Buka menu utama

Wikipedia β

Kekristenan

(Dialihkan dari Kristen)
"Kristianitas" beralih ke halaman ini.

Kekristenan atau Kristianitas[note 1] atau agama Kristen adalah agama Abrahamik monoteistik berasaskan riwayat hidup dan ajaran Yesus Kristus, yang merupakan inti sari agama ini. Agama Kristen adalah agama terbesar di dunia,[1][2] dengan lebih dari 2,4 miliar pemeluk,[3][4][5] atau 33% dari populasi global, yang disebut "Orang Kristen", "Umat Kristen", atau "Umat Kristiani".[note 2] Orang Kristen percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Juru Selamat umat manusia yang datang sebagai Mesias (Kristus) sebagaimana dinubuatkan dalam Alkitab Perjanjian Lama.[6]

Teologi Kristen terangkum dalam syahadat-syahadat seperti Syahadat Para Rasul dan Syahadat Nikea. Syahadat atau pengakuan-pengakuan iman ini berisi pernyataan bahwa Yesus telah menderita sengsara, wafat, dimakamkan, turun ke alam maut, dan bangkit dari maut, untuk mengaruniakan kehidupan kekal kepada siapa saja yang percaya kepadanya dan mengandalkannya demi beroleh pengampunan atas dosa-dosa yang telah mereka perbuat. Syahadat-syahadat ini juga menyatakan bahwa Yesus secara jasmaniah naik ke surga, tempat ia memerintah bersama Allah Bapa dalam persekutuan Roh Kudus, dan bahwa ia kelak datang kembali untuk menghakimi orang-orang hidup dan orang-orang mati, serta mengaruniakan kehidupan kekal bagi para pengikutnya. Inkarnasi, karya pelayanan, penyaliban, dan kebangkitannya seringkali disebut "Injil", yang berarti "kabar baik".[note 3] Injil juga berarti catatan-catatan riwayat hidup dan ajaran Yesus, empat di antaranya—Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, dan Injil Yohanes—dianggap kanonik (sahih) dan dijadikan bagian dari Alkitab Kristen.

Agama Kristen adalah agama Abrahamik yang bermula sebagai sebuah sekte dari agama Yahudi era Kenisah kedua pada pertengahan abad pertama tarikh Masehi.[7][8] Sekte ini berasal dari Yudea, kemudian menyebar dengan pesat ke Eropa, Syam, Mesopotamia, Anatolia, Transkaukasia, Mesir, Etiopia, serta India, dan pada akhir abad ke-4 telah menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi.[9][10][11] Sesudah Abad Penjelajahan, agama Kristen menyebar pula ke Benua Amerika, Australasia, Afrika Sub-Sahara, dan ke segenap penjuru dunia melalui karya misi dan kolonialisme.[12][13][14] Agama Kristen telah berperan besar dalam pembentukan Peradaban Dunia Barat.[15][16][17][18][19]

Sepanjang sejarahnya, agama Kristen telah mengalami skisma dan sengketa teologi yang memunculkan bermacam-macam gereja dan denominasi. Tiga cabang agama Kristen yang terbesar di dunia adalah Gereja Katolik, Gereja Ortodoks Timur, dan sekumpulan besar denominasi Kristen Protestan. Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur saling memutuskan hubungan persekutuan dalam peristiwa Skisma Timur–Barat pada 1054, sementara Mazhab Kristen Protestan muncul pada zaman reformasi abad ke-16 sebagai pecahan dari Gereja Katolik.[20]

Daftar isi

Keyakinan

Ada banyak perbedaan tafsir dan pandangan mengenai Alkitab dan Tradisi Suci yang merupakan landasan agama Kristen.[21] Perbedaan-perbedaan teologi yang tak terukunkan, serta kurangnya kata sepakat mengenai pokok-pokok iman Kristen, menyebabkan umat Kristen Katolik, Ortodoks dan Protestan seringkali tidak mengakui umat dari denominasi-denominasi Kristen tertentu sebagai sesama orang Kristen.[22]

Syahadat

Ikhtisar dari maklumat doktrin atau ungkapan keyakinan agama Kristen disebut syahadat (dari bahasa Arab: الشهادة‎‎, Asy-Syahadah, yang berarti "kesaksian") atau kredo (dari bahasa Latin credo, yang berarti "aku percaya"); umat Kristen Protestan di Indonesia lazimnya menggunakan istilah "pengakuan iman" (terjemahan dari istilah khas Protestan dalam bahasa Latin, confessio fidei). Syahadat-syahadat agama Kristen mula-mula disusun sebagai rumusan ayat-ayat upacara pembaptisan, yang di kemudian hari dijabarkan lebih luas lagi sewaktu terjadi sengketa Kristologi pada abad ke-4 dan ke-5, sehingga akhirnya menjadi rumusan-rumusan ungkapan iman.

Banyak denominasi Protestan Injili menolak syahadat sebagai ungkapan iman yang definitif, bahkan meskipun mereka setuju dengan sebagian atau seluruh isi syahadat itu. Denominasi-denominasi Protestan Baptis bertahan sebagai kaum tak bersyahadat, "yakni tidak berusaha menetapkan pengakuan-pengakuan iman yang bersifat otoritatif dan mengikat sebagai pegangan bersama."[23]:hlm.111 Golongan lain yang juga menolak syahadat adalah denominasi-denominasi Protestan yang lahir dari Gerakan Restorasi di Amerika Serikat pada awal abad ke-19.[24][25]:14–15[26]:123

 
Sebuah ikon Kristen Timur yang menampilkan sosok Kaisar Konstantinus Agung, didampingi para Bapa Konsili Nikea I (325 M), memegang naskah Syahadat Nikea-Konstantinopel tahun 381 M

Syahadat Para Rasul adalah butir-butir ungkapan iman Kristen yang paling berterima. Syahadat ini digunakan oleh sejumlah denominasi Kristen, baik untuk keperluan liturgi (peribadatan) maupun untuk keperluan katekese (pengajaran), sebagaimana yang jelas terlihat di Gereja-Gereja berliturgi dalam tradisi Kristen Barat, antara lain Gereja Katolik Ritus Latin, gereja-gereja Lutheran, gereja-gereja Anglikan, dan Gereja Ortodoks Ritus Barat. Syahadat ini juga digunakan oleh gereja-gereja Presbiterian, gereja-gereja Metodis, dan gereja-gereja Kongregasional. Inti sari dari Syahadat Para Rasul, yang disusun antara abad ke-2 dan ke-9 ini, adalah ajaran-ajaran mengenai Tritunggal dan Allah Sang Mahapencipta. Tiap-tiap ajaran dalam syahadat ini dapat ditelusuri asal-usulnya sampai ke pernyataan-pernyataan yang muncul pada Zaman Apostolik (masa hidup rasul-rasul Kristus). Syahadat ini tampaknya digunakan sebagai semacam ringkasan ajaran agama Kristen bagi para calon penerima baptisan di gereja-gereja Kota Roma.[27]

Pokok-pokok keyakinan dalam Syahadat Para Rasul adalah:

Syahadat Nikea disusun dengan tujuan utama melawan paham Arianisme dalam penyelenggaraan Konsili Nikea pada 325 M dan Konsili Konstantinopel pada 381 M,[28][29] kemudian disahkan menjadi syahadat Kristen sejagat oleh Konsili Efesus I pada 431 M.[30]

Rumusan Kalsedon atau Syahadat Kalsedon disusun dalam penyelenggaraan Konsili Kalsedon pada 451.[31] Syahadat yang ditolak oleh Gereja Ortodoks Oriental ini[32] mengajarkan bahwa Kristus "dikenal dalam dua kodrat yang tak tercampur, tak terubahkan, tak terbagi, dan tak terpisahkan," satu kodrat ilahi dan satu kodrat insani, yang masing-masing sempurna adanya, namun juga sempurna menyatu dalam satu pribadi.[33]

Syahadat Atanasius, yang diterima di Gereja Barat sebagai syahadat yang setaraf dengan Syahadat Nikea dan Syahadat Kalsedon, berisi kalimat "bahwasanya kami menyembah satu Allah dalam ketritunggalan, dan ketritunggalan dalam keesaan; tanpa menyama-nyamakan pribadi maupun membeda-bedakan hakikat."[34]

Sebagian besar umat Kristen (Katolik, Ortodoks Timur, Ortodoks Oriental, maupun Protestan) menerima pemakaian syahadat, dan menggunakan sekurang-kurangnya salah satu dari syahadat-syahadat di atas.[35]

Yesus

Asas utama agama Kristen adalah kepercayaan pada Yesus sebagai Putra Allah dan Mesias (Kristus). Umat Kristen percaya bahwa Yesus, selaku Mesias, diurapi oleh Allah menjadi juru selamat umat manusia, dan yakin bahwa Yesus datang ke dunia sebagai penggenapan nubuat tentang Mesias yang termaktub dalam Alkitab Perjanjian Lama. Konsep Mesias dalam agama Kristen pada dasarnya berbeda dari konsep Mesias dalam agama Yahudi. Inti dari keyakinan Kristen adalah bahwasanya dengan percaya dan menerima wafat dan kebangkitan Yesus, umat manusia yang berdosa dapat dirukunkan kembali dengan Allah, dan dengan demikian beroleh tawaran keselamatan dan janji hidup kekal.[36]

Meskipun ada berbagai macam perbedaan pandangan teologi mengenai kodrat Yesus pada abad-abad permulaan sejarah agama Kristen, pada umumnya umat Kristen percaya bahwa Yesus adalah penjelmaan Allah dan adalah "Allah sejati sekaligus manusia sejati" (atau seutuhnya ilahi dan seutuhnya insani). Karena menjelma menjadi manusia yang seutuhnya, maka Yesus juga mengalami sakit derita dan godaan hidup selayaknya seorang manusia fana, namun tidak berbuat dosa. Sebagai Allah yang seutuhnya, Yesus hidup kembali sesudah wafat. Menurut Alkitab Perjanjian Baru, Yesus bangkit dari antara orang mati,[37] naik ke surga, duduk di sebelah kanan Sang Bapa,[38] dan pada akhirnya akan datang kembali (Kisah Para Rasul 1:9–11) untuk menggenapi nubuat-nubuat selebihnya yang berkaitan dengan Mesias, yakni kebangkitan orang mati, penghakiman terakhir, dan pendirian Kerajaan Allah.

Menurut Injil Matius dan Injil Lukas, Yesus dikandung berkat kuasa Roh Kudus, dan dilahirkan oleh Perawan Maria. Hanya sedikit saja kisah masa kanak-kanak Yesus yang diriwayatkan dalam injil-injil sahih, namun ada pula injil-injil tentang masa kanak-kanak Yesus yang populer pada Abad Kuno. Sebaliknya masa dewasa Yesus, teristimewa sepekan menjelang wafatnya, justru diriwayatkan secara terperinci oleh injil-injil yang terdapat dalam kumpulan kitab suci Perjanjian Baru, karena masa-masa inilah yang diyakini paling penting. Riwayat-riwayat Alkitab tentang karya pelayanan Yesus meliputi peristiwa pembaptisannya, mukjizat-mukjizatnya, khotbah-khotbahnya, ajaran-ajarannya, serta sikap dan perbuatannya.

Wafat dan kebangkitan

 
Penyaliban, gambaran wafat Yesus di kayu salib, lukisan karya Diego Velázquez, abad ke-17

Bagi umat Kristen, kebangkitan Yesus adalah batu penjuru iman mereka (1 Korintus 15) dan peristiwa terpenting dalam sejarah.[39] Di antara sekian banyak keyakinan Kristen, wafat dan kebangkitan Yesus adalah dua peritiwa utama yang melandasi sebagian besar doktrin dan teologi Kristen.[40] Menurut Alkitab Perjanjian Baru, Yesus disalibkan, wafat secara jasmaniah, dimakamkan, dan bangkit dari antara orang mati tiga hari kemudian (Yohanes 19:30–31, Markus 16:1, Markus 16:6).

Alkitab Perjanjian Baru meriwayatkan beberapa peristiwa penampakan diri Yesus pascabangkit kepada kedua belas rasul dan murid-muridnya, termasuk peristiwa penampakan yang disaksikan oleh "lebih dari lima ratus orang saudara sekaligus" (1 Korintus 15:6), sebelum kenaikan Yesus ke surga. Wafat dan kebangkitan Yesus diperingati oleh umat Kristen dalam semua ibadat, dan diperingati secara lebih khusus selama Pekan Suci (sudah termasuk Hari Jumat Agung dan Hari Minggu Paskah).

Wafat dan kebangkitan Yesus lazimnya dianggap sebagai peristiwa-peristiwa terpenting dalam teologi Kristen, salah satu sebabnya adalah karena peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa Yesus berkuasa atas hidup dan mati, dan oleh karena itu berwenang dan berkuasa untuk menganugerahkan hidup kekal kepada umat manusia.[41]

Gereja-Gereja Kristen mengakui dan mengajarkan riwayat Perjanjian Baru mengenai kebangkitan Yesus dengan segelintir pengecualian.[42] Beberapa pengkaji modern menjadikan kepercayaan para pengikut Yesus akan kebangkitannya sebagai titik tolak dalam menetapkan kesinambungan antara sosok Yesus selaku tokoh sejarah dan sosok Yesus dalam pewartaan Gereja perdana.[43] Segolongan umat Kristen liberal tidak mengakui kebangkitan jasmaniah secara harfiah,[44][45] dan menganggap riwayat kebangkitan Yesus sekadar sebagai mitos yang kaya akan perlambang dan bermanfaat bagi pertumbuhan rohani. Argumen-argumen terkait keyakinan akan wafat dan kebangkitan Yesus muncul dalam banyak debat keagamaan dan dialog-dialog lintas agama.[46] Rasul Paulus, salah seorang pemeluk perdana sekaligus misionaris agama Kristen, pernah menulis bahwa "andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu" (1 Korintus 15:14).[47]

Keselamatan

Sebagaimana orang Yahudi dan orang Romawi penyembah berhala pada zamannya, Rasul Paulus percaya bahwa korban persembahan berkhasiat menciptakan ikatan kekerabatan baru, menyucikan, dan mendatangkan kehidupan kekal.[48] Bagi Paulus, korban persembahan yang diperlukan adalah wafat Yesus. Bangsa-bangsa lain, yang berkat pengorbanan nyawa Yesus telah menjadi "milik kepunyaan Kristus", juga adalah keturunan Abraham dan "berhak menerima janji Allah", sama seperti bangsa Israel (Galatia 3:29).[49] Allah yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati juga mengaruniakan kehidupan baru bagi "tubuh fana" umat Kristen dari bangsa-bangsa lain, yang bersama-sama dengan bangsa Israel telah menjadi "anak-anak Allah", dan oleh karena itu tidak lagi "hidup menurut daging" (Roma 8:9,11,16).[48]

Gereja-gereja modern cenderung lebih memusatkan perhatiannya pada permasalahan tentang bagaimana umat manusia dapat diselamatkan dari keadaan berdosa dan maut yang universal sifatnya itu, daripada permasalahan tentang bagaimana orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain dapat menjadi anggota keluarga Allah. Menurut doktrin Katolik maupun Protestan, keselamatan datang berkat pengorbanan nyawa Yesus menggantikan umat manusia dan berkat kebangkitannya. Gereja Katolik mengajarkan bahwa keselamatan tidak terwujud tanpa adanya kesetiaan di pihak umat Kristen; orang-orang yang telah bertobat dan hendak menjadi pengikut Kristus harus hidup menurut prinsip-prinsip cinta kasih, dan sepatutnya harus dibaptis.[50][51] Martin Luther mengajarkan bahwa baptisan diperlukan demi beroleh keselamatan, akan tetapi gereja Lutheran dan gereja-gereja Protestan lainnya pada zaman modern cenderung mengajarkan bahwa keselamatan adalah anugerah yang diperoleh seseorang berkat kasih karunia Allah, yang kadang-kadang didefinisikan sebagai "kerahiman tanpa pandang kelayakan", bahkan di luar dari baptisan.

