Kabupaten Enrekang

kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan

Kabupaten Enrekang adalah salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Enrekang. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.786,01 km² dan berpenduduk sebanyak ± 190.579 jiwa.

Kabupaten Enrekang
Sulawesi 1rightarrow blue.svg Sulawesi Selatan
Lambang Kabupaten Enrekang.png
Lambang
Motto: 
Tana Rigalla' Tana Riabussungi
Locator Enrekang Regency.svg
Kabupaten Enrekang berlokasi di Sulawesi
Kabupaten Enrekang
Kabupaten Enrekang
Kabupaten Enrekang berlokasi di Indonesia
Kabupaten Enrekang
Kabupaten Enrekang
Koordinat: 3°36′S 119°48′E / 3.6°S 119.8°E / -3.6; 119.8
Negara Indonesia
ProvinsiSulawesi Selatan
Tanggal peresmian19 Februari 1960
Dasar hukumUU Nomor 29 tahun 1959
Ibu kotaKota Enrekang
Pemerintahan
 • BupatiDrs. H. Muslimin Bando M.Pd
Luas
 • Total± 1,786,01 Km² km2 (Formatting error: invalid input when rounding sq mi)
Populasi
 • Total190.579 jiwa
Zona waktuWITA (UTC+08:00)
Kode telepon0420
Kode Kemendagri73.16 Edit the value on Wikidata
Jumlah kecamatan12
Jumlah kelurahan130 (17 kelurahan dan 113 desa)
DAURp. 436.542.180.000.-(2013)[1]
APBD-
Situs webhttp://www.enrekangkab.go.id/
Jembatan gantung di Enrekang pada masa Hindia Belanda

SejarahSunting

Sejak abad XIV, daerah ini disebut Massenrempulu yang artinya meminggir gunung atau menyusur gunung, sedangkan sebutan Enrekang dari Endeg yang artinya Naik Dari atau Panjat dan dari sinilah asal mulanya sebutan Endekan. Masih ada arti versi lain yang dalam pengertian umum sampai saat ini bahkan dalam Adminsitrasi Pemerintahan telah dikenal dengan nama “ENREKANG” versi Bugis sehingga jika dikatakan bahwa Daerah Kabupaten Enrekang adalah daerah pegunungan sudah mendekati kepastian, sebab jelas bahwa Kabupaten Enrekang terdiri dari gunung-gunung dan bukit-bukit sambung-menyambung mengambil ± 85% dari seluruh luas wilayah sekitar 1.786.01 Km².

Pada mulanya Kabupaten Enrekang merupakan suatu kerajaan besar bernama Malepong Bulan. Kerajaan ini kemudian bersifat Manurung (terdiri dari kerajaan-kerajaan yang lebih kecil) dengan sebuah federasi yang menggabungkan 7 kawasan/kerajaan yang lebih dikenal dengan federasi "Pitue Massenrempulu", yaitu:

  1. Kerajaan Endekan yang dipimpin oleh Arung/Puang Endekan
  2. Kerajaan Kassa yang dipimpin oleh Arung Kassa'
  3. Kerajaan Batulappa' yang dipimpin oleh Arung Batulappa'
  4. Kerajaan Tallu Batu Papan (Duri) yang merupakan gabungan dari Buntu Batu, Malua, Alla'. Buntu Batu dipimpin oleh Arung/Puang Buntu Batu, Malua oleh Arung/Puang Malua, Alla' oleh Arung Alla'
  5. Kerajaan Maiwa yang dipimpin oleh Arung Maiwa
  6. Kerajaan Letta' yang dipimpin oleh Arung Letta'
  7. Kerajaan Baringin (Baringeng) yang dipimpin oleh Arung Baringin

Pitu (7) Massenrempulu' ini terjadi kira-kira dalam abad ke XIV M. Tetapi sekitar pada abad ke XVII M, Pitu (7) Massenrempulu' berubah nama menjadi Lima Massenrempulu' karena Kerajaan Baringin dan Kerajaan Letta' tidak bergabung lagi ke dalam federasi Massenrempulu'.

Akibat dari politik Devide et Impera, Pemerintah Belanda lalu memecah daerah ini dengan adanya Surat Keputusan dari Pemerintah Kerajaan Belanda (Korte Verklaring), dimana Kerajaan Kassa dan kerajaan Batu Lappa' dimasukkan ke Sawitto. Ini terjadi sekitar 1905 sehingga untuk tetap pada keadaan Lima Massenrempulu' tersebut, maka kerajaan-kerajaan yang ada didalamnya yang dipecah.

