Kabupaten Pemalang

kabupaten di Jawa Tengah, Indonesia
(Dialihkan dari Pemalang)

Kabupaten Pemalang (bahasa Jawa: ꦥꦼꦩꦭꦁ) adalah salah satu kabupaten di provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kabupaten Pemalang berada di jalur utama pantura yang menghubungkan Jakarta - Semarang - Surabaya. Ibukota kabupaten-nya terletak di kota Pemalang.

Kabupaten Pemalang
Transkripsi bahasa daerah
 • Hanacarakaꦥꦼꦩꦭꦁ
Curug Sibedil
Curug Sibedil
Lambang resmi Kabupaten Pemalang
Julukan: 
Kota Grombyang, Kota Nanas, Kota Ikhlas
Peta
Kabupaten Pemalang is located in Jawa
Kabupaten Pemalang
Kabupaten Pemalang
Peta
Kabupaten Pemalang is located in Indonesia
Kabupaten Pemalang
Kabupaten Pemalang
Kabupaten Pemalang (Indonesia)
Koordinat: 6°53′26″S 109°22′51″E / 6.8906°S 109.3808°E / -6.8906; 109.3808
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Tengah
Dasar hukumUU No. 13 Tahun 1950
Hari jadi24 Januari 1575
Ibu kotaKota Pemalang
Jumlah satuan pemerintahan
Daftar
Pemerintahan
 • BupatiMukti Agung Wibowo, S.T., M.Si.
 • Wakil BupatiMansur Hidayat, S.T.
Luas
 • Total1.118,03 km2 (431,67 sq mi)
Populasi
 • Total1.529.920
 • Kepadatan1.362/km2 (3,530/sq mi)
Demografi
 • AgamaIslam 98,82%
Kristen 0,96%
- Protestan 0,54%
- Katolik 0,42%
Hindu 0,09%
Buddha 0,07%
Lainnya 0,05%
Konghucu 0,01%[2]
 • IPMKenaikan 66,56 (2021)
Sedang[3]
Zona waktuUTC+07:00 (WIB)
Kode pos
Kode area telepon0284
Pelat kendaraanG xxxx D*/I*/M*/W*
Kode Kemendagri33.27 Edit the value on Wikidata
DAURp 1.241.959.529.000.-(2020)[4]
Semboyan daerahPemalang IKHLAS
(Indah, Komunikatif, Hijau, Lancar, Aman, Sehat)
Slogan pariwisataPemalang, Puseré Jawa
Flora resmiSrigading
Fauna resmiBurung kacer jawa
Situs webwww.pemalangkab.go.id

SejarahSunting

Masa PrasejarahSunting

Keberadaan manusia pada masa prasejarah di Pemalang dapat dibuktikan dengan berbagai temuan arkeologis. Di Kabupaten Pemalang bagian barat, ditemukan situs-situs megalitik,[5] sedangkan sebuah nekara perunggu ditemukan di Desa Kabunan.[6] Bukti arkeologis adanya unsur kebudayaan Hindu-Buddha di Pemalang antara lain ditemukannya patung Ganesha, lingga, kuburan, ambang pintu, dan batu nisan di Desa Lawangrejo dan Desa Banyumudal.[7]

Selain itu, ada pula bukti arkeologis unsur kebudayaan Islam berupa makam-makam para penyebar agama, antara lain Syeikh Maulana Maghribi di Kawedanan Comal, Rohidin, dan Sayyid Ngali Murtala yaitu salah seorang kerabat Sunan Ngampel.[8][9]

Pra MataramSunting

Eksistensi Pemalang telah disebutkan dalam Bujangga Manik, sebuah naskah kuno berbahasa Sunda yang diperkirakan ditulis pada akhir abad XV.[10] Pada abad XVI, catatan Rijkloff van Goens dan data buku W. Fruin Mees menyatakan bahwa pada tahun 1575 Pemalang merupakan salah satu dari 14 daerah merdeka di Pulau Jawa, yang dipimpin oleh seorang pangeran atau raja.[11] Dalam perkembangan kemudian, Panembahan Senopati dan Panembahan Seda Krapyak dari Mataram menaklukkan daerah-daerah tersebut, termasuk di dalamnya Pemalang. Sejak saat itu Pemalang menjadi daerah vasal Mataram yang diperintah oleh Pangeran atau Raja Vasal.

Pemalang dan Kendal pada masa sebelum abad XVII merupakan daerah yang lebih penting dibandingkan dengan Tegal, Pekalongan dan Semarang. Karena itu jalan raya yang menghubungkan daerah pantai utara dengan daerah pedalaman Jawa Tengah (Mataram) yang melintasi Pemalang dan Wiradesa dianggap sebagai jalan paling tua yang menghubungkan dua kawasan tersebut.

Populasi penduduk sebagai pemukiman di pedesaan yang telah teratur muncul pada periode abad awal Masehi hingga abad XIV dan XV, dan kemudian berkembang pesat pada abad XVI, yaitu pada masa meningkatnya perkembangan Islam di Jawa di bawah Kerajaan Demak, Cirebon dan kemudian Mataram. Pada masa itu daerah pantai sekitar Pemalang dan Comal telah menjadi tempat persinggahan dalam perjalanan antara Demak dan Cirebon.[12]

Terdapat babad yang menceritakan bahwa Pangeran Benawa, Sultan Pajang yang ketiga (1586–1587), setelah tersingkir dari tahtanya lalu pergi membuka daerah pemukiman baru di sekitar wilayah Pemalang, dan menetap di sana hingga wafatnya.[13] Berdasarkan kepercayaan penduduk setempat, Pangeran Benawa dimakamkan di pemakaman kuno di Desa Penggarit, Kecamatan Taman, Pemalang.[13]

Masa Kadipaten dibawah Kerajaan MataramSunting

Sejak sekitar 1622–1623, wilayah Pemalang sudah menjadi apanase (daerah kekuasaan) Pangeran Purbaya dari Mataram, yang mana seorang Kyai Lurah mewakilinya sebagai pelaksana pemerintahan setempat (stads houder).[14][15]

Seorang tokoh bernama Raden Maoneng diyakini masyarakat Pemalang sebagai salah seorang leluhur mereka.[16] Makamnya di Dukuh Maoneng, Desa Bojongbata, di pinggir Kecamatan Pemalang sebelah selatan banyak dikunjungi peziarah.[16] Beberapa sumber menyebutkan adanya tokoh bernama Tumenggung Mangun-Oneng, yaitu seorang panglima perang Sultan Agung yang memimpin pasukan Mataram dalam penaklukkan Surabaya pada tahun 1625.[17][18]