Umat Kristen berbeda pandangan mengenai sejauh mana keselamatan seseorang telah ditakdirkan sejak semula oleh Allah. Teologi Kalvinis memberi penekanan khusus pada kasih karunia dengan mengajarkan bahwa tiap-tiap orang sama sekali tidak mampu membebaskan diri sendiri dari dosa, akan tetapi kasih karunia yang menguduskan itu tak terelakkan.[52] Sebaliknya umat Kristen Katolik, Ortodoks, dan Protestan Arminian percaya bahwa pelaksanaan kehendak bebas diperlukan untuk beriman pada Yesus.[53]

Tritunggal

 
Tritunggal adalah keyakinan bahwa Allah itu esa dalam tiga pribadi: Bapa, Putra, dan Roh Kudus.[54]

Istilah "Tritunggal" mengacu pada ajaran bahwa Allah yang esa[55] terdiri atas tiga pribadi berlainan yang serentak ada secara kekal, yakni Bapa, Putra (menjelma menjadi Yesus Kristus), dan Roh Kudus. Adakalanya ketiga pribadi ini bersama-sama disebut sebagai Keilahian (bahasa Yunani: θειότης, Teiotēs; bahasa Latin: Divinitas),[56][57][58] walau tak ada satu pun istilah yang digunakan dalam Alkitab untuk membahasakan gagasan Keilahian yang manunggal.[59] Syahadat Atanasius, salah satu ungkapan perdana dari keyakinan Kristen, menjelaskannya dengan kalimat "Sang Bapa adalah Allah, Sang Putra adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah, akan tetapi bukan ada tiga Allah melainkan satu Allah."[60] Tiga pribadi ini berbeda satu sama lain: Sang Bapa tidak bersumber, Sang Putra diperanakkan oleh Sang Bapa, dan Roh Kudus keluar dari Sang Bapa. Sekalipun berbeda, ketiga-tiganya tak terpisahkan satu sama lain, baik dalam keberadaan maupun dalam berkarya. Sebagian umat Kristen juga percaya bahwa Allah tampil sebagai Sang Bapa pada masa Perjanjian Lama, tampil sebagai Sang Putra pada masa Perjanjian Baru, dan tampil sebagai Roh Kudus pada masa kini, namun tetap saja Allah hadir pada ketiga masa ini sebagai tiga pribadi.[61] Meskipun demikian, ada keyakinan Kristen tradisional bahwa Sang Putralah yang tampil dalam Perjanjian Lama, karena bilamana Tritunggal digambarkan dalam seni rupa, Sang Putra lazimnya digambarkan dengan ciri khusus, yakni dengan praba bertanda salib yang melambangkan Kristus, dan sosok dengan ciri seperti inilah yang ditampilkan sebagai rupa Allah dalam penggambaran Taman Eden, yakni sosok penjelmaan Allah yang baru mengejawantah di kemudian hari. Pada sejumlah sarkofagus umat Kristen perdana, gambar sosok Sang Logos dicirikan dengan janggut, "yang membuatnya terlihat purba, bahkan terkesan prawujud (ada mendahului zamannya)."[62]

Tritunggal adalah doktrin hakiki dari agama Kristen arus utama. Jauh sebelum Syahadat Nikea dirumuskan pada 325 M, agama Kristen sudah mengajarkan[63] misteri hakikat ketritunggalan Allah sebagai suatu ungkapan iman normatif. Menurut Roger E. Olson dan Christopher Hall, melalui doa, tafakur, kajian dan praktik, komunitas Kristen menyimpulkan "bahwa Allah mestilah wujud sebagai suatu kemanunggalan maupun ketritunggalan", dan mengundangkan kesimpulan ini dalam konsili oikumene pada penghujung abad ke-4.[64][65]

Menurut doktrin ini, Allah tidak terbagi-bagi dalam arti tiap-tiap pribadi merupakan sepertiga dari keseluruhan diri Allah; sebaliknya, tiap-tiap pribadi dianggap sebagai Allah yang seutuhnya (baca perikoresis). Perbedaannya terletak dalam hubungan antarpribadi, Sang Bapa tidak bersumber; Sang Putra diperanakkan oleh Sang Bapa; Roh Kudus keluar dari Sang Bapa dan (dalam teologi Gereja Barat) dari Sang Putra. Sekalipun hubungannya berbeda, tiap-tiap "pribadi" ini kekal dan mahakuasa. Sekte-sekte Kristen seperti Universalisme Unitarian, Saksi Yehuwa, Gereja Mormon, dan sekte-sekte lainnya tidak menganut paham-paham Tritunggal semacam ini.

Kata Latin "trias", cikal bakal dari kata "trinitas", yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi "tritunggal", pertama kali muncul dalam karya-karya tulis Teofilus dari Antiokhia. Teofilus menulis tentang "Ketritunggalan Allah (Sang Bapa), Firman-Nya (Sang Putra), dan Hikmat-Nya (Roh Kudus)".[66] Istilah ini mungkin saja telah digunakan sebelum zaman Teofilus. Sesudah Teofilus, kata ini muncul kembali dalam karya-karya tulis Tertulianus.[67][68] Pada abad berikutnya, kata ini menjadi umum dipergunakan, dan sering muncul dalam karya tulis Origenes.[69]

Paham Tritunggal

Penganut paham tritunggal atau kaum trinitarianisme adalah sebutan bagi umat Kristen yang percaya pada konsep tritunggal. Hampir semua denominasi Kristen menganut paham tritunggal. Sekalipun kata "tritunggal" tidak termaktub dalam Alkitab, para teolog telah mengembangkan istilah dan konsep ini semenjak abad ke-3 untuk memudahkan orang memahami ajaran-ajaran Perjanjian Baru mengenai Allah sebagai Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Semenjak saat itu pula, para teolog Kristen dengan cermat menegaskan bahwa tritunggal bukan berarti ada tiga Allah (bidah antitritunggal Triteisme), juga bukan berarti tiap-tiap hipostasis dari Tritunggal adalah sepertiga dari satu Allah yang tak terhingga (bidah parsialisme), dan bukan pula berarti Sang Putra dan Roh Kudus adalah makhluk ciptaan yang derajatnya di bawah Sang Bapa (bidah Arianisme). Sebaliknya, Trinitas justru didefinisikan sebagai Allah Yang Maha Esa Dalam Tiga Pribadi.[70]

Paham Antitritunggal

Antitritunggal atau antitrinitarianisme (atau nontrinitarianisme) mengacu pada teologi yang menolak doktrin Tritunggal. Berbagai pandangan antitritunggal, semisal adopsionisme atau modalisme, sudah muncul semenjak permulaan sejarah agama Kristen, dan telah menjadi pemicu sengketa Kristologi.[71] Paham antitritunggal kembali muncul pada abad ke-11 sampai abad ke-13 dalam ajaran gnostik kaum Katari, pada abad ke-16 di kalangan jemaat-jemaat berpaham unitarian yang terbentuk semasa Reformasi Protestan,[72] pada Zaman Pencerahan abad ke-18, dan pada abad ke-19 di kalangan jemaat-jemaat Protestan yang terbentuk semasa Kebangunan Rohani II.

Kitab Suci

 
Alkitab adalah Kitab Suci agama Kristen

Sama seperti agama-agama lain, agama Kristen juga memiliki beragam pemeluk dengan beragam keyakinan dan penafsiran Kitab Suci. Dalam agama Kristen, kumpulan kitab-kitab kanonik, yakni Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, diyakini sebagai Firman Allah yang terilhamkan. Menurut pandangan tradisional mengenai ilham ini, Allah berkarya sedemikian rupa melalui para pujangga insani sehingga para pujangga ini dapat menuliskan hal-hal yang hendak diwahyukan Allah. Perkataan Yunani dalam 2 Timotius 3:16 yang mengacu pada ilham ilahi ini adalah teopneustos, yang secara harfiah berarti "diembuskan Allah".[73]

Sebagian kalangan percaya bahwa ilham ilahi membuat Alkitab yang ada sekarang ini bebas dari kesalahan. Kalangan lain percaya bahwa Alkitab bebas dari kesalahan dalam naskah-naskah aslinya saja, walau tak satu pun naskah asli Alkitab yang masih ada sampai sekarang. Ada pula kalangan yang percaya bahwa hanya Alkitab dalam terjemahan tertentu saja yang bebas dari kesalahan, misalnya Alkitab Versi Raja James.[74][75][76] Pandangan lain yang erat kaitan dengan keyakinan ini adalah infalibilitas Alkitab atau sifat bebas-salah-terbatas dari Alkitab, yakni pandangan yang mengatakan bahwa Alkitab bebas dari kesalahan selaku tuntunan menuju keselamatan, namun mungkin saja mengandung kesalahan sehubungan dengan hal-hal tertentu seperti sejarah, geografi, atau ilmu pengetahuan.

Kitab-kitab yang diakui sebagai bagian dari Alkitab oleh Gereja Ortodoks, Gereja Katolik, dan gereja-gereja Protestan agak bervariasi, sementara umat Yahudi hanya mengakui kesahihan Alkitab Ibrani (kumpulan pustaka dalam Alkitab yang ditulis dalam bahasa Ibrani); meskipun demikian, ada banyak kitab yang diakui kesahihannya oleh semua pihak. Variasi-variasi dalam daftar kitab yang dianggap sahih ini merupakan cerminan dari rentang tradisi dan konsili-konsili yang pernah diselenggarakan sehubungan dengan hal ini. Tiap-tiap versi daftar Kitab Suci Perjanjian Lama selalu memuat kumpulan Tanak (Taurat-Nabi-Kitab), yakni Alkitab Ibrani atau kumpulan pustaka yang dianggap sahih oleh umat Yahudi. Selain kumpulan Tanak, Gereja Katolik dan Ortodoks menganggap kumpulan pustaka Deuterokanonika (kumpulan sahih kedua) sebagai kitab-kitab yang sahih dan layak dijadikan bagian dari Kitab Suci Perjanjian Lama. Kitab-kitab Deuterokanonika termuat dalam Alkitab Septuaginta (terjemahan perdana Alkitab Yahudi dalam bahasa Yunani), namun dianggap apokrif (daif) oleh kalangan Protestan. Meskipun demikian, kitab-kitab ini dianggap sebagai dokumen-dokumen sejarah penting, yang dapat membantu orang memahami kosakata, tata bahasa, dan tata kalimat yang lazim digunakan pada zaman penulisannya. Beberapa versi terbitan Alkitab memuat kitab-kitab Deuterokanonika dan bagian-bagian dari kitab sahih yang dianggap apokrif di kalangan Protestan pada bagian tersendiri di antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.[77] Kumpulan Kitab Suci Perjanjian Baru, yang ditulis dalam bahasa Yunani Koine (bahasa Yunani pasaran), terdiri atas 27 kitab yang diakui kesahihannya oleh semua denominasi Kristen.

Kajian modern telah memunculkan berbagai isu terkait Alkitab. Meskipun diagung-agungkan oleh banyak kalangan penutur bahasa Inggris karena keindahan prosanya yang memukau, Alkitab Versi Raja James sesungguhnya diterjemahkan dari Alkitab Yunani Erasmus yang disusun "atas dasar satu saja naskah salinan abad ke-12, yakni salah satu dari naskah-naskah terburuk yang masih ada sampai sekarang".[78] Banyak kajian yang dilakukan selama beberapa ratus tahun terakhir telah membanding-bandingkan berbagai naskah yang berlainan guna mereka-ulang naskah asli. Isu lain yang juga dimunculkan adalah anggapan bahwa sejumlah kitab mengandung ayat-ayat palsu. Anjuran kepada kaum perempuan untuk "berdiam diri dan bersikap patuh" dalam 1 Timotius 2[79] diduga oleh banyak kalangan sebagai ayat palsu yang disusupkan salah seorang pengikut Paulus ke dalam Alkitab. Ayat serupa dalam 1 Korintus 14,[80] yang diduga sebagai buah pikiran Paulus, muncul di tempat-tempat yang berlainan dalam naskah-naskah yang berlainan pula, dan diduga mula-mula adalah catatan pinggir yang dibuat oleh seorang penyalin.[78] Ayat-ayat lain dalam 1 Korintus, misalnya 1 Korintus 11:2–16 yang berisi anjuran bagi kaum perempuan untuk menudungi rambut "bilamana berdoa atau bernubuat",[81] justru bertentangan dengan anjuran bagi mereka untuk berdiam diri selama ibadat berlangsung.

Isu terakhir terkait Alkitab adalah cara menyeleksi kitab-kitab untuk dimasukkan ke dalam kumpulan Kitab Suci Perjanjian Baru. Injil-injil lain telah ditemukan, semisal injil-injil yang ditemukan di dekat Nag Hammâdi pada 1945, dan meskipun sebagian dari nas-nas ini berbeda dari nas-nas yang lumrah digunakan umat Kristen, perlu dipahami bahwa beberapa di antara materi injil temuan baru ini mungkin sekali berasal dari masa yang sama, atau bahkan mendahului masa penulisan injil-injil Perjanjian Baru. Nas-nas inti dari Injil Tomas, pada khususnya, diperkirakan ditulis seawal-awalnya pada tahun 50 M (meskipun beberapa pengkaji menyanggah penetapan batas awal perkiraan tarikh penulisan Injil Tomas ini),[82] dan jika benar demikian maka injil ini dapat menawarkan suatu cara pandang baru dalam mencermati nas-nas injil yang mendasari injil-injil kanonik, yakni nas-nas yang terdapat dalam Injil Lukas 1:1–2. Injil Tomas memuat banyak nas yang mirip dengan nas injil-injil kanonik, misalnya saja ayat 113 ("Kerajaan Bapa tersebar di muka bumi, akan tetapi orang-orang tidak melihatnya"),[83] yang mengingatkan orang pada ayat-ayat Injil Lukas (Lukas 17:20–21)[84][85] dan Injil Yohanes, dengan peristilahan dan pendekatan yang mengesankan pada apa yang di kemudian hari disebut sebagai ajaran Gnostik, yang belakangan ini telah dianggap mungkin saja merupakan tanggapan terhadap Injil Tomas, yakni injil yang umumnya dilabeli proto-Gnostik. Para pengkaji kini sedang menjajaki hubungan dalam Gereja perdana antara spekulasi dan pengalaman mistik di satu pihak, dan upaya pencarian tata tertib Gereja di lain pihak, dengan menelaah nas-nas temuan baru, dengan meneliti nas-nas kanonik secara lebih seksama. dan dengan menguji tahapan yang dilalui nas-nas Kitab Suci Perjanjian Baru sehingga berstatus kanonik.

Tafsir Katolik

 
Basilika Santo Petrus, Kota Vatikan, gedung gereja terbesar di dunia, sekaligus salah satu lambang Gereja Katolik

Ada dua mazhab eksegesis (tafsir ayat-ayat suci) yang muncul dan berkembang pada Abad Kuno, satu di Aleksandria, dan satu lagi di Antiokhia. Tafsir mazhab Aleksandria, sebagaimana yang dicontohkan oleh Origenes, cenderung menelaah makna kiasan (makna yang tersirat) dari ayat-ayat Alkitab, sementara tafsir mazhab Antiokhia menelaah makna harfiahnya (makna yang tersurat), dengan keyakinan bahwa makna-makna lain (disebut teoria) hanya boleh diterima jika didasarkan atas makna harfiah.[86]

Teologi Katolik membedakan makna yang dikandung ayat-ayat Alkitab menjadi dua macam, yakni makna harfiah dan makna rohaniah.[87]

Makna harfiah adalah arti dari kata-kata yang digunakan dalam susunan ayat-ayat suci, sementara makna rohaniah masih dibedakan lagi menjadi:

Sehubungan dengan eksegesis, menurut pedoman tafsir yang benar, teologi Katolik menegaskan bahwa:

  • Semua makna lain dari ayat-ayat Kitab Suci wajib didasarkan atas makna harfiahnya.[88][89]
  • Kesejarahan injil-injil harus diyakini secara mutlak dan tunak.[90]
  • Kitab Suci semestinya dibaca dalam lingkup "tradisi hidup segenap Gereja".[91]
  • "Tugas menafsirkan Kitab Suci telah dipercayakan kepada para uskup dalam persekutuan dengan pengganti Petrus, Uskup Roma".[92]

Tafsir Protestan

 
Umat Protestan berpegang pada keyakinan-keyakinan asasi yang digagas oleh Martin Luther untuk melawan Gereja Katolik, yakni sola scriptura (dengan Kitab Suci belaka), sola fide (oleh iman belaka), sola gratia (berkat kasih karunia belaka), solus Christus (melalui Kristus belaka), dan soli Deo gloria (demi kemuliaan Allah belaka).
Kejelasan Kitab Suci

