Anies Baswedan

Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta dari 2017 sampai sekarang

H. Anies Rasyid Baswedan, S.E., M.P.P., Ph.D. (lahir 7 Mei 1969) adalah Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang menjabat sejak 16 Oktober 2017, menggantikan posisi Djarot Saiful Hidayat.[1] Ia dikenal sebagai pencetus Indonesia Mengajar, sebuah gerakan bagi generasi muda untuk direkrut sebagai pengajar muda di Sekolah Dasar dan masyarakat selama satu tahun. Anies merupakan cucu dari pahlawan nasional Abdurrahman Baswedan.

Anies Baswedan
Gubernur Anies.jpg
Potret resmi Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta, 2017
Gubernur DKI Jakarta ke-17
Mulai menjabat
16 Oktober 2017
Wakil GubernurSandiaga Uno
(2017–2018)
Ahmad Riza Patria
(sejak 2020)
Pendahulu
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia ke-27
Masa jabatan
27 Oktober 2014 – 27 Juli 2016
PresidenJoko Widodo
PendahuluMohammad Nuh
PenggantiMuhadjir Effendy
Rektor Universitas Paramadina ke-2
Masa jabatan
15 Mei 2007 – 6 Januari 2015
Pendahulu
PenggantiFirmanzah
Informasi pribadi
Lahir
Anies Rasyid Baswedan

7 Mei 1969 (umur 53)
Kuningan, Jawa Barat, Indonesia
Partai politikIndependen
Suami/istriFery Farhati Ganis
Hubungan
Anak
  • Mutiara Annisa Baswedan
  • Mikail Azizi Baswedan
  • Kaisar Hakam Baswedan
  • Ismail Hakim Baswedan
Orang tua
Alma mater
Pekerjaan
Tanda tangan
Situs webwww.aniesbaswedan.com

Di bidang akademisi, Anies pernah menjabat Rektor Universitas Paramadina selama delapan tahun.[2] Pada 27 Oktober 2014, ia diberikan mandat oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi untuk menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di dalam kabinetnya. Masa tugasnya berakhir ketika Jokowi menunjuk Muhadjir Effendy sebagai pengganti Anies pada tanggal 27 Juli 2016.[3] Karier politiknya justru semakin cemerlang setelah Partai Gerakan Indonesia Raya dan Partai Keadilan Sejahtera mengusungnya sebagai calon Gubernur DKI Jakarta dan berpasangan dengan Sandiaga Uno dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.[4]

Kehidupan pribadi

 
Anies Baswedan, bersama saudara kandungnya, Abdillah Rasyid Baswedan, dan ibunya, Aliyah Rasyid Baswedan, 2019

Anies Baswedan dilahirkan di Kuningan, Jawa Barat pada tanggal 7 Mei 1969. Dalam keluarga, ia mempunyai dua saudara kandung yang menjadi adik-adiknya, diantaranya Ridwan Baswedan dan Abdillah Baswedan. Dia dibesarkan di Yogyakarta dan orang tuanya bekerja sebagai akademisi. Ayahnya, Rasyid Baswedan adalah mantan dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, sedangkan ibunya, Aliyah Rasyid adalah guru besar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta. Anies merupakan tokoh berketurunan Arab, sekaligus cucu dari Abdurrahman Baswedan, seorang jurnalis, diplomat, dan pejuang kemerdekaan Indonesia.

 
Keluarga inti Anies Baswedan, 2013

Anies menikah dengan Fery Farhati Ganis pada tanggal 11 Mei 1996. Pasangan ini dikaruniai empat orang anak, diantaranya Mutiara Annisa, Mikail Azizi, Kaisar Hakam, dan Ismail Hakim.[2] Ia memenuhi undangan dari Salman Abdul Aziz untuk menunaikan ibadah haji pertama kalinya bersama dengan istrinya, Fery Farhati dan ibunya, Aliyah Rasyid pada September 2017.[5]

Pada 1 Desember 2020, Anies menjalani karantina mandiri di rumah dinasnya di daerah Taman Suropati, Menteng, Menteng, Jakarta Pusat setelah dirinya terkonfirmasi positif COVID-19.[6] Ia telah menjalani tes usap antigen pada 29 November 2020 dengan hasil negatif COVID-19, namun keesokan harinya ketika menjalani tes usap PCR dan hasilnya positif COVID-19. Kemudian, ia mengumumkan bahwa dirinya telah dinyatakan positif COVID-19 melalui media sosial dengan siaran langsung.[7] Di akhir tahun 2020, tepatnya 29 Desember 2020, ia dinyatakan negatif COVID-19 sesuai dengan hasil tes usap pada sehari sebelumnya.[8]

Masa muda

Anies mulai mengenyam pendidikan awal pada usia 5 tahun dan bersekolah di Taman Kanak-kanak Masjid Syuhada, Kota Yogyakarta. Menginjak usia enam tahun, Anies bersekolah di SD Negeri Percobaan 2, Kabupaten Sleman.[9] Di masa kecilnya, Anies dikenal sebagai anak yang mudah bergaul dan memiliki banyak teman.[10] Setelah menyelesaikan jenjang sekolah dasar, ia melanjutkan ke jenjang sekolah menengah pertama dan diterima di SMP Negeri 5 Yogyakarta.[11] Anies bergabung dengan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di sekolahnya dan menduduki jabatan pengurus bidang Hubungan Masyarakat yang terkenal dengan sebutan "seksi kematian", karena tugasnya mengabarkan kematian.[12] Anies juga pernah ditunjuk menjadi ketua panitia tutup tahun semasa sekolah menengah pertama.

Menyelesaikan pendidikan di jenjang Sekolah Menengah Pertama, Anies meneruskan pendidikannya di SMA Negeri 2 Yogyakarta. Dia tetap aktif berorganisasi hingga terpilih menjadi Wakil Ketua OSIS dan mengikuti pelatihan kepemimpinan bersama tiga ratus pelajar Ketua OSIS seluruh Indonesia. Alhasil, ia terpilih menjadi Ketua OSIS seluruh Indonesia pada tahun 1985. Pada tahun 1987, dia terpilih untuk mengikuti program pertukaran pelajar AFS dan tinggal selama setahun di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat. Program ini membuatnya menempuh masa SMA selama empat tahun dan baru lulus pada tahun 1989.[13] Sekembalinya ke Yogyakarta, Anies mendapat kesempatan berperan di bidang jurnalistik. Dia bergabung dengan program Tanah Merdeka di Televisi Republik Indonesia cabang Yogyakarta dan mendapat peran sebagai pewawancara tetap tokoh-tokoh nasional.

Menginjak jenjang perguruan tinggi, Anies diterima masuk di Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada tahun 1989. Dia tetap aktif berorganisasi, bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam dan menjadi salah satu anggota Majelis Penyelamat Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam Universitas Gadjah Mada.[14] Anies menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa di fakultasnya dan ikut membidani kelahiran kembali Senat Mahasiswa setelah dibekukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dia terpilih menjadi Ketua Senat Universitas melalui kongres pada 1992 dan membuat beberapa gebrakan dalam lembaga kemahasiswaan.[14] Anies membentuk Badan Eksekutif Mahasiswa sebagai lembaga eksekutif dan memposisikan senat sebagai lembaga legislatif yang disahkan oleh kongres pada tahun 1993. Masa kepemimpinannya juga ditandai dengan dimulainya gerakan berbasis riset, sebuah tanggapan atas tereksposnya kasus Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh yang menyangkut Hutomo Mandala Putra, putra dari Presiden Soeharto.[14] Dia turut menginisiasi demonstrasi melawan penerapan Sistem Dana Sosial Berhadiah pada bulan November 1993 di Yogyakarta.[15]

Pada tahun 1993, Anies mendapat beasiswa dari Japan Airlines Foundation untuk mengikuti kuliah musim panas di Universitas Sophia, Tokyo dalam bidang kajian Asia. Beasiswa ini ia dapatkan setelah memenangkan sebuah lomba menulis bertemakan lingkungan.[16] Hingga pada akhirnya, Anies lulus dari Universitas Gadjah Mada tahun 1995.

