Nusa Tenggara Timur

provinsi di Indonesia


Nusa Tenggara Timur (disingkat NTT) adalah sebuah provinsi di Indonesia yang meliputi bagian timur Kepulauan Nusa Tenggara. Provinsi ini beribu kota di Kupang dan memiliki 22 kabupaten/kota. Provinsi ini berada di Sunda Kecil[5][6].

Nusa Tenggara Timur
Provinsi di Indonesia
NTT
Pulau Komodo
Pulau Komodo
Lambang resmi Nusa Tenggara Timur
Lambang
Peta
Peta
Negara Indonesia
Ibu kotaKupang
Jumlah satuan pemerintahan
Pemerintahan
 • GubernurViktor Laiskodat
 • Wakil GubernurJosef Nae Soi
 • Sekretaris DaerahBenediktus Polo Maing
 • Ketua DPRDEmi Nomleni
Luas
 • Total48.718,10 km2 (1,881,020 sq mi)
Penduduk (2019)[1]
 • Total5.456.203
 • Kepadatan109/km2 (280/sq mi)
Demografi
 • AgamaKristen 90,51%
Katolik (51,83%%)
Protestan (38,68%)
Islam (9,28%)
Hindu (0,20%)
Buddha (0,01%)[2]
 • Suku bangsaAtoni atau Dawan (21%)
Manggarai (15%)
Sumba (13%)
Lamaholot (5%)
Belu (6%)
Rote (5%)
Lio (4%)
Tionghoa (3%)[3]
 • BahasaIndonesia (bahasa resmi)
Uab Meto, Manggarai, Rote, Tetun, Portugis
Zona waktuWITA (UTC+08:00)
Kode pos85xxx-87xxx
Kode area telepon
ISO 3166ID-NT
Plat kendaraan
Dasar hukum pendirianUU 64/1958
DAURp1.003.991.703.000,00 (2013)[4]
Lagu daerahMoree, Bolelebo, Aua Ia Mana Lolobanda, Anak Kambing Saya, O Nina Noi, Potong Bebek Angsa, Desaku, Lerang Wutun, Orere, Putar - Putar Kopi, Bale Nagi
FloraCendana
FaunaKomodo
Situs webnttprov.go.id

Setelah pemekaran, Nusa Tenggara Timur adalah sebuah provinsi Indonesia yang terletak di bagian tenggara Indonesia. Provinsi ini terdiri dari beberapa pulau, antara lain Pulau Flores, Pulau Sumba, Pulau Timor, Pulau Alor, Pulau Lembata, Pulau Rote, Pulau Sabu, Pulau Adonara, Pulau Solor, Pulau Komodo dan Pulau Palue.

Provinsi ini terdiri dari kurang lebih 550 pulau, tiga pulau utama di Nusa Tenggara Timur adalah Pulau Flores, Pulau Sumba dan Pulau Timor Barat (biasadipanggil Timor)

Arti lambangSunting

Arti lambang Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah sebagai berikut:

  • Berbentuk perisai dengan sudut lima dengan maksud, selain melambangkan makna perlindungan rakyat juga melambangkan Pancasila.
  • Dalam perisai terberkas: bintang, komodo, padi dan kapas, tombak dan pohon beringin.
  • Bintang melambangkan keagungan Tuhan yang Maha Esa, komodo satu-satunya reptil prasejarah yang hingga kini masih lestari. Binatang purba ini merupakan reptil raksasa yang oleh dunia dinyatakan dilindungi karena jenis hewan ini hanya terdapat di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di pulau Komodo. Banyak wisatawan dari seluruh dunia datang ke pulau ini hanya untuk melihat komodo.
  • Padi-kapas melambangkan kemakmuran.
  • Tombak melambangkan keagungan dan kejayaan.
  • Pohon beringin melambangkan persatuan dan kesatuan yang tetap terpelihara.
  • Hari terbentuknya provinsi Nusa Tenggara Timur dilukiskan melalui jumlah padi (14) dan tahun 1958 tertera langsung pada sudut bawah lambang.

