Sulawesi Selatan

provinsi di Indonesia
(Dialihkan dari Provinsi Sulawesi Selatan)

Sulawesi Selatan (disingkat Sulsel) (Lontara: ᨔᨘᨒᨓᨙᨔᨗ ᨔᨛᨒᨈ ) adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian selatan pulau Sulawesi. Pusat pemerintahan atau ibu kota provinsi berada di kota Makassar. Pada tahun 2020, penduduk Sulawesi Selatan berjumlah 9.073.509 jiwa, dengan kepadatan 194,22 jiwa/km². Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sulawesi selatan pada tahun 2020 yakni 71,93 (Urutan ke-12 di Indonesia), urutan kedua di Sulawesi setelah provinsi Sulawesi Utara, yakni 72,93 (Urutan ke-6 di Indonesia).[6]

Sulawesi Selatan
ᨔᨘᨒᨓᨙᨔᨗ ᨔᨛᨒᨈ

Sulawesi Selatan
Transkripsi Regional
 • Bugisᨔᨘᨒᨓᨙᨔᨗ ᨑᨗᨕᨈ
Sulawési Riattang (1, 2, 3, 4, 5)
ᨔᨘᨒᨓᨙᨔᨗ ᨆᨊᨗᨕ
Sulawési Maniang (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7)
ᨔᨘᨒᨓᨙᨔᨗ ᨒᨕᨘᨈ
Sulawési Lautang (1, 2, 3)
ᨔᨘᨒᨓᨙᨔᨗ ᨆᨊᨚᨑ
Sulawési Manorang (1)
 • Makassarᨔᨘᨒᨓᨙᨔᨗ ᨕᨗᨈᨗᨅᨚᨑᨚᨀ
Sulawési ITimboroka (1, 2, 3, 4, 5)
 • Luwuᨔᨘᨒᨓᨙᨔᨗ ᨊᨙᨀᨙ
Sulawési Nékké' (1, 2, 3, 4)
 • TorajaSulawési Pollo'na Uai (1, 2)
Makassar CBD Skyline.jpg
Kete' Kesu' Toraja.jpgPantai Bira, sunset (6969009247).jpg
Bengkel Pinisi.jpgLemo burial site.jpg
TransStudioShow.JPGToraja Dancers.JPG
Floating houses on Lake Tempe.jpgObyek wisata Rammang-Rammang.jpg
Searah jarum jam, dari kiri atas: Cakrawala Kota Makassar di malam hari, Pantai Tanjung Bira, Situs Pemakaman Lemo di Tana Toraja, Upacara tarian tradisional Toraja, sawah Rammang-Rammang, Rumah terapung di Danau Tempe, Trans Studio Makassar taman hiburan indoor terbesar ketiga di dunia, Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO, kapal layar Pinisi dan Tongkonan rumah-rumah tradisional di Tana Toraja.
Bendera Sulawesi Selatan ᨔᨘᨒᨓᨙᨔᨗ ᨔᨛᨒᨈ
Bendera
Lambang Sulawesi Selatan ᨔᨘᨒᨓᨙᨔᨗ ᨔᨛᨒᨈ
Motto: 
Toddopuli / ᨈᨚᨉᨚᨄᨘᨒᨗ
(Keep the faith)
Peta
Peta
Koordinat: 4°20′S 120°15′E / 4.333°S 120.250°E / -4.333; 120.250Koordinat: 4°20′S 120°15′E / 4.333°S 120.250°E / -4.333; 120.250
Negara Indonesia
Hari Jadi19 Oktober 1669
Didirikan Sebagai Provinsi1 Juni 1945
Ibu kotaCoat of Arms of City Makassar.png Kota Makassar
Pemerintahan
 • LembagaPemerintah daerah Sulawesi Selatan
 • GubernurAndi Sudirman Sulaiman (Plt.)
 • Wakil Gubernur-
Luas
 • Total46.717,48 km2 (18,037,72 sq mi)
Peringkat luas wilayah16
Titik tertinggi
3.478 m (11,411 ft)
Populasi
 • Total9.073.509
 • Kepadatan194,22/km2 (503,0/sq mi)
Demographics
 • Etnis[2]
Daftar
 • Agama[3]Islam 85,85%
Kristen 11,94%
- Protestan 9,14%
- Katolik 2,80%
Hindu 1,37%
Buddha 0,51%
Konghuchu 0,06%
Lainnya 0,27%
 • BahasaIndonesia (resmi)
Bugis, Makassar, Toraja, Luwu
Zona waktuUTC+8 (Waktu Universal Terkoordinasi)
Kode pos
90xxx, 91xxx, 92xxx
ISO 3166 codeID-SN
Kode kendaraanDD, DP, DW
IPMKenaikan 72,24 (2021)
tinggi[4]
IPM Ranking12 (2021)
DAURp 2.600.586.502.000,- (2020)[5]
Situs webGovernment official site
Peta Administrasi Provinsi Sulawesi Selatan