Pada masa Sunan Amangkurat I memerintah Mataram (1645–1677), Pemalang sudah berkembang menjadi salah satu dari kota-kota niaga maritim di pesisir utara Jawa, yang diatur dan diawasi dengan ketat oleh Mataram.[11]

Catatan Belanda menyebutkan bahwa Mataram mengangkat para adipati (stedehouders) dan syahbandar (sabandars of te tolmeesters) di kota-kota tersebut, serta memiliki dua pejabat tinggi (commissarissens) pengawas pesisir khusus untuk memastikan monopoli Mataram atas kegiatan perdagangan mereka.[11]

Pada sekitar tahun 1652, Sunan Amangkurat II mengangkat Ingabehi Subajaya menjadi Bupati Pemalang setelah Amangkurat II memantapkan tahta pemerintahan di Mataram setelah pemberontakan Trunajaya dapat dipadamkan dengan bantuan VOC pada tahun 1678.

Masa Perang DiponegoroSunting

Menurut catatan Belanda pada tahun 1820 Pemalang kemudian diperintah oleh Bupati yang bernama Mas Tumenggung Suralaya. Pada masa ini Pemalang telah berhubungan erat dengan tokoh Kanjeng Swargi atau Kanjeng Pontang. Seorang Bupati yang terlibat dalam perang Diponegoro. Kanjeng Swargi ini juga dikenal sebagai Gusti Sepuh, dan ketika perang berlangsung dia berhasil melarikan diri dari kejaran Belanda ke daerah Sigeseng atau Kendaldoyong. Makam dari Gusti Sepuh ini dapat diidentifikasikan sebagai makam kanjeng Swargi atau Reksodiningrat. Dalam masa-masa pemerintahan antara tahun 1823–1825 yaitu pada masa Bupati Reksadiningrat. Catatan Belanda menyebutkan bahwa yang gigih membantu pihak Belanda dalam perang Diponegoro di wilayah Pantai Utara Jawa hanyalah Bupati-bupati Tegal, Kendal dan Batang tanpa menyebut Bupati Pemalang.

Sementara itu pada bagian lain dari Buku P.J.F. Louw yang berjudul De Java Oorlog van 1825–1830 dilaporkan bahwa Residen Van den Poet mengorganisasi beberapa barisan yang baik dari Tegal, Pemalang dan Brebes untuk mempertahankan diri dari pasukan Diponegoro pada bulan September 1825 sampai akhir Januari 1826. Keterlibatan Pemalang dalam membantu Belanda ini dapat dikaitkan dengan adanya keterangan Belanda yang menyatakan Adipati Reksodiningrat hanya dicatat secara resmi sebagai Bupati Pemalang sampai tahun 1825. Dan besar kemungkinan peristiwa pengerahan orang Pemalang itu terjadi setelah Adipati Reksodiningrat bergabung dengan pasukan Diponegoro yang berakibat Belanda menghentikan Bupati Reksodiningrat.

Pada tahun 1832, Bupati Pemalang yang Mbahurekso adalah Raden Tumenggung Sumo Negoro. Pada waktu itu kemakmuran melimpah ruah akibat berhasilnya pertanian di daerah Pemalang. Seperti diketahui Pemalang merupakan penghasil padi, kopi, tembakau dan kacang. Dalam laporan yang terbit pada awal abad XX disebutkan bahwa Pemalang merupakan afdeling dan Kabupaten dari karisidenan Pekalongan. Afdeling Pemalang dibagi dua yaitu Pemalang dan Randudongkal. Dan Kabupaten Pemalang terbagi dalam 5 distrik. Jadi dengan demikian Pemalang merupakan nama kabupaten, distrik dan Onder Distrik dari Karisidenan Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah.

Pusat Kabupaten Pemalang yang pertama terdapat di Desa Oneng. Walaupun tidak ada sisa peninggalan dari Kabupaten ini namun masih ditemukan petunjuk lain. Petunjuk itu berupa sebuah dukuh yang bernama Oneng yang masih bisa ditemukan sekarang ini di Desa Bojongbata. Sedangkan Pusat Kabupaten Pemalang yang kedua dipastikan berada di Ketandan. Sisa-sisa bangunannya masih bisa dilihat sampai sekarang yaitu disekitar Klinik Ketandan (Dinas Kesehatan). Pusat Kabupaten yang ketiga adalah kabupaten yang sekarang ini (Kabupaten Pemalang dekat Alun-alun Kota Pemalang). Kabupaten yang sekarang ini juga merupakan sisa dari bangunan yang didirikan oleh Kolonial Belanda. Yang selanjutnya mengalami beberapa kali rehab dan renovasi bangunan hingga kebentuk bangunan joglo sebagai ciri khas bangunan di Jawa Tengah.

Masa Kolonial BelandaSunting

Pada tahun 1918, di Pemalang berdiri organisasi pergerakan wanita Wanito Susilo, yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan.[19]

Kabupaten Pemalang mantap sebagai suatu kesatuan administratif pasca pemerintahan Kolonial Belanda. Sejak tahun 1948, Pusat Pemerintahan Kabupaten Daerah Tingkat II Pemalang berkedudukan di Pemalang.[20]

Hari Jadi dan SesantiSunting

Sebagai suatu penghomatan atas sejarah terbentuknya Kabupten Pemalang maka pemerintah daerah telah bersepakat untuk memberi atribut berupa Hari Jadi Pemalang. Hal ini selalu untuk memperingati sejarah lahirnya Kabupaten Pemalang juga untuk memberikan nilai-nilai yang bernuansa patriotisme dan nilai-nilai heroisme sebagai cermin dari rakyat Kabupaten Pemalang.

Salah satu alternatif penetapan hari jadi Kabupaten Pemalang ialah pada saat diumumkannya pernyataan Pangeran Diponegoro untuk mengadakan perang terhadap Pemerintahan Kolonial Belanda, yaitu tanggal 20 Juli 1823. Namun, berdasarkan diskusi para pakar yang dibentuk oleh Tim Kabupaten Pemalang, hari jadi Pemalang adalah tanggal 24 Januari 1575, atau bertepatan dengan Hari Kamis Kliwon tanggal 1 Syawal 1496 Je 982 Hijriah. Keputusan tersebut selanjutnya ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Dati II Kabupaten Pemalang Nomor 9 Tahun 1996 tentang Hari Jadi Kabupaten Pemalang. Tahun 1575 diwujudkan dengan bentuk Surya Sengkala Lunguding Sabda Wangsiting Gusti yang mempunyai arti harfiah: kearifan, ucapan/sabdo, ajaran, pesan-pesan, Tuhan, dengan mempunyai nilai 5751. Sedangkan tahun 1496 Je diwujudkan dengan Candra Sengkala Tawakal Ambuko Wahananing Manunggal yang mempunyai arti harfiah berserah diri, membuka, sarana/wadah/alat untuk, persatuan/menjadi satu dengan mempunyai nilai 6941.