Umat Kristen Protestan yakin bahwa Alkitab adalah wahyu yang swadaya, kewenangan tertinggi di atas seluruh doktrin Kristen, dan menyingkap seluruh kebenaran yang diperlukan demi keselamatan. Keyakinan ini terkenal dengan sebutan sola scriptura.[93] Sudah menjadi ciri khas bagi umat Protestan untuk meyakini bahwa umat awam mampu memahami Kitab Suci secara memadai, baik karena Kitab Suci itu sendiri sudah jelas (atau "lugas"), berkat pertolongan Roh Kudus, maupun karena kedua-duanya. Martin Luther percaya bahwa tanpa pertolongan Allah, Kitab Suci akan "terselubungi kegelapan".[94] Ia menghendaki adanya "satu pemahaman Kitab Suci yang bersifat definitif dan sederhana".[94] Yohanes Kalvin pernah menulis bahwa "barang siapa tidak menolak bimbingan Roh Kudus, ia akan menemukan cahaya terang dalam Kitab Suci".[95] Pengakuan Iman Helvetika kedua, yang disusun oleh gembala jemaat Kalvinis di Zürich (pengganti tokoh Reformasi Protestan, Zwingli), diadopsi sebagai maklumat doktrin oleh sebagian besar jemaat Kalvinis di Eropa.[96]

Makna asali yang sejati dari Kitab Suci

Umat Protestan menitikberatkan makna dari kata-kata yang termaktub dalam Kitab Suci. Cara tafsir yang mementingkan arti kata dalam ayat-ayat suci ini disebut metode historis-gramatikal (metode kesejarahan-ketatabahasaan).[97] Metode historis-gramatikal merupakan suatu upaya di bidang Hermeneutika Alkitab (ilmu tafsir Alkitab) untuk menemukan makna mula-mula dan maksud yang sesungguhnya dari nas-nas Kitab Suci.[98] Makna asali dan maksud sejati dari nas Kitab Suci diperoleh melalui penelaahan ayat dari segi tata bahasa dan tata kalimat, latar belakang sejarah, ragam sastra, serta pertimbangan-pertimbangan teologi (kanon Alkitab).[99] Metode historis-gramatikal membedakan antara satu makna asali dan arti penting dari nas Alkitab. Arti penting dari suatu nas Alkitab mencakup penggunaan atau penerapan nas tersebut. Ayat Alkitab dianggap hanya memiliki satu arti atau makna tunggal. Sebagaimana yang diutarakan oleh Milton S. Terry, "salah satu prinsip dasar dari eksposisi historis-gramatikal adalah bahwasanya kata-kata dan kalimat-kalimat hanya memiliki satu signifikansi dalam satu koneksi yang sama. Bilamana kita mengabaikan prinsip ini, di saat itu pula kita hanyut di lautan ketidakpastian dan penerkaan."[100] Jelasnya, metode tafsir historis-gramatikal berlainan dengan penentuan arti penting dari suatu ayat yang ditafsirkan. Jika disatukan, kedua-duanya membentuk pengertian dari istilah hermeneutika Alkitab.[98]

Sejumlah mufasir Protestan menggunakan pendekatan tipologi.[101]

Eklesiologi

Eskatologi

 
Biara Khor Virap yang dibangun pada abad ke-7 di bawah bayang-bayang Gunung Ararat. Armenia adalah negara pertama yang menjadikan agama Kristen sebagai agama negara, yakni pada 301 M.[102]

Pembahasan mengenai akhir dari segala sesuatu, baik akhir hayat setiap insan, akhir zaman, maupun akhir dunia, pada dasarnya adalah eskatologi Kristen, yakni kajian mengenai takdir umat manusia sebagaimana yang diwahyukan dalam Alkitab. Pokok-pokok bahasan utama dalam eskatologi Kristen adalah zaman kesusahan besar, maut dan akhirat, pengangkatan, kedatangan Yesus untuk kedua kalinya, kebangkitan orang mati, surga dan neraka, milenialisme (keyakinan tentang kerajaan seribu tahun), pengadilan terakhir, hari kiamat, serta langit yang baru dan bumi yang baru.

Umat Kristen percaya bahwa kedatangan Kristus untuk kedua kalinya akan terjadi pada akhir zaman, sesudah kurun waktu penganiayaan dahsyat (zaman kesusahan besar). Semua orang yang telah wafat akan dibangkitkan secara jasmaniah dari kematian untuk menjalani pengadilan terakhir. Yesus akan mendirikan Kerajaan Allah yang paripurna untuk menggenapi nubuat-nubuat dalam Kitab Suci.[103][104]

Maut dan akhirat

Sebagian besar umat Kristen percaya bahwa umat manusia akan menghadap mahkamah ilahi dan diganjari hidup kekal atau laknat kekal. Kepercayaan tentang mahkamah ilahi ini meliputi keyakinan akan penghakiman umum atas segenap umat manusia manakala orang-orang mati dibangkitkan, serta keyakinan (dianut oleh umat Kristen Katolik,[105][106] Ortodoks,[107][108] dan sebagian besar denominasi Protestan) akan penghakiman khusus atas tiap-tiap jiwa manakala yang bersangkutan mengalami kematian jasmani.

Dalam ajaran Katolik, orang-orang yang wafat dalam keadaan berahmat, yakni tanpa dosa berat yang memisahkannya dari Allah namun belum sepenuhnya bersih dari akibat-akibat dosa, akan dimurnikan di purgatorium (alam pemurnian) sehingga mencapai kekudusan dan layak masuk ke hadirat Allah.[109] Orang-orang yang telah mencapai kekudusan disebut orang-orang kudus.[110]

Beberapa denominasi Kristen, misalnya Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, menganut paham mortalisme, yakni keyakinan bahwa jiwa manusia tidak diciptakan baka, dan berada dalam keadaan tidak sadar sejak wafat sampai dengan dibangkitkan. Umat Kristen penganut paham mortalisme ini juga menganut paham anihilasionisme, yakni keyakinan bahwa selepas pengadilan terakhir, orang-orang jahat akan lenyap, bukannya menanggung siksaan kekal. Umat Saksi Yehuwa juga menganut paham serupa.[111]

Ibadat

 
Contoh benda-benda rohani Katolik—Alkitab, salib, dan rosario.

Dalam karya tulisnya, Pembelaan Pertama (ca. 150 M), Yustinus Martir menggambarkan jalannya liturgi (upacara ibadat berjemaah) Kristen dalam penjelasannya mengenai agama Kristen kepada Kaisar Antoninus Pius. Penggambarannya ini masih relevan dengan tatanan dasar upacara peribadatan Kristen. Yustinus Martir memberi gambaran sebagai berikut:

Dan pada hari yang disebut hari Minggu, semua orang yang tinggal di kota-kota maupun di desa-desa berhimpun di satu tempat, dan riwayat-riwayat para rasul atau tulisan-tulisan para nabi dibacakan, sepanjang waktu mengizinkan; lalu bilamana pembaca telah menyelesaikan tugasnya, pemimpin ibadat memberi arahan secara lisan, dan mengimbau agar hal-hal baik ini diteladani. Kemudian kami semua berdiri bersama-sama dan berdoa, dan sebagaimana yang sudah kami katakan sebelumnya, bilamana kami selesai berdoa, roti dan anggur serta air diantarkan, dan pemimpin ibadat dengan cara yang sama mempersembahkan doa-doa dan ucapan-ucapan syukur, sesuai dengan kesanggupannya, dan para hadirin mengiyakan dengan berucap amin; dan ada pencatuan bagi tiap-tiap hadirin, dan pengambilan bagian dari yang atasnya telah dipersembahkan ucapan syukur, dan bagi orang-orang yang tidak hadir ada jatah yang diantar oleh para diakon. Orang-orang yang mampu, dan yang rela, menyumbang sebanyak yang ia anggap layak; dan sumbangan yang terkumpul disimpan oleh pemimpin ibadat, yang menyantuni yatim piatu dan janda-janda serta orang-orang yang memerlukan santunan karena sedang sakit atau karena sebab lain, juga orang-orang yang terbelenggu dan orang-orang asing yang sedang singgah di tengah-tengah kami, singkatnya, menyantuni semua orang yang memerlukan santunan.[112]

Dari karya tulis Yustinus Martir dapat diketahui bahwa, pada masa hidupnya, umat Kristen berhimpun untuk beribadat secara berjemaah pada hari Minggu, hari kebangkitan Yesus, meskipun ada pula upacara-upacara peribadatan lain yang dilaksanakan di luar hari Minggu. Bacaan-bacaan Kitab Suci diambil dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, teristimewa injil. Seringkali bacaan-bacaan ini ditata berurutan mengikuti suatu siklus tahunan, di dalam sebuah buku yang disebut leksionari (kumpulan bacaan). Arahan lisan dari pemimpin ibadat didasarkan atas bacaan-bacaan ini, dan disebut khotbah atau homili. Ada bermacam-macam doa berjemaah, antara lain doa ucapan syukur, doa pengakuan dosa, dan doa syafaat, yang diucapkan selama ibadat berlangsung. Bentuk doa-doa ini juga bermacam-macam, antara lain doa yang didaraskan, doa berbalas-balasan, doa dalam hati, maupun doa yang dilantunkan. Doa Bapa Kami, atau Doa Tuhan, diucapkan secara teratur.

 
Grup musik ibadat Protestan modern sedang memimpin salah satu sesi ibadat (penyembahan) yang bergaya mutakhir

Sebagian denominasi Kristen telah meninggalkan tata peribadatan tradisional ini. Di negara-negara penutur bahasa Inggris, orang seringkali membedakan upacara peribadatan menjadi kebaktian gereja "tinggi", yang bercirikan upacara yang lebih megah dan takzim, dan kebaktian gereja "rendah", namun dalam kedua-dua kategori ini pun terdapat banyak sekali variasi bentuk peribadatan. Jemaat-jemaat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh menyelenggarakan ibadat berjemaah pada hari Sabtu, dan ada pula jemaat-jemaat Kristen yang menyelenggarakan ibadat berjemaah tidak secara berkala (seminggu sekali). Jemaat-jemaat Karismatik atau Pentakosta boleh saja serta-merta melakukan tindakan-tindakan tertentu selama ibadat berlangsung bilamana merasa digerakkan oleh Roh Kudus, alih-alih mengikuti suatu urut-urutan upacara yang baku. Tindakan serta-merta ini juga mencakup berdoa secara spontan. Jemaat Quaker akan duduk berdiam diri selama ibadat berlangsung sampai digerakkan oleh Roh Kudus untuk berkata-kata.

Beberapa denominasi Protestan Injili menyelenggarakan ibadat seperti konser-konser, lengkap dengan musik rock dan pop, tari-tarian, dan penggunaan multimedia. Denominasi-denominasi yang tidak mengakui keberadaan jabatan imamat yang terpisah dari umat awam pada umumnya beribadat tanpa harus dipandu oleh seorang pemimpin ibadat yang resmi, baik karena prinsip yang dianut denominasi tersebut, maupun karena sekadar menyesuaikan penyelenggaraan ibadat dengan kebutuhan jemaat setempat. Beberapa denominasi hanya menggunakan musik akapela, baik karena prinsip yang dianutnya (sebagai contoh, banyak jemaat dari denominasi Sidang Jemaat Kristus menolak penggunaan alat musik dalam ibadat), maupun karena tradisi (seperti di Gereja Ortodoks).

Hampir semua denominasi Kristen menyelenggarakan upacara perayaan Ekaristi (perjamuan kudus), yakni upacara pemberkatan dan pembagi-bagian roti dan anggur. Upacara ini dilakukan demi mematuhi perintah Yesus dalam Perjamuan Terakhir kepada murid-muridnya agar diperbuat guna mengenang dirinya sewaktu membagi-bagikan roti kepada mereka sambil berkata, "inilah tubuhku", dan mengedarkan cawan berisi minuman anggur sambil berkata, "inilah darahku".[113] Beberapa denominasi Kristen mempraktikkan komuni tertutup (persekutuan tertutup), sehingga hanya membagikan komuni (roti dan anggur yang sudah diberkati) kepada orang-orang yang sudah bergabung dengan denominasinya, atau kadang-kadang hanya kepada orang-orang yang sudah bergabung dengan jemaat gerejanya. Gereja Katolik hanya membagikan komuni kepada anggota-anggotanya yang tidak dalam keadaan berdosa berat. Sebagian besar denominasi mempraktikkan komuni terbuka, karena menurut pandangan mereka komuni adalah sarana untuk bersekutu, dan bukan persekutuan itu sendiri. Denominasi-denominasi semacam ini mempersilahkan semua orang Kristen untuk ikut mengambil bagian.

Tata ibadat dapat diubah suai pada kesempatan-kesempatan istimewa seperti pembaptisan atau pernikahan yang diselenggarakan selama ibadat berlangsung, atau pada hari-hari raya penting. Dalam peribadatan Gereja perdana, orang-orang yang belum selesai menjalani proses inisiasi (para katekumen) akan dipisahkan dari jemaat bilamana ibadat akan dilanjutkan ke bagian upacara Ekaristi. Di banyak gereja sekarang ini, kanak-kanak dipisahkan dari orang dewasa sepanjang seluruh atau sebagian dari waktu peribadatan untuk diberi pengajaran yang sesuai dengan usia mereka. Ibadat khusus untuk kanak-kanak ini disebut Sekolah Minggu atau Sekolah Sabat (Sekolah Minggu seringkali diselenggarakan sebelum ibadat, alih-alih sewaktu ibadat berlangsung).

Sakramen

Sakramen adalah ritus Agama Kristen yang menjadi perantara (menyalurkan) rahmat ilahi. Kata 'sakramen' berasal dari Bahasa Latin sacramentum yang secara harfiah berarti "menjadikan suci". Salah satu contoh penggunaan kata sacramentum adalah sebagai sebutan untuk sumpah bakti yang diikrarkan para prajurit Romawi; istilah ini kemudian digunakan oleh Gereja dalam pengertian harfiahnya dan bukan dalam pengertian sumpah tadi.[114]

Kalender Liturgi

Gereja Katolik Roma, Gereja Timur, Anglikan, dan Gereja Protestan mengatur ibadah dalam jadwal kalender liturgis. Hal ini termasuk hari-hari suci, misalnya Hari Perenungan yang memperingati sebuah kejadian di dalam hidup Yesus Kristus, hari-hari puasa, atau perayaan-perayaan biasa seperti hari memperingati orang-orang kudus. Komunitas Kristen yang tidak mengikuti tradisi kalender liturgis biasanya masih tetap merayakan perayaan-perayaan tertentu, seperti Natal, Paskah, dan Kenaikan Yesus ke Surga. Beberapa Gereja sama sekali tidak memakai kalender liturgis.[115]

Simbol

Salib, yang saat ini adalah simbol Kekristenan yang paling mudah dikenali di seluruh dunia, telah digunakan sebagai simbol Kristen pada zaman sangat awal.[116] Lambang ikan juga tampaknya berada di urutan teratas lambang favorit setelah salib. Lambang ikan dipakai oleh karena kemiripan 5 huruf konsonan yang membentuk kata ikan (Ichthys), yang mana dapat dipakai sebagai singkatan untuk menggambarkan Yesus: Iesous Christos Theou Yios Soter, artinya Yesus Kristus, Anak Allah, Penyelamat.[117]

Orang Kristen awal mula suka untuk menghiasi makam-makam mereka dengan ukir-ukiran dan gambar mengenai Yesus, orang-orang kudus, kejadian dari Alkitab, dan perlambang-perlambang yang lain. Orang-orang Kristen awal tidak memiliki pemikiran negatif menganai gambar, ukiran, maupun patung.[118] Simbol-simbol yang lain meliputi burung merpati (simbol Roh Kudus), anak domba (simbol pengorbanan Yesus), pohon anggur beserta ranting-rantingnya (simbol bahwa orang Kristen harus memiliki hubungan secara pribadi dengan Yesus) dan banyak yang lain. Semua ini diambil dari ayat-ayat Alkitab Perjanjian Baru.[119]

 
Lukisan The Baptism of Christ ("Pembaptisan Kristus") oleh Francesco Albani.

Baptisan

Baptisan merupakan sebuah ritual dan sakramen menggunakan air, yang menandakan seseorang berkomitmen menjadi seorang Kristen dan tergabung menjadi anggota Gereja. Ada Gereja yang memperbolehkan baptisan dengan air yang dipercikkan (misalnya Gereja Kristen Protestan, Gereja Katolik dan Ortodoks), ada Gereja yang mengharuskan baptisan dilakukan dengan diselamkan ke dalam air seperti Yesus (misalnya Gereja Pantekosta dan Karismatik).

