Kerajaan Kadiri

kerajaan di Asia Tenggara
(Dialihkan dari Bhre Kahuripan)

Kerajaan Kadiri atau Kediri (Jawa: ꦥꦁꦗꦭꦸ ꦏꦣꦶꦫꦶ) disebut juga sebagai Panjalu adalah sebuah kerajaan Hindu-Buddha yang terdapat di Jawa Timur, antara tahun 1042-1222 M. Dan merupakan salah satu kerajaan hasil pembelahan yang juga didirikan Airlangga. Sebelum pembagian kerajaan, Panjalu adalah wilayah dari Medang Kahuripan. Kerajaan ini dipimpin oleh wangsa Isyana dan berpusat di Dahanapura, adalah nama kota kuno di masa lalu yang sekarang menjadi bagian dari Kota Kediri.

Karājāan Pañjalu
Kaḍiri

1042–1222
Kediri Kingdom id.svg
Southeast Asia trade route map XIIcentury.jpg
Kerajaan Janggala dan Panjalu, kemudian bersatu menjadi Kerajaan Kadiri
StatusKerajaan
Ibu kotaDahanapura
(1042-1222)
Bahasa yang umum digunakanJawa Kuno (utama), Kawi (alternatif), Sanskerta
Agama
Hinduisme, Buddhisme, Animisme, Kapitayan
PemerintahanMonarki
Maharaja/Sri 
• 1042-1051
Sri Samarawijaya
• 1051-1112
Sri Jitendrakara
• 1112-1135
Sri Bameswara
• 1135-1159
Jayabaya
• 1159-1171
Sri Sarweswara
• 1171-1181
Sri Aryeswara
• 1181-1182
Sri Gandra
• 1182-1194
Kameswara
• 1194-1222
Kertajaya
• 1292-1293
Jayakatwang
Sejarah 
• Didirikan
1042
• Dibagi oleh Airlangga dari Medang Kahuripan
1042
• Janggala ditaklukkan Jayabaya
1135
• Kakawin Bhāratayuddha selesai ditulis
1157
• Runtuh oleh Pemberontakan Ken Arok
1222
Mata uangKoin emas dan perak
Didahului oleh
Digantikan oleh
Kerajaan Kahuripan
Kerajaan Tumapel
Sekarang bagian dari Indonesia
 Timor Leste

EtimologiSunting

 
Arca Dwarapāla (penjaga gapura) Totok Kerot, Kediri.

Sesungguhnya kota Daha sudah ada sebelum peristiwa pembelahan kerajaan oleh Airlangga. Daha merupakan singkatan dari Dahanapura, yang berarti kota api. Nama ini terdapat dalam prasasti Pamwatan yang dikeluarkan Airlangga tahun 1042. Hal ini sesuai dengan berita dalam Serat Calon Arang, bahwa saat akhir pemerintahan Airlangga, pusat kerajaan sudah tidak lagi berada di Kahuripan, melainkan telah berpindah ke Dahanapura dan menyebut Airlangga sebagai raja Daha.

... 15. Sigra datang pwa sirêng sagara Rupěk, mantas ta sira ngkana, Sang Yogîswara Mpu Baradah. Tan lingěn pwa sirêng (h)ěnu lampah Sang Mahamuni ambramaga. Sigra datang ta sirêng nagarêng Daha, panggih ta sirâtmajanira Sang Maharaja Erlanggya sědang tinangkil...

... 15. Segera tiba di Sagara Rupek, beliau menyeberang di sana, Sang Pendeta Baradah. Tidak diceritakan perjalanan Sang Pendeta di jalan sangat cepat jalannya. Beliau segera tiba di kerajaan Daha, bertemu dengan putranya Sang Maharaja Erlangga yang sedang dihadap...
— (Lontar Calon Arang).

Nama PanjaluSunting

Pada mulanya, nama Pañjalu pembacaan yang tepat sesuai aksara adalah Pangjalu memang lebih sering dipakai daripada nama Kadiri. Hal ini dapat dijumpai dalam prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh raja-raja Panjalu. Bahkan, nama Panjalu juga dikenal sebagai Pu-chia-lung di dalam kronik Tiongkok yang berjudul Ling wai tai ta (1178 M).

 
Arca Wisnu, berasal dari Kediri, abad ke-12 dan ke-13.

Terdapat tiga jenis tanah yang akan digunakan oleh masyarakat di masa lalu saat akan membangun sebuah tempat atau pemukiman, pertama adalah tanah Anupa sebagai tanah subur serta dekat dengan sumber mata air berbagai macam biji-bijian jika ditanam akan tumbuh dengan baik. Kedua adalah tanah Sadarana, tanah yang di sebagian wilayahnya subur dan sebagian yang lainnya kurang subur, selanjutnya yang ketiga adalah Janggala yang merupakan tanah yang kurang subur atau hutan belantara.

Pangjalu berasal dari kata Jalu yang memiliki arti Jantan atau Pria, selanjutnya diberi unsur kata Pang yang adalah Pe, merupakan tambahan sehingga menjadi kalimat Pe-jantan dalam konteks kewilayahan istilah pejantan tersebut bermakna wilayah yang subur serta berdikari atau mandiri. Istilah Kadiri merupakan sinonim kata atau persamaan dari Pangjalu yang bermakna kemandirian. Kasus tersebut mirip dengan nama Majapahit dengan Wilwatikta, dimana wilwa adalah buah maja dan tikta adalah pahit.