SejarahSunting

Sekitar 30.000 tahun silam pulau ini telah dihuni oleh manusia. Penemuan tertua ditemukan di gua-gua dekat bukit kapur dekat Maros, sekitar 30 km sebelah timur laut dan Makassar sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Kemungkinan lapisan budaya yang tua berupa alat batu Pebble dan flake telah dikumpulkan dari teras sungai di lembah Walanae, di antara Soppeng dan Sengkang, termasuk tulang-tulang babi raksasa dan gajah-gajah yang telah punah.

Selama masa kemasan perdagangan rempah-rempah, pada abad ke-15 sampai ke-19, Sulawesi Selatan berperan sebagai pintu Gerbang ke kepulauan Maluku, tanah penghasil rempah. Kerajaan Gowa dan Bone yang perkasa memainkan peranan penting didalam sejarah Kawasan Timur Indonesia di masa Ialu.

Pada sekitar abad ke-14 di Sulawesi Selatan terdapat sejumlah kerajaan kecil, dua kerajaan yang menonjol ketika itu adalah Kerajaan Gowa yang berada di sekitar Makassar dan Kerajaan Bugis yang berada di Bone. Pada tahun 1530, Kerajaan Gowa mulai mengembangkan diri, dan pada pertengahan abad ke-16 Gowa menjadi pusat perdagangan terpenting di wilayah timur Indonesia. Pada tahun 1605, Raja Gowa memeluk Agama Islam serta menjadikan Gowa sebagai Kerajaan Islam, dan antara tahun 1608 dan 1611, Kerajaan Gowa menyerang dan menaklukkan Kerajaan Bone sehingga Islam dapat tersebar ke seluruh wilayah Makassar dan Bugis.

Perusahaan dagang Belanda atau yang lebih dikenal dengan nama VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) yang datang ke wilayah ini pada abad ke-15 melihat Kerajaan Gowa sebagai hambatan terhadap keinginan VOC untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di daerah ini. VOC kemudian bersekutu dengan seorang pangeran Bugis bernama Arung Palakka yang hidup dalam pengasingan setelah jatuhnya Bugis di bawah kekuasaan Gowa.

Belanda kemudian mensponsori Palakka kembali ke Bone, sekaligus menghidupkan perlawanan masyarakat Bone dan Sopeng untuk melawan kekuasaan Gowa. Setelah berperang selama setahun, Kerajaan Gowa berhasil dikalahkan. Dan Raja Gowa, Sultan Hasanuddin dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Bungaya yang sangat mengurangi kekuasaan Gowa. Selanjutnya Bone di bawah Palakka menjadi penguasa di Sulawesi Selatan.

Persaingan antara Kerajaan Bone dengan pemimpin Bugis lainnya mewarnai sejarah Sulawesi Selatan. Ratu Bone sempat muncul memimpin perlawanan menentang Belanda yang saat itu sibuk menghadapi Perang Napoleon di daratan Eropa. Namun setelah usainya Perang Napoleon, Belanda kembali ke Sulawesi Selatan dan membasmi pemberontakan Ratu Bone. Namun perlawanan masyarakat Makassar dan Bugis terus berlanjut menentang kekuasaan kolonial hingga tahun 1905-1906. Pada tahun 1905, Belanda juga berhasil menaklukkan Tana Toraja, perlawanan di daerah ini terus berlanjut hingga awal tahun 1930-an.

Sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI, Sulawesi Selatan, terdiri atas sejumlah wilayah kerajaan yang berdiri sendiri dan mendiami empat etnis yaitu: Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja.

Ada tiga kerajaan besar yang berpengaruh luas yaitu Luwu, Gowa, dan Bone, yang pada abad ke XVI dan XVII mencapai kejayaannya dan telah melakukan hubungan dagang serta persahabatan dengan bangsa Eropa, India, China, Melayu, dan Arab.

Setelah kemerdekaan, dikeluarkan UU Nomor 21 Tahun 1950 di mana Sulawesi Selatan menjadi provinsi Administratif Sulawesi dan selanjutnya pada tahun 1960 menjadi daerah otonomi Sulawesi Selatan dan Tenggara berdasarkan UU Nomor 47 Tahun 1960. Pemisahan Sulawesi Selatan dari daerah otonomi Sulawesi Selatan dan Tenggara ditetapkan dengan UU Nomor 13 Tahun 1964, sehingga menjadi daerah otonomi Sulawesi Selatan.

GeografiSunting

Provinsi Sulawesi Selatan terletak di 0°12' - 8° Lintang Selatan dan 116°48' - 122°36' Bujur Timur. Luas wilayahnya 46.717,48 km². Provinsi ini berbatasan dengan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat di utara, Teluk Bone dan Sulawesi Tenggara di timur, Selat Makassar di barat dan Laut Flores di selatan.

PemerintahanSunting

5 tahun setelah kemerdekaan, pemerintah mengeluarkan UU Nomor 21 Tahun 1950, yang menjadi dasar hukum berdirinya Provinsi Administratif Sulawesi. 10 tahun kemudian, pemerintah mengeluarkan UU Nomor 47 Tahun 1960 yang mengesahkan terbentuknya Sulawesi Selatan dan Tenggara. 4 tahun setelah itu, melalui UU Nomor 13 Tahun 1964 pemerintah memisahkan Sulawesi Tenggara dari Sulawesi Selatan. Terakhir, pemerintah memecah Sulawesi Selatan menjadi dua, berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2004.

Kabupaten Majene, Mamasa, Mamuju, Mamuju Tengah, Pasangkayu dan Polewali Mandar yang tadinya merupakan kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan resmi menjadi kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat seiring dengan berdirinya provinsi tersebut pada tanggal 5 Oktober 2004 berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2004.

Daftar gubernurSunting

 
Kantor gubernur di Makassar (1865-1900)
No. Foto Gubernur Mulai jabatan Akhir jabatan Wakil gubernur
1   Andi Achmad Rifai 13 Desember 1960[7] 17 November 1966[7] Tidak Ada
2   Achmad Lamo 17 November 1966[7] 4 Oktober 1977[8]
  Daud Nompo
(Plt.)
4 Oktober 1977[8][9] 19 Januari 1978[10][9]
3   Andi Oddang 19 Januari 1978[10] 19 Januari 1983[11]
4   Ahmad Amiruddin 19 Januari 1983[11] 19 Januari 1988
19 Januari 1988 19 Januari 1993
5   Zainal Basri Palaguna 19 Januari 1993 19 Januari 1998
19 Januari 1998 19 Januari 2003
6   Amin Syam 19 Januari 2003 19 Januari 2008 Syahrul Yasin Limpo
  Tanribali Lamo
(Penjabat)
19 Januari 2008 8 April 2008
7   Syahrul Yasin Limpo 8 April 2008 8 April 2013 Agus Arifin Nu'mang
8 April 2013 8 April 2018
  Soni Sumarsono
(Penjabat)
9 April 2018 5 September 2018
8   Nurdin Abdullah 5 September 2018 28 Februari 2021 Sudirman Sulaiman
  Andi Sudirman Sulaiman
(Plt.)
28 Februari 2021 Petahana
Representatif
  Non-partisan / Penugasan Pemerintah
  Militer

