Gunung Muria

Gunung di pantai utara Jawa Tengah

Gunung Muria (di masa kolonial dikenal sebagai Moerjo atau Moerija) adalah sebuah gunung bertipe stratovolcano[4] yang terletak di pantai utara Jawa Tengah, sekitar 66 kilometer di timur laut Kota Semarang.[5] Gunung ini termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Kudus di sisi selatan, wilayah Kabupaten Jepara di sisi barat, dan wilayah Kabupaten Pati di sisi timur dan tenggara.[6] Gunung ini memiliki ketinggian setinggi 1602 mdpl, tetapi sumber lain menyebutkan 1625 mdpl.[7][8]

Gunung Muria
Moerjo, Moerija
MountMuriaFromSpace.jpg
Gunung Muria yang difoto pada tahun 1999 oleh ISS dalam misi STS-93.
Titik tertinggi
Ketinggian1602 m (5253 kaki)[1][2]
Masuk dalam daftarRibu
KoordinatKoordinat: 6°37′00″S 110°53′00″E / 6.616667°S 110.883333°E / -6.616667; 110.883333
Geografi
Gunung Muria berlokasi di Jawa
Gunung Muria
Gunung Muria
Lokasi di Pulau Jawa
Letak
NegaraIndonesia
DaerahJawa Tengah
Geologi
Letusan terakhir320.000 tahun yang lalu[3]
Ilustrasi rupa Gunung Muria dan Gunung Genuk oleh Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië pada tahun 1887.

Gunung ini pernah menjadi pulau tersendiri, dipisahkan dari Pulau Jawa oleh Selat Muria.[9] Selat ini menjadi salah satu jalur perdangangan rempah-rempah yang menghubungkan Timur Tengah dengan Maluku dan mungkin dilalui oleh Tomé Pires dalam perjalanannya di Jawa.[10] Selat ini tertutup pada sekitar abad ke 17-18.[11]

Sejak tahun 1970-an, sisi utara gunung ini dipilih oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) sebagai lokasi pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir, dengan alasan risiko bencana alamnya yang kecil jika dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain di Jawa dan Bali.[12] Namun, akhirnya rencana tersebut dibatalkan pada tahun 2015 karena diketahui gempa bumi yang beberapa kali mengguncang di sekitar gunung.

Aktivitas vulkanisme di gunung ini terakhir kali terjadi pada sekitar tahun 160 SM.[13][14]

GeologiSunting

Gunung Muria merupakan salah satu gunung di Jawa yang berhubungan dengan zona subduksi berumur Miosen, bukan zona subduksi yang aktif (seperti Gunung Merapi atau Gunung Kelud), dengan Zona Wadati–Benioff sedalam sekitar 400 kilometer.[15] Meskipun demikian, aktivitas magmatik diketahui masih ada di bawah gunung ini, setidaknya di tahun 2000.[16]

Gunung Muria berbagi sejarah dengan Gunung Genuk, terutama dalam pembentukan bentang alam Semenanjung Muria. Keduanya menghasilkan lava koheren baik kubah lava dan sumbat lava maupun maar yang terdapat di kaki gunung dan daratan.[3] Selain itu, dijumpai pula breksi gunung api, lapili, dan tuf yang banyak mengeliling sekitar gunung. Namun, densitasnya tidak terlalu besar dibanding dengan persebaran batuan yang lain, dengan densitas yang hanya mencapai 2.4 gr/cm3.[17]

Program nuklirSunting

PerencanaanSunting

Pada bulan April 1975, BATAN dan Departemen Pekerjaan Umum membentuk sebuah komisi untuk memulai proses pemilihan lokasi tapak PLTN yang bernama Komisi Persiapan Pembangunan PLTN (KP2PLTN). Komisi tersebut terdiri dari BATAN, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Pertahanan dan Keamanan, Departemen Dalam Negeri, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dan PLN.[18] Pemilihan tersebut menghasilkan 5 dari 14 lokasi yang diusulkan. Lima lokasi tersebut adalah Tanjung Pujut (Banten), Parigi (Jawa Barat), Lasem (Jawa Tengah), Muria (Jawa Tengah), dan Situbondo (Jawa Timur).[19]

Antara bulan Juli hingga September 1975, diadakan sebuah survei untuk menentukan lokasi tapak terbaik dari kelima lokasi tersebut. Hasilnya berupa dua lokasi, yaitu Keling di Muria dan Sluke di Lasem.[19] Kemudian, BATAN mengadakan studi kelayakan terhadap kedua lokasi tersebut yang dibantu oleh firma teknik nuklir asal Italia, NIRA.[20] Hasil studi tersebut kemudian keluar pada tahun 1982, dengan menyimpulkan bahwa Ujungwatu di Keling (kini bagian dari Donorojo) adalah calon lokasi tapak terbaik.[19]