Nama KadiriSunting

Nama "Kadiri" atau "Kediri" juga berasal dari kata bahasa Sansekerta, khadri, yang berarti pacé atau mengkudu (Morinda citrifolia). Batang kulit kayu pohon ini menghasilkan zat perwarna ungu kecokelatan yang digunakan dalam pembuatan batik, sementara buahnya dipercaya memiliki khasiat pengobatan. Asal usul kata yang dipandang lebih tepat adalah berasal dari kata "kadiri" dalam Bahasa Jawa kuno yang berarti bisa berdiri sendiri, mandiri, berdiri tegak, berkepribadian, atau berswasembada.

Meninjau dari beberapa prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja Panjalu dapat dilihat frasa yang tertera pada prasasti Ceker dari tahun 1107 Saka (1185 M) yang menyebutkan:

(Brandes 1913:171)

Terjemahan inskripsi: (Sri Maharaja telah kembali kesimanya, atau harapannya di Bhumi Kadiri...")

dalam prasasti Kamulan yang berangka tahun 1116 Saka (1194 M) menyebutkan:

(Brandes 1913:173)

Terjemahan inskripsi: (ketika meninggalkan istananya yang berada di Katang-katang sehingga tetap dapat menjalankan pemerintahan sebagai Sri Maharaja yang bertahta di Bhumi Kadiri...")

Penyebutan nama wilayah Kadiri untuk pertama kali ditemukan di dalam prasasti Harinjing B pada tahun 843 Saka (19 September 921 Masehi) yang dikeluarkan oleh raja Rakai Layang Dyah Tulodong dari kerajaan Medang atau Mataram Kuno.

Terjemahan inskripsi: (kepada śrī mahārāja dikeluarkan setiap Bulan Caitra tanggal 3, kepada Sang Pemutus Perkara bernama asing petugas di Kaḍiri, yang dari Wilang...")

Latar belakangSunting

Runtuhnya kerajaan MedangSunting

Raja kerajaan Medang yang terakhir bernama Dharmawangsa Teguh, saingan berat kedatuan Sriwijaya. Pada tahun 1016 M. Raja Wurawari seorang raja bawahan dari Lwaram sekitar Cepu, Blora (bersekutu dengan Sriwijaya) menyerang istana Wwatan, ibu kota kerajaan Medang, yang tengah mengadakan sebuah pesta pernikahan antara putri dari raja Dharmawangsa Teguh dengan Airlangga, Dharmawangsa Teguh sendiri tewas dalam serangan tersebut sedangkan keponakannya yang bernama Airlangga bersama dengan putri Dharmawangsa berhasil lolos ditemani pembantunya Mpu Narotama.

Airlangga adalah putra pasangan Mahendradatta (saudari Dharmawangsa Teguh) dengan Udayana raja dari kerajaan Bedahulu, Bali. ia lolos bersama putri Dharmawangsa dengan ditemani pembantunya yang bernama Mpu Narotama. Sejak saat itu Airlangga menjalani kehidupan sebagai pertapa di hutan pegunungan (Vana giri) sekarang Wonogiri, selanjutnya menuju Sendang Made, Kudu, Jombang.

Berdirinya kerajaan Medang-KahuripanSunting

Pada saat pelarian dan dalam masa persembunyiannya dengan kalangan pertapa, setelah melewati tiga tahun hidup di dalam hutan pada tahun 1019, Airlangga didatangi utusan rakyat beserta senopati yang masih setia, untuk menyampaikan permintaan agar dirinya mendirikan dan membangkitkan kembali sisa-sisa kejayaan Medang. Atas dukungan dari para pendeta dari ketiga Aliran (Siwa, Buddha, dan Mahabrahmana) ia kemudian membangun kembali sisa-sisa kerajaan Medang yang istananya telah hancur tersebut. Yang lazim dikenal sekarang dengan kerajaan Medang Koripan atau Medang Kahuripan dengan ibukota baru yang bernama Watan Mas.[1]

15. Kemudian dalam tahun penting yaitu 941 tahun saka, tanggal 13 paro terang, bulan magha, pada hari kamis menghadaplah para abdi dan para Brahmana terpandang kepada raja di raja Erlangga, menunduk hormat disertai harapan tulus. Mereka dengan penuh ketulusan mengajukan permohonan kepadanya: “perintahlah negara ini sampai batas-batas yang paling jauh ! ...”

(Prasasti Pucangan) (1041 M)

Ibu kota baru bernama Watan Mas terletak di dekat sekitar Gunung Penanggungan. Pada mulanya wilayah kerajaan yang diperintah Airlangga hanya meliputi daerah Gunung Penanggungan dan sekitarnya, karena banyak daerah-daerah bawahan kerajaan Medang yang membebaskan diri setelah keruntuhannya. Baru setelah kedatuan Sriwijaya dikalahkan Rajendra Coladewa, raja Colamandala dari kerajaan Chola, India di tahun 1025, Airlangga bisa dengan leluasa menegakkan dan membangun kembali kejayaan wangsa Isyana.

