Hanung Bramantyo (lahir di Yogyakarta, 1 Oktober 1975; umur 44 tahun) adalah seorang sutradara asal Indonesia. Ia pernah kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia namun ia tidak menyelesaikannya. Setelah itu ia pindah mempelajari dunia film di Jurusan Film – Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Hanung Bramantyo
Hanung Bramantyo, Jogja-Netpac Asian Film Festival, 2017-12-04 02.jpg
Hanung dalam sebuah gelar wicara di Jogja-NETPAC Asian Film Festival pada 4 Desember 2017.
Nama lahir Setiawan Hanung Bramantyo
Lahir 1 Oktober 1975 (umur 44)
Bendera Indonesia Yogyakarta, Indonesia
Pekerjaan sutradara, aktor
Pasangan Yanesthi Hardini (cerai)
Zaskia Adya Mecca
Anak Pernikahan dengan Yanesthi Hardini:
Barmastya Bhumi Brawijaya
Pernikahan dengan Zaskia Adya Mecca:
Kana Sybilla Bramantyo
Kala Madali Bramantyo
Bhai Kaba Bramantyo
Bhre Kata Bramantyo

Pada Festival Film Indonesia 2005, ia terpilih sebagai Sutradara Terbaik lewat film arahannya, Brownies. Ia juga dinominasikan sebagai Sutradara Terbaik untuk film cerita lepasnya, Sayekti dan Hanafi, namun kalah oleh Guntur Soehardjanto. Pada Festival Film Indonesia 2007 ia kembali menyabet penghargaan Sutradara Terbaik melalui filmnya Get Married.

KarierSunting

Pada 2018, Hanung akan menyutradarai Tersanjung yang dibuat ulang dari sinetron berjudul sama, menandai kerja sama dengan MVP Pictures setelah Sang Pencerah (2010), Cinta tapi Beda (2012), Soekarno: Indonesia Merdeka (2013), dan Hijab (2015).[1] Hanung juga akan menyutradarai film Ibu, Doa yang Hilang yang dialih wahana dari novel berjudul sama.[2] Hanung sempat ditawari Falcon Pictures untuk menyutradarai film yang dibuat ulang dari Miracle in the Cell No. 7 (2013) serta film yang dialih wahana dari Harimau! Harimau!.[3] Hanung mengaku tertarik untuk memfilmkan sekuel Bumi Manusia, yaitu Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, tetapi semua itu bergantung terhadap Frederica yang menganggap proyek lanjutan itu harus mempertimbangkan tanggapan penonton atas Bumi Manusia.[4] Bumi Manusia direncanakan menjadi film pertama dari trilogi ini.[5] Selain itu, Hanung juga direncanakan akan menyutradarai Rudi Habibie 2 (judul lain Habibie & Ainun 4) dan Cinta antara Praha dan Bandung.[6]

KontroversiSunting

Perempuan Berkalung SorbanSunting

Saat dirilis, film ini disambut dengan kontroversi di Indonesia karena dianggap melakukan kritikan kontra produktif atas tradisi Islam konservatif yang masih dipraktikkan dalam banyak pesantren di Indonesia saat film ini dirilis. Salah seorang dari pengurus Majelis Ulama Indonesia memberikan tanggapan berupa menyarankan supaya film ini ditarik dari edaran agar diubah sebagaimana keinginannya.[7] Abidah El Khalieqy, penulis novel dan film Perempuan Berkalung Sorban, dalam sebuah wawancara bersama kru film ini mengutarakan bahwa tema novel yang ditulisnya tersebut pada intinya adalah tentang pemberdayaan wanita.[8]

?Sunting

Salah satu filmnya yang kontroversial adalah "? (Tanda Tanya)" yang mempertanyakan tentang intoleransi[9] di mana Front Pembela Islam memprotesnya dan Hanung telah menemui Majelis Ulama Indonesia dan menyetujui memotong beberapa bagian filmnya.[10] Walaupun begitu filmnya yang menyajikan kemoderenan dan kedamaian dalam Islam mendapat sambutan yang baik di Singapura, Australia dan Kanada.[11]

Cinta Tapi BedaSunting

Setelah beberapa hari tayang di bioskop secara nasional, film ini sempat menuai protes, khususnya dari masyarakat Minangkabau. Bahkan, sebuah forum persatuan masyarakat Minangkabau melaporkan Hanung Bramantyo selaku sutradara film ini ke Polda Metro Jaya berkenaan dengan Pasal 156 KUHP Jo Pasal 4 dan 16 UU.N0.40/2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis tentang larangan perbuatan menanamkan kebencian ter­ha­dap salah satu suku, etnis, agama, dan golongan dalam wilayah hukum Indonesia dan tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Pasalnya pengangkatan tokoh perempuan yang bermukim di Padang yang non-muslim dianggap menyinggung masyarakat Minangkabau yang identik dengan agama Islam. Untuk mengklarifikasi kontroversi ini, melalui akun twitter-nya, Hanung Bramantyo menjelaskan bahwa tokoh Diana tidak disebutkan sebagai gadis Minangkabau, ia jelas-jelas menggunakan Salib dan keluarga Diana memiliki kegemaran akan makanan Babi Rica-rica. Sesungguhnya tokoh ini merupakan warga pendatang yang tinggal dan besar di Padang dan menunjukkan keberagaman masyarakat Padang.[12][13] Hanung Bramantyo juga menyayangkan banyaknya protes yang datang dari masyarakat yang bahkan belum menonton sendiri film ini.[14]

