badan Pemerintah Harian. sebutan Kota Praja Yogyakarta diganti dengan Kotamadya Yogyakarta. [7]

Masa kiniSunting

pada tahun 1999, terbitlah Undang-undang nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang mengatur kewenangan Daerah menyelenggarakan otonomi daerah secara luas, nyata dan bertanggung jawab. Dengan berlakunya undang-undang tersebut, sebutan untuk Kotamadya Daerah Tingkat II Yogyakarta diubah menjadi Kota Yogyakarta, sedangkan untuk pemerintahannya disebut denan Pemerintahan Kota Yogyakarta dengan Walikota Yogyakarta sebagai Kepala Daerahnya. [7]

GeografiSunting

 
Lokasi Kota Yogyakarta di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kota Yogyakarta terletak di lembah tiga sungai, yaitu Sungai Winongo, Sungai Code (yang membelah kota dan kebudayaan menjadi dua), dan Sungai Gajahwong. Kota ini terletak pada jarak 600 KM dari Jakarta, 116 KM dari Semarang, dan 65 KM dari Surakarta, pada jalur persimpangan Bandung – Semarang – Surabaya – Pacitan. Kota ini memiliki ketinggian sekitar 112 m dpl.

Meski terletak di lembah, kota ini jarang mengalami banjir karena sistem drainase yang tertata rapi yang dibangun oleh pemerintah kolonial, ditambah dengan giatnya penambahan saluran air yang dikerjakan oleh Pemkot Yogyakarta.

Batas WilayahSunting

Kota Yogyakarta telah terintegrasi dengan sejumlah kawasan di sekitarnya, sehingga batas-batas administrasi sudah tidak terlalu menonjol. Untuk menjaga keberlangsungan pengembangan kawasan ini, dibentuklah sekretariat bersama Kartamantul (Yogyakarta, Sleman, dan Bantul) yang mengurusi semua hal yang berkaitan dengan kawasan aglomerasi Yogyakarta dan daerah-daerah penyangga (Depok, Mlati, Gamping, Kasihan, Sewon, dan Banguntapan).

Adapun batas-batas administratif Yogyakarta adalah:

Utara Kabupaten Sleman
Timur Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul
Selatan Kabupaten Bantul
Barat Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul

Iklim & CuacaSunting

Kota Yogyakarta memiliki iklim yang sama dengan wilayah lain di Indonesia yaitu beriklim tropis, dengan tipe iklim muson tropis (Am). Angin muson timur–tenggara yang bersifat kering dan dingin menyebabkan musim kemarau di wilayah kota Yogyakarta dan angin muson ini berlangsung pada periode Mei hingga Oktober. Sementara itu, angin muson barat–barat daya yang bersifat lembab dan membawa banyak uap air menyebabkan musim penghujan di wilayah kota Yogyakarta dan angin muson ini bertiup pada periode November hingga April. Rata-rata curah hujan di wilayah kota Yogyakarta adalah ±2012 milimeter per tahun dengan jumlah hari hujan berkisar antara 100–150 hari hujan per tahunnya. Tingkat kelembapan rata-rata per tahun di wilayah ini adalah ±77%.[10]