SejarahSunting

Bentangan kepulauan yang terletak di antara 8°-12°Lintang Selatan dan 118° – 125°Bujur Timur, mempunyai makna tersendiri terhadap kehidupan banyak orang. Gugusan pulau tersebut disapa dengan berbagai sebutan, antara lain, "Sunda Kecil", "Nusa Tenggara", "Nusa Tenggara Timur", dan juga "Flobamora". Sebutan tersebut juga bisa bermakna terdapat banyak suku-suku di wilayah tersebut, namun mempunyai satu tanda kesamaan yaitu sama-sama menyatukan diri sebagai Masyarakat NTT.[7]

Jauh sebelum nama NTT tersebar, gugusan pulau-pulau di selatan Nusantara tersebut telah menjadi perhatian dunia. Harumnya aroma cendana dari Timor telah menerobos sampai Timur Tengah, Tiongkok, dan Eropa, dan berbagai penjuru bumi. Kekuatan aroma cendana tersebut menjadikan para pedagang dari Malaka, Gujarat, Jawa dan Makasar, Tiongkok melakukan pelayaran niaga untuk mencapai wilayah sumber cendana. Dan mereka melakukan kontak dagang secara langsung dengan raja-raja di Timor dan pulau-pulau sekitarnya, sang pemilik wilayah dan pemimpin rakyat.[7]

Catatan sejarah dari Tiongkok, "manuskrip Dao Zhi", sejak tahun 1350 dinasti Sung sudah mengenal Timor dan pulau-pulau sekitar, dan salah satu pelabuhan terkenal di Timor adalah "Batumiao-Batumean Fatumean Tun Am", yang ramai dikunjungi kapal dari Makassar, Malaka, Jawa, Tiongkok dan kemudian Eropa seperti Spanyol, Britania, Portugis, Belanda.

Tahun 1510, Goa, India dikuasai Portugis, mereka melanjutkan eskpansinya dengan cara menguasai Malaka pada tahun 1511. Malaka dijadikan pusat perdagangan serta kekuasaan wilayah Nusantara. Setelah Portugis berhasil mencapai Maluku, Solor (Flores) pada tahun 1511, armada Ferdinand Magellan dengan dua kapal singgah di Alor dan Kupang, Pulau Timor. Dalam penyeberangan ke selat Pukuafu, kedua kapal ini diterjang badai, salah satu kapal hancur dan karam. Jangkar raksasa salah satu kapal ini masih bisa ditemui di pantai Rote. Satu lainnya berhasil lolos dari amukan ombak lalu melanjutkan perjalanan ke Sabu, kemudian ke Tanjung Harapan lalu kembali ke Spanyol.[7]

Ketika Belanda, dengan VOCnya, mencekram Nusantara, tahun 1614, mereka menempatkan Pdt. M van den Broeck di Kupang dan Rote, untuk melayani umat Kristen di sana. Ini juga bermakna, walau VOC masih berusia muda (berdiri 1602), kongsi dagang itu telah menempatkan kantor, benteng, pegawainya di Timor dan pulau-pulau sekitarnya; dan dengan itu perlu seorang pendeta sebagai pemelihara rohani. Pada era V0C, tahun 1600 – 1799, dan bahkan sampai tahun 1900, tidak banyak catatan sejarah yang bisa menjadi pengetahuan publik; dan sekaligus bisa menjadi tambahan pengetahuan terhadap Masyarakat NTT.

Belanda waktu itu masih dikuasai oleh pemerintah boneka dari kekaisaran Prancis di bawah Napoleon. Keadaan tersebut dimanfaatkan Britania untuk memperluas jajahannya dengan merebut jajahan Belanda. Armada Britania mengganggu daerah kekuasaan Belanda, sehingga pada tahun 1799 hampir seluruh wilayah Indonesia (kecuali Jawa, Palembang, Banjarmasin dan Timor) jatuh dalam kekuasaan Britania. Dua kapal Britania memasuki pelabuhan Kupang pada l0 Juni l797, namun berhasil dipukul mundur oleh Greving yang mengarahkannya pada Mardijkers. Saat VOC dibubarkan pada tahun 1799, segala hak dan kewajiban Indonesia diambil alih oleh pemerintah Belanda. Peralihan ini tidak membawa perubahan apapun, karena pada waktu itu Belanda menghadapi perang yang dilancarkan oleh negara tetangga.[7]

