Suku Makassar

suku bangsa di Indonesia


Suku Makassar (Bahasa Makassar : ᨈᨘ ᨆᨀᨔᨑ (Tu Mangkasara’)) adalah etnis yang mendiami pesisir selatan pulau Sulawesi, meliputi wilayah Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Maros, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Selayar, sebagian Bulukumba, dan sebagian Pangkajene dan Kepulauan. Suku Makassar adalah suku terbesar kedua di Sulawesi setelah Suku Bugis.

Suku Makassar
Tu Mangkasara’
ᨈᨘ ᨆᨀᨔᨑ
Daerah dengan populasi signifikan
Indonesia2.672.590
       Sulawesi Selatan2.380.208
       Sulawesi Tenggara59.301
       Papua41.239
       Kalimantan Timur31.899
Bahasa
Bahasa asli
Makassar,
Sebagai bahasa kedua
Melayu Makassar, Indonesia
Agama
Mayoritas
Allah-green.svg Islam
Suku bangsa terkait
Bugis, Mandar, dan Toraja

Sumber-sumber Portugis pada permulaan abad ke-16 telah mencatat nama Makassar ”Macaçar”. Abad ke-16 “Makassar” sudah menjadi ibu kota Kerajaan Gowa. Dan pada Abad itu pula, Makassar sebagai ibu kota sudah dikenal oleh bangsa asing. Bahkan dalam syair ke-14 Nagarakertagama karangan Prapanca (1365) nama Makassar "Makhasar" telah tercantum.

EtimologiSunting

Bahasa. Dari segi Etimologi (Daeng Ngewa, 1972:1-2), Makassar berasal dari kata Mangkasara' ᨆᨀᨔᨑ yang terdiri dari morfem prefiks adjektif mang- dan morfem kata kasara' ᨀᨔᨑ (tampak, timbul, wujud, nyata, jelas) yang secara keseluruhan mengandung arti memiliki sifat besar (mulia) dan berterus terang (Jujur). Sementara dari segi terminologi, kata ‘Mangkasarak’ terdapat pada nama suku bangsa, nama kerajaan, nama selat, dan nama kota.

SejarahSunting

Etnis Makassar ini adalah etnis yang berjiwa penakluk dan pemberani namun demokratis dalam memerintah, gemar berperang dan jaya di laut. Tak heran pada abad ke-14-17, dengan simbol Kerajaan Gowa, mereka berhasil membentuk satu wilayah kerajaan yang luas dengan kekuatan armada laut yang besar berhasil membentuk suatu Imperium bernafaskan Islam, mulai dari sebagian Sulawesi Selatan, kalimantan bagian Timur, NTT, NTB, Maluku, Brunei, Papua dan Australia bagian utara.[butuh rujukan] Mereka menjalin Traktat dengan Bali, kerjasama dengan Malaka dan Banten dan seluruh kerajaan lainnya dalam lingkup Nusantara maupun Internasional (khususnya Portugis). Kerajaan ini juga menghadapi perang yang dahsyat dengan Belanda hingga kejatuhannya akibat adu domba Belanda terhadap kerajaan taklukannya.

Perbedaan Makassar dengan BugisSunting

Banyak yang mengira bahwa Makassar adalah identik dan serumpun dengan suku Bugis dan bahwa istilah Bugis dan Makassar adalah istilah yang diciptakan oleh Belanda untuk memecah belah. Hingga pada akhirnya kejatuhan Kerajaan Makassar pada Belanda, segala potensi dimatikan, mengingat suku ini terkenal sangat keras menentang Belanda. Di mana pun mereka bertemu Belanda, pasti diperanginya. Beberapa tokoh sentral Gowa yang menolak menyerah seperti Karaeng Galesong, hijrah ke Tanah Jawa. Bersama armada lautnya yang perkasa, memerangi setiap kapal Belanda yang mereka temui. Oleh karena itu, Belanda yang saat itu di bawah pimpinan Spellman menjulukinya dengan "Si-Bajak-Laut"

Dari segi linguistik, bahasa Makassar dan bahasa Bugis berbeda, walau kedua bahasa ini termasuk dalam Rumpun bahasa Sulawesi Selatan[1] dalam cabang Melayu-Polinesia dari rumpun bahasa Austronesia. Dalam kelompok ini, bahasa Makassar[2] masuk dalam sub-kelompok yang sama dengan bahasa Bentong, Konjo dan Selayar, sedangkan bahasa Bugis[3] masuk dalam sub-kelompok yang sama dengan bahasa Campalagian dan dua bahasa yang ditutur di pulau Kalimantan yaitu bahasa Embaloh dan bahasa Taman. Perbedaan antara bahasa Bugis dan Makassar ini adalah salah satu ciri yang membedakan kedua suku tersebut.

ReferensiSunting

  1. ^ "Austronesian, Malayo-Polynesian, South Sulawesi" dalam www.ethnologue.com
  2. ^ (Inggris) Suku Makassar di Ethnologue
  3. ^ (Inggris) Suku Makassar di Ethnologue

Lihat pulaSunting