Data iklim Kota Yogyakarta, DIY, Indonesia
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rekor tertinggi °C (°F) 33.6
(92.5)
34.2
(93.6)
34.7
(94.5)
35.3
(95.5)
34.1
(93.4)
34.3
(93.7)
34.3
(93.7)
35.4
(95.7)
36.8
(98.2)
37.9
(100.2)
37.7
(99.9)
34.6
(94.3)
37.9
(100.2)
Rata-rata tertinggi °C (°F) 29.8
(85.6)
30.2
(86.4)
30.4
(86.7)
31.3
(88.3)
31.1
(88)
31
(88)
30.3
(86.5)
30.7
(87.3)
31.2
(88.2)
31.4
(88.5)
30.7
(87.3)
30.1
(86.2)
30.68
(87.25)
Rata-rata harian °C (°F) 26.3
(79.3)
26.5
(79.7)
26.6
(79.9)
27.1
(80.8)
26.9
(80.4)
26.2
(79.2)
25.4
(77.7)
25.6
(78.1)
26.4
(79.5)
27
(81)
26.8
(80.2)
26.5
(79.7)
26.44
(79.63)
Rata-rata terendah °C (°F) 22.8
(73)
22.8
(73)
22.9
(73.2)
23
(73)
22.7
(72.9)
21.5
(70.7)
20.5
(68.9)
20.7
(69.3)
21.7
(71.1)
22.7
(72.9)
23
(73)
22.9
(73.2)
22.27
(72.02)
Rekor terendah °C (°F) 20.4
(68.7)
20.3
(68.5)
18.3
(64.9)
19.8
(67.6)
18.1
(64.6)
16.4
(61.5)
16.3
(61.3)
17.4
(63.3)
17.9
(64.2)
18.5
(65.3)
19.9
(67.8)
20.1
(68.2)
16.3
(61.3)
Presipitasi mm (inci) 345
(13.58)
363
(14.29)
300
(11.81)
183
(7.2)
86
(3.39)
56
(2.2)
25
(0.98)
17
(0.67)
29
(1.14)
110
(4.33)
226
(8.9)
342
(13.46)
2.082
(81,95)
Rata-rata hari hujan 22 21 19 16 9 6 2 1 2 10 17 20 145
% kelembapan 84 83 81 78 77 74 71 69 73 75 77 82 77
Rata-rata sinar matahari bulanan 155 168 186 209 217 221 248 256 224 227 195 189 2.495
Sumber #1: Climate-Data.org[11] & BMKG[12]
Sumber #2: Weatherbase & WeatherAtlas[13][14]

PemerintahanSunting

Daftar Wali KotaSunting

Wali Kota Yogyakarta (bahasa Jawa: ꦮꦭꦶꦏꦸꦛ​ꦔꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂꦠ, translit. Walikutha Ngayogyakarta) adalah pemimpin tertinggi di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta. Wali kota Yogyakarta bertanggungjawab kepada Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Saat ini, wali kota atau kepala daerah yang menjabat di Kota Yogyakarta adalah Sumadi, yang ditunjuk menjadi pelaksana tugas wali kota Yogyakarta sejak 22 Mei 2022, menggantikan wali kota sebelumnya, Haryadi Suyuti yang telah menjabat selama dua periode jabatan. Sedangkan jabatan wakil wali kota dikosongkan hingga Pemilihan Kepala Daerah Serentak 2024.


No. Wali Kota Bertugas Wakil Wali Kota Ref.
Mulai Menjabat Akhir Menjabat
1   M. Enoch Mei 1947 Juli 1947
2   Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo Juli 1947 Januari 1966
3   Soedjono A. Y. Januari 1966 November 1975
4   H. Ahmad November 1975 Mei 1981
5   Soegiarto 1981 1986
6   Djatmikanto Danumartono 1986 1991
7   R. Widagdo 1991 1996
1996 2001
8   Herry Zudianto 2001 2006 Syukri Fadholi
2006 2011 Haryadi Suyuti
9   Haryadi Suyuti 20 Desember 2011 20 Desember 2016 Imam Priyono
Sulistyo
(Pelaksana tugas)
20 Desember 2016 22 Mei 2017
(9)   Haryadi Suyuti 22 Mei 2017 22 Mei 2022 Heroe Poerwadi
Sumadi (Pelaksana tugas) 22 Mei 2022 petahana jabatan lowong hingga Pemilihan Wali Kota 2024


Dewan PerwakilanSunting

 
Telepon penting Kota Yogyakarta (klik gambar untuk memperbesar)

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kota Yogyakarta dalam tiga periode terakhir.