Setelah lulus kuliah, Anies bekerja di Pusat Antar Universitas Studi Ekonomi Universitas Gadjah Mada, sebelum mendapat beasiswa Fulbright dari American Indonesian Exchange Foundation (bahasa Indonesia: Yayasan Pertukaran Pelajar Indonesia–Amerika) untuk melanjutkan kuliah masternya dalam bidang keamanan internasional dan kebijakan ekonomi di School of Public Affairs, Universitas Maryland pada tahun 1997. Ia juga dianugerahi William P. Cole III Fellow di universitasnya, dan lulus pada bulan Desember 1998.[17]

Sesaat setelah lulus dari Maryland, Anies kembali mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya dalam bidang ilmu politik di Northern Illinois University pada tahun 1999. Dia bekerja sebagai asisten peneliti di Office of Research, Evaluation, and Policy Studies di kampusnya, dan meraih beasiswa Gerald S. Maryanov Fellow, penghargaan yang hanya diberikan kepada mahasiswa NIU yang berprestasi dalam bidang ilmu politik pada tahun 2004.[18] Disertasinya yang berjudul Regional Autonomy and Patterns of Democracy in Indonesia menginvestigasi efek dari kebijakan desentralisasi terhadap daya respon dan transparansi pemerintah daerah serta partisipasi publik, menggunakan data survei dari 177 kabupaten dan kota di Indonesia.[17] Dia lulus pada tahun 2005.

Kiprah akademisi dan kegiatan sosial

 
Anies Baswedan saat presentasi Indonesia Mengajar, 2011

Setelah menyelesaikan program strata satu di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Anies bekerja sebagai seorang peneliti dan koordinator proyek di Pusat Antar-Universitas Studi Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Selang beberapa lama, ia mendapatkan beasiswa program magister di Amerika Serikat pada 1996. Pada tahun 2004, Anies telah menuntaskan pasca sarjananya dan sempat bekerja sebagai manajer riset di IPC, Inc. Chicago, sebuah asosiasi perusahaan elektronik sedunia.

Sebagai seorang independen, Anies Baswedan bergabung dengan Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan, yaitu sebuah lembaga non-profit yang berfokus pada reformasi birokrasi di berbagai daerah di Indonesia dengan menekankan kerjasama antara pemerintah dengan sektor sipil. Selain itu, ia juga menjabat sebagai Direktur Riset The Indonesian Institute yang merupakan lembaga penelitian kebijakan publik yang didirikan pada Oktober 2004 oleh aktivis dan intelektual muda yang dinamis. Kariernya di The Indonesian Institute tentu tidak terlepas dari latar belakang pendidikannya di bidang kebijakan publik.[19]

Pada 15 Mei 2007, secara resmi Anies Baswedan dilantik menjadi Rektor Universitas Paramadina menggantikan posisi rektor sementara, Sohibul Iman. Saat itu, ia merupakan rektor termuda di Indonesia, di mana usianya pada saat itu adalah 38 tahun.[20][21] Pada suatu ketika, ia terkesan dengan pidato dari seorang dekan di Sekolah Pemerintahan John F. Kennedy, Universitas Harvard, yakni Joseph Nye yang mengatakan bahwa salah satu keberhasilan di universitasnya adalah "admit only the best" alias hanya menerima mahasiswa terbaik. Melalui ide inilah Anies menggagas rekrutmen pelajar-pelajar terbaik di Indonesia. Strategi yang dikembangkan olehnya adalah mencanangkan "Paramadina Fellowship" atau beasiswa Paramadina yang mencakup biaya kuliah, buku, dan biaya hidup.

Istilah "Paramadina Fellowship" adalah perwujudan idealisme dengan bahasa bisnis. Hal ini dilakukan karena kesadaran bahwa dunia pendidikan dan bisnis memiliki pendekatan yang berbeda. Untuk mewujudkan itu, Anies mengadopsi konsep penamaan mahasiswa yang sudah lulus seperti yang biasa digunakan oleh universitas-universitas di Amerika Utara dan Eropa.[22] Gebrakan lain yang dilakukannya adalah pendidikan antikorupsi di universitas yang ia pimpin dengan mengajarkan tentang teoretis hingga laporan investigatif perihal praktik korupsi.[19] Tindakannya menentang korupsi ditandai dengan tergabungnya Anies sebagai aktivis antikorupsi.

Pada pemilihan presiden 2009, para akademisi dipercaya untuk menjadi moderator dalam debat calon presiden dan calon wakil presiden, di antaranya Anies Baswedan, Komaruddin Hidayat, Aviliani, Fahmi Idris, dan Pratikno. Dia dipilih oleh Komisi Pemilihan Umum sebagai moderator dalam debat pertama yang dilaksanakan pada 18 Juni 2009.[23]

Anies kembali terpilih secara aklamasi oleh Yayasan Wakaf Paramadina sebagai Rektor Universitas Paramadina pada tanggal 5 Mei 2011 untuk meneruskan masa jabatan sebelumnya.[24] Di bawah kepemimpinannya, Universitas Paramadina memiliki kualitas pendidikan yang baik dan meningkat, serta memberikan pengaruh positif bagi masyarakat luas, baik dari dalam maupun luar negeri. Sejak 27 Oktober 2014 hingga masa jabatannya sebagai rektor berakhir, ia merangkap jabatan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Pencetus Indonesia Mengajar dan Gerakan TurunTangan

Indonesia Mengajar telah dicanangkan yang awalnya ketika Anies masih menjadi seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada sekitar dekade 1990-an. Pada masa itu, ia berguru dan banyak belajar dari Koesnadi Hardjasoemantri, mantan rektor Universitas Gadjah Mada periode 1986–1990. Pada 1950-an, pria yang akrab disapa "Pak Koes" pernah menginisiasi sebuah program bernama Pengerahan Tenaga Mahasiswa atau PTM, yakni suatu program untuk mengisi kekurangan guru sekolah menengah atas di daerah-daerah terpencil, khususnya di luar Pulau Jawa. Dalam beberapa kasus, PTM ini justru mendirikan sekolah baru dan pertama di beberapa kota dan kabupaten. Pak Koes adalah inisiator sekaligus salah satu dari delapan orang yang menjadi angkatan pertama PTM ini. Dia berangkat ke Kupang dan bekerja di sana selama beberapa tahun. Sepulangnya dari Kupang, ia mengajak tiga siswa paling cerdas untuk kuliah di Universitas Gadjah Mada, salah satunya Adrianus Mooy yang kelak menjadi Gubernur Bank Indonesia. Dari program inilah yang menjadi sumber inspirasi dicetusnya Gerakan Indonesia Mengajar.

Selepas menerima gelar sarjana dari Universitas Gadjah Mada, Anies Baswedan mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Amerika Serikat. Tinggal, belajar, dan bekerja di sana membuatnya memahami bahwa anak-anak Indonesia membutuhkan kompetensi kelas dunia untuk bersaing di lingkungan global. Selain itu, anak muda Indonesia perlu memiliki pemahaman empatik yang mendalam. Atas dasar pemikiran itu, maka mulai munculnya ide besar untuk menggelorakan Indonesia Mengajar. Konsep dasarnya mulai terumuskan pada pertengahan 2009. Ketika itu, Anies mendiskusikan dan menguji idenya pada berbagai pihak. Gagasan ini kemudian siap diluncurkan ketika beberapa pihak berkenan menjadi sponsor. Proses untuk merancang dan mengembangkan konsep Indonesia Mengajar pun dimulai pada akhir 2009 dengan membentuk tim kecil yang kemudian berkembang hingga menjadi sebuah organisasi. Oleh karena itu, Anies pun dinobatkan sebagai pemimpin dari Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar.

Selain Indonesia Mengajar, Anies juga mengasas Gerakan TurunTangan sebagai sebuah usaha dalam mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk terlibat melunasi janji kemerdekaan dan mendorong orang baik mengelola pemerintahan. Maka dari itu, gerakan ini turut aktif dalam kegiatan sosial dan politik dengan mengupayakan keterlibatan anak-anak muda. Gerakan TurunTangan dibentuk olehnya pada Agustus 2013 dengan rasa kerelawanan tanpa pamrih. Melalui internet, gerakan ini dapat membantu relawan mencari, mengumpulkan, dan menggerakkan para sukarelawan di seluruh Indonesia berdasarkan keahlian masing-masing. Sistem pengelolaan relawan ini juga didukung melalui e-mail dan layanan pesan singkat untuk mengundang para sukarelawan aktif dalam pelatihan sukarelawan di berbagai daerah.[25]

Gerakan TurunTangan berupaya dalam menciptakan politik yang sehat dan matang. Misalnya saja ketika penyelenggaraan pemilihan umum, di mana para relawan akan mengkampanyekan kepada masyarakat untuk lebih kritis dan mendorong kampanye yang dilakukan secara sehat tanpa adanya kampanye hitam (bahasa Inggris: Black campaign).[26]

Karier di Komisi Pemberantasan Korupsi

Dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah ditetapkan menjadi tersangka atas dugaan kasus suap yang menimpanya.[27] Namun, terdapat dugaan bahwa hal tersebut merupakan rekayasa dari Kepolisian Negara Republik Indonesia yang menyebabkan konflik. Oleh karena itu, pada 2 November 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membentuk Tim Independen Verifikasi Fakta dan Hukum atau disebut juga sebagai "Tim 8" dalam menyelidiki kasus dugaan kriminalisasi mereka yang dipimpin oleh Adnan Buyung Nasution dan didampingi oleh dua wakilnya, Koesparmono Irsan dan Denny Indrayana, serta lima anggotanya, yaitu Todung Mulya Lubis, Anies Baswedan, Hikmahanto Juwana, Komaruddin Hidayat, dan Amir Syarifuddin.[28] Nama Bibit dan Chandra sering pula dikaitkan dengan perseteruan antara Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Komisi Pemberantas Korupsi atau lebih dikenal dengan Konfrontasi Cicak dan Buaya.

