Buka menu utama

Melayu Cocos adalah sekelompok masyarakat berbudaya Melayu yang membentuk mayoritas penduduk Kepulauan Cocos (Keeling), yang sekarang merupakan bagian dari Australia. Meskipun mereka telah berasimilasi dalam budaya Melayu, nenek-moyang mereka sesungguhnya berasal dari tempat yang berbeda-beda, yaitu Malaka, Penang, Sumatra, Batavia, Cirebon, Madura, Bali, Pasir-Kutai, Sulawesi, Sumbawa, Bima, dan Timor.[2]

Melayu Cocos
Coral and atolls; a history and description of the Keeling-Cocos Islands, with an account of their fauna and flora, and a discussion of the method of development and transformation of coral structures in general (1912) (20672742846).jpg
Pengantin Melayu dalam acara pernikahan di Kepulauan Cocos (Keeling), 1912.
Total populasi
4.000-5.000[1]
Kawasan dengan populasi yang signifikan
 Malaysia 4.000[1]
 Kepulauan Cocos (Keeling) 400
Bahasa
Melayu Cocos, Inggris, Malaysia
Agama
Islam
Kelompok etnis terkait
Melayu, Jawa, Betawi

Pada tahun 1950-an, Inggris membawa sebagian Melayu Cocos untuk pindah dan menetap di Sabah, Malaysia, dan kini jumlah keturunan mereka di sana lebih besar daripada yang terdapat di Kepulauan Cocos.[1]

Umumnya, Melayu Cocos menganut agama Islam, dan khususnya berpaham Sunni.[3]

SejarahSunting

Orang Melayu pertama diperkirakan tiba dan menetap di Kepulauan Cocos pada tahun 1826, yaitu ketika Alexander Hare, seorang petualang Inggris membawa gundik dan budak Melayunya ke sana.[3] Pada tahun 1827, John Clunies-Ross mengubah kehidupan para budak Melayu ketika ia dan keluarganya memutuskan untuk menetap pula di kepulauan tersebut. Orang Melayu setempat dan sejumlah besar pendatang Melayu baru yang dibawa oleh Clunies-Ross dipekerjakannya untuk membantu memanen kelapa untuk dibuat kopra.[3] Pada bulan September 1978, keluarga Clunies-Ross menjual Kepulauan Cocos kepada pemerintah Australia. Sejak saat itu, Ratu Elizabeth II menjadi Kepala Negara wilayah itu, yang diwakili oleh seorang Gubernur Jenderal-Administrator, yang saat ini dijabat oleh Brian Lacy. Sedangkan yang mewakili masyarakat sebagai Ketua Dewan Kepulauan adalah Haji Wahin bin Bynie.

PerpindahanSunting

Pada tahun 1950-an, Inggris membawa sebagian Melayu Cocos untuk pindah dan menetap di Sabah, yang sekarang bagian dari Malaysia.[4] Jumlah yang ikut pindah untuk pertama kalinya diperkirakan hanya sekitar dua puluh orang, tetapi kemudian meningkat ketika pemukiman mereka diperluas. Melayu Cocos terutama tinggal di Kampung Cocos, tak jauh dari kota Lahad Datu, Bahagian Tawau, Sabah.[5] Populasi mereka saat ini di Sabah mencapai sekitar 4.000 jiwa, lebih besar daripada populasi yang tersisa di Kepulauan Cocos.[1] Budaya Melayu Cocos saat ini berkaitan erat dan tak jauh berbeda dengan orang-orang Melayu Malaysia lainnya,[6] dan mereka juga dianggap berstatus bumiputra oleh pemerintah Malaysia. Bahasa mereka, yang merupakan varian dari bahasa Melayu standar, memiliki kode ISO 639-3 coa.

BahasaSunting

Malayu Cocos mempunyai variasi bahasanya sendiri, yang disebut Basa Pulu Kokos. Bahasa ini dianggap non formal dan kurang berkelas, karena memakai kosakata tak baku (slang) serta adabta arti kata yang berubah. Bahasa ini merupakan percampuran antara bahasa Indonesia dan Malaysia, dengan pengucapan lokal serta berbagai elemen bahasa Inggris dan Scots di dalamnya.

Melayu Cocos Inggris Indonesia Catatan penggunaan
Selamat ténggah hari Good afternoon Selamat siang
Kerangkeng Food closet Lemari makanan
Ke kaca Cute Gagah/tampan
Kenes Cute Cantik/manis
Jumpa lagi See you later/see you again Sampai jumpa
Korsi Chair Kursi
Dostor Doctor Dokter
Esbok Fridge Lemari es
Bok Box Kotak
Epel Apple Apel
Jukong Cocos Malay boat Jongkong/sampan Sebutan junk ship dalam bahasa Inggris berasal dari sebutan perahu ini
Gua/Loh Me/You Saya/Kamu Ini merupakan kata-kata serapan dari bahasa Hokkien, yang dalam
bahasa Indonesia dianggap informal (slang) namun dalam Melayu Cocos
dianggap formal
Cimni Chimney Cerobong
Kot Coat Jas
Hiju/Hijo Green Hijau
Kalo If Kalau
Emak/Mak Mother Ibu Digunakan untuk memanggil wanita yang memiliki anak
Pak/Ayah Father Bapak/Ayah Kata pertama digunakan untuk memanggil laki-laki yang memiliki anak.
Kata kedua artinya ayah
Paman/Man Uncle Paman Digunakan untuk memanggil laki-laki yang tidak memiliki anak
Bibik Aunty Bibi/Tante Wanita yang lebih muda dari orang tua
Nek/Nenek Grandma Kakek/Nenek Digunakan untuk memanggil baik kakek ataupun nenek
Wak Aunty Uak Panggilan hormat untuk wanita yang memiliki anak usia remaja

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d Yong Leng Lee (1965). North Borneo (Sabah): A Study in Settlement Geography. Eastern Universities Press. 
  2. ^ Mission Atlas Project: Cocos (Keeling) Islands SnapShot, www.worldmap.org.
  3. ^ a b c Cocos Malays
  4. ^ Sabah: history and society. Malaysian Historical Society. 1981. 
  5. ^ "RTM documenting unique culture of Sabah Cocos community". The Borneo Post. 7 March 2011. Diakses tanggal 5 April 2015. 
  6. ^ Frans Welman. Borneo Trilogy Volume 1: Sabah. Booksmango. hlm. 168–. ISBN 978-616-245-078-5. 

Pranala luarSunting