Sejak tahun 1029, peperangan demi peperangan dijalani Airlangga. Satu demi satu kerajaan-kerajaan di Jawa Timur dapat ditaklukkannya. Periode antara tahun 1029 sampai dengan tahun 1037 adalah periode penaklukkan yang dilakukan oleh Airlangga terhadap musuh-musuhnya baik yang berada wilayah barat, timur, maupun selatan. Berita pada prasasti pucangan memberikan keterangan tentang penyerangan-penyerangan yang dilakukan oleh Airlangga atas musuh-musuhnya tersebut. Namun demikian diantara tahun-tahun tersebut bukan berarti istana Airlangga telah aman dari serangan musuh, keberhasilannya dalam penaklukkannya ternyata juga diselingi dengan kekalahan bahkan pelarian. Pada tahun 1031 (953 Saka) Airlangga kehilangan kota Watan Mas karena diserang oleh raja wanita[butuh rujukan] yang kuat bagai raksasa. Raja wanita itu adalah Ratu Dyah Tulodong, yang merupakan salah satu raja kerajaan Lodoyong (sekarang wilayah Tulungagung, Jawa Timur). Dyah Tulodong digambarkan sebagai ratu[butuh rujukan] yang memiliki kekuatan luar biasa. Salah satu peristiwa sejarah penting adalah pertempuran antara bala tentara Airlangga yang berhasil dikalahkan oleh Dyah Tulodong. Pertempuran tersebut terjadi lantaran Dyah Tulodong berusaha membendung ekspansi Airlangga yang waktu itu sudah menguasai wilayah-wilayah di sekitar kerajaan Lodoyong. Bahkan di beberapa riwayat, diceritakan pasukan khusus yang dibawa Ratu Dyah Tulodong merupakan prajurit-prajurit wanita pilihan, pasukan ini bahkan berhasil memukul mundur pasukan Airlangga dari pusat kota kerajaannya "Watan Mas" di dekat Gunung Penanggungan hingga harus pergi ke Patakan (Sambeng, Lamongan, Jawa Timur).

Tetapi satu tahun kemudian di penghujung tahun 1032 (954 Saka), dari arah utara, pasukan Airlangga bergerak ke selatan menuju Lodoyong. Dyah Tulodong berhasil dikalahkan oleh Airlangga lewat pertempuran sengit. Tidak lama kemudian Raja Wurawari pun dapat dihancurkannya, sekaligus membalaskan dendam Airlangga dan wangsa Isyana. Sejak saat itu wilayah kerajaan Airlangga mencakup hampir seluruh Jawa Timur.

Ibu Kota KahuripanSunting

Tahun 1032, menurut prasasti Terep, Airlangga kemudian membangun ibu kota baru bernama Kahuripan yang berpusat di daerah Kabupaten Sidoarjo sekarang.

Istana MadanderSunting

Di tahun 1037, dikeluarkan prasasti Kusambyan memuat informasi mengenai keraton Madander yang diperkirakan sebagai lokasi dari istana Airlangga yang terletak di sekitar Kabupaten Jombang.

Ibu Kota DahanapuraSunting

Pada tahun 1042, berdasarkan prasasti Pamwatan dan Serat Calon Arang, di akhir masa pemerintahannya, Airlangga kemudian memindahkan ibukotanya ke Daha, Kota Kediri.

Berdirinya kerajaan PanjaluSunting

Pembagian kerajaan oleh AirlanggaSunting

Menurut prasasti Turun Hyang (1044 M), pada akhir pemerintahannya tahun 1042, Airlangga berhadapan dengan masalah persaingan perebutan takhta antara kedua putranya, raja yang sebenarnya adalah putri Airlangga. Nama asli putri tersebut dalam prasasti Cane (1021 M) sampai prasasti Pasar Legi (1043 M) adalah Sanggramawijaya Tunggadewi, yang menjadi putri mahkota sekaligus pewaris takhta istana Medang Kahuripan, namun ia memilih untuk mengundurkan diri dan menjalani kehidupan suci sebagai pertapa biksuni (pendeta Buddha) dengan bergelar Dewi Kili Suci. Kemudian di tahun yang sama, berdasarkan prasasti Pamwatan (1042 M) dan Serat Calon Arang, Airlangga memindahkan ibu kotanya dan mendirikan kota Dahanapura, di wilayah Panjalu atau Kadiri.

Menurut Kitab Nagarakretagama, Airlangga sudah berpindah dan memerintah dari Daha wilayah Panjalu atau Kadiri.[1]

... 1. Nahan tatwanikaɳ kamal/ widita deniɳ sampradaya sthiti, mwaɳ çri pañjalunatha riɳ daha te- (122a) wekniɳ yawabhumy/ apalih, çri airlanghya sirandani ryyasihiran/ panak/ ri saɳ rwa prabhu, ...

... 1. Demikian sejarah Kamal menurut tutur yang dipercaya, Dan Sri Nata Panjalu di Daha, waktu bumi Jawa dibelah, Karena cinta raja Airlangga kepada dua puteranya, ...
— (Kakawin Nagarakretagama, Pupuh 68).

Menurut Serat Calon Arang, Airlangga kemudian bingung memilih penggantinya mengingat dirinya juga putra dari raja Bali, maka ia pun berniat menempatkan salah satu putranya di pulau itu. Gurunya yang bernama Mpu Bharada berangkat ke Bali untuk mengajukan niat tersebut namun mengalami kegagalan. Fakta sejarah menunjukkan Udayana digantikan putra keduanya yang bernama Marakata Pangkaja sebagai raja Bali, dan Marakata selanjutnya digantikan adiknya yaitu Anak Wungsu.

Sebelum turun takhta, pada akhir November 1042, atas saran penasihat kerajaan sekaligus gurunya Mpu Bharada, Airlangga terpaksa membagi kerajaannya menjadi dua, bagian barat yaitu wilayah Panjalu beribukota di Daha diberikan kepada Sri Samarawijaya, kemudian wilayah bagian timur yaitu Janggala beribukota di Kahuripan diberikan kepada Mapanji Garasakan. Setelah turun takhta, Airlangga menjalani hidup sebagai pertapa sampai meninggal sekitar tahun 1049. Menurut Serat Calon Arang ia kemudian bergelar Resi Erlangga Jatiningrat, sedangkan menurut Babad Tanah Jawi ia bergelar Resi Gentayu. Namun yang paling dapat dipercaya adalah prasasti Gandhakuti (1042) yang menyebut gelar kependetaan Airlangga adalah Resi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana.