Komisi Pemberantasan Korupsi di bawah pimpinan Abraham Samad membentuk Komite Etik terkait kasus korupsi dan pencucian uang proyek Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional di Hambalang, Bogor, yang beranggotakan lima orang, diantaranya dua anggota internal, yakni Bambang Widjojanto dan Abdullah Hehamahua, serta tiga anggota eksternal, yaitu Abdul Mukhtie Fajar, Tumpak Hatorangan Panggabean, dan dirinya.[29] Tujuan pembentukannya adalah untuk menginvestigasi pembocor draf surat perintah penyelidikan Anas Urbaningrum yang berasal dari dokumen milik Komisi Pemberantasan Korupsi. Perihal ini, Anies ditunjuk sebagai ketua untuk memimpin komite ini dan Tumpak Panggabean sebagai wakilnya.[30] Kemudian, pada 3 April 2013, komite etik ini melakukan sidang terbuka dengan hasil bahwa asisten dari Abraham Samad, Wiwin Suwandi terbukti memberitahukan perihal penyelidikan kepada Anas Urbaningrum.[31] Ia menyalin surat perintah penyelidikan yang belum diberi nomor kepada publik yang beredar di masyarakat sejak 9 Februari 2013.

Karier politik

Pemilihan presiden 2014

Pada 27 Agustus 2013, Anies mulai menggeluti dunia politik setelah dirinya bergabung dalam Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat, di mana pada konvensi ini terbuka untuk kader internal maupun eksternal.[32] Ia menerima kehormatan tersebut dengan tujuan untuk melunasi janji kemerdekaan yang menjadi misinya sebagai bakal calon presiden.[33] Baginya, apa yang tercantum pada Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan sebuah janji yang harus dilunasi oleh setiap warga negara Indonesia, termasuk dirinya.[34]

Pada tanggal 22 Mei 2014, Anies menuliskan sebuah artikel dalam blognya yang berjudul "Pilpres 2014: Pilihan Saya" mengenai pandangan politik dan pilihannya dalam kontestasi pemilihan presiden tahun 2014.[35] Ia menyatakan mendukung calon Presiden Joko Widodo dan calon Wakil Presiden Jusuf Kalla, serta berperan dalam tim kampanyenya sebagai juru bicara.[36] Anies menyatakan alasannya mendukung Joko Widodo adalah karena lebih menghadirkan solusi dan terobosan, sedangkan Jusuf Kalla dikenalnya sebagai sosok senior yang memiliki latar belakang dan pengalaman rekam jejak atas kinerjanya.

Alhasil, Joko Widodo dan Jusuf Kalla berhasil memenangkan pemilihan dengan meraih 53.15% suara mengalahkan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa.[37] Kemudian, Anies ditunjuk menjadi Deputi Kantor Transisi yang membidangi kesejahteraan rakyat. Kantor transisi ini dibentuk untuk mempersiapkan dan merampungkan kabinet, serta menyempurnakan program sebelum pelantikan resmi Jokowi dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Selain Anies, Hasto Kristiyanto, Andi Widjajanto, dan Akbar Faisal juga menganggotai deputi kantor transisi, di mana ketuanya adalah Rini Soemarno.[38]

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (2014–2016)

 
Anies Baswedan bertemu dengan Menteri Negara Kebudayaan, Pariwisata, dan Penerbangan Sipil India, Mahesh Sharma, 2015
 
Anies Rasyid Baswedan semasa Hari Pendidikan Nasional, 2016

Sepak terjang Anies Baswedan di bidang pendidikan dan akademisi membuatnya diberi amanat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di Kabinet Kerja pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla. Ia menjadi salah satu menteri dari kalangan profesional di kabinet.[39] Gebrakan pertamanya sebagai menteri adalah perubahan mekanisme pelaksanaan Ujian Nasional, Kurikulum 2013, dan sertifikasi guru.[40] Anies berpandangan bahwa pendidikan adalah kunci peningkatan kualitas manusia, di mana perlunya peran guru yang begitu sentral, sehingga kualitas guru juga harus ditingkatkan.[butuh rujukan]

Anies melakukan perubahan pertama dengan menunda pelaksanaan Kurikulum 2013 dan kembali menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sebagai perangkat operasional pendidikan, serta menerapkan Kurikulum 2013 pada beberapa sekolah secara terbatas.[41] Faktor pada penerapan kebijakan ini, yaitu ketidaksiapan implementasi kurikulum. Namun, kebijakan ini justru menimbulkan penolakan dari mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang menganggap bahwa kebijakan ini dilakukan tanpa kajian dan komunikasi, di mana penghapusan kebijakan Kurikulum 2013 berimplikasi dengan anggaran negara.[42][43]

Pada mekanisme Ujian Nasional, Anies membentuk Indeks Integritas Ujian Nasional dengan tujuan untuk mengukur kejujuran siswa setiap daerah dan juga penilaian Ujian Nasional diberikan penjelasan, sehingga Ujian Nasional tidak lagi menjadi tolak ukur suatu kelulusan, melainkan hanya sebagai pemetaan pemerataan kualitas pendidikan daerah.[44][45] Selain itu, ia merilis program Uji Kompetensi Guru dan Sertifikasi Guru guna meningkatkan kualitas setiap guru di Indonesia, serta membentuk Direktorat Keayahbundaan untuk menguatkan peran orang tua dalam mendidik anak.[46]

Dalam menangani perpeloncoan oleh siswa dan siswi kakak kelas, serta dari anggota Organisasi Siswa Intra Sekolah pada setiap tahun ajaran baru, maka Anies pun menghapus kebijakan Masa Orientasi Sekolah dan digantikan oleh Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah yang digelar oleh pihak sekolah.[47] Ia juga mengangkat Direktur Jenderal Kebudayaan yang berasal dari non pegawai negeri sipil secara lelang terbuka dan terpilihlah Hilmar Farid. Tak hanya itu, diangkat pula seorang Staf Ahli Bidang Regulasi Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu Catharina Girsang.[48] Tujuannya adalah untuk meninjau dan menyederhanakan berbagai aturan dan program kerja di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Selain program kerja, Anies juga mencanangkan kampanye-kampanye gerakan, seperti menghidupkan kembali Konsep Pendidikan oleh Ki Hadjar Dewantara dalam menciptakan dan mengupayakan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan bagi siswa dan siswi,[49] gerakan memuliakan guru,[50] gerakan membaca lima belas menit sebelum memulai kegiatan belajar dan mengajar untuk mendorong minat baca siswa dan siswi, dan mengantar anak di hari pertama sekolah bagi orang tua murid. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan ikatan emosional orang tua dengan sekolah dan juga anaknya.

Berbagai tantangannya dalam pelaksanaan tugas, yaitu kekerasan anak di sekolah, maupun kekerasan seksual pada anak yang sampai menyita perhatian nasional dalam berbagai kasus kriminal di berbagai daerah. Anies pun mengeluarkan berbagai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam rangka menciptakan rasa aman di sekolah.[51] Terdapat pula masalah administrasi Guru Honorer Kategori Dua dan pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer yang masih mengalami kendala teknis.

Pada akhirnya, Presiden Joko Widodo memutuskan untuk melakukan perombakan kabinet yang mengharuskan Anies Baswedan digantikan oleh Muhadjir Effendy, seorang Rektor Universitas Muhammadiyah Malang. Pemberhentian Anies dinilai bahwa dirinya kurang memprioritaskan program presiden, yakni Kartu Indonesia Pintar.[52]

Pemilihan presiden 2019

Meski sempat digadang-gadang mengajukan diri menjadi calon presiden, Anies memutuskan tidak maju dalam pemilihan presiden 2019 dan tetap kukuh memegang jabatan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta selama masa jabatannya belum selesai.[53] Namun berbeda dengan pemilihan presiden sebelumnya, pada pilpres tahun 2019 ini, ia mendukung pasangan Prabowo Subianto dan wakilnya di pemerintahan, Sandiaga Uno.[54] Selain itu, dirinya juga tidak berpartisipasi sebagai tim kampanye atau relawan dalam pencapresan Prabowo.