Adapun Sesanti Kabupaten Pemalang adalah Pancasila Kaloka Panduning Nagari, dengan arti harfiah lima dasar, termashur/terkenal, pedoman/bimbingan, negara/daerah dengan mempunyai nilai 5751

GeografiSunting

Kabupaten Pemalang terletak di pantai utara Pulau Jawa. Secara astronomis, kabupaten ini terletak antara 109°17'30" – 109°40'30" BT dan 6°52'30" – 7°20'11" LS. Luas wilayah kabupaten ini ialah sebesar 111.530 km².

Ibu kota kabupaten ini adalah Kota Pemalang, yang terletak di ujung barat laut wilayah kabupaten dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Tegal. Kabupaten ini berjarak kira-kira 135 km ke arah barat dari Semarang, ibu kota Provinsi Jawa Tengah, atau jika ditempuh dengan kendaraan darat memakan waktu lebih kurang 3-4 jam. Kabupaten Pemalang berada di jalur pantura Jakarta-Semarang-Surabaya. Selain itu terdapat pula jalan provinsi yang menghubungkan Kabupaten Pemalang dengan Kabupaten Purbalingga.

Batas wilayahSunting

Batas wilayah Kabupaten Pemalang antara lain:

Utara Laut Jawa.
Timur Kabupaten Pekalongan
Selatan Kabupaten Purbalingga dan Gunung Slamet
Barat Kabupaten Tegal

TopografiSunting

Kabupaten Pemalang memiliki topografi bervariasi. Bagian utara merupakan dataran rendah, berupa daerah pantai dengan ketinggian berkisar antara 1-5 meter di atas permukaan laut. Bagian tengah merupakan dataran rendah yang subur dengan ketinggian 6–15 m di atas permukaan laut; sedangkan bagian selatan merupakan dataran tinggi berupa pengunungan yang subur serta berhawa sejuk dengan ketinggian 16–925 m di atas permukaan laut. Puncak tertingginya ialah Gunung Slamet, yang berada di perbatasan dengan Kabupaten Tegal dan Kabupaten Purbalingga, dan merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah. Wilayah bagian selatan Pemalang biasa disebut Waliksarimadu yaitu singkatan Watukumpul, Belik, Pulosari, Moga, Warungpring dan Randudongkal. Wilayah tersebut juga sering disebut sebagai Pemalang Selatan.

Wilayah Kabupaten Pemalang dilintasi oleh tiga sungai besar, yaitu Sungai Comal, Sungai Waluh, dan Sungai Rambut,[21] yang menjadikannya sebagai daerah aliran sungai yang subur. Sungai Comal merupakan sungai terbesar, yang alirannya melalui tujuh wilayah kecamatan di kabupaten ini, dan bermuara ke Laut Jawa tepatnya di Tanjung Pemalang.[21]

IklimSunting

Data iklim Pemalang
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rata-rata tertinggi °C (°F) 30.0
(86)
30.2
(86.4)
31.0
(87.8)
31.6
(88.9)
31.7
(89.1)
31.7
(89.1)
31.7
(89.1)
31.9
(89.4)
32.5
(90.5)
32.7
(90.9)
32.1
(89.8)
31.2
(88.2)
31.52
(88.77)
Rata-rata harian °C (°F) 26.3
(79.3)
26.4
(79.5)
27.0
(80.6)
27.5
(81.5)
27.4
(81.3)
27.0
(80.6)
26.8
(80.2)
26.7
(80.1)
27.3
(81.1)
27.7
(81.9)
27.6
(81.7)
27.0
(80.6)
27.06
(80.7)
Rata-rata terendah °C (°F) 22.7
(72.9)
22.7
(72.9)
23.1
(73.6)
23.4
(74.1)
23.2
(73.8)
22.4
(72.3)
21.9
(71.4)
21.5
(70.7)
22.1
(71.8)
22.7
(72.9)
23.1
(73.6)
22.9
(73.2)
22.64
(72.77)
Curah hujan mm (inci) 466
(18.35)
377
(14.84)
275
(10.83)
145
(5.71)
143
(5.63)
90
(3.54)
78
(3.07)
67
(2.64)
56
(2.2)
87
(3.43)
150
(5.91)
290
(11.42)
2.224
(87,57)
Sumber: Climate-Data.org[22]

PemerintahanSunting

Daftar BupatiSunting

No Foto Nama Mulai Jabatan Akhir Jabatan Wakil Bupati Keterangan
1 R.A. Soemonegoro 1862
2 R.T. Reksonegoro 15 Maret 1862 Juni 1879 [23]
3 R.T. Soero-adikoesoemo 21 Juni 1879 [24] 24 Maret 1897 [25]
4 R.T.A. Soeraningrat 7 April 1897 [26] 21 Januari 1907 [27]
5 R.M.A. Pandji Ariodinoto 8 Maret 1908 [28] 24 Januari 1920 [29] Dipindah jadi Bupati Cirebon
6 - R.A.A. Soedoro Soero-adikoesoemo 18 Januari 1921 [30] 6 Oktober 1940 [31]  
7 - R.T.A. Rahardjo Soero-adikoesoemo 10 September 1941 [32] Oktober 1945 Ditangkap dan ditahan dalam Peristiwa Tiga Daerah
Masa Pemerintahan Indonesia
8 R. Soepangat 20 Oktober 1945
9 - K.H. Makmur 30 Desember 1945
10 - Soewarno 1947 1948  
11 - Mochtar 1 Desember 1949 1954  
12 - R.M. Soemardi 1954 1956  
13 - K. Machali 1957 1958  
14 - R.M. Soemartojo 1959 1966  
15 - Drs. Rivai Yusuf 1967 1972  
16 - Drs. Soedarmo 1973 1975  
17 - Yoesoef Achmadi 1975 1981  
18 - Slamet Haryanto, BA 1981 1991  
19 - Drs. Soewartono 1991 1996  
20 - Drs. H. Munir 1996 2000  
21 - H.M. Machroes, SH 2000 2010 H. Junaedi, SH, MH (2006-2011)
22 - H. Junaedi, SH, MH 2011 2016 Mukti Agung Wibowo,S.T.,M.Si.
23 Budhi Rahardjo 2016 2016 Di tunjuk plh bupati pemalang
24 H. Junaedi, SH, MH 2016 2021 Drs. Martono
25 Mukti Agung Wibowo, ST, M.si 2021 2026 Mansur Hidayat, ST


Dewan PerwakilanSunting

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Pemalang dalam tiga periode terakhir.