Soekarno: Indonesia MerdekaSunting

Pada bulan September 2013, puteri dari Soekarno, Rachmawati mengkritik bahwa film ini tidak cocok menampilkan Ario Bayu berperan sebagai Soekarno. Ia menganggap aktor Anjasmara lebih layak memerankan tokoh tersebut.[15]

FilmografiSunting

Sebagai sutradaraSunting

Tahun Judul Keterangan
2004 Brownies Pemenang Sutradara Terbaik di Festival Film Indonesia 2005
2005 Catatan Akhir Sekolah
2006 Jomblo
2006 Lentera Merah
2007 Kamulah Satu-Satunya Nominasi Sutradara Terbaik di Festival Film Indonesia 2007
2007 Legenda Sundel Bolong
2007 Get Married Pemenang Sutradara Terbaik di Festival Film Indonesia 2007
2008 Ayat-Ayat Cinta
2008 Doa Yang Mengancam
2009 Perempuan Berkalung Sorban Nominasi Sutradara Terbaik di Festival Film Indonesia 2009
2009 Get Married 2
2010 Menebus Impian
2010 Tendangan dari Langit Nominasi Sutradara Terbaik di Festival Film Indonesia 2011
2010 Sang Pencerah
2011 ? (Tanda Tanya) Nominasi Sutradara Terbaik di Festival Film Indonesia 2011
2011 Pengejar Angin
2012 Perahu Kertas Nominasi Sutradara Terbaik di Festival Film Indonesia 2012
2012 Cinta Tapi Beda Nominasi Sutradara Terbaik di Festival Film Indonesia 2013 bersama Hestu Saputra
2012 Perahu Kertas 2
2013 Gending Sriwijaya
2013 Soekarno: Indonesia Merdeka Nominasi Sutradara Terbaik di Festival Film Indonesia 2014
2015 Hijab
2015 2014 bersama Rahabi Mandra
2016 Talak 3 bersama Ismail Basbeth
2016 Rudy Habibie
2016 Surga Yang Tak Dirindukan 2
2017 Kartini Nominasi Sutradara Terbaik di Festival Film Indonesia 2017
2017 Jomblo Reboot
2017 Seteru
2018 Benyamin Biang Kerok (film 2018)
2018 The Gift
2018 Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta
2019 Bumi Manusia Nominasi Sutradara Terbaik di Festival Film Indonesia 2019
2019 Habibie & Ainun 3

Sebagai pemainSunting

Kolaborator setiaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ "MVP Pictures siapkan 8 film baru dari berbagai genre". Beritagar. 25 Februari 2018. Diakses tanggal 19 November 2019. 
  2. ^ "Hanung Bramantyo garap film adaptasi novel "Ibu, Doa yang Hilang"". Antara. 21 Desember 2018. Diakses tanggal 19 November 2019. 
  3. ^ Bramantyo, Hanung (24 Agustus 2019). "Kenapa Film Bumi Manusia Harus Saya?". CNN Indonesia. Diakses tanggal 24 Agustus 2018. 
  4. ^ Hasan, Akhmad Muawal (4 Juli 2019). "Hanung Bramantyo Tertarik Memfilmkan Keempat Novel Tetralogi Buru". Tirto. Diakses tanggal 15 Agustus 2019. 
  5. ^ Setiawan, Tri Susanto (13 Agustus 2019). Kistyarini, ed. "Hanung Bramantyo: Bumi Manusia Kemungkinan Akan Jadi Trilogi". Kompas. Diakses tanggal 31 Oktober 2019. 
  6. ^ "Film kisah cinta Habibie dan Ainun akan dibuat lima seri". Antara. 27 April 2017. Diakses tanggal 20 Desember 2019. 
  7. ^ BBC World: Film timbulkan kontroversi. 6 Februari 2009. Diakses pada 9 Februari 2009
  8. ^ "Kharisma Starvision Plus". 2009. "Di Balik Layar Perempuan Berkalung Sorban". Fitur rilis DVD.
  9. ^ "Questioning intolerance". April 10, 2011. 
  10. ^ "GP Ansor regrets SCTV's decision of cancelling film '?' screening". August 29, 2011. 
  11. ^ "Hanung's film '?' well received overseas". September 21, 2011. 
  12. ^ "Film "Cinta Tapi Beda" Dilaporkan Zulhendri: Langgar HAM Orang Minang". January 9, 2014. 
  13. ^ "Soal Film "Cinta Tapi Beda", Hanung, Agni Pratistha, dan Raam Punjabi Akan Dipolisikan". Diakses tanggal January 22, 2014. 
  14. ^ http://www.tabloidnova.com/Nova/Selebriti/Aktual/Film-Cinta-Tapi-Beda-Ditarik-di-Tasikmalaya
  15. ^ Suhendra, Ichsan (September 14, 2013). "Rachmawati Tolak Film Soekarno: Indonesia Merdeka". Kompas. Diakses tanggal November 4, 2013. 

Pranala luarSunting

Penghargaan dan prestasi
Didahului oleh:
Rudi Soedjarwo
Film: Ada Apa dengan Cinta? (2004)
Sutradara Terbaik
(Festival Film Indonesia)

Film: Brownies (2005)
Diteruskan oleh:
Nayato Fio Nuala
Film: Ekskul (2006)
Didahului oleh:
Nayato Fio Nuala
Film: Ekskul (2006)
Sutradara Terbaik
(Festival Film Indonesia)

Film: Get Married (2007)
Diteruskan oleh:
Mouly Surya
Film: fiksi. (2008)