Beberapa bentuk pemerintahan di wilayah Massenrempulu' pada masa itu, yakni: 1. Kerajaan-kerajaan di Massenrempulu' pada Zaman penjajahan Belanda secara administrasi Belanda berubah menjadi Landshcap. Tiap Landschap dipimpin oleh seorang Arung (Zelftbesteur) dan dibantu oleh Sulewatang dan Pabbicara /Arung Lili, tetapi kebijaksanaan tetap ditangan Belanda sebagai Kontroleur. Federasi Lima Massenrempulu' kemudian menjadi: Buntu Batu, Malua, Alla'(Tallu Batu Papan/Duri), Enrekang (Endekan) dan Maiwa. Pada tahun 1912 sampai dengan 1941 berubah lagi menjadi Onder Afdeling Enrekang yang dikepalai oleh seorang Kontroleur (Tuan Petoro). 2. Pada zaman pendudukan Jepang (1941–1945), Onder Afdeling Enrekang berubah nama menjadi Kanrikan. Pemerintahan dikepalai oleh seorang Bunkem Kanrikan. 3. Dalam zaman NICA (NIT, 1946–27 Desember 1949), kawasan Massenrempulu' kembali menjadi Onder Afdeling Enrekang. 4. Kemudian sejak tanggal 27 Desember 1949 sampai 1960, Kawasan Massenrempulu' berubah menjadi Kewedanaan Enrekang dengan pucuk pimpinan pemerintahan disebut Kepala Pemerintahan Negeri Enrekang (KPN Enrekang) yang meliputi 5 (lima) SWAPRAJA, yakni:

  1. SWAPRAJA ENREKANG
  2. SWAPRAJA ALLA
  3. SWAPRAJA BUNTU BATU
  4. SWAPRAJA MALUA
  5. SWAPRAJA MAIWA

Yang menjadi catatan atau lembaran sejarah yang tak dapat dilupakan bahwa dalam perjuangan atau pembentukan Kewadanaan Enrekang (5 SWAPRAJA) menjadi DASWATI II / DAERAH SWANTARA TINGKAT II ENREKANG atau KABUPATEN MASSENREMPULU'. (Perlu ingat bahwa yang disetujui kelak dengan nama Kabupaten Dati II Enrekang mungkin karena latar belakang historisnya).[butuh rujukan]

Adapun pernyataan resolusi tesebut antara lain:

  1. Pernyataan Partai/Ormas Massenrempulu' di Enrekang pada tanggal 27 Agustus 1956.
  2. Resolusi Panitia Penuntut Kabupaten Massenrempulu di Makassar pada tanggal 18 Nopember 1956 yang diketuai oleh almarhum Drs. H.M. RISA
  3. Resolusi HIKMA di Parepare pada tanggal 29 Nopember 1956
  4. Resolusi Raja-raja (ARUM PARPOL/ORMAS MASSENREMPULU') di Kalosi pada tanggal 14 Desember 1956

GeografiSunting

Kabupaten Enrekang dengan Ibukota Enrekang terletak ± 235 Km sebelah utara Makassar. Secara geografi Kabupaten Enrekang terletak pada koordinat antara 3°14'36" sampai 3°50'00" Lintang Selatan dan 119°40'53" sampai 120°06'33" Bujur Timur, dengan luas wilayah sebesar 1.786,01 Km² atau sebesar 2,83 persen dari luas Provinsi Sulawesi Selatan.[2]

Batas WilayahSunting

Batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut:

Utara Kabupaten Tana Toraja
Timur Kabupaten Luwu
Selatan Kabupaten Sidenreng Rappang
Barat Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Pinrang

TopografiSunting

Topografi Wilayah Kabupaten Enrekang ini pada umumnya mempunyai wilayah topografi yang bervariasi berupa perbukitan,pegunungan, lembah dan sungai dengan ketinggian 47–3.293 meter dari permukaan laut serta tidak mempunyai wilayah pantai. Secara umum keadaan topografi wilayah Enrekang didominasi oleh bukit-bukit/gunung-gunung yaitu sekitar 84,96% dari luas wilayah Kabupaten Enrekang sedangkan yang datar hanya 15,04%. Kabupaten Enrekang memiliki topografi wilayah bergunung dan berbukit serta memiliki beberapa puncak gunung seperti Gunung Bambapuang, Gunung Latimojong, Gunung Sinaji, dan lain-lain.[2]

IklimSunting

Wilayah Kabupaten Enrekang beriklim tropis dengan suhu udara berkisar antara 21°–32°C. Tingkat kelembapan nisbi di wilayah ini berkisar antara 77%–83%. Curah hujan di wilayah Kabupaten Enrekang cenderung tinggi sepanjang tahun dan curah hujan tahunan di wilayah ini berkisar antara 2.300–2.900 mm per tahun dengan jumlah hari hujan berkisar antara 160 hingga 220 hari hujan per tahun.