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2009–2014 2014–2019 2019–2024
  Gerindra (baru) 2   5   5
  PDI-P 11   15   13
  Golkar 5   5   4
  NasDem (baru) 1   4
  PKS 5   4   5
  PPP 2   4   1
  PAN 5   5   6
  Demokrat 10   1   2
Jumlah Anggota 40   40   40
Jumlah Partai 7   8   8


KemantrenSunting

Kota Yogyakarta memiliki 14 Kemantren dan 45 Kelurahan. Pada tahun 2017, jumlah penduduk mencapai 410.262 jiwa yang tersebar di wilayah seluas 32,50 km² dengan tingkat kepadatan penduduk 12.623 jiwa/km².[15][16]

Daftar kecamatan dan kelurahan di Kota Yogyakarta, adalah sebagai berikut:

Kode
Kemendagri
Kêmantrèn Hanacaraka Transliterasi Jumlah
Kelurahan
Daftar
Kelurahan
34.71.04 Danurejan ꦢꦤꦸꦸꦉꦗꦤ꧀ Danurĕjan 3
34.71.05 Gedongtengen ꦒꦼꦝꦺꦴꦁꦠꦼꦔꦼꦤ꧀ Gĕḍongtĕngĕn 2
34.71.03 Gondokusuman ꦒꦤ꧀ꦢꦏꦸꦱꦸꦩꦤ꧀ Gåndåkusuman 5
34.71.10 Gondomanan ꦒꦤ꧀ꦢꦩꦤꦤ꧀ Gåndåmanan 2
34.71.02 Jetis ꦗꦼꦛꦶꦱ꧀ Jĕṭis 3
34.71.14 Kotagede ꦏꦸꦛꦒꦼꦝꦺ Kuṭagĕdhé 3
34.71.09 Kraton ꦏꦫꦠꦺꦴꦤ꧀ Karaton 3
34.71.08 Mantrijeron ꦩꦤ꧀ꦠꦿꦶꦗꦼꦫꦺꦴꦤ꧀ Mantrijĕron 3
34.71.12 Mergangsan ꦩꦼꦂꦒꦁꦱꦤ꧀ Mĕrgangsan 3
34.71.06 Ngampilan ꦔꦩ꧀ꦥꦶꦭ꧀ꦭꦤ꧀ Ngampilan 2
34.71.11 Pakualaman ꦥꦏꦸꦮꦭꦩ꧀ꦩꦤ꧀ Pakualaman 2
34.71.01 Tegalrejo ꦠꦼꦒꦭ꧀ꦉꦗ Tĕgalrĕjå 4
34.71.13 Umbulharjo ꦈꦩ꧀ꦧꦸꦭ꧀ꦲꦂꦗ Umbulharjå 7
34.71.07 Wirobrajan ꦮꦶꦫꦧꦿꦗꦤ꧀ Wiråbrajan 3
TOTAL 45


DemografiSunting

KependudukanSunting

Jumlah penduduk kota Yogyakarta, berdasar Sensus Penduduk 2010[17]., berjumlah 388.088 jiwa, dengan proporsi laki-laki dan perempuan yang hampir setara. Sementara tahun 2021 jumlah penduduk kota ini bertambah menjadi 415.509 jiwa dengan kepadatan 12.784 jiwa/km².[2]

Kepadatan penduduk tertinggi di kota Yogyakarta terdapat di Kemantren Ngampilan dengan kepadatan 18.729 jiwa/km², sedangkan kepadatan penduduk terendah terdapat di Kemantren Umbulharjo dengan kepadatan 8.395 jiwa/km².[1]

Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar, karena hampir 20% penduduk produktifnya adalah pelajar dan terdapat 137 perguruan tinggi. Kota ini diwarnai dinamika pelajar dan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Perguruan tinggi yang dimiliki oleh pemerintah adalah Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dan Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta yang secara administratif berada di wilayah Sleman dan Bantul. Menariknya, seluruh perguruan tinggi negeri tersebut tetap menggunakan nama "Yogyakarta" dalam hal surat-menyurat dan tugas akhir, meskipun terletak di luar wilayah kota Yogyakarta.

AgamaSunting

Islam merupakan agama mayoritas yang dianut masyarakat kota Yogyakarta 83,40%, dengan jumlah penganut Kristen yang relatif signifikan (Katolik 9,89% dan Protestan 6,30%). Sebagian kecil lagi adalah pemeluk agama Buddha yakni 0,28%, Hindu 0,12% dan Konghucu 0,01%.[2] Seperti kebanyakan dari Islam kebanyakan di kota-kota pedalaman Jawa, mayoritas masih mempertahankan tradisi Kejawen yang cukup kuat.