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2009–2014 2014–2019 2019–2024
  PKB 6   7   9
  Gerindra (baru) 2   7   6
  PDI-P 11   13   15
  Golkar 9   7   6
  NasDem (baru) 0   1
  PKS 5   5   6
  PPP 6   6   7
  PAN 4   3   0
  Hanura (baru) 2   2   0
  Demokrat 5   0   0
Jumlah Anggota 50   50   50
Jumlah Partai 9   8   7

KecamatanSunting

Kabupaten Pemalang terdiri dari 14 kecamatan, 11 kelurahan, dan 211 desa. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 1.471.174 jiwa dengan luas wilayah 1.118,03 km² dan sebaran penduduk 1.316 jiwa/km².[33][34]

Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Pemalang, adalah sebagai berikut:

Kode
Kemendagri
Kecamatan Jumlah
Kelurahan
Jumlah
Desa
Status Daftar
Desa/Kelurahan
33.27.11 Ampelgading 16 Desa
33.27.06 Bantarbolang 17 Desa
33.27.03 Belik 12 Desa
33.27.05 Bodeh 19 Desa
33.27.12 Comal 1 17 Desa
Kelurahan
33.27.01 Moga 10 Desa
33.27.08 Pemalang 7 13 Desa
Kelurahan
33.27.10 Petarukan 1 19 Desa
Kelurahan
33.27.02 Pulosari 12 Desa
33.27.07 Randudongkal 18 Desa
33.27.09 Taman 2 19 Desa
Kelurahan
33.27.13 Ulujami 18 Desa
33.27.14 Warungpring 6 Desa
33.27.04 Watukumpul 15 Desa
TOTAL 11 211

KependudukanSunting

Pada tahun 2021, penduduk Kabupaten Pemalang berjumlah 1.522.301 jiwa, dengan kepadatan rata-rata 1.362/km². Kecamatan Comal memiliki kepadatan tertinggi yaitu sebesar 3.562 jiwa/km2 yang artinya, setiap 1 Km2 didiami oleh sekitar 3.562 orang. Sedangkan kecamatan Watukumpul memiliki angka kepadatan rata-rata paling rendah, yaitu sebesar 588.21 jiwa/km2.[1]

AgamaSunting

Agama di Kabupaten Pemalang
Agama Persen
Islam
  
98.82%
Kristen Protestan
  
0.54%
Katolik
  
0.42%
Hindu
  
0.09%
Buddha
  
0.07%
Lainnya
  
0.05%
Konghucu
  
0.01%

EkonomiSunting

Pasar tradisionalSunting

  • Pasar Banjardawa

Banjardawa I, Banjardawa, Kec. Taman, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52361

  • Pasar Bantarbolang

Karangasem, Bantarbolang, Kec. Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52352

  • Pasar Beji

Jl. Perintis Kemerdekaan No.109, Beji, Kec. Taman, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52361

  • Pasar Comal

Posongan, Purwoharjo, Kec. Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52363

  • Pasar Pagi Pemalang

Jl. Mawar No.Desa, Mulyoharjo, Kec. Pemalang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52319

  • Pasar Petarukan

Jl. Kartini No.184, Petarukan, Kec. Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52362

  • Pasar Randudongkal

Dusun III, Randudongkal, Kec. Randudongkal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52353

  • Pasar Belik

komplek pasar, Jl. Raya Belik - Pulosari, Bentar, Dukuh Tengah, Kec. Belik, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52355

  • Pasar Moga

Campakawulung, Banyumudal, Moga, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52354

  • Pasar Paduraksa

Jl. D.I. Panjaitan, Pemalang, Jawa Tengah, Indonesia


PerhutaniSunting

Berbagai kategori hutan tersedia di Kabupaten ini seperti Hutan Lindung, Hutan Suaka Alam dan Wisata, Hutan Produksi Tetap, Hutan Produksi Terbatas, Hutan Bakau dan Hutan Rakyat. Hasil kehutanan antara lain Kayu Jati, Kayu Albasia, Kayu Mahoni dan juga Getah Pinus.

Pusat perbelanjaanSunting

  • Basa Toserba

Jl. Jend. Sudirman No.30, Mulyoharjo, Kec. Pemalang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52313, Indonesia

  • Ria Busana

Jl. Jend. Sudirman No.288, Pelutan, Kec. Pemalang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52312

  • Sirandu Mall Kebondalem, Kec. Pemalang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52319
  • Swalayan Pemalang Permai

Jl. Jend. Sudirman, Kebondalem, Kec. Pemalang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52312

  • Toko Sukses Busana

Jl. Jend. Sudirman No.149, Mulyoharjo, Kec. Pemalang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52313

  • Toserba Yogya

Jl. Jend. Sudirman No.94, Pelutan, Kec. Pemalang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52312, Indonesia

PerbankanSunting

Layanan jasa perbankan di Kabupaten Pemalang dilayani oleh 4 buah Bank milik pemerintah BRI, BNI, Bank Mandiri dan Bank Jateng dan 7 buah bank swasta nasional seperti BCA, Bank Muamalat, Bank Danamon, CIMBNIAGA, Bank Mega, Bank Sinar Mas dan BTPN serta bank milik pemerintah daerah sebanyak 3 buah yaitu BPR, BKK, dan Bank Pasar.

HotelSunting

  • Airy Jenderal Sudirman Timur 5
  • Akasia Budget Hotel
  • GM Hotel
  • Hotel Dewi Sri
  • Hotel Dina
  • Hotel Grand Royal
  • Hotel Kencana
  • Hotel Murni
  • Hotel Pemalang
  • Hotel Podomoro
  • Hotel Regina
  • Hotel Segoro
  • Panorama Hotel
  • SB Hotel
  • Sentana Mulia Hotel
  • The Winner Hotel
  • Wisma Paragon Pemalang

IndustriSunting

  • PT. Blue Star Anugrah
  • PT. Cahaya Timur Garmindo
  • PT. Candi Mekar
  • PT. Casuarina Harnessindo
  • PT. Cosmoprof Indokarya
  • PT. Daiwabo Garment Indonesia
  • PT. Dalim Fideta Kornesia
  • PT. Haitwo Anugerah Nibras
  • PT. Ciomas Adisatwa
  • PT. Mega Putra Garmen
  • PT. Multikarya Garmen Texindo
  • PT. Panca Budi Idaman
  • PT. Philips Seafood Indonesia
  • PT. Ria Indah Terang Abadi
  • PT. Rindang Jati Spinning
  • PT. Sandy Nazwatex Jaya

PerikananSunting

Menyadari besarnya potensi yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Pemalang mengembangkan budidaya ikan dan biota air laut. Selain juga berupa perikanan darat berupa Tambak, Kolam, Karamba, dan budidaya biota air tawar.