Doa

Pengajaran Yesus tentang doa pada Khotbah di Bukit menggambarkan bahwa doa secara Kristen hanya memakai sedikit faktor eksternal, atau tidak ada sama sekali, seperti misalnya harus menggambar simbol-simbol tertentu atau harus menyembelih hewan-hewan tertentu terlebih dahulu sebelum berdoa. Dalam doa secara Kristen, semua perilaku-perilaku yang menekankan kepada "teknik-teknik berdoa" yang menggunakan faktor eksternal seperti yang tadi disebutkan biasanya dituduh sebagai "Pagan" (Paganisme, penyembahan berhala). Karena itu, dalam doa secara Kristen, yang ditekankan adalah cukup hanya perlu percaya kepada kebaikan Tuhan ketika berdoa.[120] Di seluruh Perjanjian Baru, penekanan terhadap kebebasan untuk datang kepada Tuhan ini pun ditekankan.[121] Keyakinan ini harus dilihat dari sudut pandang kepercayaan Kristen terhadap hubungan yang unik antara orang percaya dengan Yesus, lewat Roh Kudus.[122]

Dalam tradisi lanjutan, beberapa gerakan sebelum berdoa dianjurkan, seperti misalnya membuat tanda salib, berlutut, atau membungkuk. Kebiasaan melipat tangan, menyatukan kedua tangan di depan dada, atau mengangkat tangan pun terkadang sering dilakukan untuk meningkatkan konsentrasi ketika berdoa dan mengekspresikan isi doa.

Sejarah

Gereja perdana dan konsili-konsili kristologi

 
Kapel Santo Ananias, Damaskus, Suriah, salah satu rumah ibadat Kristen tertua; dibangun pada abad pertama tarikh Masehi.
 
Salah satu lambang lingkaran iktus tertua, lambang ini terbentuk dari gabungan aksara Yunani ΙΧΘΥΣ sehingga membentuk gambar roda. Efesus, Asia Kecil.
 
Lembah Kadisya, Lebanon, lokasi sejumlah biara Kristen tertua di dunia

Agam Kristen bermula sebagai sebuah sekte agama Yahudi di kawasan Syam, Timur Tengah, pada pertengahan abad pertama tarikh Masehi. Selain agama Yahudi era kenisah kedua, keyakinan-keyakinan besar yang turut mempengaruhi agama Kristen perdana adalah agama Majusi dan ajaran-ajaran Gnostik.[note 2][7][8][123] John Bowker berpendapat bahwa gagasan-gagasan Kristen seperti "para malaikat, kiamat, pengadilan terakhir, kebangkitan, serta surga dan neraka mendapatkan bentuk dan maknanya dari ... kepercayaan-kepercayaan agama Majusi".[124] Agama Kristen mula-mula bertumbuh di bawah kepemimpinan kedua belas rasul, khususnya Petrus dan Paulus, yang dilanjutkan oleh para uskup (bahasa Arab: أُسْقُف‎, usquf, alih aksara dari bahasa Yunani: επίσκοπος, epískopos, penilik) perdana yang dihormati oleh umat Kristen selaku pengganti para rasul.

Menurut Kitab Suci agama Kristen, umat Kristen sejak semula telah ditindas oleh sejumlah pemuka agama Yahudi dan Romawi, yang tidak setuju dengan ajaran-ajaran para rasul (baca Perpecahan Gereja Perdana dan Yudaisme). Penindasan ini juga dilakukan melalui pemberian berbagai macam hukuman, termasuk hukuman mati, kepada umat Kristen, seperti yang dialami oleh Stefanus (Kisah Para Rasul 7:59) dan Yakobus bin Zebedeus (Kisah Para Rasul 12:2). Penindasan-penindasan berskala besar dilakukan oleh pemerintah Kekaisaran Romawi, dan pertama kali terjadi pada tahun 64, manakala Kaisar Nero mengambinghitamkan umat Kristen sebagai penyebab peristiwa kebakaran besar di Roma. Menurut tradisi Gereja, pada masa penindasan Kaisar Nero inilah para pemimpin Gereja Perdana, Petrus dan Paulus, wafat sebagai syuhada di Roma.

Penindasan-penindasan yang lebih luas lagi berlangsung selama masa pemerintahan sembilan Kaisar Romawi berikutnya, dan yang paling gencar terjadi pada masa pemerintahan Kaisar Desius dan Kaisar Dioklesianus. Semenjak tahun 150, para ulama Kristen mulai menghasilkan karya-karya tulis teologi dan apologi untuk membela iman Kristen. Para pujangga ini dikenal dengan sebutan bapa-bapa Gereja, dan kajian atas karya-karya mereka disebut Studi Patristik atau Patrologi. Bapa-bapa Gereja terdahulu yang terkenal antara lain Ignasius dari Antiokhia, Polikarpus, Yustinus Martir, Ireneus, Tertulianus, Klemens dari Aleksandria, dan Origenes.

Armenia diyakini sebagai negara pertama yang menerima agama Kristen,[102][125][126] manakala Raja Tirdat III menjadikan agama Kristen sebagai agama negara Armenia antara tahun 301 dan 314. Agama Kristen bukanlah agama baru di Armenia kala itu, karena sudah menyebar ke negeri itu selambat-lambatnya sejak abad ke-3, dan mungkin saja sudah hadir lebih awal lagi.[127]

Akhir dari penindasan bangsa Romawi pada masa pemerintahan Kaisar Konstantinus (313 M)

 
Salah satu contoh seni rupa Bizantin, mosaik Deisis Gereja Hagia Sofia di Konstantinopel

Penindasan oleh negara mereda pada abad ke-4, setelah Konstantinus I mengeluarkan maklumat toleransi pada tahun 313. Kala itu, penganut agama Kristen masih merupakan golongan minoritas, mungkin hanya lima persen dari populasi Romawi.[128] Pada 27 Februari 380, Kaisar Teodosius I mengundangkan sebuah hukum yang menetapkan agama Kristen versi Nikea sebagai agama Kristen yang sah dianut di Kekaisaran Romawi.[129] Segera sesudah dijadikan agama negara, agama Kristen tumbuh dengan subur. Gereja menerima banyak sumbangan dari orang-orang kaya hingga mampu membeli tanah.[130] Selambat-lambatnya semenjak abad ke-4, agama Kristen telah berperan penting dalam pembentukan peradaban Dunia Barat.[131]

Kaisar Konstantinus juga berjasa menyelenggarakan Konsili Nicea yang pertama pada 325, untuk mengusut tuntas bidah Arianisme, dan merumuskan Syahadat Nikea yang hingga kini masih dipakai oleh Gereja Katolik, Gereja Ortodoks Timur, persekutuan gereja-gereja Anglikan, dan banyak gereja Protestan.[35] Konsili Nikea adalah yang pertama dari serangkaian Konsili Oikumene (sedunia) yang secara resmi merumuskan unsur-unsur teologi Gereja, terutama yang berkaitan dengan Kristologi.[132] Gereja Timur Asiria tidak menerima keputusan Konsili Oikumene yang ketiga berikut keputusan konsili-konsili yang diselenggarakan sesudahnya, dan sampai sekarang masih berdiri sendiri di luar lingkup persekutuan-persekutuan Kristen lainnya.

Kehadiran agama Kristen di Afrika bermula pada abad pertama Masehi di Mesir, dan pada abad ke-2 di kawasan sekitar Kartago. Penginjil Markus merintis pembentukan Gereja Ortodoks Koptik di Aleksandria pada ca. 43 M.[133][134][135] Tokoh-tokoh Afrika yang telah mempengaruhi perkembangan agama Kristen antara lain Tertulianus, Klemens dari Aleksandria, Origenes dari Aleksandria, Siprianus, Atanasius, dan Agustinus dari Hipo. Di kemudian hari, kemunculan Islam di Afrika Utara menyusutkan ukuran dan jumlah jemaat-jemaat Kristen, serta hanya menyisakan Gereja Koptik di Mesir, Gereja Tewahedo Ortodoks Etiopia di kawasan Tanduk Afrika, dan Gereja Nubia di Sudan (Nobatia, Makuria, dan Alodia).

Di bidang kemakmuran dan kehidupan berbudaya, Kekaisaran Bizantin merupakan salah satu dari puncak-puncak pencapaian dalam sejarah agama Kristen dan peradaban Kristen.[136] Konstantinopel tetap menjadi kota terunggul di seluruh Dunia Kristen dari segi ukuran, kemakmuran, dan budayanya.[137] Di kota ini pula minat terhadap filsafat Yunani klasik bersemi kembali, dan jumlah karya sastra dalam bahasa Yunani semakin bertambah banyak.[138] Kesenian dan kesusastraan Bizantin sangat dihargai di Eropa, dan seni rupa Bizantin telah meninggalkan kesan yang bertahan sangat lama dalam kebudayaan Dunia Barat.[139]

Awal Abad Pertengahan

Dengan runtuhnya Kekaisaran Romawi di Eropa Barat, lembaga kepausan tampil menjadi salah satu pihak yang turut berperan di pentas politik. Kenyataan ini pertama kali terlihat dalam perundingan diplomatik yang dilakukan Sri Paus Leo dengan orang Hun dan orang Vandal.[140] Gereja juga memasuki kurun waktu usaha dakwah dan penambahan umat yang berlangsung lama di tengah-tengah berbagai suku dan kaum di Eropa. Manakala pengikut bidah Kristen Arian menetapkan hukuman mati bagi pelaku penyembahan berhala (lihat Pembantaian Verden sebagai contoh), agama Kristen Katolik justru menyebar di kalangan suku-suku bangsa Jermani,[140] Kelt, Slav, Magyar, dan Balt yang masih memuja berhala. Agama Kristen telah menjadi unsur penting dalam pembentukan peradaban Dunia Barat, setidaknya semenjak abad ke-4.[16][17][131]

Sekitar tahun 500, Santo Benediktus menyusun aturan biara, dan dengan demikian menghadirkan suatu tatanan regulasi yang berkaitan dengan pendirian dan pengelolaan biara.[140] Monastisisme menjadi kekuatan besar di seluruh Eropa,[140] dan memunculkan banyak pusat pendidikan perdana; yang paling terkenal di antaranya adalah pusat-pusat pendidikan di Irlandia, Skotlandia, dan di Galia, yang turut andil dalam gerakan Pembaharuan Karoling pada abad ke-9.

Pada abad ke-7, bala tentara Muslim menaklukkan Negeri Syam (termasuk Yerusalem), Afrika Utara, dan Spanyol. Salah satu faktor yang mendukung keberhasilan bala tentara Musim adalah merosotnya kekuatan Kekaisaran Bizantin akibat perang berpuluh-puluh tahun melawan Persia.[141] Semenjak abad ke-8, seiring meningkatnya kekuasaan raja-raja wangsa Karoling, lembaga kepausan mulai mendapatkan dukungan politik yang lebih besar dari Kerajaan orang Franka.[142]

Pada Abad Pertengahan, terjadi perubahan-perubahan besar dalam Gereja. Paus Gregorius Agung secara dramatis merombak dan menata ulang struktur dan administrasi Gereja.[143] Pada permulaan abad ke-8, umat Kristen terpecah-belah akibat bidah ikonoklasme yang didukung oleh kaisar-kaisar Bizantin. Konsili Oikumene Nikea yang kedua pada 787 akhirnya mengeluarkan keputusan yang membenarkan penggunaan ikon oleh umat Kristen.[144] Pada permulaan abad ke-10, monastisisme Kristen di Dunia Barat semakin berkembang berkat usaha-usaha pembaharuan yang dipelopori oleh biara induk tarekat Benediktin di Cluny.[145]

Hebraisme, sebagaimana Helenisme, merupakan salah satu faktor mahapenting dalam perkembangan peradaban Dunia Barat; agama Yahudi, selaku pendahulu dari agama Kristen, secara tidak langsung banyak memberi sumbangan bagi pembentukan nilai-nilai luhur dan akhlak bangsa-bangsa Barat semenjak agama Kristen menyebar luas di daratan Eropa.[17]

Puncak dan akhir Abad Pertengahan

 
Paus Urbanus II dalam Konsili Clermont mengimbau umat Kristen untuk mengobarkan Perang Salib yang pertama

Semenjak abad ke-11, sekolah-sekolah katedral yang sudah lama berdiri di Dunia Barat dikembangkan menjadi universitas-universitas (lihat Universitas Oxford, Universitas Paris, dan Universitas Bologna). Universitas-universitas tradisional Abad Pertengahan ini—hasil pengembangan sekolah-sekolah gereja Katolik dan Protestan—selanjutnya membentuk struktur-struktur akademik khusus untuk mendidik mahasiswa dalam jumlah yang lebih besar secara lebih layak agar menjadi tenaga-tenaga profesional. Profesor Walter Rüegg, penyunting buku A History of the University in Europe, mengemukakan bahwa universitas-universitas pada zaman itu hanya mendidik mahasiswa untuk menjadi rohaniwan, ahli hukum, pamong praja, dan tabib.[146]

Meskipun pada awalnya hanya mengajarkan mata kuliah teologi, universitas-universitas mulai menambahkan mata-mata kuliah lain, seperti ilmu pengobatan, filsafat, dan hukum. Universitas-universitas yang mengajarkan berbagai mata kuliah tambahan ini menjadi cikal bakal dari lembaga-lembaga pendidikan tinggi modern.[147] Pada umumnya universitas dianggap sebagai lembaga yang berlatar belakang agama Kristen Abad Pertengahan.[148][149] Sebelum universitas-universitas didirikan, penyelenggara pendidikan tinggi di Eropa selama ratusan tahun adalah sekolah-sekolah katedral atau sekolah-sekolah biara (bahasa Latin: scholae monasticae), tempat para biarawan dan biarawati mengajarkan berbagai mata pelajaran. Sekolah-sekolah yang merupakan para leluhur langsung dari universitas-universitas ini terbukti sudah ada di berbagai tempat semenjak abad ke-6.[150]

Seiring maraknya pendirian "kota-kota baru" di seluruh Eropa, terbentuk pula tarekat-tarekat pengemis yang membawa keluar cara hidup bakti dari lingkungan biara ke tengah-tengah lingkungan perkotaan. Dua tarekat pengemis yang paling menonjol adalah Tarekat Fransiskan yang didirikan oleh Santo Fransiskus,[151] dan Tarekat Dominikan yang didirikan oleh Santo Dominikus.[152] Kedua tarekat ini sangat berjasa bagi tumbuh kembangnya universitas-universitas besar di Eropa. Tarekat baru lainnya adalah Tarekat Sistersien yang membangun biara-biara besar di daerah-daerah yang belum dihuni orang. Biara-biara Sistersien ini berjasa merintis berdirinya permukiman-permukiman baru. Pada masa itu, gedung-gedung gereja dan seni arsitektur gerejawi meraih capaian-capaian baru, yang berpuncak pada gaya arsitektur Roman dan Gothik, serta katedral-katedral megah di Eropa.[153]

Sejak tahun 1095, yakni pada masa pontifikat Paus Urbanus II, Perang Salib dikobarkan.[154] Perang Salib adalah serangkaian aksi militer di Tanah Suci dan di tempat-tempat lain, yang dilancarkan sebagai tanggapan atas permohonan bantuan yang diajukan Kaisar Bizantin, Aleksios I, untuk melawan usaha perluasan wilayah yang dilakukan oleh bangsa Turki. Perang Salib pada akhirnya gagal membendung agresi Islam, bahkan menjadi penyebab timbulnya rasa permusuhan di kalangan umat Kristen sendiri setelah kota Konstantinopel dijarah bala tentara Kristen dari Eropa Barat semasa Perang Salib yang ke-4.[155]

Dari abad ke-7 sampai abad ke-13, umat Kristen di Dunia Barat dan umat Kristen di Dunia Timur lambat laun terasing satu sama lain. Keterasingan ini bermuara pada skisma yang memecah-belah umat Kristen menjadi Gereja cabang barat, yakni Gereja Katolik,[156] dan Gereja cabang timur (sebagian besar adalah Kristen Yunani), yakni Gereja Ortodoks. Dua Gereja ini berselisih pendapat mengenai sejumlah isu seputar tadbir, liturgi, dan doktrin, terutama isu keutamaan yurisdiksi Sri Paus.[157][158] Konsili Lyon II pada 1274, dan Konsili Firenze pada 1439 berusaha mempersatukan kembali kedua Gereja ini, akan tetapi Gereja Ortodoks menolak memberlakukan putusan-putusan Konsili Lyon maupun Konsili Firenze, sehingga kedua Gereja masih tetap terpisah sampai sekarang. Meskipun demikian, Gereja Katolik telah berhasil memulihkan persatuan dengan sejumlah Gereja Timur yang lebih kecil.

Mulai sekitar tahun 1184, sesudah Perang Salib melawan bidah Katarisme,[159] berbagai lembaga peradilan, yang secara umum disebut Inkuisisi, dibentuk dengan tujuan memberantas bidah serta menjaga kesatuan agama dan doktrin Kristen melalui konversi agama dan gugatan hukum.[160]

Reformasi Protestan dan Kontra Reformasi

 
Martin Luther mengawali gerakan Reformasi Protestan pada 1517 dengan mencetuskan 95 dalil yang menggugat keabsahan tafsir Alkitab Gereja Katolik.
 
