Buka menu utama

Suku Batin adalah suku Melayu di provinsi Jambi di bagian pedalaman pulau Sumatra, Indonesia. Ada sekitar 72.000 (2005) orang Batin yang tinggal di pedalaman Sumatra tengah bagian selatan. Mereka menuturkan bahasa Melayu dengan dialek Jambi. Suku Batin kebanyakan beragama Muslim, tetapi menganut sistem matrilineal. Orang Batin suka hidup berpindah-pindah dan berjiwa gotong royong.

Batin
Total populasi
70.000 (1998)
72.000 (2005)
Kawasan dengan populasi yang signifikan
Jambi, Sumatra
Bahasa
Melayu Jambi
Agama
Islam
Kelompok etnis terkait
Suku Jambi dan Kerinci

Daftar isi

Asal usulSunting

Orang batin berasal dari orang yg mendiami daerah pegunungan yg terletak disebelah baratnya, seperti orang kerinci yang mendiami dataran rendah disebelah timurnya. Berasal dari sebelah barat pegunungan Bukit Barisan. Mereka menggunakan tutur bahasa Melayu dengan dialek Jambi, dan ada campuran dialek bahasa Minang. Kebudayaan orang Batin merupakan perpaduan unsur-unsur kebudayaan Minangkabau dan Melayu Jambi

Wilayah pemukimanSunting

Suku Batin mendiami sekitar Pegunungan Bukit Barisan, Kabupaten Sarolangun Bangko dan Bungo Tebo, Propinsi Jambi. Wilayahnya meliputi: Kecamatan Jangkat Muara Siau Bangko Tabir Muara Bungo.

Masyarakat Batin mulai menempati tempat-tempat tersebut diperkirakan sekitar abad pertama Masehi.

BahasaSunting

Dalam berbahasa suku Batin termasuk bagian dari bahasa Melayu Jambi, tetapi dialek bahasa Batin banyak dipengaruhi oleh bahasa Minangkabau.

Sistem kekerabatanSunting

Sistem kekerabatan orang Batin adalah matrilineal (garis keturunan ditarik dari pihak ibu). Dalam kehidupan sehari-hari, orang Batin lebih dekat dengan kerabat pihak ibu daripada kerabat pihak ayah. Tetapi laki-laki tetap berperan sebagai kepala keluarga dalam rumah tangganya. Di samping sistem pendidikan umum yang dijalankan di sekolah-sekolah, juga terdapat pendidikan dari madrasah-madrasah.

Sistem pemerintahanSunting

Untuk sistem pemerintahan, suku Batin berawal dari sebuah dusun yang dihuni oleh sejumlah keluarga luas yang disebut piak. Setiap piak dikepalai oleh seorang ninik mamak. Pemimpin dusun yang bergelar rio diangkat berdasarkan hasil musyawarah dari seluruh ninik mamak. Dalam menjalankan kepemimpinannya, rio didampingi oleh para ninik mamak. Dengan demikian, segala keputusan rio haruslah diambil dengan persetujuan para ninik mamak dari piak yang ada di dusun tersebut.

ReferensiSunting

  • Nuh, M. Imran (2000) Budaya masyarakat suku bangsa Batin di Kabupaten Bungo Tebo, Propinsi Jambi Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Daerah, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Jakarta;