Di era kolonial sampai 1942, rakyat NTT, harus terbagi-bagi sesuai keinginan Belanda, dalam bentuk Raja – Swapraja, fetor – Kefetoran, dan seterusnya; dan kemudian menjadi daerah taklukan di bawah pemerintahan residen. Ketika Jepang berkuasa di Nusantara, wilayah NTT yang strategis, ditata ulang sebagai basis pertahanan. Penataan administrasi pemerintahan pun nyaris tidak mengalami perubahan, hanya ada perubahan istilah.[7]

Ketika Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, NTT sebagai bagian Nusantara yang dijajah Belanda, bebas dari cengkraman kolonial. Akan tetapi, karena keinginan Belanda untuk tetap berkuasa di Nusantara termasuk NTT, maka mereka melakukan berbagai upaya untuk tetap berada di bumi NTT. Keadaan tersebut, membangkitkan semangat “Nasionalisme – Kebebasan – Kemerdekaan NTT” pada dalam diri Rakyat NTT. Semangat yang tak pantang menyerah tersebut melahirkan Pemerintahan Negara Indonesia Timur dan Pemerintahan Otonom NTT. Bisa dikatakan, status NTT hampir sama dengan Yogyakarta pada waktu itu, yang menyatakan diri setia kepada Soekarno–Hatta. Perjuangan yang gigih Rakyat NTT tidak berhenti, dan juga tidak pernah terbit dalam pikiran untuk melepaskan diri dari RI, yang baru merdeka. Ada semangat kesatuan Indonesia pada jiwa dan darah A.H. Koroh, I.H. Doko, Th. Oematan, Pastor Gabriel Manek, Drs. A. Roti, Y.S. Amalo, agar NTT tidak berada dalam kekuasaan penjajah, tetapi menjadi bagian dari RI. Ketika Indonesia masih belum berdiri tegak, NTT menjadi bagian dari Provinsi Administratif dengan nama "Provinsi Sunda kecil". Nama "Sunda kecil" kemudian diganti dengan nama "Nusa Tenggara", berdasarkan peraturan pemerintah No. 21 tahun 1950. Tidak lama setelah itu, pada tahun 1957 berlaku UU No. 1 tahun 1957 tentang pokok-pokok Pemerintahan Daerah dan dengan UU No. 64, tahun 1958, sehingga "Provinsi Nusa Tenggara" dibagi menjadi tiga Daerah Swatantra Tingkat 1, yaitu masing-masing Swatantra Tingkat 1 Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Sejak 20 Desember 1958, pulau Flores, Sumba, Timor, dan pulau-pulau sekitarnya menjadi salah satu bagian dari provinsi.[7]

PemerintahanSunting

Daftar gubernurSunting

No Foto Gubernur Mulai Jabatan Akhir Jabatan Prd. Ket. Wakil
Gubernur
1
  W. J. Lalamentik
20 Desember 1958
12 Juli 1966
1
El Tari
(1965–66)
2
  El Tari
12 Juli 1966
Agustus 1972
2
[ket. 1]
Tidak ada
Agustus 1972
29 April 1978
3
  Wang Suwandi
29 April 1978
16 Juni 1978
[ket. 2]
3
  Ben Mboi
1978
1983
4
[ket. 3]
1983
1988
5
G. Boeky
(1986–1991)
4
  Hendrik Fernandez
1988
1993
6
[ket. 4]
S. H. M. Lerick
(1991–1996)
5
  Herman Musakabe
1993
1998
7
[ket. 5]
Piet Alexander Tallo
(1996–1998)
6
 
Piet Alexander Tallo
1998
2003
8
Johanes Pake Pani
2003
2008
9
[ket. 6]
Frans Lebu Raya
7
  Frans Lebu Raya
16 Juli 2008
16 Juli 2013
10
[ket. 7]
Esthon L. Foenay
16 Juli 2013
16 Juli 2018
11
[8]
Benny Alexander Litelnoni
  Robert Simbolon
(Penjabat)
17 Juli 2018
5 September 2018
[9]
8
  Viktor Laiskodat
5 September 2018
Petahana
12
Josef Nae Soi

