Kereta api Dhoho dan Penataran

kereta api lokal ekonomi di Indonesia

Kereta api Dhoho dan Penataran merupakan dua layanan kereta api lokal kelas ekonomi yang dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia untuk melayani jalur kantong Jawa Timur (Surabaya, Malang, Blitar, Kediri, Kertosono, hingga kembali ke Surabaya, dan sebaliknya). Setiba di Stasiun Blitar, kereta api ini berganti nama menjadi Penataran untuk kembali ke Surabaya Kota melalui Malang, sedangkan kereta api yang melewati Kertosono berganti nama menjadi Dhoho.

Kereta api Dhoho dan Penataran
LiveryPapanStasiun 2020.svg
KA DHOHO
SURABAYA KOTA - KERTOSONO - BLITAR PP
LiveryPapanStasiun 2020.svg
KA PENATARAN
SURABAYA KOTA - MALANG - BLITAR PP
Kereta Dhoho SGU.jpg
Kereta api Dhoho saat meninggalkan Stasiun Surabaya Gubeng
Informasi umum
Jenis layananKereta api lokal
StatusBeroperasi
Daerah operasiDaerah Operasi VIII Surabaya
Operator saat iniPT Kereta Api Indonesia
Lintas pelayanan
Jumlah pemberhentianLihatlah di bawah.
Jarak tempuh169,6 km
Lintas Blitar–Surabaya Kota melalui Malang
179,5 km
Lintas Blitar–Surabaya Kota melalui Kertosono
349,1 km
Lintas Surabaya Kota kembali ke Surabaya Kota melalui Blitar
Jenis relRel berat
Pelayanan
KelasEkonomi
Pengaturan tempat duduk106 tempat duduk disusun 3-2
kursi saling berhadapan dan tidak bisa direbahkan
Teknis sarana dan prasarana
Bakal pelanting
  • Lokomotif CC201/CC203
  • Enam kereta penumpang kelas ekonomi (K3)
  • Satu kereta makan-pembangkit (KMP3/KP3)
Lebar sepur1.067 mm
Kecepatan operasional60 s.d. 95 km/jam
Pemilik jalurDitjen KA, Kemenhub RI
Nomor pada jadwal431-446 (Dhoho)
447, 449-454, 456 (Penataran)
Peta rute
Surabaya Kota - Blitar
Untuk Kereta api Penataran, Tumapel      dan Dhoho, KRD Kertosono     
Surabaya Kota
Ke SDT
Ke SBI
Surabaya Gubeng
Wonokromo
Ke Waru
Ke Mojokerto
Waru
Sepanjang
Gedangan
Boharan
Sidoarjo
Krian
Tanggulangin
Tarik
Porong
Kedinding
Ke Jember
Mojokerto
Bangil
Curahmalang
Lawang
Sumobito
Singosari
Peterongan
Blimbing
Jombang
Malang
Sembung
Malang Kotalama
Ke Tulungagung
Kepanjen
Kertosono Ke Solo
Ngebruk
Ke Jombang
Sumberpucung
Papar
Pohgajih
Kediri
Kesamben
Ngadiluwih
Wlingi
Kras
Talun
Tulungagung
Garum
Sumbergempol
Ngunut
Rejotangan
Blitar
Ke Jombang
Ke Malang
Keterangan
  • KA Tumapel beterminus di Stasiun Malang
  • KA Tumapel beterminus di Stasiun Surabaya Gubeng (ke Malang)
    dan di Stasiun Surabaya Kota (dari Malang)
  • KA Lokal KTS berhenti di Stasiun bertanda bolong
  • KA Rapih Dhoho memutar di Stasiun Kertosono

Nama "Dhoho" diambil dari sebuah nama pusat pemerintahan Kerajaan Kadiri, Daha, yang diperkirakan terletak di Kota Kediri, sedangkan nama "Penataran" diambil dari sebuah candi peninggalan Kerajaan Kadiri di Kabupaten Blitar, Candi Penataran.

SejarahSunting

Kereta api DhohoSunting

 
Kereta api Rapih Dhoho saat berhenti di Stasiun Jombang, 2013

Kereta api Dhoho—saat itu bernama Rapih Dhoho[catatan 1]—pertama kali beroperasi pada 21 Agustus 1971, melayani dari Surabaya untuk menuju ke dua stasiun akhir, yakni Blitar dan Madiun. Sesampai di Stasiun Kertosono, rangkaian kereta terbagi menjadi dua: melanjutkan perjalanan ke Madiun dan melanjutkan perjalanan ke Blitar.

Saat itu, perjalanan kereta api Dhoho dari Blitar membawa tiga kereta CL (layanan kelas III) yang ditarik oleh lokomotif C27/C28 sedangkan perjalanan dari Madiun membawa tiga kereta CL yang ditarik lokomotif D52. Kemudian kedua rangkaian digabung di Stasiun Kertosono dan melanjutkan perjalanan ke Surabaya dengan lokomotif D52.