Dengan areal tambak seuas 1.728 hektar komoditas yang dikembangkan berupa Bandeng, Udang Windu dan Kepiting Soka. Sedangkan produk perikanan laut yang mempunyai nilai jual tinggi diantaranya berupa Ikan Teri Nasi, Udang, Rajungan dan Bawal Putih.

PertanianSunting

Sektor pertanian dengan lahan sawah seluas 38.617 hektar dan lahan kering 23.813 hektar masih menjadi tulang punggung perekonomian di Kabupaten ini, komoditas yang menonjol untuk tanaman pangan adalah Padi, Ketela Pohon dan Jagung, Sayur-sayuran, Bawang Merah, Cabai Merah dan Ketimun. Sedangkan produksi buah-buahan adalah Nanas Batu, Nanas Madu, Pisang , Kelapa dan Mangga.

PeternakanSunting

Ternak seperti Sapi Potong, Sapi Perah, Kambing, Domba, Kerbau, Kuda, Ayam Buras, Ayam Petelur, Ayam Pedaging dan Itik, Burung Puyuh, Burung Dara sangat cocok dikembangkan di Kabupaten ini.

PerkebunanSunting

Salah satu andalan Kabupaten Pemalang adalah “Teh” dengan produksi sebesar 927,53 ton, dengan luas area perkebunan sebesar 15.713 hektar. Produksi perkebunan andalan lainnya adalah Tebu, Kelapa Sayur, Glagah Arjuna, Cengkeh, Kopi, Tembakau, Kakao, Lada, Nilam, dan Karet tumbuh subur di Kabupaten ini.

Sumber Daya AlamSunting

Kandungan sumber daya alam yang paling potensial di Kabupaten Pemalang khususnya pemalang bagian selatan yang terletak di lereng Gunung Slamet adalah berupa Tambang Diorit, Kaolin, Batu Gamping, dan Batu Marmer.

OlahragaSunting

Klub yang berjuluk Laskar Benowo ini bermarkas di Stadion Mochtar Pemalang. Pada tahun 2018 tim PSIP Pemalang berhasil menjadi juara liga 3 Jateng . Serta ikut dalam babak pendahuluan namun hanya bisa sampai babak 2 karena dikalahkan PS Kota Pahlawan Surabaya. Di ajang Piala Indonesia tim ini berhasil masuk 64 besar. PSIP memiliki 2 basis suporter yaitu Lasbo Mania dan Ultras LBS.

TransportasiSunting

Fasilitas KesehatanSunting

Rumah SakitSunting

  • RS Harapan Sehat

Jl. R.E. Martadinata, Pelutan, Kec. Pemalang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52312

  • RS Islam Al-Ikhlas

Jl. Kolonel Sugiyono No.13, Banjardawa III, Taman, Kec. Taman, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52361

  • RS Muhammadiyah Mardhatillah

Dusun V, Randudongkal, Kec. Randudongkal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52353

  • RS Muhammadiyah Rodliyah Achid

Jl. Raya Moga - Pulosari No.KM, Simadu, Banyumudal, Moga, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52354

  • RS Prima Medika

Jl. Slamet Riyadi No.321, Mulyoharjo, Kec. Pemalang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52313

  • RS Santa Maria

Jl. Pemuda No.24, Mulyoharjo, Kec. Pemalang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52313

  • RSU Comal Baru

Sewuni, Ujunggede, Kec. Ampelgading, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52364

  • RSU Siaga Medika

Jl. Perintis Kemerdekaan No.1, Sawah, Beji, Kec. Taman, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52361

  • RSUD Dr.M.Ashari

Jl. Gatot Subroto No.41, Bojongbata, Kec. Pemalang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52319

PuskesmasSunting

  • Puskesmas Banjardawa
  • Puskesmas Jebed
  • Puskesmas Bantarbolang
  • Puskesmas Banyumudal
  • Puskesmas Belik
  • Puskesmas Cikadu
  • Puskesmas Jatiroyom
  • Puskesmas Kabunan
  • Puskesmas Kalimas
  • Puskesmas Karangasem
  • Puskesmas Kebandaran
  • Puskesmas Kebondalem
  • Puskesmas Klareyan
  • Puskesmas Watukumpul
  • Puskesmas Warungpring
  • Puskesmas Sarwodadi
  • Puskesmas Losari
  • Puskesmas Mojo
  • Puskesmas Mulyoharjo
  • Puskesmas Paduraksa
  • Puskesmas Petarukan
  • Puskesmas Pulosari
  • Puskesmas Purwoharjo
  • Puskesmas Randudongkal
  • Puskesmas Rowosari

PendidikanSunting

Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa Kabupaten Pemalang terus menggiatkan proses pendidikan yang terpadu dan berkesinambungan difasilitasi dengan 359 Sekolah Taman Kanak-kanak, 2 buah Sekolah Luar Biasa, 868 SD/MI, 161 SMP/MTS, 37 SMA/MA, 53 SMK dan 3 buah perguruan tinggi menjadikan sumberdaya manusia yang berkualitas dan mandiri.

Media MassaSunting

  • De Best Radio 101,1 FM
  • G-news
  • Kabar Pemalang
  • Lppl Radio Swara Widuri 87,7 FM
  • Puskapik
  • Radio Persada 93,6 FM
  • Radio Pop 89,3 FM
  • Radio TFM 102,7 FM
  • Radio Thomson 96,00 FM
  • Media Kabar Kita

PariwisataSunting

  • Alun-Alun Pemalang
  • Benowo Park
  • Bukit Igir Kandang
  • Bukit Kukusan
  • Bukit Mendelem
  • Wippas Surajaya
  • Bukit Tangkeban
  • Curug Bengkawah
  • Curug Sibedil
  • Kampoeng Teh Semugih
  • Makam Syeikh Maulana Syamsuddin
  • Pabrik Gula Sumberharjo
  • Pantai Joko Tingkir
  • Pantai Widuri
  • Pendakian Gunung Slamet
  • Taman Patih Sampun
  • Telaga Silating
  • Waterboom Zatobay
  • Wisata Jambe Kembar

PerhelatanSunting

  • Road To Kilau Raya MNCTV

Perhelatan Road to kilau di Kabupaten Pemalang, sukses digelar dan membuat 40.000 warga yang datang memadati pantai widuri, larut dalam alunan musik dangdut dan goyangan artis-artis papan atas.