Memimpin Jakarta

 
Anies Baswedan menerima kunjungan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Joseph R. Donovan Jr.
 
Anies Baswedan menyerahkan tanah dan air kepada Presiden Joko Widodo di titik nol Ibu Kota Nusantara

Pemilihan umum dan pelantikan

Pada 23 September 2016, Prabowo Subianto mengumumkan bahwa Anies dicalonkan sebagai calon gubernur (Cagub) yang disandingkan dengan Sandiaga Uno, pengusaha dan politikus Partai Gerindra sebagai calon wakil gubernur (Cawagub).[55] Penunjukkan Anies sebagai cagub telah dilakukan setelah Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera melakukan rapat selama tiga hari dalam menentukan cagub.[56] Sebelumnya, ia sempat digadang-gadang akan diusung sebagai cawagub mendampingi Sandiaga.[57] Pada akhirnya, mereka melakukan kesepakatan terlebih dahulu sebelum deklarasi pencalonan di Kebayoran Baru, Jakarta.[58] Anies dan Sandiaga mendapatkan nomor urut tiga saat pengundian dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah Provinsi DKI Jakarta dan menjadikan "Jakarta Maju Bersama" sebagai jargon kampanye. Pasangan calon ini didukung oleh Partai Perindo dan Partai Idaman. Mereka menandatangani kontrak politik dengan Partai Gerindra yang dinamakan "Gentleman's Agreement" yang berisikan mengenai keberpihakan kepada rakyat kecil dan memanusiakannya, tidak terlibat dalam Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), serta keberpihakan terhadap ekonomi masyarakat.[59]

Anies-Sandiaga Digital Volunteer menjadi wadah dukungan para relawan terhadap Anies dari akar rumput melalui media sosial.[60] Di putaran pertama, Anies-Sandi menduduki peringkat kedua di bawah posisi Basuki-Djarot dengan perolehan 39,95% suara.[61] Ketika putaran kedua pilkada, Partai Amanat Nasional dan Partai Persatuan Pembangunan (kubu Romahurmuziy dan Djan Faridz) yang sempat menjagokan Agus Harimurti Yudhoyono akhirnya memutuskan mendukung pencalonan Anies-Sandi.[62][63] Sampailah pada babak terakhir pilkada, Anies-Sandi unggul dengan perolehan 57,96% suara. Kemenangan Anies disertai pula oleh dukungan dari Front Pembela Islam, Front Umat Islam, dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia.[64]

Pada 16 Oktober 2017, Anies dan Sandiaga dilantik dan mengangkat sumpah jabatan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta.[1] Pelantikannya dihadiri oleh Prabowo Subianto, Wahidin Halim, Oesman Sapta Odang, dan para menteri di Kabinet Kerja, serta tamu undangan lainnya, termasuk mantan rivalnya dalam Pilkada DKI Jakarta 2017, Agus Harimurti Yudhoyono. Djarot Saiful Hidayat yang merupakan gubernur pendahulu Anies berhalangan hadir dalam pelantikan.[65] Ia melakukan serah terima jabatan (sertijab) dengan Pelaksana Harian Gubernur, Saefullah di Balai Kota DKI Jakarta.[66] Setelah itu, ia menyampaikan pidato pertamanya di Balai Kota pada malam hari.

Kebijakan

Selama berkampanye, Anies dikenal mengusung gagasan "Maju Kotanya, Bahagia Warganya".[67] Ia mengusung berbagai program dan kebijakan, seperti pembangunan Kampung Akuarium, revitalisasi pasar tradisional, penutupan Hotel Alexis terkait bisnis prostitusi, pembangunan Stadion Internasional Jakarta, dan lain-lain.[68] Termasuk pula peningkatan pelayanan terhadap Kartu Jakarta Pintar, sehingga berubah namanya menjadi KJP Plus. Perizinan terhadap proyek reklamasi 13 pulau di Teluk Jakarta juga dilakukannya pada 26 September 2018.[69]

Anies memberikan program untuk masyarakat Jakarta dalam memiliki rumah dengan uang muka (bahasa Inggris: Down Payment; DP) ringan, bahkan bernilai nol. Program ini diklaim menarik bagi warga karena sulitnya mendapatkan rumah terjangkau di Jakarta. Namun, program ini mengundang banyak kritik dan diketahui memiliki ketidakkonsistenan. Anies awalnya mengajukan nama "DP Nol Persen",[70] akan tetapi dianggap melanggar aturan Bank Indonesia.[71] Ia kemudian mengubahnya menjadi "DP Nol Rupiah", dan kemudian "DP Nol", dengan membuat klaim bahwa masyarakat menyalahartikan idenya dan bahwa "DP Nol Rupiah" tidak sama dengan larangan Bank Indonesia mengenai cicilan "DP Nol Persen".[72] Anies juga dianggap tidak konsisten apakah rumah yang ditawarkan tersebut rumah tapak atau rumah susun. Ia berkelit bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta nantinya tidak akan membangunkan rumah, namun hanya memfasilitasi berbagai transaksi perumahan, sehingga tidak masalah apakah rumahnya rumah tapak atau rumah susun. Oleh Sandi, pernyataan ini diralat kembali bahwa program ini mirip dengan program rumah susun di Singapura, di mana program tersebut berupa pemerintah membangunkan rumah, bukan menjadi fasilitator pembiayaan.

Ide "DP Nol" Anies dianggap tidak masuk akal karena cicilan uang mukanya sendiri dianggap berat untuk dipenuhi oleh rakyat kecil, dengan besar cicilan Rp2.300.000 per bulan.[73] Setelahnya Anies-Sandi dianggap tidak sanggup menunjukkan di wilayah mana program tersebut diwujudkan, dengan pertimbangan adanya lahan kosong cukup luas untuk memfasilitasi program mengatasi backlog 1,3 juta rumah.[74] Ia menegaskan bahwa bank yang akan terlibat dalam membantu rakyat menikmati "DP Nol", namun dikritik karena secara total puluhan triliun uang yang dibutuhkan tidak sesuai dengan kekuatan finansial Bank DKI yang digadang akan membantu program ini.[75] Hingga Maret 2021, hanya 882 unit dari target 232.000 unit yang telah terwujud.[76]

Banjir Jakarta

Meningkatnya curah hujan pada akhir Desember 2019 hingga memasuki awal tahun 2020, tepatnya 1 Januari 2020, sejumlah daerah-daerah di Jakarta mengalami banjir. Pengungsi saat itu berjumlah 31.232 orang yang berasal dari 158 kelurahan. Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono mengusulkan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bahwa perlunya melakukan normalisasi sungai di kawasan Sungai Ciliwung.[77] Meski demikian, Anies menjelaskan bahwa normalisasi sungai telah dilakukan di beberapa titik, seperti di Kampung Melayu, Jatinegara, akan tetapi tetap saja mengalami banjir. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, ia menerapkan program sumber daya air untuk pengendalian banjir, antara lain revitalisasi prasarana sumber daya air dengan konsep naturalisasi, pembangunan sumur resapan, meningkatkan revitalisasi kanal, revitalisasi sistem polder, pembangunan tanggul pengaman pantai, dan perbaikan tata kelola air.[78]

COVID-19

 
Anies Baswedan mendampingi Presiden Joko Widodo meninjau vaksinasi COVID-19 di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Pada 7 Januari 2020, ketika virus korona masih menjadi wabah di Wuhan, Tiongkok, Anies mengantisipasi wabah tersebut dengan menginformasikan melalui Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta kepada seluruh rumah sakit di Jakarta untuk melakukan riset dan mendeteksi setiap gejala-gejala pneumonia di Wuhan.[79] Rapat pimpinan digelarnya bersama Tim Pengawasan Orang Asing Imigrasi untuk membahas penyakit COVID-19 dengan tujuan untuk mengetahui dan mengantisipasi orang-orang yang datang dari tempat asalnya wabah. Lalu, pada Februari 2020, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan pemantauan atas orang yang memiliki gejala radang paru-paru yang kemudian disebut COVID-19. Sebab selama Januari 2020, orang dalam pemantauan atau pasien dalam pengawasan jumlahnya terus bertambah. Setelahnya, Anies menerbitkan Instruksi Gubernur Nomor 16 Tahun 2020 tentang Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Risiko Penularan Infeksi Corona Virus Disease (COVID-19).

Ketika terdeteksi dua pasien positif COVID-19 pertama di Indonesia, Anies mengumumkan pembentukan Tim Tanggap COVID-19. Pelaksanaan hari bebas kendaraan bermotor ditiadakan untuk menghindari kerumunan. Diikuti dengan peniadaan kegiatan belajar di sekolah, penghentian operasional kantor, tempat hiburan, dan destinasi wisata yang juga ditutup olehnya pada Maret 2020.[80] Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pertama kali diterapkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sekaligus PSBB pertama yang diberlakukan di Indonesia.