Pietà karya Michelangelo di Basilika Santo Petrus. Gereja Katolik adalah salah satu pelindung gerakan Abad Pembaharuan.[161][162][163]

Semangat Pembaharuan pada abad ke-15 menghidupkan kembali minat orang pada khazanah ilmu pengetahuan peninggalan Abad Kuno. Skisma besar lainnya, yakni Reformasi Protestan, memecah-belah umat Kristen di Dunia Barat menjadi beberapa mazhab.[164] Pada 1517, Martin Luther memprotes penjualan indulgensi (anugerah penghapusan ganjaran dosa) dan tak seberapa lama kemudian mulai menafikan sejumlah pokok penting dalam doktrin Gereja Katolik.[165]

Tokoh-tokoh Reformasi Protestan lainnya seperti Hulderikus Zwingli, Yohanes Oecolampadius, Yohanes Kalvin, Yohanes Knox, dan Yakobus Arminius bertindak lebih jauh lagi dengan mengecam ajaran dan peribadatan Katolik. Penentangan-penentangan terhadap Gereja Katolik ini berkembang menjadi sebuah gerakan bernama Protestantisme yang menafikan keutamaan Sri Paus, peranan Tradisi Suci, Tujuh Sakramen, serta berbagai doktrin dan praktik lainnya.[165] Gerakan Reformasi Protestan di Inggris bermula pada 1534, manakala Raja Henry VIII dipermaklumkan sebagai Kepala Gereja Inggris. Mulai dari tahun 1536, biara-biara di seluruh Inggris, Wales, dan Irlandia dibubarkan.[166]

Tomas Müntzer, Andreas Karlstadt, dan sejumlah teolog lainnya beranggapan bahwa baik Gereja Katolik maupun mazhab-mazhab Reformasi Magisterial sudah menyimpang dari kebenaran. Para teolog ini memprakarsai gerakan Reformasi Radikal yang melahirkan berbagai denominasi Anabaptis.

Gereja Katolik menanggapi gerakan Reformasi Protestan dengan melakukan serangkaian upaya perombakan dan pembaharuan internal yang disebut Kontra Reformasi atau Reformasi Katolik.[167] Konsili Trento menjelaskan dan menegaskan kembali doktrin Gereja Katolik. Selama abad-abad berikutnya, persaingan antara agama Kristen Katolik dan agama Kristen Protestan dicampuradukkan dengan perjuangan politik negara-negara Eropa.[168]

Sementara itu, penemuan Amerika oleh Kristoforus Kolumbus pada 1492 menimbulkan suatu gelombang kegiatan dakwah yang baru. Berkat semangat baru untuk berdakwah ini, meskipun seiring sejalan dengan usaha perluasan wilayah jajahan oleh negara-negara kuat di Eropa, agama Kristen menyebar ke Amerika, Oseania, Asia Timur, dan Afrika Sub-Sahara.

Di seluruh Eropa, perpecahan yang ditimbulkan oleh Reformasi Protestan bermuara pada maraknya aksi kekerasan bermotif agama dan pembentukan gereja-gereja negara yang berdiri sendiri-sendiri. Mazhab Lutheran menyebar ke kawasan utara, tengah, dan timur dari wilayah negara Jerman, Livonia, dan Skandinavia. Mazhab Anglikan terbentuk di Inggris pada 1534. Mazhab Kalvinis dan beragam pecahannya (misalnya Mazhab Presbiterian) menyebar di Skotlandia, Negeri Belanda, Hongaria, Swiss, dan Perancis. Mazhab Arminian mendapatkan pengikut di Belanda dan Frisia. Semua perbedaan ini pada akhirnya menimbulkan sengketa-sengketa yang dipicu oleh masalah agama. Perang Tiga Puluh Tahun, Perang Saudara Inggris, dan Perang Agama Perancis merupakan contoh-contoh yang paling menonjol. Peristiwa-peristiwa semacam ini memanaskan perdebatan di kalangan umat Kristen seputar persekusi dan toleransi.[169]

Pasca-Pencerahan

 
Citra Bunda Maria dan Kanak-Kanak Yesus dalam sebuah gambar cukil kayu Kakure Kirisyitan abad ke-19 di Jepang

Pada era yang terkenal dengan sebutan Penyimpangan Besar, manakala Abad Pencerahan dan Revolusi Ilmiah di Dunia Barat menimbulkan perubahan-perubahan besar di bidang kemasyarakatan, agama Kristen dihadapkan pada berbagai macam bentuk skeptisisme dan ideologi-ideologi politik modern tertentu seperti sosialisme dan liberalisme.[170] Agama Kristen ditentang dalam berbagai macam peristiwa yang berkisar dari sekadar aksi antiklerikalisme sampai luapan aksi kekerasan semisal aksi dekristenisasi saat berlangsungnya Revolusi Perancis,[171] Perang Saudara Spanyol, dan gerakan-gerakan Marxis tertentu, khususnya Revolusi Rusia dan penindasan umat Kristen di Uni Soviet oleh rezim ateis.[172][173][174][175]

Perkembangan yang sangat pesat di Eropa kala itu adalah pembentukan negara-negara bangsa selepas era Napoleon. Di seluruh negara Eropa, berbagai macam denominasi Kristen sadar sedang terlibat dalam kancah persaingan, pada taraf tinggi maupun rendah, antara satu sama lain maupun dengan negara. Variabel-variabel dalam persaingan ini adalah ukuran nisbi dari denominasi-denominasi serta orientasi keagamaan, politik, dan ideologi dari negara. Urs Altermatt dari Universitas Fribourg, yang secara khusus mencermati agama Kristen katolik di Eropa, berhasil mengidentifikasi empat ragam kehidupan berbangsa di Eropa. Di negeri-negeri yang mayoritas warganya turun-temurun memeluk agama Kristen Katolik seperti Belgia, Spanyol, dan sampai taraf tertentu juga Austria, komunitas-komunitas keagamaan dan kebangsaan kurang lebih identik. Simbiosis dan pemisahan budaya didapati di Polandia, Irlandia, dan Swiss, yakni negeri-negeri dengan denominasi-denominasi yang saling bersaing. Persaingan didapati di Jerman, Belanda, dan juga di Swiss, yakni negara-negara dengan populasi Katolik minoritas yang kurang lebih bangga menjadi anak bangsa dari negeri yang ditinggalinya. Yang terakhir, pemisahan antara agama (khususnya agama Kristen Katolik) dan negara didapati dalam taraf yang tinggi di Perancis dan Italia, yakni di negeri-negeri tempat negara secara aktif menentang kewenangan Gereja Katolik.[176]

Gabungan faktor-faktor pembentukan negara-negara bangsa dan ultramontanisme, khususnya di Jerman dan Belanda, juga di Inggris (dalam taraf yang jauh lebih rendah[177]), seringkali memaksa gereja-gereja, organisasi-organisasi, dan anggota-anggota jemaat Katolik untuk memilih antara tunduk pada tuntutan-tuntutan kebangsaan dari negara atau tunduk pada kewenangan Gereja, teristimewa pada kewenangan lembaga kepausan. Permasalahan ini mengemuka dalam Konsili Vatikan Pertama, dan juga menjadi sebab langsung dari Kulturkampf (pergolakan budaya) di Jerman, manakala kubu liberal dan Protestan di bawah pimpinan Otto von Bismarck berhasil mengundangkan berbagai macam peraturan yang sungguh-sungguh membatasi keleluasaan Gereja Katolik dalam berekspresi dan berorganisasi.

Ketaatan beragama umat Kristen di Eropa merosot seiring munculnya modernitas dan sekularisme di benua itu,[178] khususnya di Republik Ceko dan Estonia,[179] sementara ketaatan beragama di Amerika pada umumnya tinggi jika dibandingkan dengan Eropa. Pada penghujung abad ke-20, terjadi peralihan jumlah umat Kristen yang taat beragama dari Eropa dan Amerika ke negara-negara Dunia Ketiga, dan belahan bumi selatan pada umumnya. Peradaban Dunia Barat akhirnya tak lagi menjadi pengusung utama panji-panji agama Kristen.

Beberapa kelompok masyarakat Eropa (termasuk yang di perantauan), masyarakat-masyarakat pribumi Amerika, dan masyarakat-masyarakat pribumi di benua-benua lainnya telah menghidupkan kembali agama-agama aslinya masing-masing. Sekitar 7,1 sampai 10% dari orang Arab adalah umat Kristen,[180] sebagian besar di antaranya bermukim di Mesir, Suriah, dan Lebanon.

Agama Kristen di Indonesia

 
Gereja Katedral Keuskupan Agung Jakarta

Pra-Penjajahan Belanda

Agama Kristen (Nestorian) untuk pertama kalinya masuk ke Indonesia pada bagian pertama abad ke-7 di Sumatera Utara. Kota Barus yang dahulu disebut sebagai negeri Bancluur/Fansur dan saat ini terletak di dalam Keuskupan Sibolga di Sumatera Utara adalah tempat kediaman umat Kristen tertua di Indonesia.

Zaman Penjajahan Belanda

Agama Kristen Katolik tiba di Nusantara bersama-sama dengan kedatangan para penjelajah Portugis dan Spanyol yang berusaha menemukan daerah penghasil rempah-rempah. Katolik Roma pertama tiba pada tahun 1534, di kepulauan Maluku melalui orang Portugis yang dikirim untuk eksplorasi. Santo Fransiskus Xaverius, misionaris Katolik Roma dan pendiri tarekat Yesuit bekerja di kepulauan Maluku pada tahun 1546 sampai tahun 1547.[181] Namun ketika Belanda mengalahkan Portugis tahun 1605, Belanda mengusir para misionaris Katolik dan memperkenalkan Kristen Protestan (dari aliran Calvinist Dutch Reformed Church), sehingga terpengaruh pada ajaran Calvinisme dan Lutheran.[182]

Perkembangan Kekristenan di Indonesia pada zaman itu cukup lambat. Hal ini dikarenakan ajaran Kalvinisme merupakan aliran agama Kristen yang memerlukan pendalaman Alkitab yang mendalam, sementara edisi Alkitab saat itu belum ada yang berbahasa Indonesia. Lagipula, VOC sebagai kendaraan Belanda untuk masuk dan menguasai Indonesia saat itu adalah sebuah perusahaan sekuler dan bukan perusahaan yang cukup religius, sehingga tidak mendukung penyebaran agama yang dilakukan oleh misionaris Belanda sendiri. Setelah pengaruh VOC mulai tenggelam pada tahun 1799, pemerintah Belanda mulai memperbolehkan penyebaran agama dengan lebih leluasa. Orang Kristen aliran Lutheran dari Jerman yang lebih toleran dan tidak memaksa pemeluknya untuk mempelajari agama Kristen dengan sedemikian dalam, mulai memanfaatkan perizinan tersebut untuk mulai menyebarkan agama di antara orang Batak di Sumatera pada tahun 1861, dan misionaris Kristen Belanda dari aliran Rhenish juga menyebarkan agama di Kalimantan Tengah dan Sulawesi Tengah.[182]

Pasca-Penjajahan Belanda

Pada abad ke-20 setelah Belanda pergi dari Indonesia, agama Kristen Protestan dan Kristen Katolik mulai berkembang pesat. Perkembangan pesat ini dimulai oleh sebuah keadaan pada tahun 1965, ketika terjadi peralihan kekuasaan Presiden Soekarno kepada Presiden Soeharto. Saat itu, Komunisme (dan Ateisme) dilarang oleh pemerintah. Semua orang yang tidak menganut salah satu dari kelima agama yang diakui oleh pemerintah kala itu (Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Buddha), langsung dicap ateis, sehingga rentan pula dituduh komunis. Saat itu, Gereja dari berbagai aliran mengalami pertumbuhan pemeluk yang pesat, terutama dari orang-orang (sebagian besar beretnis Tionghoa yang berasal dari Tiongkok, yang merupakan negara Komunis) yang merasa tidak nyaman dengan kebijakan pemerintah terkait Komunisme dan Ateisme kala itu.[182]

Pada akhir abad ke-20 sampai awal abad ke-21, banyak misionaris dari Amerika Serikat yang menyebarkan aliran Injili dan Pentakosta. Aliran yang sering disebut "karismatik" ini merupakan aliran yang dianggap "modern" karena menggabungkan keyakinan Kristen tradisional dengan pola pikir modern.[183]

Cabang-cabang utama

Ilustrasi dari cabang-cabang utama Kekristenan.[184][185] Tidak semua aspek Kekristenan terilustrasikan.


Agama Kristen termasuk banyak tradisi agama yang bervariasi berdasarkan budaya, dan juga kepercayaan dan aliran yang jumlahnya ribuan. Selama dua milenium, Kekristenan telah berkembang menjadi tiga cabang utama:

Selain itu ada pula berbagai gerakan baru seperti Bala Keselamatan, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, Mormon, Saksi-Saksi Yehuwa, serta berbagai aliran yang muncul pada akhir abad ke-19 maupun abad ke-20, dan lain-lain.

Kebudayaan

 
Contoh-contoh budaya Kristen dan pemuka-pemuka agama Kristen yang tersohor

Hampir sepanjang sejarahnya, kebudayaan Barat telah disamakan dengan kebudayaan Kristen, dan sebagian besar populasi Dunia Barat dapat disebut umat Kristen budaya. Istilah "Eropa" dan "Dunia Barat" telah dikait-kaitkan begitu rapat dengan gagasan tentang "agama Kristen" dan "Dunia Kristen", bahkan banyak kalangan yang beranggapan bahwa agama Kristen merupakan salah satu mata rantai dalam pembentukan jati diri Eropa yang tunggal.[186]

Kebudayaan Barat memang mengandung sejumlah anasir dari agama-agama politeistik pada awal sejarahnya di bawah kekuasaan bangsa Yunani dan bangsa Romawi, namun begitu kekuasaan terpusat bangsa Romawi meredup, Gereja Katolik pun bangkit sebagai satu-satunya kekuatan yang mantap di Eropa.[187] Sampai dengan Abad Pencerahan,[188] kebudayaan Kristen mengendalikan arus perkembangan filsafat, kesusastraan, seni rupa, seni musik, dan ilmu pengetahuan.[187][189] Pengaruh agama Kristen pada bidang-bidang tersebut di kemudian hari melahirkan filsafat Kristen, seni rupa Kristen, seni musik Kristen, kesusastraan Kristen, dan sebagainya.

Agama Kristen telah banyak berjasa bagi dunia pendidikan karena Gerejalah yang menciptakan dasar-dasar sistem pendidikan Dunia Barat,[190] dan yang mendanai pendirian universitas-universitas di Dunia Barat; oleh karena itu, pada umumnya universitas dianggap sebagai lembaga yang terbentuk di dalam ruang lingkup masyarakat Kristen pada Abad Pertengahan.[148][149] Sepanjang sejarah, agama Kristen seringkali menjadi pengayom ilmu pengetahuan dan kedokteran. Agama Kristen telah mendirikan banyak sekali sekolah, universitas, serta rumah sakit, dan banyak rohaniwan Katolik,[191] khususnya rohaniwan Yesuit,[192][193] turut berkecimpung di bidang ilmu pengetahuan sepanjang sejarah serta memberi banyak sumbangsih penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan.[194] Agama Kristen Protestan juga memiliki andil besar di bidang ilmu pengetahuan. Menurut Tesis Merton, ada korelasi positif antara kebangkitan Puritanisme Inggris serta Pietisme Jerman di satu pihak dan eksperimen-eksperimen ilmu pengetahuan perdana di lain pihak.[195] Dampak agama Kristen terhadap peningkatan taraf hidup manusia meliputi bidang kesejahteraan sosial,[196] pendirian rumah-rumah sakit,[197] ilmu ekonomi (misalnya etika kerja Protestan),[198][199] politik,[200] arsitektur,[201] kesusastraan,[202] perawatan kebersihan diri,[203][204] dan kehidupan berumah tangga.[205]

Umat Kristen Timur (khususnya umat Kristen Nestorian) memiliki andil dalam kemajuan peradaban Islam Arab pada zaman Khilafah Bani Umayyah dan Khilafah Bani Abbas karena menerjemahkan karya-karya tulis para filsuf Yunani ke dalam bahasa Suryani dan selanjutnya ke dalam bahasa Arab.[206][207][208] Mereka juga menonjol di bidang filsafat, ilmu pengetahuan, teologi, dan kedokteran,[209][210][211] bahkan banyak cendekiawan di Balai Hikmat (bahasa Arab: بيت الحكمة‎, Baitul Hikmah) berlatar belakang agama Kristen.[212]

Umat Kristen telah memberikan berbagai macam kontribusi bagi kemajuan umat manusia dalam berbagai macam bidang,[213] antara lain filsafat,[214] ilmu pengetahuan dan teknologi,[191][215][216][217][218] seni murni dan arsitektur,[219] politik, kesusastraan, seni musik,[220] dan dunia usaha.[221] Menurut 100 Years of Nobel Prizes (Seabad Hadiah Nobel), sebuah ulasan mengenai anugerah hadiah Nobel antara 1901 dan 2000, sebagian besar (65,4%) dari penerima hadiah Nobel memilih agama Kristen dalam berbagai bentuknya sebagai agama yang mereka sukai.[222]

Pascakekristenan[223] adalah istilah yang digunakan sebagai sebutan bagi kemerosotan agama Kristen, khususnya di Eropa, Kanada, Australia, dan dalam taraf rendah di ujung selatan Benua Amerika, pada abad ke-20 dan ke-21, menurut ukuran-ukuran pascamodernisme. Istilah ini mengacu pada hilangnya monopoli agama Kristen atas nilai-nilai dan wawasan dunia di dalam masyarakat-masyarakat yang turun-temurun memeluk agama Kristen.