Dewan PerwakilanSunting

DPRD NTT beranggotakan 65 orang yang dipilih melalui pemilihan umum setiap lima tahun sekali. Pimpinan DPRD NTT terdiri dari 1 Ketua dan 3 Wakil Ketua yang berasal dari partai politik pemilik jumlah kursi dan suara terbanyak. Anggota DPRD NTT yang sedang menjabat saat ini adalah hasil Pemilu 2019 yang dilantik pada 3 September 2019 oleh Ketua Pengadilan Tinggi Kupang, Andreas don Rade, di Gedung DPRD Provinsi NTT. Komposisi anggota DPRD NTT periode 2019-2024 terdiri dari 11 partai politik dimana PDI Perjuangan dan Partai Golkar adalah partai politik pemilik kursi terbanyak yaitu masing-masing 10 kursi.[10][11][12][13][14] Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD NTT dalam empat periode terakhir.[15][16][17]

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2004-2009 2009-2014 2014-2019 2019-2024
  RepublikaN (Baru!) 1
  PPI (Baru!) 1
  PKP (Baru!) 1
  PPRN (Baru!) 1
  PNBK 1 0
  PKPB 0 3
  PDK 2 1
  PPDI 4 1
  Pelopor 2 1
  PDS 4 3
  PKB 4 1 5 7
  PDI Perjuangan 12 9 10   10
  Golkar 21 11   11 10
  PKS 0 1 2 0
  PPP 1   1 0 1
  PAN 0 1 5 6
  Demokrat 2 7 8 4
  PKPI 2 0 3 0
  Gerindra (Baru!) 6 8 6
  Hanura (Baru!) 5   5   5
  NasDem (Baru!) 8 9
  Perindo (Baru!) 6
  PSI (Baru!) 1
Jumlah Anggota 55   55 65   65
Jumlah Partai 12 18 10 11

Kabupaten dan KotaSunting

No. Kabupaten/kota Pusat pemerintahan Bupati/wali kota Luas wilayah (km2)[18] Jumlah penduduk (2017)[18] Kecamatan Kelurahan/desa Logo Peta lokasi
1 Kabupaten Alor Kalabahi Amon Djobo 2.864,60 209.974 17 17/158
2 Kabupaten Belu Atambua Willybrodus Lay 1.284,97 220.699 12 12/69
3 Kabupaten Ende Ende Djafar H. Achmad 2.046,50 270.207 21 23/255
4 Kabupaten Flores Timur Larantuka Antonius Hubertus Gege Hadjon 1.813,20 280.178 19 21/229
5 Kabupaten Kupang Oelamasi Korinus Masneno 5.434,76 402.320 24 17/160
6 Kabupaten Lembata Lewoleba Eliaser Yentji Sunur 1.266,00 133.552 9 7/144
7 Kabupaten Malaka Betun Stefanus Bria Seran 1.160,63 190.561 12 -/127
8 Kabupaten Manggarai Ruteng Deno Kamelus 2.096,44 318.115 12 26/145
9 Kabupaten Manggarai Barat Labuan Bajo Agustinus C. Dulla 2.397,03 256.491 12 5/164
10 Kabupaten Manggarai Timur Borong Agas Andreas 2.642,93 262.606 9 17/159
11 Kabupaten Nagekeo Mbay Johanes Don Bosco Do 1.416,96 160.180 7 16/97
12 Kabupaten Ngada Bajawa Paulus Soliwoa 1.645,88 164.703 12 16/135
13 Kabupaten Rote Ndao Baa Paulina Haning Bullu 1.280,00 143.585 10 7/112
14 Kabupaten Sabu Raijua Seba Nikodemus Rihi Heke 460,54 92.991 6 5/58
15 Kabupaten Sikka Maumere Fransiskus Roberto Diogo 1.731,90 314.809 21 13/147
16 Kabupaten Sumba Barat Waikabubak Agustinus Niga Dapawole 2.183,18 145.061 6 11/63
17 Kabupaten Sumba Barat Daya Tambolaka Markus Dairo Talu 1.480,46 307.331 11 2/173
18 Kabupaten Sumba Tengah Waibakul Paulus SK Limu 1.868,74 84.174 5 -/65
19 Kabupaten Sumba Timur Waingapu Gidion Mbiliyora 7.000,50 237.119 22 16/140
20 Kabupaten Timor Tengah Selatan Soe Egusem Piether Tahun 3.947,00 463.857 32 12/266
21 Kabupaten Timor Tengah Utara Kefamenanu Raymundus Sau Fernandes 2.669,70 263.149 24 33/160
22 Kota Kupang - Jefirstson Riwu Kore 26,18 438.005 6 51/-

PopulasiSunting

Jumlah penduduk di provinsi ini adalah 4.683.827 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 2,07%. Jumlah penduduk laki-laki sebanyak 2.326.487 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 2.357.340 jiwa (2010). Kepadatan penduduk di Nusa Tenggara Timur sebesar 96 jiwa/km2, dengan presentasi penduduk yang tinggal di perkotaan kurang lebih 20%, dan sisanya sebesar 80% mendiami kawasan pedesaan. Sebagian besar penduduk beragama Kristen dengan rincian persentase kurang lebih sebagai berikut Katolik 46,43% Protestan 45,34%, Islam 6,38%, Hindu 0,11% Buddha 0,01% dan sebanyak 1,73% menganut agama dan kepercayaan lainnya.

