Bandar Udara Internasional Juanda

bandar udara di Indonesia

Bandar Udara Internasional Juanda (abreviasi: Bandara Internasional Juanda; bahasa Inggris: Juanda International Airport) (IATA: SUBICAO: WARR), adalah sebuah bandar udara internasional yang terletak di Kecamatan Sedati, Sidoarjo. Bandara ini merupakan bandara tersibuk ketiga di Indonesia (setelah Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Ngurah Rai) yang merupakan pintu gerbang utama menuju Jawa Timur baik dari penerbangan domestik maupun internasional. Bandara ini terletak sekitar 12 kilometer (7,5 mil) dari pusat Kota Surabaya dan melayani wilayah Gerbangkertosusila. Bandara Internasional Juanda dioperasikan oleh PT Angkasa Pura I. Nama bandara ini diambil dari nama Djuanda Kartawidjaja , Perdana Menteri Indonesia terakhir yang mengusulkan pembangunan bandara ini. Pada 2019, bandara ini melayani sekitar 500 pesawat per hari.

Bandar Udara Juanda

Juanda Airport
Informasi
JenisPublik
PemilikPT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero)
PengelolaPT Angkasa Pura I
MelayaniGerbangkertosusila
LokasiKecamatan Sedati, Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia
Maskapai penghubung
Maskapai utama
Zona waktuWIB (UTC+07:00)
Ketinggian dpl3 mdpl
Koordinat07°22′47″S 112°47′13″E / 7.37972°S 112.78694°E / -7.37972; 112.78694Koordinat: 07°22′47″S 112°47′13″E / 7.37972°S 112.78694°E / -7.37972; 112.78694
Situs webjuanda-airport.com
Peta
Jawa daerah di Indonesia
Jawa daerah di Indonesia
SUB di Kota Surabaya
SUB
SUB
Lokasi bandara di Jawa Timur / Indonesia
SUB di Jawa
SUB
SUB
SUB (Jawa)
SUB di Indonesia
SUB
SUB
SUB (Indonesia)
SUB di Asia Tenggara
SUB
SUB
SUB (Asia Tenggara)
Landasan pacu
Arah Panjang Permukaan
m kaki
10/28 3,000x55m 9,843 Aspal
Statistik (2022)
Penumpang10.794.111 (Kenaikan 98.19%)
Pergerakan pesawat78.028 (Kenaikan 39.48%)
Sumber: Laporan Tahunan PT Angkasa Pura I

Sejarah sunting

Rencana untuk membangun satu pangkalan udara baru yang bertaraf internasional sebenarnya sudah digagas sejak berdirinya Biro Penerbangan Angkatan Laut RI pada tahun 1956. Namun demikian, pada akhirnya agenda politik pula yang menjadi faktor penentu realisasi program tersebut. Salah satu agenda politik itu adalah perjuangan pembebasan Irian Barat. Berangkat dari tujuan membantu operasi TNI dalam pembebasan Irian Barat, pemerintah menyetujui pembangunan pangkalan udara baru di sekitar Surabaya. Saat itu terdapat beberapa pilihan lokasi, antara lain: Gresik, Bangil (Pasuruan) dan Sedati (Sidoarjo). Setelah dilakukan survei, akhirnya pilihan jatuh pada Kecamatan Sedati, Sidoarjo. Tempat ini dipilih karena selain dekat dengan Surabaya, areal tersebut memiliki tanah yang sangat luas dan datar, sehingga sangat memungkinkan untuk dibangun pangkalan udara yang besar dan dapat diperluas lagi di kemudian hari.

Proyek pembangunan yang berikutnya disebut sebagai “Proyek Waru” tersebut merupakan proyek pembangunan lapangan terbang pertama sejak Indonesia merdeka. Proyek ini bertujuan menggantikan pangkalan udara yang tersedia di Surabaya adalah landasan udara peninggalan Belanda di Morokrembangan dekat Pelabuhan Tanjung Perak, yang sudah berada di tengah permukiman yang padat dan sulit dikembangkan. Pelaksanaan proyek Waru, melibatkan tiga pihak utama, yaitu: Tim Pengawas Proyek Waru (TPPW) sebagai wakil pemerintah Indonesia, Compagnie d’Ingenieurs et Techniciens (CITE) sebagai konsultan, dan Societe de Construction des Batinolles (Batignolles) sebagai kontraktor. Kedua perusahaan asing terakhir, merupakan perusahaan asal Perancis. Dalam kontrak yang melibatkan tiga pihak tersebut, ditentukan bahwa proyek harus selesai dalam waktu empat tahun (1960-1964).