Data iklim Enrekang, Sulawesi Selatan, Indonesia
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rata-rata tertinggi °C (°F) 29.9
(85.8)
30
(86)
30.4
(86.7)
31.7
(89.1)
30.8
(87.4)
30.2
(86.4)
29
(84)
30.9
(87.6)
31.3
(88.3)
32.9
(91.2)
31.2
(88.2)
30.3
(86.5)
30.72
(87.27)
Rata-rata harian °C (°F) 26.4
(79.5)
27.5
(81.5)
27.7
(81.9)
26.8
(80.2)
27
(81)
26.3
(79.3)
25.7
(78.3)
26.2
(79.2)
27.5
(81.5)
28.2
(82.8)
27.1
(80.8)
26.6
(79.9)
26.92
(80.49)
Rata-rata terendah °C (°F) 22.9
(73.2)
23
(73)
23
(73)
23.1
(73.6)
23.1
(73.6)
22.4
(72.3)
21.4
(70.5)
21.5
(70.7)
22.7
(72.9)
23.5
(74.3)
23
(73)
23
(73)
22.72
(72.76)
Presipitasi mm (inci) 316
(12.44)
171
(6.73)
184
(7.24)
295
(11.61)
235
(9.25)
175
(6.89)
140
(5.51)
138
(5.43)
157
(6.18)
168
(6.61)
195
(7.68)
236
(9.29)
2.410
(94,86)
Rata-rata hari hujan 23 17 17 22 20 16 12 12 14 15 18 20 206
% kelembapan 83 82 82 83 83 82 79 77 78 81 82 83 81.3
Rata-rata sinar matahari bulanan 142 187 193 154 164 185 223 225 216 217 199 148 2.253
Sumber #1: Climate-Data.org[3]
Sumber #2: Weatherbase[4]

DemografiSunting

BahasaSunting

Bahasa resmi instansi pemerintahan di Kabupaten Enrekang adalah bahasa Indonesia. Menurut Statistik Kebahasaan 2019 oleh Badan Bahasa, terdapat dua bahasa daerah di Kabupaten Enrekang[5], yaitu bahasa Bugis (khususnya dialek Maiwa dan dialek Maroangin) dan bahasa Duri (Massenrengpulu).[6]

PemerintahanSunting

Daftar BupatiSunting

No Bupati[7] Mulai menjabat Akhir menjabat Prd. Ket. Wakil Bupati
1
  Andi Babba Mangopo
1960
1963
1
2
  Muhammad Nur
1963
1964
2
3
  Muhammad Cahtif Lasiny
1964
1965
3
4
  Bambang Soetresna
1965
1969
4
5
  Abdullah Rachman
B.A.
1969
1971
5
6
  Drs.
Mappatoeroen Parawansa
1971
1973
6
7
  Mochammad Daud
1973
1978
7
8
  H.
Abdoellah Dollar
B.A.
1978
1983
8
9
  M. Saleh Nurdin Agung
1983
1988
9
10
  Mayjend. TNI (Purn). H.
M. Amin Syam
1988
1993
10
11
  Andi Rachman
1993
1998
11
12
  Drs. H.
Andi Iqbal Mustafa
1998
2003
12
Drs.
Zaini Badawing
13
  Ir. H.
La Tinro La Tunrung
6 Oktober 2003
12 Mei 2008
13
H.
M. Lody Sindangan
S.H., M.Si
  H.
M. Lody Sindangan
S.H., M.Si.
(Pelaksana tugas)
12 Mei 2008
9 Oktober 2008
(13)
  Ir. H.
La Tinro La Tunrung
9 Oktober 2008
9 Oktober 2013
14
Drs. H.
Nur Hasan
14
  Drs. H.
Muslimin Bando
M.Pd.
9 Oktober 2013
9 Oktober 2018
15
(2013)
[8]
H. M.
Amiruddin
S.H.
Chairul Latanro
(Pelaksana harian)
9 Oktober 2018
31 Oktober 2018
(14)
  Drs. H.
Muslimin Bando
M.Pd.
31 Oktober 2018
Petahana
16
[9]
Asman
S.E


