Buka menu utama

Rangga Gempol I (1586-1625 M), terlahir dengan nama Suriadiwangsa, adalah prabu (raja) terakhir dari Kerajaan Sumedang Larang di Jawa Barat dengan gelar Kusumadinata III dan bupati pertama dari Kabupaten Sumedang dibawah Kesultanan Mataram. Tokoh ini dikenal akan upayanya menggabungkan wilayah Parahyangan di Jawa Barat dengan Mataram dan keterlibatannya dalam penaklukan Madura oleh Mataram.

Pangeran
Rangga Gempol I
Raden
Suriadiwangsa
Bupati Sumedang ke-1
Masa jabatan
1620–1624
Penguasa monarkiSultan Agung
WakilRangga Gede
PendahuluPosisi baru
PenggantiRangga Gede
Kusumadinata III
Prabu
Berkuasakr. 1608  – kr. 1620
PendahuluPrabu Geusan Ulun
PenerusKerajaan ditiadakan
Lahir1586
Dayeuh Luhur,
Sumedang Larang
Wafat1625
Kerto, Mataram
Pemakaman1625
WangsaAzmatkhan
Kusumadinata
AyahPanembahan Ratu I
IbuHarisbaya
PasanganBelum diketahui
Anak
  • Suriadiwangsa II
  • Mangunrana
  • Nyi Sumalintang
  • Nyi Nustawijah
  • Tampangkil
AgamaIslam

Kelahiran dan kehidupan awalSunting

Suriadiwangsa lahir di Dayeuh Luhur (sekarang masuk Kec. Ganeas, Sumedang) sekitar tahun 1586. Ia sebenarnya merupakan anak kandung dari Panembahan Ratu I atau Pangeran Girilaya, penguasa Kesultanan Cirebon cicit dari Sunan Gunung Jati. Ibunya, Harisbaya dari Madura, awalnya merupakan istri dari Panembahan Ratu I. Namun dikarenakan adanya Peristiwa Harisbaya yang terjadi di tahun 1585, Harisbaya melarikan diri dari Cirebon dan menetap di Dayeuh Luhur.[1][2] Peristiwa ini terjadi dikarenakan adanya hubungan terlarang antara Prabu Geusan Ulun dan Harisbaya. Keduanya sudah saling mengenal di waktu muda di keraton Pajang, dan kembali bertemu saat Geusan Ulun mengunjungi Cirebon. Harisbaya ingin meninggalkan Cirebon dikarenakan adanya ketidakcocokan dirinya dengan Panembahan Ratu I yang berusia jauh lebih tua. Pelarian Harisbaya ke Dayeuh Luhur mengakibatkan terjadinya konflik antara Cirebon dan Sumedang, yang berakhir dengan kesediaan Panembahan Ratu I untuk menceraikan Harisbaya, dengan pemberian daerah Sindangkasih (kemungkinan Majalengka) kepada Cirebon sebagai ganti rugi.[2][3] Ketika Harisbaya melarikan dari dari Cirebon menuju Dayeuh Luhur, ia sudah 2 bulan mengandung Suriadiwangsa. Geusan Ulun lalu menjadikan Harisbaya sebagai istri sahnya setelah Suriadiwangsa lahir, dan membesarkan putranya seperti anak sendiri.[1][4]

Jika dirunut dari garis ayah, Suriadiwangsa merupakan keturunan generasi ke-5 dari Syarif Abdullah Umdatuddin, penguasa dari Kerajaan Champa berdarah Azmatkhan (Hadramaut). Syarif Abdullah Umdatuddin menikah dengan Nyi Rara Santang, putri dari Sri Baduga Maharaja, penguasa Kerajaan Sunda di Pakuan Pajajaran.[5][6] Keturunan dari keduanya menjadi para penguasa di Kesultanan Banten, Cirebon, dan wilayah Jawa yang lain. Sementara ibunya Harisbaya adalah anak angkat dari Arya Pangiri. Ia berasal dari Arosbaya (Kab. Bangkalan), Madura, namun menghabiskan masa kecilnya di Pajang sebelum menikah dengan Panembahan Ratu I.[7][8]