PerwakilanSunting

DPRD Sulawesi Selatan beranggotakan 85 orang yang dipilih melalui pemilihan umum setiap lima tahun sekali. Pimpinan DPRD Sulawesi Selatan terdiri dari 1 Ketua dan 4 Wakil Ketua yang berasal dari partai politik pemilik jumlah kursi dan suara terbanyak. Anggota DPRD Sulawesi Selatan yang sedang menjabat saat ini adalah hasil Pemilu 2019 yang dilantik pada 24 September 2019 oleh Ketua Pengadilan Tinggi Makassar di Gedung DPRD Sulawesi Selatan.[12] Komposisi anggota DPRD Sulawesi Selatan periode 2019-2024 terdiri dari 11 partai politik dimana Partai Golkar adalah partai politik pemilik kursi terbanyak yaitu 13 kursi disusul oleh Partai NasDem yang juga meraih 12 kursi. Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Sulawesi Selatan dalam dua periode terakhir.[13][14][15]

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2014-2019 2019-2024
  PKB 3   8
  Gerindra 11   11
  PDI-P 5   8
  Golkar 18   13
  NasDem 7   12
  PKS 6   8
  PPP 7   6
  PAN 9   7
  Hanura 6   1
  Demokrat 11   10
  PBB 1   0
  PKPI 1   0
Perindo (baru) 1
Jumlah Anggota 85   85
Jumlah Partai 12   11


Kabupaten dan KotaSunting

No. Kabupaten/kota Pusat pemerintahan Bupati/wali kota Luas wilayah (km2)[16] Jumlah penduduk (2017)[16] Kepadatan

(jiwa/km²)

Kecamatan Kelurahan/desa Lambang Peta lokasi
1
Kabupaten Bantaeng Bantaeng Ilham Syah Azikin 395,83 176.699 446,4 8 21/46
2
Kabupaten Barru Barru Suardi Saleh 1.174,71 165.983 141,3 7 15/40
3
Kabupaten Bone Watampone Andi Fahsar M. Padjalangi 4.559 717.268 157 27 44/328
4
Kabupaten Bulukumba Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf 1.154,67 394.560 341,71 10 27/109
5
Kabupaten Enrekang Enrekang Muslimin Bando 1.786,01 190.579 106,71 12 17/112
6
Kabupaten Gowa Sungguminasa Adnan Purichta Ichsan 1.883,32 652.329 350 18 46/121
7
Kabupaten Jeneponto Bontosunggu Iksan Iskandar 749,79 342.222 460 11 31/82
8
Kabupaten Kepulauan Selayar Benteng Basli Ali 10.503,69 122.055 12 11 7/81
9
Kabupaten Luwu Belopa Basmin Mattayang 3.000,25 332.482 110,82 21 20/207
10
Kabupaten Luwu Timur Malili Budiman Hakim (Plt.) 6.944,88 243.069 35 11 3/124
11
Kabupaten Luwu Utara Masamba Indah Putri Indriani 7.502,58 287.472 38,32 11 7/166
12
Kabupaten Maros Turikale Chaidir Syam 1.619,12 322.212 199 14 23/80
13
Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan Pangkajene Muhammad Yusran Lalogau 1.236,27 305.758 250 13 38/65
14
Kabupaten Pinrang Pinrang Andi Irwan Hamid 1.961,77 351.161 180 12 39/69
15
Kabupaten Sidenreng Rappang Pangkajene Sidenreng Dollah Mando 2.506,19 278.004 110 11 38/68
16
Kabupaten Sinjai Balangnipa Andi Seto Gadhista Asapa 819,96 228.936 280 9 13/67
17
Kabupaten Soppeng Watansoppeng Andi Kaswadi Razak 1.359,44 223.757 160 8 21/49
18
Kabupaten Takalar Pattallassang Syamsari Kitta 566,51 269.171 480 9 24/76
19
Kabupaten Tana Toraja Makale Theofilus Allorerung 2.054,30 221.795 110 19 47/112
20
Kabupaten Toraja Utara Rantepao Yohanis Bassang 1.151,47 215.400 190 21 40/111
21
Kabupaten Wajo Sengkang Amran Mahmud 2.056,20 384.694 190 14 48/142
22
Kota Makassar - Moh. Ramdhan Pomanto 175,77 1.334.090 7.600 15 153/-
23
Kota Palopo - Judas Amir 247,52 148.033 600 9 48/-
24
Kota Parepare - Taufan Pawe 99,33 132.048 1.329 4 22/-