Pada tahun 1991, diadakan perjanjian antara Kementerian Keuangan dan BATAN dengan perusahaan konsultasi energi asal Jepang, NEWJEC Inc.[21] Perjanjian ini pada dasarnya mengontrak NEWJEC selama empat tahun setengah untuk melakukan analisis dan evaluasi terhadap lokasi tapak. Lokasi yang sebelumnya hanya Ujungwatu diperbarui menjadi enam lokasi, yaitu Ujungwatu, Ujung Bantungan, Ujung Grenggengan, Ujung Lemahabang, Ujung Bayuran, dan Ujung Piring. Pilihan akhirnya jatuh di Ujung Lemahabang (ULA), sebuah dukuh di Balong, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara.[22][23][24]

NEWJEC mengeluarkan sebuah laporan pada tahun 1993 yang berjudul Feasibility Study of the First Nuclear Power Plants at Muria Peninsula Region. Laporan ini memproyeksikan penawaran dan permintaan kebutuhan energi nuklir serta menyarankan Pemerintah Indonesia untuk membangun 12 reaktor berkekuatan 600 Megawatt.[20]

Pemilihan tapak akhirnya selesai pada bulan Mei 1996,[25] dan pembangunannya direncanakan mulai pada tahun 1997, tetapi tertunda karena krisis finansial Asia 1997.[26]

PLTN ini diproyeksikan dapat memasok energi listrik sebesar 4.000-6.000 Megawatt.[27][28]

Reaksi dari masyarakatSunting

Ketika masyarakat lokal Balong awalnya mengetahui rencana ini, kebanyakan dari mereka menyetujui ini, dengan harapan bahwa mereka bisa meningkatkan pendapatan (dengan adanya kesempatan kerja) dan dapat menikmati pengguna dan pelayanan listrik yang lebih baik. Namun, tumbuh pula kekhawatiran akan rencana tersebut, mulai dari pemindahan penduduk hingga ketakutan pada radiasi, terlebih karena Bencana Chernobyl dan limbah radioaktif yang akan mengkontaminasi makanan dan barang.[29]

Pada tahun 2007, muncul penolakan luas terhadap rencana ini dari masyarakat Jepara (termasuk masyarakat Balong) dan Kudus dengan menggelar aksi unjuk rasa di berbagai tempat.[30][26] Penolakan ini diikuti oleh para pengusaha yang tinggal di sekitar gunung dengan mengancam akan pergi dari sana jika PLTN jadi dibangun.[31] Beberapa sumber menyebutkan bahwa unjuk rasa ini disebabkan karena pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2006 yang dianggap sarat kepentingan politik dan ekonomi.[32][33]

Tanggal 2 September 2007, Nahdlatul Ulama Jepara secara khusus mengharamkan pembangunan PLTN di Semenanjung Muria, dengan alasan PLTN hanya bisa memasok kebutuhan energi nasional sebesar 2-4 persen sementara limbah radioaktif yang dibuang dapat berbahaya bagi lingkungan. Namun, mereka menegaskan bahwa keputusan ini hanya berlaku di sana.[34][35] Keputusan ini didukung oleh organisasi lingkungan seperti Greenpeace dan Walhi, dan partai politik PKB.[36][37][38]

Menyusul bencana nuklir Fukushima Daiichi, masyarakat Jepara yang berunjuk rasa sekaligus menggelar aksi solidaritas terhadap masyarakat Jepang yang terdampak dari bencana tersebut.[39] Sementara masyarakat Bangka Belitung mulai berunjuk rasa menolak PLTN yang juga direncanakan dibangun di sana.[40] Meskipun demikian, BATAN menyatakan untuk tetap melanjutkan pembangunan PLTN di kedua wilayah tersebut.[41]

PembatalanSunting

Pada tahun 2012, Gusti Muhammad Hatta, mengatakan bahwa rencana pembangunan PLTN Muria dibatalkan, dengan menunjuk kepadatan penduduk di sana sebagai masalahnya. Namun, ia tidak tahu apakah pembatalan ini bersifat permanen. Jika dibatalkan, maka pemerintah akan melanjutkan pembangunan PLTN di tempat lain, seperti di Bangka Belitung.[42] Akhirnya, rencana ini dibatalkan pada tahun 2015 secara permanen karena sering terjadi gempa di sekitar Gunung Muria, dengan menunjuk salah satunya terjadi di dekat Pulau Mandalika pada tanggal 23 Oktober 2015.[43][44]