Untuk membangun pangkalan udara dengan landasan pacu yang besar (panjang 3000 meter dan lebar 45 meter) ini membutuhkan pembebasan lahan yang luas keseluruhannya mencapai sekitar 2400 hektar. Lahan tersebut tidak hanya berbentuk tanah, tetapi juga sawah dan rawa. Selain itu juga dibutuhkan pasir dan batu dalam jumlah yang besar. Pasirnya digali dari Kali Porong dan batunya diambil dari salah satu sisi Bukit Pandaan yang, kemudian diangkut dengan ratusan truk proyek menuju Waru. Jumlah pasir dan batu yang diperlukan sekitar 1.1200.000 meter kubik atau 1.800.000 ton. Konon Jumlah pasir sebanyak itu bisa digunakan untuk memperbaiki jalan Jakarta-Surabaya sepanjang 793 Km dengan lebar 5 m dan kedalaman 30 cm. Sedangkan jarak tempuh seluruh truk proyek, bila digabungkan adalah sekitar 25 juta Km atau 600 kali keliling bumi.

Dengan kegiatan proyek yang berlangsung siang-malam dan dukungan kerjasama dari berbagai pihak (Pemerintah Kota Surabaya, Komando Resor Militer (Korem) Surabaya, Otoritas Pelabuhan dan masyarakat pada umumnya), akhirnya proyek tersebut dapat diselesaikan lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Pada tanggal 22 September 1963, berarti tujuh bulan lebih cepat, landasan tersebut sudah siap untuk digunakan. Sehari kemudian satu sortie penerbangan, yang terdiri empat pesawat Fairey Gannet ALRI, di bawah pimpinan Mayor AL (Pnb) Kunto Wibisono melakukan uji coba pendaratan untuk pertama kalinya.

Di tengah proses pembangunan bandara ini, sempat terjadi krisis masalah keuangan. Ketika itu bahkan pihak Batignolles sempat mengancam untuk hengkang. Penanganan masalah ini pun sampai ke Presiden Sukarno. Dan Presiden Sukarno kemudian memberikan mandat kepada Waperdam I Ir. Djuanda untuk mengatasi masalah ini hingga proyek ini selesai. Pada tanggal 15 Oktober 1963, Ir. Djuanda mendarat di landasan ini dengan menumpangi Convair 990 untuk melakukan koordinasi pelaksanaan proyek pembangunan. Tidak lama setelah itu, pada tanggal 7 November 1963 Ir. Djuanda wafat. Karena dianggap sangat berjasa atas selesainya proyek tersebut dan untuk mengenang jasa-jasa dia, maka pangkalan udara baru tersebut diberi nama Pangkalan Udara Angkatan Laut (LANUDAL) Djuanda dan secara resmi dibuka oleh Presiden Sukarno pada tanggal 12 Agustus 1964. Selanjutnya pangkalan udara ini digunakan sebagai pangkalan induk (home base) skuadron pesawat pembom Ilyushin IL-28 dan Fairey Gannet milik Dinas Penerbangan ALRI.

Dalam perkembangannya muncul keinginan maskapai Garuda Indonesia Airways (GIA) untuk mengalihkan operasi pesawatnya (Convair 240, Convair 340 dan Convair 440) dari lapangan terbang Morokrembangan yang kurang memadai ke Djuanda. Namun, karena dalam pembangunannya tidak direncanakan untuk penerbangan sipil, Lanudal Djuanda tidak memiliki fasilitas untuk menampung penerbangan sipil sehingga kemudian otoritas pangkalan saat itu berinisiatif merenovasi gudang bekas Batignolles untuk dijadikan terminal sementara. Dan jadilah Lanudal Djuanda melayani penerbangan sipil yang pengelolaannya sejak 7 Desember 1981 dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Departemen Perhubungan RI. Pada 1 Januari 1985, pengelolaan bandara komersial ini dialihkan kepada Perum Angkasa Pura I berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 tahun 1984. Seiring waktu berjalan, frekuensi penerbangan sipil disana pun bertambah. Hingga akhirnya dibangun terminal khusus untuk melayani penerbangan sipil dan melayani juga penerbangan internasional. Pada 24 Desember 1990, Bandara Juanda ditetapkan sebagai bandara internasional dengan peresmian terminal penerbangan internasional.