Sejak awal berdirinya, Yogyakarta sudah menjadi kota majemuk yang dihuni oleh beberapa etnis dan agama. Tercatat beberapa tempat ibadah yang sudah berdiri sejak dahulu, seperti Masjid Gede Kauman, Masjid Syuhada, Masjid Mataram Kotagede, Gereja HKBP, Gereja Kotabaru, Kelenteng Tjen Ling Kiong, dan Kelenteng Fuk Ling Miau.

Yogyakarta juga menjadi tempat lahirnya salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tahun 1912 di Kauman, Ngupasan, Gondomanan, Yogyakarta. Hingga saat ini, Pengurus Pusat Muhammadiyah masih tetap berkantor pusat di Yogyakarta.

BahasaSunting

Menurut Badan Bahasa, bahasa Jawa dialek Jogja-Surakarta merupakan bahasa daerah yang dituturkan mayoritas penduduk Kota Yogyakarta.[18] Menurut Statistik Kebahasaan 2019, bahasa ini menjadi satu-satunya bahasa daerah asli Kota Yogyakarta.[19] Bahasa resmi instansi pemerintahan di Kota Yogyakarta adalah bahasa Indonesia.

BudayaSunting

 
Tari Golek Ayun-Ayun, salah satu tarian khas Yogyakarta yang dikembangkan di dalam Keraton.

Kota Yogyakarta menjadi salah satu pusat pelestarian Budaya Jawa, khususnya gaya Yogyakarta. Budaya Jawa gaya Yogyakarta memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan gaya kebudayaan Jawa di daerah lainnya. Hal ini dikarenakan keberadaan Kesultanan Yogyakarta yang memilih untuk mempertahankan budaya murni yang telah ada sejak masa Kesultanan Mataram.

Kuliner khasSunting

 
Sepiring nasi Gudeg dengan lauk telur.

Kota Yogyakarta juga dikenal akan kekayaan kulinernya. Salah satu kuliner yang sudah akrab di masyarakat umum adalah Gudeg, sajian dari nangka muda yang dimasak dengan santan. Gudeg biasanya dimakan dengan nasi dan disajikan dengan kuah santan kental (areh), ayam kampung, telur, tempe, tahu dan sambal goreng krecek. Di kota Yogyakarta, gudeg dapat dijumpai di setiap sudut kota. Salah satu sentra kuliner gudeg di Yogyakarta adalah Jalan Wijilan, yang masih berada di dalam komplek Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Ada pula Bakpia, kue yang dibuat dari gulungan tepung panggang dengan berbagai isi. Di kota Yogyakarta, sentra kuliner bakpia terletak di wilayah pasar Pathuk dan Jalan KS Tubun, Kemantren Ngampilan.

Makanan khas kota Yogyakarta yang lainnya, seperti Nasi kucing (nasi porsi kecil dengan sambal, ikan, dan tempe, lalu dibungkus daun pisang), Sate Kere (sate yang dibuat dari gajih sapi), dan lain sebagainya.

Sementara minuman yang berasal dari Yogyakarta antara lain Kopi Joss (kopi hitam yang dicampur dengan arang), Wedang Ronde (minuman yang disajikan dengan bola-bola dari tepung ketan), dan lain sebagainya.

AngkringanSunting

Angkringan adalah sebuah gerobak dorong untuk menjual berbagai macam makanan dan minuman dengan harga yang sangat terjangkau.

Di kota Yogyakarta, angkringan dapat ditemui dengan mudah. Biasanya pedagang angkringan akan membuka dagangannya pada sore hari, dan tutup menjelang dini hari.