Guyuran hujan tidak menyurutkan antusiasme dari warga Pemalang untuk menyaksikan idola mereka diantaranya, Inul Daratista, Cak Sodiq, Tasya Rosmala, Nita Thalia, IIux, Dewi Persik, Jihan Audy, Denny Caknan, Abi KDI, Julia Vio, Suci KDI, Eva Puka, Abi KDI, Lebby dan Limbad.

Acara yang disiarkan secara langsung oleh MNCTV ini dibuka oleh Inul Daratista, Nita Thalia dan Dewi Persik dengan lagu 'Goyang inul, Polisi dan Bojo galak' di temani para kostum karnaval tampil memukau membuat para penonton bernyanyi dan bergoyang bersama larut dalam suasana yang meriah.

Dilanjutkan lagi oleh Deni caknan dan Tasya Rosmala dengan membawakan lagu 'Kortonyono medot janji' membuat warga Pamalang terus bergoyang tanpa henti. Tak kalah juga Cak Sodiq berkolaborasi denga Nita Thalia menghipnotis warga dengan lagu 'Pamer bojo', juga Ilux Id, Suci KDI dan Lebby mengajak seluruh penonton di Pantai Widuri pada malam tadi ikut bernyanyi.

  • Festival Budaya Bangkuncung

Aneka kesenian tradisional khas desa-desa se Kecamatan Warungpring, ditampilkan dalam Festival Budaya Bangkuncung atau Terbang Kencer Kuntulan dan Calung, di Lapangan Kecamatan Warungpring, Kabupaten Pemalang pada Minggu (16/2/2020).

Basuki SPd, ketua panitia menjelaskan, festival budaya ini mengambil tema mengembangkan dan melestarikan budaya daerah untuk Warungpring maju. Munculnya kesenian Bangkuncung ini dilatarbelakangi kesenian daerah yang merupakan suatu budaya yang keberadaannya sangat melekat di dalam struktur masyarakat daerah. Perkembangannya dipercepat oleh seringnya dipentaskan dalam acara-acara tertentu.

Walau demikian kesenian tersebut terancam makin tertinggal. “Festival ini untuk mengembangkan dan melestarikan budaya daerah,” katanya.

Di Kecamatan Warungpring, banyak kesenian daerah yang sudah mengakar, dan punya ciri berbeda dengan lainnya seperti terbang kencer, kuntulan (seni silat) dan calung (kombinasi antara angklung dan musik tabuh atau gendang).

“Festival ini menggali kreativitas utamanya generasi muda, dalam upaya mengembangkan budaya asli daerah,” imbuhnya.

Imam Fahrudin, panitia lainnya menambahkan, kesenian daerah yang ditampilkan antara lain karnaval budaya Bangkuncung, pameran durian Warungpring, pameran UMKM, festival dolanan anak, tari massal, aerobik massal, batik karnaval, sintren humor dan makanan tradisional dan lainnya.

“Lewat Festival Bangkuncung ini, semoga budaya daerah di Kecamatan Warungpring makin maju dan dikenal masyarakat,” ujarnya.

  • Festival Wong Gunung 2019

Atraksi seni budaya biasanya menggambarkan suka cita masyarakat. Namun di Pemalang, kondisi masyarakat yang kesulitan air bersih, dikemas menjadi sebuah atraksi pertunjukan budaya yang sangat menarik. Bertajuk Festival Wong Gunung 2019, gambaran tentang kesulitan warga tentang air bersih ditampilkan dalam pertunjukan menarik. Prosesi pengambilan air yang disebut ‘Ritual Agung Banyu Penguripan’, dari lereng gunung Slamet oleh para kesatria untuk keperluan masyarakat menjadi sebuah karya seni yang indah ditampilkan di Lapangan Pulosari Pemalang, Minggu (8/9/2019). Prosesi itu menggambarkan bagaimana kisah tujuh kesatria terpilih yang ditugaskan mengambil air dari tujuh sumber mata air Gunung Slamet. Setelah air berhasil diambil, kemudian Banyu Panguripan itu diruwat, dikirab dan diserahkan kepada masyarakat. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang hadir dalam acara Festival Wong Gunung 2019 mengapresiasi kreativitas masyarakat itu. Menurutnya, masyarakat Jawa Tengah adalah orang-orang kreatif yang memiliki jiwa seni tinggi. “Jawa Tengah memiliki potensi budaya tradisional yang sangat berlimpah. Kalau semua disatukan dan dilestarikan, tentu akan menjadi kekuatan besar. Hari ini saya terkejut, kisah kesulitan air karena kemarau saja bisa jadi pertunjukan sebagus ini,” kata Ganjar. Kegiatan Festival Wong Gunung yang diselenggarakan di desa lereng Gunung Slamet, lanjut dia, juga merupakan hal yang membanggakan. Sebab saat ini, geliat kesenian tidak hanya terlihat di kota-kota besar saja, namun di pelosok daerah, semangat berkesenian terus tumbuh. “Kita butuh banyak atraksi-atraksi kesenian semacam ini. Selain untuk menarik wisatawan, kalau banyak pertunjukan seni, maka masyarakat akan bahagia,” tegasnya. Ganjar juga mengomentari terkait kondisi kekurangan air bersih di Kecamatan Pulosari. Saat ini lanjut dia, program air bersih untuk Kecamatan Pulosari sudah dikerjakan oleh pemerintah pusat, dan dalam proses penyelesaian Detail Engineering Design (DED). “Saya akan kawal sendiri program ini, agar dalam 1-2 tahun ke depan, daerah ini sudah tidak kesulitan air bersih lagi,” tegasnya. Bupati Pemalang Junaedi mengatakan, Festival Wong Gunung awalnya hanya kegiatan seni kecil dari beberapa wilayah di Pemalang. Kemudian, prosesi itu digabungkan menjadi lebih besar dalam empat tahun terakhir. “Alhamdulillah antusiasme masyarakat menyaksikan prosesi ini semakin besar. Kami berharap, festival ini dapat masuk dalam kalender event nasional agar semakin banyak wisatawan yang datang ke Pemalang,” kata dia.