Pada tahun 2008, Kabupaten Toraja Utara terbentuk, menyusul terbitnya Amanat Presiden Yudhoyono, bernomor R.68/Pres/12/2007 pada tanggal 10 Desember 2007, mengenai pemekaran 12 kabupaten/kota.

DemografiSunting

Jumlah pendudukSunting

Sampai dengan Mei 2010, jumlah penduduk di Sulawesi Selatan terdaftar sebanyak 8.032.551 jiwa dengan pembagian 3.921.543 orang laki-laki dan 4.111.008 orang perempuan. Pada tahun 2013, penduduk di Sulawesi Selatan sudah mencapai 8.342.047 jiwa.[17] Sementara pada tahun 2021, penduduk provinsi Sulawesi Selatan sebanyak 9.192.621 jiwa.

Suku bangsaSunting

Provinsi Sulawesi Selatan memiliki beragam suku bangsa. Tiga suku bangsa yang dominan di Sulawesi Selatan adalah suku Bugis, Makassar dan Toraja. Suku asal Sulawesi lainnya termasuk suku Mandar, Duri, Pattinjo, Maiwa, Endekan, Pattae, Kajang atau Konjo[18]

Berikut adalah jumlah penduduk di Sulawesi Selatan menurut Suku, berdasarkan data Sensus Penduduk Indonesia 2010, dari 8.006.578 jiwa penduduk:[18]

Nomor Suku Bangsa Jumlah 2010[18] Konsentrasi
1 Bugis 3.605.693 45,03%
2 Makassar 2.380.208 29,73%
3 Asal Sulawesi (termasuk Toraja) 1.578.622 19,72%
4 Jawa 229.074 2,86%
5 Tionghoa 43.846 0,55%
6 Asal NTT 29.948 0,37%
7 Asal Kalimantan lainnya 29.601 0,37%
8 Bali 27.330 0,34%
9 Asal Maluku 15.884 0,20%
10 Papua 13.840 0,17%
11 Minahasa 9.295 0,12%
12 Suku lainnya 43.237 0,54%
Total 8.006.578 100,00%


BahasaSunting

Bahasa resmi instansi pemerintahan di Sulawesi Selatan adalah bahasa Indonesia. Menurut Badan Bahasa pada 2019, terdapat 13 bahasa daerah di Sulawesi Selatan.[19][20] Ketiga belas bahasa tersebut adalah: (1) Bajo, (2) Bonerate, (3) Bugis, (4) Bugis De, (5) Konjo, (6) Laiyolo, (7) Lemolang, (8) Makassar, (9) Massenrengpulu, (10) Rampi, (11) Seko, (12) Toraja, dan (13) Wotu.[19]

Bahasa yang umum digunakan adalah:

  • Bahasa Bugis adalah bahasa yang menduduki peringkat pertama dengan penutur terbanyak di Sulawesi Selatan. Bahasa ini kebanyakan dituturkan di wilayah tengah Semenanjung Selatan Sulawesi, terutama Kabupaten Bone, Soppeng, Wajo, Sinjai Sidenreng Rappang, Pinrang, Barru, Kota Parepare dan sebagian wilayah di Tana Luwu, Maros, Pangkep, Barru, dan Bulukumba. Terdapat 9 dialek Bugis yang dituturkan di Sulawesi Selatan seperti dialek Palakka (Bone), Kessi (Soppeng), Sawitto (Pinrang), Sidrap, Wajo, Barru, Enna (Sinjai, Bulukumba), Camba, dan Luwu.[21]
  • Rumpun Bahasa Makassar
    • Bahasa Makassar adalah salah satu rumpun bahasa yang dipertuturkan di daerah pesisir barat daya Sulawesi Selatan, Bahasa Makassar merupakan bahasa kedua yang paling banyak dituturkan di Sulawesi Selatan. Terdapat 1,8 juta penutur bahasa Makassar di Sulawesi Selatan. Bahasa ini terdiri dari 3 dialek yaitu Lakiung, Turatea dan Bantaeng.
    • Bahasa-Bahasa Konjo terbagi menjadi dua yaitu Bahasa Konjo Pesisir dan Bahasa Konjo Pegunungan, Konjo Pesisir tinggal di kawasan pesisir Bulukumba dan Sekitarnya, di sudut tenggara bagian selatan pulau Sulawesi sedangkan Konjo pegunungan tinggal di kawasan tenggara gunung Bawakaraeng.
    • Bahasa Selayar adalah bahasa yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Sulawesi Selatan di Kab. Kep. Selayar.
  • Kelompok Utara
    • Bahasa Toraja adalah salah satu rumpun bahasa yang dipertuturkan di daerah Kabupaten Tana Toraja, dan Toraja Utara.
    • Rumpun Bahasa Massenrempulu
      • Bahasa Duri adalah bahasa yang paling banyak dituturkan di Kabupaten Enrekang. Bahasa ini dituturkan di beberapa kecamatan seperti Alla, Buntu Batu, Baraka, Curio, Baroko, Masalle, Malua dan sebagian Anggeraja.
      • Bahasa Enrekang adalah bahasa yang dituturkan di Kabupaten Enrekang khususnya di Kecamatan Enrekang, Cendana dan sebagian Anggeraja. Sebagian linguistik memasukkan bahasa Pattinjo ke dalam salah satu dialek bahasa Enrekang.
      • Bahasa Maiwa adalah salah satu bahasa yang dituturkan di Kabupaten Enrekang khususnya di Kecamatan Maiwa dan Bungin
    • Bahasa Tae' adalah salah satu bahasa yang dipertuturkan di daerah kaki gunung hingga pesisir di sepanjang Tana Luwu. Kabupaten Luwu dan Luwu Utara merupakan wilayah dengan mayoritas penutur bahasa ini.

AgamaSunting

Mayoritas beragama Islam, kecuali di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara dan sebagian wilayah di Kabupaten Luwu Utara, Kabupaten Luwu Timur, dan Kabupaten Luwu beragama Kristen Protestan.

Budaya dan adat istiadatSunting

Salah satu kebiasaan yang cukup dikenal di Sulawesi Selatan adalah Mappalili. Mappalili (Bugis) atau Appalili (Makassar) berasal dari kata palili yang memiliki makna untuk menjaga tanaman padi dari sesuatu yang akan mengganggu atau menghancurkannya. Mappalili atau Appalili adalah ritual turun-temurun yang dipegang oleh masyarakat Sulawesi Selatan, masyarakat dari Kabupaten Pangkep terutama Mappalili adalah bagian dari budaya yang sudah diselenggarakan sejak beberapa tahun lalu. Mappalili adalah tanda untuk mulai menanam padi. Tujuannya adalah untuk daerah kosong yang akan ditanam, disalipuri (Bugis) atau dilebbu (Makassar) atau disimpan dari gangguan yang biasanya mengurangi produksi.


Senjata tradisionalSunting

Makanan tradisionalSunting

Perkumpulan/OrganisasiSunting

  • Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS)

MediaSunting

  • Koran Harian Tribun Timur
  • Kompas TV Makassar
  • TVRI Sulsel
  • RRI Makassar
  • Koran online Celebes Online
  • Trans 7 Sulsel
  • Koran Fajar

ReferensiSunting

[https://kompaswisata.com/makanan-khas-sulawesi-selatan/ Makanan khas Sulawesi Selatan]