Pemikiran

Melunasi janji kemerdekaan

Dalam perspektif Anies Baswedan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 negara ini tak hanya sedang bercita-cita, melainkan sedang berjanji. Menurutnya Republik ini dibangun dengan ikatan janji, ia menyebutnya Janji Kemerdekaan. Janji kemerdekaan itu diantaranya janji perlindungan, kesejahteraan, pencerdasan dan peran global pada setiap anak bangsa. Menurutnya masih banyak masyarakat yang belum dilunasi janji kemerdekaannya. Baginya pelunasan janji itu tidak hanya tanggung jawab konstitusional negara dan pemerintah, melainkan tanggung jawab moral setiap anak bangsa yang telah mendapat pelunasan janji yakni telah terlindungi, tersejahterakan, dan tercerdaskan.[81] Untuk melunasi janji kemerdekaan tersebut, maka Anies Baswedan memiliki beberapa pemikiran dan inisiatif yang ia wujudkan dengan beberapa pihak yang bersama-sama bersedia turun tangan.

Tenun kebangsaan

Salah satu janji kemerdekaan yang banyak mendapat perhatian saat ini adalah soal janji perlindungan untuk setiap warga negara. Hal ini terkait dengan beberapa tindakan yang mendiskriminasikan minoritas. Menurut Anies Baswedan Republik ini dirancang untuk melindungi setiap warga negara. Ia mengilustrasikan Republik ini sebagai sebuah tenun kebangsaan yang dirajut dari kebhinekaan suku, adat, agama, keyakinan, bahasa, geografis yang sangat unik. Kekerasan atas nama apapun akan merusak tenun tersebut.

Dalam soal perlindungan terhadap warga negara atas kekerasan yang kerap terjadi menurut Anies Baswedan harus dilihat sebagai warga negara menyerang warga negara lainnya, terjadi bukan soal mayoritas lawan minoritas. Menurutnya negara tidak bisa mengatur perasaan, pikiran, ataupun keyakinan warga negaranya. Namun, negara sangat bisa mengatur cara mengekspresikannya. Dialog antar pemikiran setajam apapun boleh, namun begitu berubah jadi kekerasan maka pelakunya berhadapan dengan negara dan hukum.[82]

Pendidikan sebagai eskalator ekonomi

Janji kemerdekaan untuk pencerdasan warga negara diwujudkan Anies dalam beberapa inisiatif. Menurut Anies Baswedan selama empat atau lima dekade terakhir, pendidikan menjadi eskalator sosial ekonomi masyarakat Indonesia. Ia mencontohkan, kelas menengah atas Indonesia saat ini adalah kelas menengah ke bawah dulunya. Karena pendidikan khususnya pendidikan tinggi-lah status sosial ekonomi dapat naik.

Berbeda dengan beberapa dekade lalu, kini eskalator ini tidak bisa lagi dinaiki semua orang karena tingginya biaya pendidikan dan akses pendidikan yang terbatas. Untuk mengatasi maslaha tersebut, Anies Baswedan menelurkan beberapa insiatif pendidikan yang menciptakan perubahan positif di masyarakat.[83]

Indonesia Mengajar

Indonesia Mengajar didasari oleh salah satu janji kemerdekaan negara ini dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Banyak masyarakat di daerah yang belum dapat menikmati janji tersebut. Salah satu permasalahan terbesar pendidikan di daerah yakni distribusi guru yang tidak merata.
Indonesia Mengajar mengirimkan memiliki dua tujuan utama. Pertama adalah mengirim anak-anak muda terbaik bangsa yang disebut sebagai Pengajar Muda (PM) untuk mengajar selama satu tahun di Sekolah Dasar di desa-desa terpencil di penjuru negeri. Tak hanya mengajar para PM juga berinteraksi langsung dengan pemangku kepentingan di daerah dan masyarakat.
Kedua, menciptakan calon pemimpin yang memiliki pemahaman akar rumput dan kompetensi global. Dengan bekal pendidikan dan organisasi yang dimiliki oleh para PM ditambah interaksinya dengan masyarakat akar rumput selama satu tahun membuat PM memberikan pengalaman kepemimpinan nyata dan pemahaman empatik yang tinggi bagi yang melaluinya. Dimulai pada tahun 2010 kini Indonesia Mengajar telah memberangkatkan lebih dari 200 PM ke 17 kabupaten yang tersebar dari barat sampai timur Indonesia.[84]

Indonesia Menyala

Program Indonesia Menyala berawal dari hasil pengamatan sejumlah Pengajar Muda sejak mereka ditempatkan pada November 2010. Mereka melihat bahwa mayoritas anak didik mereka kekurangan bahan bacaan yang bermutu. Melihat kebutuhan tersebut dan kesadaran atas pentingnya buku untuk teman-teman di pelosok, maka program Indonesia Menyala diluncurkan pada 15 April 2011.
Indonesia Menyala membentuk perpustakaan-perpustakaan yang bertempat di wilayah penempatan Pengajar Muda. Perpustakaan Indonesia Menyala terdiri dari dua bentuk yakni perpustakaan tetap dan perpustakaan berputar. Perpustakaan tetap yaitu perpustakaan yang berisikan buku yang hanya digunakan di satu sekolah penempatan. Sedangkan, perpustakaan berputar, berbentuk sebuah tas yang dibawa keliling oleh Pengajar Muda untuk dibaca oleh masyarakat sekitar. Indonesia Menyala menghilangkan sekat besar akses terhadap bacaan yang terbatas pada masyarakat masyarakat pedesaan di Indonesia, sehingga semakin meneguhkan bahwa pendidikan adalah hak yang harus diterima setiap masyarakat.[85]

Kelas Inspirasi

Kelas Inspirasi mengundang para profesional yang sukses karena pendidikan untuk turun tangan berbagi cerita dan pengalaman kerja selama satu hari pada hari yang disebut dengan Hari Inspirasi. Tujuan Kelas Inspirasi ada dua yaitu menjadi wahana bagi sekolah dan siswa untuk belajar dari para profesional, serta agar para profesional, khususnya kelas menengah secara lebih luas dapat belajar mengenai kenyataan dan fakta mengenai kondisi pendidikan kita.
Dengan Kelas Inspirasi diharapkan terjalin relasi yang dapat terus menerus sekolah dan kelas menengah pelihara. Hal ini sebagai wujud jendela komunikasi antara profesional sebagai kelas menengah dan dunia pendidikan di SD negeri sebagai salah satu area yang perlu diadvokasi dan dikembangkan terus menerus. Sehingga dengan itu diharapkan mampu mendorong kalangan profesional untuk berperan aktif dalam pendidikan melalui kegiatan serupa.[86]

Kualitas manusia Indonesia

Salah satu janji kemerdekaan adalah janji kesejahteraan. Menurut Anies Baswedan titik berangkat kesejahteraan bukan seperti dalam perspektif lama yakni Sumber Daya Alam (SDA), titik berangkatnya adalah kesadaran bahwa garda terdepan untuk meraih kemenangan adalah kualitas manusia. Ia menggunakan istilah kualitas manusia bukan kualitas sumber daya manusia. Hal tersebut dikarenakan karena manusia Indonesia tidak boleh dipandang semata-mata sebagai sumber daya. Kualitas manusia ini hanya bisa diraih lewat pendidikan yang berkualitas. Pendidikan berkualitas itu sebab utamanya bukan karena gedung, buku, kurikulum atau bahasa yang berkualitas.[87] Untuk mendorong hal tersebut menurutnya kepemimpinan yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang menggerakkan manusia Indonesia. Kepemimpinan yang menginspirasi, bukan mendikte. Kepemimpinan yang bersifat patron-client tidak lagi cocok untuk kondisi Indonesia saat ini. Yang lebih cocok menurut Anies adalah kepemimpinan yang mampu membuat orang bergerak, turun tangan dan berkontribusi untuk menyelesaikan masalah.[88]

Pemahaman akar rumput dan kompetensi global

Salah satu janji kemerdekaan adalah janji berperan dalam tingkat global. Menurut Anies Baswedan dahulu pada saat Sumpah Pemuda misalnya seorang Jawa atau Sunda menjadi Indonesia tanpa kehilangan Jawa atau Sundanya, sekarang kesadaran seperti itu adalah bahwa kita juga warga dunia. Menurutnya kesadaran yang saat ini diperlukan adalah kesadaran melampaui Indonesia (beyond Indonesia). Kepada para mahasiswa Anies sering mengatakan kompetitor mereka bukan lagi dari Universitas yang berada di negeri ini. Kompetitor mahasiswa itu adalah lulusan Melbourne, AS, Tokyo, dan lain-lain yang memiliki kemampuan bahasa, ilmu pengetahuan, dan jaringan internasional.[19] Menurutnya yang penting untuk dimiliki saat ini adalah kompetensi yang bersifat global dan pemahaman akan permasalahan akar rumput yang nyata terjadi di masyarakat. Istilah yang kerap ia kemukakan adalah grass roots understanding and world class competence (pemahaman akar rumput dan kompetensi tingkat dunia).[19]