Namun, perjalanan kereta api Dhoho dari Kertosono menuju Madiun dihentikan pada tahun 1972 diduga karena tingkat okupansi penumpang yang rendah sehingga kereta api Dhoho hanya melayani lintas Surabaya–Blitar hingga saat ini.[1]

Kereta api PenataranSunting

 
KA Penataran tiba di Stasiun Kepanjen, 2011

Kereta api Penataran pertama kali beroperasi pada 1985 yang melayani lintas Surabaya–Blitar melalui Malang—merupakan layanan penerus kereta api Tumapel Blitar. Pada tahun 1985 hingga 2002, terdapat tiga layanan kereta api yang beroperasi di lintas Blitar–Malang–Surabaya, yaitu Penataran, Tumapel Utama, dan Tumapel Malang.[1]

Kereta api Penataran EkspresSunting

 
Kereta api Penataran Ekspres setelah meninggalkan Stasiun Malang, 2013

PT KAI pernah meluncurkan layanan kereta api komersial, kereta api Penataran Ekspres, yang mulai beroperasi pada 1 November 2013 untuk melayani lintas Surabaya–Malang dengan jumlah perjalanan tiga hari dalam sehari.[2] Kereta api ini beroperasi menggunakan kereta kelas ekonomi dengan jumlah tempat duduk sebanyak 106 kursi per kereta. Berbeda dengan ketentuan batas angkut kereta api Penataran yang mencapai 150%, batas angkut kereta api Penataran Ekspres disesuaikan dengan jumlah kursi yang tersedia sehingga setiap penumpang dipastikan mendapatkan tempat duduk. Selain itu, kereta api ini hanya berhenti di stasiun-stasiun tertentu sehingga perjalanan dari Surabaya menuju Malang hanya ditempuh sekitar 2 jam.

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, rute kereta api ini diperpanjang hingga Stasiun Blitar dengan perjalanan sekali pulang pergi sehari mulai 6 Februari 2014.[3] Pada akhir pengoperasiannya, kereta api Penataran Ekspres hanya berhenti di Stasiun Blitar, Wlingi, Ngebruk, Kepanjen, Pakisaji, Malang Kotalama, Malang, Lawang, Porong, Sidoarjo, Waru, Wonokromo, dan Surabaya Gubeng. Karena tingkat okupansi penumpang yang rendah, pengoperasian kereta api ini dihentikan per 6 Januari 2015.[4]

Pengoperasian kereta api Dhoho dan PenataranSunting

Kereta api ini beroperasi dengan dua nama dalam sekali perjalanan dan memiliki rute yang melingkar dari Surabaya hingga kembali ke Surabaya (disebut "jalur kantong"). Setiba di Stasiun Blitar, kereta api ini berganti nama menjadi Penataran untuk kembali ke Surabaya Kota melalui Malang, sedangkan kereta api yang melewati Kertosono berganti nama menjadi Dhoho. Sebagai kereta api lokal, kereta api ini berhenti melayani penumpang di semua stasiun di lintas Surabaya–Blitar, kecuali Boharan, Kedinding, Purwoasri, Minggiran, Susuhan, Sengon, Sukorejo, dan Wonokerto.[5]

Lokomotif BB301 sempat digunakan sebagai lokomotif penarik kereta api Dhoho dan Penataran hingga sekitar 2011, walaupun lokomotif CC201 juga digunakan sebagai lokomotif penarik mulai 2004–2005 hingga sekarang. Saat ini, beberapa perjalanan kereta api ini terkadang ditarik menggunakan lokomotif CC206.[1]

Kereta penumpang yang digunakan berupa kereta kelas ekonomi dengan susunan tempat duduk 3–2.[5]

Data teknisSunting

Lintas pelayanan Surabaya KotaBlitar melalui Kertosono (Dhoho)
Surabaya Kota–Blitar melalui Malang (Penataran)
Lokomotif CC201/CC203
Susunan rangkaian kereta
Kereta nomor 1 2 3 Kereta makan-pembangkit (KMP3/KP3) 4 5 6
Keterangan Kereta penumpang kelas ekonomi (K3) Kereta penumpang kelas ekonomi (K3)
Catatan : Susunan rangkaian kereta dapat berubah sewaktu-waktu

TarifSunting

Tarif kereta api Dhoho–Penataran berkisar antara Rp10.000,00–Rp30.000,00 bergantung pada jarak yang ditempuh penumpang.[5]

GaleriSunting

Kereta api DhohoSunting

Kereta api PenataranSunting

Lihat pulaSunting

Daftar pustakaSunting

Catatan kakiSunting

  1. ^ Istilah "Rapih" merupakan kependekan dari "Rangkaian Terpisah". Saat itu, rangkaian kereta terbagi menjadi dua sesampai di Stasiun Kertosono: melanjutkan perjalanan ke Madiun dan melanjutkan perjalanan ke Blitar. Hingga kini, beberapa stasiun masih menyebut "Rapih Dhoho" untuk menyebut kereta api ini

ReferensiSunting

  1. ^ a b c "Sejarah KA Lokal Jalur Kantong". Roda Sayap. Diakses tanggal 2020-02-10. 
  2. ^ "KAI luncurkan Penataran Ekspres Malang-Surabaya". kontan.co.id. 2013-10-29. Diakses tanggal 2020-03-23. 
  3. ^ "Jarak Tempuh KA Penataran Ekspres Diperpanjang Hingga Blitar". ANTARA News Jawa Timur. Diakses tanggal 2020-03-23. 
  4. ^ "Sepi Penumpang, KA Penataran Ekspres Dipensiunkan". Tribunnews.com. Diakses tanggal 2020-03-23. 
  5. ^ a b c KAI Access, aplikasi resmi PT Kereta Api Indonesia (Persero)