Sebagai rajaSunting

Suriadiwangsa naik takhta di tahun 1608 M dengan gelar Kusumadinata III,[9][10] dimana ia memindahkan pusat pemerintahan dari Dayeuh Luhur menuju Tegal Kalong (sekarang Kec. Sumedang Utara).[11][12][13] Sebelum wafat, Geusan Ulun membagi wilayah Sumedang Larang menjadi dua untuk Suriadiwangsa dan saudara tirinya Rangga Gede, yang merupakan anak kandung Geusan Ulun dari pernikahannya dengan permaisuri Nyi Mas Cukang Gedeng Waru. Rangga Gede memimpin daerah nagara agung Sumedang dengan pusatnya antara Tegal Kalong dan Canukur (Kec. Situraja).[1][14] Keadaan Sumedang Larang setelah Geusan Ulun wafat menjadi tidak menentu dikarenakan banyak daerahnya yang menyatakan memisahkan diri, seperti Ciasem, Karawang, Indramayu, dan Pamanukan. Suriadiwangsa hanya memiliki kendali atas daerah Sukapura (Tasikmalaya), Parakanmuncang (Cicalengka) dan Ukur (Bandung Raya).[2][15]

Hubungan Suriadiwangsa dengan ayahnya di Cirebon tidak banyak tercatat dalam sejarah, namun Cirebon sendiri menjadi bagian Mataram sejak tahun 1619.[16][17] Di barat, Kesultanan Banten masih berambisi untuk menaklukan Sumedang Larang, karena penguasanya Sultan Abul Mafakhir masih keturunan Sri Baduga Maharaja serta merasa berhak atas seluruh wilayah Kerajaan Sunda. Sementara itu, daerah Ciamis yang merupakan sisa Kerajaan Galuh telah ditaklukan oleh Kesultanan Mataram di tahun 1595.[18][2] Keadaan di Tatar Sunda semakin diperumit ketika VOC alias Kompeni yang baru mendatangi kepulauan Nusantara, di tahun 1614 mengirim utusan ke keraton Mataram di Kerto. Mataram yang waktu itu dipimpin Sultan Agung menyatakan pretensi klaim, bahwa wilayah Jawa bagian barat yang tidak dikuasai Banten dan Cirebon merupakan bagian dari Mataram.[1][14] Hal ini menandakan adanya keinginan Sultan Agung untuk menyerbu Sumedang, yang sampai di telinga Suriadiwangsa.[14] VOC sendiri kemudian berhasil menaklukan kota Jayakarta di tahun 1619 dan mendirikan Batavia dibawah kepemimpinan Jan Pieterszoon Coen.[19][20]

Bergabung dengan MataramSunting

Keadaan Sumedang Larang di masa pemerintahan Suriadiwangsa tidak menguntungkan, dikarenakan letak geografis kerajaan ini yang terjepit antara kekuatan besar seperti Banten dan VOC di barat serta Mataram di timur. Menurut analisa Suriadiwangsa dan para pembesarnya, Sumedang Larang saat itu tidak memiliki angkatan pertahanan yang cukup untuk menahan serbuan dari arah barat dan timur.[1][21] Dengan beberapa pertimbangan, Suriadiwangsa akhirnya di tahun 1620 memutuskan untuk menghadap Sultan Agung di Kerto, dimana ia menyatakan Sumedang Larang sebagai bagian dari Mataram, sedangkan Status Sumedang Larang turun dari kerajaan menjadi kabupaten di bawah Mataram.[2][22] Keputusan ini dipilih karena pertimbangan ibu Suriadiwangsa, Harisbaya dibesarkan di Pajang dan berkerabat dengan Sutawijaya, kakek dari Sultan Agung. Mataram juga dianggap memiliki angkatan pertahanan yang mampu melindungi wilayah Parahyangan, terutama dari kemungkinan serbuan Banten yang ingin menguasai seluruh bekas wilayah Kerajaan Sunda.[1][23]

Sultan Agung menyambut baik kedatangan Suriadiwangsa, dimana ia menganugerahkan Suriadiwangsa gelar Rangga Gempol Kusumadinata[2][24] dan mengangkat Suriadiwangsa untuk menduduki dua jabatan rangkap, yaitu Bupati Sumedang dan Bupati Wedana (setingkat Gubernur) Parahyangan.[25][26] Sebagai Bupati Sumedang, ia dibantu oleh Rangga Gede sebagai wakil Bupati.[1] Sementara sebagai Bupati Wedana ia berperan mengepalai serta mengatur bupati-bupati wilayah Parahyangan yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Sumedang Larang.[27][18] Bergabungnya Sumedang Larang menjadi suatu keuntungan sendiri bagi Mataram, dimana wilayah Parahyangan menjadi benteng alam dari kemungkinan serbuan Banten ke timur, juga sebagai pemasok perbekalan tentara apabila Mataram berencana untuk menyerbu Banten.[28][29] Bergabungnya Sumedang Larang juga membantu Sultan Agung lebih memfokuskan upaya Mataram untuk menaklukan wilayah timur Jawa, khususnya Kadipaten Surabaya yang menguasai rute perdagangan laut dengan wilayah timur seperti Kepulauan Maluku.[30][31]