Penghargaan

Nasional

Harian Rakyat Merdeka menganugerahkan The Golden Awards pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) harian ini yang ke 14 pada Juni 2013. Anies dipilih atas inspirasinya di bidang pendidikan melalui Gerakan Indonesia Mengajar. Selain Anies tokoh yang mendapatkan penghargaan ini adalah Johan Budi SP (Juru Bicara KPK) dan Ignasius Jonan (Dirut PT KAI).[89] Pada Agustus 2013, Anies Baswedan mendapatkan Anugerah Integritas Nasional dari Komunitas Pengusaha Antisuap (Kupas) serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Penilaian ini didasari atas survey yang dilakukan pada 2012 tentang persepsi masyarakat terhadap sejumlah tokoh nasional. Anies terpilih bersama beberapa tokoh lain seperti Komaruddin Hidayat, Abraham Samad, serta Mahfud MD. Menurut Ketua Kupas Ai Mulyadi Mamoer, mereka yang terpilih adalah mereka yang jujur, bertanggungjawab, visioner, disiplin, bisa bekerja sama, adil dan peduli.[90] Dompet Dhuafa memberikan penghargaan Dompet Dhuafa Award 2013 kepada Anies Baswedan pada Juli 2013. Penghargaan ini diberikan kepada tokoh-tokoh yang dinilai telah memberikan inspirasi kebajikan bagi masyarakat dan berkontribusi bagi bangsa. Anies Baswedan menerima penghargaan kategori pendidikan. Ia dipilih karena usahanya melunasi janji kemerdekaan di bidang pendidikan melalui Gerakan Indonesia Mengajar. Selain Anies Baswedan beberapa tokoh menerima penghargaan ini antara lain, Jusuf Kalla (Mantan Wakil Presiden), Warsito Purwo (Ketua Umum Masyarakat dan Ilmuwan Teknologi Indonesia), serta Irma Suryati (penggerak kaum difabel).[91] Anies Baswedan juga menerima penghargaan Tokoh Inspiratif dalam Anugerah Hari Sastra Indonesia. Penghargaan ini diberikan pada saat perayaan Hari Sastra Nasional pada 3 Juli 2013 di Balai Budaya Pusat Bahasa, Rawamangun, Jakarta. Anies mendapat penghargaan kategori tokoh inspiratif. Anies dirasa memiliki track record serta kepedulian dalam memperjuangkan kemajuan untuk Indonesia.[92]

Internasional

  • Gerald Maryanov Award

Pada 2004 Anies Baswedan menerima penghargaan Gerald Maryanov Fellow dari Departemen Ilmu Politik Universitas Northern Illinois.[93]

  • 100 Intelektual Publik Dunia

Pada 2008 Majalah Foreign Policy memasukkan Anies Baswedan dalam 100 Intelektual Publik Dunia. Anies merupakan satu-satunya orang Indonesia yang masuk pada daftar hasil rilis majalah tersebut. Dalam daftar itu nama Anies sejajar dengan tokoh dunia seperti Noam Chomsky (tokoh perdamaian), para penerima nobel seperti Shirin Ebadi, Al Gore, Muhammad Yunus, dan Amartya Sen.[22]

  • Young Global Leaders

Jiwa kepemimpinan Anies Baswedan juga membuahkan hasil dengan hadirnya nama Anies dalam salah satu Young Global Leaders pada Februari 2009 yang diberikan oleh World Economic Forum.[22]

  • 20 Tokoh Pembawa Perubahan Dunia

Dua tahun berselang setelah mendapat penghargaan 100 Intelektual Publik Dunia, pada April 2010, Anies Baswedan terpilih sebagai satu dari 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang versi majalah Foresight yang terbit di Jepang. Dalam edisi khusus “20 orang 20 tahun”, Majalah ini menampilkan 20 tokoh yang diperkirakan akan menjadi perhatian dunia. Mereka akan berperan dalam perubahan dunia dua dekade mendatang. Menurut majalah itu Anies Baswedan dinilai sebagai salah satu tokoh calon pemimpin Indonesia masa mendatang. Nama Anies berdampingan dengan Vladimir Putin (Perdana Menteri Rusia), Hugo Chavez (Mantan Presiden Venezuela), David Miliband (Menteri Luar Negeri Inggris), Rahul Gandi (Sekjen Indian National Congress India), serta Paul Ryan (politisi muda Partai Republik dan anggota House of Representative AS).[22]

  • PASIAD Education Award

Anies Baswedan menerima penghargaan dari The Association of Social and Economic Solidarity with Pacific Countries (PASIAD) kategori Pendidikan dari Pemerintah Turki pada tahun 2010. Penghargaan ini diberikan kepada pengajar, pelajar maupun individu yang telah berkontribusi untuk dunia pendidikan. Anies Baswedan menerima penghargaan ini karena telah membuat anak-anak muda terbaik untuk mengajar di daerah terpencil yang jauh dari akses pendidikan melalui program Indonesia Mengajar.[94]

  • Nakasone Yasuhiro Award

Anies Baswedan menerima Nakasone Yasuhiro pada Juni 2010. Penghargaan ini diberikan langsung oleh Mantan Perdana Menteri Jepang, Yasuhiro Nakasone. Penghargaan ini diberikan kepada orang-orang visioner yang membawa perubahan dan memiliki daya dobrak, demi tercapainya abad 21 yang lebih cerah. Anies dirasa adalah salah satu sosok visioner tersebut. Hanya beberapa orang asal Indonesia yang pernah menerima penghargaan bergengsi ini, seperti Rizal Sukma (Peneliti CSIS) dan Wayan Karna (Dekan ISI Denpasar).[95]

  • 500 Muslim Berpengaruh di Dunia

Penghargaan yang diterima Anies Baswedan juga hadir dari kawasan Timur Tengah. The Royal Islamic Strategic Studies Center, Jordania, memasukkan nama Anies dalam daftar The 500 Most Influential Muslims pada Juli 2010. Penghargaan ini diberikan untuk 500 tokoh Muslim paling berpengaruh di dunia.[22]

