Melayu Sanggau

suku bangsa di Indonesia

Suku Sanggau adalah sebuah kelompok etnis dari Suku Melayu yang menghuni sebagian besar wilayah Kabupaten Sanggau, jumlah Masyarakat Sanggau yang tersebar di Nusantara kurang lebih sekitar 400.000 orang (kurang lebih sekitar 200.000 orang di Sanggau sekarang, masih perlu rujukan). Nama "Sanggau" sendiri diambil dari kata "Sangga" yang berarti penopang, atau tiang. Dikarenakan posisi Negeri Sanggau yang berada ditengah-tengah Negeri-Negeri Kapuas. Namun ada juga pendapat yang meyakini bahwa nama “Sanggau” diambil dari nama Suku Dayak Sanggau, sebuah klan Suku Dayak yang menjadi suku asal Baba Cinga.

Mata PencaharianSunting

Permukiman masyarakat Melayu Sanggau yang kebanyakan tinggal didaerah pesisir memberikan pengaruh kepada sebagian besar mata pencaharian mereka sebagai Nelayan dan Petani, dalam profesi sebagai Petani kebanyakan masyarakat Melayu Sanggau merupakan Petani Kelapa, Petani Sahang, Petani Padi, dan Petani Karet model bercocok tanam padi masyarakat Melayu Sanggau ialah Padi Sawah, selain itu Masyarakat Melayu Sanggau biasanya juga menjadi Penambang perahu, Tukang Kayu (Arsitek), Guru Agama, dan mereka juga merupakan pedagang yang ulung. Seiring dengan kemajuan modernitas zaman banyak generasi masyarakat Melayu Sanggau yang sekarang bekerja di bidang Pemerintahan, membuka usaha Sektor & Industri, Guru Sekolah, Dosen, Pilot, bergabung dalam Tentara Nasional Indonesia, Polisi dan lain-lain.

Gelaran DirajaSunting

Dalam masyarakat Melayu Sanggau didapati berbagai macam gelaran yang umumnya akan kita jumpai, Antara Gelaran Diraja yang digunakan oleh Masyarakat Melayu Sanggau ialah:

  • Gusti - Utin, Gelaran ini digunakan oleh kerabat Istana dari Dinasti Surya Negara, Gelaran Gusti untuk Lelaki dan Utin untuk Perempuan.
  • Ade - Galuh, Gelaran ini digunakan oleh kerabat Istana dari Dinasti Paku Negara, Gelaran Ade untuk lelaki dan Galuh untuk Perempuan.
  • Abang - Dayang, Gelaran ini merupakan gelaran kerabat Diraja lama Kerajaan Sanggau yang sudah ada ketika pusat pemerintahan masih berada di Ibu kota lama (Mengkiang). Selain itu, gelaran ini merupakan gelaran yang paling umum dijumpai pada masyarakat Melayu Sanggau dan merupakan gelaran tertua. Gelaran Abang untuk Lelaki dan Dayang untuk Perempuan.

Selain ditemukan di Sanggau gelaran-gelaran Diraja tersebut juga dipakai didaerah lain seperti di Sekadau, Sintang, Melawi, Kapuas Hulu, Tayan, Sukadana, Matan, Landak. Seiring penyebaran dan merantaunya masyarakat-masyarakat Melayu Sanggau, lazimnya orang dengan gelaran ini akan dapat dijumpai diseluruh daerah Kalimantan Barat. Walaupun agak sukar dan jarang gelaran-gelaran tersebut juga bisa dijumpai di Riau, Semenanjung Malaysia, Bangka Belitung, dan Sumatera ini merupakan pembawaan perantau-perantau dari daerah-daerah tadi (biasanya Abang dan Dayang) kedaerah-daerah luar Kalimantan.

Agama dan KepercayaanSunting

Umumnya, masyarakat Melayu Sanggau menganut agama Islam walaupun masih ada yang bercampur dengan agama-agama kepercayaan. Proses masuknya Islam ke negeri Sanggau tidak lepas dari pengaruh kerajaannya suatu ketika dahulu, tercatat bahwa Ratu Dayang Mas Ratna yang pada waktu itu masih menganut ajaran Hindu-Budha lah yang pertama kali menerima ajaran Islam melalui Kiayi Patih Gemintir dan diikuti oleh seluruh kerabat Istana lalu perlahan-lahan menyebar kepada penduduk dan rakyat dilingkungan Istana, setelah "Berislam" Ratu Dayang Mas Ratna kemudian menikah dengan Kiayi Patih Gemintir atau Abang Abdurrahman yang bergelar Sultan Nurul Kamal, peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1400 M.