Penyerbuan ke MaduraSunting

Di tahun 1620, Mataram memulai penyerbuan ke Surabaya, dimana penyerbuan ini berlangsung lama dan banyak mengorbankan tentara dalam jumlah besar. Antara tahun 1620-1623, Mataram sudah mengirim tiga pasukan ekspedisi untuk menaklukan Surabaya, namun ketiganya mengalami kegagalan dikarenakan kurangnya persediaan pangan tentara Mataram serta kokohnya pertahanan alam di sekitar Surabaya.[1][32] Dikarenakan sudah banyak korban jiwa yang jatuh di pihak Mataram serta adanya pemberian bantuan dari VOC kepada Surabaya, Sultan Agung meminta kesediaan para penguasa daerah Mataram untuk membawa dan memimpin pasukan dari daerah asal mereka, untuk membantunya menaklukan Surabaya.[2][33] Sultan Agung meminta Rangga Gempol untuk menaklukan daerah Madura, dengan pertimbangan bahwa ia masih berdarah Madura, sedangkan Madura sendiri merupakan pemasok utama persediaan pangan untuk tentara Surabaya selama dikepung oleh Mataram.[14][25] Di tahun 1624, Rangga Gempol lalu berangkat membawa tentara Sumedang ke timur, sementara saudara tirinya Rangga Gede menjadi pelaksana tugas Bupati Wedana Parahyangan di Tegal Kalong selama ia berperang.[22][34]

Terdapat lima kadipaten di Madura saat Mataram menyerbu Surabaya, yaitu Arosbaya, Balega, Pamekasan, Sampang, dan Sumenep, dimana kelimanya merupakan sekutu Surabaya, dengan Arosbaya sebagai kekuatan terkuat.[35][36] Rangga Gempol membawa tentaranya untuk membantu pasukan Ki Juru Kiting, panglima Mataram berusia lanjut yang saat itu ditugaskan untuk menaklukan Madura.[37] Dalam menaklukan Madura, Rangga Gempol tidak hanya menempuh jalan perang namun juga diplomasi. Daerah Sampang yang ketika itu dipertahankan oleh Raden Prasena, pewaris sah Arosbaya yang masih berusia muda, berhasil dibujuk untuk menyerah ke Mataram.[14][38] Kelak Raden Prasena diangkat oleh Sultan Agung sebagai bupati wedana Madura dengan gelar Cakraningrat I.[39] Daerah-daerah lainnya ditaklukan melalui peperangan yang banyak menimbulkan korban jiwa, namun akhirnya keseluruhan Madura dapat ditaklukan oleh Mataram.[2][40]

Atas jasa-jasanya dalam menaklukan Madura, Rangga Gempol diperintahkan untuk tidak pulang ke Tegal Kalong namun menetap di Kerto sebagai pembesar di keraton Mataram. Para tentaranya yang ikut menetap dengannya lalu membangun kampung Kasumedangan di sekitar Kerto.[41][42] Rangga Gede pun menjadi Bupati Wedana secara tetap, dengan wakilnya Dipati Ukur.[43] Penaklukan Madura oleh Rangga Gempol di tahun 1624 mengakibatkan Surabaya tidak bisa lagi bertahan dengan mengandalkan pasokan pangan dari sekutunya tersebut.[44][45] Pertahanan Surabaya semakin melemah setelah Sungai Brantas dibendung oleh tentara Mataram, dimana tidak ada pasokan air menuju Surabaya, sehingga penduduk kota ini dilanda kelaparan yang parah. Di tahun 1625, akhirnya Surabaya yang dipimpin oleh Adipati Jayalengkara memutuskan untuk menyerah kepada Mataram.[1][45]