Terminal 1 sunting

 
Papan nama Bandara Juanda

Terminal 1 Bandara Juanda dibuka pada tahun 2006. Terminal ini terletak di sebelah utara landasan pacu. Terminal ini dipakai untuk semua keberangkatan domestik dan terbagi menjadi 3 Pintu Keberangkatan, yaitu Terminal 1A, 1B, dan 1C. Terminal 1A digunakan untuk maskapai Garuda Indonesia, Citilink, dan Pelita Air Service. Terminal 1B digunakan untuk maskapai Indonesia AirAsia, Sriwijaya Air, NAM Air, Wings Air, Super Air Jet, Airfast Indonesia, Susi Air, dan maskapai Charter lainnya. Terminal 1C digunakan untuk maskapai Lion Air dan Batik Air. Beberapa tahun kemudian, semakin banyak rute penerbangan dari dan ke Surabaya. Baik domestik, maupun internasional. Hal ini membuat terminal ini menjadi overload. Kapasitas sebenarnya hanya 6 juta penumpang/tahun. Namun pada tahun 2013, jumlah penumpang yang berangkat dan datang menjadi 17 juta penumpang/tahun. Akhirnya pemerintah memutuskan membangun terminal 2 yang berada di terminal lama bandara juanda. Terminal lama dibongkar dan dibangun terminal 2. Pada tahun 2019, Terminal 1 dilakukan renovasi dan perluasan hingga kearah timur diakibatkan jumlah penumpang yang semakin banyak dan naik, setelah selesai pada tahun 2021, dari sebelumnya memiliki luas 67.000 meter persegi, kini bertambah menjadi 91.700 meter persegi. Selain itu, luas ruang tunggu juga bertambah menjadi 19.940 meter persegi serta memiliki 15 Gate Keberangkatan dari sebelumnya 16.340 meter persegi yang memiliki 12 Gate Keberangkatan, dan menghadirkan area anak-anak atau playground sebanyak dua area. Diperkirakan dengan perluasan ini dapat menampung 13,6 Juta Penumpang.[1]

Terminal 2 sunting

Terminal 2 mulai dibangun sejak tahun 2011 yang berada di terminal lama bandara Juanda dan terletak di sebelah selatan landasan pacu. Terminal lama dibongkar dan dibangun terminal 2. Terminal ini dibangun untuk mengurangi kepadatan penumpang di terminal 1 yang sudah overload dan dipakai untuk semua keberangkatan Internasional, termasuk Umroh dan Haji. Terminal ini memiliki 9 Gate Keberangkatan. Setelah tertunda beberapa bulan, terminal ini dijadwalkan beroperasi tanggal 14 Februari 2014. Namun karena abu letusan Gunung Kelud, terminal ini ditunda operasinya hingga beberapa hari. Terminal ini akan menampung 6 juta penumpang/tahun. Terminal ini sempat ditutup untuk sementara waktu pada tahun 2020-2021 diakibatkan Pandemi COVID-19 yang melonjak tinggi, sehingga tidak melayani penerbangan internasional dan semua keberangkatan domestik Garuda Indonesia dan Indonesia AirAsia yang awalnya berada di Terminal ini dipindahkan ke Terminal 1, tetapi pada akhir tahun 2021, Terminal ini kembali beroperasi untuk melayani penerbangan internasional.