Tanda kehormatan

Galeri

Referensi

  1. ^ a b "A New Jakarta Governor Takes Office, and a Predecessor Sits in a Cell". mytimes.com (dalam bahasa Inggris). 16 Oktober 2017. Diakses tanggal 31 Oktober 2021. 
  2. ^ a b "Anies Baswedan Intelektual Indonesia Kelas Dunia (bag. 1-6)". www.femina-online.com. 22 Juni 2019. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-06-22. Diakses tanggal 25 April 2010. 
  3. ^ "Profil Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah, Anies Baswedan". Republika Online. 2014-10-26. Diakses tanggal 2021-02-16. 
  4. ^ Carina, Jessi (25 Oktober 2016). Rastika, Icha, ed. "Agus-Sylvi Nomor 1, Ahok-Djarot Nomor 2, dan Anies-Sandiaga Nomor 3". Kompas.com. Diakses tanggal 21 Desember 2016. 
  5. ^ Paramaesti, Chitra (23 Agustus 2017). "Diundang Raja Salman, Anies Baswedan Tunaikan Ibadah Haji". Tempo.co. Diakses tanggal 31 Oktober 2021. 
  6. ^ Muhammad Ilman Nafian (1 Desember 2020). "Anies Baswedan Positif COVID-19". Detik.com. Diakses tanggal 1 November 2021. 
  7. ^ Kurniawati, Endri, ed. (1 Desember 2020). "Alasan Gubernur Anies Baswedan Umumkan Positif Covid-19". Tempo.co. Diakses tanggal 1 November 2021. 
  8. ^ Wilda Hayatun Nufus (29 Desember 2020). "Wagub DKI: Anies Baswedan Sudah Negatif Corona". Detik.com. Diakses tanggal 1 November 2021. 
  9. ^ "Anies masih ingat nama-nama guru SD-nya". Antaranews.com. 10 November 2014. Diakses tanggal 8 April 2022. 
  10. ^ Kartikawati, Eny (22 Desember 2018). "Tonton Eksklusif: Cerita Sang Ibu Membesarkan Anies Baswedan". Detik.com. Diakses tanggal 31 Oktober 2021. 
  11. ^ "Intelektual Muda Bertalenta Pemimpin". www.tokohindonesia.com. Diakses tanggal 5 Mei 2014. 
  12. ^ "Suksesnya Berawal Dari Humas OSIS". www.harianhaluan.com. 21 Februari 2011. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-05-06. Diakses tanggal 5 Mei 2014. 
  13. ^ "FAQ". Bina Antarbudaya. Office of AFS Bina Antarbudaya Chapter Yogyakarta. 2014-03-24. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-05-06. Diakses tanggal 5 Mei 2014. 
  14. ^ a b c Rizky Mardhatillah Umar, Ahmad (15 April 2014). "Gerakan Mahasiswa Bulaksumur: Evolusi dan Transformasi Organisasi Mahasiswa di UGM (1955-2014)". flp-ugm.org. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-05-06. Diakses tanggal 6 Mei 2014. 
  15. ^ Amirullah, Chozin (5 Mei 2014). "Anies Baswedan JIL?". relawan.turuntangan.org. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-05-06. Diakses tanggal 6 Mei 2014. 
  16. ^ "Nostalgia TV One: Anies Baswedan (4 Mei 2011)". TvOne. 4 Mei 2011. Diakses tanggal 20 Agustus 2013. Diungkapkan Anies Baswedan dalam acara Nostalgia TV One 
  17. ^ a b Curriculum vitae Anies Baswedan di turuntangan.org Diarsipkan 2014-05-06 di Wayback Machine., diakses 6 Mei 2014.
  18. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama TT1
  19. ^ a b c d "Kesadaran Melampaui Indonesia". Kompas.com. 28 Oktober 2009. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-10-31. Diakses tanggal 31 Oktober 2009. 
  20. ^ "Kesantunan Anies R Baswedan". Kompas.com. 21 Juni 2009. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-05-29. Diakses tanggal 24 April 2010. 
  21. ^ "Anies R. Baswedan: Young nationalist with a global view". The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). 21 Juni 2009. Diakses tanggal 26 April 2010. 
  22. ^ a b c d e Suwarto, Sogol Hadi. 2013. Most Inspiring People. Yogyakarta: Narasi. Hal. 115.
  23. ^ "Ini Dia Moderator Debat Capres dan Debat Cawapres". Detik.com. 2009-05-28. Diakses tanggal 2022-03-17. 
  24. ^ "Anies Baswedan Pimpin Universitas Paramadina Hingga 2015". Tribunnews.com. 2011-05-06. Diakses tanggal 2022-03-17. 
  25. ^ "Anies Baswedan Luncurkan Situs Sukarelawan". Tempo.co. 2014-02-12. Diakses tanggal 2014-08-04. 
  26. ^ "TurunTangan Bandung Mengajak para Pendukung Capres-Cawapres untuk Berkampanye Sehat". Tribunnews.com. 2014-06-23. Diakses tanggal 2014-08-04. 
  27. ^ "Kronologi Perjalanan Bibit-Chandra Jadi Tersangka Lagi". Tribunnews.com. 2010-10-08. Diakses tanggal 2022-03-17. 
  28. ^ "Presiden Akhirnya Bentuk Tim Independen". Kompas.com. 2009-11-02. Diakses tanggal 2022-03-17. 
  29. ^ "KPK Bentuk Komite Etik". Kompas.com. 2013-02-22. Diakses tanggal 2022-03-17. 
  30. ^ "Anies Baswedan ketua Komite Etik KPK". Antaranews. 2013-02-27. Diakses tanggal 2022-03-17. 
  31. ^ Artika, Putri (2013-04-03). "Komite Etik: Wiwin Suwandi yang bocorkan sprindik Anas". Diakses tanggal 2022-03-17. 
  32. ^ "Partai Demokrat Gelar Uji Publik Capres Peserta Konvensi". Tempo.co. 2014-04-24. Diakses tanggal 2022-03-17. 
  33. ^ "Mengapa Ikut Capres 2014?". 2013-12-11. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-09-19. Diakses tanggal 2016-09-19. 
  34. ^ "Alasan Anies Baswedan Ikut Konvensi Demokrat". Tempo.co. 2013-08-27. Diakses tanggal 2014-08-04. 
  35. ^ ""Pilpres 2014: Pilihan Saya"". 2014-05-22. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-04-24. Diakses tanggal 2016-04-24. 
  36. ^ "Ini Alasan Jokowi Minta Anies Baswedan Masuk Tim Suksesnya". Kompas.com. 2014-05-27. Diakses tanggal 2014-08-04. 
  37. ^ "Indonesia elections: Jakarta governor 'Jokowi' wins but rival rejects final results". The Daily Telegraph. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 July 2014. Diakses tanggal 22 July 2014. 
  38. ^ "Kepala Staf Kantor Transisi Jokowi-JK: Kami Menyiapkan Talent Menteri". Detik.com. 2014-08-04. Diakses tanggal 2014-08-04. 
  39. ^ "Anies Baswedan: Menteri Kebudayaan dan Dikdasmen". VIVA.co.id. 26 Oktober 2014. Diakses tanggal 26 Oktober 2014. 
  40. ^ ""Anies Baswedan: Sebuah Gerakan"". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-08-21. Diakses tanggal 2016-08-08. 
  41. ^ "Kementerian Pendidikan hentikan Kurikulum 2013". Sindonews.com. 5 Desember 2014. Diakses tanggal 16 Maret 2022. 
  42. ^ "Mantan Mendikbud M Nuh kecewa kurikulum 2013 dihentikan". Detik.com. 7 Desember 2014. Diakses tanggal 16 Maret 2022. 
  43. ^ "Anies Baswedan Serampangan Hapus Kurikulum 2013". Okezone.com. 16 Desember 2014. Diakses tanggal 16 Maret 2022. 
  44. ^ "Mendikbud: Indeks Integritas UN Valid Ukur Kejujuran". Pikiran Rakyat. 11 Mei 2016. Diakses tanggal 16 Maret 2022. 
  45. ^ ""Mendikbud Nilai UN Tak Hanya Berupa Angka Ada Penjelasannya"". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-08-30. Diakses tanggal 2016-08-08. 
  46. ^ "Kemdikbud Rancang Direktorat Keayahbundaan". Kompas.com. 18 Januari 2015. Diakses tanggal 16 Maret 2022. 
  47. ^ Irawan, Dika (12 Juli 2016). "Mendikbud Hapus MOS di Sekolah". Bisnis.com. Diakses tanggal 16 Maret 2022. 
  48. ^ "Mendikbud lantik Satu Staf Ahli dan Satu Pejabat Eselon 2". Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 21 September 2015. Diakses tanggal 16 Maret 2022. 
  49. ^ "Anies: Buku Ki Hadjar Dewantara Jadi Referensi di Finlandia di Kita Tak Dibaca". 1 Februari 2014. Diakses tanggal 16 Maret 2022. 
  50. ^ ""Wahai Para Guru, Ini ada Kabar dari Garuda Beri diskon Khusus buat Anda"". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-08-21. Diakses tanggal 2016-08-08. 
  51. ^ "Ciptakan Rasa Aman di Sekolah dengan Lima Permendikbud". Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 13 Juli 2016. Diakses tanggal 16 Maret 2022. 