TransportasiSunting

 
City branding Kota Yogyakarta, diluncurkan pada tanggal 28 Oktober 2021. Huruf YK yang mengarah ke atas melambangkan dinamis, akseleratif, menghasilkan karya dan pelayanan yang baik, serta gotong royong. Warna merah diturunkan dari logo Jogja Istimewa melambangkan spirit berani dan menjunjung spirit Indonesia Raya.[20]

Kota Yogyakarta sangat strategis, karena terletak di jalur-jalur utama, yaitu Jalan Lintas Selatan yang menghubungkan Yogyakarta, Bandung, Surakarta, Surabaya, dan kota-kota di selatan Jawa, serta jalur Yogyakarta – Semarang, yang menghubungkan Yogyakarta, Magelang, Semarang, dan kota-kota di lintas tengah Pulau Jawa. Karena itu, angkutan di Yogyakarta cukup memadai untuk memudahkan mobilitas antara kota-kota tersebut. Kota ini mudah dicapai oleh transportasi darat dan udara, sedangkan karena lokasinya yang cukup jauh dari laut (27 – 30 KM) menyebabkan tiadanya transportasi air di kota ini.

Transportasi daratSunting

Bus kotaSunting

Kota Yogyakarta merupakan salah satu kota di Indonesia yang tidak mengenal istilah angkutan kota (angkot dengan armada minibus). Transportasi darat di dalam Yogyakarta dilayani oleh sejumlah bus kota. Kota Yogyakarta dahulu memiliki sejumlah jalur bus yang dioperasikan oleh koperasi masing-masing (antara lain Aspada, Kobutri, Kopata, Koperasi Pemuda Sleman, dan Puskopkar) yang melayani rute-rute tertentu:[21]

Trans JogjaSunting

 
Trans Jogja, moda transportasi Bus Rapid Transit di Yogyakarta

Sejak Maret 2008, sistem transportasi bus yang baru, bernama Trans Jogja hadir melayani sebagai transportasi massal yang cepat, aman dan nyaman. Trans Jogja merupakan bus 3/4 yang melayani berbagai kawasan di Kota, Sleman dan sebagian Bantul. Hingga saat ini (Tahun 2017), telah ada 17 (tujuh belas) trayek yang melayani berbagai sarana vital di Yogyakarta, yaitu:[22]

  • Trayek 1A dan Trayek 1B, melayani ruas protokol dan kawasan pusat perekonomian dan pemerintahan, seperti Stasiun Yogyakarta, Malioboro, Istana Kepresidenan Yogyakarta.
  • Trayek 2A dan Trayek 2B, melayani kawasan perkantoran Kotabaru dan Sukonandi.
  • Trayek 3A dan Trayek 3B, melayani kawasan selatan, termasuk juga kawasan sejarah Kotagede.
  • Trayek 4A dan Trayek 4B, melayani kawasan pendidikan, seperti UII, APMD, UIN Sunan Kalijaga, dan Stasiun Lempuyangan.
  • Trayek 5A dan Trayek 5B, melayani kawasan Jalan Magelang dan kawasan Seturan
  • Trayek 6A dan Trayek 6B, melayani kawasan barat daya, seperti kampus UMY dan Jalan Parangtritis.
  • Trayek 7, melayani kawasan timur seperti Jalan Wonosari dan Babarsari
  • Trayek 8, melayani kawasan barat seperti Gamping dan Ringroad Barat
  • Trayek 9, melayani kawasan sejarah bagian barat seperti Ngabean dan Pojok Beteng
  • Trayek 10, melayani kawasan Gamping dan Stasiun Lempuyangan
  • Trayek 11, melayani kawasan Condongcatur

Ada pula tiga jaringan trayek yang dikelola oleh kolaborasi PT Anindya Mitra Internasional dan PT Jogja Tugu Trans bersama dengan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia melalui jaringan Teman Bus, yaitu:

Trans Jogja sangat diminati selain karena aman dan nyaman, tarif yang saat ini diterapkan juga terjangkau, yaitu Rp 3.500,- untuk sekali jalan, dengan dua sistem tiket: sekali jalan dan berlangganan. Bagi tiket berlangganan, dikenakan potongan sebesar 50% untuk pelajar dan 15% untuk umum.

TaksiSunting

Taksi mudah dijumpai di berbagai ruas jalan di Yogyakarta, terutama di ruas protokol dan kawasan pusat ekonomi dan wisata. Ada berbagai perusahaan taksi yang melayani angkutan ini, dari yang berupa sedan hingga minibus.