Menurut prasasti Pasar Legi (1043 M), baik Airlangga maupun Sanggramawijaya Tunggadewi masih aktif menjalankan pemerintahan, mengikuti penyebutan gelar kependetaan Airlangga yaitu Resi Aji yang juga berarti sebagai raja pendeta. Hal ini dapat ditafsirkan bahwa Airlangga dan putrinya masih memegang kekuasaan tertinggi sekalipun hidupnya sudah terbagi dengan kegiatan non-duniawi.

Perkembangan kerajaanSunting

Arca Buddha Vajrasattva zaman Kadiri, abad X/XI, koleksi Museum für Indische Kunst, Berlin-Dahlem, Jerman.
Candi Penataran merupakan candi yang berumur empat abad karena dibangun dan dikembangkan oleh beberapa kerajaan sekaligus, mulai dari Kerajaan Kediri hingga Majapahit.
Wayang Kulit wayang panji brajanata―pangeran Kerajaan Kadiri.

Masa-masa awal kerajaan Kadiri setelah peristiwa pembelahan tidak banyak diketahui. prasasti Turun Hyang (1044 M) yang diterbitkan kerajaan Janggala hanya memberitakan adanya perang saudara antara kedua kerajaan sepeninggal raja Airlangga, sejarah kerajaan Kadiri mulai diketahui dengan adanya prasasti Mataji dan prasasti Banjaran. Setelah raja Sri Jitendrakara diketahui terdapat raja bernama Sri Bameswara berdasarkan prasasti Karanggayam. Selanjutnya dalam prasasti Hantang raja yang memerintah sudah berganti Sri Jayabhaya. Panjalu di bawah pemerintahan Sri Jayabhaya berhasil menaklukkan kerajaan Janggala dengan semboyannya yang terkenal di dalam prasasti Ngantang (1135 M), yaitu Pangjalu Jayati, yang berarti Kadiri Menang.

Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya inilah, kerajaan Kadiri mengalami masa kejayaannya. Wilayah kerajaan ini meliputi seluruh Jawa dan beberapa pulau di Nusantara, bahkan sampai mengalahkan pengaruh kerajaan Sriwijaya di Sumatra. Hal ini diperkuat dalam kronik Tiongkok berjudul Ling wai tai ta karya Chou Ku-fei tahun 1178, dijelaskan bahwa pada masa itu negeri paling kaya selain Tiongkok secara berurutan adalah Arab, Jawa dan Sumatra. Saat itu yang berkuasa di jazirah Arab adalah Bani Abbasiyah, di Jawa ada Panjalu, sedangkan Sumatra dikuasai oleh Sriwijaya.[2] Pada prasasti Talan yang berangka tahun 1136 M. (sisi depan) dan 1039 M. (sisi belakang). Memuat anugerah dari raja Jayabhaya kepada warga desa Talan (termasuk wilayah Panumbangan) yang sejak dahulu menyimpan prasasti ripta (lontar) dari masa leluhurnya wangsa Isyana yaitu Airlangga. Raja Jayabaya kemudian meneguhkan kembali prasasti ripta tersebut ke linggopala atau prasasti batu dengan memberi cap kerajaan bersimbol Garuda Mukha, serta menambahkan anugerah lain kepada warga Talan karena telah berbakti kepada raja Airlangga yang memakai Garuda Mukha sebagai cap dari kerajaannya. Raja Jayabaya sendiri mengklaim bahwa raja Airlangga adalah nenek moyangnya.

Di dalam prasasti Jaring dari masa pemerintahan Sri Gandra untuk pertama kalinya memuat nama - nama hewan yang dipakai sebagai nama depan para pejabat kerajaan,[3] misalnya Menjangan Puguh, Lembu Agra, Kebo Waruga, Tikus Jinada dan Macan Kuning. Nama kepangkatan menjangan, lembu, kebo, macan, gajah, tikus bisa menunjukkan tinggi rendahnya pangkat seseorang dalam istana. Nama-nama hewan untuk kepangkatan istana juga masih terus berlanjut di masa kerajaan Singhasari dan Majapahit setelah Kadiri runtuh. Adapun isi prasasti Jaring berupa pengabulan permohonan penduduk desa Jaring oleh Sri Gandra melalui Senapati Sarwwajala yang dapat disamakan dengan laksamana atau (panglima angkatan laut), menunjukkan kemajuan Kediri dalam bidang maritim. Sehingga dapat diketahui bahwa pada masa raja Sri Gandra, pejabat kemiliteran mengalami perluasan peran tidak hanya sebatas menangani urusan perang atau kemiliteran, tetapi juga urusan sipil masyarakat.

Pada masa pemerintahan Sri Kameswara seorang pujangga bernama Mpu Dharmaja menciptakan mahakarya Kakawin Smaradahana (Asmaradahana) yang didedikasikan untuk Sri Kameswara dan permaisurinya Sri Kirana Ratu, putri dari kerajaan Janggala. Kakawin Smaradahana juga mengisahkan terbakarnya dewa Kamajaya dan dewi Ratih, menjelang kelahiran Ganesha. Pasangan dewa-dewi tersebut kemudian menitis dalam diri Sri Kameswara dan permaisurinya yang bernama Sri Kirana, dan dianggap merupakan inspirasi awal yang memunculkan cerita Panji, kisah cinta yang terinspirasi dari raja Kameswara dengan Sri Kirana. cerita Panji terfokus pada peyualangan romantika tokoh Panji dalam menemukan kekasih hatinya yaitu Candra Kirana.