Maskapai Penerbangan sunting

MaskapaiTujuan
Airfast IndonesiaCharter: Jakarta–Soekarno–Hatta, Makassar
Batik AirBerau, Jakarta–Halim Perdanakusuma, Jakarta–Soekarno–Hatta, Makassar, Pangkalan Bun
Cathay PacificHong Kong
CitilinkBalikpapan, Banjarmasin, Batam, Denpasar, Jakarta–Halim Perdanakusuma, Jakarta–Soekarno–Hatta, Kupang, Lombok, Makassar, Pontianak, Samarinda
Garuda IndonesiaDenpasar, Jakarta—Soekarno—Hatta, Kupang, Singapura
Musiman: Jeddah, Madinah
Indonesia AirAsiaDenpasar, Johor Bahru, Kuala Lumpur–Internasional, Penang
Jetstar AsiaSingapura
Lion AirAmbon, Balikpapan, Banjarmasin, Batam, Denpasar, Jakarta–Soekarno–Hatta, Kupang, Kendari, Lombok, Makassar, Manado, Palangkaraya, Palembang, Pekanbaru, Pontianak, Samarinda, Tarakan, Ternate
Musiman: Jeddah, Madinah
Malaysia AirlinesKuala Lumpur–Internasional
NAM AirPangkalan Bun
Pelita AirBalikpapan, Jakarta–Soekarno–Hatta
Royal Brunei AirlinesBandar Seri Begawan
SaudiaMusiman: Jeddah, Madinah
ScootSingapura
Singapore AirlinesSingapura
Sriwijaya AirMakassar
Super Air JetBalikpapan, Banjarmasin, Berau (dimulai 14 Juni 2024), Denpasar, Kuala Lumpur–Internasional, Labuan Bajo, Lombok, Makassar, Samarinda
Susi AirBawean
Wings AirBanyuwangi, Pangkalan Bun

Statistik sunting

Pada tahun 2006, sektor domestik antara Surabaya dan Jakarta adalah rute udara tersibuk keempat di Asia dengan lebih dari 750 penerbangan mingguan. Jumlah penumpang mencapai puncaknya pada tahun 2018 yaitu sebanyak 20.951.063 penumpang dengan rincian 18.713.517 (89,32%) penumpang domestik dan 2.237.546 (10,68%) penumpang internasional [2]. Jumlah penumpang mengalami penurunan sejak tahun 2019 karena harga tiket pesawat domestik yang melonjak naik [3], terlebih lagi Pandemi Covid-19 mengakibatkan menurunnya kinerja semua industri penerbangan.

 
Grafik Jumlah Penumpang Bandara Internasional Juanda Tahun 1999 - 2022

Berikut ini adalah statistik Bandara Internasional Juanda dari tahun 1999 sampai 2022.

Tahun Jumlah Penumpang Jumlah Kargo (ton) Pergerakan Pesawat
1999 2.137.353 40.549 52.284
2000 2.712.074 31.185 54.154
2001 3.301.435 37.767 62.141
2002 4.746.113 43.089 75.921
2003 6.584.711 42.910 82.779
2004 8.562.747 63.950 97.421
2005 8.217.415 66.647 99.485
2006 8.986.650 71.574 91,209
2007 8.823.228 58.815 87.687
2008 9.122.196 62.289 69.726
2009 10.562.906 62.357 76.754
2010 12.072.059 76.774 84.958
2011 13.778.287 95.146 103.846
2012 16.222.284 102.133 141.365
2013 17.601.581 121.935 155.421
2014 17.234.825 92.439 117.825
2015 17.143.911 130.398 137.051
2016 19.483.844 96.280 148.602
2017 20.127.928 97.650 148.730
2018 20.951.063 116.324 156.619
2019 16.626.186 88.496 129.719
2020 6.801.099 69.228 65.310
2021 5.446.196 70.244 55.942
2022 10.794.111 68.413 78.028
2023 14.012.186 67.522 96.391

Sumber diolah dari: PT Angkasa Pura 1 dan lainnya[4][5][6][7]

Transportasi Darat sunting

Jalan Raya dan Tol sunting

Bandara Juanda terkoneksi dengan Jalan Tol Waru-Juanda menuju ke Surabaya sepanjang 15 km, yang menghubungkan Juanda dengan sistem jalan tol Surabaya-Gresik, Surabaya-Malang dan Surabaya-Mojokerto.

Bandara ini juga dihubungkan dengan Jalan Raya Waru untuk ke Surabaya dan Jalan Letjen S. Parman ke Sidoarjo. Simpang susun Aloha dibangun mulai tahun 2022 untuk memperlancar arus keluar masuk ke Bandara [8].