  • Karnaval Batik Jawa Tengah

Karnaval ini merupakan ajang resmi pada setiap Pesta Rakyat HUT Jateng. Tak terkecuali perayaan ke 68 tahun ini yang digelar di Kabupaten Pemalang pada Minggu (19/8/2018).

Karnaval menampilkan kreasi kostum 21 kabupaten/kota dengan panduan kreativitas desain, keselarasan dan penampilan.

Ketua Dekranasda Jateng, Siti Atiqoh, mengatakan Jateng sangat kaya kerajinan dan keseniannya. Khusus batik, kata Atiqoh, hampir setiap kabupaten/kota memiliki ciri khas corak masing-masing. "Itu kekayaan yang tidak hanya dijaga, tepai dikembangkan."

Makanan khasSunting

Oleh-olehSunting

  • Nanas Madu
  • Sarung Goyor
  • Kerajinan Kulit Ular
  • Batik Pemalangan

Kesenian DaerahSunting

  • Sintren
  • Jaran Kepang
  • Baritan
  • Kuntulan
  • Krangkeng

Tarian DaerahSunting

  • Tari Selendang Pemalang

Salah satu tarian daerah yang pernah ditampilkan oleh 100 penari dalam pembukaan acara Pesta Rakyat Pemalang tahun 2016. Tarian ini telah diresmikan sebagai tarian khas asal Pemalang oleh Junaedi selaku Bupati Pemalang pada tanggal 17 September 2012.

Tarian yang diciptakan oleh seniman bernama Drs. Ki Kustoro mendapatkan inspirasi dari sejarah awal mula terbentuknya Kabupaten Pemalang. Busana yang dikenakan oleh penari sangat sederhana ditambah dengan aksesoris bunga melati di sanggul.

Keunikan dari tarian rakyat Pemalang ini terletak pada selendang yang menjadi ciri khasnya yaitu ujung selendang ditali dengan maksud supaya warga Pemalang bisa menyimpan rahasia dengan baik. Tari Selendang Pemalang bisa dibawakan dalam berbagai acara seperti sambutan tamu, acara pernikahan dan lain-lain.

  • Tari Silakupang

Tarian daerah asal Cikendung, Pemalang memiliki nilai religius, romantic, gagah dan lincah ini pernah tampil dalam acara Parade Tari Nusantara tahun 2017. Tari silakupang merupakan kolaborasi dari beberapa kesenian di Pemalang seperti sintren, lais, kuntulan dan jaran kepang.

  • Tari Denok Widuri

Tarian daerah di Pemalang Jawa Tengah selanjutnya yakni Tari Denok Widuri yang diciptakan oleh Sanggar Tari Srimpi di Desa Ujunggede, Kabupaten Pemalang. Berasal dari bahasa Jawa kata “denok” memiliki arti anak perempuan, sedangkan kata “widuri” merupakan nama daerah di Pemalang yang memiliki pantai yang indah.

Maka dari itu, Tari Denok Widuri mempunyai arti kehidupan gadis-gadis di pesisir Pantai Widuri Pemalang. Hal itu digambarkan dalam gerakan tari yang energik serta ekspresi penari yang ceria diiringi oleh musik tradisional yakni gamelan jawa dengan tempo beragam.

  • Tari Tani Melati

Tari Tani Melati yang menggambarkan keseharian masyarakat di daerah pesisir utara Jawa yakni pantura. Di daerah tersebut tepatnya Desa Kaliprau, Ulujami sebagian masyarakatnya banyak bekerja sebagai petani bunga melati.

Maka dari itu Tari Tani Melati yang digarap oleh koreografer Bayu Kusuma Listyanto, S.Sn mengangkat ragam gerak tari seperti beranjak, bergegas, berangkat ke ladang untuk memetik, menyortir serta meronce bunga melati.

Tari Tani Melati pun pernah mendapatkan kesempatan untuk tampil di acara yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Provinsi Jawa Tengah, tepatnya di alun-alun Kabupaten Pemalang.

BahasaSunting

Masyarakat Pemalang umumnya menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Namun jika dilihat dari logat bahasanya, bahasa Jawa yang dituturkan oleh masyarakat Pemalang terbagi dalam beberapa logat/dialek bahasa.

Dialek Pemalang dituturkan di sekitar Pemalang Kota dan kecamatan Taman. Ciri khas dialek ini yaitu memiliki pengucapan yang sangat mirip dengan Bahasa Jawa Banten yakni huruf A di ucapkan "e pepet" (eu) seperti sega, pira, apa di ucapkan segê, pirê, apê . Dialek ini diyakini merupakan pertemuan Bahasa Jawa Tegal yang berdialek A dengan Bahasa Jawa Pekalongan yang berdialek O. Letak Kabupaten Pemalang yang ada di persimpangan kabupaten/kota lainnya juga mempengaruhi timbulnya logat yang sangat asing bagi masyarakat Suku Jawa pada umumnya.

Pemalang berbatasan dengan kabupaten yang mempunyai dialek bahasa Jawa yang berbeda-beda. Inilah yang menyebapkan tiap-tiap kecamatan atau kawasan urban maupun daerah pedesaan di Pemalang mempunyai dialek yang berbeda-beda.

Misalnya saja di Kecamatan Pemalang terutama di desa Saradan dan desa Sewaka, di kecamatan ini dialeknya banyak menggunakan fonem e atau e pepet dalam setiap kosakatanya, didengar secara fonologis cara bicaranya seperti orang-orang Malaysia yang melafalkan fonem e secara di tahan, misalnya kowé lagi apê?, ajê kaya kuwé maring bapakmu.

Dikecamatan Taman banyak menggunakan fonem a dalam berbicara keseharian seperti ana apa koe mene? Sirahe nyong lagi mumet tea. Arusah ganggu ndipit.

Dialek lain lagi yang berbeda yaitu di dengan dialek di desa Pelutan yang dekat dengan Tegal. Hal yang paling terlihat adalah adanya penambahan kata ra dan ganing dalam akhir kalimat. Misalnya aja kaya kuwe ra, enyong kei jajane ra, ganing sampeyan kaya kue.

Selain itu berbeda lagi dengan dialek di Kecamatan Petarukan, orang-orang disana banyak menggunakan fonem o' dalam setiap kosa katanya. Misalnya pada tuturan kowe lagi opo?, ojo koyo kui kambi bapakmu. Penggunaan fonem o ini lantaran berdekatan dengan Kabupaten Pekalongan yang mempunyai dialek sendiri.