Cerita Panji mengalami perkembangan pesat dan tersebar luas pada zaman Majapahit. Cerita Panji menggambarkan kisah percintaan dan peperangan dari dua kerajaan, yaitu Jenggala dan Panjalu. Cerita Panji dengan tokoh sentral Inu Kertapati dan Galuh Chandrakirana memiliki banyak versi dan tersebar hingga ke wilayah Asia Tenggara. Selain Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sumatera, kisah Panji juga menyebar hingga ke Thailand, Kamboja, Laos, Filipina, Malaysia, Vietnam dan Myanmar.[4] Tokoh Raden Inu Kertapati diadaptasi dalam karya sastra dan drama tari dengan nama yang bervariasi, seperti Inao/อิเหนา (Siam), Inav/Eynao (Khmer), atau E-naung (Birma), sementara Dewi Sekartaji dikenal sebagai Bussaba/Bessaba. Di Sulawesi, ada cerita panji yang ditulis dalam bahasa Makassar, yang disebut Hikayat Cekele (Bahasa Melayu: Cekel).[5]

Penemuan Situs Tondowongso awal tahun 2007 diyakini sebagai peninggalan kerajaan Panjalu juga bersama dengan Situs Adan-Adan yang memiliki bermacam temuan benda-benda bersejarah seperti batuan fondasi candi, makara, sistem pertirtaan (pengairan) diduga embung, pecahan keramik dan beberapa arca peninggalan era Kerajaan Panjalu dan Tumapel yang terletak di Desa Adan-adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, diharapkan dapat membantu memberikan lebih banyak informasi tentang kerajaan tersebut.

EkonomiSunting

Perekonomian Kerajaan Kadiri sangat bergantung pada perdagangan luar negeri. Ekspor Jawa antara lain gading, cula badak, mutiara, kayu wangi seperti kayu cendana, adas, cengkih, pala, sejenis belati yang disebut keris, belerang, kesumba, nuri putih, benang sulam, kapas, kain kepar, dan lain-lain, diproduksi di daerah-daerah yang menjadi vasal Kediri, seperti cengkih di Maluku dan kayu cendana di Pulau Timor. Lada adalah target utama kapal dagang Cina. Di sisi lain, impor dari Tiongkok termasuk piring emas dan perak, pernis, seladon dan perlengkapan porselen putih, dan bahan kimia seperti sinabar, tawas, dan arsen sulfida yang digunakan dalam produksi pencelupan dan kerajinan tangan. Selain itu, meskipun memiliki mata uangnya sendiri, sejumlah besar koin dari dinasti Song dibawa masuk ke negara tersebut, yang menyebabkan berkembangnya ekonomi moneter di Kediri.

Arca Ganesha dan pecahan candi di Karesidenan Kediri tahun 1866-1867
Situs Tondowongso di Kediri tahun 2007

Menurut sumber berita dari Tiongkok, pekerjaan utama orang Panjalu berkisar pada pertanian (bercocok tanam padi), peternakan (sapi, babi hutan, unggas), dan perdagangan rempah-rempah. Daha, ibu kota Kerajaan Panjalu, terletak di pedalaman, dekat lembah sungai Brantas yang subur. Dari masa pemerintahan raja sebelumnya Airlangga, Panjalu mewarisi sistem irigasi, termasuk bendungan Waringin Sapta. Perekonomian Panjalu sebagian dimonetisasi, dengan koin perak yang dikeluarkan oleh istana.

Pada periode-periode selanjutnya, perekonomian Kadiri tumbuh dengan lebih bertumpu pada perdagangan, khususnya perdagangan rempah-rempah. Hal ini dihasilkan dari pengembangan angkatan laut Kediri (Panjalu), memberi mereka kesempatan untuk mengontrol jalur perdagangan rempah-rempah ke pulau-pulau timur. Panjalu mengumpulkan rempah-rempah dari anak sungai di Kalimantan bagian selatan dan Kepulauan Maluku. Orang India dan Asia Tenggara kemudian mengangkut rempah-rempah ke pasar Mediterania dan Tiongkok melalui Rute Rempah-rempah yang menghubungkan rantai pelabuhan dari Samudra Hindia ke Cina selatan.

Pertanian, peternakan, dan perdagangan berkembang pesat dan mendapat perhatian penuh dari pemerintah. Dia melaporkan bahwa peternakan ulat sutera untuk memproduksi pakaian sutra dan katun telah diadopsi oleh orang Jawa pada waktu itu. Tidak ada hukuman fisik (penjara atau penyiksaan) bagi para penjahat. Sebaliknya, orang yang melakukan perbuatan melawan hukum terpaksa membayar denda berupa emas, kecuali pencuri dan perampok yang dieksekusi mati.

Dalam adat perkawinan, keluarga mempelai wanita menerima mas kawin berupa emas dari mempelai pria. Alih-alih mengembangkan pengobatan medis, masyarakat Panjalu mengandalkan doa kepada dewa dan Buddha. Pada bulan ke-5 tahun ini, festival air dirayakan dengan orang-orang yang bepergian dengan perahu di sepanjang sungai untuk merayakannya. Pada bulan ke-10, festival lain diadakan di pegunungan. Orang-orang akan berkumpul di sana untuk bersenang-senang dan memainkan berbagai musik dengan instrumen seperti seruling, gendang, dan gambang kayu (bentuk gamelan kuno).