Nusa Tenggara Timur menjadi tempat perlindungan untuk kalangan Kristen di Indonesia yang menjauhkan diri dari konflik agama di Maluku dan Irian Jaya.

Tingkat pendaftaran sekolah menengah adalah 39% yang jauh di bawah rata-rata Indonesia, yaitu 80.49% tahun 2003/04 (menurut UNESCO). Minuman berupa air bersih, sanitasi dan kurangnya sarana kesehatan menyebabkan terjadinya kekurangan gizi anak (32%) dan kematian bayi (71 per 1000) juga lebih besar dari kebanyakan provinsi Indonesia lainnya.

EkonomiSunting

Menurut berbagai standar ekonomi, ekonomi di provinsi ini lebih rendah daripada rata-rata Indonesia, dengan tingginya inflasi (15%), pengangguran (30%) dan tingkat suku bunga (22-24%).

KepulauanSunting

Seperti halnya Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi yang didominasi oleh kepulauan, tiga pulau utama di wilayah ini adalah Pulau Flores, Pulau Sumba, dan Pulau Timor bagian Barat. Gugusan kepulauan ini sering disingkat dengan nama "Flobamora"

Sedangkan pulau-pulau lain di antaranya adalah Pulau-pulau Adonara, Alor, Babi, Besar, Bidadari, Dana, Komodo, Rinca, Lomblen, Loren, Ndao, Palue, Pamana, Pamana Besar, Pantar, Rusa, Raijua, Rote (pulau terselatan di Indonesia), Sawu, Semau dan Solor.

PariwisataSunting

 
Komodo spesies kadal terbesar di dunia
 
Danau Kelimutu
 
Rumah adat Bondokodi Sumba
  • Pulau Komodo dengan Komodo Naga
  • Danau Kelimutu di Flores, 3 danau kawah dengan warna berbeda
  • Gunung Mutis di Kupang timur, titik tertinggi di provinsi ini dan dikenal sebagai area pendakian & pengamatan burung
  • Semana Santa di Larantuka
  • Rumah adat dan pasola di Pulau Sumba
  • Penyelaman di Pulau Alor
  • Pantai Nemberalla di Rote Ndao
  • Pantai Pink di Pulau Padar
  • Rumah Adat di Kampung Bena, Bajawa-Kabupaten Ngada
  • Taman Wisata 17 Pulau di Riung, Kabupaten Ngada
  • Taman Wisata Air Panas Mengeruda Soa, Bajawa- Kabupaten Ngada
  • Kelabba Madja di Sabu Raijua
  • Rumah Adat Wae Rebo di Manggarai

Batas wilayahSunting

Utara Laut Flores
Timur Timor Leste, Provinsi Maluku, dan Laut Banda
Selatan Samudra Hindia
Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat

Lihat pulaSunting

  • Sasando, instrumen musik petik dari daerah ini
  • Pasola, permainan lempar lembing dari atas kuda
  • Padoa