KematianSunting

Kehidupan Rangga Gempol sebagai pembesar Mataram tidak banyak tercatat dalam sejarah. Namun diceritakan bahwa Rangga Gede pernah berkunjung ke Kerto untuk mengunjungi saudaranya, dimana mereka berdua berbincang soal keberhasilan penaklukan Madura. Rangga Gempol berkelakar dengannya kalau ia bisa saja menaklukan Mataram hanya dalam waktu setengah hari.[7][46] Perkataan Rangga Gempol yang bersifat candaan ini lalu sampai ke telinga Dipati Ukur di Parahyangan, yang lalu melaporkan hal kembali ini ke keraton Kerto. Sontak Sultan Agung berang setelah mendengar kabar tersebut, dimana ia menganggap Rangga Gempol memiliki sikap yang sangat jemawa dan meremehkan Mataram.[47][48] Di tahun 1625, Sultan Agung menjatuhkan hukuman mati terhadap Rangga Gempol dengan cara dipancung. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Lempuyanganwangi, yang saat ini terletak di selatan Stasiun Lempuyangan, Kota Yogyakarta.[24][41]

Rangga Gempol dikaruniai 5 anak, yaitu Suriadiwangsa II (Kartajiwa), Mangunrana, Nyi Sumalintang (Sudarsah), Nyi Nustawijah, dan Tampangkil. Suriadiwangsa II kelak di tahun 1627 berkomplot dengan Sultan Abul Mafakhir untuk menyerbu Sumedang, dengan tujuan merebut kepemimpinan Parahyangan dari Rangga Gede dan bergabung sebagai wilayah Banten, meski serbuan ini akhirnya berhasil digagalkan oleh Dipati Ukur.[14][34][49]

WarisanSunting

Keputusan Suriadiwangsa atau Rangga Gempol untuk bergabung dengan Mataram memiliki dampak yang besar dan mendalam untuk penduduk Tatar Sunda kecuali di Banten dan Cirebon. Struktur administrasi di tatar Sunda mengalami perombakan, dimana Sultan Agung membagi-bagi wilayah Parahyangan yang dipimpin oleh para bupati (kaum ménak), yang diangkat langsung olehnya dan sultan-sultan penerusnya. Kaum ménak ini menjadi kelas elit baru dalam masyarakat Sunda, dimana mereka dihormati layaknya raja-raja Sunda terdahulu.[9][50][51] Bahasa Sunda di wilayah Parahyangan dan sekitarnya mulai mengenal tingkatan penggunaan bahasa (undak usuk), yaitu penggunaan bahasa halus (lemes) dan bahasa hormat (luluhur/pangagung) yang diperkenalkan di masa pemerintahan Mataram. Tingkatan ini tidak ditemukan dalam Bahasa Sunda Banten dikarenakan Banten tidak pernah berada di bawah kendali Mataram.[52][53][54]

Budaya masyarakat sawah di Tatar Sunda juga mulai diperkenalkan oleh Mataram. Sejak era Kerajaan Tarumanegara, masyarakat Sunda merupakan masyarakat dengan budaya berladang (ngahuma) dimana mereka lazim berpindah-pindah lahan untuk membuka ladang di tempat yang dianggap subur.[52][55] Setelah wilayah Parahyangan menjadi bagian dari Mataram, budaya masyarakat sawah yang berasal dari timur mulai diterapkan oleh masyarakat Sunda, terutama penduduk Karawang yang pernah memasok pasukan Sultan Agung ketika menyerbu Batavia.[56][57] Rangga Gempol juga berperan langsung dalam memperkenalkan kesenian tembang Sunda (Mamaos) yang merupakan adaptasi dari kesenian tembang yang terdapat di Mataram di abad ke-17.[58][59] Kelak tembang Sunda hasil perkenalan Rangga Gempol ini berkembang menjadi bentuk kesenian Sunda yang dikenal saat ini seperti Tembang Cianjuran.[60][61][62]

Wilayah Parahyangan sendiri baru terlepas sepenuhnya dari Mataram setelah adanya Perjanjian di tahun 1705, dimana Mataram mengakui kedaulatan VOC atas seluruh wilayah Parahyangan.[63][64] Penguasaan VOC atas Parahyangan ini memberikan banyak keuntungan melalui berbagai perkebunan kopi dan teh yang dibuka saat itu di Parahyangan.[21][65] Namun dalam perkembangannya VOC semakin sering mencampuri urusan para bupati seperti dalam pengangkatan pejabat-pejabat kabupaten.[66][67] Provinsi Jawa Barat sendiri baru terbentuk setelah Perang Diponegoro berakhir di tahun 1830, dimana wilayah Parahyangan, bersama dengan Banten, Batavia, dan Cirebon merupakan bagian dari provinsi ini.[34][68]