Hubungan dengan kekuatan regionalSunting

 
Sriwijaya dan Panjalu/Kediri sekitar abad ke 12 hingga awal abad ke-13

Kerajaan Kadiri yang berkuasa di Jawa bersama dengan Kedatuan Sriwijaya yang berbasis di Sumatera sepanjang abad ke 12 hingga ke-13, tampaknya telah mempertahankan hubungan perdagangan dengan Tiongkok dan sampai batas tertentu dengan India. Catatan Cina mengidentifikasi kerajaan ini sebagai Tsao-wa atau Chao-wa (Jawa), sejumlah catatan Tiongkok menandakan bahwa penjelajah dan pedagang Cina sering mengunjungi kerajaan ini. Hubungan dengan India adalah hubungan budaya, karena sejumlah Rakawi (penyair atau sarjana) Jawa menulis literatur yang diilhami oleh mitologi, kepercayaan, dan epos Hindu seperti Mahabharata dan Ramayana. Pada abad ke-11, hegemoni Sriwijaya di kepulauan Indonesia mulai menurun, ditandai dengan invasi Rajendra Chola dari Kerajaan Chola ke Semenanjung Malaya dan Sumatera. Melemahnya hegemoni Sriwijaya telah memungkinkan terbentuknya kerajaan-kerajaan regional, seperti Panjalu, yang berbasis pertanian daripada perdagangan. Belakangan Kerajaan Kadiri berhasil menguasai jalur perdagangan rempah-rempah ke Maluku.[6]

Menurut berita Cina, dan kitab Ling-wai-tai-ta diterangkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari orang-orang memakai kain sampai di bawah lutut. Rambutnya diurai. Rumah-rumah mereka bersih dan teratur, lantainya ubin yang berwarna kuning dan hijau. Raja mengenakan pakaian sutra, sepatu kulit dan perhiasan emas berukir. Rambutnya disanggul tinggi-tinggi di atas kepala. Setiap hari, dia akan menerima pejabat negara, dan menjalankan kerajaannya, di atas takhta persegi. Setelah pertemuan, pejabat negara akan membungkuk tiga kali kepada raja. Jika raja bepergian ke luar istana, raja naik gajah atau kereta yang diiringi oleh 500 sampai 700 tentara dan pejabat, sementara rakyatnya, orang-orang Panjalu, bersujud saat raja lewat.

Tiga pangeran ditunjuk sebagai asisten raja. Ada pejabat bergelar simajie dan luojielian (rakryan). Mereka mengelola urusan negara bersama-sama seperti menteri utama di pusat, tetapi tidak memiliki gaji tetap, dihadiahi hasil bumi asli dan barang-barang lainnya. Di bawah mereka ada tiga ratus atau lebih juru tulis yang didelegasikan administrasi kota, perbendaharaan negara, lumbung, dan tentara. Para komandan militer dibayar dua puluh tael emas setahun. Tentara memiliki 30.000 tentara yang juga dibayar dengan jumlah emas yang bervariasi setiap tahun. Adat di negeri ini adalah melangsungkan akad nikah tanpa menggunakan mak comblang. Pihak keluarga laki-laki cukup memberikan hadiah berupa emas kepada keluarga pihak perempuan untuk dinikahkan. Mereka tidak menetapkan hukuman untuk sebagian besar kejahatan. Pihak yang bersalah hanya menebus dirinya dengan membayar denda dalam bentuk emas yang besarnya tergantung dari keseriusan kejahatannya. Hanya perampokan yang dihukum mati.

Ada banyak monyet di pegunungan, dan mereka tidak takut pada manusia. Saat orang memanggil mereka dengan suara "xiao, xiao" (yaitu, bersiul), mereka langsung keluar. Saat buah-buahan dilemparkan ke mereka, monyet terbesar keluar lebih dulu. Penduduk setempat menyebutnya Raja Kera. Setelah selesai makan, monyet lainnya memakan apa yang ditinggalkannya. Di negeri ini terdapat kebun bambu tempat diadakannya sabung ayam dan adu babi hutan. Rumah mereka megah dan dihiasi dengan emas dan batu giok. Pedagang yang berkunjung ditempatkan di wisma tamu. Makanan mereka kaya dan memperhatikan kebersihan. Penduduk setempat membuat rambut mereka terurai dan tidak terikat; pakaian mereka dililitkan di dada dan sampai ke lutut. Saat sakit, mereka tidak minum obat tetapi hanya berdoa kepada dewa dan Buddha. Orang-orang telah memberikan nama tetapi bukan nama keluarga (marga). Mereka terburu nafsu dan suka berperang dan memiliki permusuhan jangka panjang dengan Sanfoqi (Sriwijaya); kedua negara sering saling menyerang. [7]

Masih menurut Zhou Ku-fei bahwa Kerajaan Panjalu kekuasaannya sangat luas dan kaya raya, menurutnya di dunia saat itu ada 3 kerajaan kaya; Kekhalifahan Abbasiyah yang berkuasa di Arab, Kerajaan Panjalu yang menguasai Bagian Timur Nusantara dan Sriwijaya yang menguasai bagian barat Nusantara.[8]

 
Wayang Kulit boneka Dewi Ragil Kuning―putri Kerajaan Kadiri.