Sedangkan daerah di Pemalang yang benar-benar terdengar murni sebagai Jawa ngapak seperti cara bicaranya orang Banyumas yang terkenal akan ke lucuannya, hanya ada di Kecamatan Belik dan Pulosari. Di kecamatan ini banyak menggunakan fonem a, nada bicaranya cepat dan kesamaan kosakatanya dengan dialek Banyumasan. Misalnya pada ujaran aja kaya kuwe maring ramamu, uwis mangan po durung mbok, regane pira segane.

Tokoh TerkenalSunting

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ a b "Visualisasi Data Kependudukan Kementerian Dalam Negeri - Dukcapil 2021" (Visual). www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 1 Oktober 2021. 
  2. ^ "Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang Dianut di Kabupatem Pemalang". www.sp2010.bps.go.id. Diakses tanggal 1 Oktober 2021. 
  3. ^ "Metode Baru Indeks Pembangunan Manusia 2020-2021" (pdf). www.bps.go.id. Diakses tanggal 10 Desember 2021. 
  4. ^ "Rincian Alokasi Dana Alokasi Umum Provinsi/Kabupaten Kota Dalam APBN T.A 2020" (pdf). www.djpk.kemenkeu.go.id. (2020). hlm. 8. Diakses tanggal 1 Oktober 2021. 
  5. ^ Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (2008). Kumpulan makalah Pertemuan Ilmuah Arkeologi ke-IX, Kediri, 23-28 Juli 2002. Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia. hlm. 765. 
  6. ^ Poesponegoro, Marwati Djoened; Notosusanto, Nugroho (2008). Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Prasejarah di Indonesia. I. PT Balai Pustaka. hlm. 335. ISBN 978-979-407-407-7, 9794074071. Diakses tanggal 15 Januari 2015. [pranala nonaktif permanen]
  7. ^ Degroot, Véronique (2009). Candi, Space and Landscape: A Study on the Distribution, Orientation and Spatial Organization of Central Javanese Temple Remains. Sidestone Press. hlm. 415. ISBN 978-90-8890-039-6, 9088900396. Diakses tanggal 15 Januari 2015. 
  8. ^ Stokhof, W.A.L.; Kaptein, N.J.G. (1990). Makalah-makalah yang disampaikan dalam rangka kunjungan Menteri Agama R.I.H. Munawir Sjadzali, M.A. ke Negeri Belanda, 31 Oktober-7 November 1988: Kumpulan Karangan. 6. Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies. hlm. 127, 160. ISBN 978-979-8116-06-3, 9798116062. 
  9. ^ de Graaf, Hermanus Johannes; Pigeaud, Theodore Gauthier Th. (1985). Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama Di Jawa: Kajian Sejarah Politik Abad Ke-15 Dan Ke-16. Grafitipers. hlm. 20. 
  10. ^ Lombard, hlm. 147
  11. ^ a b c Lombard, Denys (2005). Nusa Jawa: Silang Budaya – Jaringan Asia. 2. PT Gramedia Pustaka Utama. hlm. 110. ISBN 978-979-605-451-0, 9796054515. Diakses tanggal 14 Januari 2015. 
  12. ^ Kanō, Hiroyoshi; Hüsken, Djoko; Suryo (1996). Di bawah asap pabrik gula: Masyarakat desa di pesisir Jawa sepanjang abad ke-20. Akatiga & Gadjah Mada University Press. hlm. 293. ISBN 978979420377, 9794203777. 
  13. ^ a b K.S., Yudiono (2005). Cerita Rakyat Dari Pemalang (Jawa Tengah). Grasindo. ISBN 9797590976.  Hlm. 9. Diaksés 2 Juni 2012.
  14. ^ Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah (1976). Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. hlm. 93. Diakses tanggal 14 Januari 2015. 
  15. ^ Poesponegoro, Marwati Djoened; Notosusanto, Nugroho (2008). Sejarah Nasional Indonesia: Kemunculan Penjajahan di Indonesia. IV. PT Balai Pustaka. hlm. 66. ISBN 978-979-407-410-7, 9794074101. Diakses tanggal 14 Januari 2015. [pranala nonaktif permanen]
  16. ^ a b Bachri, Saiful (10 Maret 2005). "Di Desa Bojongbata, Jalan Mulus Lampu Kencar-kencar". Suara Merdeka. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-03-05. Diakses tanggal 15 Januari 2015.  Copyright© 1996–2004 Suara Merdeka.
  17. ^ de Graaf, Hermanus Johannes (1986). Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung. 4. Grafitipers. Diakses tanggal 15 Januari 2015. 
  18. ^ Olthof, W.L.; Sumarsono, H.R. (2007). Babad Tanah Jawi Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647. Narasi. ISBN 978-979-16804-7-9, 9791680477. Diakses tanggal 15 Januari 2015. 
  19. ^ Warsid, Edi. Meneladani Kepahlawanan Kaum Wanita. Yudhistira Ghalia Indonesia. hlm. 51. ISBN 978-979-019-123-5, 9790191235. 
  20. ^ Rencana induk Kota Pemalang tahun 1983–2003. 3. Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Pemalang. 1983. 
  21. ^ a b Kantor Statistik Kabupaten Pemalang (2008). Pemalang dalam Angka 2008, Pemerintah Kabupaten Daerah Tk. II Pemalang, BPS. Hlm. 246.
  22. ^ "Climate: Pemalang". Climate-Data.org. Diakses tanggal 13 November 2020. 
  23. ^ "Gevonden in Delpher - De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad". www.delpher.nl (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 2021-03-13. 
  24. ^ Regeerings-almanak voor Nederlandsch-Indie 1882. Batavia: Landsdrukkerij. 1881. hlm. 50. 
  25. ^ "Gevonden in Delpher - Opregte Haarlemsche Courant". www.delpher.nl (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 2021-03-13. 
  26. ^ Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie 1907. Batavia: Landsdrukkerij. 1907. hlm. 174. 
  27. ^ "Gevonden in Delpher - Het vaderland". www.delpher.nl (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 2021-03-13. 
  28. ^ "Gevonden in Delpher - Soerabaijasch handelsblad". www.delpher.nl (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 2021-03-13. 
  29. ^ "Gevonden in Delpher - Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië". www.delpher.nl (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 2021-03-13. 
  30. ^ "Gevonden in Delpher - Bataviaasch nieuwsblad". www.delpher.nl (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 2021-03-13. 
  31. ^ "Gevonden in Delpher - De Indische courant". www.delpher.nl (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 2021-03-13. 
  32. ^ "Gevonden in Delpher - De Indische courant". www.delpher.nl (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 2021-03-13. 
  33. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019. 
  34. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020. 

Pranala luarSunting