Kereta apiSunting

 
Tampak depan Stasiun Yogyakarta 2020

Transportasi ke Yogyakarta dapat menggunakan kereta api, dengan berbagai tujuan seperti Jakarta, Bandung, Purwokerto, Kebumen, Semarang, Surakarta, Blitar, Surabaya, Malang, Jember, dan Banyuwangi. Terdapat sebanyak kurang lebih 33 kereta api yang melintasi Kota Yogyakarta (dengan total sebanyak 121-139 total jadwal perjalanan perharinya).

Terdapat 2 stasiun besar di Kota Yogyakarta, yaitu Stasiun Yogyakarta (dikenal sebagai Stasiun Tugu) dan Stasiun Lempuyangan. Tersedia kereta api komuter yang menghubungkan Kutoarjo dengan Yogyakarta, kereta tersebut bernama Prameks, dan untuk penghubung Kota Surakarta dengan Yogyakarta, kereta tersebut bernama KRL Lin Yogyakarta yang merupakan pengganti KA Prameks Jogja-Surakarta dan dikelola oleh KAI Commuter. Selain itu, tersedia pula KA Bandara YIA, layanan kereta api bagi masyarakat yang ingin bepergian menuju ke Bandar Udara Internasional Yogyakarta, dengan tujuan akhir Stasiun Yogyakarta International Airport.

Bus AntarkotaSunting

Bus antarkota tersedia dari dan ke semua kota di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa, datang dan berangkat dari Terminal Bus Tipe A Giwangan, yang berada di Jalan Imogiri Timur, Giwangan, berada di tepi Jalan Lingkar Luar Selatan Yogyakarta, di batas wilayah antara Kota Yogyakarta dengan Kabupaten Bantul.

Transportasi udaraSunting

Transportasi udara dari dan ke seluruh wilayah DI Yogyakarta sekarang dilayani oleh bandara Internasional Yogyakarta terletak di kapanéwon Temon, kabupaten Kulon Progo. Bandara ini melayani penerbang domestik ke kota-kota besar di Pulau Jawa (Jakarta, Bandung, Surabaya), Sumatra (Batam), Bali, Kalimantan (Pontianak, Banjarmasin, dan Balikpapan), dan Sulawesi (Makassar).

Selain itu, bandara ini juga melayani penerbangan harian ke Singapura dan Kuala Lumpur dengan AirAsia dan Scoot.

KesehatanSunting

Rumah sakitSunting

No. Kode Nama Rumah Sakit Jenis Tipe Alamat
1. 3471234 RSUD Kota Yogyakarta RSUD B Jl. Ki Ageng Pemanahan No.1, Sorosutan, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55162
2. 3471336 RS Bethesda Lempuyangwangi RS D Jl. Hayam Wuruk No.6, Bausasran, Kec. Danurejan, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55211
3. 3471063 RS Bethesda Yogyakarta RS B Jl. Jend. Sudirman No.70, Kotabaru, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55224
4. 3471030 RS Dr. Soetarto RS C Jl. Juadi No.19, Kotabaru, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55224
5. 3471096 RS Dr. Yap Yogyakarta RS Mata B Jl. Cik Di Tiro No.5, Terban, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55223
6. 3471373 RS Happy Land RS C Jl. Melati Wetan No.53, Muja Muju, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55165
7. 3471026 RS Islam Hidayatullah RS D Jl. Veteran No.184, Pandeyan, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55161
8. 3471282 RS Ludira Husada Tama RS D Jl. Wiratama No.4, Tegalrejo, Kec. Tegalrejo, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55244
9. 3471041 RS Muhammadiyah Yogyakarta RS B Jl. KH. Ahmad Dahlan No.20, Ngupasan, Kec. Gondomanan, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55122
10. 3471052 RS Panti Rapih RS B Jl. Cik Di Tiro No.30, Terban, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55223
11. 3471377 RS Pratama Yogyakarta RS D Jl. Kolonel Sugiyono No.98, Brontokusuman, Kec. Mergangsan, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55153
12. 3471314 RS Prof. R. Oepomo RS THT A Jl. Suryomentaraman Wetan No.37, Panembahan, Kec. Kraton, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55131
13. 3471085 RS Puri Nirmala RS Jiwa C

Jl. Jayaningprangan No.13, Gunungketur, Kec. Pakualaman, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55166