ReferensiSunting

  1. ^ "Indikator Strategis Nusa Tenggara Timur". BPS. Diakses tanggal 2019-12-18. 
  2. ^ "Persentase Agama yang Dianut Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018". www.nttprov.go.id. Diakses tanggal 16 Januari 2020. 
  3. ^ Indonesia's Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape. Institute of Southeast Asian Studies. 2003. 
  4. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  5. ^ "Badak Sunda dan Harimau Sunda". "[...] Mr. Muhamad Yamin yang pada 1950-an ketika menjadi Menteri P.P. dan K. mengganti istilah Kepulauan Sunda Kecil menjadi Kepulauan Nusa Tenggara. Sebab, istilah Kepulauan Sunda Kecil diganti dengan Kepulauan Nusa Tenggara, maka istilah Kepulauan Sunda Besar juga tidak lagi digunakan dalam ilmu bumi dan perpetaan nasional Indonesia – meskipun dalam perpetaan Internasional istilah Greater Sunda Islands dan Lesser Sunda Islands masih tetap digunakan." - Ajip Rosidi: Penulis, budayawan. Pikiran Rakyat, 21 Agustus 2010. Diakses tanggal Juli 7, 2015. 
  6. ^ JAN B. AVE; 'INDONESIA', 'INSULINDE' AND 'NUSANTARA': DOTTING THE I'S AND CROSSING THE T p. 14
  7. ^ a b c d e f Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana untuk Presiden Sederhana
  8. ^ "Direktorat Pejabat:Gubernur dan Wakil Gubernur". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Pusat Data Informasi, Komunikasi dan Telekomunikasi Kementerian Dalam Negeri. Diakses tanggal 30 Desember 2015. 
  9. ^ Bere, Sigiranus Marutho (17 Juli 2018). Damanik, Caroline, ed. "Robert Simbolon". Kompas.com. Diakses tanggal 19 Juli 2018. 
  10. ^ "65 Anggota DPRD NTT Dilantik". beritasatu.com. 03-09-2019. Diakses tanggal 03-12-2019. 
  11. ^ "65 Anggota DPRD NTT Periode 2019-2024 Dilantik". lintasntt.com. 03-09-2019. Diakses tanggal 03-12-2019. 
  12. ^ "Anggota DPRD NTT Periode 2019-2024 Resmi Dilantik". indonesiasatu.co. 04-09-2019. Diakses tanggal 03-12-2019. 
  13. ^ "65 Anggota DPRD NTT Dilantik". beritasatu.com. 03-09-2019. Diakses tanggal 03-12-2019. 
  14. ^ "Ketua Pengadilan Tinggi Kupang Melantik dan Mengambil Sumpah Jabatan Anggota DPRD Provinsi NTT masa bakti 2019 - 2024". pt-kupang.go.id. 03-09-2019. Diakses tanggal 03-12-2019. 
  15. ^ "KPU Provinsi NTT tetapkan 65 calon terpilih anggota DPRD". pemilu.antaranews.com. 24-07-2019. Diakses tanggal 03-12-2019. 
  16. ^ "45 Orang Wajah Baru Huni DPRD NTT". pos-kupang.com. 14-05-2014. Diakses tanggal 03-12-2019. 
  17. ^ "ANGGOTA DPRD NTT 2009-2014". pos-kupang.com. 15-09-2009. Diakses tanggal 03-12-2019. 
  18. ^ a b "Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan (Permendagri No.137-2017) - Kementerian Dalam Negeri - Republik Indonesia". www.kemendagri.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-07-10. 

Pranala luarSunting

Koordinat: 9°24′S 122°4′E / 9.400°S 122.067°E / -9.400; 122.067

  1. ^ Pembentukan Desa Gaya Baru dari Kerajaan-kerajaan Tradisional. Mengerahkan tenaga motivator pembangunan Desa. Motto : "Tanam, Tanam, sekali lagi Tanam; Kalau bukan sekarang kapan lagi"
  2. ^ Penjabat Gubernur, Mempersiapkan pemilihan Gubernur periode berikutnya
  3. ^ Operasi Nusa Makmur (ONM); Operasi Nusa Hijau (ONH); Operasi Nusa Sehat (ONS); Operasi Benah Desa
  4. ^ Gerakkan Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (GEMPAR), Gerakan Membangun Desa (GERBADES)
  5. ^ Tujuh Program Strategis, Pengembangan Sumber Daya Manusia, Penanggulangan Kemiskinan Pembangunan Ekonomi Pengembangan dan Pemanfaatan IPTEK Penataan Ruang Pengembangan Sistem Perhubungan Pengembangan Kepariwisataan
  6. ^ Periode kedua. Kebijakan yang dilaksanakan: Program Tiga Batu Tungku, Ekonomi Rakyat, Pendidikan Rakyat, Kesehatan Rakyat. Motto : “Mulailah membangun dari apa yang dimiliki rakyat dan apa yang ada pada rakyat”
  7. ^ Periode pertama. Kebijakan yang dilaksanakan, ANGGUR MERAH. Motto : “Sehati se suara membangun NTT baru”