Chau Ju-Kua, seorang pegawai resmi Dinasti Song menuliskan dalam bukunya Zhu-fan-zhi, menggambarkan bahwa di kepulauan Asia Tenggara ada dua kerajaan yang kuat dan kaya: Sriwijaya dan Jawa (Panjalu). Di Jawa ia menemukan bahwa orang-orang menganut dua agama: Buddha dan agama Brahmana (Hindu). Orang Jawa adalah pemberani dan pemarah, mereka berani untuk melawan. Waktu luangnya dipergunakan untuk mengadu binatang, hiburan favoritnya adalah sabung ayam dan adu babi. Mata uangnya dibuat dari campuran tembaga, perak, dan timah. Buku Chu-fan-chi menyebut bahwa maharaja jawa mempunyai wilayah jajahan: Pai-hua-yuan (Pacitan), Ma-tung (Medang), Ta-pen (Tumapel, Malang), Hi-ning (Dieng), Jung-ya-lu (Hujung Galuh, sekarang Surabaya), Tung-ki (Jenggi, Papua Barat), Ta-kang (Sumba), Huang-ma-chu (Papua), Ma-li (Bali), Kulun (Gurun, mungkin Gorong atau Sorong di Papua Barat atau Nusa Tenggara), Tan-jung-wu-lo (Tanjungpura di Borneo), Ti-wu (Timor), Pingya-i (Banggai di Sulawesi), dan Wu-nu-ku (Maluku).

Mengenai Sriwijaya, Chou-Ju-Kua melaporkan bahwa Kien-pi (Kampe, di Sumatera bagian utara) dengan pemberontakan bersenjatanya telah membebaskan diri dari pengaruh Sriwijaya, dan menobatkan raja mereka sendiri. Nasib yang sama menimpa beberapa koloni Sriwijaya di Semenanjung Malaya yang membebaskan diri dari dominasi Sriwijaya. Namun Sriwijaya masih negara terkuat dan terkaya di bagian barat Nusantara. Koloni Sriwijaya adalah: Pong-fong (Pahang), Tong-ya-nong (Trengganu), Ling-ya-ssi-kia (Langkasuka), Kilan-tan (Kelantan), Fo-lo-an, Ji-lo-t' ing (Jelutong), Ts'ien-mai (?), Pa-t'a (Paka), Tan-ma-ling (Tambralinga, Ligor atau Nakhon Si Thammarat), Kia-lo-hi (Grahi, bahasa Melayu bagian utara semenanjung), Pa-lin-fong (Palembang), Sin-t'o (Sunda), Lan-wu-li (Lamuri di Aceh), dan Si-lan. Menurut sumber ini, pada awal abad ke-13 Sriwijaya masih menguasai Sumatera, Semenanjung Malaya, dan Jawa bagian barat (Sunda).

Mengenai Sunda, buku itu merinci bahwa pelabuhan Sunda (Sunda Kelapa) sangat bagus dan letaknya strategis, dan lada dari Sunda termasuk yang kualitas terbaik. Orang-orang bekerja di pertanian; rumah mereka dibangun di atas tiang kayu (rumah panggung). Namun negara itu penuh dengan perampok dan pencuri.

KeruntuhanSunting

Kerajaan Kadiri runtuh pada masa pemerintahan raja Kertajaya, dan dikisahkan dalam Kitab Pararaton dan Kakawin Nagarakretagama.

Pada tahun 1222 raja Srengga atau Kertajaya sedang berselisih dengan kaum Brahmana penyebabnya karena ia sang raja berkeinginan untuk disembah seperti dewa. Para pendeta dari ketiga Aliran yang menolak dan dalam kondisi terpojok kemudian pergi dari ibu kota dan meminta perlindungan kepada Ken Angrok akuwu Tumapel. Kebetulan Ken Arok juga bercita-cita memerdekakan Tumapel yang merupakan daerah bawahan Kadiri.

Puncak peperangan antara Kadiri dan Tumapel terjadi dekat Desa Ganter (Genter), di wilayah timur Kadiri. Tatkala pasukan Ken Arok berhasil menghancurkan pasukan Kadiri. Kertajaya sendiri melarikan diri dan bersembunyi naik menuju kahyangan atau meninggal dunia.

Kitab kakawin Nagarakretagama juga mengisahkan secara singkat berita kekalahan Kertajaya tersebut. Disebutkan bahwa Kertajaya melarikan diri dan bersembunyi dalam dewalaya (alam tempat dewa). Kedua naskah tersebut sama-sama memberitakan tempat pelarian Kertajaya adalah alam dewata. Kemungkinan yang dimaksud adalah Kertajaya bersembunyi di dalam sebuah candi pemujaan, atau Kertajaya tewas dan pergi ke alam dewa.

Dengan demikian, berakhirlah masa Kerajaan Kadiri, yang sejak saat itu kemudian menjadi bawahan Tumapel atau Singhasari. Setelah Ken Arok mengalahkan Kertajaya, Kadiri menjadi suatu wilayah di bawah kekuasaan Tumapel. Ken Arok mengangkat Jayasabha, putra Kertajaya sebagai bupati Kadiri. Tahun 1258 (1180 Saka) Jayasabha digantikan putranya yang bernama Sastrajaya. Pada tahun 1271 (1193 Saka) Sastrajaya digantikan putranya, yaitu Jayakatwang.

... 2. Tahun Saka Laut Manusia (1144) itulah sirnanya raja Kertajaya. Atas perintah Siwaputera, Jayasaba berganti jadi raja. Tahun Saka delapan satu satu (1180) Sastrajaya raja Kediri. Tahun tiga sembilan Siwa Raja (1193) Jayakatwang raja terakhir...
— (Kakawin Nagarakretagama, Pupuh 44).