Nama Rangga Gempol diabadikan sebagai salah-satu nama jalan di Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung.[69]

RujukanSunting

  1. ^ a b c d e f g h i S, Euis Thresnawaty (2011-03-01). "SEJARAH KERAJAAN SUMEDANG LARANG". Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya. 3 (1): 154–168. doi:10.30959/patanjala.v3i1.276. ISSN 2598-1242. 
  2. ^ a b c d e f g h Iskandar, Yoseph (1997). Sejarah Jawa Barat: yuganing rajakawasa. Geger Sunten. 
  3. ^ Prizilla, Aquamila; Mariam, Neng (2016-08-02). "Re-design Ragam Hias Hanjuang Untuk Kain Panjang Tradisional Dengan Menggunakan Teknik Batik". eProceedings of Art & Design. 3 (2). ISSN 2355-9349. 
  4. ^ Raditya, Iswara N. "Pesona Ratu Harisbaya Memicu Konflik Sumedang vs Cirebon". tirto.id. Diakses tanggal 2019-08-17. 
  5. ^ Ramadhanny, Fitraya. "Siapa Ali Nurul Alam, Sang Patih Arya Gajah Mada?". detiknews. Diakses tanggal 2019-08-17. 
  6. ^ Hasan, H. Ahmad Zaini (2014-01-01). PERLAWANAN DARI TANAH PENGASINGAN ; Kiai Abbas, Pesantren Buntet, dan Bela Negara. Lkis Pelangi Aksara. ISBN 9786021491324. 
  7. ^ a b Tjandrasasmita, Uka (2009). Arkeologi Islam Nusantara. Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 9789799102126. 
  8. ^ Simpay: kalawarta Paguyuban Pasundan. 1996. 
  9. ^ a b Caturwati, Endang (2007). Tari di tatar Sunda. Sunan Ambu Press. ISBN 9789798967191. 
  10. ^ Jakarta Jakarta. Yayasan Lohdjinawi. 1989. 
  11. ^ Danasasmita, Ma'mur (2001). Wacana bahasa dan sastra Sunda lama. STSI Press Bandung. 
  12. ^ Abdurachman (1986). Naskah Sunda lama di Kabupaten Sumedang. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 
  13. ^ "Jejak Penyebar Islam di Sumedang: Pangeran Santri Sebarkan Agama dengan Pendekatan Budaya". Tribun Jabar. Diakses tanggal 2019-08-17. 
  14. ^ a b c d e f Lasmiyati, Lasmiyati (2014-06-01). "DITIOENG MEMEH HOEDJAN: PEMIKIRAN PANGERAN ARIA SURIA ATMADJA DALAM MEMAJUKAN PEMUDA PRIBUMI DI SUMEDANG (1800-1921)". Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya. 6 (2): 223–238. doi:10.30959/ptj.v6i2.196. ISSN 2598-1242. 
  15. ^ Kasim, Supali (2012). Budaya Dermayu: Nilai-Nilai Historis, Estetis, dan Transendental. Gapura Publishing.com. ISBN 9786021889022. 
  16. ^ Wangsakerta (Pangeran.); Atja (1991). Pustaka rajya rajya i bhumi Nusantara. Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi), Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. ISBN 9789794591369. 
  17. ^ Pariwisata, Jawa Barat (Indonesia) Dinas (1986). Wajah pariwisata Jawa Barat. Dinas Pariwisata Propinsi Daerah Tingkat 1 Jawa Barat, Yayasan 17 Oktober. ISBN 9789798075001. 
  18. ^ a b Penyebaran Islam Di Daerah Galuh Sampai Dengan Abad Ke-17. Badan Litbang dan Diklat, Kementerian Agama RI. 2010. ISBN 9789797973025. 
  19. ^ Sejarah Jakarta dari zaman prasejarah sampai Batavia, tahun +̲ 1750. Pemerintah DKI Jakarta, Dinas Museum & Sejarah. 1977. 
  20. ^ Permuseuman, Jakarta Raya (Indonesia) Dinas Kebudayaan dan (2007). Sejarah kotatua. Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Dinas Kebudayaan dan Permuseuman. 
  21. ^ a b Ekajati, Edi Suhardi (1984). Masyarakat Sunda dan kebudayaannya. Girimukti Pasaka. 
  22. ^ a b Widjajakoesoema, R. D. Asikin; Saleh, R. Mohammad (1960). Rutjatan Sadjarah Sumedang: samemeh sarta nepi ka tjampurna djeung kumpeni (dalam bahasa Sunda). Firma Dana Guru. 