14. 3471293 RS Sari Asih Yogyakarta RS THT A Jl. Tirtodipuran No.38, Mantrijeron, Kec. Mantrijeron, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55143
15. 3471380 RS Siloam Yogyakarta RS C Jl. Laksda Adisucipto No.32, Demangan, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55221
16. 3471271 RS Soedirman RS Bedah C Jl Sidobali No.402, Muja Muju, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55165
17. 3471374 RS Universitas Muhammadiyah RS Gigi & Mulut B Jl. HOS Cokroaminoto No.17, Pakuncen, Kec. Wirobrajan, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55252
18. 3471256 RSIA Bhakti Ibu RSIA C Jl. Golo No.32, Pandeyan, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55161
19. 3471378 RSIA Fajar RSIA C Jl. Bugisan No.6, Patangpuluhan, Kec. Wirobrajan, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55251
20. 3471107 RSIA Muhammadiyah Kotagede RSIA C Jl. Kemasan No.30, Purbayan, Kec. Kotagede, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55173
21. 3471325 RSIA Permata Bunda RSIA C Jl. Ngeksigondo No.56, Prenggan, Kec. Kotagede, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55172
22. 3471303 RSIA Prof. Dr. Ismangoen RSIA C Jl. Patangpuluhan No.35, Patangpuluhan, Kec. Wirobrajan, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55251
23. 3471379 RSIA Rachmi RSIA C Jl. KH. Wachid Hasyim No.47, Notoprajan, Kec. Ngampilan, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta 55262

PendidikanSunting

Sekolah DasarSunting

  • SD Negeri Gondolayu
  • SD Negeri Petinggen
  • SD Negeri Serayu
  • SD Negeri Jetis
  • SD Negeri Demangan
  • SD Negeri Lempuyangwangi
  • SD Negeri Tukangan
  • SD Negeri Ungaran
  • SD Negeri Gedongtengen
  • SD Negeri Kyai Mojo
  • SD Negeri Ngupasan
  • SD Negeri Badran
  • SD Negeri Sosrowijayan
  • MI Negeri 1 Yogyakarta
  • SD Muhammadiyah Pringgokusuman
  • SD Muhammadiyah Kauman
  • SD Muhammadiyah Purbayan
  • SD Muhammadiyah Sagan
  • SD Muhammadiyah Suryowijayan
  • SD Muhammadiyah 1 Wirobrajan
  • SD Muhammadiyah 2 Wirobrajan
  • SD Muhammadiyah 3 Wirobrajan
  • SD Muhammadiyah Suronatan
  • SD Muhammadiyah Ngupasan
  • SD Islam Terpadu Luqman Al Hakim
  • SD Islam Terpadu Luqman Al Hakim Internasional
  • SD Islam Terpadu Al-Khairaat Yogyakarta
  • SD Kristen Kalam Kudus
  • SD Kanisius Notoyudan
  • SD Tarakanita Bumijo
  • SD Bopkri Gondolayu
  • SD Marsudirini
  • SD Netral "C" Yogyakarta
  • SD Netral "D" Yogyakarta

Sekolah Menengah PertamaSunting

Sekolah Menengah AtasSunting

Sekolah menengah kejuruanSunting

Lembaga Training dan Pelatihan

Perguruan TinggiSunting

Pondok PesantrenSunting

Pesantren Al Munawir , Krapyak

  • Madrasah Muallimin Muhammadiyah
  • Madrasah 'Aisyiah Yogyakarta Suronatan
  • Pondok Pesantren Al Barokah

Media massaSunting

TelevisiSunting

Masyarakat Kota Yogyakarta menikmati sejumlah siaran televisi (lokal dan nasional, dari DIY maupun Jateng), dengan menggunakan televisi analog maupun televisi digital.