Umat Kristen budaya adalah masyarakat sekuler dengan warisan Kristen yang mungkin saja tidak percaya pada berbagai ajaran agama Kristen, tetapi mempertahankan keakraban dengan budaya populer, seni rupa, seni musik, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan agama Kristen. Istilah ini juga kerap digunakan untuk membedakan kelompok-kelompok politik di kawasan-kawasan yang didiami oleh masyarakat dari berbagai latar belakang keagamaan.

Gerakan oikumene

 
Kebaktian oikumene di biara Taizé, Perancis

Kelompok-kelompok dan denominasi-denominasi Kristen sudah lama mendengung-dengungkan cita-cita untuk bersatu. Pada abad ke-20, gerakan oikumene (gerakan persatuan) umat Kristen mengalami kemajuan melalui dua cara.[224] Salah satunya adalah peningkatan kerjasama antargolongan, misalnya dengan pembentukan Aliansi Injili Sedunia pada 1846 di London, penyelenggaraan Konferensi Utusan Injil Edinburgh di kalangan Protestan pada 1910, pembentukan Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Penciptaan dalam Dewan Gereja-Gereja Sedunia pada 1948 oleh gereja-gereja Protestan dan Gereja-Gereja Ortodoks, serta pembentukan dewan-dewan nasional seperti Dewan Gereja-Gereja Nasional Australia yang juga mengikutsertakan umat Katolik.[224]

Kritik dan pembelaan

 
Selembar salinan Summa Theologica, salah satu karya tulis pembelaan agama Kristen yang terkenal

Kritik terhadap agama Kristen dan umat Kristen sudah muncul semenjak masa hidup rasul-rasul. Alkitab Perjanjian Baru memuat riwayat-riwayat mengenai sengketa yang timbul di antara para pengikut Yesus di satu pihak dan kaum Farisi serta ahli-ahli Taurat di lain pihak (misalnya Matius 15:1–20 dan Markus 7:1–23).[225] Pada abad ke-2, agama Kristen dikritik oleh umat Yahudi dengan berbagai alasan, misalnya nubuat-nubuat dalam Alkitab Ibrani dikatakan tidak digenapi oleh Yesus karena hidupnya berakhir secara tragis,[226] dan bahwasanya kurban penghapusan dosa yang dipersembahkan di muka (dipersembahkan sebelum timbul perbuatan dosa), baik yang dipersembahkan demi kepentingan semua orang maupun yang dipersembahkan demi kepentingan diri sendiri, tidak sesuai dengan ritual kurban agama Yahudi. Selain itu dikatakan pula bahwa Allah menghakimi manusia berdasarkan perbuatannya, bukan berdasarkan keyakinannya.[227][228] Salah satu dari serangan komprehensif pertama terhadap agama Kristen berasal dari filsuf Yunani, Kelsos, yang menulis Perkataan Yang Benar (bahasa Yunani: Λόγος Ἀληθής, Logos Alētēs; bahasa Latin: Verbum Verum), sebuah polemik yang mengkritik umat Kristen sebagai warga yang tidak berguna bagi masyarakat.[229][230][231] Bapa Gereja, Origenes, menanggapi kritik Kelsos dengan menerbitkan risalahnya, Melawan Kelsos (bahasa Yunani: Κατὰ Κέλσου, Kata Kelsou; bahasa Latin: Contra Celsum), sebuah karya tulis yang menjadi cikal bakal dari ilmu apologetika Kristen. Origenes menanggapi kritik-kritik Kelsos secara sistematis, sehingga membantu meningkatkan wibawa akademik agama Kristen.[232][231]

Pada abad ke-3, kritik terhadap agama Kristen sudah menggunung, sebagian di antaranya merupakan bentuk pembelaan diri terhadap agama Kristen. Desas-desus liar mengenai umat Kristen telah menyebar ke mana-mana. Konon kabarnya umat Kristen adalah umat tak bertuhan, memakan bayi manusia dalam upacara-upacara peribadatannya, dan gemar melakukan persetubuhan sumbang secara beramai-ramai.[233][234] Porfirios, ahli filsafat Neoplatonis, menyusun karya tulisnya, Melawan Orang Kristen (bahasa Yunani: Κατὰ Χριστιανῶν, Kata Kristianon; bahasa Latin: Adversus Christianos), dalam lima belas jilid sebagai suatu serangan komprehensif terhadap agama Kristen, sebagian dari isinya disusun berdasarkan ajaran-ajaran Plotinos.[235][236]

Pada abad ke-12, Rabi Musa bin Maimun dalam karya tulisnya, Misneh Torah, mengkritik agama Kristen sebagai penyembahan berhala, karena umat Kristen mengilahikan Yesus yang berjasmani.[237] Pada abad ke-19, Nietzsche mulai menulis serangkai polemik mengenai ajaran-ajaran "tak wajar" agama Kristen (misalnya berpantang seks), dan terus-menerus mengkritik agama Kristen hingga akhir hayatnya.[238] Pada abad ke-20, filsuf Bertrand Russell menjabarkan kritiknya terhadap agama Kristen dalam esainya yang berjudul Why I Am Not a Christian. Bertrand Russell merumuskan penolakannya terhadap agama Kristen dalam bentuk argumen-argumen logis.[239]

Lihat pula

Catatan

  1. ^ Dari kata Yunani Kuno Χριστός, Khristós (dilatinkan menjadi Christus), terjemahan dari kata Ibrani מָשִׁיחַ, Māšîăḥ, yang berarti "orang yang diurapi", diimbuhi akhiran Latin -ian dan -itas.
  2. ^ a b Istilah "orang Kristen" (bahasa Yunani: Χριστιανός, Kristianos) pertama kali digunakan sebagai sebutan bagi murid-murid Yesus di kota Antiokhia (Kisah Para Rasul 11:26) pada ca. 44 M. Kristianos berarti "pengikut Kristus". Sebutan ini diberikan oleh warga non-Yahudi Antiokhia kepada murid-murid Yesus. Dalam Perjanjian Baru, sebutan-sebutan bagi murid-murid Yesus di kalangan sendiri adalah "saudara", "orang beriman", "orang terpilih", "orang kudus", dan "orang percaya". Karya tulis tertua yang berisi kata Kristianos adalah surat-surat Ignasius dari Antiokhia yang ditulis sekita tahun 100 M.[1]
  3. ^ "Kabar baik" atau "kabar gembira" adalah terjemahan dari istilah Yunani Kuno εὐαγγέλιον euanggélion. Umat Kristen Indonesia menggunakan kata Arab, إنجيل, Injil, yang terdapat pada naskah-naskah agama Islam, dan kini digunakan pula oleh umat Muslim non-Arab serta orang Arab non-Muslim. Kata ini berasal dari istilah Aram Suryani ܐܘܢܓܠܝܘܢ awon-gali-yun (artinya "Ia Mewahyukan") dalam Pesyita (Alkitab dalam bahasa Suryani) yang juga berasal dari kata Yunani euangelion. Dari kata "Injil" inilah dibentuk kata Injili sebagai padanan "Evangelical" dan Penginjilan sebagai padanan "evangelism".

Rujukan

  1. ^ Zoll, Rachel (19 Desember 2011). "Study: Christian population shifts from Europe". Associated Press. Diakses tanggal 25 Februari 2012. 
  2. ^ "The Global Religious Landscape: Christianity" (PDF). Pew Research Center. December 2012. Diakses tanggal 30 Juli 2012. 
  3. ^ 33,39% dari ~7,2 miliar penduduk dunia (di bagian 'People') "World". The World Factbook. CIA. 
  4. ^ "Christianity 2015: Religious Diversity and Personal Contact" (PDF). gordonconwell.edu. Januari 2015. Diakses tanggal 29 Mei 2015. 
  5. ^ ANALYSIS (19 Desember 2011). "Global Christianity". Pew Research Center. Diakses tanggal 17 Agustus 2012. 
  6. ^ Woodhead, Linda (2004). Christianity: A Very Short Introduction. Oxford: Oxford University Press. hlm. n.p. 
  7. ^ a b Robinson 2000, hlm. 229
  8. ^ a b Esler. The Early Christian World. hlm. 157f.
  9. ^ Religion in the Roman Empire, Wiley-Blackwell, oleh James B. Rives, halaman 196
  10. ^ Catholic encyclopedia New Advent
  11. ^ McManners, Oxford Illustrated History of Christianity, hlm. 301–303.
  12. ^ Muslim-Christian Relations. Amsterdam University Press. 2006. ISBN 978-90-5356-938-2. Diakses tanggal 18 Oktober 2007. Semangat untuk mewartakan Injil di kalangan umat Kristen juga disertai oleh kesadaran bahwa permasalahan pertama yang akan muncul adalah bagaimana melayani melayani sejumlah besar pemeluk baru. Simatupang mengatakan bahwa, jika jumlah umat Kristen meningkat menjadi dua atau tiga kali lipat, maka jumlah pelayan umat semestinya juga meningkat menjadi dua atau tiga kali lipat, peran serta umat awam harus dimaksimalkan, dan pelayanan agama Kristen bagi masyarakat luas melalui sekolah-sekolah, rumah-rumah sakit, dan panti-panti asuhan, harus diperbanyak. Selain itu, bagi Simatupang, misi Kristen harus terlibat dalam perjuangan menegakkan keadilan di tengah-tengah geliat modernisasi. 
  13. ^ Fred Kammer (1 Mei 2004). Doing Faith Justice. Paulist Press. ISBN 978-0-8091-4227-9. Diakses tanggal 18 Oktober 2007. Para teolog, uskup, dan pengkhotbah mendesak komunitas Kristen untuk berbelas kasih sebagaimana Allah mereka berbelas kasih, dengan berulang kali menegaskan bahwa jagat raya diciptakan demi kepentingan seluruh umat manusia. Mereka juga menerima dan mengembangkan ajaran menemukan Kristus dalam diri fakir miskin, dan kewajiban umat Kristen untuk melayani fakir miskin. Kongregasi-kongregasi religius dan pemimpin-pemimpin karismatik perseorangan mendorong pengembangan lembaga-lembaga penyantunan, panti-panti husada, balai-balai penyantunan peziarah, panti-panti asuhan, rumah-rumah penampungan bagi ibu-ibu yang tidak menikah yang menjadi cikal bakal "jaringan besar rumah-rumah sakit, panti-panti asuhan, dan sekolah-sekolah pada zaman modern, untuk melayani fakir miskin dan masyarakat luas." 
  14. ^ Christian Church Women: Shapers of a Movement. Chalice Press. Maret 1994. ISBN 978-0-8272-0463-8. Diakses tanggal 18 Oktober 2007. Di provinsi-provinsi tengah di India, mereka mendirikan sekolah-sekolah, panti-panti asuhan, rumah-rumah sakit, dan gereja-gereja, serta mewartakan pesan Injil di zenanas. 
  15. ^ Religions in Global Society – Halaman 146, Peter Beyer – 2006
  16. ^ a b Cambridge University Historical Series, An Essay on Western Civilization in Its Economic Aspects, hlm.40: Hebraisme, sebagaimana Helenisme, telah menjadi faktor mahapenting dalam perkembangan peradaban barat; Agama Yahudi, selaku pendahulu agama Kristen, secara tidak langsung memiliki andil besar dalam pembentukan cita-cita dan moralitas bangsa-bangsa barat semenjak zaman Kristen.
  17. ^ a b c Caltron J.H Hayas, Christianity and Western Civilization (1953),Stanford University Press, hlm.2: "Tampilan-tampilan khas tertentu dari peradaban barat kita itu — yakni peradaban Eropa Barat dan Amerika — telah dibentuk terutama oleh Yahudi – Yunani – Kristen, Katolik maupun Protestan."
  18. ^ Horst Hutter, University of New York, Shaping the Future: Nietzsche's New Regime of the Soul And Its Ascetic Practices (2004), hlm.111:tiga pendiri besar budaya barat, yakni Sokrates, Yesus, dan Plato.
  19. ^ Fred Reinhard Dallmayr, Dialogue Among Civilizations: Some Exemplary Voices (2004), hlm.22: Peradaban barat kadang-kadang pula digambarkan sebagai peradaban "Kristen" atau peradaban "Yahudi Kristen".
  20. ^ S. T. Kimbrough, ed. (2005). Orthodox and Wesleyan Scriptural understanding and practice. St Vladimir's Seminary Press. ISBN 978-0-88141-301-4. 
  21. ^ Olson, The Mosaic of Christian Belief.
  22. ^ Ehrman, Bart (2003). "Introduction: Recouping Our Losses". Lost Christianities: the battles for scripture and the faiths we never knew. Oxford, New York: Oxford University Press. hlm. 1. ISBN 978-0-19-518249-1. Tentu saja banyak dari kelompok-kelompok umat Kristen ini juga menolak mengakui kelompok-kelompok umat Kristen lainnya sebagai orang Kristen. 
  23. ^ Avis, Paul (2002) The Christian Church: An Introduction to the Major Traditions, SPCK, London, ISBN 0-281-05246-8 sampul lunak
  24. ^ White, Howard A. Sejarah Gereja.
  25. ^ Cummins, Duane D. (1991). A handbook for Today's Disciples in the Christian Church (Disciples of Christ) (edisi ke-Revised). St Louis, MO: Chalice Press. ISBN 0-8272-1425-1. 
  26. ^ Ron Rhodes, The Complete Guide to Christian Denominations, Harvest House Publishers, 2005, ISBN 0-7369-1289-4
  27. ^ Pelikan/Hotchkiss, Creeds and Confessions of Faith in the Christian Tradition.
  28. ^ ""We Believe in One God….": The Nicene Creed and Mass". Catholics United for the Fath. Februari 2005. Diakses tanggal 16 Juni 2014. (Perlu mendaftar (help)). 
  29. ^ Encyclopedia of Religion, "Arianism".
  30. ^ Catholic Encyclopedia, "Council of Ephesus".
  31. ^ Christian History Institute, First Meeting of the Council of Chalcedon.
  32. ^ Peter Theodore Farrington (Februari 2006). "The Oriental Orthodox Rejection of Chalcedon". Glastonbury Review. Gereja Ortodoks Britania (113). Diarsipkan dari versi asli tanggal 19 Juni 2008. 
  33. ^ Paus Leo I, Surat kepada Flavianus
  34. ^ Catholic Encyclopedia, "Athanasian Creed (Kredo Atanasius)".
  35. ^ a b "Our Common Heritage as Christians". The United Methodist Church. Diarsipkan dari versi asli tanggal 14 Januari 2006. Diakses tanggal 31 Desember 2007. 
  36. ^ Metzger/Coogan, Oxford Companion to the Bible, hlmn. 513, 649.
  37. ^ Kisah Para Rasul 2:24, Kisah Para Rasul 2:31–32, Kisah Para Rasul 3:15, Kisah Para Rasul 3:26, Kisah Para Rasul 4:10, Kisah Para Rasul 5:30, Kisah Para Rasul 10:40–41, Kisah Para Rasul 13:30, Kisah Para Rasul 13:34, Kisah Para Rasul 13:37, Kisah Para Rasul 17:30–31, Roma 10:9, 1 Korintus 15:15, 1 Korintus 6:14, 2 Korintus 4:14, Galatia 1:1, Efesus 1:20, Kolose 2:12, 1 Tesalonika 1:10, Ibrani 13:20, 1 Petrus 1:3, 1 Petrus 1:21
  38. ^ Wikisource:Doa Syahadat Nicea
  39. ^ Hanegraaff. Resurrection: The Capstone in the Arch of Christianity.
  40. ^ "The Significance of the Death and Resurrection of Jesus for the Christian". Australian Catholic University National. Diarsipkan dari versi asli tanggal 1 September 2007. Diakses tanggal 16 Mei 2007. 
  41. ^ Yohanes 3:16, Yohanes 5:24, Yohanes 6:39–40, Yohanes 6:47, Yohanes 10:10, Yohanes 11:25–26, Yohanes 17:3
  42. ^ Diambil dari sejumlah sumber, khususnya syahadat-syahadat awal, Katekismus Gereja Katolik, karya-karya tulis teologi tertentu, serta berbagai macam pengakuan iman yang disusun pada zaman Reformasi Protestan, termasuk Tiga Puluh Sembilan Pasal Gereja Inggris, dan karya-karya tulis yang termaktub dalam Buku Mufakat (Concordia).
  43. ^ Fuller, The Foundations of New Testament Christology, hlm. 11.
  44. ^ Salah satu kesimpulan Jesus Seminar: "dalam pandangan seminar ini, ia tidak bangkit secara jasmaniah dari antara orang mati; peristiwa kebangkitan ini hanyalah didasarkan atas penglihatan-penglihatan yang dialami Petrus, Paulus, dan Maria."
  45. ^ Funk. The Acts of Jesus: What Did Jesus Really Do?.
  46. ^ Lorenzen. Resurrection, Discipleship, Justice: Affirming the Resurrection Jesus Christ Today, hlm. 13.
  47. ^ Ball/Johnsson (ed.). The Essential Jesus.
  48. ^ a b Eisenbaum, Pamela (Winter 2004). "A Remedy for Having Been Born of Woman: Jesus, Gentiles, and Genealogy in Romans" (PDF). Journal of Biblical Literature. 123 (4): 671–702. doi:10.2307/3268465. JSTOR 3268465. Diakses tanggal 3 April 2009. ((Perlu berlangganan (help)). 
  49. ^ Wright, N.T. What Saint Paul Really Said: Was Paul of Tarsus the Real Founder of Christianity? (Oxford, 1997), hlm. 121.
  50. ^ KGK 846; Vatikan II, Lumen Gentium 14
  51. ^ Lihat kutipan-kutipan dari Konsili Trente mengenai pembenaran (justifikasi) di Justforcatholics.org
  52. ^ Pengakuan Iman Westminster, Bab X Archived 28 May 2014 di the Wayback Machine.;
    Spurgeon, Pembelaan Kalvinisme Archived 10 April 2008 di the Wayback Machine..
  53. ^ "Grace and Justification". Katekismus Gereja Katolik. Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 Agustus 2010. 
  54. ^ Definisi dari Konsili Lateran IV, dikutip dalam Katekismus Gereja Katolik §253.
  55. ^ Status monotheistik agama Kristen ditegaskan dalam berbagai sumber, antara lain dalam 'Catholic Encyclopedia (artikel "Monotheism (Monoteisme)"); William F. Albright, From the Stone Age to Christianity (Dari Zaman Batu ke Agama Kristen); H. Richard Niebuhr; About.com, Monotheistic Religion resources (Sumber-sumber Agama Monoteistik); Kirsch, God Against the Gods (Allah Melawan Ilah-Ilah); Woodhead, An Introduction to Christianity (Suatu Pengantar ke Agama Kristen); Ensiklopedia Elektronik Columbia Monotheism; The New Dictionary of Cultural Literacy, monotheism; New Dictionary of Theology, Paul (Paulus), hlmn. 496–99; Meconi. Pagan Monotheism in Late Antiquity (Monoteisme Pagan Menjelang Akhir Abad Kuno). hlm. 111f.
  56. ^ Kelly. Early Christian Doctrines. hlmn. 87–90.
  57. ^ Alexander. New Dictionary of Biblical Theology. hlm. 514f.
  58. ^ McGrath. Historical Theology. hlm. 61.
  59. ^ Metzger/Coogan. Oxford Companion to the Bible. hlm. 782.
  60. ^ Kelly. The Athanasian Creed.
  61. ^ Oxford, "Encyclopedia Of Christianity, pg1207
  62. ^ Heidi J. Hornik and Mikeal Carl Parsons, Interpreting Christian Art: Reflections on Christian art, Mercer University Press, 2003, ISBN 0-86554-850-1, hlmn. 32–35.
  63. ^ Contoh-contoh penyataan pra-Nikea:

    Dengan demikian segala kuasa sihir dileburkan; dan segala ikatan kejahatan dihancurkan, kebodohan manusia disingkirkan, dan kerajaan lama dihapuskan. Allah sendiri tampil dalam wujud manusia, demi pembaharuan hidup kekal.

    — Santo Ignasius dari Antiokhia dalam Surat kepada jemaat di Efesus, bab 4, versi ringkas, terjemahan Roberts-Donaldson

    Kita juga memiliki seorang tabib, yakni Tuhan Allah kita Yesus Kristus, Sang Firman, Putra Tunggal yang diperanakkan sebelum zaman bermula, namun yang kemudian juga menjadi manusia, dari Maria Sang Perawan. Karena 'Firman telah menjadi manusia.' Ia yang tak berjasmani, menjadi berjasmani; yang tak tersentuh derita, menjadi bertubuh rentan; yang baka, menjadi berbadan fana; yang hidup, menjadi tunduk pada kebinasaan, agar Ia dapat membebaskan jiwa-jiwa kita dari maut dan kebinasaan, dan menyembuhkannya, dan memulihkan kesehatannya, manakala jiwa-jiwa kita dijangkiti penyakit kefasikan dan hawa nafsu jahat

    — Santo Ignasius dari Antiokhia dalam Surat kepada jemaat di Efesus, bab 7, versi ringkas, terjemahan Roberts-Donaldson

    Gereja, sekalipun menyebar ke seluruh dunia, bahkan sampai ke penjuru-penjuru bumi, telah menerima iman ini dari para rasul dan murid-murid mereka: ...satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Khalik langit, dan bumi, dan laut, dan segala sesuatu yang terkandung di dalamnya; dan akan satu Kristus Yesus, Putra Allah, yang menjelma demi keselamatan kita; dan akan Roh Kudus, yang melalui nabi-nabi mewartakan pengampunan-pengampunan Allah, serta kedatangan, kelahiran dari seorang perawan, sengsara, kebangkitan dari antara orang mati, dan kenaikan ke surga dalam daging dari Yesus Kristus yang terkasih, dan penjelmaannya dari surga dalam kemuliaan Sang Bapa 'untuk menghimpun segala sesuatu menjadi satu,' dan untuk membangkitkan kembali seluruh jasad segenap umat manusia, supaya kepada Kristus Yesus, Tuhan, Allah, Juru Selamat, dan Raja kita, seturut kehendak Bapa yang tak kelihatan, setiap lutut akan bertelut, baik yang di surga, yang di bumi, maupun yang di bawah bumi, dan setiap lidah akan mengaku, dan bahwasanya Ia akan menghakimi semua orang dengan adil...

    — Santo Ireneus dalam Melawan Bidah, bab X, ayat I, Donaldson, Sir James (1950), Ante Nicene Fathers, Jilid 1: Apostolic Fathers, Justin Martyr, Irenaeus, William B. Eerdmans Publishing Co., ISBN 978-0802880871 

    Karena dalam nama Allah, Bapa dan Tuhan semesta alam, dan Juru Selamat kita Yesus Kristus, dan Roh Kudus, mereka kemudian menerima pembasuhan dengan air