GaleriSunting

ReferensiSunting

Catatan kakiSunting

  1. ^ Widjanarko 2016, hlm. 112.
  2. ^ Balulu 2011, hlm. 104.
  3. ^ a b Bronto & Mulyaningsih 2007, hlm. 46.
  4. ^ Sunarko 2016, hlm. 50.
  5. ^ Peta visualisasi GPS
  6. ^ Bronto & Mulyaningsih 2007, hlm. 43.
  7. ^ "Muria". Smithsonian Institution - Global Volcanism Program (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-01-24. 
  8. ^ "Muria | Volcano World | Oregon State University". volcano.oregonstate.edu. Diakses tanggal 2021-01-24. 
  9. ^ Subandriyono, Joko (2020-10-08). "Widodo Pranowo Peneliti Pusat Riset Kelautan KKP Memastikan Bahwa Pantai Benteng Portugis Jepara Tidak Akan Terkena Tsunami". pusriskel.litbang.kkp.go.id. Diakses tanggal 2021-01-24. 
  10. ^ Roesmanto, Totok (2012). "Lanskap Semarang Yang Hilang" (PDF). Riptek: Jurnal Pembangunan Kota Semarang Berbasis Sains & Teknologi. 6 (1): 11. 
  11. ^ Sunarto (2008). "Geomorphological Development Of The Muria Palaeostrait In Relation To The Morphodynamics Of The Wulan Delta, Central Java". Indonesian Journal of Geography (dalam bahasa Inggris). 40 (2): 177–185. doi:10.22146/ijg.2257. ISSN 2354-9114. 
  12. ^ Bronto & Mulyaningsih 2007, hlm. 44.
  13. ^ "Global Volcanism Program | Muria". Smithsonian Institution | Global Volcanism Program (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-01-14. 
  14. ^ "IEDA / DECADE Detail". decade.earthchem.org. Diakses tanggal 2021-01-14. 
  15. ^ Sunarko, Sunarko (2016-10-20). "Kajian Probabilistik Jatuhan Abu Vulkanik Terhadap Tapak PLTN Muria". Jurnal Pengembangan Energi Nuklir. 18 (1): 49–57. doi:10.17146/jpen.2016.18.1.2688. ISSN 2502-9479. 
  16. ^ Balulu 2011, hlm. 104-105.
  17. ^ Balulu 2011, hlm. 106.
  18. ^ Suntoko 1999, hlm. 174.
  19. ^ a b c Suntoko 1999, hlm. 178.
  20. ^ a b Cogswell et al. 2017, hlm. 20.
  21. ^ Nuclear Power Plant Development In Indonesia 2001, hlm. 963.
  22. ^ Suntoko 1999, hlm. 179.
  23. ^ "Menggugat Nuklir Gunung Muria". lipi.go.id. Diakses tanggal 2021-01-16. 
  24. ^ "Ujung Lemahabang site | Nautilus Institute for Security and Sustainability". nautilus.org (dalam bahasa Inggris). 2011-12-19. Diakses tanggal 2021-01-16. 
  25. ^ Suntoko 1999, hlm. 180.
  26. ^ a b "Warga Jepara Tolak PLTN Muria". koran.tempo.co. 2007-06-05. Diakses tanggal 2021-01-16. 
  27. ^ Cogswell et al. 2017, hlm. 9.
  28. ^ "PLTN Diantara Dampak dan Kebutuhan – Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-01-17. 
  29. ^ Suntoko 1999, hlm. 183.
  30. ^ Purwanto, Heru (2007-06-11). "Ribuan Warga Kudus Tolak Pembangunan PLTN Muria". Antara News. Diakses tanggal 2021-01-17. 
  31. ^ "Pengusaha Siap Hengkang jika PLTN Muria Jadi Dibangun". Detik.com. Diakses tanggal 2021-01-17. 
  32. ^ Nugroho, Heru (2007-07-20). "Menolak PLTN Muria" (PDF). koran.humas.ugm.ac.id. Diakses tanggal 2020-01-22. 
  33. ^ Ma`shumah, AwwinNur (2013-01-22). "Analisis Pro dan Kontra Rencana Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Semenanjung Muria Kabupatn Jepara Melalui Advocacy Coalition Framework (ACF)". Universitas Brawijaya. 
  34. ^ "NU Haramkan PLTN Muria - Nusa - koran.tempo.co". Tempo. 2007-09-02. Diakses tanggal 2021-01-17. 
  35. ^ "NU Jepara: PLTN Muria Haram!". Detik.com. Diakses tanggal 2021-01-17. 
  36. ^ "Greenpeace Dukung NU Haramkan PLTN Muria". Detik.com. Diakses tanggal 2021-01-22. 
  37. ^ "Walhi Puji NU Haramkan Pembangunan PLTN Muria". Detik.com. Diakses tanggal 2021-01-17. 
  38. ^ "6 Alasan PKB Menolak PLTN Muria". Detik.com. Diakses tanggal 2021-01-17. 
  39. ^ "Masyarakat Jepara Unjukrasa Tolak PLTN Semenanjung Muria". Republika Online. 2011-06-11. Diakses tanggal 2021-01-22. 
  40. ^ "Warga Tolak Rencana PLTN Halaman all". KOMPAS.com. 2011-03-21. Diakses tanggal 2021-01-22. 
  41. ^ Wardah, Fathiyah. "BATAN Tetap akan Bangun PLTN Muria". VOA Indonesia. Diakses tanggal 2021-01-22. 
  42. ^ Herdiana, Imam (2012-04-21). "Pembangunan PLTN Muria, batal!". economy.okezone.com. Diakses tanggal 2021-01-22. 
  43. ^ Deny, Septian (2018-05-11). "DEN: RI Tak Akan Bangun Pembangkit Nuklir hingga 2050". liputan6.com. Diakses tanggal 2021-01-22. 
  44. ^ NL, Akhmad (2015-11-12). "Ahli: PLTN tak layak dibangun di Muria". Antara News. Diakses tanggal 2021-01-22. 

Daftar pustakaSunting

Lihat pulaSunting