  1. ^ a b c "Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Angka 2021". www.sulsel.bps.go.id. hlm. 61. Diakses tanggal 27 Februari 2021. 
  2. ^ Ananta et al. 2015, hlm. 119–122.
  3. ^ "Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten Kota dan Agama yang Dianut di Provinsi Sulawesi Selatan 2015". www.sulsel.bps.go.id. Diakses tanggal 18 Februari 2020. 
  4. ^ "Indeks Pembangunan Manusia Menurut Provinsi 2019-2021". www.bps.go.id. Diakses tanggal 26 November 2021. 
  5. ^ "Rincian Alokasi Dana Alokasi Umum Provinsi/Kabupaten Kota Dalam APBN T.A 2020" (PDF). www.djpk.kemenkeu.go.id. (2020). Diakses tanggal 16 Februari 2021. 
  6. ^ "Metode Baru Peringkat Indeks Pembangunan Manusia". www.bps.go.id. Diakses tanggal 27 Februari 2021. 
  7. ^ a b c Purwanto, Antonius (2020-09-09). "Provinsi Sulawesi Selatan". Kompaspedia. Diakses tanggal 2021-03-13. 
  8. ^ a b 30 tahun Indonesia merdeka: 1975-1985. Sekretariat Negara, Republik Indonesia. 1995. hlm. 998. ISBN 978-979-8300-06-6. 
  9. ^ a b Tim Penyusun (1992). Buku Kenangan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Masa Keanggotaan 1987-1992 (PDF). Jakarta: Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. hlm. 838. 
  10. ^ a b FM/IIE (23 June 1978). "Menteri Polkam Panggabean: Wewenang gubernur bukan tanpa batas *Pelantikan gubernur Sulsel". Kompas. hlm. 12. Diakses tanggal 10 April 2021. Kol. Andi Odang Kamis kemarin dilantik menjadi Gubernur/KDH Sulawesi Selatan, menggantikan H. Ahmad Lamo yang telah menyelesaikan dua kali masa jabatannya dan tugas sebagai Pj. Gubernur. Pelantikan dilakukan oleh Menko Polkam M. Panggabean dalam suatu sidang paripurna istimewa DPRD 
  11. ^ a b FM/BAM (23 June 1983). "Tingkatkan efisiensi, hilangkan tumpang tindih". Kompas. hlm. 1. Diakses tanggal 10 April 2021. Menteri Dalam Negeri, Soepardjo Rustam, atas nama Presiden RI, Rabu melantik Prof Dr Achmad Amiruddin Pabittei sebagai Gubernur/Kepala Daerah Sulawesi Selatan periode 1983-1988. Amiruddin menggantikan H. Andi Oddang yang telah berakhir masa jabatannya... 
  12. ^ "Gubernur dan Wagub Kompak Hadiri Pelantikan 83 Anggota DPRD Sulsel". fajar.co.id. 24-09-2019. Diakses tanggal 03-11-2019. 
  13. ^ "KPU Tetapkan 85 Anggota DPRD Sulsel Terpilih, Ini Daftarnya". sulsel.idntimes.com. 13-08-2019. Diakses tanggal 03-11-2019. 
  14. ^ "KPU Tetapkan Perolehan Hasil dan Perolehan Kursi DPRD Sulsel". makassar.terkini.id. 13-08-2019. Diakses tanggal 03-11-2019. 
  15. ^ "Lima Parpol di Sulsel Gagal Raih Kursi di DPRD". politik.djournalist.com. 13-08-2019. Diakses tanggal 03-11-2019. 
  16. ^ a b "Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan (Permendagri No.137-2017) - Kementerian Dalam Negeri - Republik Indonesia". www.kemendagri.go.id (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-04-29. Diakses tanggal 2018-07-09. 
  17. ^ "Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan". sulsel.bps.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-10-10. Diakses tanggal 2016-10-08. 
  18. ^ a b c "Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia" (pdf). Badan Pusat Statistik. 23 Mei 2012. hlm. 36–41. Diakses tanggal 9 September 2021. 
  19. ^ a b "Bahasa di Provinsi Sulawesi Selatan". Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia. Diakses tanggal 23 Mei 2020. 
  20. ^ Statistik Kebahasaan 2019. Jakarta: Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan. 2019. hlm. 2. ISBN 9786028449182. 
  21. ^ "Ethnologue". 

Pranala luarSunting