    — Yustinus Martir dalam Pembelaan Pertama, bab LXI, Donaldson, Sir James (1950), Ante Nicene Fathers, Jilid 1: Apostolic Fathers, Justin Martyr, Irenaeus, Wm. B. Eerdmans Publishing Company, ISBN 978-0802880871 
  64. ^ Olson, Roger E. (2002). The Trinity. Wm. B. Eerdmans Publishing. hlm. 15. ISBN 978-0-8028-4827-7. 
  65. ^ Fowler. World Religions: An Introduction for Students. hlm. 58.
  66. ^ Teofiulus dari Antiokhia Apologia ad Autolycum II 15
  67. ^ McManners, Oxford Illustrated History of Christianity. hlm. 50.
  68. ^ Tertullian De Pudicitia bab 21
  69. ^ McManners, Oxford Illustrated History of Christianity, hlm. 53.
  70. ^ Moltman, Jurgen. The Trinity and the Kingdom: The Doctrine of God. Tr. from German. Fortress Press, 1993. ISBN 0-8006-2825-X
  71. ^ Harnack, History of Dogma.
  72. ^ Pocket Dictionary of Church History Nathan P. Feldmeth hlm. 135 "Unitarianisme. Kaum unitarian muncul di kalangan umat Kristen Protestan sejak abad ke-16. Kaum ini sangat menitikberatkan ajaran tentang keesaan Allah sehingga menafikan doktrin Tritunggal"
  73. ^ Virkler, Henry A. (2007). Ayayo, Karelynne Gerber, ed. Hermeneutics: Principles and Processes of Biblical Interpretation (edisi ke-ke-2). Grand Rapids, USA: Baker Academic. hlm. 21. ISBN 978-0-8010-3138-0. 
  74. ^ "Inspiration and Truth of Sacred Scripture". Catechism of the Catholic Church. Diarsipkan dari versi asli tanggal 9 September 2010. (§105–108)
  75. ^ Second Helvetic Confession, Of the Holy Scripture Being the True Word of God
  76. ^ Chicago Statement on Biblical Inerrancy, teks daring
  77. ^ Metzger/Coogan, Oxford Companion to the Bible. hlm. 39.
  78. ^ a b Ehrman, Bart D. (2005). Misquoting Jesus: the story behind who changed the Bible and why. San Francisco: HarperSanFrancisco ISBN 978-0060738174 halaman 209, 183
  79. ^ "1 Timothy 2:11–12 NIV – A woman should learn in quietness and". Bible Gateway. Diakses tanggal 12 Maret 2013. 
  80. ^ "1 corinthians 14:34–35 NIV – Women should remain silent in the". Bible Gateway. Diakses tanggal 12 Maret 2013. 
  81. ^ "1 corinthians 11:2–16 NIV – On Covering the Head in Worship – I". Bible Gateway. Diakses tanggal 12 March 2013. 
  82. ^ Wright, N.T. (1992). The New Testament and the People of God. Minneapolis: Fortress Press. hlm. 435–443. ISBN 978-0-8006-2681-5. 
  83. ^ "The Gospel of Thomas Collection – Translations and Resources". Gnosis.org. Diakses tanggal 12 Maret 2013. 
  84. ^ "Luke 17:20–21 NIV – The Coming of the Kingdom of God". Bible Gateway. Diakses tanggal 12 Maret 2013. 
  85. ^ "Reflections on religions". Mmnet.com.au. Diakses tanggal 12 March 2013. 
  86. ^ Kelly. Early Christian Doctrines. hlmn. 69–78.
  87. ^ Katekismus Gereja Katolik, The Holy Spirit, Interpreter of Scripture § 115–118. Archived 25 March 2015 di the Wayback Machine.
  88. ^ Tomas Aquinas, "Apakah dalam Kitab Suci sebuah kata dapat memiliki sejumlah makna" Archived 6 September 2006 di the Wayback Machine.
  89. ^ Katekismus Gereja Katolik, §116 Archived 25 March 2015 di the Wayback Machine.
  90. ^ Konsili Vatikan II, Dei Verbum (ayat 19) Archived 31 May 2014 di the Wayback Machine..
  91. ^ Katekismus Gereja Katolik, "Roh Kudus, Penafsir Kitab Suci" § 113. Archived 25 March 2015 di the Wayback Machine.
  92. ^ Katekismus Gereja Katolik, "Penafsiran Warisan Iman" § 85. Archived 3 April 2015 di the Wayback Machine.
  93. ^ Keith A. Mathison (2001). "Introduction". The Shape of Sola Scriptura. Canon Press. hlm. 15. ISBN 978-1-885767-74-5. 
  94. ^ a b Foutz, Scott David. "Martin Luther and Scripture". Quodlibet Journal. Diarsipkan dari versi asli tanggal 14 April 2000. Diakses tanggal 16 Juni 2014. 
  95. ^ Yohanes Kalvin, Ulasan Mengenai Surat-Surat Am 2 Petrus 3:14–18
  96. ^ "The Second Helvetic Confession, Bab 2 – Of Interpreting the Holy Scriptures; and of Fathers, Councils, and Traditions". Gereja Presbiterian (Amerika Serikat). 11 Desember 2007. Diarsipkan dari versi asli tanggal 11 Desember 2007. Diakses tanggal 1 Januari 2015. 
  97. ^ Sproul. Knowing Scripture, hlmn. 45–61; Bahnsen, A Reformed Confession Regarding Hermeneutics (pasal 6).
  98. ^ a b Elwell, Walter A. (1984). Evangelical Dictionary of Theology. Grand Rapids, Mich.: Baker Book House. hlm. 565. ISBN 978-0-8010-3413-8. 
  99. ^ Johnson, Elliott (1990). Expository hermeneutics : an introduction. Grand Rapids Mich.: Academie Books. ISBN 978-0-310-34160-4. 
  100. ^ Terry, Milton (1974). Biblical hermeneutics : a treatise on the interpretation of the Old and New Testaments. Grand Rapids Mich.: Zondervan Pub. House. hlm. 205.  (edisi 1890 halaman 103, view1, view2)
  101. ^ misalnya dalam ulasannya tentang Matius 1 (§III.1). Matthew Henry menafsirkan bahwa putra kembar Yehuda, Peres dan Zerah, melambangkan umat Kristen non-Yahudi dan umat Kristen Yahudi. Untuk penggunaan mutakhir dari tipologi, baca tulisan Glenny, Typology: A Summary Of The Present Evangelical Discussion.
  102. ^ a b Gill, N.S. "Which Nation First Adopted Christianity?". About.com. Diakses tanggal 8 Oktober 2011. Armenia dianggap sebagai negara pertama yang menerima agama Kristen sebagai agama negara yang menurut tarikh tradisional terjadi pada ca. 301 M. 
  103. ^ Tomas Aquinas, Summa Theologicum, Supplementum Tertiae Partis soal 69 sampai 99
  104. ^ Calvin, John. "Institutes of the Christian Religion, Buku ke-3, Bab 25". www.reformed.org. Diakses tanggal 1 Januari 2008. 
  105. ^ Catholic Encyclopedia, "Particular Judgment".
  106. ^ Ott, Grundriß der Dogmatik, hlm. 566.
  107. ^ David Moser, Apa keyakinan Ortodoks sehubungan dengan doa bagi orang mati.
  108. ^ Ken Collins, Apa yang terjadi bila aku mati?.
  109. ^ "Audience of 4 August 1999". Vatican.va. 4 Agustus 1999. Diakses tanggal 19 November 2010. 
  110. ^ Catholic Encyclopedia, "Persekutuan para kudus".
  111. ^ "Maut yang didatangkan Adam ke dalam dunia bersifat rohaniah maupun jasmaniah, dan hanya orang-orang yang beroleh izin masuk ke Kerajaan Allah sajalah yang akan ada secara kekal. Meskipun demikian, pemisahan ini belum terjadi sampai dengan Armagedon, manakala semua orang akan dibangkitkan dan diberi pilihan untuk meraih kehidupan kekal. Selama belum dibangkitkan, "orang-orang mati tidak menyadari apa-apa." Apa Yang Diniatkan Allah Bagi Bumi?" Situs Resmi Saksi Yehuwa. Menara Pengawal, 15 Juli 2002.
  112. ^ Yustinus Martir, Pembelaan Pertama §LXVII
  113. ^ Ignazio Silone, Bread and Wine (1937).
  114. ^ Strong, Systematic Theology, Philadelphia, PA: Judson Press, 1954 hal 930
  115. ^ Hickman. Handbook of the Christian Year.
  116. ^ "ANF04. Fathers of the Third Century: Tertullian, Part Fourth; Minucius Felix; Commodian; Origen, Parts First and Second | Christian Classics Ethereal Library". Ccel.org. 2005-06-01. Diakses tanggal 2009-05-05. 
  117. ^ "Catholic Encyclopedia, Symbolism of the Fish". newadvent.org. Diakses tanggal 2011-03-02. 
  118. ^ "Catholic Encyclopedia, Veneration of Images". newadvent.org. Diakses tanggal 2011-03-02. 
  119. ^ Dilasser. The Symbols of the Church.
  120. ^ Mat. 6:5-15
  121. ^ Filipi 4:6
  122. ^ Alexander, T. D., & Rosner, B. S, ed. (2001). "Prayer". New Dictionary of Biblical Theology. Downers Grove, IL: Intervarsity Press. 
  123. ^ Rennie, Bryan. "Zoroastrianism: The Iranian Roots of Christianity". 
  124. ^ Bowker, John (1997). World Religions: The Great Faiths Explored & Explained. London: Dorling Kindersley Limited. hlm. 13. ISBN 0-7894-1439-2. 
  125. ^ "The World Factbook: Armenia". CIA. Diakses tanggal 8 Oktober 2011. 
  126. ^ Brunner, Borgna (2006). Time Almanac with Information Please 2007. New York: Time Home Entertainment. hlm. 685. ISBN 978-1-933405-49-0. 
  127. ^ Theo Maarten van Lint (2009). "The Formation of Armenian Identity in the First Millenium". Church History and Religious Culture. 89 (1/3,): 269. 
  128. ^ Chidester, David (2000). Christianity: A Global History. HarperOne. hlm. 91. 
  129. ^ Undang-Undang Teodosius XVI.i.2, in: Bettenson. Documents of the Christian Church. Hlm. 31.
  130. ^ Burbank, Jane; Copper, Frederick (2010). Empires in World History: Power and the Politics of Difference. Princeton: Princeton University Press. hlm. 64. 
  131. ^ a b Orlandis, A Short History of the Catholic Church (1993), preface.
  132. ^ McManners, Oxford Illustrated History of Christianity, hlm. 37f.
  133. ^ Eusebius dari Kaisarea, penulis Sejarah Gereja pada abad ke-4 meriwayatkan bahwa Santo Markus datang ke Mesir pada tahun pertama atau tahun ketiga masa pemerintahan Kaisar Kaludius, yaitu pada tahun 41 atau 43 M. "Two Thousand years of Coptic Christianity" Otto F.A. Meinardus hlm. 28.
  134. ^ Neil Lettinga. "A History of the Christian Church in Western North Africa". Diarsipkan dari versi asli tanggal 30 Juli 2001. 
  135. ^ "Allaboutreligion.org". Allaboutreligion.org. Diarsipkan dari versi asli tanggal 16 November 2010. Diakses tanggal 19 November 2010. 
  136. ^ Cameron 2006, hlmn. 42.
  137. ^ Cameron 2006, hlmn. 47.
  138. ^ Browning 1992, hlmn. 198–208.
  139. ^ Browning 1992, hlm. 218.
  140. ^ a b c d Gonzalez, The Story of Christianity, hlmn. 238–42.
  141. ^ Mullin, 2008, hlm. 88.
  142. ^ Mullin, 2008, hlm. 93–4.
  143. ^ Gonzalez, The Story of Christianity, hlmn. 244–47.
  144. ^ Gonzalez, The Story of Christianity, hlm. 260.
  145. ^ Gonzalez, The Story of Christianity, hlmn. 278–81.
  146. ^ Rudy, The Universities of Europe, 1100–1914, hlm. 40
  147. ^ Gonzalez, The Story of Christianity, hlmn. 305, 312, 314f..
  148. ^ a b Rüegg, Walter: "Foreword. The University as a European Institution", dalam: A History of the University in Europe. Jld. 1: Universities in the Middle Ages, Cambridge University Press, 1992, ISBN 0-521-36105-2, hlmn. XIX–XX
  149. ^ a b Verger, Jacques (1999). Culture, enseignement et société en Occident aux XIIe et XIIIe siècles (dalam bahasa French) (edisi ke-ke-1). Presses universitaires de Rennes in Rennes. ISBN 286847344X. Diakses tanggal 17 Juni 2014. 
  150. ^ Riché, Pierre (1978): "Education and Culture in the Barbarian West: From the Sixth through the Eighth Century", Columbia: University of South Carolina Press, ISBN 0-87249-376-8, hlmn. 126–127, 282–298
  151. ^ Gonzalez, The Story of Christianity, hlmn. 303–07, 310f., 384–86.
  152. ^ Gonzalez, The Story of Christianity, hlmn. 305, 310f., 316f.
  153. ^ Gonzalez, The Story of Christianity, hlmn. 321–23, 365f.
  154. ^ Gonzalez, The Story of Christianity, hlmn. 292–300.
  155. ^ Riley-Smith. The Oxford History of the Crusades.
  156. ^ Gereja Barat kala itu disebut Gereja Latin oleh umat Kristen Timur dan umat non-Kristen karena Gereja Barat melaksanakan ibadat dan mengerjakan urusannya dengan menggunakan bahasa Latin
  157. ^ "The Great Schism: The Estrangement of Eastern and Western Christendom". Orthodox Information Centre. Diakses tanggal 26 Mei 2007. 
  158. ^ Duffy, Saints and Sinners (1997), hlm. 91
  159. ^ Gonzalez, The Story of Christianity, hlmn. 300, 304–05.
  160. ^ Gonzalez, The Story of Christianity, hlmn. 310, 383, 385, 391.
  161. ^ National Geographic, 254.
  162. ^ Jensen, De Lamar (1992), Renaissance Europe, ISBN 0-395-88947-2
  163. ^ Levey, Michael (1967). Early Renaissance. Penguin Books. 
  164. ^ Simon. Great Ages of Man: The Reformation. hlm. 7.
  165. ^ a b Simon. Great Ages of Man: The Reformation. hlmn. 39, 55–61.
  166. ^ Schama. A History of Britain. hlmn. 306–10.
  167. ^ Bokenkotter, A Concise History of the Catholic Church, hlmn. 242–44.
  168. ^ Simon. Great Ages of Man: The Reformation. hlmn. 109–120.
  169. ^ Sekilas pandangan umum mengenai diskusi Inggris terdapat dalam karya tulis Coffey, Persecution and Toleration in Protestant England 1558–1689.
  170. ^ Novak, Michael (1988). Catholic social thought and liberal institutions: Freedom with justice. Transaction. hlm. 63. ISBN 978-0-88738-763-0. 
  171. ^ Mortimer Chambers, The Western Experience (Jld. 2) bab 21.
  172. ^ Religion and the State in Russia and China: Suppression, Survival, and Revival, by Christopher Marsh, halaman 47. Continuum International Publishing Group, 2011.
  173. ^ Inside Central Asia: A Political and Cultural History, by Dilip Hiro. Penguin, 2009.
  174. ^ Adappur, Abraham (2000). Religion and the Cultural Crisis in India and the West (dalam bahasa English). Intercultural Publications. ISBN 978-81-85574-47-9. Konversi Paksa di Bawah Rezim Ateis: Dapat ditambahkan pula bahwa sebagian besar contoh "konversi" pada zaman modern bukanlah hasil usaha suatu negara teokratis, melainkan suatu pemerintah yang mengaku ateis — yakni pemerintah Uni Soviet yang diperintah oleh kaum komunis. 
  175. ^ Geoffrey Blainey; A Short History of Christianity; Viking; 2011; hlm.494"
  176. ^ Altermatt, Urs (2007). "Katholizismus und Nation: Vier Modelle in europäisch-vergleichender Perspektive". Dalam Urs Altermatt, Franziska Metzger. Religion und Nation: Katholizismen im Europa des 19. und 20. Jahrhundert (dalam bahasa German). Kohlhammer. hlm. 15–34. ISBN 978-3-17-019977-4. 
  177. ^ Heimann, Mary (1995). Catholic Devotion in Victorian England. Clarendon Press. hlm. 165–73. ISBN 0-19-820597-X. 
  178. ^ "Religion may become extinct in nine nations, study says". BBC News. 22 Maret 2011. 
  179. ^ "図録▽世界各国の宗教". .ttcn.ne.jp. Diakses tanggal 17 Agustus 2012. 
  180. ^ Fargues, Philippe (1998). "A Demographic Perspective". Dalam Pacini, Andrea. Christian Communities in the Middle East. Oxford University Press. ISBN 0-19-829388-7. 
  181. ^ "Francis Xavier and Asia: The Road to Cultural Inventiveness". jmcommunications.com. Diakses tanggal 2011-03-02. 
  182. ^ a b c "U.S. Library of Congress' Country Studies of Indonesia". cuntrystudies.us. Diakses tanggal 2011-03-02. 
  183. ^ "A History of Christianity in Indonesia". icrs.ugm.ac.id. Diakses tanggal 2011-03-02. 
  184. ^ "Religion Flow Chart: Christianity". Faiths and Freedoms: Religious Diversity in New York City. Macaulay Honors College at CUNY. Diakses tanggal 31 March 2015. 
  185. ^ "Branches of Chrisitianity". Waupun, WI: Waupun Area School District. Diakses tanggal 27 March 2015. 
  186. ^ Dawson, Christopher; Glenn Olsen (1961). Crisis in Western Education (edisi ke-reprint). hlm. 108. ISBN 9780813216836. 
  187. ^ a b Koch, Carl (1994). The Catholic Church: Journey, Wisdom, and Mission. Early Middle Ages: St. Mary's Press. ISBN 978-0-88489-298-4. 
  188. ^ Koch, Carl (1994). The Catholic Church: Journey, Wisdom, and Mission. The Age of Enlightenment: St. Mary's Press. ISBN 978-0-88489-298-4. 
  189. ^ Dawson, Christopher; Olsen, Glenn (1961). Crisis in Western Education (edisi ke-reprint). ISBN 978-0-8132-1683-6. 
  190. ^ Encyclopædia Britannica Forms of Christian education
  191. ^ a b Hough, Susan Elizabeth (2007), Richter's Scale: Measure of an Earthquake, Measure of a Man, Princeton University Press, hlm. 68, ISBN 0-691-12807-3 
  192. ^ Woods 2005, hlm. 109.
  193. ^ Encyclopædia Britannica Jesuit
  194. ^ Wallace, William A. (1984). Prelude, Galileo and his Sources. The Heritage of the Collegio Romano in Galileo's Science. N.J.: Princeton University Press.
  195. ^ Sztompka, 2003
  196. ^ Encyclopædia Britannica Church and social welfare
  197. ^ Encyclopædia Britannica Care for the sick
  198. ^ Encyclopædia Britannica Property, poverty, and the poor,
  199. ^ Weber, Max (1905). The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. 
  200. ^ Encyclopædia Britannica Church and state
  201. ^ Sir Banister Fletcher, History of Architecture on the Comparative Method.
  202. ^ Buringh, Eltjo; van Zanden, Jan Luiten: "Charting the 'Rise of the West': Manuscripts and Printed Books in Europe, A Long-Term Perspective from the Sixth through Eighteenth Centuries", The Journal of Economic History, Jld. 69, No. 2 (2009), hlmn. 409–445 (416, tabel 1)
  203. ^ Eveleigh, Bogs (2002). Baths and Basins: The Story of Domestic Sanitation. Stroud, England: Sutton. 
  204. ^ Henry Gariepy (2009). Christianity in Action: The History of the International Salvation Army. Wm. B. Eerdmans Publishing. hlm. 16. ISBN 978-0-8028-4841-3. 
  205. ^ Encyclopædia Britannica The tendency to spiritualize and individualize marriage
  206. ^ Hill, Donald. Islamic Science and Engineering. 1993. Edinburgh Univ. Press. ISBN 0-7486-0455-3, hlm.4
  207. ^ Brague, Rémi (15 April 2009). The Legend of the Middle Ages. hlm. 164. ISBN 978-0-226-07080-3. 
  208. ^ Kitty Ferguson (2011). Pythagoras: His Lives and the Legacy of a Rational Universe. Icon Books Limited. hlm. 100. ISBN 978-1-84831-250-0. Di Timur Dekat, Timur Tengah, dan Afrika Utaralah tradisi-tradisi belajar-mengajar kuno dilanjutkan, dan para cendekiawan Kristen dengan cermat melestarikan tulisan-tulisan dan ilmu pengetahuan kuno dalam bahasa Yunani Kuno 
  209. ^ Kaser, Karl (2011). The Balkans and the Near East: Introduction to a Shared History. LIT Verlag Münster. hlm. 135. ISBN 978-3-643-50190-5. 
  210. ^ Rémi Brague, Assyrians contributions to the Islamic civilization
  211. ^ Britannica, Nestorian
  212. ^ Hyman and Walsh Philosophy in the Middle Ages Indianapolis, 1973, hlm. 204' Meri, Josef W. and Jere L. Bacharach, Editors, Medieval Islamic Civilization Jld.1, A-K, Index, 2006, hlm. 304.
  213. ^ "Religion of History's 100 Most Influential People". 
  214. ^ "Religion of Great Philosophers". 
  215. ^ "Christian Influences In The Sciences". rae.org. Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 September 2015. 
  216. ^ "World's Greatest Creation Scientists from Y1K to Y2K". creationsafaris.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 January 2016. 
  217. ^ "100 Scientists Who Shaped World History". 
  218. ^ "50 Nobel Laureates and Other Great Scientists Who Believe in God".  Banyak tokoh sejarah terkenal yang mempengaruhi ilmu pengetahuan Dunia Barat mengaku beragama Kristen, misalnya Nikolaus Kopernikus, Galileo Galilei, Johannes Kepler, Isaac Newton, Robert Boyle, Alessandro Volta, Michael Faraday, William Thomson (Lord Kelvin), dan James Clerk Maxwell.
  219. ^ "Religious Affiliation of the World's Greatest Artists". 
  220. ^ Hall, hlm. 100.
  221. ^ "Wealthy 100 and the 100 Most Influential in Business". 
  222. ^ Baruch A. Shalev, 100 Years of Nobel Prizes (2003), Atlantic Publishers & Distributors, hlm.57: antara 1901 dan 2000 mengungkap fakta bahwa 654 penerima hadiah Nobel tergolong dalam 28 agama yang berbeda. Sebagian besar di antaranya (65,4%) memilih agama Kristen dalam berbagai bentuknya sebagai agama yang mereka sukai. ISBN 978-0935047370
  223. ^ G.C. Oosthuizen. Postchristianity in Africa. C Hurst & Co Publishers Ltd (31 Desember 1968). ISBN 0-903983-05-2
  224. ^ a b McManners, Oxford Illustrated History of Christianity, hlmn. 581–84.
  225. ^ International Standard Bible Encyclopedia: E-J by Geoffrey W. Bromiley 1982 ISBN 0-8028-3782-4 hlm. 175
  226. ^ Jews and Christians: The Parting of the Ways, A.D. 70 to 135 oleh James D. G. Dunn 1999 ISBN 0-8028-4498-7 hlmn. 112–113
  227. ^ Asher Norman Twenty-six Reasons why Jews Don't Believe in Jesus Feldheim Publishers 2007 ISBN 978-0-977-19370-7 hlm. 11
  228. ^ Keith Akers The Lost Religion of Jesus: Simple Living and Nonviolence in Early Christianity Lantern Books 2000 ISBN 978-1-930-05126-3 hlm. 103
  229. ^ Ferguson, Everett (1993). Backgrounds of Early Christianity (edisi ke-ke-2). Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company. hlm. 562–564. ISBN 0-8028-0669-4. 
  230. ^ Thomas, Stephen (2004). "Celsus". Dalam McGuckin, John Anthony. The Westminster Handbook to Origen. Louisville, Kentucky: Westminster John Knox Press. hlm. 72–73. ISBN 0-664-22472-5. 
  231. ^ a b Olson, Roger E. (1999), The Story of Christian Theology: Twenty Centuries of Tradition & Reform, Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, hlm. 101, ISBN 978-0-8308-1505-0 
  232. ^ McGuckin, John Anthony (2004). "The Scholarly Works of Origen". The Westminster Handbook to Origen. Louisville, Kentucky: Westminster John Knox Press. hlm. 32–34. ISBN 0-664-22472-5. 
  233. ^ Ferguson, Everett (1993). Backgrounds of Early Christianity (edisi ke-second). Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company. hlm. 556–561. ISBN 0-8028-0669-4. 
  234. ^ Sherwin-White, A. N. (April 1964). "Why Were the Early Christians Persecuted? -- An Amendment". Past and Present. 27 (27): 23–27. doi:10.1093/past/27.1.23. JSTOR 649759. 
  235. ^ The Encyclopedia of Christian Literature, Jilid 1 oleh George Thomas Kurian dan James Smith 2010 ISBN 0-8108-6987-X hlm. 527
  236. ^ Apologetic Discourse and the Scribal Tradition oleh Wayne Campbell Kannaday 2005 ISBN 90-04-13085-3 hlmn. 32–33
  237. ^ A Dictionary Of Jewish-Christian Relations by Edward Kessler, Neil Wenborn 2005 ISBN 0-521-82692-6 hlm. 168
  238. ^ The Cambridge Companion to Nietzsche oleh Bernd Magnus, Kathleen Marie Higgins 1996 ISBN 0-521-36767-0 hlmn. 90–93
  239. ^ Russell on Religion: Selections from the Writings of Bertrand Russell oleh Bertrand Russell, Stefan Andersson, dan Louis Greenspan 1999 ISBN 0-415-18091-0 hlmn. 77–87

Pranala luar