Dewan PerwakilanSunting

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kabupaten Enrekang dalam dua periode terakhir.[10][11]

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2014-2019 2019-2024
  Gerindra 3   3
  PDI Perjuangan 1   1
  Golkar 7 6
  NasDem 3 5
  PKS 3   3
  Perindo (baru) 1
  PPP 0 1
  PAN 7 3
  Hanura 2   2
  Demokrat 3   3
  PBB 1 2
Jumlah Anggota 30   30
Jumlah Partai 9 11

Berikut ini adalah daftar Pimpinan Daerah dibidang Legistalif yang pernah menjabat di Kabupaten Enrekang sampai sekarang, yaitu:

  1. Andi Baba Mangopo
  2. Abd. Rahman, Ba
  3. H. Arifin Ali
  4. Mahatmantong
  5. M. Jafar
  6. Ibrahim Taqwa
  7. H.M. Mien Kamase
  8. Jamaluddin Tanti
  9. M. Saleh Nurdin Agung
  10. H. Abd. Samad Mannan
  11. H.M. Ali Rahim
  12. H. Jk. Sawati
  13. Mayor Choiri
  14. Mayor Choiri Dan H. Achmad Anggoro
  15. Safruddin, SH Dan H. Achmad Anggoro
  16. H. Ahmad Anggoro, Safruddin, SH Dan Drs. H. Mustakim

KecamatanSunting

Berdasarkan PP No. 34 Tahun 1962 dan Undang-Undang NIT Nomor 44 Tahun 1960 Sulawesi terpecah dan sebagai pecahannya meliputi Administrasi Parepare yang lebih dikenal dengan nama Kabupaten Parepare lama, di mana kewedanaan Kabupaten Enrekang adalah merupakan salah satu daerah di antara 5 (lima) Kewedanaan lainnya. Selanjutnya dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 (Lembaran Negara Tahun 1959 Nomor 74 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi) atau daerah Swatantra Tingkat II (DASWATI II), maka Kabupaten Parepare lama terpecah menjadi 5 (lima) DASWATI II, yaitu:

  1. DASWATI II ENREKANG
  2. DASWATI II SIDENRENG RAPPANG
  3. DASWATI II BARRU
  4. DASWATI II PINRANG
  5. DASWATI II PARE PARE

Kelima gabungan dearah tersebut dari dulu dikenal dengan nama Afdeling Parepare. Dengan terbentuknya DASWATI II Enrekang berdasarkan Undang-Undang Nomor: 29 Tahun 1959 tentang Pemerintahan Daerah, maka sebagai tindak lanjutnya pada tanggal 19 Februari 1960, H. ANDI BABBA MANGOPO dilantik sebagai Bupati yang pertama dan ditetapkan sebagai hari terbentuknya DASWATI II Enrekang atau Kabupaten Enrekang. Sehubungan dengan ditetapkannya Perda Nomor: 4, 5, 6 dan 7 tahun 2002 pada tanggal 20 Agustus 2002 tentang pembentukan 4 (empat) Kecamatan Definitif dan Perda Nomor 5 dan 6 Tahun 2006 tentang pembentukan 2 kecamatan sehingga pada saat ini di Kabupaten Enrekang telah memiliki 12 (dua belas) kecamatan yang defenitif, yaitu:

  1. Kecamatan Alla
  2. Kecamatan Anggeraja
  3. Kecamatan Baraka
  4. Kecamatan Baroko
  5. Kecamatan Bungin
  6. Kecamatan Buntu Batu
  7. Kecamatan Cendana
  8. Kecamatan Curio
  9. Kecamatan Enrekang
  10. Kecamatan Maiwa
  11. Kecamatan Malua
  12. Kecamatan Masalle

Selanjutnya dari 12 (dua belas) kecamatan defenitif terdapat 112 (seratus dua belas) desa/kelurahan, yaitu 17 kelurahan dan 95 desa. Adapun jumlah penduduk Kabupaten Enrekang pada tahun 2008 berjumlah sekitar 186.810 jiwa, terdiri dari laki-laki sebanyak 93.939 jiwa dan perempuan sebanyak 92.871 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 43.062.[butuh rujukan]

