Alegori adalah majas yang menjelaskan maksud tanpa secara harafiah. Umumnya alegori merujuk kepada penggunaan retorika, tetapi alegori tidak harus ditunjukkan melalui bahasa, misalnya alegori dalam lukisan atau pahatan.[1] Contoh penggunaan majas ini dapat dibaca pada kalimat berikut ini:[2]

Kehidupan manusia layaknya sebuah sungai yang dialiri air. Sebelum mencapai muara dan bertemu air laut, air tersebut harus melewati ragam tempat. Ia bisa menyususri tebing-tebing, bahkan terkadang jurang. Air sungai tak pernah melawan arus, ia mengalir apa adanya hingga ia pada akhirnya tiba pada muara dimana ia akan lebur menjadi air laut

Makna dari majas alegori tersebut adalah hidup sebagai seorang manusia tidaklah mudah, kita bisa saja bertemu dengan hal yang tidak menyenangkan, tapi sama seperti air sungai kita tak harus melawan, membiarkan nasib membawa kita adalah hal yang ingin disampaikan oleh penutur dengan menggunakan kiasan “air sungai tak pernah melawan arus yang membawanya kemana saja, baik itu tebing atau jurang sekalipun”. Hidup akan selalu ada muaranya berarti hidup manusia akan selalu ada akhirnya.[2]

ReferensiSunting

  1. ^ Anita, Ahadi Sulissusiawan, Amriani Amir (2013). "Majas Dalam Roman Habis Gelap Terbitlah Terang Terjemahan Armijn Pane". Khatulistiwa. 2 (9): 4. ISSN 2715-2723. 
  2. ^ a b Ngatiyem (2017). "Kemampuan Menentukan Bentuk dan Makna Majas pada Siswa Kelas IX MTSN 3 Banjarmasin". Hadratul Madaniyah. 4 (2): 35. ISSN 2407-3865.