  52. ^ "Diganti, Anies Baswedan dinilai sedikit melenceng dari Visi Presiden". Kompas.com. 6 Agustus 2016. Diakses tanggal 16 Maret 2022. 
  53. ^ Gunadha, Reza (2019-08-14). "Anies Baswedan Mengaku Tolak Pilpres 2019: Saya Konsisten pada Janji Saya". Suara.com. Diakses tanggal 2022-03-18. 
  54. ^ Francisca Christy Rosana (2 Oktober 2018). "Pilpres 2019: 30 Gubernur Dukung Jokowi VS 4 Dukung Prabowo". Tempo.co. Diakses tanggal 19 Januari 2019. 
  55. ^ "BREAKING NEWS: Anies Baswedan Jadi Calon Gubernur DKI". Tempo.co. 23 September 2016. Diakses tanggal 31 Oktober 2021. 
  56. ^ Al Faqir, Anisyah (23 September 2016). "Ini alasan Prabowo usung Anies Baswedan jadi Cagub DKI". Merdeka.com. Diakses tanggal 31 Oktober 2021. 
  57. ^ Sofwan Fakhrana, Rinaldy (24 September 2016). "Cerita Anies Soal Pertukaran Posisi Cagub dengan Sandiaga". CNN Indonesia. Diakses tanggal 31 Oktober 2021. 
  58. ^ Hidayatullah, Arsito; Rosmala, Dian (23 September 2016). "Ini Alasan Anies Baswedan Mau Dicalonkan Jadi Gubernur DKI". Merdeka.com. Diakses tanggal 31 Oktober 2021. 
  59. ^ Astari Retaduari, Elza (27 September 2016). "Ini Isi Kontrak Politik Gerindra dengan Anies-Sandiaga Uno". Detik.com. Diakses tanggal 1 November 2021. 
  60. ^ "Siap-siap, Pasukan Digital Anies Bergerak, Pakai Kekuatan Buzzer". Suara.com. 27 Oktober 2016. Diakses tanggal 1 November 2021. 
  61. ^ Ramdhani, Jabbar (4 Maret 2017). "KPU Tetapkan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi Maju Putaran Dua Pilkada". Detik.com. Diakses tanggal 31 Oktober 2021. 
  62. ^ Martin Pratama, Akhdi (18 Maret 2017). "DPW PAN Deklarasikan Dukungan kepada Anies-Sandi". Kompas.com. Diakses tanggal 31 Oktober 2021. 
  63. ^ Tarmizi, Tasrief, ed. (14 Maret 2017). "Sejumlah pengurus PPP nyatakan dukung Anies-Sandi". Antaranews. Diakses tanggal 1 November 2021. 
  64. ^ Nuraki Aziz (20 April 2017). "Ketika Anies-Sandi menang dengan kekuatan Islamis". BBC.com. Diakses tanggal 15 Mei 2022. 
  65. ^ Hidayat, Rafki (16 Oktober 2017). "Pelantikan Anies-Sandi, kehadiran Prabowo, dan absennya Djarot". BBC Indonesia. Diakses tanggal 31 Oktober 2021. 
  66. ^ Zhacky, Mochammad (16 Oktober 2017). "Anies Teken Dokumen Sertijab Gubernur DKI di Balai Kota". Detik.com. Diakses tanggal 31 Oktober 2021. 
  67. ^ "Ini Asal Usul Slogan Anies-Sandi "Maju Kotanya Bahagia Warganya"". JPNN.com. Jakarta. 23 Desember 2016. Diakses tanggal 15 Mei 2022. 
  68. ^ Sitepu, Mehulika (16 Oktober 2017). "OK-OCE dan program ekonomi Anies-Sandi lainnya di mata pelaku bisnis". BBC.com. Diakses tanggal 15 Mei 2022. 
  69. ^ Nada Nailufar, Nibras (27 September 2018). "Reklamasi 13 pulau di Teluk Jakarta dibatalkan Gubernur Anies Baswedan: Yang harus Anda ketahui". BBC Indonesia. Diakses tanggal 1 November 2021. 
  70. ^ "Menjawab Program DP KPR 0 Persen Anies Sandi dari Sisi Perbankan". Kumparan.com. 16 Februari 2017. Diakses tanggal 15 Mei 2022. 
  71. ^ Primadhyta, Safyra (17 Februari 2017). "Bank Indonesia Larang KPR dengan DP Nol Persen". CNN Indonesia. Diakses tanggal 15 Mei 2022. 
  72. ^ "Anies Soal Rumah Tanpa DP: Bukan Nol Persen, Tapi Nol Rupiah". Merdeka.com. 18 Februari 2017. Diakses tanggal 15 Mei 2022. 
  73. ^ Aditiasari, Dana (23 Februari 2017). "DP Nol Rupiah Anies Sandi Nabung Dulu Rp 2,3 Juta Selama 6 Bulan". Detik.com. Jakarta. Diakses tanggal 15 Mei 2022. 
  74. ^ "Sandiaga Rahasiakan Lokasi untuk Rumah DP Nol Persen di Jakarta". Merdeka.com. Jakarta. 29 Maret 2017. Diakses tanggal 15 Mei 2022. 
  75. ^ "Saat Ahok Skak Mat Program Dp 0 Rupiah, Anies terlihat Cemberut dari situs Pilkada2017.com". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-04-04. Diakses tanggal 2017-04-03. 
  76. ^ Paat, Yustinus (13 Maret 2021). "DKI Sudah Sediakan 882 Unit Rumah DP Rp 0". BeritaSatu.com. Diakses tanggal 31 Oktober 2021. 
  77. ^ Paat, Yustinus (3 Januari 2020). "Apa Tanggapan Anies Baswedan Tentang Banjir Jakarta 2020?". Tirto.id. Diakses tanggal 31 Oktober 2021. 
  78. ^ Hantoro, Juli, ed. (10 Februari 2021). "Tak Lanjutkan Normalisasi Era Ahok, Begini Cara Anies Baswedan Atasi Banjir". Tempo.co. Diakses tanggal 1 November 2021. 
  79. ^ Juniarto Sihaloho, Markus (16 April 2020). "Anies Klaim Sudah Antisipasi Covid-19 Sejak Januari". BeritaSatu. Diakses tanggal 31 Oktober 2021. 
  80. ^ Hasjanah, Kurniawati (13 April 2021). "4 Tahun Jadi Gubernur DKI Jakarta, Berikut Sederet Kebijakan Anies Baswedan Selama Pandemi Covid-19". www.tribunnews.com. Diakses tanggal 31 Oktober 2021. 
  81. ^ Janji Kemerdekaan. Harian Kompas, 15 Agustus 2011. Hal. 6.
  82. ^ Ini Soal Tenun Kebangsaan. Harian Kompas, 11 September 2012. Hal. 6.
  83. ^ Universitas Merupakan Eskalator Sosial Ekonomi. Harian Kompas, 25 April 2011. Hal. 20.
  84. ^ http://www.indonesiamengajar.org Tentang Indonesia Mengajar. (diakses 20 Agustus 2013)
  85. ^ http://www.indonesiamengajar.org Tentang Indonesia Menyala Diarsipkan 2013-08-07 di Wayback Machine.. (diakses 20 Agustus 2013)
  86. ^ http://www.kelasinspirasi.org Kelas Inspirasi: Berbagi Lewat Profesi. (diakses 20 Agustus 2013)
  87. ^ Orasi Kebangsaan Milad ke 66 Keluarga Besar – Pelajar Islam Indonesia, Yogyakarta, 4-5 Mei 2013 Kepemimpinan Indonesia, Kepemimpinan Menggerakkan[pranala nonaktif permanen]. (diakses 20 Agustus 2013)
  88. ^ Kesederhanaan, Keteladanan Yang Menggerakkan. Majalah Tempo, 18 Agustus 2013. Hal. 110.
  89. ^ Penghargaan dari Rakyat Merdeka. (diakses 20 Agustus 2013)
  90. ^ Joko Widodo dll. Majalah Tempo, 5 Agustus 2013. Hal. 10.
  91. ^ http://www.dakwatuna.com[pranala nonaktif permanen] Dompet Dhuafa Award 2013[pranala nonaktif permanen]. (diakses 20 Agustus 2013)
  92. ^ Anugrah Hari Sastra Indonesia Diarsipkan 2015-06-01 di Wayback Machine.. (diakses 22 Agustus 2013)
  93. ^ Situs Internationalising Higher Education British Council Diarsipkan 2012-09-04 di Wayback Machine.. (diakses 22 Agustus 2013)
  94. ^ Hizmet News Portal D-8’s Alam calls on everyone to support Turkish schools. (diakses 22 Agustus 2013)
  95. ^ Detik News Anies Baswedan Raih Nakasone Award dari Jepang. (diakses 22 Agustus 2013)
  96. ^ Oktavia Erwanti, Marlinda (16 Desember 2017). "Anies-Sandi dan Istri Dapat Gelar Adat Betawi 'Abang dan Mpok'". Detik.com. Diakses tanggal 20 November 2021. 
  97. ^ Aliya Azzahra, Tiara (31 Oktober 2021). "Anies Baswedan Dapat Gelar Pemuka Utama Budaya Betawi". Detik.com. Diakses tanggal 1 November 2021. 
  98. ^ Wiryono, Singgih (2022-01-30). "Anies Diberi Gelar Tokoh Persatuan Pembangunan oleh DPW PPP Jakarta". Kompas.com. Diakses tanggal 2022-03-17. 
  99. ^ "Diberi Gelar 'Tuan Penata Negara', Anies: Akan Kami Jalani Sebaik-baiknya". Detik.com. 2022-05-09. Diakses tanggal 2022-05-10. 

Daftar pustaka

  • "Biodata Anies Baswedan" (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: aniesbaswedan.com. Diakses tanggal 5 Mei 2014. 

Pranala luar

Jabatan politik
Didahului oleh:
Djarot Saiful Hidayat
Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta
2017–sekarang
Petahana
Didahului oleh:
Mohammad Nuh
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia
2014–2016
Diteruskan oleh:
Muhadjir Effendy
Jabatan akademik
Didahului oleh:
Sohibul Iman
(Penjabat)
Rektor Universitas Paramadina
2007–2015
Diteruskan oleh:
Firmanzah