  23. ^ Ruhaliah (2010-01-01). Sajarah Sunda samemeh taun 1945 (dalam bahasa Sunda). JPBD FPBS UPI. ISBN 9786028460095. 
  24. ^ a b West Java Miracle Sight: A Mass of Verb and Scene Information. MPI Foundation. 2005. 
  25. ^ a b Kartodirdjo, Sartono (1987). Pengantar sejarah Indonesia baru, 1500-1900: Dari emporium sampai imperium. Gramedia. ISBN 9789794031292. 
  26. ^ Widyasancaya. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. 2006. ISBN 9789799557995. 
  27. ^ Ekadjati, Edi S.; Hardjasaputra, A. Sobana; Anggawisastra, Ade Kosmaya; Masduki, Aam (1994-01-01). Empat Sastrawan Sunda Lama. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 
  28. ^ Sejarah Purwakarta. Pemerintah Kabupaten Purwakarta, Badan Pariwisata. 2008. 
  29. ^ Gatra. Era Media Informasi. 2005. 
  30. ^ Ali, Ahmad Saiful (1994). "EKSPANSI MATARAM TERHADAP SURABAYA ABAD KE 17 (tinjauan historis tentang penaklukan Surabaya oleh mataram abad ke 17)" (dalam bahasa Inggris). UIN Sunan Ampel Surabaya. 
  31. ^ Nasution (2006). Ekonomi Surabaya pada masa kolonial, 1830-1930. Pustaka Intelektual. ISBN 9789792506808. 
  32. ^ Sejarah perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme di Jawa Tengah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. 1983. 
  33. ^ Moedjanto, G. (1986). The concept of power in Javanese culture (dalam bahasa Inggris). Gadjah Mada University Press. ISBN 9789794200247. 
  34. ^ a b c Kawit. Proyek Penunjang Peningkatan Kebudayaan Nasional Propinsi Jawa Barat. 1991. 
  35. ^ Negeri, Indonesia Departemen Dalam (1985). Departemen Dalam Negeri, tugas, fungsi dan peranannya dalam pemerintah di Daerah. Departemen Dalam Negeri. 
  36. ^ Kasdi, Aminuddin (2003). Perlawanan penguasa Madura atas hegemoni Jawa: relasi pusat-daerah pada periode akhir Mataram, 1726-1745. Jendela. 
  37. ^ Graaf, Hermanus Johannes de (1986). Puncak kekuasaan Mataram: politik ekspansi Sultan Agung. Grafitipers. 
  38. ^ Graaf, Hermanus Johannes de (1985). Kerajaan-kerajaan Islam pertama di Jawa: kajian sejarah politik abad ke-15 dan ke-16. Grafitipers. 
  39. ^ Seminar Sejarah Nasional III. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. 1983. 
  40. ^ Dijk, Kees Van (1995). Across Madura Strait: The Dynamics of an Insular Society (dalam bahasa Inggris). KITLV Press. ISBN 9789067180917. 
  41. ^ a b Patanjala: jurnal penelitian sejarah dan budaya. Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. 2014. 
  42. ^ duniakeris (2018-03-21). "Sumedang Larang kepada Lintasan Sejarah Tatar Sunda". DUNIA KERIS (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-08-18. 
  43. ^ Lubis, Nina Herlina (1998). Kehidupan kaum ménak Priangan, 1800-1942. Pusat Informasi Kebudayaan Sunda. 
  44. ^ Widodo, Dukut Imam (2002). Soerabaia tempo doeloe. Dinas Pariwisata, Kota Surabaya. 
  45. ^ a b A History of Modern Indonesia: c- 1300 to the Present (dalam bahasa Inggris). Macmillan International Higher Education. 1981-12-01. ISBN 9781349166459. 
  46. ^ "Pustaka Ilmiah Universitas Padjadjaran » Blog Archive » Sumedang Pada Masa Pengaruh Kesultanan Mataram (1601-1706)" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-08-18. 
  47. ^ Ensiklopedi Sunda: alam, manusia, dan budaya, termasuk budaya Cirebon dan Betawi. Pustaka Jaya. 2000. ISBN 9789794192597. 
  48. ^ KomunitasAleut! (2011-01-29). "Dipati Ukur, an Honourable Hero or a Legendary Loser". Dunia Aleut!. Diakses tanggal 2019-08-18. 