Daftar Kepala Pemerintahan NegeriSunting

Berikut ini adalah mantan Kepala Pemerintahan Negeri Enrekang (KPN), yaitu:

  • Abdul Hakim
  • Abdul Rahman, BA
  • Abdul Madjid Pattaropura
  • Nuhung
  • Atjo

Daftar Tokoh MasyarakatSunting

Sesepuh yang mempelopori terbentuknya Kabupaten Enrekang. Antara lain:

  • H. Abd. Manan Mappasanda
  • Drs. H.M. Risa
  • Drs. H.M. Thala
  • H. Andi Santo
  • Andi Palisuri
  • H.M. Yasin
  • Andi Maraintang
  • Andi Baso Nur Rasyid
  • Andi Tambone
  • Bompeng Rilangi
  • Anri Enreng
  • Abdul Rahman, BA
  • Prof. Dr. H.M. Syukur Abdullah

PendudukSunting

Ditinjau dari segi sosial budaya, masyarakat Kabupaten Enrekang memiliki kekhasan tersendiri. Hal tersebut disebabkan karena kebudayaan Enrekang (Massenrempulu') berada diantara kebudayaan Bugis, Mandar dan Tana Toraja. Bahasa daerah yang digunakan di Kabupaten Enrekang secara garis besar terbagi atas 3 bahasa dari 3 rumpun etnik yang berbeda di Massenrempulu', yaitu bahasa Duri, Enrekang dan Maiwa. Bahasa Duri dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Alla', Baraka, Malua, Buntu Batu, Masalle, Baroko, Curio dan sebagian penduduk di Kecamatan Anggeraja. Bahasa Enrekang dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Enrekang, Cendana dan sebagian penduduk di Kecamatan Anggeraja.

Bahasa Maiwa dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Maiwa dan Kecamatan Bungin. Melihat dari kondisi sosial budaya tersebut, maka beberapa masyarakat menganggap perlu adanya penggantian nama Kabupaten Enrekang menjadi Kabupaten Massenrempulu', sehingga terjadi keterwakilan dari sisi sosial budaya. Seluruh masyarakat Massenrempulu' dimana saja berada diharapkan tetap menjaga budaya Massenrempulu' sebagai modal dasar pembangunan dalam melaksanakan otonomi daerah untuk mewujudkan predikat atau gelar yang pernah diberikan oleh raja-raja dari Bugis yang diungkapkan dalam Bahasa Bugis, bahwa NAIYYA ENREKANG TANA RIGALLA, LIPU RIONGKO TANA RIABBUSUNGI. NAIYYA TANAH MAKKA TANAH MAPACCING MASSENREMPULU. NAIYYA TANAH ENREKANG TANAH SALAMA

ReferensiSunting

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  2. ^ a b "Profil Enrekang" (PDF). 
  3. ^ "Enrekang, Sulawesi Selatan, Indonesia". Climate-Data.org. Diakses tanggal 21 Oktober 2020. 
  4. ^ "Sulawesi Selatan". Weatherbase. Diakses tanggal 21 Oktober 2020. 
  5. ^ Statistik Kebahasaan 2019. Jakarta: Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan. 2019. hlm. 11. ISBN 9786028449182. 
  6. ^ "Bahasa di Provinsi Sulawesi Selatan". Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia. Diakses tanggal 23 Mei 2020. 
  7. ^ "Selayang Pandang Kabupaten Enrekang". Pemerintah Daerah Kabupaten Enrekang. Pemerintah Kabupaten Enrekang. Diakses tanggal 15 Januari 2018. 
  8. ^ "Kader Muhammadiyah Dilantik Jadi Bupati Enrekang Periode 2013 - 2018". sulsel.muhammadiyah.or.id. 23 Oktober 2013. Diakses tanggal 2 Februari 2017. 
  9. ^ "Penetapan Hasil Pilkada 2018: Enrekang Sulawesi Selatan". KPU: Portal Publikasi Pemilihan Kepala Daerah 2018. Komisi Pemilihan Umum Indonesia. 26 Juli 2018. Diakses tanggal 28 Agustus 2018. 
  10. ^ Perolehan Kursi DPRD Enrekang 2014-2019
  11. ^ Perolehan Kursi DPRD Enrekang 2019-2024

Lihat jugaSunting

Pranala luarSunting