KoranSunting

Kota Yogyakarta memiliki 11 koran yang terbit antara lain:

Nama Jenis Jaringan Perusahaan Bahasa
Koran SINDO Edisi Yogyakarta Nasional Koran SINDO SINDOMedia
(melalui MNC)
Indonesia
Republika Edisi Yogyakarta Republika Mahaka Media
Kompas Edisi Yogyakarta Kompas Kompas Gramedia
Bisnis Indonesia Edisi Yogyakarta Bisnis Indonesia Jurnalindo Aksara Grafika
Media Indonesia Edisi Yogyakarta Media Indonesia Media Group
Joglosemar Lokal Sritex Intisari
Radar Jogja Jawa Pos Grup Jawa Pos
Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Kedaulatan Rakyat Kedaulatan Rakyat
Tribun Jogja Kompas Kompas Gramedia
Harian Jogja Bisnis Indonesia Jurnalindo Aksara Grafika

RadioSunting

Kota Yogyakarta juga memiliki 35 buah stasiun radio yang bersiaran lokal.

Tokoh pentingSunting

Beberapa tokoh penting yang berasal dari kota Yogyakarta, antara lain:

Kota kembarSunting

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ a b "Kota Yogyakarta Dalam Angka 2021". jogjakota.bps.go.id. BPS Kota Yogyakarta. hlm. 65. Diakses tanggal 4 Desember 2021. 
  2. ^ a b c "Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama di Kota Yogyakarta 2021". kependudukan.jogjaprov.go.id. Pemprov D.I Yogyakarta. Diakses tanggal 12 Februari 2022. 
  3. ^ "Indeks Pembangunan Manusia 2020-2021". www.bps.go.id. Diakses tanggal 4 Desember 2021. 
  4. ^ "Rincian Alokasi Dana Alokasi Umum Provinsi/Kabupaten Kota Dalam APBN T.A 2019" (PDF). www.djpk.kemenkeu.go.id. 2019. Diakses tanggal 21 Januari 2021. 
  5. ^ a b Keputusan Wali Kotamadya Yogyakarta No. 2 Tahun 1998
  6. ^ Surjomihardjo, Abdurracham. 2008. Kota Yogyakarta Tempoe Doeloe, Sejarah Sosial 1880–1930. Jakarta: Komunitas Bambu.
  7. ^ a b c d e f g h "Sejarah Kota". jogjakota.go.id. Pemerintah Kota Yogyakarta. Diakses tanggal 21 September 2022. 
  8. ^ "Peran Residen Sebagai Utusan Belanda di Keraton Yogyakarta Abad Ke-18". nationalgeographic.grid.id. National Geographic. Diakses tanggal 21 September 2022. 
  9. ^ "Sejarah Singkat Daerah Istimewa Yogyakarta". dpad.jogjaprov.go.id. Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Diakses tanggal 21 September 2022. 
  10. ^ https://www.jogjakota.go.id/pages/geografis
  11. ^ "Yogyakarta, DIY, Indonesia". Climate-Data.org. Diakses tanggal 30 Agustus 2020. 
  12. ^ "Normal Curah Hujan Kota Yogyakarta – ZOM 138 & 140" (PDF). BMKG. hlm. 58. Diakses tanggal 30 Agustus 2021. 
  13. ^ "Yogyakarta, Indonesia". Weatherbase. Diakses tanggal 30 Agustus 2020. 
  14. ^ "Yogyakarta, Indonesia". WeatherAtlas. Diakses tanggal 30 Agustus 2020. 
  15. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019. 
  16. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020. 
  17. ^ BPS, 2010.
  18. ^ "Bahasa di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta". Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Diakses tanggal 23 Mei 2020. 
  19. ^ Statistik Kebahasaan 2019. Jakarta: Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan. 2019. hlm. 4. ISBN 9786028449182. 
  20. ^ Yanuarwati, Wulan (2021-10-28). "Kota Jogja Punya Logo Baru, Ini Filosofi dan Link Downloadnya - Harian Merapi". Kota Jogja Punya Logo Baru, Ini Filosofi dan Link Downloadnya - Harian Merapi. Diakses tanggal 2022-07-07. 
  21. ^ (Indonesia)Situs Resmi Pemerintah kota Yogyakarta. "Jalur bus" (PDF). Diarsipkan dari versi asli (pdf) tanggal 2010-09-24. Diakses tanggal 21 Juni 2009. 
  22. ^ "Trans Jogja". gudeg.net. Diakses tanggal 2020-06-13. 

Pranala luarSunting