  49. ^ Lubis, Nina Herlina (2001). Konflik elite birokrasi: biografi politik Bupati R.A.A. Martanagara. Humaniora Utama Press. ISBN 9789799231529. 
  50. ^ Rosidi, Ajip (1984). Manusia Sunda: sebuah esai tentang tokoh-tokoh sastera dan sejarah. Inti Idayu Press. 
  51. ^ Sujana, Anis (2002). Tayuban kalangenan menak Priangan. STSI Press Bandung. ISBN 9789798967146. 
  52. ^ a b Prosiding Seminar Nasional Bahasa dan Budaya Dalam Membangun Karakter Bangsa: 30 September 2014, Kampus Pascasarjana, IHDN Denpasar, Bali. Kementerian Agama, Republik Indonesia, Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar. 2014. ISBN 9786029721799. 
  53. ^ M.Ds, Irma Russanti, S. Pd (2019-03-05). Sejarah Perkembangan Kebaya Sunda. Pantera Publishing. ISBN 9786026013729. 
  54. ^ Alwasilah, Adeng Chaedar; Setiawan, Hawe; Hidayat, Rachmat Taufiq; Rosidi, Ajip (2008). Jejak langkah urang Sunda: 70 tahun Ajip Rosidi. Kiblat. 
  55. ^ Politik jati diri urang Sunda dalam memperkuat pembangunan karakter bangsa. Kerjasama Pusat Kajian Lintas Budaya, Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran dengan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. 2011. ISBN 9786028795326. 
  56. ^ Rosidi, Ajip; Ekajati, Edi Suhardi; Alwasilah, Adeng Chaedar; Rancage, Yayasan Kebudayaan (2006). Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS): prosiding. Yayasan Kebudayaan Rancage. 
  57. ^ Proceedings Seminar Nasional Sastra dan Sejarah Pakuan Pajajaran. Diterbitkan oleh Universitas Pakuan Bogor dan Yayasan Pembangunan Jawa Barat. 1993. 
  58. ^ Indonesia. Badan Musjarawat Kebudajaan Nasional. 1958. 
  59. ^ Sejarah pendidikan daerah Jawa Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. 1984. 
  60. ^ Wiratmaja, Apung S. (2007). Mengenal seni tembang Sunda. Wahana Iptek Bandung. 
  61. ^ Hermawan, Deni (2002). Etnomusikologi: beberapa permasalahan dalam musik Sunda. STSI Press. ISBN 9789798967139. 
  62. ^ Wiradiredja, Yus (2014). Tembang Sunda Cianjuran di Priangan (1834-2009): dari seni kalangenan sampai seni pertunjukan. Sunan Ambu Press. ISBN 9789798967306. 
  63. ^ Daerah, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan (1977). Sejarah Daerah Jawa Barat. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 
  64. ^ Schrieke, Bertram Johannes Otto (1975). Sedikit uraian tentang pranata perdikan. Bhratara. 
  65. ^ Leirissa, R. Z.; Manilet-Ohorella, G. A.; Tangkilisan, Yuda B.; Nasional (Indonesia), Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah (1996). Sejarah perekonomian Indonesia. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 
  66. ^ "Pustaka Ilmiah Universitas Padjadjaran » Blog Archive » Sunda, Sejarah, Budaya dan Politik" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-08-18. 
  67. ^ Suhendar, Endang; Winarni, Yohana Budi (1998). Petani dan konflik agraria. AKATIGA. ISBN 9789798589324. 
  68. ^ Bisri, Cik Hasan; Heryati, Yeti; Rufaidah, Eva (2005). Pergumulan Islam dengan kebudayaan lokal di Tatar Sunda. Kaki Langit. 
  69. ^ Barat, Pemerintah Provinsi Jawa. "Opera Mini Siap Digelar Di Kota Bandung". jabarprov.go.id. Diakses tanggal 2019-08-18. 
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Prabu Geusan Ulun
Raja Sumedang Larang
16081620
Diteruskan oleh:
Kerajaan ditiadakan
Jabatan politik
Didahului oleh:
Posisi baru
Bupati Sumedang
1620–1624
Diteruskan oleh:
Rangga Gede