Bus sunting

Bus DAMRI disediakan oleh pemerintah setempat untuk mengantarkan penumpang dengan Terminal Purabaya menuju Kota Surabaya yang dimulai sejak bulan November 2006. Lalu ditambah dengan rute menuju Terminal Bunder di Kabupaten Gresik, Terminal Kertajaya di Kota Mojokerto, dan Rest Area Sukapura untuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Kabupaten Probolinggo.

Taksi sunting

Taksi Primkopal Juanda memberlakukan tarif tetap ke berbagai macam tujuan di kota Surabaya dan daerah sekitarnya termasuk Malang, Blitar, Jember, Tulungagung. Berbeda dengan bandara lainnya di Indonesia. Tiket taksi dapat dibeli di loket yang terletak di pintu keluar bandara.

Sewa Mobil sunting

Terdapat penyewaan mobil beserta sopir dengan harga relatif terjangkau, dan merupakan transportasi alternatif bila ingin berkeliling Surabaya maupun ke kota terdekat seperti Malang. Kios-Kios penyewaan yang telah disertifikasi terdapat di bagian pengambilan bagasi.

Kereta Bandara sunting

Rencana pembangunan jalur kereta menuju Bandara Internasional Juanda disampaikan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pada tahun 2019. Wacana ini mendapatkan tanggapan dari Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang mempertanyakan berapa persen dan berapa menit kereta api tersebut dapat menghemat waktu untuk sampai bandara, mengingat saat ini akses menuju Bandara Internasional Juanda cukup memadai [9]. Hingga saat ini, pembangunan kereta bandara belum terealisasi.

Jarak Stasiun Surabaya Gubeng dengan Terminal 1 Bandara Internasional Juanda adalah sekitar 18 - 22 km. Adapun stasiun kereta api terdekat dengan Bandara Internasional Juanda adalah Halte Sawotratap (9,9 km) di Kecamatan Gedangan atau Stasiun Waru (11,6 km) di Kecamatan Waru.

Lihat pula sunting

Referensi sunting

  1. ^ Indonesia, Bisnis (2021-10-23). "Perluasan Tahap 1 T1 Bandara Juanda Surabaya Rampung, Alur Keberangkatan Domestik Disesuaikan". BISNIS.com. Diakses tanggal 2023-07-01. 
  2. ^ "Laporan Tahunan dan Keberlanjutan PT Angkasa Pura I". ap1.co.id. Diakses tanggal 2023-07-01. 
  3. ^ "Tiket Masih Terasa Mahal, Jumlah Pemudik di Bandara Juanda Tahun 2019 Turun". Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur. Diakses tanggal 2023-07-01. 
  4. ^ "Wow, Beginilah Sibuknya Bandara Juanda Sepanjang 2016 Lalu. Bagaimana 2017?". Surya.co.id. Diakses tanggal 2023-07-01. 
  5. ^ Suparno. "Tahun 2019, Bandara Juanda Layani 16,6 Juta Penumpang". detiknews. Diakses tanggal 2023-07-01. 
  6. ^ "Juanda International Airport | Surabaya". juanda-airport.com. Diakses tanggal 2023-07-01. 
  7. ^ "Bandara Juanda Layani 14 Juta Penumpang Sepanjang 2023, Meningkat 30 Persen dari 2022". Diakses tanggal 2024-03-11. 
  8. ^ "Urai Kemacetan di Pintu Keluar Bandara Juanda, Flyover Aloha akan Segera Dibangun". www.tvonenews.com. 2022-01-19. Diakses tanggal 2023-07-01. 
  9. ^ Utomo, Deny Prastyo. "Risma Tanggapi Rencana Menhub Bangun Kereta Bandara di Surabaya". detiknews. Diakses tanggal 2023-07-01. 

Pranala luar sunting

  • (Indonesia) (Inggris) Situs web resmi
  • (Indonesia) Spesifikasi Bandara Juanda[pranala nonaktif permanen]
  • (Indonesia) "Desain Bandara Juanda Mirip Changi meninggalkan Kesan Terminal Bus"[pranala nonaktif permanen]