Pada tahun 1292, raja bawahan sekaligus besan dari raja yaitu Jayakatwang memberontak terhadap Singhasari yang dipimpin oleh raja Kertanagara, karena dendam masa lalu dimana leluhurnya Kertajaya dikalahkan oleh Ken Arok. Setelah berhasil membunuh Kertanagara, Jayakatwang membangun kembali Kerajaan leluhurnya Kadiri, namun hanya bertahan selama satu tahun dikarenakan serangan gabungan yang dilancarkan oleh pasukan Kekaisaran Mongol dan pasukan menantu Kertanagara, Raden Wijaya pendiri Majapahit.

Daftar raja-rajaSunting

Penguasa Panjalu-Kadiri

Masa pemerintahan Sri/Maharaja Prasasti dan berita
1042-1051 Sri Samarawijaya Dharmasuparnawahana Teguh Uttunggadewa
(Sri Samarawijaya)
Disebutkan dalam prasasti Pucangan (1041). Adalah raja kerajaan Kadiri setelah peristiwa pembagian kerajaan oleh Airlangga kepada kedua putranya.
1051-1112 Sri Jitendra Kara Wuryyawiryya Parakrama Bhakta
(Sri Jitendrakara)
Disebutkan dalam prasasti Mataji (1051).
1112-1135 Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Bameswara Sakalabhuwana Tustikarana Sarwaniwariwirya Parakrama Digjaya Uttunggadewa
(Sri Bameswara)
prasasti Pandlegan I (1117), prasasti Panumbangan, prasasti Geneng (1128), prasasti Tangkilan (1130), prasasti Besole (1132), prasasti Pagiliran (1134), prasasti Bameswara (1135), prasasti Karanggayam.
1135-1159 Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa
(Jayabaya)
Disebutkan dalam prasasti Hantang (1135), Jepun (1144) dan Talan (1136). Janggala ditaklukkan dan bersatu kembali dengan Panjalu.
1159-1171 Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Sarweswara Janardanawatara Wijaya Agrajasama Singhadani Waryawirya Parakrama Digjaya Uttunggadewa
(Sri Sarweswara)
Disebutkan dalam prasasti Kahyunan dan Padlegan II (1159).
1171-1181 Sri Maharaja Rake Hino Sri Aryeswara Madhusudanawatara Arijamuka Sakalabhuwanaritiniwiryya Parakrama Uttunggadewa
(Sri Aryeswara)
Disebutkan dalam prasasti Waleri dan Angin (1171).
1181-1182 Sri Maharaja Koncaryadipa Handabhuwanapadalaka Parakrama Anindita Digjaya Uttunggadewa Sri Gandra
(Sri Gandra)
Disebutkan dalam prasasti Jaring.
1182-1194 Sri Maharaja Rake Sirikan Sri Kameswara Sakalabhuwanatustikarana Sarwaniwaryyawiryya Parakrama Digjaya Uttunggadewa
(Kameswara)
Disebutkan dalam prasasti Semanding (1182) dan prasasti Ceker (1185).
1194-1222 Paduka Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa
(Kertajaya)
Disebutkan dalam prasasti Sapu Angin (1190), prasasti Galunggung (1194), prasasti Kamulan (1194), prasasti Palah (1197), prasasti Biri, prasasti Lawadan (1205), Kakawin Nagarakretagama (1365), Gugur tahun 1144 Saka (1222).
Pemberontakan Jayakatwang dari Gelang-gelang atau Gegelang yang menghidupkan kembali dinasti kedua Kadiri yang berumur pendek.
1292-1293 Sri Jayakatwang
(Jayakatwang)
Disebutkan dalam Kakawin Nagarakretagama (1365).

Situs budaya KadiriSunting

CandiSunting

 
Candi Penataran
  • Candi Penataran, Candi termegah dan terluas di Jawa Timur ini terletak di lereng barat daya Gunung Kelud, di sebelah utara Blitar, diperkirakan dibangun pada masa Raja Srengga dari Kerajaan Kadiri

Karya SastraSunting

PrasastiSunting

SitusSunting

Lihat pulaSunting

Daftar pustakaSunting

  • H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
  • Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
  • Poesponegoro & Notosusanto (ed.). 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka.
Didahului oleh:
Medang Kahuripan
Kerajaan Hindu-Buddha
1042 - 1222
Diteruskan oleh:
Tumapel

ReferensiSunting

  1. ^ a b Wignjosoebroto, Wiranto. MENCARI JEJAK KAHURIPAN; Kerajaan Hindu Tertua dan Terlama di Tanah Jawa. Penerbit K-Media. ISBN 978-602-6287-19-9. 
  2. ^ https://storymaps.arcgis.com/stories/39bce63e4e0642d3abce6c24db470760
  3. ^ https://www.kedirikota.go.id/p/dalamberita/6351/silsilah-raja-raja-kerajaan-kediri-dan-asal-usulnya
  4. ^ https://www.museumnasional.or.id/panji-cerita-asli-indonesia-1836
  5. ^ Dr. Cense (1889). Band. Tijdschr. V. Ind. Taal, Land-en Volkenkunde 32, h. 424; Poerbatjaraka (1968). Tjerita Pandji dalam Perbandingan. h. 410; Nugroho, Irawan Djoko (2011). Majapahit Peradaban Maritim. h. 42 dan 355.
  6. ^ https://www.britannica.com/place/Kadiri
  7. ^ https://storymaps.arcgis.com/stories/39bce63e4e0642d3abce6c24db470760
  8. ^ https://repositori.kemdikbud.go.id/18404/